Articles

Found 25 Documents
Search

KESANTUNAN BERBAHASA INDONESIA SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI 06 KOTA BENGKULU Hambali, Daimun; Novia, Novia
Jurnal PGSD Vol 10, No 1 (2017)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.973 KB)

Abstract

The purpose of this study was to describe the politeness of Indonesian between students and between students and teachers at SDN 06 Bengkulu City neighborhood. The research subject is that students of class V. The scope of this research is the use of verbal and nonverbal politeness by students at SDN 06 Bengkulu: students with students, and students with teachers. This type of research is qualitative descriptive. Data collected by observation, field notes, interview techniques and recording technique. Steps of data analysis conducted in stages, data reduction, data display and data verification. Results of research on linguistic politeness Indonesia students in the SDN 06 Bengkulu city, namely (1) for politeness the studentsdata found conversational politeness students more than the data conversation violation of politeness that is, 21 data is conversations that contain maxims of politeness and 5 the data conversation violation maxim of politeness, (2) for politeness between students and teachers found 7 data containing politeness conversation, and was not found students who violate the maxim of politeness and not found students against teachers. All data that conversation concluded with a look at the context of the speech that underlie the events said. The conclusion from this study is that politeness between students and between students and teachers reveal politeness. For nonverbal language, in speaking students use the fit between body language and speech (verbal). 
The Recommended Time Interval of Decision to Incision in Caesarean Section is not Achieved in Daily Practice Novia, Novia; Syamsuri, Ahmad K; Basir, Firmansyah; Mafiana, Rose; Saleh, Irsan
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Vol. 37. No. 1 January 2013
Publisher : Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractObjective: To determine the mean time for decision-to-incision interval for emergency caesarean section, the contributing factors for delay and the outcome at Department of Obstetrics and Gynecology Dr. Moh. Hoesin Hospital, Palembang. Methods: The study was conducted on 555 patients who met our study inclusion criteria at our maternity unit. There was 1748 deliveries in six months and the rate of caesarean section was approximately 37.9% (6.1% elective). An emergency caesarean section was defined as non-elective or non-scheduled cases.Result: In this study, there was 355 emergency caesarean sections, and the mean time from decision-to-incision was 83.9±41.6 minutes. The time interval reached 30 minutes in only 8 women (2.2%). Most cases have time interval 61-90 minutes (41.1%). The main sources of delay were patient’s preparations, transfer of women to the operating theatre, operating theatre preparations and the start of anesthesia administration. The most common indication for emergency caesarean sections were dystocia, bleeding from placenta previa or placental abruption, premature rupture of membrane and fetal distress. There were significant differences in the proportion of babies born with 1 minute Apgar score <7.5 minute Apgar score <7 and admssion to special care. There were no significant differences in the proportion of women who were admitted to special care and the length of postpartum stay.Conclusion: The current recommendations for the interval between decision-to-incision is achieved in routine practice. Reasons for delay were interval for patient preparation and operating room preparation. Failure to meet the recommendation does not seem to increase neonatal and maternal morbidity.[Indones J Obstet Gynecol 2103; 37-1: 12-6]Keywords: emergency caesarean section, outcomes, reasons for delay, time decision-to-incision
Pengaruh Waktu Tinggal dan Umur Tanaman pada Biosorpsi Ammonia oleh Tanaman Air Enceng Gondok (Eichhornia Grassipes) Suhendrayatna, Suhendrayatna; Bahagia, Bahagia; Novia, Novia; Elvitriana, Elvitriana
Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan Vol 7, No 2 (2009): Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan
Publisher : Chemical Engineering Department, Syiah Kuala University, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.549 KB)

