Chatarina Muryani
Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, LPPM Universitas Sebelas Maret

Published : 38 Documents
Articles

Found 38 Documents
Search

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DAN BERBASIS E-LEARNING EDMODO TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI LANGKAH PENELITIAN GEOGRAFI DI KELAS X IPS SMA DAN MA ASSALAAM SUKOHARJO Mardliyana, Erna; Muryani, Chatarina; Sarwono, Sarwono
GeoEco Vol 4, No 1 (2018): Jurnal GeoEco Januari 2018
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.675 KB) | DOI: 10.20961/ge.v4i1.19170

Abstract

The purpose of this research is to know: (1) the difference of geography learning outcomes between using Contextual Teaching and Learning (CTL), Edmodo based on e-learning, and conventional learning model (2) the difference of geography learning outcomes between using Contextual Teaching and Learning (CTL) learning model and Edmodo based on e-learning model; (3) the difference of geography learning outcomes between using Contextual Teaching and Learning (CTL) learning model and conventional learning model; (4) the difference of geography learning outcomes between using Edmodo based on e-learning and conventional learning model on geography research step at X IPS SMA and MA Assalaam Sukoharjo. The technique ofcollecting data uses written tests in the form of multiple choice questions. The data validity uses the validity of the questionsto measure the difference, level of difficult, and reability. For the normality testing uses liliefors method, meanwhile the data analysis uses one way anava. The results of this research are: (1) There is a significant difference of geography learning outcomes between using Contextual Teaching and Learning (CTL) learning model, e-learning based on edmodo and conventional learning model; (2) There is not difference in geography learning outcomes between using Contextual Teaching and Learning (CTL) learning model and e-learning model of edmodo(both of models are equally effective); (3) the result of geography study using Contextual Teaching and Learning (CTL) learning model is better than conventional learning model; (4) the result of geography study using e-learning model of edmodo is better than conventional learning model on the research step of geography at class X IPS SMA and MA Assalaam Sukoharjo. Keywords: CTL Learning Model, Edmodo Based E-learning, Geography Learning Outcomes of Geography Material.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN HUTAN MANGROVE PANTAI PASURUAN Muryani, Chatarina
Pendidikan Geografi Vol 8, No 16 (2009): Volume 8 Nomor 16, Desember 2009
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN HUTAN MANGROVE PANTAI PASURUAN   Chatarina Muryani *)   ABSTRACT : The aim of this research is  to know  the differences of environmental factors toward the thickness of mangrove forest. Samples chosen were the mangrove forest which had various thickness. Semare Village was chosen to represent west part of research area, Bugul Kidul District was chosen to represent middle part of research area, Penunggul Village and Kedawang Village at Nguling District were chosen to represent east part of the research area. For each thickness of mangrove forest, there were made 3 line transects from the mangrove forest land edge to the mangrove forest sea edge, upright the shore line. There were determined 3 plot samples to represent “less thick” mangrove forest, 6 plot samples to represent “middle thick” mangrove forest, and 9 plot samples to represent “high thick” mangrove forest.The results of this research showed that there were differences environment factors especially in organic matter of water and soils, soil texture, on the thickness mangrove forest.  Based on MANOVA analysis (simultaneous) there were differences on the environment factors on the thickness of mangrove forest.   Key words : mangrove forest , environment factors   PENDAHULUAN Hutan mangrove seringkali juga disebut hutan pantai, hutan pasang surut, hutan payau, atau hutan bakau. Disebut hutan pantai karena hutan mangrove hanya dapat ditemui di kawasan pantai; disebut hutan pasang surut karena pertumbuhan vegetasi mangrove sangat tergantung pada pasang surut air laut dan disebut dengan hutan payau karena pada umumnya hutan mangrove tumbuh dan berkembang pada sekitar muara sungai dengan karakteristik khas air payau. Bakau sendiri merupakan nama lokal dari salah satu tumbuhan yang menyusun hutan mangrove, yaitu Rhizopora sp., dan hutan mangrove sudah ditetapkan sebagai nama baku untuk mangrove forest. Dari definisi di atas sudah menunjukkan bahwa faktor lingkungan sangat berpengaruh pada keberadaan dan pertumbuhan hutan mangrove. Kathiresan (2000) menyatakan bahwa lingkungan hutan mangrove mempunyai sifat fisik dan kimia khusus baik salinitas, arus pasang surut, angin, temperatur tinggi dan tanah berlumpur. Menurut Bengen (2000) secara umum karakteristik habitat hutan mangrove digambarkan sebagai berikut  Umumnya tumbuh pada daerah intertidal yang jenis tanahnya berlumpur, berlempung atau berpasir, Daerahnya tergenangi air laut secara berkala baik setiap hari maupun hanya tergenang pada saat pasang purnama. Frekuensei genangan menentukan komposisi vegetasi hutan mangrove Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat, Terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat, air bersalinitas payau (2 – 22 ‰) hingga asin (38 ‰).   Menurut English, et. al  (1993) beberapa faktor lingkungan mempengaruhi diversitas dan produktifitas ekosistem hutan mangrove, yaitu iklim, geomorfologi, besarnya pasang surut, input air tawar dan karakteristik tanah. Menurut Aksornkoae (1993), baik struktur maupun fungsi dari ekosistem hutan mangrove  sangat  dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan sebagai berikut :   (a) Fisiografi pantai, (b) Curah hujan, (c) Pasang Surut, (d) Ombak dan gelombang (e) Salinitas,  (f) Oksigen terlarut, (g) tanah, (h) Nutrien.   Input penting dalam produktivitas hutan mangrove adalah air (terutama keseim-bangan antara air tawar dan air asin), substrat dan nutrien (baik yang ada di substrat maupun di dalam air. Salah satu sumber nutrien di ekosistem hutan mangrove berasal dari sedimen yang terperangkap oleh vegetasi mangrove tersebut. Sedimen yang  berasal dari darat dan mengandung banyak nutrien dibawa oleh aliran sungai ke laut, dan oleh arus pasang surut sedimen tersebut dibawa kembali ke pantai dan ditangkap kemudian diendapkan di dasar vegetasi mangrove (Kamaruzzaman et al., 2001).     Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor lingkungan di sekitar hutan mangrove Pantai Pasuruan dan mengkaitkan-nya dengan struktur hutan mangrove pada daerah yang bersangkutan.   