A. Muthalib Nawawi
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 18 Documents
Articles

Found 18 Documents
Search

Perbandingan Granisetron 0,01 mg/KgBb dengan Ondansetron 0,08 Mg/Kg.Bb Untuk Mencegah Mual Muntah Pascaoperasi Dini Mastektomi Radikal Modifikasi

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mual muntah pascaoperasi tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan bagi pasien, namun juga menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan elektrolit, regurgitasi dan aspirasi, perdarahan serta lepasnya jahitan pembedahan. Pasien yang mengalami mual muntah pascaoperasi akan membutuhkan perhatian dan pengobatan lebih lanjut yang tentu saja meningkatkan biaya pelayanan medis. Wanita yang menjalani mastektomi dengan disertai pengambilan kelenjar getah bening ketiak mempunyai resiko tinggi terjadinya mual muntah pasca operasi. Banyak anti muntah yang diberikan termasuk diantaranya antihistamin, butyrophenon, dan antagonis reseptor dopamin telah dilaporkan mempunyai efek samping yang tidak diinginkan antara lain sedasi yang berlebihan, hipotensi, mulut kering, dysphoria, halusinasi dan efek ekstrapiramidal. Antagonis reseptor 5 HT3 memberikan kemajuan yang besar sebagai penanganan mual muntah pascaoperasi karena efek sampingnya yang sedikit bila dibandingkan dengan obat-obat anti muntah sebelumnya. Penelitian ini akan membandingkan dua obat antagonis reseptor 5 HT3 yaitu granisetron dengan ondansetron dalam mencegah mual muntah pascaoperasi dini mastektomi radikal modifikasi. Dilakukan penelitian pada 58 pasien ASA I dan II yang dilakukan mastektomi radikal modifikasi dengan anestesi umum. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan uji klinis acak terkontrol buta ganda. Sampel dibagi menjadi dua kelompok dengan randomisasi blok. Kelompok G diberikan granisetron 0,01 gr/kg.bb dan kelompok O diberikan ondansetron 0,08 mg/kg.bb. Obat perlakuan diberikan intravena 30 menit sebelum operasi selesai Evaluasi dilakukan pada tekanan darah, denyut jantung, saturasi oksigen dan lama pembedahan. Mual muntah pascaoperasi dinilai segera setelah operasi tiap jam sampai 6 jam pascaoperasi (mual muntah pascaoperasi dini) dengan 4 skala (0-3). Data dianalisis dengan uji-t, uji Chi-square, uji Mann-Whitney, dan uji Exact Fisher pada program SPSS ver.16 Windows. Hasil penelitian menunjukkan terdapat kecenderungan keluhan mual muntah pascaoperasi lebih banyak terjadi pada kelompok O (27,6%) dibandingkan dengan kelompok G (6,9%). Pada analisis statistik yang dilakukan dengan uji Chi-square didapatkan hasil perbedaan yang bermakna (p <0,05). Simpulan pemberian granisetron 0,01 gr/kg.bb intravena lebih baik dibandingkan dengan ondansetron 0,08 mg/kg.bb. intravena dalam dalam menurunkan kejadian mual muntah pascaoperasi dini mastektomi radikal modifikasi.Kata kunci: Mual muntah pascaoperasi dini, granisetron, ondansetron, mastektomi radikal modifikasi Comparison Granisetron 0.01 Mg / Kg.Bb With Ondansetron 0.08 Mg / Kg.Bb To Prevent Early Postoperative Nausea Vomiting Modified Radical MastectomyPostoperative nausea and vomiting not only cause discomfort to the patient, but also lead to electrolyte imbalance, regurgitation and aspiration, bleeding and loss of surgical sutures. Patients who experience postoperative nausea and vomiting will require further attention and treatment which of course increases the cost of medical services. Women who underwent mastectomy with accompanying decision underarm lymph nodes have a high risk of postoperative nausea and vomiting. Many anti-vomiting are given including antihistamines, butyrophenon, and dopamine receptor antagonists have been reported to have undesirable side effects including excessive sedation, hypotension, dry mouth, dysphoria, hallucinations and extrapyramidal effects. 5 HT3 receptor antagonists provide a major advancement for treatment of postoperative nausea and vomiting due to fewer side effects when compared with anti-vomiting medications before. This study will compare the two drugs 5 HT3 receptor antagonist granisetron with ondansetron in preventing postoperative nausea and vomiting modified radical mastectomy early. Conducted research on 58 patients ASA I and II modified radical mastectomy is performed under general anesthesia. Sampling was carried out using double-blind randomized controlled trial. Samples were divided into two groups by block randomization. Group G is given granisetron 0.01 gr / kg.bb and group O is given ondansetron 0.08 mg / kg.bb. Drug treatment is administered intravenously 30 minutes before the surgery ended on a complete evaluation of blood pressure, heart rate, oxygen saturation and length of surgery. Postoperative nausea and vomiting shortly after surgery assessed every hour until 6 hours after surgery (early postoperative nausea and vomiting) to 4 scale (0-3). Data were analyzed by t-test, Chi-square test, Mann-Whitney test and Fishers Exact test on Windows SPSS ver.16 The results suggest there is a tendency complaints of postoperative nausea and vomiting occurs more frequently in group O (27.6%) compared with group G (6.9%). In the statistical analysis performed with Chi-square test results obtained were significant differences (p <0.05). Conclusion that the provision of granisetron 0.01 mg / kg.bb better than intravenous ondansetron 0.08 mg / kg.bb. intravenously in lowering the incidence of early postoperative nausea and vomiting modified radical mastectomy.Keywords: early postoperative nausea and vomiting, granisetron, ondansetron, modified radical mastectomy DOI: 10.15851/jap.v1n1.158

