Mohammad Muslich
Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan Jl. Gunung Batu . 5, Bogor. 16610. Telp. (0251)-8633378, Fax. (0251)-8633413

Published : 38 Documents
Articles

Found 38 Documents
Search

THE POSSIBILITY OF USING TIMBER FROM PLANTATION FOREST TREATED WITH PLASTIC AND CCB FOR MARINE CONSTRUCTION Muslich, Mohammad; Hadjib, Nurwati
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 5, No 1 (2008): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.04 KB)

Abstract

Recently, timber  estate or plantation forest plays an important role on wooden based industries.  However, the  plantation timber  quality is relatively low.  Some treatments  have been developed to improve  its low quality, such as preservation with CCB (Chromate Copper Boron) and impregnation with plastic compounds. This study is to compare the durability of timber treated with  plastic and CCB,  non-treated from plantation forest timber  as well  as from natural  forest. The plantation timber  studied were  jeungjing  (Paraserianthes falcataria), damar  (Agathis sp.), pinus  (Pinus merkusii), and rubberwood (Hevea brasilliensis). Non-treated timbers that usually used for marine construction were ulin (Eusideroxylon zwageri), jati/teak  (Tectona grandis), laban (Vitex pubescens) and merbau  (Instia bijuga). After  6 and 12 months,  the results showed that CCB  preserved  timber  were  more durable  than plastic  impregnated timber  and non- treated timber. Wood samples were mostly attacked by marine borer organisms from the family of  Pholadidae  and Teredinidae. The experiment results revealed the possibility of using those plantation forest timber species for marine construction purposes.
DURABILTY OF 25 LOCAL SPECIFIC WOOD SPECIES FROM JAVA PRESERVED WITH CCB AGAINST MARINE BORERS ATTACK Muslich, Mohammad; Rulliaty, Sri
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 7, No 2 (2010): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.545 KB)

Abstract

This study was conducted to provide basis information of the 25 local specific wood species indigenous from Java treated by copper bichromated boron (CCB). The full-cell process for 2 hours and 150 psi during the pressure-keeping period was employed. The IUFRO method was applied for the determination of wood treatability class. The treated and untreated wood specimens were tied together using plastic cord, arranged into a raft like assembly, and then exposed for 3, 6, and 12 months to the brackish water situated at Rambut Island’s coastal area. The Nordic Wood Preservation Council (NWPC) standard No.1.4.2.2/75 was used to determine the intensity of marine borer infestation. The results revealed that 19 out of those 25 species were classified as easy to be preser ved, four species as moderate, and the remaining two were difficult to be preser ved. Those 19 species, i.e. Tamarindus indica L., Diplodiscus sp., Ficus variegate R .Br., Ehretia acuminata R .Br., Meliocope lunu-ankenda (Gaertn) T.G. Hartley, Colona javanica B.L., Pouteria duclitanBachni., Stercularia oblongata R .Br., Ficus vasculosa Wall ex Miq., Callophyllum grandiflorum JJS., Turpinia sphaerocarpa Hassk., Neolitsea triplinervia Merr., Acer niveum Bl., Sloanea sigun Szysz., Castanopsis acuminatissima A.DC., Cinnamomum iners Reinw. Ex Blume., Litsea angulata Bl., Ficus nervosa Heyne., and Horsfieldia glabra Warb. were more permeable implying that the CCB retention and penetration were greater and deeper. Hymeneaecarboril.L., LitseaodoriferaVal., Gironniera subasqualisPlanch., and LinderapolyanthaBoerl. were moderately permeable. Castanopsis tunggurut A.DC. and Azadirachta indica Juss. were the least permeable judging that the CCB retention and penetration were lowest and shallowest. The treated wood specimens in this regard were able to prevent marine borers attack. Meanwhile, the untreated specimens were susceptible to marine borers attack, except Azadirachta indica. The attacking borers consecutively are MartesiastriataLinne that belongs to the Pholadidae family ; and Teredo bartschi Clapp., Dicyathifer manni Wright., and Bankia cieba Clench. to the Terdinidae family.
KEAWETAN LIMA PULUH JENIS KAYU TERHADAP UJI KUBURAN DAN UJI DI LAUT Muslich, Mohammad; Rulliaty, Sri
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 4 (2013): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2536.694 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2013.31.4.250-257