METODE PENELITIAN Penelitian di lakukan di sepanjang Pantai Pasuruan, dengan alasan di daerah ini banyak dijumpai muara sungai sebagai habitat hutan mangrove dan hutan mangrove di daerah ini mempunyai ketebalan yang bervariasi. Lokasi sampel ditentukan berdasarkan kriteria: -          mewakili daerah bagian barat, bagian tengah dan bagian timur daerah penelitian -          mempunyai ketebalan , kerapatan  dan diversitas hutan mangrove yang bervariasi -          mempunyai kondisi geografis yang hampir sama Pengambilan  sampel dalam ekosistem hutan mangrove menggunakan metode plot garis transek  (Transect Line Plots). Pada setiap lokasi dibuat transek memanjang dari tepi laut ke arah darat. Metode yang dipakai untuk pengambilan sampel adalah metode kuadrat dengan penentuan stand secara sistematik reguler. Plot kuadrat untuk pohon 10 x 10 m, untuk anak pohon 5 x 5 m dan untuk herba 1 x 1 m (Oosting, 1956).  Penentuan lokasi transek dan plot sampel adalah sebagai berikut  : -          untuk masing-masing kriteria ketebalan hutan mangrove ditentukan 3 (tiga) buah garis transek, -          penentuan jumlah plot sampel adalah sebagai berikut : Untuk ketebalan hutan mangrove kategori “tipis” masing-masing garis transek ditentukan satu plot sampel Untuk ketebalan hutan mangrove kategori “sedang” masing-masing garis transek ditentukan dua plot sampel Untuk ketebalan hutan mangrove kategori “tebal” masing-masing garis transek ditentukan tiga plot sampel Plot sampel terletak di kanan atau kiri garis transek yang lokasinya ditentukan secara acak. Gambaran penentuan garis transek dan plot sampel adalah sebagai berikut :               Mangrove Tipis  Mangrove Sedang    Mangrove Tebal Keterangan :        : garis transek            : plot sampel   Plot sampel terletak di kanan atau kiri garis transek yang lokasinya ditentukan secara acak. Alat-alat  yang diperlukan untuk penelitian di  lapangan adalah : Global Positioning System (GPS) Receiver dan Kompas , digunakan untuk penentuan posisi  dan arah suatu tempat di lapangan pH meter untuk mengukur tingkat keasaman tanah dan air Termometer untuk mengukur suhu air Refractometer untuk penentuan kadar garam substrat dan air laut Botol sampel, untuk mengambil sampel air Oxymeter untuk mengukur oksigen terlarut (DO) air laut Meteran dan tali untuk pembuatan transek   Faktor-faktor lingkungan yang diamati meliputi kondisi pantai, kualitas air dan kualitas tanah yang diduga berpengaruh terhadap ekosistem hutan mangrove. Jenis data  yang dikumpulkan dan metode pengumpulan data  dapat dilihat pada Tabel 1.   HASIL PENELITIAN Letak dan Luas Daerah penelitian termasuk pada dua wilayah administrasi, yaitu Kabupaten Pasuruan dan Kota Pasuruan.  Daerah penelitian  membujur dari barat ke timur, di sebelah barat dibatasi oleh Sungai Porong yang merupakan batas antara Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Sidoarjo; sedangkan di sebelah timur dibatasi oleh sungai Laweyan yang merupakan batas antara Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo. Kabupaten Pasuruan terletak antara 112o30’ – 113o30’ BT dan 7o30’ – 8o30’ LS (Peta Rupa Bumi Indonesia Th 2000 skala 1 : 25.000), luasnya adalah 1474 km2 atau 147401,5 hektar, terdiri atas 24 Kecamatan, 341 Desa dan 24 Kelurahan. Kecamatan-         Tabel 1. : Parameter penelitian dan metode / alat yang digunakan   No Parameter Metode/Alat Satuan Pelaksanaan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Iklim Topografi pantai Kedalaman sedimen Tekstur tanah/sedimen Total C Organik Suhu Air Salinitas air + tanah pH air + tanah DO air BO air (TOM) Data sekunder Clinometer Tiang pengukur Feeling meth + Lab Pembakaran Termometer Hand Refractometer pH stick Oxymeter Titrasi - % cm % % oC ‰ - mg/l mg/l Di lapangan Di lapangan Di lapangan Di Lap + Lab Di laboratorium Di lapangan Di lapangan Di lapangan Di lapangan Di Laboratorium     kecamatan di Kabupaten Pasuruan yang mempunyai pantai (berbatasan dengan Selat Madura) adalah Kecamatan Bangil (4460 Ha), Kecamatan Kraton (5075 Ha), Kecamatan Rejoso (3700 Ha), Kecamatan Lekok (4657 Ha) dan Kecamatan Nguling (4260 Ha). Kota Pasuruan  secara astronomis terletak antara 112o40’ – 112o50’ Bujur Timur  dan 7o35’ – 7o45’ Lintang Selatan (Peta RBI tahun 2000 skala 1 : 25.000 lembar Pasuruan), terdiri atas  3 Kecamatan dan memiliki  34 Kelurahan. Kelurahan-kelurahan di Kota Pasuruan yang mempunyai pantai (berbatasan dengan Selat Madura) adalah Desa Blandongan, Desa Kepel, Kelurahan Mandaranrejo,   Kelurahan   Panggungrejo    (Kec. Bugul Kidul), Desa Ngemplakrejo (Kecamatan Purworejo), Desa  Tambaan dan Desa Gadingrejo (Kecamatan Gadingrejo).   Bentuk Pantai Secara umum pantai Pasuruan merupakan pantai datar dengan ketinggian sekitar 0 – 5 meter di atas permukaan air laut. Ombak di sepanjang pantai kecil dan ditambah dengan banyaknya sungai yang bermuara di daerah ini serta keberadaan hutan mangrove di daerah pantai,  menjadikan bentuk pantai merupakan pantai sedimentasi (bukan pantai abrasi). Keseluruhan wilayah Kota Pasuruan sendiri merupakan dataran rendah dengan kemiringan kurang dari 3 %  dan ketinggian tempat antara 0 – 10 meter dari muka air laut. Alih fungsi lahan pesisir misalnya penebangan hutan mangrove menjadi tambak, daerah permukiman, lokasi wisata dan sebagainya dapat mengubah bentuk pantai dari pantai sedimentasi menjadi pantai abrasi. Di Kecamatan Nguling bagian barat (Watuprapat) dan Kecamatan Lekok bagian timur (Wates dan Semedusari) bentuk pantai agak terjal. Jika tidak dikelola, abrasi pantai di daerah ini dapat menyebabkan lahan pantai menjadi semakin mundur. Sebaliknya upaya rehabilitasi hutan mangrove ternyata dapat mengubah pantai abrasi menjadi pantai sedimentasi. Di Desa Penunggul Kecamatan Nguling misalnya, lahan  bertambah ke arah pantai cukup luas akibat penanaman hutan mangrove. Berdasarkan ... Berdasarkan hasil analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) dari tumpang susun antara Peta Bentuk Pantai Kabupaten dan Kota Pasuruan tahun 1981, tahun 1994 dan tahun 2008 terdapat perubahan bentuk pantai yang cukup nyata di sepanjang pantai Pasuruan selama kurun waktu tahun 1981 sampai tahun 2008. Tumpang susun (overlay) antara Peta Bentuk Pantai Kabupaten dan Kota Pasuruan tahun 1981 dan tahun 1994 menunjukkan terjadinya perubahan garis pantai yang cukup nyata. Di Beberapa tempat  terjadi penambahan pantai (garis pantai maju) cukup besar antara lain di Desa Gerongan dan Desa Pulokerto Kecamatan Kraton, Desa Blandongan (Kota Pasuruan), Desa Patuguran (Kecamatan Rejoso), Desa Jatirejo (Kecamatan Lekok), Desa Watuprapat dan Kedawang (Kecamatan Nguling). Sedangkan di beberapa tempat terjadi pengurangan pantai (garis pantai mundur) cukup nyata antara lain terjadi di  Desa Semare dan Desa Kalirejo (Kecamatan Kraton), Kelurahan Tambaan (Kecamatan Gadingrejo Kota Pasuruan, Kelurahan Panggungrejo dan Mandaranrejo (Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan), Desa Wates (Kecamatan Lekok). Penambahan pantai (garis pantai maju) menunjukkan