Perbandingan antara Kombinasi Bupivakain 0,125% dan Dexmedetomidin 1 µg/Kgbb dengan Bupivakain 0,125% Melalui Blok Kaudal Terhadap Lama Analgesi Pascaoperasi Hipospadia

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Blokade kaudal merupakan tehnik anestesi regional yang paling banyak dilakukan pada operasi anak . Berbagai obat anestetik lokal telah digunakan untuk tehnik ini. Bupivakain adalah salah satu obat anestetik lokal yang paling banyak digunakan karena memiliki lama kerja yang panjang. Dexmedetomidin adalah suatu α2 agonis yang dipergunakan sebagai adjuvant untuk memperpanjang durasi bupivakain bila diberikan melalui blokade kaudal. Untuk meningkatkan efektifitasnya maka kombinasi bupivakain dengan dexmedetomidin dalam konsentrasi dan dosis yang rendah dapat diberikan. Penelitian ini dilakukan untuk menilai lama analgesia pascaoperasi dengan  blokade kaudal antara kombinasi  bupivakain  0,125 % ditambah  dexmedetomidin 1 µg/KgBB dan  bupivakain  0,125 % pada pasien pediatrik yang menjalani operasi hipospadia. Penelitian dilakukan terhadap 30 pasien anak , status  fisik  ASA I dan II,  dan berusia 1-6 tahun yang menjalani operasi hipospadia dengan anestesi umum, yang dilakukan blokade kaudal pascaoperasi. Pasien dibagi dalam dua kelompok. Kelompok BD menggunakan kombinasi Bupivakain 0,125% dan Dexmedetomidin 1µg/KgBB ( 0,5 cc/KgBB ), dan kelompok B menggunakan Bupivakain 0,125 % ( 0,5 cc/KgBB ) sebagai kontrol. Dicatat lama analgesia pascaoperasi. Data hasil penelitian diuji dengan uji Mann-Whitney . Pada hasil penghitungan statistik, didapatkan lama analgesi pascaoperasi pada kelompok BD lebih panjang dibandingkan kelompok B dengan hasil yang sangat bermakana ( p < 0,001 ). Pada kelompok blokade kaudal yang menggunakan kombinasi bupivakain 0,125% dan dexmedetomidin 1 µg/KgBB ( BD ), menunjukkan lama analgesia yang lebih panjang dibandingkan dengan kelompok bupivakain 0,125% ( B ) yaitu [ 863,0 (36,34) menit ] terhadap  [ 378,08 (37,87) menit ]. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi Bupivakain 0,125% dan dexmedetomidin 1 µg/KgBB untuk blokade kaudal sebagai analgetik pascaoperasi hipospadia, menghasilkan lama analgesi yang lebih panjang dibandingkan dengan bupivakain  0,125% .Kata Kunci: Blokade kaudal, Hipospadia, Bupivakain, Dexmedetomidin Comparison Of A Combined 0.125% Bupivacaine 1µg/Kgbw Dexmedetomidin And A 0.125% Bupivacaine In CaudalBlockage To Analgesia Duration After  Hypospadic SurgeryCaudal  blockage is the most  frequently used regional anestesia technique in pediatric surgery.  Various local anesthetic agents have been frequently used in this technique. Bupivacaine is one of the most used local anesthetics due to its long duration of action. Dexmedetomidin is an α2agonist  that is used as adjuvant  in lengthening bupivacaine  duration when it is administered via caudal blockage. In increasing its effectiveness, the combination of bupivacaine with dexmedetomidin  in low concentrationd and low dose can be given. This study was performed to assess the postoperative analgesia duration using caudal blockage between the combined 0.125% bupivacaine-1µg/Kg BW dexmedetomidin and 0.125% bupivacaine solely in pediatric patients having hypospadic surgery. The study was applied to 30 pediatric patients with ASA I and II physical status, and  aged 1-6 years that received hypospadic surgery with general anesthesia, to whom caudal blockage applied postoperatively. The patients were divided into  two groups. One group (BD group) was treated using the combined 0.125% bupivacaine-1 µg/Kg BW dexmedetomidin (0.5 cc/kg BW), the other group (B group) was treated with 0.125% bupivacaine (0.5 cc/kb BW) as control group. Postoperative analgesia duration  was recorded. The data of the study results were assessed using Mann-Whitney test. Postoperative  analgesia duration of BD group (863.0 [36.34] minutes)  was very significantly (p<0.001) longer than that in B group (378.08 [37.87] minutes). The conclusion of this study indicated that the use of combined 0.125% bupivacaine-1 µg/Kg BW dexmedetomidin for caudal blockage as analgetic agent   after hypospadic surgery resulted longer analgesia duration than that of 0.125% bupivacaine solely.  Keywords : caudal blockage, hypospadia, bupivacaine, dexmedetomidin.DOI:  10.15851/jap.v1n1.162

