Thomas Nugroho
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

PRODUKSI HASIL TANGKAPAN SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI PENGOLAHAN: KASUS PELABUHAN PERIKANAN PANTAI MUNCAR KABUPATEN BANYUWANGI (Catches production as raw materials of processing industry: case of Muncar coastal fishing port district Banyuwangi)

Buletin PSP Vol 21, No 1 (2013): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.779 KB)

Abstract

Sebagian besar hasil tangkapan di  Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Muncar dijadikan bahan baku olahan baik di Muncar maupun di luar Muncar. Perkembangan sektor industri olahan tersebut menghendaki adanya ketersediaan bahan baku secara kontinyu dan kualitasnya terjamin. Penelitian ditujukan untuk mendapatkan informasi tentang produksi hasil tangkapan yang didaratkan dan besaran proyeksi tahun 2011-2020 serta pendistribusiannya sebagai kebutuhan bahan baku utama industri pengolahan ikan.  Penelitian menggunakan metode kasus terhadap aspek produksi hasil tangkapan di PPP Muncar sebagai bahan baku industri.  Volume dan nilai produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPP Muncar cenderung meningkat masing-masing sebesar 43,86% dan 33,62% pada periode 1999-2008, namun indeks relatif nilai produksinya < 1 atau kualitas pemasarannya kurang baik. Jenis ikan yang paling banyak dibutuhkan oleh industri pengolahan ikan di Muncar adalah lemuru, layang, dan tongkol. Bahan baku industri pengolahan di wilayah Muncar 89% berasal dari PPP Muncar. Pendistribusian hasil tangkapan langsung ditujukan ke industri pengolahan ikan dan ke konsumen wilayah Muncar serta ke daerah lain di Pulau Jawa dan Bali. Hasil proyeksi volume produksi ikan lemuru dan layang menunjukkan peningkatan pada periode 2011-2020, sedangkan ikan tongkol menunjukkan penurunan sehingga perlu didatangkan dari luar daerah seperti Bali dan Jawa Timur untuk mencukupi kebutuhan industri. Kata kunci: bahan baku, hasil tangkapan, industri pengolahan, PPP Muncar

Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengembangan Polikultur Bandeng dan Udang di Desa Karangsong, Indramayu, Jawa Barat

Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2, No 2 (2016): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karangsong Village is one of the coastal villages in Indramayu which has a high fishery and marine resources potential, (both capture and aquaculture fisheries). The aquaculture activities in this village were mostly milkfish and prawn cultures. Community development through polyculture activity in this village had been done for 2 years 4 months from December 2012 to April 2015. This activity aimed to improve the community skill, especially milk fish and prawn using polyculture system. Methode used in this activity was training and empowering. The community was trained about pond culture preparation and milk fish and prawn culture methods. The community participated in first year was 4 people, and second year was 9 people. Aid distribution scheme of this program was 1 package for each fish-farmer contained prawn seed, milkfish seed, and fish-prawn feed. Through effectively empowering program, people knowledge, technology, biomass farming, and income (912 million from milkfish farming; 920 million from shrimp farming) were increased.

Development of Humpback Grouper Fish (Chromileptes altivelis) Culture in Gebe Island, Central Halmahera, North Moluccas

Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 1 (2017): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gebe Island as one of the islands in Central Halmahera of North Moluccas Province, has a high potential of fishery resources both for capture and aquaculture fisheries. This activity aimed to improve community skill to rear humpback grouper fish (Chromileptes altivelis ) in floating net at Umera and Umiyal Villages as community empowerment in the Gebe Island. The method of this activities were training and mentoring. Juvenile of the fish was from artificial breeding, and collected naturally from the sea around the Gebe Island. According to the observation of the activity, the community can rear the humpback grouper fish from 5 cm to 2025 cm total body length per individual for 12 months (Umera Village), and it was from 5 cm to 1015 cm total body length per individual for 10 months (Umiyal Village). The fish grew to be 300 g/ind (in December 2013), 500 g/ind (July 2014), and 600 g/ind (October 2014). The community has been able to harvest and sell the grouper fish collected from the sea, reared for 24 months in the floating net.

