Agnes Murdiati
Unknown Affiliation

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

KADAR SERAT PANGAN DAN DAYA CERNA PATI NASI MERAH YANG DIPERKAYA KAPPA-KARAGENAN DAN EKSTRAK ANTOSIANIN DENGAN VARIASI METODE PENGOLAHAN -, Nurhidajah; Astuti, Mary; -, Sardjono; Murdiati, Agnes; Marsono, Yustinus
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2015: Prosiding Bidang MIPA dan Kesehatan The 2nd University Research Colloquium
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Brown rice is one of the varieties of rice that are less popular because of the texture cooked more hard than white rice. Brown rice contain anthocyanins on the epidermis and is hypoglycemia. The nature of hypoglycemia brown rice also affected by the low digestibility of starch and dietary fiber contained in brown rice. Two things are influenced by the processing method when forming the rice into the rice. The purpose of this study was to evaluate the digestibility of starch and dietary fiber content of brown rice with a variety of processing. This research method is the enrichment of red rice with kappa-carrageenan 2% which aims to improve the organoleptic properties of texture and flavor, especially brown rice and anthocyanin extract 5ml / 100 grams of brown rice. The processing of brown rice into the rice is done with four processing method that is steamed, boiled, rice cooker and a control is raw rice. The results showed the highest levels of dietary fiber in brown rice processing method using a rice cooker, but statistically there was no effect of food processing methods with fiber. The highest starch digestibility on red rice by the method of the boiled and showed no effect of treatment with starch digestibility.Keywords: Brown rice, dietary fiber, starch digestibility and processing
PENGARUH VARIASI LAMA SIMPAN DAN FREKUENSI EKSTRAKSI TERHADAP KANDUNGAN GULA EKSTRAK BUAH LABU KUNING (Cucurbita moschata) Effect of Storage and Frequency Extraction on Sugar Content of Pumkins (Cucurbita moschata) Extract Murdiati, Agnes; Noor, Zuheid; Sisilia, Debby
Jurnal Agritech Vol 28, No 01 (2008)
Publisher : Jurnal Agritech

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research was to determine the optimal condition for the storage duration of pumpkins and fre- quency of extraction in order to produce extract which has maximal sugar content and minimal volume. This research was done on post harvest pumpkins which were stored for 0, 2, 4, 6, 8, 12 weeks. Pumpkins were peeled, crushed and pressed using hydraulic hand press for 1, 2, 3, 4, 5 times of extractions. The extract were analysed for chemical proper- ties i.e. total sugar content, reducing sugar content, pH, and physical properties i.e. turbidity, and colour. The result showed that the extract of pumpkins which had maximal total sugar content but with low volume could be produced on pumpkins which stored for 8-12 weeks, and extracted twice.ABSTRAKTujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi kondisi kombinasi yang optimal antara lama simpan dan frekuensi ekstraksi buah labu kuning sehingga diperoleh ekstrak buah labu kuning yang mempunyai kandungan gula cukup tinggi dengan volume yang relatif rendah. Penelitian dilakukan terhadap buah labu kuning lepas panen yang disimpan dengan variasi lama simpan 0, 2, 4, 6, 8, dan 12 minggu. Labu kuning dikupas, dipisahkan biji dan pulpnya, selanjutnya dihancurkan dan diekstraksi menggunakan alat kempa hidraulik dengan 5 variasi frekuensi ekstraksi yaitu, 1, 2, 3, 4, dan 5 kali. Ekstrak yang diperoleh dianalisis sifat kimia meliputi: kandungan gula total, gula reduksi, pH dan sifat fisika meliputi: kekeruhan dan warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah labu kuning yang telah disimpan selama 8-12 minggu dan diekstraksi 2 kali menghasilkan ekstrak buah labu kuning yang memiliki kandungan gula dan volume ekstrak yang optimal.
Karakterisasi Pati Ganyong (Canna edulis) dan Pemanfaatannya Sebagai Bahan Pembuatan Cookies dan Cendol Harmayani, Eni; Murdiati, Agnes; Griyaningsih, Griyaningsih
Agritech Vol 31, No 4 (2011)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.9637