Perbandingan Gabapentin 600 mg dengan 1.200 mg per Oral Preoperatif terhadap Nilai Visual Analogue Scale dan Pengurangan Kebutuhan Petidin Pascaoperasi pada Modifikasi Mastektomi Radikal

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1109.265 KB)

Abstract

Gabapentin mempunyai efek antihiperalgesia, antialodinia, dan antinosiseptif. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efek gabapentin 600 mg dan 1.200 mg per oral preoperatif terhadap nilai visual analogue scale (VAS) dan pengurangan kebutuhan petidin pascaoperatif. Penelitian dilakukan secara uji acak terkontrol buta ganda terhadap 38 orang pasien di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Mei–September 2010. Pasien dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok gabapentin 600 mg dan gabapentin 1.200 mg. Penilaian skala nyeri dilakukan dengan menggunakan nilai VAS. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Uji Mann-Whitney dengan tingkat kepercayaan 95% dan dianggap bermakna bila nilai p<0,05. Hasil penelitian didapatkan nilai VAS saat diam dan saat mobilisasi berbeda bermakna (p<0,05). Kelompok gabapentin 1.200 mg lebih sedikit diberikan analgetik petidin tambahan (10,5% vs 15,8%), tetapi perbedaan tersebut tidak bermakna (p=0,631). Simpulan penelitian ini adalah gabapentin 1.200 mg per oral preoperatif lebih baik bila dibandingkan dengan 600 mg dalam mengurangi nilai VAS pasca operatif pada operasi modifikasi radikal mastektomi, namun tidak mengurangi kebutuhan petidin.Kata kunci: Gabapentin 600 mg, Gabapentin 1.200 mg, visual analogue scale, kebutuhan petidin The Comparison between 600 mg and 1,200 mg Gabapentin per Oral Preoperatively on Visual Analog Scale and Reduction of Postoperative Pethidine Requirement on Modified Radical MastectomyAbstract Gabapentin is a GABA analog which has the effect of anti hyperalgesia, anti allodynia, and anti nociceptive. This research was conducted in order to assess the effect of 600mg and 1,200 mg gabapentin given preoperatively to assess visual analogue scale (VAS) score and reduction of pethidine requirement. The study was done by conducting a double blind randomized controlled trial on 38 patients, aged 18–65 years, with ASA physical status I–II. Patients were divided into two groups: 600 mg gabapentin and 1,200 mg gabapentin group. The quality of pain was assessed using VAS score. The results were statistically analyzed using Mann-Whitney Test with 95% confidence interval and considered significant if p value <0.05. From the results, the VAS values obtained at rest and during mobilization were significantly different (p<0.05). The 1,200 mg gabapentin group received less additional pethidine (10.5% vs 15.8%), although no significant difference was shown (p=0.631). The conclusion of this study is that administration of 1,200 mg gabapentin per oral pre operatively is better when compared to 600 mg in reducing post operative visual analog scale score in modified radical mastectomy. However, it do not reduce the need for analgesic significantly.Key words: 600 mg Gabapentin, 1.200 mg Gabapentin, post operative pethidine requirement, visual analog scale DOI: 10.15851/jap.v1n3.196

Hubungan antara Rasio Neutrofil-Limfosit dan Skor Sequencial Organ Failure Assesment pada Pasien yang Dirawat di Ruang Intensive Care Unit

