Articles

EVALUASI PEWARNAAN ALCIAN BLUE TERHADAP SEL MAST JARINGAN IKAT DARI PREPARAT BEKU JARINGAN KULIT KAKI TIKUS Nugroho, Agung Endro; maeyama, Kazutaka
PHARMACY Vol 6, No 1 (2009)
Publisher : PHARMACY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alcian blue merupakan pewarna golongan phthalosianin tembaga yangdigunakan dalam pewarnaan asam mukopolisakarida dan proteoglikan jaringan ikat.Alcian blue mengandung empat gugus tetrametillisothiouronium yang bermuatan positif(tetrakationik) yang berikatan secara elektrostatik dengan muatan negatif dariglikoaminoglikan (heparin). Alcian blue tidak mewarnai semua sel mast. Hal inikemungkinan karena sisi anionik dari heparin terlindungi oleh protein, atau ikatankompleks dalam granul sel mast sangat kuat. Safranin sering digunakan sebagai pewarnalanjutan sebagai kombinasi alcian blue dengan safranin untuk mewarnai articularcartilage proteoglikan pada pengamatan histologi.Pewarnaan tunggal alcian blue terhadap sel mast jaringan ikat memberikanwarna biru langit hingga hijau, sedangkan pewarnaan alcian blue-safranin memberikanvariasi warna yaitu biru, merah dan campuran kedua warna tersebut. Sel mast akanteramati cukup jelas pada pewarnaan toluidine blue dibandingkan dengan pewarnaanalcian blue. Namun, pada pewarnaan alcian blue terutama alcian blue-safranin, jumlahsel mast jaringan ikat yang teramati lebih banyak dibandingkan pewarnaan toluidineblue.Kata kunci : alcian blue, safranin, sel mast, glikoaminoglikan.
Ficus septica burm. F. Leaves Ethanolic Extract Induces Apoptosis in 7,12-dimethylbenz[a]nthracene-induced Rat Liver Cancer Quatitavely Septhea, Dita Brenna; Anindyajati, .; Darma, Andita Pra; Nurzijah, Ika; Nugroho, Agung Endro
Indonesian Journal of Cancer Chemoprevention Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The chemopreventive effect of  Ficus septica Burm. f. leaves ethanolic extract (FLEE) was studied in 7,12-dimethylbenz[a]nthracene (DMBA)-induced rat liver cancer. Rats were divided into 5 group, 5 rats (5 wk of age Sprague Dawley rat) in each group. Group 1 was control diet group, administered with 0,5% CMC-Na as vehicle. FLEE was administered 750 mg/kgBW and 1500 mg/kgBW starting 4 wk until 5 wk after DMBA administration at the first until fifth wk to group 2 and group 3. Group 4 was control extract group, administered  with 750 mg/kgBW and  group  5  was  DMBA  group.  DMBA  is  a  carcinogen  to  induce  liver  cancer  was  also administered in DMBA control group and all animals were necropsied at 6 wk after DMBA administration. Activity of inducing apoptosis was detected using Double Staining method in 750 mg/kgBW FLEE group compared to control group but no in 1500 mg/kgBW FLEE group resulted in 100% dead. Apoptotic cells would have orange flourescence but normal cells would have green flourescence detected by flourescence microscope. To investigate the protein that involved in apoptotic mechanism, we studied p53 expression using Imunohistochemistry (IHC). There was no difference expression of p53 in both tested and control groups. Based on the results, FLEE has a potency as chemoprentive agent because its activity on inducing apoptosis in liver  cancer  with  p53-independent  pathway.  The  mechanism  of  apoptosis  induction  of  this extract needs to be explored by observing the expression of related proteins. Key words: apoptosis, Ficus septica, liver cancer, p53 independent pathway
Ficus septica Burm.f. Leaves Ethanolic Extract Triggered Apoptosis on 7,12-Dimethylbenz[a]anthracene-Induced Rat Mammary Carcinogenesis Qualitatively Anindyajati, .; Darma, Andita Pra; Nurzijah, Ika; Septhea, Dita Brenna; Nugroho, Agung Endro