terjadinya sedimentasi sedangkan pengurangan pantai (garis pantai mundur) menunjukkan terjadinya abrasi. Kemungkinan hal ini berkaitan erat dengan pengurangan dan penambahan luas hutan mangrove pada suatu wilayah. Lihat Peta 1 :  Peta Bentuk Perubahan Bentuk Pantai Kabupaten dan Kota Pasuruan Tahun 1981 –  1994. Tumpang susun (overlay) Peta Bentuk Pantai Kabupaten dan Kota Pasuruan tahun 1994 dan tahun 2008  menunjukkan terjadi penambahan pantai (garis pantai maju) di sepanjang  pantai  utara  Kabupaten dan Kota Pasuruan  selama kurun waktu 14 tahun terakhir. Penambahan pantai yang nyata (cukup besar) terjadi di daerah-daerah  Desa Raci (Kecamatan Bangil), Desa Pulokerto dan Desa Semare (Kecamatan Kraton), Desa Blandongan (Kota Pasuruan), Desa Patuguran (Kecamatan Rejoso), dan Desa Penunggul (Kecamatan Nguling). Lihat Peta 2 :  Perubahan Bentuk Pantai Kabupaten dan Kota Pasuruan tahun 1994 – tahun 2008. Dari Peta Perubahan Bentuk Pantai Kabupaten dan Kota Pasuruan th 1981 – th 1994 dan  Peta Perubahan Bentuk Pantai Kabupaten dan Kota Pasuruan th 1994 – th 2008 dapat diidentifikasi bahwa penambahan pantai (garis pantai maju) terutama terjadi di muara-muara sungai besar di sepanjang pantai. Hal ini menunjukkan sedimentasi yang besar dari material-material yang dibawa oleh arus sungai-sungai tersebut. Fenomena ini juga menunjukkan adanya peningkatan erosi di daerah hulu yang mungkin disebabkan adanya pembalakan hutan, pertambangan atau usaha pertanian yang kurang memperhatikan konservasi lingkungan.     Iklim Indonesia termasuk salah satu negara yang mempunyai hutan mangrove luas dengan keanekaragaman vegetasi yang tinggi di dunia. Salah satu faktor adalah iklim Indonesia yang mendukung untuk pertumbuhan vegetasi mangrove. Sebagian besar pantai-pantai di Indonesia mempunyai iklim tropika basah dengan ciri-ciri temperatur tinggi, curah hujan tahunan tinggi, kelembaban udara tinggi. Suhu dan curah hujan merupakan faktor iklim yang paling dominan yang berpengaruh terhadap berbagai kehidupan wilayah pantai.  Jumlah, lama dan distribusi curah hujan merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan dan distribusi vegetasi mangrove. Hutan mangrove di Indonesia berkembang dengan tipe curah hujan A, B, C, dan D dengan nilai Q yang bervariasi mulai 0 sampai 73,7% menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson. Sedangkan menurut Aksornkoae et.al., (1984) vegetasi mangrove umumnya tumbuh baik di daerah dengan curah hujan rata-rata 1.500 – 3.000 mm per tahun. Berdasarkan data iklim Kabupaten Pasuruan dan Kota Pasuruan dapat disimpulkan bahwa  suhu rata-rata tahunan  24oC – 32oC , besarnya rata-rata curah hujan di daerah penelitian adalah antara 1300 – 1800 mm per tahun, dengan jumlah hari hujan antara 80 – 100 hari per tahun.  Analisis iklim Schmidt dan Ferguson berdasarkan tipe hujan menunjukkan bahwa daerah penelitian termasuk tipe C.   Pasang Surut Air Laut Dalam hubungannya dengan pasang surut, komunitas pada ekosistem hutan mangrove banyak dipengaruhi oleh lama penggenangan air laut. Berdasarkan pola penggenangan hutan mangrove di Cilacap, de Haan (1931) dalam SEAMEO BIOTROP (1989) mengklasifikasikan ada 4 tipe penggenangan di ekosistem hutan mangrove, yaitu : Klas 1  :  tergenang satu atau dua kali dalam sehari atau setidaknya tergenang  20 hari dalam satu bulan Klas 2  : tergenang 10 – 19 kali dalam sebulan, Klas 3 :            tergenang  9 kali atau kurang dalam sebulan, Klas 4  :  tergenang hanya beberapa hari dalam sebulan Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan pasang surut di Pantai Pasuruan antara 1 – 2 m dan kebanyakan hutan mangrove di daerah ini termasuk dalam klas 1, yaitu tergenang satu atau dua kali dalam sehari atau setidaknya tergenang  20 hari dalam satu bulan   Salinitas air laut Dari banyak faktor lingkungan, salinitas mempunyai pengaruh besar pada perkembangan hutan mangrove. Pada umumnya salinitas air di sepanjang pantai di Indonesia berkisar antara 31 ‰ sampai 33 ‰.  Variasi salinitas di daerah estuaria menentukan organisme yang berada dan berkembang biak  di daerah tersebut. Hewan-hewan yang hidup di perairan payau (salinitas 0,5 – 30 ‰) biasanya mempunyai toleransi terhadap kisaran salinitas yang lebih besar (Supriharyono, 2003) Hasil pengukuran salinitas air laut di ketiga stasiun yaitu Semare, Kota Pasuruan dan Nguling untuk ketiga kategori yaitu ”tipis”, ”sedang” dan ”tebal” tidak menunjukkan variasi yang berarti, yaitu sekitar 37 ‰ atau 37,5 ‰. Hal ini menunjukkan bahwa salinitas air di ekosistem mangrove hampir sama untuk ketiga stasiun yang disebabkan daerah penelitian merupakan suatu hamparan pantai yang kondisi geografisnya hampir sama, pola pasang surutnya juga hampir sama, sehingga kualitas air laut hampir sama untuk masing-masing daerah.   Oksigen Terlarut (DO) Oksigen terlarut sangat penting bagi pernafasan makrozoobentos dan organisme-organisme akuatik lainnya (Odum, 1983). Pada suhu tinggi kelarutan oksigen rendah dan pada suhu rendah kelarutan oksigen tinggi. Tiap-tiap spesies biota akuatik mempunyai kisaran toleransi yang berbeda-beda terhadap konsentrasi oksigen terlarut di suatu perairan. Biasanya spesies yang mempunyai kisaran toleransi lebar terhadap oksigen terlarut biasanya penyebaranya lebih luas dibanding yang kisaran toleransinya sempit. Pengukuran Oksigen terlarut di perairan hutan mangrove daerah penelitian digunakan Oxymeter; contoh air diambil di lapangan, pengukuran DO dilakukan di base camp. Hasil pengukuran DO rata-rata untuk masing-masing lokasi hutan mangrove dapat dilihat pada tabel 2 dan gambar 1.   Tabel 2.  Hasil pengukuran Oksigen Terlarut (DO) di perairan hutan mangrove   No Kategori’ Oksigen terlarut (mg/l) Semare Kota Nguling 1 Tipis 5,46 5,15 4,4 2 Sedang 5,26 5,19 4,65 3 Tebal 4,85 5,16 4,77       Gambar 1.     Histogram Oksigen Terlarut (DO) di perairan hutan mangrove   Semare, Kota Pasuruan dan Nguling   Dari gambar 1 terlihat bahwa meskipun nilai kadar oksigen terlarut hampir sama untuk ketiga stasiun, namun Oksigen terlarut di hutan mangrove Kota Pasuruan  dengan struktur paling bagus dilihat dari kerapatan, diversitas juga nilai INPnya menunjukkan konsisten tinggi, sedangkan DO di stasiun Nguling menunjukkan nilai yang paling rendah. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa pada hutan mangrove dengan kerapatan sedang, diversitas besar dan nilai INP seimbang mempunyai kandungan DO tertinggi dibandingkan dengan yang lain.   Kandungan Bahan Organik (BO) air laut Kehadiran suatu organisme di suatu perairan didukung oleh kandungan bahan organik perairan tersebut, namun belum tentu kandungan bahan organik yang tinggi menjamin kelimpahan organisme, karena faktor lingkungan satu dengan yang lain saling berkaitan.  