Abstract

Edible canna is one of local commodities that could be used as source of carbohydrate in the form of starch. However,its characteristics and application are still poorly understood. The aim of this study was to determine the chemical composition, physical and physicochemical properties of edible canna starch and its application as ingredients for some food products.  Canna starch was obtained from Mekar Sari farmer group, Kulon Progo. The method of this research consisted of the following steps. First, characterization of canna starch on chemical, physical, and physicochemical properties. The second was formulation and production of some food products. The third was organoleptic test of the products. The results of the study indicated that canna starch sample had total starch of 93.30 % (db),amylose content of 42.49 % (db), and amylopectin content of 50.90 % (db). In canna starch, protein, fat, ash, crude fiber, and reducing sugar were minor components. Canna starch had low water binding capacity (162.15 %) and swelling power (9.96 g/g). At concentration of 5 % canna starch had quite low and stable hot paste viscosity (9.67 dPa.s), the viscosity increased to 14,67 dPa.s when cooled. Based on those several characteristics, canna starch can be used as ingredient for some food products, such as cookies and cendol. Hedonic test of the products showed that substitution of canna starch up to 75 % was not significantly different compared to wheat flour for cookies, while 100 % substitution of canna starch was not significantly different compared to rice flour for cendol. It can be concluded that canna starch had potential characteristics to be used for food diversification.ABSTRAKGanyong merupakan salah satu jenis umbi-umbian lokal yang dapat diolah sebagai sumber karbohidrat dalam bentukpati. Akan tetapi karakteristik dan pemanfaatannya belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan kimia, sifat fisik dan fisikokimia pati ganyong serta mengevaluasi penggunaannya sebagai bahan pembuatan beberapa produk olahan. Pati ganyong diperoleh dari Kelompok Tani Mekar Sari, Kulon Progo. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap berikut: 1) karakterisasi pati ganyong, meliputi sifat kimia, fisik, dan fisikokimia; 2) formulasi dan pembuatan produk dari pati ganyong berdasarkan karakteristik yang diperoleh; dan 3) uji organoleptik produk-produk yang telah dikembangkan. Hasil penelitian menunjukkan sampel pati ganyong memiliki kadar total pati 93,30 % (db), kadar amilosa 42,49 % (db) dan kadar amilopektin sebesar 50,90 % (db). Protein, lemak, abu, serat kasar, dan gula reduksi merupakan komponen minor. Pati ganyong tergolong memiliki water binding capacity (162,15%) dan swelling power (9,96 g/g)  yang rendah. Pada konsentrasi 5 %, pati ganyong memiliki viskositas pasta panas yang rendah (9,67 dPa.s.) dan stabil, viskositas meningkat menjadi 14,67 dPa.s setelah pendinginan. Berdasarkan beberapa karakteristik tersebut, pati ganyong dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan cookies dan cendol. Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa pati ganyong dapat digunakan hingga 75 % pada pembuatan cookies dan 100 % pada pembuatan cendol dengan tingkat kesukaan yang tidak berbeda nyata dibandingkan cookies terigu dan cendol tepung beras. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pati ganyong memiliki karakteristik yang potensial untuk diversifikasi pangan.
Pengaruh Variasi NaCl dan Na2CO3 Terhadap Sifat Fisik dan Mikrostruktur Mie Sagu Kering R., Listyati Purnama; Murdiati, Agnes; Noor, Zuheid
Agritech Vol 12, No 4 (1992)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.19249