Indonesian Journal of Cancer Chemoprevention Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ficus septica Burm.f.ethanolic extract (FEE) shows cytotoxic effects on several cancer cell lines. Our research aimed to investigate the effect of FEE on apoptosis induction and p53 expression against carcinogenesis of 7,12-Dimenthylbenz[a]anthracene (DMBA)-induced rat mammary. The research was conducted by comparing both apoptosis induction and p53 expression in DMBA-induced rats that were treated with FEE against control groups. Cells that undergo apoptosis were visualized by Double Staining method with acridine orange and ethidium bromide, while p53 expression was detected by IHC staining. Double staining result showed increased occurrence of apoptotic cells compared to the control groups. IHC staining pf P53 did not show significant difference between treatment and control groups. However, FEE was able to repair morphology of cells undergoing carciogenesis. Thus, we conclude that FEE has an anti carciogenic activity on DMBA-induced rat mammary through apoptosis induction without affecting p53 expression. Therefore, the ethanolic extract of Ficus septica leaves is a potential chemo-preventive agent on breast cancer. Further study on its molecular mechanism needs to be exploredKeywords: Ficus septica, breast cancer, 7,12-Dimethylbenz[a]anthracene, carciogenesis, apoptosis, p53
AKTIVITAS ANTIDIABETES FRAKSI n-HEKSAN EKSTRAK ETANOL DAUN LENGLENGAN (Leucas lavandulifolia JE. Smith) PADA TIKUS NEONATAL STZ-INDUCED TYPE-2 DIABETES MELLITUS Anas, Yance; Fithria, Risha Fillah; Nuria, Maulita Cut; Midkha, Yunita; Nugroho, Agung Endro; Astuti, Puji
e-Publikasi Ilmiah Fakultas Farmasi Unwahas Semarang Prosiding Seminar Nasional "Perkembangan Terbaru Pemanfaatan Herbal Sebagai Agen Preventif Pada Ter
Publisher : e-Publikasi Ilmiah Fakultas Farmasi Unwahas Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Dalam penelitian ini, kami melakukan fraksinasi ekstrak etanol daun lenglengan dengan pelarut n-heksan untuk menyederhanakan kandungan zat aktif yang terkandung di dalamnya dan mengevaluasi efek antidiabetesnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek antidiabetes fraksi n-heksan ekstrak etanol daun lenglengan (FHDL) pada tikus neonatal STZ-induced type-2 diabetes mellitus. STZ 90 μg/KgBB diberikan secara i.p pada 35 ekor anak tikus galur Wistar umur 2 hari.  Pada usia 3 bulan, dilakukan pengukuran kadar glukosa pre-prandial dan post-prandial. Sebanyak 25 ekor tikus neonatal STZ-induced type-2 diabetes mellitus dikelompokkan ke dalam lima kelompok perlakuan, terdiri dari kelompok kontrol diabetes (CMC-Na 0,5%; 25 mL/KgBB), kelompok glibenklamid 5 mg/KgBB dan tiga kelompok FHDL (62,5; 125 and 250) mg/KgBB. Sediaan uji diberikan selama 28 hari. Kadar glukosa darah pre-prandial dan post-prandial diukur pada hari ke-0, 7, 14 dan 28. FHDL secara signifikan berhasil menurunkan kadar glukosa darah pre-prandial dan post-prandial tikus neonatal STZ-induced type-2 diabetes mellitus (p<0,05). Perlakuan FHDL 62,5 mg/KgBB selama 28 hari memiliki efek antidiabetes yang tinggi, yaitu mampu  menurunkan kadar glukosa darah pre-prandial tikus sebesar 45,99%. Perlakuan FHDL 250 mg/KgBB juga signifikan menurunkan kadar glukosa darah post-prandial tikus (p<0,05) dengan efek antidiabetes pada hari ke-7, 14 dan 28 berturut-turut adalah sebesar 19,28%; 22,68% dan 24,92%. Kata Kunci: Daun Lenglengan, Efek Antidiabetes, Fraksi n-Heksan, Neonatal STZ-induced type-2 diabetes mellitus
AKTIVITAS ANTIINFLAMASI REBUSAN KULIT BATANG JAMBU METE (Anacardium occidentale L.) PADA UDEMA KAKI TIKUS TERINDUKSI KARAGENIN Nugroho, Agung Endro; Sudarsono, Sudarsono; Veriony, Lini
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.16 KB)