Hasil pengukuran kandungan bahan organik perairan di ekosistem hutan mangrove daerah penelitian dapat dilihat pada tabel 3 dan gambar 2. Tabel 3 : Kandungan Bahan Organik (BO) air  Hutan Mangrove Hutan mangrove Kandungan BO air (mg/l) Semare Kota Nguling Tipis 25,9 25,5 34,9 Sedang 31,8 27,8 37,9 Tebal 32,6 29,3 42,6       Gambar 2: Perbandingan kandungan BO air pada masing-masing ketebalan hutan mangrove   Data tersebut menunjukkan bahwa untuk masing-masing stasiun sampel, semakin tebal hutan mangrove semakin tinggi kandungan bahan organik air lautnya. Disamping itu pada ekosistem hutan mangrove Nguling menunjukkan rata-rata kandungan bahan organik lebih tinggi dibanding Semare dan kota Pasuruan .   Kondisi Tanah Kedalaman Sedimen Kedalaman sedimen dilakukan pada waktu air surut menggunakan tiang pancang. Untuk akurasi data pengukuran masing-masing plot sampel diulang tiga kali. Hasil pengukuran kedalaman sedimen adalah : Hutan mangrove Semare Substrat berlumpur dalam, meskipun kondisi air surut kandungan air dalam substrat masih tinggi -       Pada daerah yang tidak ada vegetasinya, merupakan lahan rawa dengan kedalaman lumpur sekitar 80 cm -       Pada hutan mangrove tipis kedalaman lumpur rata-rata 40 cm -       Pada hutan mangrove sedang kedalaman lumpur rata-rata 30 cm -       Pada hutan mangrove tebal kedalaman sedimen rata-rata 20 cm Hutan mangrove Kota Pasuruan Substrat berlumpur dangkal, bahkan di bagian-bagian tertentu yang kerapatan vegetasinya tinggi substratnya tidak berlumpur. -       Pada daerah yang tidak ada vegetasinya, kedalaman lumpur sekitar 20 cm -       Pada hutan mangrove tipis kedalaman lumpur sekitar 15 cm -       Pada hutan mangrove sedang kedalaman lumpur sekitar 10 cm -       Pada hutan mangrove tebal kedalaman lumpur sekitar 5 cm Hutan mangrove Nguling Substrat  tanah di hutan mangrove Nguling dibagi menjadi dua, yang di Desa Penunggul substrat tidak berlumpur, sedang di Desa Kedawang substratnya berlumpur. -       Pada  daerah yang tidak ada vegetasinya di Desa Penunggul kedalaman sedimen sekitar 15 cm -       Pada hutan mangrove tipis kedalaman sedimen sekitar 10 cm -       Pada hutan mangrove sedang kedalaman sedimen sekitar 5 cm -       Pada hutan mangrove tebal di Desa Kedawang kedalaman sedimen sekitar 50 cm. Pengukuran kedalaman sedimen semacam ini tidak mencerminkan ketebalan sedimen yang sesungguhnya, karena pengukuran ketebalan sedimen harus dengan pembuatan profil tanah. Oleh sebab itu parameter kedalaman sedimen tidak dikut sertakan dalam perhitungan statistik. Tekstur Tanah Tanah mangrove terbentuk dari akumulasi sedimen sehingga karakteristiknya berbeda-beda tergantung darimana sedimen tersebut berasal.  Disamping berpengaruh terhadap komunitas vegetasi mangrove , tekstur substrat juga mempengaruhi komunitas fauna yang tinggal di ekosistem tersebut. Bentos yang hidup pada substrat berlumpur tergolong pada ”suspended feeder”, yang umum ditemukan adalah kelompok Polychaeta, Bivalvia dan Crustacea, juga bakteri. Pada substrat berpasir biasanya miskin organisme dan bentos pada substrat berpasir umumnya mengubur diri dalam substrat. Hasil pengukuran tekstur tanah di bawah tegakan hutan mangrove daerah penelitian dapat dilihat pada tabel 4.   Tabel 4.: Hasil pengukuran tekstur tanah di ekosistem hutan mangrove   No Lokasi % Pasir % Debu % Liat Kelas Tekstur 1 Semare              Tipis 30,6 49,8 19,6 Silty Clay      Sedang 34,1 39,7 26,2 Clay Loam      Tebal 34,7 40,2 25,2 Clay 2 Kota Pasuruan            Tipis 32,2 48,5 19,4 Silty Clay      Sedang 34,1 39,7 26,2 Clay Loam      Tebal 35,0 36,7 30,3 Clay Loam 3 Nguling              Tipis 45,5 40,1 14,4 Silty Clay      Sedang 36,0 47,8 16,2 Silty Clay      Tebal 33,0 37,7 29,3 Clay Loam Sumber : data primer     Bahan Organik (C) Tanah Kandungan bahan organik tanah terutama berasal dari dekomposisi serasah baik dari daun, ranting, bunga , buah, maupun akar vegetasi mangrove.  Hasil pengukuran C organik tanah di daerah penelitian dapat di lihat pada tabel  5 dan gambar 3.   Tabel 5:   Kandungan C organik tanah di ekosistem hutan mangrove  Pasuruan   Ketebalan mangrove C organik  tanah  (%) Semare Kota Nguling Tipis 12,57 14,89 13,90 Sedang 16,31 13,98 14,225 Tebal 19,73 15,42 16,07 Sumber : Analisis data primer       Gambar  3.    Perbandingan C organik tanah pada ketebalan  Hutan mangrove   Di lapangan, bahan organik tanah ditemui pada tingkatan dekomposisi yang bervariasi, ada yang masih berupa luruhan daun, ada yang setengah terdekomposisi dan ada yang sudah bercampur dengan substrat membentuk tanah. Dari tabel 5 di atas terlihat bahwa untuk masing-masing lokasi hutan mangrove, semakin tebal hutan mangrove semakin tinggi kandungan bahan organiknya. Kadar C organik tanah di Semare relatif lebih tinggi dibanding dengan yang lain, hal ini kemungkinan karena lokasinya lebih dekat ke muara, ada penambahan bahan organik yang terangkut oleh sungai.     Salinitas Substrat Salinitas substrat tanah dikukur berdasarkan EC tanah dengan satuan milimos. Hasil pengukuran EC tanah pada masing-masing lokasi hutan mangrove dan pada variasi ketebalan dapat dilihat pada tabel 6 dan gambar 4.   Tabe 6 :  Perbandingan EC tanah di hutan mangrove Pantai Pasuruan   Ketebalan mangrove EC tanah (mmos) Semare Kota Nguling Tipis 3,05 5,26 3,9 Sedang 3,61 4,61 4,62 Tebal 2,99 3,83 5,12 Sumber : analisis data primer     Dari tabel 6 di atas dapat disimpulkan bahwa untuk parameter EC tanah variasi nilainya tidak begitu besar dan tidak menunjukkan pola tertentu baik pada perbedaan lokasi mangrove maupun pada perbedaan ketebalan hutan mangrove       Gambar 4. Perbandingan EC tanah pada variasi ketebalan hutan mangrove         PEMBAHASAN   Untuk penelaahan perbedaan faktor-faktor lingkungan  pada ketebalan hutan mangrove daerah penelitian dipakai uji statistik. Parameter faktor-faktor lingkungan yang dipakai dalam uji statistik  adalah Oksigen terlarut (DO) air, kandungan bahan organik (BO) air, salinitas (EC) substrat, kandungan C Organik tanah, tekstur tanah. Faktor-faktor lingkungan ini yang diduga berperanan dalam penentuan karakteristik ekosistem hutan mangrove baik terhadap struktur komunitas  hutan mangrove maupun terhadap komunitas fauna  yang tinggal di ekosistem hutan mangrove tersebut.   Uji Normalitas Uji normalitas data untuk faktor-faktor lingkungan  menggunakan metode Kolmo-gorov Smirnov. Hasil uji normalitas data di atas semua nilai signifikansi dari enam variabel faktor lingkungan ternyata lebih besar daripada 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data-data menyebar secara normal, oleh karenanya dapat dilakukan analisis statistik parametrik berikutnya.   