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1147.177 KB)

Abstract

Respons fisiologis sistem imunitas terhadap inflamasi sistemik adalah peningkatan jumlah neutrofil dan penurunan jumlah limfosit atau peningkatan rasio neurofil-limfosit (RNL). Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan inflamasi sistemik yang ditandai peningkatan RNL terhadap kegagalan fungsi organ ditandai dengan skor Sequencial Organ Failure Assessment (SOFA) pada pasien yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU). Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian dilakukan dengan mengobsevasi RNL dan skor SOFA pada jam ke-0, jam ke-24, dan jam ke-48 dari 78 pasien yang dirawat di ICU Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Desember 2012–Februari 2013 yang terbagi ke dalam 3 kategori sepsis A, B, dan C. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis bivariabel dengan Uji Korelasi Pearson dan Spearman. Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara RNL dan skor SOFA terhadap kategori sepsis masing-masing (p<0,001). Uji Korelasi Pearson didapatkan hubungan antara RNL dan skor SOFA (p<0,05; R=0,63). Simpulan, terdapat hubungan antara keadaan inflamasi sistemik yang ditandai dengan RNL dan kegagalan fungsi organ yang ditandai dengan skor SOFA pada pasien yang dirawat di ICU RS Dr. Hasan Sadikin Bandung.Kata kunci: Intensive care unit, rasio netrofit-limfosit, sequencial organ failure assesment Relationship between Neutrophil Lymphocyte Ratio and Sequential Organ Failure Assesment Score in the Intensive Care Unit patientsAbstractPhysiological response of immune system against systemic inflammation involves an increased level of neutrophils and a reduction of lymphocyte or an increase of neutrophil-lymphocyte ratio (RNL). The aim of this study was to identify the relationship between systemic inflammation, characterized by increasing in RNL on organ malfunction, assessed by Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) score in Intensive Care Unit (ICU) patients. This study was a observational study with cross sectional design. This study was conducted by observing RNL and SOFA score at 0, 24th and 48th hour of 78 patients treated in the ICU Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung in December 2012–February 2013. Patients were divided into 3 categories of sepsis A, B and C. This study showed that there was a relationship between RNL, SOFA scores and sepsis categories (p<0.001). Pearson Correlation Test showed that there was relationship between RNL and SOFA scores (p<0.05, R= 0.63). In conclusion, there is a relationship between systemic inflammatory condition, characterized by RNL and organ failure, characterized by the SOFA score, in patients treated in the ICU Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung.Key words: Intensive care unit, neutrophil-lymphocyte ratio, sequential organ failure assesment DOI: 10.15851/jap.v1n3.198

Penambahan Natrium Bikarbonat 8,4% pada Lidokain 2% untuk Mengurangi Nyeri Saat Infiltrasi Anestetik Lokal

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1093.211 KB)

Abstract

Infiltrasi anestesi lokal di daerah penyuntikan jarum epidural menggunakan lidokain menimbulkan nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan penambahan natrium bikarbonat 8,4% pada lidokain HCl 2% dengan perbandingan 1:10 untuk mengurangi nyeri saat infiltrasi. Penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga Juli 2013 di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian dilakukan dengan uji klinis acak tersamar ganda pada 44 pasien yang menjalani operasi dengan teknik anestesi epidural. Subjek dibagi 2 kelompok, kelompok eksperimen (LB) mendapatkan infiltrasi lidokain HCl 2% alkalin dengan menambahkan natrium bikarbonat 8,4% dengan perbandingan 1:10, kelompok kontrol (L) mendapatkan lidokain HCl 2%. Pada kedua kelompok dinilai numeric rating scale (NRS) saat infiltrasi lidokain HCl 2%. Hasil penelitian diuji dengan uji chi-kuadrat, uji-t, dan Uji Mann-Whitney, tingkat kepercayaan 95% dan kekuatan uji 94%, dianggap bermakna bila nilai p<0,05. Analisis statistik menunjukkan perbedaan bermakna nilai median NRS pada kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol saat infiltrasi anestesi lokal (5 vs 3), dengan nilai rentang (3–6 vs 1–4) dengan nilai p<0,05. Simpulan penelitian ini adalah alkalinisasi lidokain HCl 2% dengan penambahan natrium bikarbonat 8,4% dengan perbandingan 1:10 mempunyai efek mengurangi nilai NRS.Kata kunci: Alkalinisasi, lidokain HCl 2%, natrium bikarbonat 8,4%Addition of 8.4% Sodium Bicarbonate to 2% Lidocaine in Reducing Pain During Local Anaesthetic InfiltrationLocal anesthetic infiltration in the area of epidural injections using lidocaine can cause pain. This research was done in June–July 2013, in Dr. Hasan Sadikin Hospital, to determine the effectiveness of adding 8.4% sodium bicarbonate to lidocaine HCl 2 % with 1:10 ratio. This was a double-blind randomized control study involving 44 patients undergoing surgery with epidural techniques. Subjects were divided into two groups, the experimental group ( LB ) was given 2% lidocaine HCl with sodium bicarbonate 8.4% 1:10 ratio as a local anestetich while the control group (L) was given lidocaine 2%. Numeric rating scale (NRS) was assessed during infiltration. Data was analyzed using chi-squere test, t-test and Mann-Whitney Test , with 95% confidence level and 94% strength tes and considered significant if p<0.05. Statistical anaylsis showed a significant difrerence in median of NRS in the experiment compared to control group during local anaesthetic infiltration (5 versus 3), with range of 3–6 versus 1–4 with p>0.05. In conclusion, alkalinization of 2% lidocaine HCl by addition of 8.4% sodium bicarbonate with 1:10 ratio has an effect in reducing NRS.Key words: Alkalinization, lidocaine HCl 2%, sodium bicarbonate 8.4% DOI: 10.15851/jap.v2n1.234