Abstract

Sagu dapat diolah menjadi produk mie dengan penambahan tepung terigu dengan perbandingan 70:30, tetapi hasilnya masih sangat lunak dan lembek. Untuk memperbaiki sitat fisik tersebut dilakukan penambahan NaCI dan NaCO3 dengan kadar yang bervariasi. Penambahan senyawa tersebut berpengaruh terhadap kualitas pemasakan dan mikrostruktur mie. Peningkatan konsentrasi NaCI diikuti dengan peningkatan total cooking loss tetapi interaksinya dengan Na, CO3 akan membatasi total kehilangan akibat pemasakan tersebut yaitu pada konsentrasi NaCI:Na, = 0.5:0,5. Dan sebaliknya pada peningkatan konsentrasi Na,CO, akan mernperbesar absorpsi air, swelling index dan kapasitas rehidrasi tetapi interaksinya dengan NaCI akan membatasi jumlah penyerapan air tersebut akibat pengaruh peningkatan konsentrasi NaCI akan memperkecil absorpsi air, swelling index dan kapasitas rehidrasi. Penambahan NaCI dan Na2CO3 akan memperbaiki tekstur, kelekatan, elastisitas dan mencoklatkan mie. Mie yang memiliki sifat fisik yang disukai konsumen dan memiliki mikrostruktur terbaik menyerupai mie terigu adalah mie dengan penambahan NaCI dan Na, CO, dengan konsentrasi NaCI:Na,CO. = 0.5:0.5 persen
Pengujian Biologis Makanan Bayi dengan Bahan Pokok Sagu dan Tepung Tempe Terhadap Pertambahan Berat Badan Tikus Putih (Rattus norvegicus) Djaafar, Titiek F.; Murdiati, Agnes; Utami, Indyah S.
Agritech Vol 15, No 4 (1995)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.19298

Abstract

A formulation of infant food made from mixture of sago Strach, tempeh flour, milk powder and corn oil gave a normal body weight of the growth of rates at normal physical conditions relating to the activities, hairs skin, eye colour and tail colour. The total feed intake individual macronutrient of the ingredients increased the body weight, which fitted the multiple regression equation: Y =-38,57 + 0,37 x1 + 0,75 x2 - 4,08 x3, - 2,60 x4+ 1,71 x5. By using this equation, a certain body weight might be reached by manipulating the X variables. The increase In body weight was significantly dependent on the quantity and quality of protein intake.
Sorbitol-Oleat Poliester: Produksi, Sifat Fisikokimia, dan Perubahannya selama Penggorenggan Murdiati, Agnes; Wuryastuti, Hastari; Marsono, Y.; Harmayani, Eni
Agritech Vol 29, No 2 (2009)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.9769

Abstract

Excess intake of fat and oil resulted in various problem of health disorder. In order to reduce the intake of fat, fat re- placer sorbitol-oleic polyester (SOPE) was developed, by method of esterification methyl oleic and sorbitol at 150 oC for 8 hours. The objectives of this research were to evaluate the characteristics of SOPE produced and the character- istics change in frying. The result showed that SOPE had the color of yellowish brown (y=5 r=0.9 b=0.3 of Lovibond scale), viscosity of 4 cP, refractive index at 25 oC of 1.4307, hydroxyl value of 16.53 mg KOH/g, smoke point of 115 oC, acid value of 2.22 mg KOH/g, and yield of 77.5 %. During frying, the appearance of SOPE became darker, acid value and hydroxyl value was increased by constant rate of 0.37 mg KOH/g/day and 1.38 mg KOH/g/day respectively, and peroxide value increased in the early period and then decreased again, small decreased in smoked point while viscosity of SOPE did not change significantly.ABSTRAKAsupan lemak yang berlebih mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan. Untuk mengurangi asupan lemak dibuat senyawa pengganti lemak (fat replacer) sorbitol-oleat poliester (SOPE). Dalam penelitian ini SOPE diproduksi secara kimia dari sorbitol dan asam oleat melalui reaksi esterifikasi antara metil oleat dengan sorbitol pada suhu 150 oC se- lama 8 jam, di dalam suatu reaktor logam. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa SOPE yang dihasilkan berwarna kuning kecoklatan (k=5  m=0,9  b=0,3 skala Lovibond), viskositas 4 cP, indeks refraksi pada 25 oC sebesar 1,4307, angka hidroksil 16,53 mg KOH/g SOPE, angka asam 2,22 mg KOH/g SOPE, dan yield 77,5 %. Selama penggorengan, SOPE mengalami peningkatan intensitas warna coklat, peningkatan angka asam dengan konstanta kecepatan 0,39 mg KOH/gSOPE/hari, peningkatan angka hidroksil dengan konstanta kecepatan 1,26 mg KOH/gSOPE/hari, kenaikan angka peroksida pada awal pemanasan yang selanjutnya mengalami penurunan kembali, penurunan sedikit titik asap, dan tidak terjadi perubahan viskositas.
Peningkatan Kandungan Protein Mie Basah dari Tapioka dengan Substitusi Tepung Koro Pedang Putih (Canavalia ensiformis L.) Murdiati, Agnes; Anggrahini, Sri; Alim, Ayuk
Agritech Vol 35, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.9334

