This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Leidena Sekar Negari
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents
Articles

Found 1 Documents
Search

DRAMATURGI KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM ORGANISASI PROFIT Negari, Leidena Sekar; Sunarto, Sunarto; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.427 KB)

Abstract

DRAMATURGI KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAMORGANISASI PROFITAbstrakPemimpin dalam organisasi biasanya didominasi oleh kaum pria, karena konsepdan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia yang mengaut pahampaternalistik. Seiring perkembangan zaman perempuan kini mampu mendudukijajaran top tier manajemen di sejumlah organisasi profit. Gaya komunikasiperempuan yang dianggap mampu dicintai karyawan dan lingkungan kerjanyadalam membangun sebuah hubungan menjadi sebuah nilai plus.Di dalam penelitian ini menggunakan teori dramaturgi oleh Goffman yangmerupakan perluasan teori dari interaksionisme simbolik. Dramaturgidigambarkan sebagai sebuah pementasan drama yang mirip dengan pertunjukanaktor di panggung. Melalui dramaturgi ditunjukkan bahwa identitas manusia bisasaja berubah-rubah. Manusia adalah aktor yang memainkan drama di suatupanggung kehidupan. Pada saat interaksi berlangsung, maka aktor tersebutmenampilkan pertunjukan dramanya di hadapan orang lain hingga membentukimpression management pada dirinya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui impression management dalaminteraksi antara pemimpin perempuan dengan stakeholder di organisasinya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saat komunikasi berlangsungantara pemimpin perempuan dan stakeholder, kedua belah menampilkanimpression management. Pada back stage, pemimpin perempuan melakukanaktivitas lain sebelum bertemu dengan stakeholder, seperti meeting dengan teamuntuk keberhasilan tampil di front stage, supaya terlihat sebagai pemimpin yangmampu melaksanakan tugasnya dengan baik di hadapan stakeholder. Back stagepemimpin perempuan tidak diketahui oleh stakeholder.Pemimpin perempuan menampilkan impression management di hadapanstakeholder, yaitu sebagai pemimpin perempuan yang mampu menjalankankegiatannya dengan baik, membimbing karyawan dengan telaten, mempunyaikemampuan berbicara yang luwes, dan cakap dalam membangun hubungandengan stakeholder organisasinya. Stakeholder tidak mengetahui hal-hal apa sajayang dirasakan atau dilalui oleh pemimpin perempuan, seperti terkadangpemimpin perempuan merasa tidak siap dalam memimpin rapat, manajemenwaktu yang kurang baik. Hal ini dapat merusak citranya sebagai seorangpemimpin. Oleh karena itu impression management sangat penting demimencapai komunikasi efektif dalam komunikasi pemimpin perempuanstakeholder.Key words: Dramaturgi, Kepemimpinan, PerempuanWOMEN’S DRAMATURGICAL LEADERSHIP IN PROFITORGANIZATIONAbstractLeadership in an Indonesian organization is usually dominated by men aspaternalism runs deep in the people’s minds. Women nowadays have been able toget on top management of profit organization. Their unique communication stylein building a relationship among colleagues and the entire work environment isgreatly valued.This study used the dramaturgy theory by Goffman, which are extensionof symbolic interactionism. Dramaturgy is described as a drama performance withactors on the stage. The theory believes that a man’s identity changes from time totime. A man is an actor performing on a stage of life. When interacting, the actorperforms in front of other people, managing his impression on other people.This research aimed to understand the impression-management takingplace in the interaction between women leaders with other stakeholders in theorganization.The result showed that when an act of communication is taking placebetween a women leader and stakeholders, they are doing impressionmanagement. At back stage, a woman leader does other activities prior to meetingwith stakeholders, such as meeting with the team to ensure the success ofperforming at front stage, so that she is seen as a leader who is able to do