Perbandingan Pemberian Ondansetron 8 mg dengan Tramadol 1 mg/ kgBB Intravena untuk Mencegah Menggigil Pascaanestesi Umum pada Operasi Mastektomi Radikal atau Modifikasi

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.591 KB)

Abstract

Menggigil pascaanestesi merupakan komplikasi anestesi umum yang dapat dicegah menggunakan berbagai jenis obat. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan ondansetron 8 mg intravena dengan tramadol 1 mg/kgBB dalam mencegah menggigil pascaanestesi umum. Penelitian dilakukan menggunakan metode prospektif, terkontrol, tersamar buta ganda pada 38 pasien berusia 30–60 tahun yang menjalani operasi mastektomi radikal atau modifikasi di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Maret–April 2012, status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) I dan II. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok secara acak, masing-masing kelompok menerima ondansetron 8 mg atau tramadol 1 mg/kgBB sebelum penutupan luka operasi. Analisis hasil penelitian menggunakan uji chi-kuadrat menunjukkan kejadian menggigil kelompok tramadol lebih sedikit (15,8%) dibandingkan dengan kelompok ondansetron (52,6%) dengan perbedaan bermakna (p<0,05). Simpulan, pemberian tramadol 1 mg/kgBB lebih baik dibandingkan dengan ondansetron 8 mg intravena untuk mencegah kejadian menggigil pascaanestesi umum pada operasi mastektomi radikal atau modifikasi.Kata kunci: Menggigil pascaanestesi umum, ondansetron, tramadolComparison Between Intravenous 8 mg Ondansetron and Tramadol 1 mg/kgBW in Preventing Post Anesthetic Shivering after General Anesthesia in Radical or Modified MastectomyPost anesthetic shivering is a common complication of general anesthesia and preventable with several types of drugs. The aim of this study was to compare the efficacy of intravenous 8mg ondansetron versus tramadol 1 mg/kgBW in preventing post anesthetic shivering after general anesthesia. The research is a prospective, randomized double-blind controlled study involving 38 female patients aged 30–65 years at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung period March–April 2012, American Society of Anesthesiologist (ASA) physical status I–II, who underwent radical or modified mastectomy. Subjects were randomly divided into two groups. One group was given ondansetron 8 mg and the other group was given tramadol 1 mg/kgBW before surgical wound closure. Research results showed that incidence of post anesthetic shivering was less on tramadol group (15.8%) compared to ondansetron (52.6%) group, which is statistically significant (p<0.05). In conclusion, administration of tramadol 1 mg/kgBW intravenously is more effective in preventing post anesthetic shivering in radical or modified mastectomy.Key words: General anesthesia, ondansetron, post anesthetic shivering, tramadol DOI: 10.15851/jap.v2n1.231

Jarak antara Saraf Femoralis dan Arteri Femoralis pada Daerah Lipat Inguinal Orang Dewasa dengan Menggunakan Pencitraan Ultrasonografi untuk Panduan Letak Penyuntikan Blokade Saraf Femoralis

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.528 KB)