Uji Beda Uji MANOVA Uji beda secara simultan (bersama-sama) untuk mencari perbedaan faktor-faktor lingkungan  terhadap parameter ketebalan hutan mangrove menggunakan metode Multivariate Analysis of Variance (MANOVA) dengan menggunakan kaidah : jika nilai signifikansi Wilks Lambda < 0,10 (atau 10 %) terdapat perbedaan, sedangkan jika nilai signifikansi Wilks Lambda > 0,10 (atau 10 %) maka tidak terdapat perbedaan. Hasil uji beda dengan metode MANOVA menghasilkan nilai signifikansi Wilks Lambda  Karena nilai signifikansi Wilks Lambda sebesar 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa secara multivariate (bersama-sama keenam variabel parameter lingkungan) maka pada setiap tingkat ketebalan hutan mangrove memiliki  faktor-faktor  lingkungan yang berbeda-beda atau terdapat perbedaan  faktor lingkungan pada variasi ketebalan hutan mangrove   Uji ANOVA Pada pengujian secara parsial, yaitu pengujian secara sendiri-sendiri keenam variabel faktor lingkungan, maka metode yang digunakan adalah Analysis of Variance (ANOVA). Kaidah pengambilan keputusan: jika signifikansi F < 0,10 (atau 10%) maka terdapat perbedaan, sebaliknya jika nilai signifikansi F > 0,10 (atau 10%) maka tidak terdapat perbedaan. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan sebagai berikut: a.   Untuk variabel DO Air, nilai signifikansi F sebesar 0,10 = 0,10 maka dapat disimpulkan bahwa pada setiap tingkat ketebalan memiliki DO Air yang berbeda, atau terdapat perbedaan nilai DO air pada variasi ketebalan hutan mangrove b.   Untuk variabel BO Air, nilai signifikansi F sebesar 0,000 < 0,10 maka dapat disimpulkan bahwa pada setiap tingkat ketebalan memiliki BO Air yang berbeda atau terdapat perbedaan nilai BO air pada variasi ketebalan hutan mangrove. c.   Untuk variabel EC, nilai signifikansi F sebesar 0,526 > 0,10 maka dapat disimpulkan bahwa pada setiap tingkat ketebalan memiliki EC yang sama atau tidak ada perbedaan nilai EC tanah pada variasi ketebalan hutan mangrove d.   Untuk variabel C Organik Tanah, nilai signifikansi F sebesar 0,745 > 0,10 maka dapat disimpulkan bahwa pada setiap tingkat ketebalan memiliki C Organik Tanah yang sama atau tidak ada perbedaan nilai C organik tanah pada variasi ketebalan hutan mangrove. e.   Untuk variabel % Pasir, nilai signifikansi F sebesar 0,280 > 0,10 maka dapat disimpulkan bahwa pada setiap tingkat ketebalan memiliki % Pasir yang sama atau tidak ada perbedaan nilai % pasir pada variasi ketebalan hutan mangrove.   f. Untuk variabel % Liat , nilai signifikansi F sebesar 0,019 < 0,10 maka dapat disimpulkan bahwa pada setiap tingkat ketebalan memiliki % Liat  yang berbeda atau terdapat perbedaan nilai % liat  pada variasi ketebalan hutan mangrove.   KESIMPULAN          Hasil pengukuran parameter lingkungan menunjukkan perbedaan yang tipis antara kualitas lingkungan hutan mangrove di beberapa lokasi dan beberapa kategori. Namun demikian untuk suatu lokasi ada kecenderungan semakin ke arah darat kandungan bahan organik tanah dan air mengalami peningkatan, sedangkan semakin ke arah timur menunjukkan % liat (clay) yang semakin keci (tanah semakin kasar)          Hasil kajian statistik menunjukkan bahwa secara bersama-sama terdapat perbedaan nilai parameter lingkungan pada ketebalan, kerapatan, dan diversitas hutan mangrove yang berbeda-beda.       DAFTAR PUSTAKA   Aksornkoae, S. 1993. Ecology and Management of Mangroves. IUCN. Bangkok : IUCN   Bengen, DG. 2000. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangove. Bogor : PKSPL – IPB   Bunt, JS and WT. Williams. 1981. Vegetation Relationships in The Mangrove  Forest of Tropical Australia. Marine Ecology – Progress Series. 4 : 349 – 359.   Chapman, VJ. 1977 . Wet Coastal Ecosystem. Amsterdam : Elsevier Scientific Publishing Company.   Dahuri, R, J. Rais, SP Ginting dan M.J. Sitepu. 2001. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu . Jakarta : Pradnya Paramita.   English, S , C. Wilkinson and V Baker . 1993. Survey Manual for Tropical Marine Resources . ASEAN-Australia Marine Science Project : Living Coastal Resources.  Bangkok.   Garcia, P.R. , J.L Blanco. , and D Ocaffa. 1997. Mangrove Vegetation Assessment in The Santiago River Mouth  Mexico, by Means of Supervised Classification Using landsat TM imagery . Elsevier : Forest Ecology and Management (105) : 217 – 229   Hardjowigeno, S. 1988. Mangrove  Soil in Indonesia. BIOTROP Speciall Publication, 37 : 257 -264   Kamaruzzaman, B.Y. , Mohd-Lokman H. , Sulong I., and Razanudin I. 2001. Sedimentation Rates on the Mangrove Forests of Pulau Che Wan Dagang, Kemaman Terengganu . The Malaysian Forester 64 (1) :   6 – 13   Mann, K.H . 1982.  Ecology of Coastal Water, A. Syatem Approach . Oxford : Black Well Scientific Publication .   Mustafa, M . 1982. Hasil Penelitian Sifat Fisik dan Kimia Tanah Di Bawah Tegakan Mangrove. Lingkungan dan Pembangunan. 97 - 118   Oosting, HJ. 1956. The Study of Plant Communities, An Introduction to Plant Ecology. Second Edition, San Fransisco : WH Freeman and Co .   Pariwono, JI. 1985. Tides and Tidal Phenomena in Asean Region . Australian Cooperative Programmes in Marine Sciences . Prelim. Rep . FIAM, South Australia.   Pirzan Marsanbuana, Suharyanto, Rohama Daud dan Burhanuddin. 2002. Pengaruh Keberadaan Mangrove terhadap  Kesuburan Tanah di Tambak Sekitarnya . Jurnal Penelitian Perikanan . Vol 8 No 4 Th 2002.     Saenger, P . 1999. Sustainable Management of Mangroves. Proc. Of International Symposium Integrated Coastal and Marine Resource Management.  National  Institute of Technology (ITN) Malang in  Association with BAKOSURTANALand Proyek Pesisir.   Samingan , MT . 1980. Notes on Vegetation of The Tidal Area of South Sumatera Indonesia with Special Reference of Karang Agung. International  Social Tropical Ecology. Kuala Lumpur , 1107 – 1112   Sasekumar, A , VC Chong, MU Leh , and RD D’Cruz. 1992 . Mangroves as a Habitat For Fish and Prawns . Hydrobiologia : 247 : 195 – 207   Soemarno. 2004.  Model Pengelolaan Sumberdaya Hutan. Program Pasca Sarjana Universitas Brawijaya , Malang   Soemodihardjo, S and  I. Soerianegara. 1989. The Status of Mangrove Forest in Indonesia. dalam Mangrove  Management : Its Ecological and Economic Consideration . BIOTROP Special Publication . No 37    Sugiharto,A and  N. Polunin. 1982. The Marine Environment of Indonesia. Dept. Zoology University of Cambridge . 257 p.   Suprayogo D, Sri Sudaryanti, Edy Dwi Chahyono dan Sudarmanto. 1996. Pembangunan dan Konservasi Hutan Mangrove di Kabupaten Bangkalan, Madura .  Jurn. Univ. Brawijaya . 8 (2) : 77 – 92.   Supriharyono. 2002. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Di Wilayah Pesisir Tropis. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 246 hal.   Tam NFX and Wong YS . 1998 . Variation of Soil Nutrient and Organic Matter Content In Subtropical Mangrove Ecosystem . Water, Air and Soil Polution . (103) : 245 – 261.  
KAJIAN KESIAPSIAGAAN TERHADAP BENCANA TSUNAMI DI KECAMATAN PURING KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2016 Utomo, Kukuh Setio; Muryani, Chatarina; Nugraha, Setya
GeoEco Vol 4, No 1 (2018): Jurnal GeoEco Januari 2018
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.254 KB) | DOI: 10.20961/ge.v4i1.19180

