. Muslim
Balai Budidaya Air Payau, Situbondo

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Relation between broodstock number and spawning frequency and egg production of humpback grouper (Cromileptes altivelis) Syaifudin, M.; Aliah, R.S.; Muslim, .; Sumantadinata, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.057 KB)

Abstract

This study was performed to determine spawning frequency, number of ovulated egg and spawning time of humpback grouper (Cromileptes altivelis) broodstock in hatchery.  Broodstock of 20-83 fish in weight of 1.5-2.0 kg were reared in circular concrete tank 225 m3.  The results showed that increasing in number of broodstock increases spawning frequency (R2= 0.694), and ovulated eggs number was also increased (R2= 0.828).  Spawning of humpback grouper can occur in the third to fourth week in every month. Keywords: reproductive biology, spawning, Cromileptes altivelis   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi pemijahan, jumlah telur dan waktu pemijahan populasi induk ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di hatchery.  Jumlah induk yang bervariasi antara 20-83 ekor dengan ukuran 1,5-2 kg ditempatkan dalam bak beton bulat, kapasitas 225 m3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan bertambahnya jumlah induk, maka frekuensi pemijahan yang diperoleh juga semakin meningkat (R2=0,694), dan produksi telur juga semakin meningkat (R2=0,828). Pemijahan kerapu tikus dapat berlangsung setiap bulan, di mana waktu pemijahan terjadi pada kuarter keempat hingga kuarter ketiga. Kata kunci: Biologi reproduksi, Pemijahan, Cromileptes altivelis
The Usage of Garlic Extract (Allium sativum) to Cure Pangasius Fish (Pangasius hypophthalmus) Infected by Aeromonas hydrophylla Muslim, .; Hotly, .; Widjajanti, H.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 8, No 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.97 KB)

Abstract

The purpose of this research was to know effectivity of the garlic extract to cure Pangasius catfish that infected by A. hidrophylla bacteria. This research was done on February to April 2007, at Aquaculture Laboratory FP UNSRI. This research used Completely Randomised Design (CRD) with five treatments and three replications. The concentration of the garlic extract that used were 0 % (control), 0.2 %, 0.4 %, 0.6 %, 0.8 %. The parameters inspected include SR of fish that infected; SR of fish had been treatment, Relative Percent Survival (RPS), clinical symptom and water quality. The highest survival rate percentage is treatments A4 (0.8 %) with average value 66.66 %. The best concentration of garlic extract that can heal the fish until ≥ 50 % (RPS value) from totally sample of fish were treatments A4 (0.8 %), A3 (0.6 %), and A2 (0.4 %). The clinical symptom after cure and care as long as fourteen days indicated in control (without garlic extract has been found hard damage bodies organ and the mortality fish effect, but in treatments A1 (0.2 %), A2 (0.4 %), A3 (0.6 %), and A4 (0.8 %) recover after submerged with garlic extract. The water quality parameters during experiment in each treatments such as temperature was 27 - 29 oC, pH 6-6.5, Dissolved Oxygen 5.24 - 6.87 mg/l, and Ammonia 0.09 - 0.46 mg/l. Keywords: garlic extract, pangasius fish, A. hydrophylla bacteria   ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas ekstrak bawang putih untuk mengobati penyakit bakterial pada ikan patin yang disebabkan A. hidrophylla. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari - April  2007, di Laboratorium Budidaya Perairan, FP UNSRI. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap,  5 perlakuan dan 3 ulangan.  Konsentrasi ekstrak bawang putih yang digunakan adalah  0 % (kontrol), 0,2 %, 0,4 %, 0,6 %, 0,8 %.  Parameter yang diamati meliputi SR ikan yang terinfeksi, SR ikan setelah diberi perlakuan, RPS, gejala klinis serta kualitas air. Persentase SR tertinggi pada perlakuan A4  (0,8 %) sebesar 66,66 %. Konsentrasi ekstrak bawang putih yang dapat menyembuhkan ikan sampai ≥ 50 % (nilai RPS) dari jumlah total ikan berturut-turut adalah perlakuan A4 (0,8 %), A3 (0,6 %), dan A2 (0,4 %).  Gejala klinis setelah pengobatan dan pemeliharaan selama 14 hari menunjukkan pada perlakuan kontrol (tanpa ekstrak bawang putih) terdapat kerusakan organ tubuh paling parah dan menyebabkan ikan mati, sedangkan pada perlakuan A1   (0,2 %), A2 (0,4 %), A3 ( 0,6 %), dan A4 (0,8 %), gejala klinis pada tubuh ikan berangsur sembuh setelah direndam dengan ekstrak bawang putih. Parameter kualitas air selama pemeliharaan pada masing-masing perlakuan yaitu suhu (27-29oC), pH (6-6,5), O2 terlarut (5,24-6,87 mg/l) dan amonia (0,09-0,46 mg/l). Kata kunci : ekstrak bawang putih,  ikan patin, bakteri A . hydrophylla.  
Masculinization of Nile tilapia (Oreochromis niloticus) by administration of bull testes meal Muslim, .; Junior, M. Zairin; Priyo Utomo, Nur Bambang
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 10, No 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.672 KB)