Abstract

Lima puluh jenis kayu yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia untuk diuji sifat ketahanannya terhadap uji kuburan dan di laut. Contoh uji kayu berukuran 60x5x5 cm dipasang di digunakan dalam uji kuburan. Contoh uji lain berukuran 30x5x2,5 cm dipasang di perairan Pulau Rambut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan alami kayu pada uji kuburan berbeda dengan ketahanan kayu yang diuji di laut. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dari 50 jenis kayu tersebut tidak ada satupun yang tahan terhadap serangan rayap. Empat puluh tujuh jenis kayu (94%) mendapat serangan rayap. Sementara, satu jenis yaitu Blumeodendron tundifoliu diserang oleh jamur dan lima jenis lainnya yaitu Erythrina fusca, Litsea roxburghii, Myristica subaculata, Stercularia oblongatadan Trichodenia philippinensis diserang oleh kombinasi rayap dan jamur. Keenam jenis kayu tersebut termasuk dalam kategori kelas awet V. Hasil pengujian kuburan menunjukkan bahwa 28 jenis (56%) termasuk kelas awet V, 15 jenis (30%) kelas awet IV, dan 7 jenis (14%) kelas III. Sedangkan hasil pengujian di laut menunjukkan bahwa sebagian besar contoh uji diserang oleh penggerek kayu di laut. Tiga puluh dua jenis kayu (64%) termasuk kelas awet V, 12 jenis (24%) kelas awet IV, 4 jenis (8%) kelas awet III. Sisanya dua jenis (4%) termasuk kelas awet II, yaitu Azadirachta indica dan Parinari corymbosa. Penggerek yang menyerang contoh uji yaitu Martesia striata dari famili Pholadidae; Teredo bartschi, Dicyathifer manni, dan Bankia ceba dari famili Teredinidae.
KEAWETAN LIMA PULUH JENIS KAYU TERHADAP UJI KUBURAN DAN UJI DI LAUT Muslich, Mohammad; Rulliaty, Sri
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 4 (2013):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lima puluh jenis kayu yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia untuk diuji sifat ketahanannya terhadap uji kuburan dan di laut. Contoh uji kayu berukuran 60x5x5 cm dipasang di digunakan dalam uji kuburan. Contoh uji lain berukuran 30x5x2,5 cm dipasang di perairan Pulau Rambut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan alami kayu pada uji kuburan berbeda dengan ketahanan kayu yang diuji di laut. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dari 50 jenis kayu tersebut tidak ada satupun yang tahan terhadap serangan rayap. Empat puluh tujuh jenis kayu (94%) mendapat serangan rayap. Sementara, satu jenis yaitu Blumeodendron tundifoliu diserang oleh jamur dan lima jenis lainnya yaitu Erythrina fusca, Litsea roxburghii, Myristica subaculata, Stercularia oblongatadan Trichodenia philippinensis diserang oleh kombinasi rayap dan jamur. Keenam jenis kayu tersebut termasuk dalam kategori kelas awet V. Hasil pengujian kuburan menunjukkan bahwa 28 jenis (56%) termasuk kelas awet V, 15 jenis (30%) kelas awet IV, dan 7 jenis (14%) kelas III. Sedangkan hasil pengujian di laut menunjukkan bahwa sebagian besar contoh uji diserang oleh penggerek kayu di laut. Tiga puluh dua jenis kayu (64%) termasuk kelas awet V, 12 jenis (24%) kelas awet IV, 4 jenis (8%) kelas awet III. Sisanya dua jenis (4%) termasuk kelas awet II, yaitu Azadirachta indica dan Parinari corymbosa. Penggerek yang menyerang contoh uji yaitu Martesia striata dari famili Pholadidae; Teredo bartschi, Dicyathifer manni, dan Bankia ceba dari famili Teredinidae.
KETAHANAN BAMBU PETUNG (Dendrocalamus asper Backer) YANG DIAWETKAN DENGAN CCB TERHADAP SERANGAN PENGGEREK DI LAUT Muslich, Mohammad; Rulliaty, Sri
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.873 KB)

