Imam Annas Mushlihin
STAIN Kediri

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Arah Baru Pemikiran Filsafat Hukum Islam Mushlihin, Imam Annas
Jurnal Al-Manahij Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : STAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian filsafat hukum Islam kurang mendapat perhatian yang semestinya pada masa klasik dan pertengahan Islam. Para ahli hukum Islam pada masa itu berhenti pada konsep maslahah sebagai tujuan hukum Islam (maqasid al-syari’ah) ketika berbicara mengenai filsafat hukum Islam. Beberapa persoalan filsafat hukum Islam yang muncul dewasa ini adalah berkaitan dengan demokrasi dan keadilan, hak asasi manusia (HAM), persoalan gender, dan masalah-masalah serupa dalam dunia modern. Pada masa modern, filsafat hukum Islam dikembangkan oleh beberapa ahli hukum Islam dalam menjawab berbagai permasalahan di dunia modern tadi. Para ahli hukum Islam modern merumuskan beberapa teori-teori baru yang umumnya memanfaatkan ilmu-ilmu humaniora dan sosial, maupun sains yang berkembang di Barat. Beberapa di antara teori-teori baru tersebut adalah  teori double movement, teori redefinisi nasakh, teori hudud, dan teori hermeneutika. Pendekatan para ahli hukum Islam modern tersebut menandai arah baru pengkajian dan pemikiran filsafat hukum Islam dewasa ini. Tulisan ini menguraikan pemikiran awal filsafat hukum Islam dan faktor-faktor yang mempengaruhi perumusannya, serta beberapa persoalan yang menuntut dilakukannya perubahan dalam pemikiran awal filsafat hukum Islam tersebut. Kata kunci : arah baru, pemikiran, filsafat, hukum Islam, masa moderen  Islamic legal philosophy study of classic and middle period of Islam is unable to get proper attention. When talking about Islamic legal philosophy, the Muslim jurists during that period desist at concept maslahah as purpose of Islamic law (maqasid al-syari’ah). Some problems of Islamic legal philosophy emerging these days are relating to democracy and justice, human right, gender, and similar problems in the modern world. During modern period, Islamic legal philosophy is developed by some Muslim jurists in responding various problems in the modern world. The Muslim jurists in modern period formulate some new theories generally using humanity and social sciences that are growing in the West. Some new theories are the theory of double movement, the theory of redefining naskh, the theory of hudud, and the theory of hermeneutics. Approaches used by the modern Muslim jurists mark new direction of study and idea of Islamic legal philosophy these days. This paper outlines the initial ideas of philosophy of Islamic law and the factors that influence the formulation, as well as some issues which call for a change in the thinking of the early Islamic legal philosophy. Keywords: new thinking, thought, philosophy, Islamic law, modern era
DEMOKRASI DAN HAK ASASI MANUSIA (HAM) DALAM PERSPEKTIF HERMENEUTIKA HUKUM ISLAM (Telaah Pemikiran Khaled Abou El-Fadl) Mushlihin, Imam Annas
Al-Manahij Vol 6, No 1 (2012): Teologi Inklusif Nurcholis Madjid dn Pengaruhnya terhadap Fikih Lintas Agama di
Publisher : IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2655.388 KB)

Abstract

Hubungan antara demokrasi, hak asasi manusia (HAM), dan Syari’ah memang selalu diperdebatkan oleh umat Islam dalam sepanjang sejarah mereka. Persoalan utamanya adalah apakah demokrasi dan HAM kompatibel dengan ajaran Islam ataukah tidak. Munculnya perdebatan tersebut karena melihat latar belakang bahwa demokrasi dan HAM muncul dari Barat, sedangkan agama berasal dari wahyu. Dengan demikian, apakah Islam dapat mendukung dan menyokong HAM merupakan tantangan paling penting yang dihadapi umat Islam saat ini. Sementara, tantangan lainnya adalah banyaknya muslim dan non-muslim di berbagai pelosok dunia saat ini meyakini bahwa HAM bertentangan dengan keyakinan Islam. Dalam artikel ini dengan mendialogkan antara demokrasi, HAM, dan Syari’ah melalui perspektif hermeneutika hukum Islam diharapkan dapat dirumuskan hubungan yang viable antara Islam dengan demokrasi dan hak asasi manusia, tanpa harus merugikan dan mengorbankan salah satunya.
ARAH BARU PEMIKIRAN FILSAFAT HUKUM ISLAM Mushlihin, Imam Annas
Al-Manahij Vol 7, No 2 (2013): ARAH BARU PEMIKIRAN FILSAFAT HUKUM ISLAM
Publisher : IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2900.963 KB)