Abstract

This study aims to determine : (1) Preparedness of individuals to tsunamis in Puring SubDistrict Kebumen Regency (2) Preparedness of school comunity to tsunamis in Puring Sub-District Kebumen Regency (3) Preparedness of government to tsunamis in Puring Sub-District Kebumen Regency (4) Efforts made by individuals, school community, and goverment to improve tsunami preparedness in Puring Sub-District Kebumen Regency. This study is a qualitative study using a spatial approach. A sampling technique that Area Probability sample. Data were analyzed using index formula guides sourced from LIPI (2006) and elaborated descriptively. The results showed that (1) Preparedness of individuals included in the category of ready with an average index value of 67.06. (2) School community preparedness included in the category of ready with an average index value of 68.25. (3) Government preparedness included in the category of ready with an average index value of 68. (4) The efforts made by individuals to improve preparedness by following the socialization and simulation. Schools apply knowledge of disaster in the learning material, whereas the government conduct socialization to the public and coordination with the relevant parties. Keywords: Disaster, Tsunami, Disaster Preparedness, Individual, Household, Community Schools, Government
STUDI TENTANG STRUKTUR KOTA SISTEM TRANSPORTASI DAN MOBILITAS PENDUDUK DI KOTA PURWOKERTO Wibowo, Awal; Muryani, Chatarina; ., Suwarto
GeoEco Vol 1, No 2 (2015): Jurnal GeoEco Juli 2015
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.521 KB)