Abstract

Ammonia biosorption by using Enceng Gondok, Eichhornia crassipes, was conducted in outdoor laboratory with objective to study the influence residence time and plant age to ammonia biosorption rate. The research uses reactor test consisting of wet land and sludge. Enceng Gondok is planted on reactor test flown by ammonia as bacth with relatif low enough concentration (2 mg/L), water height 20 cm, plant’s number in each reactor of 4 stems with variatious plant’s length 10, 20, 30, and 40 cm, and various residence time 2, 4, 6, and 8 days. Each test conducted was completed by controlling reactor. Research result showed that maximun biosorption occurs at 2 days culturization; ammonia biosorption rate by roots increases as residence time increases. Residence time 2, 4, 6 and 8 days can decrease ammonia concentration up to 1.568 mg/l, 0.245 mg/l, 0.204 mg/l (10%), and 0.022 mg/l, respectively, at plant length 10 cm. Further, research results showed that the more the plant’s age, the larger the biosorption by plant.Keywords: ammonia biosorption, enceng gondok, plant’s age, residence time
PRODUKSI GLUKOSA DARI LIGNOSELULOSA JERAMI PADI YANG DIDELIGNIFIKASI DENGAN ALKALINE-OZONOLYSIS PRETREATMENT Novia, Novia; Yanto, Angga Riski; Saputra, Andri
Jurnal Teknik Kimia Vol 19, No 4 (2013): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.835 KB)

Abstract

Selama ini limbah biomassa lignoselulosa seperti jerami padi belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal biomassa itu mengandung selulosa yang cukup tinggi. Selulosa dihidrolisis akan menghasilkan glukosa, kemudian dari glukosa difermentasikan akan menghasilkan bioetanol.. Produksi glukosa dimulai dengan pre-treatment, yaitu delignifikasi.Perlakuan ini bertujuan untuk mengurangi kandungan lignin dan sedikit hemiselulosa yang terdapat pada jerami padi, karena senyawa lignin dan hemiselulosa dapat menghambat dan menjadi inhibitor utama dalam proses hidrolisadari selulosa menjadi glukosa. Apabila tahap pre-treatment yang ditentukan telah dicapai maka biomassa selanjutnya dihidrolisis secara enzimatis, yakni dengan bantuan enzim Aspergillus Niger. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variabel mana yang paling berpengaruh pada produksi glukosa. Dari hasil analisa dapat disimpulkan bahwa produksi glukosa dengan variabel waktu hidrolisis 25 jam dan volume enzim 10 ml menghasilkan kadar glukosa lebih banyak bila dibandingkan dengan variabel yang lain, yaitu 52,4 mg. Kata Kunci: Enzim Aspergillus Niger, Glukosa, delignifikasi, Hidrolisis
PEMBUATAN BIOETANOL DARI JERAMI PADI DENGAN METODE OZONOLISIS – SIMULTANEOUS SACCHARIFICATION AND FERMENTATION (SSF) Novia, Novia; Windarti, Astriana; Rosmawati, Rosmawati
Jurnal Teknik Kimia Vol 20, No 3 (2014): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.581 KB)