Abstract

Blokade saraf femoralis merupakan salah satu metode blokade saraf perifer yang digunakan untuk memfasilitasi operasi ekstremitas bawah. Blokade femoralis memiliki efek analgesia perioperatif yang efektif dengan sedikit efek samping sistemik, penurunan kebutuhan opioid serta mobilisasi lebih awal dan murah. Arteri femoralis digunakan sebagai penanda anatomis pada blokade saraf femoralis karena letaknya berdekatan dengan saraf femoralis. Penelitian ini bertujuan mengetahui jarak titik tengah saraf femoralis terhadap titik tengah arteri femoralis di daerah lipatan inguinal orang dewasa menggunakan pencitraan ultrasonografi untuk membantu keberhasilan blokade saraf femoralis. Metode penelitian adalah deskriptif analisis. Penelitian dilakukan terhadap 43 subjek sukarelawan berusia 18–60 tahun dengan indeks massa tubuh normal. Penelitian telah dilakukan bulan September–Oktober 2014 di Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Unpad dan Central Operating Theatre (COT) lantai 4 Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Analisis data menggunakan Uji Mann-Whitney dan uji t. Hasil penelitian, jarak rata-rata titik tengah arteri femoralis terhadap titik tengah saraf femoralis pada laki-laki  1,075±0,13 cm dan pada perempuan 1,069±0,13 cm. Simpulan penelitian, jarak arteri femoralis dan saraf femoralis 1,07 cm lateral terhadap arteri femoralis. Kata kunci: Blokade saraf femoralis, saraf femoralis, ultrasonografiDistance between Femoral Nerve and the Femoral Artery at the Level of Inguinal Crease with Ultrasound as a Guid for Femoral Nerve Block InjectionAbstractThe femoral nerve block is one the peripheral nerve block methods that are used to falicitate lower extremity surgical procedures. The advantages of femoral nerve block include an effective perioperative analgesia with minimum systemic side effects, lower dosage of opioids, early mobilization and cost effective. This study aimed to measure the distance from the mid point of the femoral nerve to the mid point of the femoral artery at the level of inguinal crease of adults with ultrasound guidance that will determine the success rate of femoral nerve block. A descriptive analytic study involving 43 volunteer subjects aged 18–60 years was performed at the Anesthesiology and Intensive Care Department of the Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran and Central Operating Theatre (COT) of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung between September and October 2014. Statistical analysis are using Mann-Whitney test and independent t-test. Results showed that the average distance from the mid point of the femoral nerve to the mid point of the femoral artery in male was 1.075±0.13 cm and in female was 1.069±0.13 cm. This study  conclude that the average distance of femoral artery to the femoral nerve is 1.07 cm lateral to the femoral artery. Key words: Femoral nerve, femoral nerve block, ultrasonography DOI: 10.15851/jap.v3n3.610

Angka Kejadian dan Outcome Cedera Otak di RS. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2008-2010

Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Cedera otak traumatik (COT) merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia terutama negara berkembang dengan angka kematian yang tinggi pada dewasa muda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah angka kejadian COT dan karakteristiknya di RS. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.Subjek dan Metode: Penelitian deskriptif retrospektif dengan subyek pasien COT di Instalansi Gawat Darurat RSHS pada tahun 2008-2010. Pengambilan sampel dilakukan memakai data status pasien dan data elektronik catatan medis. Data dicatat dan dikelompokan sesuai dengan variabel karakteristik, outcome, serta dihitung CFR.Hasil: Angka kejadian COT selama 3 tahun di RSHS 3578 kasus, data yang berhasil dicatat sebanyak 2836 kasus, data yang tidak lengkap 483, dan data yang hilang 259, dengan CFR 3,5%. Kejadian COT ringan 1641 kasus, COT sedang 1086 kasus, COT berat 109 kasus. Kejadian pada laki-laki (79,8%) lebih tinggi dibandingkan perempuan (20,2%) dan tertinggi pada 18-45 tahun. Kecelakaan kendaraan roda dua adalah penyebab utama COT pada pasien RSHS. Jumlah terbanyak yang dilakukan operasi adalah fraktur depres dan cedera otak sedang. Interval waktu kedatangan di IGD sampai dimulainya operasi lebih dari 6 jam sebanyak 410 kejadian (60%) dan 273 kejadian (40%) memerlukan waktu operasi kurang dari 6 jam. Outcome pada pasien COT ringan adalah baik yaitu sebesar 94,7%, sedangkan outcome buruk dijumpai pada COT sedang sebesar 5,3%.Simpulan: Insidensi dan mortalitas COT di RSHS masih sangat tinggi dan tertinggi pada laki-laki, terjadi pada kelompok usia remaja sampai dewasa muda. Penyebab utama COT karena kecelakaan kendaraan roda dua dan mayoritas outcome pascaoperasi baik. Incidence and Outcome of Head Injury at Hasan Sadikin Hospital Bandung 2008-2010 Background and Objective: Traumatic brain injury (TBI) is one of the health problems in the world, especially in developing countries with high mortality rates in young adults. The purpose of this study was to determine the amount of TBI incidence and characteristics at Hasan Sadikin Hospital (RSHS) BandungSubject and Method: This research method is descriptive retrospective subject all patients with TBI at the emergency room RSHS in 2008 to 2010. Sampling was conducted using patient status data and electronic data of medical records. Data were recorded and classified in accordance with variable characteristics, outcome and Case Fatality Rate was calculated.Results: The incidence of TBI in 3 years at the RSHS is 3578 cases. Completed data attained were 2836 cases, with incomplete data in 483 cases and missing data in 259 cases with CFR 3.5%. The incidence of mild head injury were 1641 cases, moderate head injury were 1086 cases and 109 cases of severe head injury and CFR 3.5%. Incidence of TBI occurred in men was 79.8% which was higher compared to female 20.2%, with the age group of 18-45 years old was the highest. Majority were motorcycle accidents as the leading cause of TBI, and the most frequent diagnosis was depressed fracture have surgery. The most cases that underwent surgery were patients with moderate TBI. The more than 6 hours interval from emergency admission to surgery were recorded in 419 cases (60%) and < 6 hours interval in 273 cases (40%). Good outcome were recorded in the mild TBI 94.7%, but poor outcome were recorded in moderate TBI as many as 5.3%, 90 Jurnal Neuroanestesia IndonesiaConclusion: The incidence and mortality rate of TBI at RSHS was still very high. TBI occured mostly in men and in adolescent to young adult age group. The cause of head trauma was high due to motorcycle accidents, but most of the cases had a good outcome.