Abstract

Rebusan kulit batang tanaman jambu mete (Anacardium occidentale L.) secara tradisional dimanfaatkan sebagai obat kumur untuk mengobati radang mulut dan gusi. Kombinasi ekstrak air kulit batang jambu mete dengan jus anggur memiliki aktivitas antiinflamasi. Kulit batang jambu mete mengandung asam galat dan asam anakardat yang berefek sebagai antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi rebusan kulit batang jambu mete dibandingkan dengan indometasin (Non Streoid Antiinflamatory Drug). Proses penelitian meliputi pengumpulan kulit batang, pembuatan rebusan, analisis kualitatif metabolit, penetapan kadar fenolik total, pengujian aktivitas penangkapan radikal bebas dan pengujian aktivitas antiinflamasi. Rebusan dosis pemberian 1,25; 2,5 dan 5g/kgBB serta kontrol positif indometasin dosis 10mg/kg BB digunakan untuk uji aktivitas antiinflamasi. Hasil pengukuran volume udem dihitung nilai Area Under Curve (AUC) dan % Daya Antiinflamasi (DAI) kemudian data dianalisis untuk mengetahui perbedaan antar kelompok. Dari hasil penelitian diketahui bahwa daya antiinflamasi rebusan kulit batang jambu mete dosis pemberian 1,25 ; 2,5 dan 5 g/kgBB tidak berbeda signifikan dengan indometasin dosis 10mg/kgBB. Kadar fenolik total semakin berkurang seiring dengan peningkatan konsentrasi rebusan. Aktivitas penangkapan radikal bebas DPPH pada konsentrasi 1mg/mL jauh lebih lemah dibandingkan dengan asam galat 1 mg/mL.
PENGARUH KOMBINASI EKSTRAK TERPURIFIKASI HERBA SAMBILOTO (Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees) DAN HERBA PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban) TERHADAP TRANSLOKASI PROTEIN GLUT-4 PADA TIKUS DIABETES MELLITUS TIPE 2 RESISTEN INSULIN Nugroho, Agung Endro; Lindawati, Novena Yety; Pramono, Suwijiyo
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.168 KB)