Abstract

Jerami padi dapat di manfaatkan untuk pembuatan energi alternatif. Hal ini dikarenakan jerami padi mengandung lignosellulosa yang merupakan bahan baku bioetanol generasi-2. Proses hidrolisis dan fermentasi untuk memproduksi bioetanol biasanya dilakukan secara terpisah atau disebut Separate Hydrolysis and Fermentation (SHF). Namun proses tersebut masih kurang efektif karena dilakukan dalam dua buah reaktor dan tidak dilakukan secara berkelanjutan atau simultan. Untuk mengatasi masalah ini, dilakukan proses Simultaneous Saccharification and Fermentation (SSF). Kelebihan proses ini tanpa melalui tenggang waktu yang lama, dilakukan dalam satu reaktor sehingga dapat menghemat biaya. Pretreatment yang dilakukan untuk menguraikan senyawa lignin yang mengikat selulosa adalah proses alkaline pretreatment dan ozonolisis. Ozon dapat digunakan untuk mendegradasi lignin dan hemiselulosa pada kebanyakan bahan-bahan biomassa seperti residu hasil pertanian, bagas, jerami, batang jagung, potongan kayu. Metode ini meningkatkan kecepatan hidrolisis enzim. Proses ini juga sangat efektif menyisihkan lignin dan proses tidak menghasilkan residu beracun. Pada penelitian ini variabel yang digunakan adalah lamanya waktu tinggal proses Simultaneous Saccharification and Fermentation (SSF) dan konsentrasi ragi saccharomyces cereviceae. Waktu tinggal yang digunakan mulai dari 3, 4, 5, 6 dan 7 hari. Sedangkan konsentrasi ragi saccharomyces cereviceae yang digunakan adalah 10%; 20%; 30%; dan 40%. Dari hasil penelitian yang dilakukan didapat kadar etanol yang tertinggi 5,65336% dengan waktu tinggal 7 hari dan konsentrasi ragi saccharomyces cereviceae 40%.
PEMBUATAN ADSORBEN DARI FLY ASH HASIL PEMBAKARAN BATUBARA UNTUK MENGADSORBSI LOGAM BESI (Fe) Novia, Novia; Athiyah, Umi; Susanty, Elfa
Jurnal Teknik Kimia Vol 17, No 4 (2010): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.712 KB)

Abstract

Penggunaan batubara terus meningkat seiring dengan meningkatnya penggunaan batubara sebagai bahan bakar. Hal ini menyebabkan meningkatnya limbah abu terbang batubara.  Untuk mengurangi dampak lingkungan tersebut, abu terbang dapat dimanfaatkan sebagai adsorben.  Pembuatan adsorben abu terbang dilakukan dengan perlakuan refluks dan aktivasi yang kemudian diaplikasikan sebagai adsorben logam besi (Fe) dalam air.  Perlakuan refluks dilakukan selama 1 jam pada suhu 95oC dengan memvariabelkan konsentrasi HCl 5M, 7M, dan 10M lalu dilanjutkan dengan aktivasi dengan rasio FA ( Fly Ash ) / NaOH 1,2 ; 1,5 ; dan 1,8 selama 1 jam serta variasi suhu 550oC, 600oC, dan 700ºC.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi HCl dan rasio FA ( Fly Ash ) / NaOH terhadap daya serap adsorben fly ash yang terbentuk.  Kandungan logam dari sampel dianalisa dengan AAS (Atomic Absorption Spectrometri) dan Spektrofotometri untuk mengetahui daya serap adsorben terhadap logam besi ( Fe ).  Hasil pengamatan menunjukkan bahwa adsorben fly ash yang dapat mengadsorbsi logam besi ( Fe ) terbesar ( 4,97 mg Fe/gr adsorben ) yaitu pada kondisi rasio FA/NaOH 1,2 dan konsentrasi HCl 7M.
PEMBUATAN BIO-GASOLIN DARI MINYAK JARAK PAGAR MELALUI PROSES HYDROCRACKING Novia, Novia; Kachairisma, Kachairisma; Anggraini, Lidya
Jurnal Teknik Kimia Vol 17, No 5 (2011): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.867 KB)

Abstract

Tanaman jarak pagar memiliki potensi sebagai sumber bahan bakar alternatif, karena memiliki 30 – 50 % mengandung minyak. Salah satu proses pengolahan minyak jarak menjadi bahan bakar alternatif adalah proses hidrocraking. Pada penelitian ini proses hidrocraking digunakan untuk memanfaatkan minyak jarak pagar menjadi produk biogasolin yang bermutu tinggi. Variabel yang digunakan adalah jenis katalis, temperatur, laju alir gas hidrogen dan berat katalis.Bahan baku yang digunakan pada proses hydrocracking ini adalah minyak jarak pagar dengan katalis Co/Mo Montmorillonit terpilar TiO2. Kondisi optimal yang didapatkan untuk menghasilkan produk biogasolin bermutu tinggi adalah pada suhu 500o C, laju alir gas 2,5 ml/det dan 2 gram katalis B. % yield produk yang dihasilkan sebesar 77,7127 %.
PEMANFAATAN BIJI KARET SEBAGAI SEMI DRYING OIL DENGAN METODE EKSTRAKSI MENGGUNAKAN PELARUT N-HEKSANA Novia, Novia; Yuliyati, Haerani; Yuliandhika, Riska
Jurnal Teknik Kimia Vol 17, No 6 (2011): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.03 KB)