Abstract

Kajian filsafat hukum Islam kurang mendapat perhatian yang semestinya pada masa klasik dan pertengahan Islam. Para ahli hukum Islam pada masa itu berhenti pada konsep maslahah sebagai tujuan hukum Islam (maqasid al-syari’ah) ketika berbicara mengenai filsafat hukum Islam. Beberapa persoalan filsafat hukum Islam yang muncul dewasa ini adalah berkaitan dengan demokrasi dan keadilan, hak asasi manusia (HAM), persoalan gender, dan masalah-masalah serupa dalam dunia modern. Pada masa modern, filsafat hukum Islam dikembangkan oleh beberapa ahli hukum Islam dalam menjawab berbagai permasalahan di dunia modern tadi. Para ahli hukum Islam modern merumuskan beberapa teori-teori baru yang umumnya memanfaatkan ilmu-ilmu humaniora dan sosial, maupun sains yang berkembang di Barat. Beberapa di antara teori-teori baru tersebut adalah  teori double movement, teori redefinisi nasakh, teori hudud, dan teori hermeneutika. Pendekatan para ahli hukum Islam modern tersebut menandai arah baru pengkajian dan pemikiran filsafat hukum Islam dewasa ini. Tulisan ini menguraikan pemikiran awal filsafat hukum Islam dan faktor-faktor yang mempengaruhi perumusannya, serta beberapa persoalan yang menuntut dilakukannya perubahan dalam pemikiran awal filsafat hukum Islam tersebut.
DEMOKRASI DAN HAK ASASI MANUSIA (HAM) DALAM PERSPEKTIF HERMENEUTIKA HUKUM ISLAM (Telaah Pemikiran Khaled Abou El-Fadl) Mushlihin, Imam Annas
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 6 No 1 (2012): TEOLOGI INKLUSIF NURCHOLISH MADJID DAN PENGARUHNYA TERHADAP FIKIH LINTAS AGAMA D
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2655.388 KB) | DOI: 10.24090/mnh.v6i1.587

Abstract

Hubungan antara demokrasi, hak asasi manusia (HAM), dan Syari’ah memang selalu diperdebatkan oleh umat Islam dalam sepanjang sejarah mereka. Persoalan utamanya adalah apakah demokrasi dan HAM kompatibel dengan ajaran Islam ataukah tidak. Munculnya perdebatan tersebut karena melihat latar belakang bahwa demokrasi dan HAM muncul dari Barat, sedangkan agama berasal dari wahyu. Dengan demikian, apakah Islam dapat mendukung dan menyokong HAM merupakan tantangan paling penting yang dihadapi umat Islam saat ini. Sementara, tantangan lainnya adalah banyaknya muslim dan non-muslim di berbagai pelosok dunia saat ini meyakini bahwa HAM bertentangan dengan keyakinan Islam. Dalam artikel ini dengan mendialogkan antara demokrasi, HAM, dan Syari’ah melalui perspektif hermeneutika hukum Islam diharapkan dapat dirumuskan hubungan yang viable antara Islam dengan demokrasi dan hak asasi manusia, tanpa harus merugikan dan mengorbankan salah satunya.
PENDEKATAN STUDI ISLAM DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL Mushlihin, Imam Annas
Jurnal Pemikiran Keislaman Vol 14 No 1 (2005): Tribakti, Volume 14 No.1 Januari 2005
Publisher : Jurnal Pemikiran Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lately have happened a lot of chaos and conflict in fatherland whereabout religion represent one of motive factor. The appearance kinds of the chaos on suspicion for lack of understanding culture plurality which is relied in perspective multicultural. In multicultural society by various different religion and culture, understanding and religion interpretation have monolithic character which tend to appear truth claim attitude, that is in the end turn up the attitude not confess the truth of other religion and culture. Though in multicultural society needed multiculturalisme attitude, that is confession and appreciation existence in response plurality. This article will elaborate the form of approach in Islamic study which ought to be developed in multicultural society. The aim is to grow the religious understanding which ever able to braid dialogued culturally and tradition which plural, so that religion sense not only have normatif and a-history character. The important of religious understanding which always dialogued culturally which born and grow to expand with society, will be more able to enrich the carrying out of to itself religion, and also in turn will eliminate the religious understanding which tend to fundamental, fanatic, and radical.
ARAH BARU PEMIKIRAN FILSAFAT HUKUM ISLAM Mushlihin, Imam Annas
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 7 No 2 (2013): ARAH BARU PEMIKIRAN FILSAFAT HUKUM ISLAM
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2900.963 KB) | DOI: 10.24090/mnh.v7i2.561

Abstract

Kajian filsafat hukum Islam kurang mendapat perhatian yang semestinya pada masa klasik dan pertengahan Islam. Para ahli hukum Islam pada masa itu berhenti pada konsep maslahah sebagai tujuan hukum Islam (maqasid al-syari’ah) ketika berbicara mengenai filsafat hukum Islam. Beberapa persoalan filsafat hukum Islam yang muncul dewasa ini adalah berkaitan dengan demokrasi dan keadilan, hak asasi manusia (HAM), persoalan gender, dan masalah-masalah serupa dalam dunia modern. Pada masa modern, filsafat hukum Islam dikembangkan oleh beberapa ahli hukum Islam dalam menjawab berbagai permasalahan di dunia modern tadi. Para ahli hukum Islam modern merumuskan beberapa teori-teori baru yang umumnya memanfaatkan ilmu-ilmu humaniora dan sosial, maupun sains yang berkembang di Barat. Beberapa di antara teori-teori baru tersebut adalah  teori double movement, teori redefinisi nasakh, teori hudud, dan teori hermeneutika. Pendekatan para ahli hukum Islam modern tersebut menandai arah baru pengkajian dan pemikiran filsafat hukum Islam dewasa ini. Tulisan ini menguraikan pemikiran awal filsafat hukum Islam dan faktor-faktor yang mempengaruhi perumusannya, serta beberapa persoalan yang menuntut dilakukannya perubahan dalam pemikiran awal filsafat hukum Islam tersebut.