Abstract

The synthetic steroid 17α-Methyltestosteron (MT) is commonly used as a feed additive to produce male population of Nile tilapia (Oreochromis niloticus). The use of synthetic testosterone hormone is not recommended in Indonesia. This study was conducted to evaluate the effect of natural testosterone hormone in bull testes meal (BTM) on the masculinization of Nile tilapia using validated aceto carmine squash method of gonads of the fish. Experimental design was utilized two factors experiments in completely randomized design. Fry kept in 40-L glass aquaria at a density of 40 fry/aquarium. Fry (7 dph) received the BTM  for 7 days (T1), 14 days (T2) and 21 days (T3) and doses 0% (D1), 3% (D2), 6% (D3), and 9% (D4).  When treatment was these results, indicated that significant (P≥0.05) masculinization occurred only in the group treated of BTM and no treated of BTM. In the group treated of BTM, doses and duration treatment is not significant. The percentage of male fish 83.3% (9%-7d, 9%-21d, 6%-21d: doses and duration, respectively), higher than all group. Survival rate of fry (95-99.5%) is not affected by treatment BTM (no significant P≥0.05). Fish growth was significantly affected by treatment BTM compare with no treated of BTM. The highest growth performance of fry were obtained with the 9% BTM. Key words: masculinization, nile tilapia, bull testes meal   ABSTRAK Steroid sintetik 17α-Methyltestosteron (MT) umumnya digunakan sebagai aditif pakan untuk menghasilkan populasi ikan nila jantan (Oreochromis niloticus). Penggunaan hormon testosteron sintetis tidak dianjurkan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh hormon testosteron alami dalam makanan testis banteng (BTM) pada maskulinisasi ikan nila menggunakan metode divalidasi aceto carmine squash, dari gonad ikan. Desain eksperimental dimanfaatkan dua eksperimen faktor dalam desain benar-benar acak. Fry disimpan dalam 40-L akuarium kaca pada kepadatan 40 fry/akuarium. Fry (7 DPH) menerima BTM selama 7 hari (T1), 14 hari (T2) dan 21 hari (T3) dan dosis 0% (D1), 3% (D2), 6% (D3), dan 9% (D4). Ketika pengobatan hasil ini, menunjukkan signifikan (P ≥ 0,05) hanya terjadi maskulinisasi pada kelompok perlakuan dari BTM dan tidak diperlakukan BTM. Pada kelompok diobati BTM, dosis dan durasi pengobatan tidak signifikan. Persentase ikan jantan 83,3% (9%-7d, 9%-21d, 6%-21d: dosis dan durasi, masing-masing), lebih tinggi dari kelompok semua. Tingkat kelangsungan hidup benih (95-99,5%) tidak dipengaruhi oleh pengobatan BTM (tidak ada P yang signifikan ≥ 0,05). Pertumbuhan ikan secara signifikan dipengaruhi oleh BTM pengobatan dibandingkan dengan tidak diobati BTM. Kinerja pertumbuhan tertinggi fry diperoleh dengan BTM 9%. Kata kunci: maskulinisasi, ikan nila, tepung testis sapi  
Relation between broodstock number and spawning frequency and egg production of humpback grouper (Cromileptes altivelis) Syaifudin, M.; Aliah, R.S.; Muslim, .; Sumantadinata, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.057 KB)

Abstract

This study was performed to determine spawning frequency, number of ovulated egg and spawning time of humpback grouper (Cromileptes altivelis) broodstock in hatchery.  Broodstock of 20-83 fish in weight of 1.5-2.0 kg were reared in circular concrete tank 225 m3.  The results showed that increasing in number of broodstock increases spawning frequency (R2= 0.694), and ovulated eggs number was also increased (R2= 0.828).  Spawning of humpback grouper can occur in the third to fourth week in every month. Keywords: reproductive biology, spawning, Cromileptes altivelis   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi pemijahan, jumlah telur dan waktu pemijahan populasi induk ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di hatchery.  Jumlah induk yang bervariasi antara 20-83 ekor dengan ukuran 1,5-2 kg ditempatkan dalam bak beton bulat, kapasitas 225 m3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan bertambahnya jumlah induk, maka frekuensi pemijahan yang diperoleh juga semakin meningkat (R2=0,694), dan produksi telur juga semakin meningkat (R2=0,828). Pemijahan kerapu tikus dapat berlangsung setiap bulan, di mana waktu pemijahan terjadi pada kuarter keempat hingga kuarter ketiga. Kata kunci: Biologi reproduksi, Pemijahan, Cromileptes altivelis