POLA USAHA MASYARAKAT NELAYAN DI DESA MAJAKERTA, KECAMATAN BALONGAN-KABUPATEN INDRAMAYU (Business Pattern of Fishermen in Majakerta Village, Balongan District-Indramayu Regency)

Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol 8, No 1 (2017): Marine Fisheries - Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.836 KB)

Abstract

ABSTRACTCapture fisheries business is a collective action in exploiting fisheries resources. It describes ability and dependency of community to capture fisheries resource that interestingly to be studied. The study was conducted for observing socio economic condition and analyzing small scale business of fishermen in Majakerta village Balongan Indramayu.  The survey method was used in this study, with purposive random sampling for collecting samples as many as 10 respondents. The results showed that a small scale business of fishing had an important role for fishermen community in Majakerta village.  Fishermen traditionally catch it, and they could be sustainable to do their business. It had financially profited with B / C ratio> 1.5 and payback period <= a year.Keywords: fishermen, Majakerta village, small scale capture fisheryABSTRAKUsaha penangkapan ikan oleh nelayan kecil merupakan aksi kolektif dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan.  Aksi tersebut mencerminkan dua hal yang menarik untuk diteliti yaitu keberdayaan dan ketergantungan masyarakat pada sumberdaya perikanan tangkap.  Penelitian dilakukan untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi dan menganalisis pola usaha skala kecil nelayan di Desa Majakerta, Kecamatan Balongan Kabupaten Indramayu.  Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan metode pengambilan sampel secara purposive random sampling yaitu sebanyak 10 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha perikanan tangkap skala kecil memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat nelayan di Desa Majakerta.  Masyarakat nelayan melakukan kegiatan penangkapan ikan secara tradisional dan dapat menjalankan usahanya secara berkelanjutan.  Secara finansial, pola usaha penangkapan udang, ikan, dan rajungan menguntungkan dengan B/C ratio > 1.5 dan payback period <= 1 tahun.Kata kunci: nelayan, Desa Majakerta, perikanan tangkap skala kecil

PRODUKSI HASIL TANGKAPAN SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI PENGOLAHAN: KASUS PELABUHAN PERIKANAN PANTAI MUNCAR KABUPATEN BANYUWANGI

Buletin PSP Vol 21, No 1 (2013): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.779 KB)

Abstract

Sebagian besar hasil tangkapan di  Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Muncar dijadikan bahan baku olahan baik di Muncar maupun di luar Muncar. Perkembangan sektor industri olahan tersebut menghendaki adanya ketersediaan bahan baku secara kontinyu dan kualitasnya terjamin. Penelitian ditujukan untuk mendapatkan informasi tentang produksi hasil tangkapan yang didaratkan dan besaran proyeksi tahun 2011-2020 serta pendistribusiannya sebagai kebutuhan bahan baku utama industri pengolahan ikan.  Penelitian menggunakan metode kasus terhadap aspek produksi hasil tangkapan di PPP Muncar sebagai bahan baku industri.  Volume dan nilai produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPP Muncar cenderung meningkat masing-masing sebesar 43,86% dan 33,62% pada periode 1999-2008, namun indeks relatif nilai produksinya < 1 atau kualitas pemasarannya kurang baik. Jenis ikan yang paling banyak dibutuhkan oleh industri pengolahan ikan di Muncar adalah lemuru, layang, dan tongkol. Bahan baku industri pengolahan di wilayah Muncar 89% berasal dari PPP Muncar. Pendistribusian hasil tangkapan langsung ditujukan ke industri pengolahan ikan dan ke konsumen wilayah Muncar serta ke daerah lain di Pulau Jawa dan Bali. Hasil proyeksi volume produksi ikan lemuru dan layang menunjukkan peningkatan pada periode 2011-2020, sedangkan ikan tongkol menunjukkan penurunan sehingga perlu didatangkan dari luar daerah seperti Bali dan Jawa Timur untuk mencukupi kebutuhan industri.Kata kunci: bahan baku, hasil tangkapan, industri pengolahan, PPP Muncar

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KINERJA PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) DADAP DI KABUPATEN INDRAMAYU (Determinants the Performance of Dadap Fishing Port Beach in Indramayu Regency)

Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol 3, No 1 (2012): Marine Fisheries - Mei 2012
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.208 KB)

Abstract

ABSTRACTThe study was conducted for analyzing an operational activity of the PPP Dadap, and examining factors that affect the PPP Dadaps performance. Data analysis was done by two methods: first descriptive method for analyzing the PPP Dadaps activities; and second parametric analysis for examining the relationship between organizational and social factors and the PPP Dadaps performance. This study summerized that the determinants of the PPP Dadaps performance are internal and external factors, and organizational and social factors.Key words: operational activities, PPP Dadap, multiple linear regression analysis-------ABSTRAKKepuasan para pengguna pelabuhan dapat dilihat dari kinerja pelabuhan tersebut. Tahun 2008, PPI Dadap berubah status menjadi PPP (Pelabuhan Perikanan Pantai). Namun peningkatan status tersebut tidak diikuti dengan peningkatan produksi ikan, dan aktivitas operasional pelabuhan perikanan. Perubahan status PPI menjadi PPP, tidak mengakibatkan peningkatan kinerja pelabuhan perikanan tetapi justru menurun. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas operasional PPP Dadap setelah perubahan status, dan faktor-faktor penentu kinerja pelabuhan PPP Dadap. Analisa data dilakukan dengan dua metode; pertama metode deskriptif yaitu untuk menganalisa aktivitas operasional PPP Dadap; kedua metode statistik parametrik yaitu untuk mengetahui pengaruh faktor organisasi dan sosial terhadap kinerja PPP Dadap. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penentu kinerja PPP Dadap adalah faktor internal dan eksternal, serta faktor sosial dan organisasi.Kata kunci: aktivitas operasional, PPP Dadap, analisis regresi linier berganda

Edukasi pelestarian sumberdaya dan lingkungan pantai pada nelayan perikanan bagan

JPPM (Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat) Vol 5, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Departement of Nonformal Education, Graduate Scholl of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.89 KB)

Abstract

Perikanan bagan merupakan salah satu pekerjaan yang umum dilakukan masyarakat Desa Saramaake, Halmahera Timur. Kegiatan edukasi pelestarian sumberdaya dan lingkungan pantai ini dilaksanakan pada Juni, Agustus, September dan Desember 2018, bertujuan untuk memberikan edukasi pemahaman tentang pelestarian sumberdaya dan lingkungan pantai di desa tersebut. Metode yang digunakan adalah penyuluhan, diskusi dan monitoring dan evaluasi. Sasaran kegiatan merupakan nelayan dan istri nelayan yang merupakan anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) atau Koperasi.  Beberapa kegiatan yang telah dilakukan antara lain penyuluhan tentang perikanan bagan (Agustus), penyuluhan tentang konservasi lingkungan dan sumberdaya (Juni), dan kegiatan monitoring dan evaluasi (September, Desember 2018). Dari hasil kegiatan dapat diketahui bahwa secara umum masyarakat nelayan telah mengetahui dan mengimplementasikan kegiatan perikanan yang baik, dan menjaga kondisi lingkungannya dengan lebih baik, dengan tidak membuang sampah di laut, tidak melakukan penebangan hutan pantai, tidak mengubur ikan by catch di pantai, dan mengingatkan pada sesama nelayan, keluarga dan aparat pemerintah untuk tetap menjaga lingkungan laut. Education on the environmental and resource conservations of the lift-net fishermen  AbstractLift-net fisheries is a commonly job of the coastal community at Saramaake Village, East Halmahera. This education activity on environmental and resource conservations was done on June, August, September and December 2018, aimed to educate resource and environment conservation in the village.  Methods used in this activity were survey in the fied, discussion and filling in the questionnaire form. Objects of the activity were fisherman and their wives who were member of the Common Business Group (KUB-Indonesian) and Cooperative (Koperasi-Indonesian).  A number of activities were carried out to educate the fisherman community such as extension on the lift net fisheries, extension on the resource and environmental conservation, and monitoring and evaluation.  The community commonly knew and implemented a good fishing activity and  environmental and resource care better such as no drop garbage to the sea, no using the sea for toilet, no cutting mangrove tree, no burying by catch in coastal area, encouraging to families, fishermen and village officials to keep the sea better.