Articles

Found 12 Documents
Search

PEMIKIRAN FIKIH KONTEMPORER MUHAAMAD SYAHRRURR TENTANG POLIGAMI DAN JILBAB Mustaqim, Abdul
Jurnal Al-Manahij Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : STAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One fresh contribution to the contemporary study of fikih (Islamic jurisprudence) is the theory of limits (nazariyyah al-hudud) promoted by a Syirian liberal Islamic figure, Muhammad Syahrur. Syahrur’s theory of limits solves the epistemological deadlock of previous works. Syahrur asserts that the theory of limits is an approach within ijtihad (individual interpretation) to study the muhkamat verses (clear and direct verses of law) of the Qur’an. The term “limit” (hudud) used by Syahrur refers to the meaning of “the bounds or restrictions of God which should not be violated, contained in the dynamic, flexible, and elastic domain of ijtihad. By using the theory of limit, Syahrur tries to re-constructs both concept poligamy and jilbab as contribution to the contemporary study of Islamic jurisprudence.Kata Kunci: fikih kontemporer, teori hudud, pendekatan tartil, poligami, Jilbab
BELA NEGARA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Sebuah Transformasi Makna Jihad) Mustaqim, Abdul
Jurnal Analisis Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : IAIN RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ideologi transnasional menyebabkan pudarnya sikap bela terhadap negara. Pada sisi lain, bela negara selalu dikaitkan dengan militer. Konsep jihad dalam Al-Qur’an dapat diterjemahkan sebagai sebuah kewajiban membela negara kepada semua kalangan. Kewajiban tersebut berupa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, membudayakan musyawarah, memperjuangkan keadilan dan menjaga prinsip kebebasan. Kewajiban bela negara dalam bentuk fisik dilakukan apabila penguasa memerintahkan untuk berjihad dan ketika musuh sudah mengepung suatu negeri. jika membela Negara Indenesia menjadi salah satu prasarat bagi tegak dan jayanya umat Islam dalam menjalankan nilai-nilai Islam dan kemanusian universal, maka jihad membela negara menjadi sebuah keharusan.
KISAH AL-QUR’AN: HAKEKAT, MAKNA, DAN NILAI-NILAI PENDIDIKANNYA Mustaqim, Abdul
ULUMUNA Vol 15, No 2 (2011): December
Publisher : State Islamic Institute (IAIN) Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v15i2.199

Abstract

Abstract: Qur’anic stories are among God’s methods to educate human being. They contain moral of stories which send messages to people without indoctrinating. Conversely, they provide some interesting and enjoyable teachings and values. The main objective of the narrative stories of the Qur’an is to give lesson to human beings, along with their two functions, ‘abd al-Lâh (servant of God) who must serve the Lord and as khalîfah al-Lâh (representative of the Lord). By using descriptive analytical method and thematic interpretation approach, the article describes various educational values in the stories of the Qur’an. From some samples of stories in the Qur’an, the writer concludes that there are many educational values in the stories of the Qur’an, namely tauhid (the unity of God), intellectual, moral, sexual, spiritual and democracy values.Abstrak:  Salah satu cara Tuhan dalam mendidik manusia adalah dengan metode kisah dalam al-Qur’an. Dengan metode itu, manusia dapat mengambil pesan moral di dalamnya, tanpa merasa diindoktrinasi. Bahkan pesan-pesan edukatif yang terkandung didalamnya akan lebih mudah dicerna dan menarik. Tujuan pokok penuturan kisah al-Qur’an adalah sebagai pelajaran buat manusia, terkait dengan dua fungsinya, yakni sebagai ‘abd al-Lâh yang harus beribadah kepada Tuhan dan sebagai khalîfah al-Lâh (wakil Tuhan) yang harus memakmurkan bumi. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis dan pendekatan tafsir tematik, artikel ini menjelaskan tentang berbagai nilai pendidikan dalam kisah al-Qur’an. Dari beberapa sampel kisah dalam al-Qur’an penulis menyimpulkan bahwa terdapat nilai-nilai pendidikan dalam kisah al-Qur’an yang meliputi nilai pendidikan tauhid, intelektual, moral, seksual, spiritual, dan juga demokrasi.
KONFLIK TEOLOGIS DAN KEKERASAN AGAMA DALAM KACAMATA TAFSIR AL-QUR’AN Mustaqim, Abdul
Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 9, No 1 (2014)
Publisher : Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1293.052 KB)