Abstract

Perkembangan Kota Purwokerto sebagai manifestasi interaksi dan interrealsi penduduk ditandai dengan pertumbuhan fasilitas kota, sarana dan prasarana sertasistem transportasi yang mendorong terjadinya mobilitas penduduk sebagai bagian integral penyusun dan pembentuk struktur kota. Jenis penelitian ini adalah survey dengan analisis deskriptif kualitatif. Populasi sumber adalah penduduk Kota Purwokerto yang melakukan pergerakan dengan moda transportasi angkutan kota. Jumlah sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling, , yaitu 6 (enam) trayek yaitu: B – 1, D – 2, F – 1, G – 2, H – 1, J – 2. Teknik analisa data dilakukan melalui metode analisa interaktif, penyajian data dalam bentuk deskriptif kualitatif, statistik deskriptif kualitatif dan analisa GIS (Geography Information System). Hasil penelitian 1) struktur kota Purwokerto terbentuk dari gabungan dua model struktur kota, yaitu : pertama adalah model pusat kegiatan banyak (Multiple – nuclei), karakteristik kawasan pertumbuahan (core) terpisah antaar satu dengan yang lainnya namun memiliki hubungan integral, kedua adalah model Square dengan karakteristik semua wilayah memiliki kesempatan yang sama dan seimbang dalam pertumbuhan kotanya yang ditandai dengan adnya blok-blok bangunan di sepanjang jaringan jalan transportasi. 2). sistem transportasi Kota Purwokerto berfungsi sebagai chain of transportation dengan jaringan jalan berbentuk “Grid” dengan pola pergerakan “Orbital”. 3). mobilitas penduduk Kota Purwokerto bersifat commuter, basis pergerakan rumah, karakteristik pergerakan tujuan bekerja khususnya buruh, ke sekolah, berbelanja serta tujuan sosial dan rekreasi, dengan pola pergerakan menyebar ke seluruh wilayah kota Purwokerto dan kembali pada dalam waktu satu hari.Kata Kunci: Struktur Kota, Sistem Transportasi, Mobilitas Penduduk
MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN DAN PELESTARIAN HUTAN MANGROVE DI PANTAI PASURUAN JAWA TIMUR Muryani, Chatarina; Ahmad, Ahmad; Nugraha, Setya; Utami, Trisni
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 18, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan mangrove pantai Pasuruan telah terdegradasi baik luasan maupun diversitasnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) faktor-faktor penyebab degradasi hutan mangrove di Pantai Pasuruan, (2) Persepsi penduduk pesisir terhadap hutan mangrove dan (3) menemukan model pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan dan pelestarian hutan mangrove di daerah penelitian. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan tiga langkah penelitian, pertama wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat untuk menentukan faktor penyebab kerusakan hutan mangrove, kedua wawancara dengan penduduk pesisir untuk mengetahui persepsi penduduk terhadap hutan mangrove dan ketiga dengan Focus Group Discussion (FGD) untuk mencari model pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan dan pelestarian hutan mangrove di pantai Pasuruan. Sampel ditentukan di tiga wilayah yang mewakili pantai bagian timur, bagian tengah dan bagian barat. Masing-masing wilayah diambil tiga desa dengan ketebalan hutan mangrove yang berbeda-beda. Hasil penelitian menunjukkan (1) Penebangan liar dan alih fungsi hutan mangrove menjadi tambak merupakan faktor utama degradasi hutan mangrove di daerah penelitian disebabkan oleh kemiskinan dan kebodohan (2) Sebagian besar penduduk memahami fungsi ekologis hutan mangrove tetapi kurang dalam ”rasa memiliki”, (3) model pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan dan pelestarian hutan mangrove yang paling baik di pantai Pasuruan adalah model ”Sosio-eko-regulasi” yaitu keseluruhan pengambilan keputusan ditentukan oleh kelompok, peran pemerintah sebagai pendukung dana dan penguatan dalam bidang regulasi.
MITIGASI, KESIAPSIAGAAN, DAN ADAPTASI MASYARAKAT TERHADAP BAHAYA KEKERINGAN, KABUPATEN GROBOGAN (Implementasi Sebagai Modul Konstektual Pembelajaran Geografi SMA Kelas X Pokok Bahasan Mitigasi Bencana) Hastuti, Dwi; sarwono, Sarwono; Muryani, Chatarina
GeoEco Vol 3, No 1 (2017): Jurnal GeoEco Januari 2017
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.034 KB)

Abstract

Mitigation, preparedness, and public adaptation for drought hazard in Grobogan regency(implementation as a contextual learning module of High School Geography Class X in the disastermitigation subject). Postgraduate thesis. Supervisor I: Dr. Sarwono, M.Pd, II: Prof. Dr. Chatarina Muryani,M.Si. Graduate Program in Population and Environmental Education. Sebelas Maret University Surakarta.The goals of this study are to determine: (1) public mitigation for drought hazard (2) public preparedness fordrought hazard (3) public adaptation for drought hazard in Grobogan regency (4) the implementation ofpublic mitigation, preparedness, and adaptation in Grobogan regency as supplement of contextual learningmodule on disaster mitigation material in class X Social Science Program.This research is descriptivequalitative. The subject of this research was the residents of Grobogan which experience drought and thegovernment (BPBD). The sample was collected using cluster random sampling technique.The sample for thisresearch was 120 respondens of 5 districts.The result of this research reveals: (1) drought mitigation inGrobogan resident is done by residents and government by constructing retention basins, creating drilledwells, building water tank, reforesting, and improving irrigation channels. The government also conductingsocialization of drought mitigation and implementing community sanitation program (Pamsimas) (2) publicpreparedness to face drought is done by residents by creating personal water tank, deepening their well, andpreparing reserve fund before the drought. The socialization of preparedness to face the drought is also doneby the government. (3) the adaptations which are done to face the drought are: cropping pattern adaptation,efficient water usage, provision of allocation of funds to purchase clean water from private, and maintaininghealth and providing medicine to face the disease due to drought. (4) the implementation in education, thisresearch is then implemented as contextual learning modules of mitigation and drought adaptation strategywhich is can be used in disaster mitigation material in class X second semester in 2013 curriculum. In thetried out of the module which is conducted for second semester students of class X SMA N 1 Wirosari,Grobogan regency. The responses given by a team of experts, geography teachers and the students weregood.Keywords: mitigation, preparedness, adaptation, implementation
THE EXPERIMENTATION OF MIND MAP LEARNING AND PROBEM SOLVING MODEL TOWARD THE PREPAREDNESS OF FLOOD DISASTER AT IPS SUBJECTS OF THE SIXTH GRADE STUDENTS OF ELEMENTARY SCHOOL IN THE ACADEMIC YEAR OF 2012/2013 IN SUKOHARJO REGENCY. Mustofa, Mustofa; Muryani, Chatarina; W.A, Suwarto
GeoEco Vol 2, No 1 (2016): Jurnal GeoEco Januari 2016
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.601 KB)