Abstract

Herba sambiloto (Andrographis paniculata (Burm. f) Nees) dan herba pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) merupakan tanaman obat unggulan yang sedang dikembangkan sebagai obat tradisional salah satunya sebagai antidiabetes. Penelitian bertujuan untuk melihat efek kombinasi ekstrak terpurifikasi herba sambiloto dan herba pegagan terhadap translokasi protein GLUT-4 pada tikus diabetes mellitus tipe 2 resisten dibandingkan dengan penggunaan dari masing-masing ekstrak. Dalam penelitian digunakan 8 kelompok perlakuan dimana 3 kelompok diberi kombinasi ekstrak terpurifikasi herba sambiloto dengan herba pegagan:  kelompok I (912,1: 300); kelompok II (651,5 : 500); kelompok III (390,9 : 700) dalam mg/kg BB;  kelompok IV (ekstrak terpurifikasi herba sambiloto 1303 mg/kg BB); kelompok V (ekstrak terpurifikasi herba   pegagan  1000 mg/kg BB),   kelompok   VI   (kontrol   positif  metformin 45mg/kg BB),   kelompok  VII (kontrol negatif CMC-Na 0,5%), dan kelompok VIII (kontrol normal). Parameter yang diukur data semi kuantitatif translokasi protein GLUT 4 pada sel otot paha (soleus muscle) dengan metode Immunohistochemistry. Hewan uji diabetes mellitus tipe 2 resisten insulin dibuat dengan pembebanan fruktosa (1,8 g/kg BB) dan pakan kaya lemak (campuran pakan pelet 95% dan 5% kuning telur bebek serta lemak babi 5 mL/ 200 g BB) selama 70 hari. Penetapan kondisi resisten insulin hewan uji digunakan 3 parameter meliputi kadar glukosa darah, uji kadar lemak (trigliserida, LDL, kolesterol dan HDL), dan uji daya hipoglikemik glibenklamid yang dibandingkan dengan kontrol normal. Hasil uji resisten insulin dengan analisis statistik Independent Sample-t Test menunjukkan ada perbedaan bermakna (p<0,05) antara tikus normal dengan tikus diit lemak-fruktosa pada hari ke-50 dan ke-70. Hal ini mengindikasikan tikus diit lemak-fruktosa terindikasi DM tipe 2 resisten insulin. Pengaruh kelompok I (kombinasi ekstrak terpurifikasi herba sambiloto dengan herba pegagan (912,1 : 300 mg/kg BB) terhadap translokasi protein GLUT-4 lebih baik jika dibandingkan dengan pengaruh dari masing-masing ekstrak dengan signifikan p<0,05 dengan analisis oneway ANOVA.
EFEK PENGHAMBATAN EKSTRAK N-HEKSANA BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) TERHADAP REAKSI ANAFILAKSIS KUTANEUS AKTIF PADA TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI VAKSIN HEPATITIS B Sasmito, Ediati; Nugroho, Agung Endro; V. Sagala, Yose
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.869 KB)

Abstract

Mengkudu (Morinda citrifolia L.) adalah salah satu tanaman berkhasiat obat  yang sudah tidak asing lagi penggunaannya dalam pengobatan. Mengkudu telah diketahui memiliki efek farmakologis, antara lain efek analgesik, antihipertensi, dan imunomodulator. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa ekstrak n-heksana buah mengkudu dapat menghambat reaksi anafilaksis kutaneus aktif pada tikus Wistar jantan yang diinduksi vaksin hepatitis B. Penelitian ini menggunakan metode anafilaksis kutaneus aktif, kemudian dilanjutkan dengan pengamatan histopatologinya. Uji anafilaksis kutaneus aktif dilakukan selama dua minggu. Hewan uji dibagi menjadi lima kelompok yaitu kelompok : kontrol tanpa perlakuan, perlakuan dengan  ekstrak n-heksana buah mengkudu dosis   50mg, 100mg, dan 200mg/kgBB tikus, dan kelompok yang diberi kromolin dosis 2,16mg/kg BB tikus sebagai kontrol positif. Hewan uji disensitisasi 2 kali (1x setiap minggu) dengan vaksin hepatitis B (dosis 145µg/kgBB tikus) secara subkutan pada bagian punggung. Pada minggu kedua, hewan uji diambil secara acak 4 ekor setiap kelompok untuk dikurbankan dan diambil jaringan kulit beserta jaringan hatinya. Jaringan dibuat sebagai preparat histopatologi dengan pewarnaan hematoxyllin-eosin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak n-heksana buah mengkudu dosis 50mg, 100mg, dan 200mg/kgBB pada tikus jantan Wistar yang diinduksi vaksin hepatitis B dapat menghambat reaksi anafilaksis kutaneus aktif.
EFEK SENYAWA FLAVONOIDS DARI KEMUNING (Murraya paniculata [L.] Jack.) TERHADAP PELEPASAN HISTAMIN DARI KULTUR SEL MAST Nugroho, Agung Endro; Riyanto, Sugeng; Sukari, Mohamad Aspollah; Maeyama, Kazutaka
Majalah Obat Tradisional Vol 15, No 1 (2010)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.985 KB)

