Articles

Found 22 Documents
Search

DESAIN MODEL SPESIFIKASI AKSES PENGGUNA DI LINGKUNGAN JARINGAN BERKECEPATAN RENDAH Wardani, Ratna; Soesianto, F; Nugroho, Lukito Edi; Ashari, Ahmad
Jurnal Informatika Vol 4, No 1: January 2010
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.641 KB)

Abstract

The Internet has the potential to provide universal and easy access to the various types of information services on a single multi-service, but unreliable quality connection can sometime prevent access to the Internet altogether. There are many efforts have been started to resolve the Internet access problem. The main idea behind them is to provide a set of objective parameters that can be used to compare and negotiate in a network. Relatively little emphasis has been put on issues concerning end users, especially on the relationship of user perception and Quality of Service parameters.  In order to implement Quality of Service schemes successfully, users must be taken into account to establish users´ subjective perceptions of Quality of Service.This paper is concerned to the study of mechanism of providing Quality of Service specification for Internet access in low-quality connection. We propose the conceptual model for the specification of user access and allow the users to specify their subjective preferences through the Quality of Service parameters. This model provides the alternative option for user access if resource availability in the system is limited. The user is given opportunity to define their access and determine the parameter for each application which they are chosen. The system will check the resource availability and then compare to the user preferences. In the case resource availability is lower than user preferences, the system can exchange to another option as determined by user requirements.
Prototype Layanan Izin Pemanfaatan Ruang Untuk Akomodasi Pariwisata Menggunakan Service Oriented Enterprise Architecture Framework Juniati, Desak Putu; Nugroho, Lukito Edi; Nugroho, Eko
PROSIDING CSGTEIS 2013 CSGTEIS 2013
Publisher : PROSIDING CSGTEIS 2013