their jobproperly in front of stakeholders. A woman leader’s back stage activity is usuallynot known by stakeholders.Women leaders displayed impression management in the presence ofstakeholders as leaders who are able to manage their work well, to leademployees, to speak their minds and to build strong relationships withstakeholders of the organization. Stakeholders may not know what a womanleader feels, such as feeling very unprepared to lead a meeting, having bad timemanagement. This can ruin her image as a leader. Therefore, impressionmanagement is very important for achieving effective communication in thewomen leaders – stakeholder’s communication.Key words: Dramaturgy, Leadership, WomanBAB I1.1. LATAR BELAKANGBukan sebuah hal yang tabu, jika pada saat ini sudah banyak perempuanmenduduki jajaran manajerial dalam organisasinya. Gaya komunikasi perempuandianggap mampu dicintai karyawan dalam lingkungan kerjanya. Dengan gayakomunikasi yang bertutur kata lembut, gesture, dan kasih sayang dalammembangun hubungan yang dimiliki menjadi sebuah nilai plus.Gaya komunikasi pemimpin perempuan, seolah menjadikan itu sebuahalasan organisasi berganti strategi komunikasinya. Dengan demikian, dipandangperlu adanya penelitian yang dapat melihat bagaimana cara komunikasiperempuan dalam berinteraksi dengan stakeholder pada organisasinya.1.2. PERUMUSAN MASALAHSeiring perkembangan zaman perempuan kini sudah melebarkan sayapnya yangtadinya hanya dianggap mempunyai tugas untuk melakukan segala kegiatanpekerjaan rumah, seperti mengurus anak dan suami, memasak, dan kegiatan lainyang dilakukan untuk kepentingan keluarga selain mencari nafkah. Dalam situasiseperti ini dapat dipahami mengapa kerja perempuan sering sekali tidak tampak(invisible) karena dalam masyarakat kita (walaupun tidak semua masyarakat)keterlibatan perempuan sering kali berada dalam pekerjaan yang tidak membawaupah atau tidak dilakukan di luar rumah (walaupun mendatangkan penghasilan)Dalam era seperti saat ini justru amat mudah melihat perempuanmenduduki jajaran top tier manajemen. Wanita karier sudah bertebaran di manamana,bahkan menduduki posisi di organisasi yang dianggap tabu, sepertitambang, pemerintahan, dan perminyakan. Perempuan masuk dalam dunia bisnissaat ini sudah dianggap wajar, bahkan 70% laki-laki sudah bisa mengakui danmerasa nyaman jika perempuan bekerja di luar rumah (SWA, 2010).Gaya komunikasi pemimpin perempuan, seolah menjadikan itu sebuahalasan para organisasi berganti strategi untuk menjadikan karyawan dalamorganisasinya menjadi berubah haluan. Dengan demikian, dipandang perlu adanyapenelitian yang dapat melihat bagaimana cara komunikasi perempuan dalamberinteraksi dengan stakeholder pada organisasinya. Bagaimana impresionmanagement dalam interaksi antara pemimpin perempuan dengan stakeholder diorganisasinya?BAB II2.1. KERANGKA TEORI2.1.1. Interaksionisme SimbolikTeori interaksionisme simbolis dikonstruksikan atas sejumlah ide-ide dasar.Ide dasar ini mengacu pada masalah-masalah kelompok manusia atau masyarakat,interaksi sosial, obyek, manusia sebagai pelaku, tindakan manusia daninterkoneksi dari saluran-saluran tindakan.Symbolic interactionism, a movement within sociology, focuses on the waysin which people from meaning and structure in society through conversation.Menurut teoritisi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah “interaksimanusia dengan menggunkaan simbol-simbol.” Mereka tertarik pada caramanusia menggunakan simbol-simbol yang mempresentasikan apa yang merekamaksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya, dan juga pengaruh yangditimbulkan penafsiran atas simbol-simbol ini terhadap perilaku pihak-pihak yangterlibat dalam interaksi sosial.George Herbert Mead mempunyai tiga konsep utama dalam teoriInteraksionisme simbolik yaitu, masyarakat (society), diri sendiri (self), danpikiran (mind) . Kategori-kategori ini merupakan aspek-aspek yang berbeda dariproses umum yang sama yang disebut tindak sosial, yang merupakan sebuahkesatuan tingkah laku yang tidak dapat dianalisis ke dalam bagian-bagian tertentu.2.1.1. Konsep DramaturgiFokus