Ngabiyanto Ngabiyanto
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

PERLUASAN DAN PEMERATAAN PENDIDIKAN DASAR: IMPLEMENTASI KEBIJAKAN SLTP TERBUKA DI KECAMATAN SAYUNG KABUPATEN DEMAK

Paedagogia, Jurnal Penelitian Pendidikan Vol 11, No 2 (2008)
Publisher : Paedagogia, Jurnal Penelitian Pendidikan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.189 KB)

Abstract

Education is human capital that will bring human to science and technology mastery. In the term of national development, especially the increasing of human resources, it is necessary to equalize education quality, particularly basic education in the regions that are not reached out by the education system. As an alternative of education system, SLTP Terbuka is a policy of the basic education that is held to equalize and broaden the opportunity of nine years basic education in which its existence is so strategic. The research conducted in SLTP Terbuka, Sayung, Demak regency, Central Java province, purposes to describe, analyze, and interpret implementation of SLTP Terbuka as an alternative policy of the broadening and equalizing on  basic education. The qualitative approach was used in this case study. Important findings could be concluded as follows: SLTP Terbuka had given more opportunities for the students to continue their study after they finish their studies at elementary school. In the long term, the implementation of this policy which can change the structure of education system has offered various facilities, both for the pupils and their parents.

Politik Guru Honorer (Sebuah Kajian tentang Kebijakan Terhadap Guru Honorer di Kota Semarang)

Forum Ilmu Sosial Vol 45, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2243.635 KB)

Abstract

Penelitian ini meneliti tentang bagaimana aspirasi yang disampaikan oleh guru honorer kepada Pemerintah Kota Semarang. Penelitian ini menarik sebab kajian politik pendidikan dalam hal ini politik guru honorer merupakan studi yang masih memiliki referensi terbatas. Tujuan jangka panjang dalam penelitian ini adalah untuk mengembangkan riset tentang Politik Guru Honorer di Kota Semarang. Dengan adanya riset ini diharapkan dapat memperkaya dan melengkapi kajian ilmiah tentang permasalahan guru honorer di Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga memberikan kontribusi bagi guru honorer, khususnya terkait dengan upaya solutif berupa kajian ilmiah yang diharapkan dapat memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk mengatasi permasalahan guru honorer. Penelitian ini mengangkat permasalahan tentang (1) Bagaimana dinamika sosial, politik, dan ekonomi guru honorer di Kota Semarang sejak kemunculannya sampai saat ini; (2) Bagaimana strategi perjuangan guru honorer di Kota Semarang dalam peningkatan status dan kesejahteraannya; (3) Langkah-langkah apa yang dilakukan Pemeritah Kota Semarang untuk mengatasi permasalahan guru honorer, khususnya terkait dengan peningkatan status dan kesejahteraannya. Target khusus yang ingin dicapai berupa desain model kebijakan pemerintah dalam mengatasi permasalahan guru honorer di Kota Semarang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Penelitian ini mengkaji permasalahan yang lebih menekankan pada pengalaman empiric dari informan yang terlibat langsung, sehingga data diperoleh melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), survei dan metode dokumentasi (studi kepustakaan). Analisis data yang dilakukan mengadopsi pendekatan linier dan hierarkis yang dikembangkan Cresswell, yaitu (1) mengelola dan mempersiapkan data untuk di analisis; (2) membaca keseluruhan data; (3) menganalisis lebih detail dengan meng-coding data; (4) menerapkan proses coding; (5) menghubungkan  tema/deskripsi-deskripsi; dan (6) Menginterpretasi tema-tema/deskripsi-deskripsi. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan temuan selama melaksanakan penelitian, penelitian ini menghasilkan beberapa simpulan. Simpulan pertama yaitu terkait dengan eksistensi guru honorer, khususnya terkait dengan status kepegawaiannya. Status kepegawaian guru di sekolah ini juga terdiri atas 3 komponen, yakni Guru ASN, Guru Non-ASN, dan Guru Honorer. Eksistensi guru honorer didasarkan pada fakta di lapangan bahwa terdapat beberapa guru yang tidak diangkat melalui peraturan perundang-undangan, melainkan hanya berdasarkan kontrak kerja bersama. Guru-guru semacam inilah yang dinamakan dengan guru honorer. Guru yang dipekerjakan dalam satuan pendidikan untuk jangka waktu tertentu guna menjalankan tugas pendidikan dan pengajaran. Guru honorer diangkat sesuai dengan kebutuhan sekolah, dan berada di bawah arahan dinas pendidikan. Status kepegawaian bersifat tidak tetap (Non-ASN) dan dapat diberhentikan sewaktu-waktu oleh sekolah.