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Intisari— Selama ini, orang membicarakan perizinan hanyasebatas pada penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu(PTSP). Disisi lain, masih ada aspek riil yang belum tertanganidengan baikyaitu bagaimana menyajikan informasi agar mampumemenuhi kebutuhan pemohon izin terkait kepastian lahan yangakan digunakan untuk usaha sesuai denganrencana tata ruangsuatu wilayah.Penelitian ini bertujuan untuk membuatprototypelayanan izin pemanfaatan ruang untuk akomodasi pariwisatapada Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu KabupatenKarangasem.Prototype ini terdiri atas dua layanan utama yaitulayanan frontoffice dan back office.Layanan front office padaprototype ini akan menampilkandata spasial dan data atributterkait informasi kepemilikan lahan (pengecekan sertifikat tanah)dan informasi blok peruntukan lahan dengan melakukanintegrasi dengan Kantor Pertanahan dan Bappeda KabupatenKarangasem.Penelitiandilakukan dengan menggunakanpendekatan ServiceOriented Enterprise Architecture Framework(SOEAF) yang mengintegrasikan model Service OrientedArchitecture (SOA) kedalam kerangka EnterpriseArchitecturemenggunakan perluasan kerangka kerja Zachmandengan menambahkan kolom baru bernama kolom layanan yangmeliputi level kontekstual, konseptual, logikal dan fisik.Penelitianini menghasilkan prototype layanan IPR untuk akomodasipariwisata yang memiliki interoperabilitas data sehingga mampumemberikan kepastian lahan kepadapemohon izin.Kata Kunci— Izin Pemanfaatan Ruang, ServiceOriented EnterpriseArchitecture Framework.
Perancangan dan Pembuatan Business Logic Layer Pada Situs Social Networking Berbasis Penelitian (KoKKo) Damarjati, Cahya; Nugroho, Lukito Edi; Kusumawardani, Sri Suning
Jurnal Buana Informatika Jurnal Buana Informatika Volume 1 Nomor 1 Januari 2010
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Business Logic Layer on Social Networking Sites Design and Development Based on Research. KoKKo, virtual community for science was born based on the belief that “no one knows everything, and everyone knows something” atau “none of us is as smart as all of us”. KoKKo is a web application that use three tier web architecture. The three tier of KoKKo are presentation layer, BLL, and DAL. This final prject will discuss everything about engineering and implementation of BLL in KoKKo Web Application. BLL implement object oriented programming concept. With that concept, BLL consists of methods definition that is packaged in class. BLL methods contain DAL functions to access database. Presentation layer use BLL methods to pick data, add data, change date, or delete data from database.Keyword: Three tier web architecture, BLL, Object Oriented Programming, Class, Methods.Abstrak. KoKKo sebagai komunitas virtual untuk berbagi pengetahuan, lahir dari adanya istilah “no one knows everything, and everyone knows something” atau “none of us is as smart as all of us”. Wujud KoKKo berupa aplikasi web yang menggunakan Arsitektur Web Tiga Tingkat. Tiga Tingkat dari KoKKo adalah tingkat presentasi, BLL, dan DAL. Penelitian ini akan membahas segala hal tentang perancangan dan implementasi BLL pada aplikasi web KoKKo. BLL menerapkan konsep Pemrograman Berorientasi Objek (OOP). Dengan konsep tersebut, BLL tersusun dari definisi Metode-Metode yang dikemas dalam Kelas. Metode BLL berisi fungsi-fungsi DAL untuk mengakses basis data. Tingkat presentasi menggunakan metode BLL untuk mengambil data, menambah data, mengubah data, atau menghapus data dari basis data.Kata kunci: Arsitektur Web Tiga Tingkat, BLL, Pemrograman Beorientasi Objek, Kelas, Metode.
Learning from the Case Studies, How Global Software Development Process is executed in an Agile Method Environment Ferdiana, Ridi; Nugroho, Lukito Edi; Santoso, Paulus Insap; Ashari, Ahmad
Jurnal Buana Informatika Vol 1, No 2 (2010): Jurnal Buana Informatika Volume 1 Nomor 2 Juli 2010
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Belajar dari Studi Kasus, Bagaimana Proses Pengembangan Perangkat Lunak Global Dieksekusi Pada Lingkungan Metode Agile. Tantangan terbesar dalam Software Development Global (GSD) adalah efisiensi waktu untuk mengembangkan. GSD menyediakan panduan untuk menggunakan proses bersama dengan muka seperti proses metode analisis terpadu atau metode air terjun. Meskipun, itu memberikan manfaat melalui dokumentasi yang komprehensif dan kejelasan, ia memberikan menghambat organisasi yang ingin menggunakan GSD tetapi dalam terburu-buru. Metode Agile mengklaim efisien dan pendekatan yang efektif untuk pengembangan perangkat lunak. Makalah ini laporan tentang bagaimana organisasi menggabungkan proses GSD dengan metode tangkas seperti eXtreme Programming (XP), Scrum, Agile Unified Process (UP Agile), Pengembangan Fitur Driven (FDD), dan Microsoft Solusi Kerangka Agile (MSF Agile). Makalah ini menggunakan studi kasus untuk mendapatkan pengalaman organisasi dan menjelaskan praktek yang berguna untuk organisasi yang ingin menerapkan GSD dengan metode tangkas. Kata Kunci: Siklus Hidup Pengembangan Perangkat Lunak, Agile, GSD Abstract. The biggest challenge in Global Software Development (GSD) is the efficiency of time to develop. GSD provides a guidance to use the process along with up-front analysis method like unified process or waterfall method. Although, it gives a benefit through comprehensive documentation and its clearness, it gives inhibits the organization which wants use GSD but in a rush. Agile methods claim an efficient and the effective approach to software development. This paper reports on how organizations combine the GSD process with agile methods like eXtreme Programming (XP), Scrum, Agile Unified Process (Agile UP), Feature Driven Development (FDD), and Microsoft Solution Framework Agile (MSF Agile). The paper uses case study to get organization experiences and describe useful practices for the organization that want to implement GSD with an agile method. Keywords: Software Development Lifecycle, Agile, GSD
Pemodelan Lingkungan Virtual untuk Interaksi Avatar Berbasis Context Pada Proyek Digital Life at Campus (DiL@C) Sajati, Haruno; Nugroho, Lukito Edi; Ferdiana, Ridi
Jurnal Buana Informatika Vol 3, No 2 (2012): Jurnal Buana Informatika Volume 3 Nomor 2 Juli 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Campus activities that use information technology increasing rapidly, these activities e.g. studying activity, access to information and so on. The increased activities forces instance has an "assistants" who can help the real user to complete their works and responsibilities. Virtual world allows the user to be in a different context so that it can follow a different activity at one time. Avatar requires a virtual Environment for the activity. This research build a model in virtual world (VES) that would bring together between avatars, virtual objects and context to work in a scenario in Digital Life at Campus (Dil@C). Design written in this paper to formulate a model of Context based communication, system architecture and implementation that can be applied in the virtual world.Keywords: DiL@C, avatar, context, Virtual Environment System (VES). Abstrak. Aktifitas kampus yang memanfaatkan teknologi informasi semakin banyak, Aktifitas ini contohnya perkuliahan, akses informasi dan lain-lain. Peningkatan aktifitas ini memaksa instance di dalam kampus memiliki ”asisten” yang dapat membantu real user untuk menyelesaikan pekerjaan dan tanggung jawabnya. Dunia virtual memungkinkan user dapat berada pada konteks yang berbeda sehingga dapat mengikuti aktifitas yang berbeda pada satu waktu. Pengembangan model avatar yang merepresentasikan user dalam dunia maya membutuhkan lingkungan virtual untuk beraktifitas. Penelitian ini memodelkan sebuah dunia virtual (VES) yang dapat mempertemukan antara avatar, obyek-obyek virtual dan konteks untuk bekerja dalam sebuah skenario dalam Digital Life at Campus (DiL@C). Perancangan yang ditulis dalam paper ini merumuskan model komunikasi berbasis konteks, arsitektur sistem dan implementasi yang bisa diterapkan dalam dunia virtual.Kata Kunci: DiL@C, avatar, konteks, Virtual Environment System (VES).
USER STORY SOFTWARE ESTIMATION:A SIMPLIFICATION OF SOFTWARE ESTIMATION MODEL WITH DISTRIBUTED EXTREME PROGRAMMING ESTIMATION TECHNIQUE Ferdiana, Ridi; Santoso, Paulus Insap; Nugroho, Lukito Edi; Ashari, Ahmad
JUTI: Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi Vol 9, No 1, Januari 2011
Publisher : Teknik Informatika, ITS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Software estimation is an area of software engineering concerned with the identification, classification and measurement of features of software that affect the cost of developing and sustaining computer programs [19]. Measuring the software through software estimation has purpose to know the complexity of the software, estimate the human resources, and get better visibility of execution and process model. There is a lot of software estimation that work sufficiently in certain conditions or step in software engineering for example measuring line of codes, function point, COCOMO, or use case points. This paper proposes another estimation technique called Distributed eXtreme Programming Estimation (DXP Estimation). DXP estimation provides a basic technique for the team that using eXtreme Programming method in onsite or distributed development. According to writer knowledge this is a first estimation technique that applied into agile method in eXtreme Programming.
USULAN MODEL G-READINESS PADA SEKTOR PEMERINTAHAN STUDI KASUS: BADAN PUSAT STATISTIK D.I. YOGYAKARTA Novia Sari, Wenny Afiati; Nugroho, Eko; Nugroho, Lukito Edi
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.03 KB)

