cover
0.486
P-Index
- Noormartany
Departemen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung
Articles
3
Documents
Kadar Asam Urat Serum sebagai Biomarker Preeklamsi

Majalah Kedokteran Bandung Vol 45, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.084 KB)

Abstract

Preeklamsi masih merupakan masalah kesehatan yang menjadi salah satu penyebab kematian ibu selain akibat perdarahan dan infeksi. Etiologi dan patogenesis preeklamsi belum diketahui pasti. Peningkatan kadar asam urat serum timbul bersamaan dengan peningkatan tekanan darah dan terjadi sebelum timbul proteinuria sehingga dapat dipakai sebagai salah satu biomarker. Tujuan penelitian ini menganalisis perbandingan kadar asam urat serum pada kehamilan in partu normal dengan in partu preeklamsi. Penelitian potong lintang dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Maret–Mei 2011. Subjek penelitian 45 wanita hamil in partu normal sebagai kelompok kontrol dan 44 wanita in partu dengan preeklamsi sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Kadar asam urat serum pada wanita hamil normal adalah 3,43±0,14 mg/dL. Pada penelitian ini nilai titik potong kadar asam urat serum 4,8 mg/dL dengan nilai sensitivitas 93% dan spesifisitas 80%. Simpulan,kadar asam urat pada in partu preeklamsi lebih tinggi dibandingkan dengan kehamilan normal. Peningkatan kadar asam urat dapat dipertimbangkan sebagai salah satu biomarker preeklamsi, sebaiknya kadar asam urat serum digunakan sebagai pemeriksaan serial pada ibu hamil saat pelayanan antenatal. [MKB. 2013;45(2):98–104]Kata kunci: Biomarker, kadar asam urat, preeklamsiSerum Levels of Uric Acid as a Biomarker in PreeclampsiaPreeclampsia remains a health problem that becomes one of the causes of maternal deaths besides bleeding and infection. The etiology and pathogenesis of preeclampsia are unclear. Increased serum uric acid levels is seen simultaneously with the increase of blood pressure and occurred before the onset of proteinuria. Therefore, the uric acid can be used as a biomarker. The aim of this study was to analyze the serum uric acid levels between normal and preeclampsia pregnancies. The study was conducted in Dr.Hasan Sadikin Hospital Bandung between March and May 2011, using cross sectional study design. Subjects were 45 inpartu normal pregnant women as control and 44 in partu pregnant women with preeclampsia accordance with inclusion and exclusion criteria. Levels of uric acid in normal pregnancy are 3,43 ±0.14 mg/dL. In this study uric acid levels resulting in cut-off levels of 4,8 mg/dL with a sensitivity value of 93%, and specificity 80%. Conclusions: uric acid levels in at term preeclampsia are higher compared with normal pregnancies. Increased levels of uric acid can be considered as one of biomarkers of preeclampsia, hence the serum uric acid levels used as serial examinations in pregnant women during antenatal care. [MKB. 2013;45(2):98–104]Key words: Biomarker, preeclampsia, uric acid level DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v45n2.89

Korelasi Proteinuria Metode Rasio Albumin-Kreatinin Urin dengan Metode Kromatografi pada Preeklamsi

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 4 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.119 KB)

Abstract

Preeklamsi masih merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu melahirkan. Pada preeklamsi terjadi kerusakan endotel vaskular ginjal yang menyebabkan proteinuria. Pemeriksaan proteinuria penting dalam diagnosis preeklamsi. Metode rasio albumin-kreatinin urin (uACR) adalah metode pemeriksaan proteinuria yang memiliki korelasi yang baik dengan kadar protein urin 24 jam sebagai baku emas. Metode lain adalah metode kromatografi (carik celup) yang masih secara luas digunakan di berbagai fasilitas kesehatan namun dari berbagai penelitian metode ini memiliki variasi nilai sensitivitas dan spesifisitas yang luas. Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah terdapat korelasi yang baik antara hasil pemeriksaan proteinuria metode carik celup dan metode uACR pada penderita preeklamsi. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek penelitian adalah wanita hamil penderita preeklamsi yang sesuai dengan kriteria inklusi dan tidak masuk ke dalam kriteria eksklusi. Analisis statistik dilakukan dengan uji korelasi rank Spearman. Subjek penelitian sebanyak 52 orang. Kelompok usia terbanyak adalah 20–34 tahun. Dari uji statistik yang dilakukan, didapatkan korelasi yang baik antara hasil pemeriksaan proteinuria dari kedua metode tersebut (r=0,51; p<0,05). Simpulan, terdapat korelasi yang baik antara hasil pemeriksaan proteinuria metode carik celup dan metode uACR pada penderita preeklamsi, sehingga metode carik celup dapat tetap dipakai. [MKB. 2012;44(4):218–23].Correlation between Urinary Albumin Creatinin Ratio Test and Chromatographic Method in PreeclampsiaPreeclampsia is still one of the major causes of maternal mortality. In preeclamptic renal vascular endothelial damage occurs that leads to proteinuria. Examination of proteinuria is essential in preeclampsia diagnosis. Urinary albumin-creatinine ratio (uACR) is one of proteinuria test methods with good correlation with 24-hour urinary protein as the gold standard. Another method is chromatographic method (dipstick urinalysis) which is still widely used in various health facilities but from various studies it has wide variation of sensitivity and specificity values. The purpose of this study was to determine whether there is a good correlation between the results of the proteinuria examination by dipstick method and uACR method in patients with preeclampsia. The study was conducted at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. Subjects were woman with preeclampsia in accordance with inclusion and exclusion criteria. Statistical analysis was performed using Spearman rank correlation test. There were 52 subjects. Thelargest age group was 20–34 years. From the statistical test performed, agood correlation between the results of proteinuria examination from both methods was found. In conclusion, there is a good correlation between the results of dipstick urinalysis method and the method of urinary albumin-creatinine ratio in patients with preeclampsia. Therefore, dipstick urinalysis examination can still be utilized. [MKB. 2012;44(4):218–23]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n4.139

