Articles

Found 12 Documents
Search

KAPASITAS PENANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN (FISHING CAPACITY OF SMALL PELAGIC FISH IN OF WEST COAST OF SOUTH SULAWESI) Nelwan, Alfa
Fish Scientiae Vol 1, No 2 (2011): Fish Scientiae, Vol.1 No.2 Desember 2011
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonnesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/fs.v1i2.1184

Abstract

Kapasitas penangkapan adalah ukuran kemampuan yang dikerahkan oleh berbagai jenis unit penangkapan ikan yang tergabung sebagai suatu armada penangkapan ikan untuk memperoleh hasil tangkapan. Penelitian ini menganalisis trend dan kapasitas penangkapan ikan pelagis kecil di perairan pantai barat Sulawesi Selatan. Delapan jenis alat penangkap yang signifikan di Selat Makassar, perairan barat Provinsi Sulawesi Selatan adalah payang, pukat pantai, pukat cincin, jaring insang hanyut, jaring lingkar, jaring insang tetap, bagan perahu dan bagan tancap.  Produksi dari 8 unit penangkapan berdasarkan 6 jenis ikan pelagis kecil, yaitu (1) kembung (Rastrelliger sp), (2) layang (Decapterus sp), (3) lemuru (Sardinella longiceps), (4) selar (Selaroides spp), (5) tembang (Sardinella  fimbriata), (6) teri (Stolephorus spp). Total upaya penangkapan ikan tahunan dari kedelapan jenis unit penangkapan ikan tersebut dihitung untuk kurun waktu selama 20 tahun (1987-2006) dengan menerapkan standardisasi berdasarkan kemampuan setiap jenis unit penangkapan ikan.  Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi trend CPUE dan kapasitas penangkapan ikan pelagis kecil menggunakan metode Peak to Peak Analysis di tiga zona perairan pantai, yaitu perairan laut dangkal  (zona A), perairan bentuk teluk (zona B) dan perairan laut dalam (zona C), Tren CPUE di ketiga zona menunjukkan cenderung menurun dalam kurun waktu 30 tahun, dimana tren menurun CPUE di zona C menunjukkan lebih besar dibandingkan zona lainnya.  Kapasitas penangkapan di zona A, perlu mereduksi jumlah unit penangkapan sebesar 6%, sedangkan di zona B sebesar 5% dan zona C sebesar 11% untuk mencapai produksi optimal.Fishing capacity can be regarded as a total mobilized capability made by fishing fleet to produce catch. This research analyze trend and fishing capacities of small pelagic fish in off west coast of South Sulawesi. There are 8 significant fishing unit operated in off west coast of South Sulawesi ; these are  payang, beach seine, purse seine, drift gill net, encircling gillnet, fixed gill net, boat liftnet, fixed liftnet.  The fish production data cover 6 types of fish, i.e. Indian mackerel, anchovy, sardines, scads, and trevally caught by 8 types fishing unit. Annual fishing effort and CPUE over a period of 30 years (1977-2006) were calculated after a standardization considering variability in capture capability and fisheries development.  Analysis was conducted for identifyng CPUE trend and fishing capacities of small pelagic fish using Peak to Peak Analysis. The study area was divided into three regions, i.e, around Spermonde Island  (zone A), off Polman and Pinrang district (zone B) and off Majene dan Mamuju district (zone C).  CPUE trend in three water zone showed to decrease for 30 year of period, where decreasing CPUE trend at zone C was higher than other zones.  Fishing capacities in zone A need to be reduced of fishing effort for  6%, whereas in zone B was 5% and zone C was 11%.
Karakteristik Daerah Potensial Penangkapan Ikan Cakalang di Teluk Bone-Laut Flores Berdasarkan Data Satelit Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-A pada Periode Januari-Juni 2014 Zainuddin, Mukti; Safruddin, Safruddin; Farhum, St. Aisjah; Nelwan, Alfa; Selamat, M. Banda; Hidayat, Sarip; Sudirman, Sudirman
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1301.224 KB)