Abstract

Noodle can be made from tapioca, but the protein content was very limited. The purpose of this study was to increase protein content of tapioca wet noodle with addition of 0-50% white jack bean flour and to evaluate the physical, chemical and organoleptic properties. This study was preceded by a reduction HCN content. After HCN content fulfilled SNI standards, white jack bean was then made into flour. In this study, wet noodle was made with the ratio of tapioca: white jack bean flour 100:0; 90:10; 80:20; 70:30; 60:40; and 50:50 respectively. Physical characteristics of noodle was investigated in this study were cooking loss, expansion ratio, tensile strength, and elongation. Organoleptic characteristics were studied by preference and difference test.  Noodle product which was preferred by panelists was analyzed for the nutritional content. The results showed that soaking jack bean in 2% sodium bicarbonate solution for 40 hours with pulping in the first 10 hours and continued with soaking water 3 times 10 hours can reduce HCN content by 87.08%. The cooking loss and force of tensile strength were increased while expansion ratio and elongation decreased with higher proportions of white jack bean flour used. Wet mie made of ratio tapioca: white jack bean flour 80:20 got the preferences by panelists, and was able to increase protein content 9.51 fold with protein content 7.15% db.ABSTRAKMie dapat dibuat dari tapioka, namun kandungan protein mie tapioka sangat rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kandungan protein mie basah dari tapioka dengan penambahan tepung koro pedang putih 0-50% dan evaluasi sifat fisik, kimia, dan organoleptik produk mie basah tersebut. Penelitian ini didahului dengan pengurangan kadar HCN koro pedang putih dan pembuatan tepung koro pedang putih. Pembuatan mie basah dari tapioka dilakukan dengan variasi rasio campuran tapioka: tepung koro pedang putih 100:0; 90:10; 80:20; 70:30; 60:40; dan 50:50. Karakteristik fisik mie yang diteliti meliputi kehilangan padatan akibat pemasakan, rasio pengembangan, tensile strength, dan elongasi. Karakteristik organoleptik mie yang diteliti meliputi uji kesukaan dan pembedaan. Mie yang disukai panelis selanjutnya dianalisis kandungan gizinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman koro pedang putih dalam larutan natrium bikarbonat 2% selama 40 jam dengan pengupasan pada jam ke-10 pertama dan dilanjutkan dengan penggantian air rendaman setiap 10 jam dapat mengurangi kadar HCN sebesar 87,08%. Pada mie yang dihasilkan, makin banyak penambahan tepung koro pedang putih, kehilangan padatan akibat pemasakan (cooking loss) dan gaya pada tensile strength meningkat, sedangkan rasio pengembangan dan elongasi menurun. Produk mie basah yang dibuat dengan rasio tapioka: tepung koro pedang putih sebanyak 80:20 masih disukai panelis, dan mampu meningkatkan kandungan protein sebesar 9,51 kali sehingga kandungan protein mie yang dihasilkan sebanyak 7,15% db.
Pengaruh Metode Kombinasi Autoklaf 2 Siklus dan Hidrolisis Asam Sitrat terhadap Sifat Kimia dan Fisika RS-3 Pati Kacang Hijau (Vigna radiata L.) Triwitono, Priyanto; Marsono, Yustinus; Murdiati, Agnes; Marseno, Djagal Wiseso
Agritech Vol 37, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.11620

