Hary Nugroho
Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Pemodelan Harga Tanah Perkotaan Menggunakan Metode Geostatistika (Daerah Studi: Kota Bandung) Sari, Dewi Kania; Nugroho, Hary; Hendriawaty, Susy; Ginting, Masyitah
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 14, No 2 (2010)
Publisher : JURNAL ITENAS REKAYASA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTanah merupakan salah satu sumber daya yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan perkotaan. Informasi harga tanah diperlukan dalam pengelolaan tanah perkotaan. Distribusi spasial harga tanah dapat diperoleh pemodelan spasial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemodelan harga tanah perkotaan menggunakan pendekatan geostatistik, dengan daerah studi Kota Bandung. Metode yang digunakan untuk memprediksi harga tanah adalah metode ordinary kriging. Adapun model semivariogram yang digunakan adalah model sferikal dan eksponensial, dengan pendekatan isotrofis dan anisotrofis. Data sampel yang digunakan merupakan harga pasar pada tahun 2007-2008, yang berjumlah 485 buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model semivariogram sferikal memberikan ketelitian yang lebih baik dibandingkan model eksponensial. Ketelitian hasil prediksi harga tanah dipengaruhi oleh jumlah dan sebaran data sampel. Distribusi spasial harga tanah Kota Bandung memperlihatkan harga tanah tertinggi terletak di pusat kota, yaitu di sekitar Jl. Asia Afrika, Jl. Naripan, Jl. ABC, dan Jl. Braga. Menjauhi pusat kota secara umum harga tanah menurun dan mencapai nilai terendah di daerah pinggiran kota. Laju kenaikan harga tanah tidak sama ke semua arah di wilayah Kota Bandung. ABSTRACTAs one of resource factors, land plays a strategic role in urban development. Land price information is needed in urban land management. Spatial distribution of land price can be obtained through spatial modelling. This research aims to examine the use of geostatistical approach in modelling urban land price, with Bandung municipality as the study area. We used ordinary kriging method to predict land price. The semivariogram models used in this research were spherical and exponential models, developed in isotropic and anisotropic approaches. We used 485 samples of market land price data in 2007-2008. Research results showed that spherical semivariogram models gave better accuracy than exponential models. Prediction errors were affected by the amount and distribution of sample data. The spatial distribution of land price of Kota Bandung showed the highest land price occurred in Bandung downtown area, that is, around Jalan Asia Afrika, Jalan Naripan, Jalan ABC, and Jalan Braga. The land price decreased with the increasement of the distance from the downtown area and attained the lowest value in urban fringe areas. The rate of land price increasement did not similar to all directions in Bandung area.
Kajian Implementasi Metode Penetapan Batas Administrasi Kota/Kabupaten Nugroho, Hary
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 15, No 1 (2011)
Publisher : JURNAL ITENAS REKAYASA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKBatas wilayah administrasi memiliki fungsi yang sangat strategis. Disamping sebagai pernyataan pemisahan wilayah kekuasaan secara administrasi, batas wilayah administrasi menjadi titik tolak seluruh kegiatan pembangunan daerah dan penghitungan PAD (pendapatan asli daerah). Peraturan mengenai pedoman penegasan batas daerah telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Permendagri No. 1 Tahun 2006. Dalam implementasinya banyak sekali kendala yang dihadapi, mulai dari kerancuan pemahaman antara batas administrasi dan batas adat, wilayah yang sangat sulit untuk dijangkau, atau pemerintah daerah yang bersebelahan tidak dapat mencapai kesepakatan karena wilayah yang berbatasan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Pada makalah ini akan didiskusikan permasalahan yang terjadi di lapangan dalam implementasi penegasan batas daerah kota/kabupaten dengan studi kasus Provinsi Sumatera Barat.Kata kunci: batas wilayah administrasi, penetapan batas, penegasan batasABSTRACTAdministrative boundaries have a very strategic functions, not only a statement of separation of powers in the administration area, the boundary becomes the starting point of all development activities and the calculation of revenue (local revenue). Regulations of the administrave border confirmation guidelines has been set by the government through Permendagri No. 1 of 2006. Its implementation faced many obstacles, includes the confusion of understanding between administrative boundary and customary boundary, some areas that are very difficult to reach, or adjoining local governments which can not reach an agreement due to the adjacent territories have high economic value. This paper will discuss the problems that occur in the field in the implementation of the afirmation of city/district administrative boundary with a case study of West Sumatera Province.Key words: administrative boundaries, boundary setting, boundary confirmation.
Hubungan antara bobot badan induk dan bobot lahir pedet sapi Brahman cross pada jenis kelamin yang berbeda Muslim, Khavida Nuril; Nugroho, Hary; Susilawati, Trinil
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan Vol 23, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.624 KB)