Abstract

ABSTRAKTeluk Bone-Laut Flores merupakan salah satu daerah potensial penangkapan ikan cakalang terbaik di Indonesia timur.  Perairan tersebut menjadi target utama operasi penangkapan bagi nelayan pole and line. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karakteristik daerah potensial penangkapan ikan tersebut menggunakan data suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil-a pada periode Januari-Juni 2014.  Penelitian ini menggunakan metode survei dengan mengumpulkan data hasil tangkapan dan posisi penangkapan setiap kali melakukan kegiatan penangkapan.  Data SPL dan klorofil-a dari citra satelit Terra/MODIS kemudian diekstrak dari lokasi penangkapan ikan cakalang untuk mempelajari kondisi oseanografi yang sesuai dengan keberadaan ikan tersebut.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan ikan cakalang tertinggi didapatkan pada bulan Mei yaitu sekitar 138 ekor/setting.  Hasil tangkapan tersebut bersesuaian dengan kondisi SPL berkisar antara 29,75°C dan 30,25°C dan konsentrasi klorofil-aantara 0,125 dan 0,213 mg m-3.  Kenyataan ini menunjukkan bahwa kedua faktor oseanografis tersebut menjadi indikator penting untuk memahami dinamika spasial pergerakan dan konsentrasi ikan cakalang di Teluk Bone terutama pada periode Januari-Juni.
Studi Pola Kedatangan Ikan Pada Area Penangkapan Bagan Perahu dengan Teknologi Hidroakustik Kurnia, Muh; Sudirman, Sudirman; Nelwan, Alfa
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (757.732 KB)

Abstract

Teknologi akustik bidang penangkapan ikan umumnya digunakan untuk mendeteksi keberadaan ikan dan secara khusus digunakan untuk mempelajari tingkah laku ikan termasuk pola kedatangan ikan pada area penangkapan suatu alat tangkap. Kajian pola kedatangan ikan dengan metode akustik ini dilakukan untuk mengetahui pola kedatangan ikan pada area penangkapan bagan perahu berdasarkan waktu dan kedalaman perairan. Studi dilakukan dengan metode experimental fishing dengan mengikuti operasi penangkapan pada satu unit bagan perahu di perairan Pantai Kota Parepare yang dilaksanakan pada Mei-Juni 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa schooling ikan mendatangi sumber cahaya di area penangkapan bagan perahu sekitar 30-50 menit setelah penyalaan lampu pengumpul ikan. Kawanan ikan mendatangi sumber cahaya pada kedalaman 6-7 meter dengan pola soliter dan mendekat setelah 100-120 menit pada kisaran 2-3 meter dari permukaan laut dengan pola kedatangan ikan soliter dan bergerombol. Hasil ini dapat menjadi acuan waktu penarikan jaring bagan perahu yang lebih efektif dan efisien. Sehingga efektivitas waktu dan biaya operasi dapat lebih optimal dalam mendukung usaha penangkapan ikan skala kecil guna peningkatan produksi tangkapan secara berkelanjutan.
Produktivitas Penangkapan Ikan Tenggiri (Scomberomorus commerson) Menggunakan Pancing Ulur di PerairanKabupaten Bintan Jumsurizal, Jumsurizal; Nelwan, Alfa; Kurnia, Muh.
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.015 KB)