pendekatan dramaturgis adalah bukan apa yang orang lakukan, bukan apayang ingin mereka lakukan, atau mengapa mereka melakukan, melainkanbagaimana mereka melakukannya . Goffman mengasumsikan bahwa ketika orangorangberinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akanditerima orang lain. Ia menyebut upaya itu sebagai “pengelolaan pesan”(impression management), yaitu teknik-teknik yang digunakan aktor untukmemupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuantertentu (Ritzer, 1996:215).Menurut Goffman kehidupan sosial itu dapat dibagi menjadi “wilayahdepan” (front region) dan “wilayah belakang” (back region). Wilayah depanmerujuk kepada peristiwa sosial yang menunjukkan bahwa individu bergaya ataumenampilkan peran formalnya. Mereka sedang memainkan perannya di ataspanggung sandiwara di hadapan khalayak penonton. Sebaliknya wilayah belakangmerujuk kepada tempat dan peristiwa yang memungkinkannya mempersiapkanperannya di wilayah depan. Wilayah depan ibarat panggung sandiwara bagiandepan (front stage) yang ditonton khalayak penonton, sedang wilayah belakangibarat panggung sandiwara bagian belakang (back stage) atau kamar rias tempatpemain sandiwara bersantai, mempersiapkan diri, atau berlatih untuk memainkanperannya di panggung depan.Goffman membagi panggung depan ini menjadi dua bagian: front pribadi(personal front) dan setting. Front pribadi terdiri dari alat-alat yang dianggapkhalayak sebagai perlengkapan yang dibawa aktor ke dalam setting. Pemimpinperempuan menggunakan setelan pakaian formal serta notebook atau ipad digenggamannya. Personal front mencakup bahasa verbal dan bahasa tubuh sangaktor. Sebagai seorang pemimpin, perempuan dapat menggunakan kalimat denganpilihan kata yang sopan, halus, penggunaan istilah-istilan asing dalam melakukanpresentasi, memperhatikan intonasi, postur tubuh, dan ekspresi wajah. pakaianyang digunakan, penampakan usia dan sebagainya. Hingga derajat tertentu semuaaspek itu dapat dikendalikan actor.Sementara itu, setting merupakan situasi fisik yang harus ada ketika aktormelakukan pertunjukan. Dimana seorang pemimpin memerlukan ruang kerja yangnyaman dan bersih untuk melakukan tugasnya..Goffman mengakui bahwa panggung depan mengandung anasir strukturaldalam arti bahwa panggung depan cenderung terlembagakan alias mewakilikepentingan kelompok atau organisasi. Sering ketika aktor melaksanakanperannya, peran tersebut telah ditetapkan lembaga tempat dia bernaung. Meskipunberbau struktural, daya tarik pendekatan Goffman terletak pada interaksi. Iaberpendapat bahwa umumnya orang-orang berusaha menyajikan diri mereka yangdiidealisasikan dalam pertunjukan mereka di pangung depan, mereka merasabahwa mereka harus menyembunyikan hal-hal tertentu dalam pertunjukannya.Wilayah ini memperlihatkan sikap superior sang pemimpin perempuan yangtergambar oleh karyawannya.Berbeda dengan panggung belakang (back stage), disini memungkinkanseorang pemimpin perempuan menggunakan kata-kata kasar ketika berkomentar,marah, mengumpat, bertindak agresif, memperolok, atau melakukan kegiatanyang tak pantas dilakukan ketika berhadapan dengan karyawannya. Adanyabelakang panggung dimaksudkan untuk melindungi rahasia pertunjukan sangpemimpin perempuan, stakeholder tidak diizinkan masuk ke wilayah ini.Pertunjukan yang dilakukan akan sulit apabila stakeholder masuk ke dalampanggung2.2. Tipe PenelitianSecara operasional tujuan penelitri menggunakan tipe penelitian kualitatifadalah untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam – dalamnya melaluipengumpulan data sedalam-dalamnya. Dalam penelitian ini lebih menekankanpada persoalan kedalaman. Periset merupakan bagian integral dari data artinyapeneliti ikut menentukan jenis data yang diinginkan dan peneliti harus terjunlangsung di lapangan).Analisis deskriptif kualitatif menurut Robert K.Yin (Yin, 2011: 177)1. CompilingMengkompilasi dan menyortir catatan lapangan dan pengumpulan data lainnyadan memisahkan data dari sumber arsip. Setelah itu peneliti meletakan pada folderdata yang dibuat. Jadi pada fase pertama, menempatkan data ke dalam beberapaurutan, yang selanjutya