Abstract

Murraya paniculata [L.] Jack. merupakan tanaman yang tumbuh di Indonesia, dikenal dengan nama Kemuning. Penelitian mengenai tanaman ini telah banyak dilakukan, terutama isolasi senyawa aktifnya. Tanaman ini mempunyai kandungan senyawa aktif, diantaranya senyawa turunan flavonoid. Pada penelitian, tiga senyawa flavonoid yang diisolasi dari M. paniculata diuji aktivitasnya terhadap pelepasan histamin dari kultur sel mast yaitu sel RBL-2H3. Ketiga senyawa tersebut adalah 3,3’,4’,5,5’,7–heksametoksiflavon; 3,3’,4’,5,5’,6,7-heptametoksiflavon; dan 3,3’,4’,5,5’,6,7,8-oktametoksiflavon. Induktor pelepasan histamin yang digunakan adalah DNP24-BSA dan thapsigargin. Keduanya berturut-turut menginduksi secara imunologis dan non-imunologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa heptametoksiflavon dan heksametoksiflavon cenderung tidak mempengaruhi pelepasan histamin dari sel mast. Namun, oktametoksiflavon dapat meningkatkan pelepasan histamin dari sel mast baik tanpa induksi maupun terinduksi dengan DNP24-BSA atau thapsigargin. Senyawa tersebut mampun meningkatkan pelepasan histamin hingga 50%. Dari hasil tersebut, penambahan gugus polimetoksi pada struktur flavonoid berpotensi dapat menghasilkan efek pelepasan histamin dari sel mast.  
PENENTUAN AKTIVITAS ISOLAT ANDROGRAFOLID TERHADAP α-AMILASE DAN α-GLUKOSIDASE MENGGUNAKAN METODE APOSTOLIDIS DAN MAYUR Rais, Ichwan Ridwan; Nugroho, Agung Endro; Samudra, Agung Giri; Widyarini, Sitarina
Majalah Obat Tradisional Vol 18, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.049 KB)

Abstract

Gangguan metabolisme karbohidrat dapat menyebabkan Diabetes mellitus. Karbohidrat dalam saluran cerna mengalami metabolisme menjadi glukosa yang sederhana kemudian diabsorbsi masuk kedalam peredaran darah serta mempengaruhi kadar glukosa dalam darah. Proses penyerapan ini dikatalisis enzim pemecah ikatan α-1,4-glikosida yaitu α-amilase dan enzim pemecah ikatan α-1,6-glikosida yaitu α-glukosidase yang terdapat pada sel usus. Telah dilakukan penelitian sebagai upaya mengembangkan pengobatan alternatif diabetes mellitus dengan menguji kemampuan isolat andrografolid dalam menghambat aktivitas α-amilase dan α-glukosidase secara in vitro. Isolat andrografolid memperlihatkan aktivitas yang cukup baik dalam menghambat α-amilase (IC50= 12,49 mg/mL) dan lemah dalam menghambat α-glukosidase (IC50= 38,86 mg/mL). Penghambatan aktivitas α-amilase ini menjadi bukti salah satu mekanisme andrografolid dalam mengurangi metabolisme karbohidrat yang dapat mempengaruhi kadar glukosa dalam darah dan mengindikasikan andrografolid sebagai obat alternatif yang cukup potensial dalam mengatasi penyakit diabetes mellitus.
EVALUASI EFEK ANTI-DIABETES MELITUS EKSTRAK TERPURIFIKASI Andrographis paniculata (Burm. f.) Nees DAN ANDROGRAFOLID DENGAN PARAMETER INDEKS HOMA-IR Nugroho, Agung Endro; Adriawan, Ignatius Ryan; Andrie, Mohamad; Susilowati, Rina; Pramono, Suwidjiyo
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.432 KB)