Abstract

Mackerel is one of the main targets of hand line fishing in the  Tambelan coastal  waters, Bintan Regency. The mackerel catch data were collected by following the hand line fishing operation as many as  40 trips from December 2013 to April 2014. The productivity data of hand line fishing were calculated based on the time of fishing operations (morning, noon, afternoon). The average productivity of hand line fishing in the morning, daytime and afternoon were 0.051 kg/minutes, 0.036 kg/minutes and 0.033 kg/minutes, respectively. Handline fishing productivity in the morning was not significantly different with at the daytime, however there was a significant different in productivity between in the morning and in the afternoon. Whilst,  the fishing productivity at the daytime was not significantly different with that in the afternoon.
KAPASITAS PENANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN (FISHING CAPACITY OF SMALL PELAGIC FISH IN OF WEST COAST OF SOUTH SULAWESI) Nelwan, Alfa
Fish Scientiae Vol 1, No 2 (2011): Fish Scientiae, Vol.1 No.2 Desember 2011
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1478.966 KB) | DOI: 10.20527/fs.v1i2.1184

Abstract

Kapasitas penangkapan adalah ukuran kemampuan yang dikerahkan oleh berbagai jenis unit penangkapan ikan yang tergabung sebagai suatu armada penangkapan ikan untuk memperoleh hasil tangkapan. Penelitian ini menganalisis trend dan kapasitas penangkapan ikan pelagis kecil di perairan pantai barat Sulawesi Selatan. Delapan jenis alat penangkap yang signifikan di Selat Makassar, perairan barat Provinsi Sulawesi Selatan adalah payang, pukat pantai, pukat cincin, jaring insang hanyut, jaring lingkar, jaring insang tetap, bagan perahu dan bagan tancap.  Produksi dari 8 unit penangkapan berdasarkan 6 jenis ikan pelagis kecil, yaitu (1) kembung (Rastrelliger sp), (2) layang (Decapterus sp), (3) lemuru (Sardinella longiceps), (4) selar (Selaroides spp), (5) tembang (Sardinella  fimbriata), (6) teri (Stolephorus spp). Total upaya penangkapan ikan tahunan dari kedelapan jenis unit penangkapan ikan tersebut dihitung untuk kurun waktu selama 20 tahun (1987-2006) dengan menerapkan standardisasi berdasarkan kemampuan setiap jenis unit penangkapan ikan.  Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi trend CPUE dan kapasitas penangkapan ikan pelagis kecil menggunakan metode Peak to Peak Analysis di tiga zona perairan pantai, yaitu perairan laut dangkal  (zona A), perairan bentuk teluk (zona B) dan perairan laut dalam (zona C), Tren CPUE di ketiga zona menunjukkan cenderung menurun dalam kurun waktu 30 tahun, dimana tren menurun CPUE di zona C menunjukkan lebih besar dibandingkan zona lainnya.  Kapasitas penangkapan di zona A, perlu mereduksi jumlah unit penangkapan sebesar 6%, sedangkan di zona B sebesar 5% dan zona C sebesar 11% untuk mencapai produksi optimal.Fishing capacity can be regarded as a total mobilized capability made by fishing fleet to produce catch. This research analyze trend and fishing capacities of small pelagic fish in off west coast of South Sulawesi. There are 8 significant fishing unit operated in off west coast of South Sulawesi ; these are  payang, beach seine, purse seine, drift gill net, encircling gillnet, fixed gill net, boat liftnet, fixed liftnet.  The fish production data cover 6 types of fish, i.e. Indian mackerel, anchovy, sardines, scads, and trevally caught by 8 types fishing unit. Annual fishing effort and CPUE over a period of 30 years (1977-2006) were calculated after a standardization considering variability in capture capability and fisheries development.  Analysis was conducted for identifyng CPUE trend and fishing capacities of small pelagic fish using Peak to Peak Analysis. The study area was divided into three regions, i.e, around Spermonde Island  (zone A), off Polman and Pinrang district (zone B) and off Majene dan Mamuju district (zone C).  CPUE trend in three water zone showed to decrease for 30 year of period, where decreasing CPUE trend at zone C was higher than other zones.  Fishing capacities in zone A need to be reduced of fishing effort for  6%, whereas in zone B was 5% and zone C was 11%.
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan V Universitas Hasanuddin, Makassar, 5 Mei 2018 73 Gerakan Heaving Kapal Pancing Tonda Pada Gelombang Following Seas di Kabupaten Sinjai Pangera, A. Armynsyah; Farhum, St. Aisjah; Nelwan, Alfa
Proceeding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan No 5 (2018)
Publisher : Proceeding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.836 KB)