Abstract

Bambu adalah bahan lignoselulosa yang rentan terhadap serangan serangga termasuk penggerek di laut. Penelitian ini dilakukan sebagai informasi dasar pengawetan bambu menggunakan bahan pengawet CCB (Copper-bichromated boron) terhadap penggerek di laut. Lima belas batang bambu petung,masing-masing panjangnya 4 m, dibedakan bagian pangkal, tengah dan ujung. Semua batang bambu tersebut diawetkan dengan CCB 3% dengan proses modifikasi Boucherie selama 7 hari. Bambu yang sudah diawet, dibuat contoh uji berukuran panjang 30 cm dan lebar 5 cm dengan ulangan sebanyak 15 kali. Sebelum contoh uji dipasang di laut selama 6 bulan, retensi dan penetrasi bahan pengawet dicatat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua contoh uji diserang oleh penggerek di laut dengan berbagai tingkat serangan. Contoh uji yang diawetkan dengan CCB mendapat serangan ringan, sedangkan yang tidak diawetkan mendapat serangan berat oleh penggerek di laut. Siafat anatomi bambu petung mempunyai jaringan ikatan pembuluh yang terdiri dari metaksilem dan phloem dengan diameter yang besar, sehingga mudah diawetkan. Rata-rata retensi bahan pengawet CCB pada contoh uji bagian pangkal adalah 13,62 kg/m3, sedangkan bagian tengah dan atas 11,47 kg/m3 dan 9,12 kg/m3. Semua contoh uji yang diawetkan dengan proses modifikasi Boucherie mencapai penetrasi 100%. Hasil identifikasi penggerek yang menyerang contoh uji adalah Teredo sp. dan Martesia striata.
ANALISIS HASIL PENGUJIAN KAYU YANG DISERANG PENGGEREK KAYU DI LAUT DENGAN INTERPRETASI GAMBAR DIGITAL Krisdianto, Krisdianto; Dewi, Listya Mustika; Muslich, Mohammad
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.568 KB)

Abstract

Keawetan kayu alami dinilai berdasarkan ketahanannya terhadap organisme perusak tertentu. Pengujian ketahanan alami kayu terhadap organisme perusak di laut dilakukan dengan membenamkan contoh kayu di perairan laut terbuka. Setelah enam bulan, kayu dinilai intensitas kerusakannya dan diklasifikasikan kelas ketahanannya terhadap serangan penggerek di laut. Penilaian kerusakan kayu dilakukan dengan interpretasi gambar digital. Tulisan ini mempelajari ketahanan alami sembilan jenis kayu dari Sumatera, Jawa dan Kalimantan terhadap organisme penggerek laut dengan perangkat lunak Image-J setelah enam bulan. Hasil pengujian kayu di perairan terbuka menunjukkan kayu sempur lilin (Michelia champaca L.var. pubinervia) dan kayu bawang (Azadirachta excelsa) (Jack) Jacobs) termasuk kelas ketahanan I (sangat tahan), sedangkan kayu cangcaratan (Lithocarpus sundaicus(Blume) Rehd., aveang kelalai (Shorea pervistipulata ssp. albifolia) termasuk kelas ketahanan II (tahan) terhadap penggerek kayu di laut. Kayu ki pasang (Prunus javanica Miq.) dan segelam (Hopea rudiformis) termasuk kelas ketahanan III (agak tahan) terhadap penggerek kayu di laut, sedangkan kayu ki bugang (Arthophyllum diversifolium Blume) dan ki langir (Otophora spectabilis Blume) termasuk kelas ketahanan V (sangat tidak tahan) terhadap penggerek kayu di laut. Pengukuran persentase kerusakan kayu dapat dilakukan dengan akurasi tinggi menggunakan metode gambar digital daripada cara konvensional. Pengukuran persentase kerusakan kayu dengan gambar digital menghasilkan nilai lebih tinggi karena bekas lubang tali. Namun, bekas lubang tali juga diperhitungkan sebagai kerusakan kayu. Untuk memperoleh pengukuran kerusakan yang tinggi, maka metode gambar digital dimodifikasi dengan menutup bagian lubang bekas tali dengan kesan yang sama dengan bagian disekitarnya.
KELAS AWET 15 JENIS KAYU ANDALAN SETEMPAT TERHADAP RAYAP KAYU KERING, RAYAP TANAH DAN PENGGEREK DI LAUT Muslich, Mohammad; Rulliaty, Sri
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2011.29.1.67-77