Abstract

Fenomena konflik dalam sejarah manusia telah terjadi seperti yang dijelaskan dalam al-Qur’an. Selama masih ada masyarakat, konflk, bahkan yang menjurus pada kekekerasan tak akan sirna sehingga ada perang atau pertempuran (al-qital atau al-harb). Umumnya, konflik yang terjadi di masyarakat disebabkan oleh setidaknya tiga faktor: etnis (qabilah), teologi (akidah) dan ekonomi (ghanimah). Artikel ini bertujuan untuk membahas tentang konflik teologis dan kekekrasan dalam perspektif al-Qur’an. Dengan menggunakan metode tematik, penulis menyimpulkan bahwa al-Qur’an mengakui adanya beberapa konflik. Al-Qur’an juga mengakui konflik sebagai condicio sine quo non–untuk terus survival for the fittest–yang diwakili oleh istilah al-khasm atau al-mukhashamah, (QS al-Zumar: 31) ikhtilaf (QS Ali Imran [3]: 103, 105) dan tanazu ‘(QS al-Nisa’ [4]: 59). Namun pada saat yang sama, al-Qur’an juga menyarankan untuk membuat resolusi konflik. Sehingga harmoni sosial dalam masyarakat multikultural akan tercapai dengan baik. The conflict phenomena in the history of human being have been happened as described in the Qur’an. As long as there is a society, there is a conflict and sometime it leads to violence, so that there are wars or battle (al-qital or al-harb). Generally, the conflict happened in the society caused by at least three factors: ethnicity (qabilah), theology (aqidah) and economy (ghanimah). The purpose of this article is discuss about the theological conflict and violence in Qur’anic perspective. By using it, the writer conclude that the Qur’an recognizes there are some conflicts. The Qur’an also acknowledges the conflict as condicio sine quo non–to keep on the survival for the fittest–as represented by the terms al-khasm or al-mukhashamah, (Q.S. al-Zumar: 31) ikhtilaf (Q.S. Ali Imran [3]: 103, 105), and tanazu’ (Q.S. al-Nisa’[4]: 59). But at the same time, the Qur’an suggests to make conflict resolution too. Thus, the social harmony will be achieved well in the multicultural societies.
Etik PEmanfaatan Keanekaragaman Hayati Dalam PErsPEKtif al-Qur’an Mustaqim, Abdul
HERMENEUTIK Vol 7, No 2 (2013): HERMENEUTIK
Publisher : HERMENEUTIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.238 KB)

Abstract

Tulisan ini mengekplorasi tentang etika pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam perspektif al-Qur’an. Keanekaragamanhayati adalah segala macam bentuk ciptan Allah swt di muka bumiini, baik yang terdiri dari alam binatang maupun alam tumbuhan.Dalam perspektif al-Qur’an keanekaragaman tersebut merupakananugrah sang pencipta yang merupakan tanda-tanda kekuasaannya.Artikel ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana perspektif alQur’an dalam melihat pemanfaatan keanekaragaman hayati yangdimaksud tersebut, dengan menggunakan pendekatan kontenanalisis penulis berusaha untuk membongkar sisi-sisi yang belumterungkap dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan keragamanciptaan Allah. Hasilnya adalah terungkapnya tujuan Allahmenciptakan makhluknya yang beragam tersebut sesungguhnyaadalah diperuntukkan untuk manusia agar dapat dimanfaatkandalam kehidupan. Hal itu membutuhkan etika manusia agarkelangsungan kehidupan ala mini tetap seimbang dan tidakmerusak keberlanjutan ekologi.
BELA NEGARA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Sebuah Transformasi Makna Jihad) Mustaqim, Abdul
Analisis : Jurnal Studi Keislaman Vol 11, No 1 (2011): Analisis : Jurnal Studi Keislaman
Publisher : IAIN Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transnational ideology springs the faded attitude of  state defend. In another side, state defend is always connected with military. The concept of  jiha>d (struggle) in the Qur’an can be understood as an obligation to defend the state in all levels. The obligation could be in the form of guarding unity and integrity, culturalizing of  deliberation, struggling justice and maintaining freedom. The obligation of  state defend in the form of  physical form could not be conducted whether individually or collectively. This obligation is performed only if  a ruler commands to battle against, and when an enemy has besieged a region. If  defending Indonesia state is one of requirements for existence and glory of muslims in materializing Islamic values and universal of humanity, so struggling for state defend is a condition sine qua non
Teori Hudûd Muhammad Syahrur dan Kontribusinya dalam Penafsiran Al-Qur’an Mustaqim, Abdul
AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.607 KB) | DOI: 10.29240/alquds.v1i1.163

Abstract

One of the great thinkers in the contemporary era is Muhammad Syahrûr, a Syrian liberal Islamic figure. Through his controversial works, al-Kitâb wal Qur’ân: Qirâ’ah Mu`âshirah, (al-Kitab and al-Qur’an: a Contemporary Reading) Syahrur introduces a new theory of Quranic interpretation, called as the theory of limits. He asserts that the theory of limits is an approach within ijtihad (individual interpretation) to study the muhkamât verses (clear and direct verses of law) of the Qur’an. The term limit (hudûd) used by Shahrur refers to the meaning of “the bounds or restrictions of God which should not be violated, contained in the dynamic, flexible, and elastic domain of ijtihad.”. By using the descriptive-analytical method, the article is talking about the contribution of the theory of limits in qur’anic interpretation that makes significant contributions to the enhancement of Qur’anic studies.
Dialektika Agama: Harmoni dalam Jemaat Ahmadiyah (Resepsi Jemaat Ahmadiyah Indonesia Manislor Kuningan Jawa Barat terhadap Ayat-Ayat Jihad dan Perdamaian) Mustaqim, Abdul
FIKRAH Vol 4, No 2 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.007 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v4i2.1768