Abstract

Kapal pancing tonda sering kali mengalami kecelakaan pada saat pengoperasian,namun hal ini tidak muncul di public dikarenakan tidak adanya pelaporan dan pencatatan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai amplitudo heaving dan frekuensi encounter pada tinggi gelombang yang sering terjadi di Laut Flores. Sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak 20 kapal pancing tonda yang diambil dari populasi dengan menggunakan teknik penarikan sampel secara purposive sampling. Peneliti mengambil 3 sampel kapal terpilih yang ukurannya berbeda yaitu kecil (15,88 m), sedang (18 m), dan besar (20,27 m). Analisis data dan pengolahan data menggunakan program Maxsurfs v.8i dan Auto Cad. Hasil penelitian menunjukkan nilai amplitudo heaving maksimum berkisar antara 0,7134 - 0,4480 m sedangkan minimum berkisar antara -0,7132 sampai dengan -0,4481 m dan frekuensi encounter berkisar antara -3,000 sampai dengan -2,230 rad/s. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu kapal dengan kondisi tersebut dapat menimbulkan gerakan heaving yang besar dari arah following seas dan mendapatkan gaya yang besar dari gelombang pada frekuensi encounter. Kata Kunci: heaving, stabilitas, tonda, kapal pancing, Kabupaten Sinjai. 
Application of Acoustic Technology on the Fish Catch of Boat Lift Net Kurnia, Muhammad; Sudirman, Sudirman; Nelwan, Alfa
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.10393

Abstract

Acoustic technology for fisheries is one of technologies with the advantages to detect marine resources including estimating density and the presence of fish and relatively more accurate than conventional methods. The present study aims to assess the effectiveness of the operation of the lift-net with hydroacoustic technology in an effort to increase the productivity of the fisherman of boat liftnet. The study was conducted on fishing activity of boat liftnet in the Makassar Strait from April to May 2015 by utilizing the tools of acoustic technology in the operation of the boat liftnet. The analysis method is based on the productivity of the boat liftnet. The results showed that the productivity of fishing gear which is operated by using the tools of fisheries acoustic were improved compared with the fishing effort without acoustic tools. This result is expected to be a reference to research on the use of acoustic technology in a variety of fishing gear and as reference to research the use of science and technology in support of sustainable small-scale fishing effort. 
PEMETAAN ZONA POTENSI PENANGKAPAN IKAN CAKALANG PERIODE APRIL-JUNI DI TELUK BONE DENGAN TEKNOLOGI REMOTE SENSING Zainuddin, Mukti; Nelwan, Alfa; Farhum, St Aisjah; Najamuddin, Najamuddin; Hajar, M.A. Ibnu; Kurnia, M.; Sudirman, Sudirman
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 19, No 3 (2013): (September 2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.19.3.2013.167-173