Perbedaan Kadar Osteoprotegerin Serum Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 tanpa dan dengan Penyakit Jantung Koroner

Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 4 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.963 KB)

Abstract

Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan diabetes yang disebabkan oleh resistensi insulin dan atau gangguan sekresi insulin sehingga menyebabkan hiperglikemia yang merupakan penyebab disfungsi endotel. Disfungsi endotel merupakan proses awal aterosklerosis dan merupakan salah satu faktor risiko yang menyebabkan penyakit jantung koroner (PJK). Sampai saat ini angiografi koroner digunakan sebagai baku emas PJK. Pemeriksaan osteoprotegerin (OPG) merupakan pemeriksaan alternatif sebagai penanda disfungsi endotel, kurang invasif, lebih dini, dan murah. Osteoprotegerin berhubungan dengan perkembangan plak arteri pada penderita DM tipe 2. Tujuan penelitian ini mengetahui perbedaan kadar OPG dalam serum penderita DM tipe 2 tanpa dan dengan PJK. Penelitian dilakukan pada September–Desember 2012 di Poliklinik Endokrin dan Instalasi Gawat Darurat RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek penelitian sebanyak 102 orang, 51 orang penderita telah didiagnosis oleh klinisi sebagai penderita DM tipe 2 dengan PJK dan 51 orang penderita DM tipe 2 tanpa PJK, berusia 35–75 tahun. Pemeriksaan OPG menggunakan metode enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Bentuk penelitian adalah observasional komparatif dengan rancangan penelitian studi perbandingan potong lintang. Analisis statistik menggunakan uji Shapiro Wilk’s, independent T, dan Mann Whitney. Nilai median kadar OPG serum untuk penderita DM tipe 2 dengan PJK lebih tinggi, yaitu sebesar 6,1 pmol/L dan penderita DM tipe 2 tanpa PJK, yaitu sebesar 2,6 pmol/L (p=0.0001). Simpulan, terdapat perbedaan kadar OPG serum antara kelompok DM tipe 2 tanpa dan dengan PJK. [MKB. 2015;47(4):218–23]Kata kunci: Disfungsi endotel, DM tipe 2, osteoprotegerinDifferences of Osteoprotegerin Levels in Patients with Type 2 Diabetes Mellitus with and without Coronary Arterial DiseaseAbstractType 2 diabetes mellitus (DM) is caused by insulin resistance and/or impaired insulin secretion, thus causing hyperglycemia leading to endothelial dysfunction. Endothelial dysfunction is an early process of atherosclerosis and is one of the risk factors for coronary arterial disease (CAD). Currently, coronary angiography is used as the gold standard for diagnosing CAD. Examination of osteoprotegerin (OPG) is an alternative assay for endothelial dysfunction marker which is less invasive, has the ability to detect earlier, and less expensive. Osteoprotegerin is associated with the development of arterial plaque in patients with type 2 DM. The aim of this study was to determine the differences in serum OPG levels in patients with type 2 DM with and without CAD. The study was conducted in September–December 2012 in the Endocrine Clinic and Emergency Unit of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung on 102 patients aged between 35–75 years, with 51 subjects type 2 DM patients with CAD and 51 subjects with type 2 DM without CAD, both diagnosed by clinician. The method used was, OPG enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) examination method. The study was an observational cross-sectional comparative study. Statistical analysis was performed using normality test with Shapiro Wilk’s, independent T and Mann Whitney test. The median value for patients with type 2 DM with CAD equaled to 6.1 pmol/L and the value for type 2 diabetic patients without CAD was 2.6 pmol/L. In this study, the OPG levels obtained in patients type 2 DM with CAD were higher than those without CAD. In conclusion, there is a significant difference in OPG levels between type 2 DM with and without CAD groups. [MKB. 2015;47(4):218–23]Key words: Endothelial dysfunction, type 2 diabetes, osteoprotegerin DOI: 10.15395/mkb.v47n4.616