Abstract

Diabetes mellitus (DM) tipe 2 dipicu oleh diet tinggi lemak dan fruktosa (DTLF) dan diawali dengan resistensi insulin dan hiperinsulinemia kompensatori, yang dapat dilihat dari indeks homeostatic model assessment – insulin resistance (HOMA-IR). Salah satu tanaman tradisional yang dapat digunakan untuk mengatasi DM adalah Andrographis paniculata (Burm. f.) Nees, dengan senyawa aktif utama andrografolid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak terpurifikasi A. paniculata dan andrografolid pada indeks HOMA-IR tikus Wistar dengan DTLF. Penelitian bersifat kuasi-eksperimental dan analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak terpurifikasi A. paniculata dan andrografolid dapat menurunkan indeks HOMA-IR, dan penurunan terbesar (82,05%) dihasilkan oleh ekstrak terpurifikasi A. paniculata dengan dosis 1303,8 mg/kgBB.
Co-Authors . Anindyajati . Sarmoko Ady Bagus Indrianto Agung Giri Samudra, Agung Giri Alexxander Alexxander, Alexxander Amprih Martha, Amprih Andita Pra Darma ANINDYAJATI, ANINDYAJATI Arief Nurrochmad Arief Rahman Hakim ARSITO, PUGU NOVI Atharini, Yanita Harliana B. Sudarto Chyntia Resti Wijaya, Chyntia Resti Dani Dwi Agistia, Dani Dwi Dita Brenna Septhea Djoko Suhardjono, Djoko Djoko Wahyono Dyaningtyas Dewi Pamungkas P, Dyaningtyas Dewi Ediati Sasmito Edy Meiyanto Eka Prasasti Nur Rachmani Eka Siswanto Syamsul, Eka Siswanto Enade Perdana Estyastono, Enade Perdana Enade Perdana Istyastono Endang Lukitaningsih Erna Prawita Setyowati Fifteen Aprila Fajrin Fitriani Fitriani Fredie Irijanto Gunawan Pamudji Widodo HARI PURNOMO Harno Dwi Pranowo Hemmy Prasetyo, Hemmy Hidayati Hidayati Ichwan Ridwan Rais Ignatius Ryan Adriawan, Ignatius Ryan Ika Nurzijah Ika Yuni Astuti Inayati Inayati Jarir At Thobari Joko Tri Wibowo, Joko Tri Kazutaka maeyama Khoerul Anwar Kiki Damayanti, Kiki Liling Triyasmono, Liling Lina Widiyastuti Lini Veriony, Lini Lukman Hakim M. Djatmiko Marchaban Marchaban, Marchaban Maulana Tegar, Maulana Maulita Cut Nuria Mohamad ANDRIE Mohamad Aspollah Sukari, Mohamad Aspollah Mulyono . Mulyono Zhang Be, Mulyono Zhang Novena Yety Lindawati, Novena Yety Nunung Yuniarti Nurjizah, Ika Nurlely Nurlely Nurrohmad, Arief Nurul Maziyyah, Nurul Oetari ., Oetari Pinzon, Rizaldi T Probosuseno Probosuseno, Probosuseno Puji Astuti Purwantiningsih ., Purwantiningsih Ratna Asmah Susidarti Rina Susilowati risha fillah fithria Rizaldi Taslim Pinzon, Rizaldi Taslim Ronny Martien Sardjiman . Sardjiman, S. Shuang Liu, Shuang Sitarina Widyarini Siti Sendari, Siti Soraya, Fenthy Sri Sutji Susilowati Subagus Wahyuono SUDARSONO SUDARSONO Sudibyo Martono Sugeng Riyanto Sugiyanto . Supardjan ., Supardjan Supardjan A. Margono Suwidjiyo Pramono SUWIJIYO PRAMONO Umar A. Jenie Umar Anggara Jenie Untari, Meta Kartika Wahyono Wahyono Widodo, Dewita Fitri Winda Werdhinindah, Winda Yance Anas Yandi Syukri, Yandi Yose V. Sagala, Yose Yunita Midkha, Yunita Zamzani, Irfan Zullies Ikawati