Abstract

Satelit penginderaan jauh dapat memberikan informasi sistematis tentang kondisi oseanografi. Penelitian ini bertujuan memetakan zona potensial penangkapan ikan (ZPPI) cakalang di Teluk Bone selama April-Juni 2012 menggunakan citra suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil-a yang dikombinasikan dengan data penangkapan pole and line.  ZPPI dipetakan menggunakan teknik sistem informasi geografis yang dikonstruksi dari hasil analisis fungsi distribusi kumulatif empiris dan generalized additive model (GAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama bulan April-Juni di Teluk Bone, ZPPI cenderung berada pada area 120.5-121.5° BT dan 3.5-5° LS. Lokasi dengan nilai Catch per unit effort (CPUE) yang tinggi tersebut diindikasikan dengan kondisi SPL dan konsentrasi klorofil-a masing-masing antara 28.75-31.5° C dan antara 0.10 dan 0.2 mg m-3.  Kombinasi nilai preferensi faktor oseanografis tersebut diduga kuat merefleksikan kondisi kelimpahan makanan yang cukup tinggi dimana zona tersebut pada gilirannya menjadi daerah tempat berkumpulnya gerombolan ikan cakalang dan menjadi zona target bagi penangkapan pole and line di Teluk Bone. Satellite remote sensing provides systematically important information on oceanographic conditions. Sea surface temperature (SST) and sea surface chlorophyll-a concentration (Chl-a) derived from Aqua/ Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) data together with skipjack catch data during April-June 2012 were used to map potential fishing zones for skipjack tuna in the Bone Bay.  Geographic information system was then employed to map out of the potential fishing zones generated by non-linear model (Generalized Additive Model/GAM) and the empirical cumulative distribution function (ECDF) analyses.  Results indicated that the highest catch per unit efforts (CPUE) mostly occurred in areas of 120.5-121.5° E dan 3.5-5° S. These areas were significantly associated with SST and chlorophyll-a concentration ranged from 28.75- 31.5°C and 0.10 - 0.20 mg m-3, respectively.  The locations of occurrence of the preferred oceanographic factors suggested the area where feeding opportunity for skipjack schools enhanced and then provided potential fishing grounds for pole and line fishery in Bone Bay.
Studi Pola Kedatangan Ikan Pada Area Penangkapan Bagan Perahu dengan Teknologi Hidroakustik Kurnia, Muh; Sudirman, Sudirman; Nelwan, Alfa
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi akustik bidang penangkapan ikan umumnya digunakan untuk mendeteksi keberadaan ikan dan secara khusus digunakan untuk mempelajari tingkah laku ikan termasuk pola kedatangan ikan pada area penangkapan suatu alat tangkap. Kajian pola kedatangan ikan dengan metode akustik ini dilakukan untuk mengetahui pola kedatangan ikan pada area penangkapan bagan perahu berdasarkan waktu dan kedalaman perairan. Studi dilakukan dengan metode experimental fishing dengan mengikuti operasi penangkapan pada satu unit bagan perahu di perairan Pantai Kota Parepare yang dilaksanakan pada Mei-Juni 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa schooling ikan mendatangi sumber cahaya di area penangkapan bagan perahu sekitar 30-50 menit setelah penyalaan lampu pengumpul ikan. Kawanan ikan mendatangi sumber cahaya pada kedalaman 6-7 meter dengan pola soliter dan mendekat setelah 100-120 menit pada kisaran 2-3 meter dari permukaan laut dengan pola kedatangan ikan soliter dan bergerombol. Hasil ini dapat menjadi acuan waktu penarikan jaring bagan perahu yang lebih efektif dan efisien. Sehingga efektivitas waktu dan biaya operasi dapat lebih optimal dalam mendukung usaha penangkapan ikan skala kecil guna peningkatan produksi tangkapan secara berkelanjutan.
Produktivitas Penangkapan Ikan Tenggiri (Scomberomorus commerson) Menggunakan Pancing Ulur di PerairanKabupaten Bintan Jumsurizal, Jumsurizal; Nelwan, Alfa; Kurnia, Muh.
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mackerel is one of the main targets of hand line fishing in the  Tambelan coastal  waters, Bintan Regency. The mackerel catch data were collected by following the hand line fishing operation as many as  40 trips from December 2013 to April 2014. The productivity data of hand line fishing were calculated based on the time of fishing operations (morning, noon, afternoon). The average productivity of hand line fishing in the morning, daytime and afternoon were 0.051 kg/minutes, 0.036 kg/minutes and 0.033 kg/minutes, respectively. Handline fishing productivity in the morning was not significantly different with at the daytime, however there was a significant different in productivity between in the morning and in the afternoon. Whilst,  the fishing productivity at the daytime was not significantly different with that in the afternoon.