disebut database.2. DisassemblingPada tahap kedua mengkompille data hingga urutan terkecil, lalu memberikanlabel atau kode pada bagian-bagian data penelitian.dengan menggunakan temasubstantif untuk mengatur3. ReassemblingPenyusunan ulang pada tahap ketiga dapat difasilitasi dengan grafik atau denganmengaturnya dalam bentuk tabulasi data.4. InterpretingPeneliti membuat sebuah narasi dari hasil penelitian. Lalu memasukan interpertasipeneliti pada hasil penelitian5. ConcludingPada fase ini terdapat keseluruhan gambran dari hasil penelitian anda. Dan padakesimpulan terkait pada interpertasi pada fase keempat dan semua tahapanpenelitian lainnya.2.2.1. Jenis Data1. Data PrimerYaitu data yang diperoleh langsung dari lapangan. Sumber data primer dalampenelitian ini antara lain: (1) hasil observasi partisipan terhadap perilaku, sikap,simbol pemimpin perempuan dan stakeholdernya. (2) hasil wawancara dengansubjek penelitian yang dilakukan dengan wawancara mendalam (indepthinterview) antar peneliti dengan pemimpin perempuan, dan peneliti denganstakeholdernya.2. Data SekunderYaitu data yang diperoleh selain data primer antara lain: (1) data audio (rekamansuara), (2) data yang berkaitan dengan penelitian seperti internet, atau referensilainnya yang mendukung.2.2.2. Teknik Pengumpulan Data1. Wawancara mendalam (indepth interview)Wawancara mendalam merupakan suatu cara pengumpulan data atau informasidengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar mendapat datalengkap dan mendalam. Wawancara ini dilakukan dengan frekuensi tinggi(berulang – ulang) secara intensif. Dalam wawancara ini informan bebasmemberikan jawaban karena periset memiliki tugas agar informan bersediameemberikan jawaban yang lengkap, mendalam dan bila perlu.2. ObservasiObservasi difokuskan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan fenomenariset. Fenomena ini mencakup interaksi (perilaku) dan percakapan yang terjadidiantara subjek yang diteliti sehingga keunggulan metode ini adalah data yangdikumpulkan dalam dua bentuk : interaksi dan percakapan. Artinya selain perilakunon verbal juga mencakup perilaku verbal dari orang – orang yang diamati.3. CollectingCollecting mengacu pada kompilasi atau mengmpulkan benda (dokumen,artefak, dan catatan arsip) yang berhubungan dengan topik penelitian. Sebagianbesar kegiatan collecting ini ketika sedang berada di lapangan, namun penelitijuga dapat mengumpulkan dari beberapa sumber, seperti buku-buku, internet. Inidapat mempermudah peneliti dalam proses penelitian.BAB III3.1. KESIMPULANTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui impression managementdalam interaksi antara pemimpin perempuan dan stakeholder. Impressionmanagement sangat penting pada saat interaksi antara pemimpin perempuan danstakeholder berlangsung. Impression management dapat diperoleh oleh penelitimelalui observasi partisipan dan wawancara mendalam. Karena pemimpinperempuan berperan seperti aktor yang melakukan pertunjukan drama diorganisasi. Hal ini sesuai dengan teori dramaturgi oleh Goffman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemimpin perempuan melakukanimpression management di hadapan stakeholder. Pemimpin perempuanmelakukan berbagai aktivitas selain bertemu dengan stakeholder. Seperti: arisan,berjulan sepatu, tas dan perlengkapan perempuan lainnya, dan menjadi pengurusorganisasi ekstra dari perusahaannya mempunyai bisnis makanan. Selain itupemimpin perempuan terkadang menyembunyikan masalah perusahaan ataupribadinya. Di depan stakeholder pemimpin perempuan harus terlihat baik dantidak punya masalah. Oleh karena itu karena impression management penting,maka melalui impression management, pemimpin perempuan menunjukan padastakeholder bahwa dia adalah pemimpin perempuan yang terampil dan ahli dalampekerjaannya.Pemimpin perempuan selalu terlihat bersemangat dan ceria ketikamenghadapi stakeholder karena dengan begitu memberikan pandangan bahwapemimpin senang ketika bertemu dengan stakeholder. Padahal pada backstagepemimpin perempuan, stakeholder tidak mengetahui komentar apa yangdiberikan pada stakeholder atau persiapan penting