Abstract

Mung beans are potential sources of amylose as ingredients low-calorie RS-3. Studies on physical and chemical properties are most important for the obesity treatment in the future. Preparation method of RS-3 using a combination treatment of 2 cycles autoclaving and citric acid hydrolysis on mung bean starch of Walet varieties and the effect on chemical and physical properties were conducted. The result showed that the preparation method improved amylose content by 20% and RS by 47.3%, decrease the swelling power by 47.6%, increase in the WHC by 237.8% and OHC by 9.3%. The starch color also become brighter with the ∆ E 32.6. Its viscosity became lower with a setback of 710 Cp. The amilograph curve type changed from type C to D. The granule shape become irregular and the size increase three-fold. The diffraction pattern has steady in type C but the intensity increased.                                                              ABSTRAKKacang hijau merupakan jenis kacang-kacangan sumber amilosa yang potensial sebagai bahan dasar RS-3 rendah kalori. Kajian tentang sifat fisika dan kimiawinya membuka peluang pemanfaatannya untuk penanganan obesitas di masa datang. Telah dilakukan preparasi RS dari pati kacang hijau varietas Walet dengan perlakuan kombinasi autoklaf 2 siklus dan hidrolisis asam sitrat dan dikaji pengaruhnya terhadap sifat kimia dan fisikawinya. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi autoklaf 2 siklus dan hidrolisis asam sitrat mampu meningkatkan kadar amilosa sebesar 20% dan RS sebesar 47,3%, menurunkan swelling power sebesar 47,6%, meningkatkan WHC sebesar 237,8% dan OHC sebesar 9,3%. Pengaruh lainnya  yaitu mampu menurunkan derajat putih warna pati dengan ∆ E sebesar 32,6, menurunkan viskositas dengan viskositas balik 710 Cp. Tipe kurva amilografi berubah dari tipe C ke tipe D, bentuk granula tidak beraturan, ukuran granula meningkat tiga kali lipat, dan pola difraksinya tidak berubah (tetap tipe C) tetapi intensitasnya meningkat.Kata kunci: Amilosa; autoklaf; obesitas; asam sitrat; kacang hijau; RS; pati 
Pengaruh Sorbitol-Oleat Poliester (SOPE) terhadap Profil Lipid Serum Tikus Sprague-Dawley Murdiati, Agnes; Wuryastuti, Hastari; Marsono, Y.; Harmayani, Eni
Agritech Vol 30, No 1 (2010)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.9687