Abstract

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) hijau atau TIK ramah lingkungan merupakan sebuah konsep pemanfaatan TIK untuk mengurangi konsumsi energi listrik dibidang TIK. Framework yang dapat digunakan untuk mengukur kesiapan dalam penerapan TIK hijau adalah G-Readiness, yang dibentuk oleh lima komponen yaitu sikap (attitude), kebijakan (policy), praktek (practice), teknologi (technology), dan tata kelola (governance). Kombinasi lima komponen G-Readiness tersebut memiliki 65 indikator yang menjadi kunci ukuran kesiapan pelaksanaan TIK hijau. Makalah bertujuan memperoleh model G-Readiness yang sesuai untuk diterapkan pada sektor pemerintahan, dengan studi kasus instansi Badan Pusat Statistik Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.  Penulis melakukan wawancara secara mendalam (interdept interview) terhadap beberapa pejabat yang terkait dengan TIK. Penelitian ini menghasilkan adopsi model G-Readiness dengan  43 indikator yang sesuai kondisi sektor pemerintahan. Indikator yang tidak dapat digunakan pada sektor pemerintahan antara lain yang menyangkut anggaran dan supplier TIK. Pembelian peralatan TIK pada sektor pemerintahan belum berorientasi pada supplier yang memperhatikan peralatan TIK ramah lingkungan. Pembelian TIK cenderung mempertimbangkan kesesuaian anggaran untuk memperoleh peralatan yang diperlukan. 
PEMANFAATAN DUBLIN CORE METADATA TERM DALAM PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN DIGITAL BERBASIS SEMANTIK Jayadianti, Herlina; Juwairiah, Juwairiah; Nugroho, Lukito Edi; Santosa, Paulus Insap; Widayat, Wahyu
Seminar Nasional Informatika (SEMNASIF) Vol 1, No 1 (2014): Business Intelligence
Publisher : Jurusan Teknik Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.597 KB)