yang dilakukan olehstakeholder perempuan.DAFTAR PUSTAKABuku:Arivia, Gadis. ( 2006). Feminisme Sebuah Kata Hati. Jakarta : KompasBarletta, Martha. (2004). Marketing to women (Mendongkrak laba dari konsumenpaling kaya dalam segmen pasar terbesar). Jakarta: PPMBungin, Burhan. (2006). Sosiologi Komunikasi ( Teori, Paradigma, danDiskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat ). Jakarta : Kencana.Bungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi,Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta : PrenadaMedia Group.Cornelissen, Joep. (2009). Corporate Communication, A guide to theory andpractice. New Delhi: Sage PublicationDenzim, Norman K dan Yvonna S.Lincoln.(1994). Handbook of QualitativeResearch. California : Sage PublicationsDow, Bonnie J dan Wood, Julia. The Sage Handbook of Gender andCommunication. USA: Sage PublicationsGamble, Teri and Gamble, Michael.(2006). Communication Work.MC Graw-hill humanitiesGriffin, Em. (2004). A First Look at Communication Theory. New York:McGraw-Hill.Kelley, Martha J.M., Lt Col, U.S, (1997). Gender Differences and leadershipstudy. Alabama: Maxwell Airforce BaseKriyantono, Rahmat.(2006). Tekhnik Praktik Riset Komunikasi. DisertaiContoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising,Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Kencana.Kuswarno, Engkus. (2008). Etnografi Komunikas,. Suatu Pengantar danContoh Penelitiannya, Bandung: Widya Padjajaran, (2008).Littlejohn, Stephen W. (1996). Theories of Human Communication.California:Belmont, Woodsworth.Littlejohn, Stephen W Littlejohn dan Karen A Foss .( 2009). Teori Komunikasi,Theories of Human Communication, Edisi 9, Jakarta: Salemba HumanikaMadison, D.Soyini. (2005).Critical Ethnography : Method, Ethics, andPerformance. California : Sage Publications.Moleong, Lexy J. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : RemajaRosdakaryaMuhammad, Arni, (2005). Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi AksaraMulyana, Deddy. (2003). Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru IlmuKomunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja RosdakaryaNeuman,W.Lawrence. (1997). Social Research Methods. Qualitative andQuantitave Approach, Third Edition. Boston : Allyn & Bacon A ViacomCompanyNuraini (2010). Perilaku Legislator Perempuan dalam MemperjuangkanKepentingan Perempuan. Skripsi. Unversitas DiponegoroPace, Wayne R dam Faules, Don F. (2006). Komunikasi Organisasi, strategimeningkatkan kinerja perusahaan. Bandung: PT Remaja RosdakaryaPrayitno, Ujianto Singgih, (1996). Wanita dalam pembangunan (Studi terhadapperaturan perundang-undangan RI terhadap konvensi PBB tentangpenghapusan diskrimnasi terhadap wanita). Jakarta: CV.ErasariRahardjo, Turnomo. (2006). Menghargai Perbedaan Kultural : MindfulnessDalam Komunikasi Antaretnis. Yogyakarta : Pustaka PelajarRitzer, George. (1996). Modern Sociological Theory. New York: The McGraw HillSantoso, Anang, (2004), Bahasa Peremouan. Jakarta: Bumi AksaraSaptari, Ratna dan Holzner, Brigitte, (1997). Perempuan kerja dan perubahansosial (sebuah pengantar studi perempuan). Jakarta: Pustaka UtamaGrafitySunarto. (2009). Televisi, Kekerasan dan Perempuan. Jakarta:KompasTong, Rosemarie. (2006). Feminist Though. Bandung: JalasuteraYin, Robert K. (2011). Qualitative Research from start to finish. London: TheGuilford PressInternetPearson, J. Michael dan Furumo, Kimberly. (2007). Gender-BasedCommunication Styles, Trust, and Satisfaction in Virtual Teamsdalam http://jiito.org/articles/JIITOv2p047-060Furumo35.pdf di unduhpada tanggal 6 Maret 2011 pukul 20.00 WIBSnellen, Deborah. (2006). Gender Communication.Colorado dalamhttp://www.cacubo.org/proDevOpp/Gender%20Communication.pdfdiunduh pada tanggal 7 Maret 2011 pukul 08.00 WIBVerghese, Tom. (2008). Women Leading Across Borders dalamhttp://www.culturalsynergies.com/resources/Women_Leading_Across_Borders.pdf diunduh pada tanggal 6 Maret 2011 pukul 20.30 WIBMajalahRahayu, Eva Martha (2010, April). Panggil Mereka Women on Top, SWASembada: 28Rahayu, Eva Martha (2012, April). Karena Wanita Punya Talenta , SWASembada: 29