Abstract

The intake of fats excessively is tend to promote degenerative diseases, however decreasing of fat intake was difficult to be done, so the production  of fat replacer is necessity. The objective of this research was to study the effects of fat replacer sorbitololeic polyester (SOPE) on health. The result showed that replacement of SOPE to fats diets on rats did not have negative effects on lipid profile of serum. The replacement of fats in standard diets by 75 % of SOPE during 3 weeks period of intervention diets did not have significant different on total cholesterol, it was decrease of LDL cholesterol (3,46 %), and increased HDL cholesterol (11,89 %), in spite of increasing of triglyceride slightly (9,07 %).ABSTRAKAsupan lemak yang berlebih dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit-penyakit yang berkaitan dengan pembuluh darah. Pengurangan asupan lemak sulit dilakukan karena lemak mempunyai peran yang sangat penting dalam proses pengolahan makanan. Oleh karena itu, pengembangan senyawa pengganti lemak atau fat replacer sangat diperlukan.  Sorbitol-oleat poliester (SOPE) merupakan fat replacer yang dapat digunakan sebagai pengganti minyak. Namun demikian, penggunaan senyawa ini perlu diuji efeknya terhadap kesehatan. Penelitian ini menggunakan tikus Sprague Dawley jantan, dewasa sebanyak 50 ekor. Adaptasi dilakukan selama 7 hari, selanjutnya tikus dibagi menjadi 5 kelompok. Satu kelompok diberi pakan standar, dan 4 kelompok yang lain diberi pakan mengandung SOPE sebanyak 25, 50, 75 dan 100 % menggantikan minyak diet. Intervensi diet dilakukan selama 3 minggu, dan analisis profil lipid serum dilakukan secara periodik setiap minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan SOPE untuk menggantikan sebagian atau semua minyak dalam diet standar tidak berpengaruh merugikan terhadap profil lipid serum tikus. Penggunaan SOPE sebanyak 75 % untuk menggantikan minyak pada pakan standar selama 3 minggu intervensi diet tidak berpengaruh terhadap kandungan kolesterol total, namun menurunkan kolesterol LDL (13,46%) dan meningkatkan kandungan kolesterol HDL (11,89 %), walaupun sedikit meningkatkan kandungan trigliserida serum (9,07 %).
Ekstraksi Daun Gedi (Abelmoschus manihot L) Secara Sekuensial dan Aktivitas Antioksidannya Teroreh, Mercy; Rahardjo, Sri; Hastuti, Pudji; Murdiati, Agnes
Agritech Vol 35, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.9338

Abstract

Gedi’s leave is one of the raw material in tinutuan porridge, a traditional food from Manado Indonesia. The leaves was extracted by various solvent to dissolve all of the compound. The aim of this study was to compare the profile and antioxidant activities of the extract in various sequence of solvent. Hexane, aseton, and methanol were used to dissolve a non polar, semi polar and polar component, respectively. All of the extract were analysed for its antioxidant activities. The profile of extract were indicated by total phenol and total flavonoid meanwhile antioxidant activities was measured by radical scavenging activity DPPH, metal chelating and singlet oxygen quenching. The result indicated the sequence of hexane – aseton – methanol contain the highest of total phenol and flavonoid compare to the others with 10.67±0.49 mg GAE/g extract and 2.33±0.026 mg quersetin/g extract. The sequence also showed the highest of antioxidant activities at 150 μg/mL extract with 67.47%; 48.07% and 38.66% for percentage of inhibition DPPH, value of metal chelating and singlet oxygen, respectively.ABSTRAKDaun Gedi (Abelmoschus manihot L) merupakan salah satu bahan utama tinutuan, makanan tradisional Manado.Penelitian tentang profil dan aktivitas antioksidan dari daun Gedi telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi dan membandingkan profil dan aktivitas antioksidan dari daun gedi yang diekstraksi secara sekuensial dengan pelarut heksana, aseton dan metanol. Ekstrak daun gedi selanjutnya dianalisis kandungan total fenolik dan flavonoid, sedangkan aktivitas antioksidannya dilakukan secara in vitro meliputi penangkal radikal bebas DPPH, pengkelat logam dan penstabil oksigen singlet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak sekuensial heksanaaseton-metanol (ESHAM) memiliki total fenol dan total flavonoid yang tertinggi dibandingkan dengan ekstrak lainnya,masing-masing sebesar 10,67±0,49 mg GAE/g ekstrak dan 2,33±0,026mg kuersetin/g ekstrak. ESHAM juga memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi, dengan persentase penghambatan DPPH sebesar 67,47%; persen pegkelat logam sebesar 48,07% dan persen penghambatan oksigen singlet sebesar 38,66% pada konsentrasi 150μg/mL esktrak. Kesimpulan senyawa fenolik pada daun gedi bersifat polar sehingga menghasilkan aktivitas antioksidan tertinggi pada pelarut polar.