Abstract

Tanaman karet merupakan komoditi perkebunan penting bagi Indonesia. Pengolahan hasil tanaman karet yang hanya dititik beratkan pada lateks dan batang saja mengakibatkan produk lain seperti biji karet belum mendapat perhatian lebih. Selama ini, pemanfaatan biji karet hanya sebagai benih generatif pohon karet sehingga biji karet hampir tidak mempunyai nilai ekonomis. Kenyataannya, biji karet mengandung minyak nabati yang dapat dimanfaatkan pada berbagai industri. Minyak biji karet diperoleh dengan metode ekstraksi. Biji karet diekstraksi menggunakan pelarut n-heksana dengan kondisi operasi berbeda pada temperatur, volume pelarut dan ukuran partikel untuk waktu 1 sampai 5 jam. Dari hasil penelitian, didapatkan kondisi operasi yang optimum untuk ekstraksi minyak biji karet dengan massa bubuk biji karet yang sama.
Characteristics of Composite Rice Straw and Coconut Shell as Biomass Energy Resources (Briquette)(Case study: Muara Telang Village, Banyuasin of South Sumatra) Yerizam, Muhammad; Faizal.M, Faizal.M; Marsi, Marsi; Novia, Novia
International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology Vol 3, No 3 (2013)
Publisher : International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.068 KB)

Abstract

Rice straw and coconut shell as Solid residues are, biomass residue materials that are not optimally used by farmers in Muara Telang and potentially become environmental pollutant. These residues are used as an alternative energy which are biomass briquettes. Post-harvest produced 114 tons yield of rice straw and 80 tons yield of coconut shell. Mostly these residues were burned and produced environmental gas pollutant such as  CO, CO2 and NOx emissions. Rice straw and coconut shell have carbon compound that contained in the fixed carbon (FC), which flammable and became energy resources. Rice straw has 15.61% of FC and coconut shell has 78.32% of FC. Rice straw fuel value is 1525.5 cal/gram while  coconut shell has 7283.5 cal/gram of fuel value. The fuel value of biobriquette in ratio 50:50 is 4354.50 cal / gram. This fuel value close to coal fuel value between 4000 - 8000 cal / gram.
CFD Modeling Of Waste Heat Recovery On The Rotary Kiln System in the Cement Industry Novia, Novia; Faizal, Muhammad; Liana, Septa
Jurnal Ilmu Teknik Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ilmu Teknik
Publisher : Sriwijaya University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.309 KB)

Abstract

The cement production process is one of the most energy and cost intensive in the world. In order to produce clinker, a cement industry requires the substantial energy consumption. About 70% of energy consumption lies on the unit of rotary kiln system. The higher amount of energy consumption is due to the lack of work efficiency tools leading the waste heat. This reserach was focus on modeling of the waste heat recovery in the rotary kiln system using CFD. Analysis of mass and energy balance was used to determine the sources of heat loss from kiln system. The results showed that the distribustion of the input heat to the system is a good agreement with the output energy and gave the significant insights oft the reasons for the low overall system efficiency. The system efficiency is obtained of 53 %. The major heat loss sources have been determined as kiln exhaust (21.88% of total input), cooler exhaust to stack (9.62 % of total input) and heat loss astemated as heat from kiln surface (13.54 % of total input). The amount of heat energy can be absorbed by air amounted to 163,080 Kcal / hour and can be used as air for combustion of fuel. Based on data calculation, the amount of coal can be saved amounted to 738 kg / day.