Perbandingan Kejadian Agitasi pada Pasien Dewasa Bedah Rawat Jalan yang menjalani Anestesi Umum dengan Menggunakan Desfluran atau Sevofluran

Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Bekang dan Tujuan: Agitasi pascaanestesi merupakan masalah yang kadang muncul pada pasien yang dilakukan anestesi umum. Masih terdapat kontroversi mengenai keuntungan relatif perioperatif dari penggunaan inhalasi desfluran atau sevofluran sebagai pemeliharaan anestesi pada pasien bedah rawat jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan besarnya kejadian agitasi pascaanestesi pada pasien bedah rawat jalan yang dilakukan anestesi umum dengan menggunakan desfluran atau sevofluran.Subjek dan Metode: Penelitian bersifat eksperimental prospektif dengan uji acak terkontrol buta tunggal, dilakukan pada 94 pasien bedah rawat jalan ASA I yang mendapat anestesi umum. Subjek dipilih acak dan dibagi dalam dua kelompok: kelompuk desfluran mendapat anestesi pemeliharaan dengan desfluran dan kelompok sevofluran mendapat sevofluran. Kedua kelompok di induksi dengan propofol 2 mg/kgbb, fentanyl 2µ/kgbb, atrakurium 0,1 mg/kgbb, kemudian dilakukan pemasangan LMA (Laryngeal Mask Airway). Untuk pemeliharaan anestesi, subjek dipilih secara acak mendapatkan desfluran atau sevofluran. Monitoring standar termasuk laju nadi, laju napas, tekanan darah non invasif, saturasi, temperatur, dikur secara kontinyu dengan mesin monitor. Anestetika volatil dihentikan ketika prosedur bedah telah selesai dilakukan. Dilakukan penilaian agitasi pada pasien sejak LMA dilepaskan, penggunaan obat-obat anestesi telah dihentikan, kemudian pada menit ke 5, 10, 15, 20, 25, 30, dst setiap lima menit sampai dengan 120 menit setelahnya dengan menggunakan Riker Agitation-Sedation Scale/Skala Agitasi-Sedasi Riker. Di ruang pemulihan, dilakukan juga pencatatan data hemodinamik, penilaian VAS pada pasien, pemberian analgetik tambahan serta Modified Aldrete Score.Hasil: Dari hasil pengamatan didapatkan 7 pasien mengalami agitasi pascaanestesi dari 47 sampel kelompok desfluran (14,9%), sedangkan hanya 5 pasien yang mengalami agitasi dari 47 sampel kelompok sevofluran (10,6%). Meskipun secara frekuensi kejadian agitasi pascaanestesi pada kelompok desfluran lebih besar dibandingkan dengan kelompok sevofluran, namun perbedaan tersebut tidak bermakna secara statistik. Tidak terdapat perbedaan bermakna dari data hemodinamik kedua kelompok perlakuan selama observasi masa pemulihan anestesi. Terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik dalam hal perbandingan lama bangun, kelompok desfluran lebih cepat bangun dibanding dengan kelompok sevofluran. Kelompok desfluran lebih cepat mencapai skor 10 dari modifikasi Aldrete dibvandingkan dengan kelompok sevofluran.Simpulan: Perbandingan besarnya kejadian agitasi pada kelompok yang dilakukan anestesi umum menggunakan desfluran dengan kelompok yang menggunakan sevofluran secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Prosentase agitasi pada kedua kelompok dapat dikatakan tidak terlalu tinggi jumlahnya, sehingga desfluran maupun sevofluran masih baik digunakan untuk pasien bedah rawat jalanThe Comparative of Agitation Incidency in Adult one day Surgery with General Anesthesia Desflurane or SevofluraneBackground and Objective: Postoperative agitation is a problem that sometimes occurs in patients who underwent general anesthesia. There is still controversy about the relative advantages of the use perioperative desflurane or sevoflurane inhalation as maintenance of anesthesia in ambulatory surgical patients. This study aims to determine the comparative magnitude of the incidence of post-operative agitation with ambulatory sugery performed under general anesthesia using desflurane or sevoflurane.Subjects and Methods: Experimental studies with a prospective single blind randomized controlled