THE INDONESIAN TEACHERS’ DILEMMAS FROM COLONIAL TO REFORMASI ERA: NON-PERMANENT TEACHERS’ WELFARE AND STATUS ISSUES

Paramita: Historical Studies Journal Vol 29, No 1 (2019): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 This article begins with the historiographic condition of teacher and teacher education which are still rare in demand in Indonesia. The purpose of this article is to describe historically the condition of teacher education, teacher welfare, and teacher status in Indonesia since the Dutch East Indies era to the Reformation era. The sources of the data for this paper are mostly from documents concerning on teacher policies in the past. Oral sources are also used as the complement to the research data. The important findings in this research are (i) there were differences in teacher education between the Dutch East Indies era and independence era that in the colonial era, teacher welfare and status were guaranteed by the government, but the education was still exclusive and very difficult to access by Bumiputera; (ii) teachers in the Japanese colonial era functioned as a means to make Japan win in the Greater East Asia war, welfare was not taken into account; and (iii) during the independence era, the improvement of the teacher status and welfare until reformation era was still becoming a perpetual problem, one of which fulfilled the public discourse was the problem of non-permanent teachers. Historical factors should be considered in managing teacher education and teacher as profession. Therefore, teachers must be seen as historical objects which can enrich Indonesian historiography.Keywords: historiography of teacher, teachers’ welfare, teachers’ dilemma, non-permanent teacher. Artikel ini berangkat dari kondisi historiografi guru dan pendidikan keguruan yang masih jarang diminati di Indonesia. Tujuan penulisan artikel ini adalah mendeskripsikan secara historis kondisi pendidikan keguruan, kesejahteraan, dan status guru di Indonesia sejak masa Hindia Belanda hingga Reformasi. Sumber data tulisan ini lebih banyak berasal dari dokumen-dokumen seputar kebijakan tentang guru di masa lalu. Digunakan pula sumber lisan sebagai pelengkap data penelitian. Temuan penting penelitian ini adalah (1) terdapat perbedaan pendidikan keguruan sejak masa Hindia Belanda hingga kemerdekaan, pada masa kolonial, masalah status dan kesejahteraan guru telah dijamin oleh pemerintah, namun pendidikan masih bersifat eksklusif dan sangat sulit diakses oleh kalangan Bumiputera; (2) guru di masa Jepang berfungsi sebagai alat untuk memenangkan Jepang di dalam perang Asia Timur Raya, masalah kesejahteraan tidak terlalu diperhitungkan; dan (3) pada masa kemerdekaan, perbaikan status dan kesejahteraan guru hingga reformasi masih menjadi masalah yang tidak kunjung selesai, salah satu yang memenuhi dikursus publik adalah masalah guru honorer. Faktor historis harusnya dipertimbangkan dalam mengelola pendidikan keguruan dan profesi guru. Oleh sebab itu, guru harus dipandang sebagai objek sejarah yang dapat memperkaya historiografi Indonesia.Kata kunci: historiograi guru, kesejahteraan guru, permasalahan guru, guru tidak tetap 

The Empowerment of Upsteam-Downstream Human Resources to Revitalise Tapioca Industry

MIMBAR (Jurnal Sosial dan Pembangunan) Volume 34, No. 2, Year 2018 [Accredited Ranking Sinta 2]
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.27 KB)

Abstract

Pati Regency has the highest cassava productivity in Central Java, however tapioca industry still experiences difficulty in finding raw materials, moreover, cassava farmers have low income. The objectives of this research are 1) to investigate spatial distribution pattern of cassava and tapioca industry, 2) to review the supply of cassava to self-sufficiency oriented tapioca, and 3) to create model of integrated empowerment pilot plan received by upstream-downstream human resources. The research used Cluster Area sampling technique of cassava field and Simple Random Sampling in tapioca industry. The pilot plan model approved by the human resources was the qualified and ready-to-process cassava. Other than that, it could increase additional value of cassava products made by chip makers or for stabilizing the supply to the downstream sector as the raw material for tapioca industry.