Abstract

School has a direct influence to engraft preparedness to students in the knowledge and morality of facing flood disaster. The purposes of this study are to find (1) the difference between the flood disaster preparedness of students who are taught using a mind map learning model, problem solving, and direct instructional model, (2) the difference between the flood disaster preparedness of students who are taught using a mind map and problem solving model, (3) the difference between the flood disaster preparedness of students who are taught using a mind map anddirect instructional model, and (4) the difference between the flood disaster preparedness of students who are taught using a problem solving model anddirect instructional model. This study used a quasi-experimental method with 3 x 2 factorial design. The data analysis process used one-way Anova. From the inferential analysis, we found that: (1) There is a difference significant flood disaster preparedness between students who are taught using a mind map learning model, problem solving, and direct instructional model. (2) There is nothing a difference significant flood disaster preparedness between students who are taught using a mind map learning model and problem solving. (3) There is a difference significant flood disaster preparedness between students who are taught using a mind map learning model anddirect instructional model.(4) There is a difference significant flood disaster preparedness between students who are taught using a problem solving learning model anddirect instructional model.Keywords: mind map, problem solving, flood preparedness, initial ability
ANALISIS PERUBAHAN PERMUKIMAN DAN KARAKTERISTIK PERMUKIMAN KUMUH AKIBAT ABRASI DAN INUNDASI DI PESISIR KECAMATAN SAYUNG KABUPATEN DEMAK TAHUN 2003 – 2013 Asiyah, Siti; Rindarjono, Mohammad Gamal; Muryani, Chatarina
GeoEco Vol 1, No 1 (2015): Jurnal GeoEco Januari 2015
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1313.709 KB)

Abstract

ABSTRAK Bencana abrasi dan inundasi di Pesisir Kecamatan Sayung menjadikan permukiman di desa pesisir ini mengalami perubahan dan penurunan kualitasnya, bahkan sebagian permukiman rusak akibat bencana abrasi. Proses inundasi (inundation process) mempercepat penuaan permukiman (ageing process) sehingga mempercepat permukiman menjadi kumuh. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui perubahan permukiman yang hilang akibat abrasi dan inundasi di Pesisir Kecamatan Sayung Kabupaten Demak Tahun 2003 – 2013; 2) Mengetahui karakteristik permukiman kumuh di Kecamatan Sayung Kabupaten Demak akibat abrasi dan inundasi Tahun 2013; 3) Mengetahui persebaran permukiman kumuh di Kecamatan Sayung Kabupaten Demak akibat abrasi dan inundasi Tahun 2013. Penelitian ini dilakukan di Pesisir Kecamatan Sayung Kabupaten Demak Jawa Tengah. Tepatnya di Desa Sriwulan, Desa Bedono, Desa Timbulsloko, dan Desa Surodadi. Penelitian ini merupakan penelitia deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah dengan menggunakan purposive sampling. Teknik pengambilan data dengan wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis kualitatif model Milles & Huberman dan analisis spasial. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa :1) Terjadi perubahan permukiman di Pesisir Kecamatan Sayung, perubahan tersebut disebabkan permukiman hilang akibat abrasi dan inundasi, sebanyak 221 unit permukiman hilang dari Pesisir Kecamatan Sayung selama kurun waktu 10 tahun, 2) Karakteristik permukiman kumuh di Pesisir Kecamatan Sayung adalah dinding bangunan, lantai rumah, jalan, dan sarana dan prasarana yang rusak dan menjadi kumuh karena abrasi dan inundasi, 3) Persebaran permukiman kumuh di Pesisir Kecamatan Sayung menyebar di seluruh dusun yang terdapat di permukiman berbatasan langsung dengan laut dan bantaran sungai – sungai disekitar desa. Sebanyak 83 permukiman kumuh karena abrasi dan 2.036 permukiman kumuh karena inundasi.Kata Kunci : perubahan permukiman, permukiman kumuh, abrasi, inundasi
HOUSEHOLD PREPAREDNESS FOR FLOOD DISASTER IN SURAKARTA CITY 2017 rahmawati, ika; Muryani, Chatarina; Nugraha, Setya
GeoEco Vol 4, No 2 (2018): Jurnal GeoEco Juli 2018
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.681 KB) | DOI: 10.20961/ge.v4i2.28170

Abstract

This research case aims to determine (1) The spread of floods in the city of Surakarta in 2016; (2) Uncertainty factors that causing floods based on community perception in Surakarta City; (3) Individual and household preparedness levels in dealing with flood disaster in Surakarta City; (4) Implementation of science as a teaching material of geography in grade XI Senior High School on basic material of natural disaster mitigation.The research was conducted in Western City of Surakarta. The area assumed in Western City of Surakarta are Banjarsari district, Laweyan District, and Serengan District. Eligible samples consisted of 11 villages affected by flood in 2016, sampling of administrative unit using purposive sampling technique. The sample has been taken is the number of individuals / households in each ‘RW’ affected by floods in each villages, the number of samples is using snowball sampling technique. Data collection was done by documentation study, interview, questionnaire, and interview. Data validity test is done by data triangulation method. Data analysis is using Likert approach and LIPI preparedness measurement framework - UNESCO / ISDR.The results of the research are as follows: (1) flooding spread in eleven sub-districts in West Surakarta City which is divided into 3 regions based on administrative unit of analysis. Banjarsari District having local flood characteristics and submissions with elevation and duration of time falling into the low category. Laweyan District areas have local flood characteristics and postings with elevation and duration of time that falling into the low category. Serengan District has local flood characteristics and post with elevation and duration falling into the medium category; (2). Factors causing high flooding, garbage disposal, and flood control building conditions; (3) Individual and household preparedness studies in all villages are in a ready category;
ANALYSIS THE DISTRIBUTION AND POTENTIAL OF TOURISM OBJECT IN NGARGOYOSO DISTRICT, KARANGANYAR REGENCY Muryani, Chatarina; Santoso, Sigit; Prihadi, Singgih
GeoEco Vol 5, No 1 (2019): GeoEco Journal January 2019
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.679 KB) | DOI: 10.20961/ge.v5i1.26662

Abstract

The purpose of this study was to analyze the distribution and potential of tourism objects found in Ngargoyoso District, Karanganyar Regency, Central Java Province. Ngargoyoso sub-district was chosen as the location of the study because in this area the development of tourism was very fast. Methods of data collection by field observations (penitikan tourist location using GPS), secondary data analysis and interviews with managers / tourists. The results showed that in Ngargoyoso Subdistrict there were 19 tourism objects scattered in four villages, namely Berjo, Girimulyo, Segorogunung and most of them in Kemuning Village. The results of the analysis of tourism potential indicate the potential of tourism objects in Ngargoyoso District consists of 3 categories of objects, namely tourism objects with the category of Very Potential (Tahura, Jumog Waterfall, and Parang Ijo Waterfall). Quite Potential category (Sukuh Temple, Telaga Madirda, Paragliding, Bukit Kemuning, Katresnan Valley, Sumilir Valley, Tanggri Asri, Kali Pucung, Taman Pesona, Jambu Merah "234", Taman Bintang, Kali Sebendo, Kalimas, Njurang Salam and Tubing Goa Sari ), the Less Potential category is the Planggatan Site.