Agus Mursidi
Jurusan Sejarah IKIP PGRI Banyuwangi
Articles
4
Documents
PEMANFAATAN MUSEUM BLAMBANGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI KELAS X SMA NEGERI KABUPATEN BANYUWANGI

Paramita: Historical Studies Journal Vol 20, No 2 (2010)
Publisher : Paramita: Historical Studies Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study is to determine: (1) Type of Blambangan Museum collection that can be utilized as a resource for high school students learning history, (2) How to utilize Blambangan Museum collection as a source for high school students learning history, (3) Appreciation of high school students to the Museum Blambangan as a source of high school students learning history, and (4) The constraints faced by students and teachers in utilizing the Museum Blambangan as a source of learning history. Types of collections that can be used as a source to learn the history in SMA is keramologika (jar), filologika (sword), historika (clothing regent), etnografika (ax square), arkeologika (papyrus manuscript), teknologika (phonograph) and the fine arts (brick berelief and miniature art infatuated), (2) In accordance with the standards of competence and basic competence as a source of how to utilize the museum to learn history, the learning process can be done is through the method of study tours and home work by teachers to students.   Key words: Blambangan Museum, Learning Resources, Learning History, high school   Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Jenis koleksi Museum Blambangan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya untuk siswa SMA belajar sejarah, (2) Bagaimana memanfaatkan koleksi Museum Blambangan sebagai sumber untuk siswa SMA belajar sejarah, (3) Apresiasi siswa sekolah tinggi ke Museum Blambangan sebagai sumber siswa SMA belajar sejarah, dan (4) kendala yang dihadapi oleh siswa dan guru dalam memanfaatkan Blambangan Museum sebagai sumber belajar sejarah. Jenis koleksi yang dapat digunakan sebagai sumber untuk belajar sejarah SMA keramologika (jar), filologika (pedang), historika (pakaian), etnografika (kapak persegi), arkeologika (naskah papirus), teknologika (phonograph) dan denda seni (batu bata berelief dan seni miniatur tergila-gila), (2) Sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sebagai sumber bagaimana memanfaatkan museum untuk belajar sejarah adalah melalui metode wisata belajar dan bekerja di rumah oleh guru untuk siswa. Kata kunci: Museum Blambangan, Sumber Belajar, Pembelajaran Sejarah, SMA  

Wacana Kuasa dan Hegemoni: Kiai pada Sekolah Menegah Atas Negeri Kolaborasi dengan Pondok Pesantren

VIDYA SAMHITA Vol 1, No 1 (2015): RELASI KUASA GENDER DAN IDENTITAS BERAGAMA
Publisher : VIDYA SAMHITA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelaksanaan otonomi daerah memberikan sebuah peluang pengembangan pendidikan di daerah berupa pendirian sekolah-sekolah baru baik itu milik pemerintah maupun swasta. Pengembangan pendidikan yang terjadi salah satunya adalah sekolah menengah atas negeri kolaborasi dengan pondok pesantren. Hal  ini dikarenakan pesatnya kemajuan teknologi, globalisasi dan modernisasi yang melunturkan akhlak siswa. Sekolah menengah atas negeri kolaborasi dalam operasionalnya berjalan dengan baik, namun terdapat penyelewangan yang disebabkan relasi kuasa dan hegemoni kiai. Kurikulum sekolah terhegemoni oleh kiai dengan alasan kepentingan pembangunan karakter siswa. Di samping itu, hegemoni kiai berlanjut pada penerimaan siswa dan relasi kuasa berjalan pada penerimaan pegawai tidak tetap di sekolah tersebut. keberlanjutan kondisi ini akan mematikan tanggung jawab sekolah terhadap siswa. Kata kunci: kiai, hegemoni, SMA

DOMINASI KIAI DALAM PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN IHYA’ULUMIDDIN

HISTORIA : Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 4, No 2 (2016): Historia
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Domination kiai make a power clerics absolute and irrefutable. All the policies that have been made by clerics both in line and not in line with the educational institution shaded by state-owned institution is obligatory implemented. Domination is stronger when kiai politics and became a member of the board. Mutak all his power to the institution which he founded.

DOMINASI KIAI DALAM PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN IHYA’ULUMIDDIN

Historia Vol 4, No 2 (2016): Historia
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Domination kiai make a power clerics absolute and irrefutable. All the policies that have been made by clerics both in line and not in line with the educational institution shaded by state-owned institution is obligatory implemented. Domination is stronger when kiai politics and became a member of the board. Mutak all his power to the institution which he founded.