Abstract

Intoleransi, diskriminasi, dan kekerasan kerap terjadi di mana-mana di bumi Nusantara ini, sebagaimana sikap kekerasan yang terjadi di kelompok Ahmadiyah Manislor Kuningan beberapa tahun lalu. Kejadian yang seperti ini perlu adanya suatu konfirmasi penafsiran mengenai ayat al-Qur’an yang mengacu pada signifikansi nilai-nilai perdamaian yang harus dijunjung antar sesama. Al-Qur’an juga membincangkan mengenai perdamaian (rekonsiliasi). Reinterpretasi tersebut berguna untuk penghapusan penindasan, penegakkan kebebasan beragama, dan perdamaian. Adapun tulisan ini mengambil dua pokok permasalahan, yakni nilai-nilai perdamaian apa saja yang ada dalam jemaat Ahmadiyah?, kemudian bagaimana pemahaman Jema’at Ahmadiyah Manislor Kuningan terhadap ayat-ayat tentang perdamaian yang diresepsi sehingga membentuk suatu konsep yang menjadi tameng terhadap terjadinya kekerasan selanjutnya. Dari beberapa telaah pustaka yang penulis lakukan, belum ada penelitian yang membahas mengenai dialektika agama dalam Jemaat Ahmadiyah yang difokuskan pada studi resepsi. Hasil ini penelitian ini menunjukkan bahwa Jema’at Ahmadiyah Manislor dalam memahami ayat al-Qur’an tentang Jihad dengan pendekatan resepsi, di mana ayat jihad tersebut tidak hanya diartikan dan diaplikasikan begitu saja, akan tetapi dilihat dari sisi historis dan konteks masa sekarang yang secara tidak sadar melibatkan horison (pre understanding) mereka. Oleh karena itu, ayat tersebut dengan sendirinya sebenarnya dapat menjadi solusi dari perselisihan yang terjadi dalam Jema’at Ahmadiyah Manislor Kuningan.
PEMIKIRAN FIKIH KONTEMPORER MUHAMAD SYAHRUR TENTANG POLIGAMI DAN JILBAB Mustaqim, Abdul
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 5 No 1 (2011): ISTI???B DAN PENERAPANNYA DALAM HUKUM ISLAM
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1817.217 KB) | DOI: 10.24090/mnh.v5i1.647

Abstract

One fresh contribution to the contemporary study of fiqh (Islamic jurisprudence) is the theory of limits (nazariyyah al-hudud) promoted by a Syirian liberal Islamic figure, Muhammad Syahrur. Syahrur’s theory of limits solves the epistemological deadlock of previous works. Syahrur asserts that the theory of limits is an approach within ijtihad (individual interpretation) to study the muhkamat verses (clear and direct verses of law) of the Qur’an. The term “limit” (hudud) used by Syahrur refers to the meaning of “the bounds or restrictions of God which should not be violated, contained in the dynamic, flexible, and elastic domain of ijtihad. By using the theory of limit, Syahrur tries to re-constructs both concept poligamy and jilbab as contribution to the contemporary study of Islamic jurisprudence.
TEOLOGI BENCANA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Mustaqim, Abdul
Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Asosiasi Ilmu Alquran dan Tafsir se-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3129.817 KB) | DOI: 10.32459/nun.v1i1.9

Abstract

 Teologi bencana adalah suatu konsep tentang bencana dengan berbagai kompleksitasnya yang didasarkan pada pandangan al-Qur’an. Menurut al-Qur’an term bencana dapat terwakili dengan beberapa istilah, yaitu bala’ yang secara bahasa dapat berarti jelas, ujian, rusak. Bencana yang diungkapkan dengan term bala’ mempunyai aksentuasi makna bahwa bencana itu merupakan bentuk ujian Tuhan yang sengaja diberikan Tuhan untuk menguji manusia, agar tampak jelas keimanan. Bala’ dapat berupa hal-hal yang menyenangkan , dapat pula hal-hal yang tidak menyenangkan. Sementara itu, bencana dengan term mushîbah lebih merupakan segala sesuatu yang menimpa manusia yang umunya berupa hal-hal yang tidak menyenangkan. Ketika terkait dangan hal-hal yang baik, maka al-Qur’an menisbatkannya kepadaAllah, sementara ketika musibah itu terkait dnegan hal-hal yang menyengsarakan, al- Qur’an menyatakannya, bahwa hal itu akibat kesalahan manusia. Maka musibah itu sesungguhya bisa sebagai ujian, bisa pula sebagai teguran, bahkan juga bisa sebagai siksaan. Sedangkan bencana disebut dengan fitnah, maka kecenderungan maknanya adalah untuk menguji manusia. Bencana yang diungkapkan dengan term fitnah lebih merupakan ujian untuk mengetahui kualitas seseorang.