Abstract

Lima belas jenis kayu andalan setempat yang berasal dari beberapa daerah di Jawa Barat diuji keawetannya. Kayu contoh uji yang berukuran 5,0 cm x 2,5 cm x 2,0 cm diuji terhadap rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus Light.), yang berukuran 2,0 cm x 0,5 cm x 0,5 cm diuji terhadap rayap tanah (Coptotermes curvignathus Holmgreen.) dan yang berukuran 2,5 cm x 5 cm x 30 cm diuji terhadap penggerek kayu di laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 15 jenis kayu yang diuji, hanya tarisi (Albizia lebbeck Benth.) yang paling tahan terhadap Cryptotermes cynocephalus Light. atau masuk ke dalam kelas awet I, dan kayu putih (Melaleuca cajuputi Powell.) tahan terhadap Coptotermes curvignathus Holmgreen atau masuk ke dalam kelas awet II. Sedangkan hasil uji kayu di laut menunjukan bahwa semua jenis kayu tidak tahan terhadap penggerek di laut.
KETAHANAN BAMBU PETUNG (Dendrocalamus asper Backer) YANG DIAWETKAN DENGAN CCB TERHADAP SERANGAN PENGGEREK DI LAUT Muslich, Mohammad; Rulliaty, Sri
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.509 KB)

Abstract

Bambu adalah bahan lignoselulosa yang rentan terhadap serangan serangga termasuk penggerek di laut. Penelitian ini dilakukan sebagai informasi dasar pengawetan bambu menggunakan bahan pengawet CCB (Copper-bichromated boron) terhadap penggerek di laut. Lima belas batang bambu petung,masing-masing panjangnya 4 m, dibedakan bagian pangkal, tengah dan ujung. Semua batang bambu tersebut diawetkan dengan CCB 3% dengan proses modifikasi Boucherie selama 7 hari. Bambu yang sudah diawet, dibuat contoh uji berukuran panjang 30 cm dan lebar 5 cm dengan ulangan sebanyak 15 kali. Sebelum contoh uji dipasang di laut selama 6 bulan, retensi dan penetrasi bahan pengawet dicatat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua contoh uji diserang oleh penggerek di laut dengan berbagai tingkat serangan. Contoh uji yang diawetkan dengan CCB mendapat serangan ringan, sedangkan yang tidak diawetkan mendapat serangan berat oleh penggerek di laut. Siafat anatomi bambu petung mempunyai jaringan ikatan pembuluh yang terdiri dari metaksilem dan phloem dengan diameter yang besar, sehingga mudah diawetkan. Rata-rata retensi bahan pengawet CCB pada contoh uji bagian pangkal adalah 13,62 kg/m3, sedangkan bagian tengah dan atas 11,47 kg/m3 dan 9,12 kg/m3. Semua contoh uji yang diawetkan dengan proses modifikasi Boucherie mencapai penetrasi 100%. Hasil identifikasi penggerek yang menyerang contoh uji adalah Teredo sp. dan Martesia striata.
PENINGKATAN PEMANFAATAN JATI PLUS PERHUTANI (JPP) UNTUK KAYU LAMINA Muslich, Mohammad; Hadjib, Nurwati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2010.28.3.263-277