trial conducted in 94 surgical patients ASA I outpatient who received general anesthesia. Subjects were randomly selected and divided into two groups: group desflurane received maintenance anesthesia with sevoflurane group received desflurane and sevoflurane. The two groups in induction with propofol 2 mg / kgbb, fentanyl 2µ / kgbb, atrakurium 0.1mg / kgbb, then do  the installation of LMA (Laryngeal Mask Airway) was installed. For maintenance of anesthesia, subjects were randomly selected to get desflurane or sevoflurane. Standard monitoring including pulse rate, breathing rate, non-invasive blood pressure, saturation, temperature, measured continuously with engine monitor. Anestetika volatile suspended when the surgical procedure has been completed. An assessment of agitation in patients since the LMA is released, the use of anesthetic drugs have been discontinued, and at minute 5, 10, 15, 20, 25, 30, and so on every five minute to  120 minutes later by using the using the Riker Agitation-Sedation Scale / Riker's Agitation-Sedation Scale. In the recovery room, also performed hemodynamic data recording, the patients VAS  assessment, provision of additional analgesic and Modified Aldrete Score.Results: result found 7 patients experienced postoperative agitation desflurane group of 47 samples (14.9%), whereas only 5 patients with agitation of 47 samples sevoflurane group (10.6%). Although the frequency of occurance of postoperative agitation in desflurane group large than the sevoflurane group, but the difference was not statiscally significant. There were no significant differences in hemodynamic data from both treatment groups during the observation period of anethesia recovery. There was no statiscally significant differences in terms of comparison longer wake up, wake up faster desflurane group compared with the sevoflurane group. Desflurane group more quickly achieve a score of 10 from the scoring modification aldrete compared with sevoflurane groupConclusion: The Comparative magnitude of the incidence of agitation in the group that performed under general anesthesia using desflurane with the use of sevoflurane group was statistically no significant difference. The percentage of agitation in two groups can be said is not very high number, so desflurane and sevoflurane are both used for outpatient surgery patients

The Effect of Additional Magnesium Sulphate 80 mg with 0,5% Hiperbaric Bupivacaine to Onset and Duration of Action of Sensory and Motor Block Spinal Anaesthesia for Caesarean Section

Majalah Anestesia dan Critical Care Vol 33 No 3 (2015): Oktober
Publisher : Perdatin Pusat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Addition of adjuvants to 0.5% hyperbaric bupivacaine for spinal anaesthesia performed to accelerate sensory and motor onset, minimal side effect of hemodynamics and prolongation analgesia. The aim of the study was to investigate the effect of additional 80 mg of magnesium sulphate 40% intratecal to 0.5% hyperbaric bupivacaine on onset and duration of sensory and motor block for cesarean section. The study was randomized double blind controlled study to 40 patients with American Society of Anesthesiology (ASA) physical status II whom underwent caesarean section in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from April till May 2015. The additional 80 mg of 40% magnesium sulphate to 0.5% hyperbaric bupivacaine intratecal resulted earlier onset of sensory and motor block than group 0,9% sodium chloride (p˂0,001). The duration of sensory and motor block was longer in magnesium group than sodium chloride 0,9% group (p˂0,001). The study concluded that spinal anesthesia using 0.5% hyperbaric bupivacaine with magnesium sulphate produce faster onset and prolonged duration of sensory and motor blockade compared to 0.5% hyperbaric bupivacaine in cesarean section.