Ronny R. Noor
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

JARAK GENETIK POPULASI KUDA LOKAL SULAWESI UTARA BERDASARKAN ANALISIS MORFOLOGI DAN POLIMORFISME PROTEIN DARAH Takaendengan, Ben J.; Noor, Ronny R.; Sumantri, Cece; Adiani, Sri
JURNAL ILMIAH SAINS Vol 11, No 1 (2011): Volume 11 Nomor 1, April 2011
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.907 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jarak genetik antar subpopulasi kuda lokal di Sulawesi Utara dengan menggunakan analisis morfologi dan polimorfisme protein darah. Subpopulasi kuda local yang diamati meliputi 505 ekor kuda dewasa yang terdiri dari 310 kuda jantan (stallion) dan 193 kuda betina (mare) dengan umur 2-7 tahun. Analisis morfologi digunakan untuk menentukan ukuran tubuh dan bobot badan, sedangkan analisis polimorfisme protein darah dilakukan untuk menduga keragaman genetic berdasarkan polimorfisme protein Albumin (Alb), post-albumin (PAlb), transferin (Tf), post-transferin 1 (PTf-1), post-transferin 2 (PTf-2), alfa-hemoglobin(Hbα) dan beta-hemoglobin (Hbβ). Analisis morfologi menunjukkan bahwa rata-rata ukuran badan dan bobot tubuh subpopulasi kuda Tomohon lebih tinggi (p<0.05) dibandingkan dengan subpopulasi di 3 daerah lainnya (Manado, Minahasa selatan dan Minahasa). Jarak genetik terdekat (2,75) terdapat antara subpopulasi kuda Minahasa dan Minahasa Selatan, sedangakan jarak genetic terjauh (9,02) terdapat antara subpopulasi kuda Tomohon dan Manado. Hasil kedua analisis ini menunjukkan bahwa subpopulasi kuda Tomohon mempunyai hubungan kekerabatan yang jauh dengan ketiga subpopulasi kuda Sulawesi Utara lainnya.Kata kunci: jarak genetik, kuda, morfologi, polimorfisme protein darahDETERMINATION OF GENETIC DISTANCE ON NORTH SULAWESI NATIVE HORSES BASED ON ANALYSIS OF MORPHOLOGYAND BLOOD-PROTEIN POLYMORPHISMABSTRACTThis research aimed to determine genetic distance among subpopulations of North Sulawesi natice horses using analysis of morphology and blood protein polymorphism. The observed subpopulations of native horses included 505 mature horses 2-7 years old and consisted of 310 males (stallion) and 193 females (mare). Morphological analysis was used to determine the size and weight of body. Analysis of blood protein polymorphism was conducted to estimate genetic polymorphism of Albumin (Alb), Post Albumin (PAlb), Transferin (Tf), Post Transferin-1(PTf1), Post Transferin-2 (PTf2), alfa Hemoglobin (Hbα) and beta Hemoglobin (Hbβ). Morphological analysis showed that average size and weight of body in subpopulation of Tomohon horses were bigger (p<0,05) than 3 other ones (Manado, South Minahasa and Minahasa). The nearest genetic distance (viz. 2,75) was between Minahasa and South Minahasa horses, whereas the longest genetic distance was between Tomohon and Manado subpopulations. These analysis indicated that Tomohon horses bad far relationship to 3 other horse subpopulations ini North Sulawesi.
Keragaan Telur Tetas Itik Pegagan Sari, Meisji L.; Noor, Ronny R.; Hardjosworo, Peni S.; Nisa, Chairun
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 6, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKItik Pegagan sebagai itik lokal Sumatera Selatan merupakan salah satu sumber genetik ternak atau kekayaan hayati lokal Indonesia, yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Sejauh ini data ilmiah mengenai itik Pegagan sebagai sumber plasma nutfah relatif masih sedikit dibandingkan ternak itik lokal lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari dan mengidentifikasi keragaan telur tetas itik Pegagan. Penelitian inidiawali dengan mengumpulkan telur tetas itik Pegagan sebanyak 500 butir yang didapat dari tiga kecamatan yaitu kecamatan Tanjung Raja, Inderalaya dan Pemulutan Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. Telur itik yang dikumpulkan kemudian ditimbang dengan timbangan telur untuk mengetahui bobot telur (g), kemudian diukur panjang (mm) dan lebar telur (mm) untuk mengetahui indeks telur. Selanjutnya telur ditetaskan dengan mesin tetas yang sebelumnya dibersihkan dengan lisol 2.5%. Selama proses penetasan dilakukan pemutaran telur mulai hari ketiga sampai hari ke-25. Pemeriksaan telur (candling) dilakukan tiga kali yaitu pada hari kelima, ke-13 dan ke-25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan bobot telur tetas yang digunakan 65 g, warna kerabang telur itik Pegagan adalah hijau kebiruan, rataan indeks telur itik Pegagan 75±0,03%. Fertilitas telur itik Pegagan yang dikumpulkan dari peternak itik rendah yaitu sebesar  60%, dengan daya tetas 53% dan bobot tetas sebesar 36,37 ± 3,39 g.Kata Kunci: telur tetas, penetasan, Itik Pegagan, fertilitas