Abstract

Jati plus perhutani (JPP) adalah jati (Tectona grandis) yang dikembangkan dengan menggunakan kultur jaringan. Informasi mengenai kualitas kayu jati cepat tumbuh tersebut belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki sifat inferior agar pemanfaatannya optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa JPP umur sembilan tahun termasuk kriteria kayu bulat kecil (KBK, A.1.), rentan terhadap rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus) dan rayap tanah (Coptotermes curvignathus). Kayu tersebut setelah diawetkan, kelas awetnya meningkat. Untuk meningkatkan nilai tambah dan manfaatnya, kayu tersebut dibentuk menjadi balok lamina dengan dan tanpa sambungan bentuk jari kemudian dirakit menjadi balok lamina menggunakan perekat campuran fenol-resorsinol- formaldehida dan urea formaldehida. Hasil penelitian menunjukkan adanya sambungan dan pengawetan dengan boraks tidak berpengaruh terhadap modulus elastisitas balok tersebut kecuali pada uji tekan sejajar lamina.
DURABILTY OF 25 LOCAL SPECIFIC WOOD SPECIES FROM JAVA PRESERVED WITH CCB AGAINST MARINE BORERS ATTACK Muslich, Mohammad; Rulliaty, Sri
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 7, No 2 (2010): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.545 KB) | DOI: 10.20886/ijfr.2010.7.2.144-154

Abstract

This study was conducted to provide basis information of the 25 local specific wood species indigenous from Java treated by copper bichromated boron (CCB). The full-cell process for 2 hours and 150 psi during the pressure-keeping period was employed. The IUFRO method was applied for the determination of wood treatability class. The treated and untreated wood specimens were tied together using plastic cord, arranged into a raft like assembly, and then exposed for 3, 6, and 12 months to the brackish water situated at Rambut Island’s coastal area. The Nordic Wood Preservation Council (NWPC) standard No.1.4.2.2/75 was used to determine the intensity of marine borer infestation. The results revealed that 19 out of those 25 species were classified as easy to be preser ved, four species as moderate, and the remaining two were difficult to be preser ved. Those 19 species, i.e. Tamarindus indica L., Diplodiscus sp., Ficus variegate R .Br., Ehretia acuminata R .Br., Meliocope lunu-ankenda (Gaertn) T.G. Hartley, Colona javanica B.L., Pouteria duclitanBachni., Stercularia oblongata R .Br., Ficus vasculosa Wall ex Miq., Callophyllum grandiflorum JJS., Turpinia sphaerocarpa Hassk., Neolitsea triplinervia Merr., Acer niveum Bl., Sloanea sigun Szysz., Castanopsis acuminatissima A.DC., Cinnamomum iners Reinw. Ex Blume., Litsea angulata Bl., Ficus nervosa Heyne., and Horsfieldia glabra Warb. were more permeable implying that the CCB retention and penetration were greater and deeper. Hymeneaecarboril.L., LitseaodoriferaVal., Gironniera subasqualisPlanch., and LinderapolyanthaBoerl. were moderately permeable. Castanopsis tunggurut A.DC. and Azadirachta indica Juss. were the least permeable judging that the CCB retention and penetration were lowest and shallowest. The treated wood specimens in this regard were able to prevent marine borers attack. Meanwhile, the untreated specimens were susceptible to marine borers attack, except Azadirachta indica. The attacking borers consecutively are MartesiastriataLinne that belongs to the Pholadidae family ; and Teredo bartschi Clapp., Dicyathifer manni Wright., and Bankia cieba Clench. to the Terdinidae family.