Abstract

The purpose of the study was to determine the correlation between cow weight and birth weight of Brahman Cross calves with different sex. The materials of the study were one hundred Brahman Cross cows which had been purposively selected. The variables of the study were cow body weight, calves birth weight, and sex. Data were analyzed using Pearson Correlation test (Product-Moment), Linear Regression and t Test. The study found that the birth weight diferred significantly (P <0.05) among male and female calves at the first and third parities. Also, there was significant correlation (P <0.05) between cow body weight and calves birth weight at the first parity. However, this cow body weight only influenced 22-25% on birth weight so that the study suggests to considering other factors such as environment and animal feed. Keywords: body weight, birth weight and bovine
Karakteristik Fenotip Kerbau Rawa (B. bubalis carabenesis) di Wilayah Sentra Pengembangan Kerbau Desa Guosobokerto Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara Nur, Erlangga Arfiyan; Nugroho, Hary; Kuswati, Kuswati
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 19, No 2 (2018): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.899 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fenotip kerbau rawa (B. bubalis carabenesis). Penelitian ini dilaksanakan di Desa Guosobokerto Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara. 211 kerbau lokal, terdiri dari 117 kerbau betina dan 91 kerbau jantan yang dikelompokkan berdasarkan jumlah pergantian gigi seri permanen yaitu PI0, P12, P14, P16dan P18. Data dianalisa dengan menggunakan annova way classification test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3,79% bentuk tanduk melingkar kebawah yang tidak sesuai dengan SNI 7706.1.2011. Umur memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0.01) terhadap ukuran statistik vital kerbau rawa (lingkar dada, tinggi badan, tinggi pinggul, panjang badan dan berat badan). Pertumbuhan tertinggi berdasarkan ukuran tubuh kerbau rawa betina standar adalah ligkar dada P18 178,3 cm, tinggi badan P16 121,54 cm, tinggi pinggul P16 119,54 cm, panjang badan P18 129,39 cm dan berat badan P18 343,81 kg. Sedangkan pertumbuhan tertinggi berdasarkan pada tubuh kerbau rawa standar untuk jantan adalah pada lingkar dada  P14 194,38 cm, tinggi badan pada P16 123,8 cm, tinggi pinggul pada P16 122,8 cm, panjang badan pada P14 125,75 cm dan berat badan pada P14 410,88 kg. Terdapat 30,77% kerbau rawa betina dan 65,96% jantan yang tidak sesuai dengan SNI 7706.1.2011. Kerbau rawa di wilayah Desa Guosobokerto dapat dikatakan tidak memenuhi persyaratan. Oleh karena itu perlu dilakukan seleksi dan peningkatan kualitas genetik dengan mengawinkan calon kerbau rawa unggul untuk mempertahankan potensi karena Desa Guosobokerto merupakan asal daerah kerbau rawa. 
Identifikasi Daerah Prospek Panas Bumi dengan Menggunakan Teknik Pengindraan Jauh (Studi Kasus: Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut) Nugroho, Hary; Fadhilah, Mohamad Farhan
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.027 KB)

Abstract

ABSTRAKPertambahan jumlah penduduk mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan energi. Sumber energi dari fosil semakin hari semakin menipis sehingga perlu ada upaya pencarian energi terbarukan. Salah satu potensi energi terbarukan yang banyak tersebar di Indonesia adalah energi panas bumi. Indonesia memiliki 40% potensi energi panas bumi dunia. Umumnya daerah prospek panas bumi berada pada daerah vulkanik yang dikelilingi oleh vegetasi rapat. Salah satu cara untuk mengetahui lokasinya adalah menggunakan metode pengindraan jauh. Teknologi pengindraan jauh ini dapat digunakan pada tahap awal identifikasi yang selanjutnya dapat didalami menggunakan teknik geofisika dan geokimia. Citra pengindraan jauh yang digunakan dilakukan analisis melalui suhu kecerahan atau brightness temperature untuk selanjutnya diintegrasikan dengan data kelurusan, struktur geologi, dan manifestasi panas bumi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa daerah prospek panas bumi terletak di kawasan Gunung Papandayan yang mencakup Desa Sirnajaya, Karamatwangi, Cisurupan, Cisero, Cidatar, Sukatani, Cipaganti, dan Sukawargi. Daerah prospek terletak di dataran tinggi dengan suhu kecerahan yang beragam antara 12,8°C-42,8°C.Kata kunci: panas bumi, pengindraan jauh, suhu kecerahan, manifestasiABSTRACTPopulation growth has resulted in increased energy demand. Energy sources from fossils will soon run out, so we need renewable alternative energy sources. One of the potential renewable energy that is widely spread in Indonesia is geothermal energy. Indonesia has 40% of the world's geothermal energy potential. Generally, geothermal prospect areas are in volcanic areas surrounded by dense vegetation. How to find out the location, one of which is the application of remote sensing methods. This remote sensing technology can be used at the initial stage of identification which can then be explored using geophysical and geochemical techniques. The image was processed and analyzed to obtain brightness temperature. These results were then integrated with geological structure, and geothermal manifestations. The prospect area obtained is located in the area of Mount Papandayan which includes the villages of Sirnajaya, Karamatwangi, Cisurupan, Cisero, Cidatar, Sukatani, Cipaganti, and Sukawargi. This region is located in the highlands with brightness temperature varying between 12.8°C-42.8°C.Keywords: geothermal, remote sensing, brightness temperature, manifestation
Gambaran Variasi Anatomy Vena Saphena Parva pada Cadaver Indonesia Danial, Dani; Nugroho, Hary; Rachmi, Eva; Ibrahim, Arie
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 2, No 2 (2019): Anatomica Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.066 KB)

Abstract

Treatment of vein varicose that related to small saphenous vein is needed a good understanding of small saphenous vein anatomy and its’ variations. The purpose of this study investigates anatomy variations of small saphenous vein on Indonesians’ specimen base on cadaver dissected. We examine five pair of lower limb cadavers. Duplicating and branching patterns of small saphenous vein, and it’s relation to fascia were studied after exposing the superficial layers of the lower limb in Anatomy Laboratory of A.W Syahranie Hospital, Samarinda. This study found a small saphenous vein with accessory duplication in two pairs and a half of lower limb pair. In branching pattern, posterior crus region consist of two lower limbs with branch arise from 1/3 distal, one lower limb from 1/3 proximal and one lower limb from both in 1/3 distal and 1/3 medial. Small saphenous vein is located between the muscular fascia and superficial layer of membrane fascia in eight lower limbs. It can be said that this study get a clear describing of anatomy variations of small saphenous vein in Indonesian specimens base on cadaver dissected and also this study can support to further other research.