Abstract

Pemanfaatan metadata yang disediakan secara online, sebagai contoh metadata dalam dublin core, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pertukaran informasi digital saat ini. Galeri, Perpustakaan, Arsip, Museum saat ini mulai membuka data dalam menyamakan penemuan standar yang lebih baik bagi sumber daya elektronik dimasa depan.Temu kembali informasi bersejarah menjadi tujuan yang paling utama. Dublin Core adalah satu set metadata yang terdiri dari 15 set elemen telah dibangun untuk mendukung temu kembali informasi perpustakaan dengan lebih mudah. Dublin core term telah terstandarmelalui sebuah konsensus internasonal danpenggunaannya lebih sederhana dibanding MARC dalam pengelolaan data di perpustakaan. Oleh karenanya perpustaaan dan museum saat ini mulai menggunakan kosakata standar dari Dublin Core – hal ini dilakukan untuk mendukung wacana perpustakaan dengan akses yang terbuka. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengimplementasikan 15 term dalam Dublin Coredalam studi kasus perpustakaan serta mengujinya melalui uji validator RDF.
ANALISIS PERFORMA WIRELESS DISTRIBUTION SYSTEM KONFIGURASI STAR DAN MESH UNTUK HOTSPOT AREA Subardono, Alif; Nugroho, Lukito Edi; Sumaryono, Sujoko
Seminar Nasional Informatika (SEMNASIF) Vol 1, No 3 (2011): Network And Security
Publisher : Jurusan Teknik Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.957 KB)

Abstract

Salah satu perubahan utama di bidang telekomunikasi adalah penggunaan teknologi wireless. Jaringan dapat bekerja dengan efektif dan memberikan produktivitas terbaik, jika secara terus menerus dapat melayani pemakainya. Diperlukan pemilihan berdasarkan pemilihan komputer, aplikasi software dan infrastruktur, termasuk di dalamnya konfigurasi jaringan yang digunakan. Selain harus berfungsi dengan optimal, maka terdapat kebutuhan untuk kinerja (performance). Untuk memperluas cakupan area hotspot salah satunya menambah Access Point dengan sistem WDS, dimana diharapkan adalah membangun dan menganalisa jaringan WDS dengan konfigurasi star dan mesh, serta memilih konfigurasi WDS yang sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Penelitian dilakukan dengan merancang, membangun, menguji, dan mengambil data jaringan wireless untuk hotspot serta menganalisis perbandingan konfigurasi star dan mesh. Hotspot terbatas hanya bisa dipasang pada 2 AP WDS, sehingga pilihan konfigurasi star dan mesh bisa dipakai, di mana throughput yang dihasilkan pada konfigurasi star lebih baik dibandingkan dengan konfigurasi mesh. Performa konfigurasi star lebih baik dibandingkan dengan mesh. Didapatkan throughput maksimal sebesar 139,1 kbps.
Adding synonyms to concepts in ontology to solve the problem of semantic heterogeneity Jayadianti, Herlina; Nugroho, Lukito Edi; Santosa, Paulus Insap; Widayat, Wahyu
International Journal of Advances in Intelligent Informatics Vol 1, No 2 (2015): July 2015
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.866 KB) | DOI: 10.26555/ijain.v1i2.19

Abstract

Nowadays many department (community) are thinking how to get more knowledges and metadata by linking more systems from other community. There are great challenges to make all systems organizing knowledge and sharing metadata – to make it easy searched, indexed and used in different context. In this paper we will focus on metadata in specific domain - ‘Poverty’2. Regardless of the various definitions of poverty, in this paper we will focus on managing metadata in “Poverty” with many different terms therein. Ontology Mapping is the process of relating similar concepts or relations from different sources through some equivalence relation. Mapping allows finding correspondences between the concepts of two ontologies. If two concepts correspond, then they mean the same thing or closely related things. Currently, the mapping process is regarded as a promise to solve the problem between ontologies since it attempts to find correspondences between semantically related entities that belong to different ontologies. It takes as input two ontologies, each consisting of a set of components (classes, instances, properties, rules and axioms). Based on the presented reasons, we believe that ontologies with common terms and common concepts are very important in a metadata sharing process.