Etisa Adi Murbawani
Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Published : 57 Documents
Articles

Asupan Mikronutrien, Kadar Hemoglobin dan Kesegaran Jasmani Remaja Putri

MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 1 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.126 KB)

Abstract

ABSTRACTMicronutrient intake, hemoglobin levels and physical fitness amongst female adolescentsBackground: Female adolescents is a group that is suspectible to anemia. Iron, zinc, copper, folic acid, vitamin B6 and vitamin B12 intake are factors among others that influence hemoglobin level. People with anemia would have the low physical fitness. The objective of this study was to understand the association between micronutrient intake (iron, zinc, copper, folic acid, vitamin B6, vitamin B12) with hemoglobin level, and hemoglobin level with physical fitness of female adolescents.Method: The design of this study was a cross sectional and the number of subject were 40 chosen by simple random sampling from 10th and 11th grade students that fulfill the inclusion criteria. Data on nutrients intake were obtained using semi quantitative food frequencies. The hemoglobin level was measured by cyanmethaemoglobin method, whereas physical fitness level was measured byharvard step test.Results: There were 32 subjects (80%) categorized as having very low and low from physical fitness. There were 10 subjects (25%) anemic. Eight subjects had low from physical fitness. There were significant associations between iron, zinc, copper, folic acid and vitamin B6 intake with hemoglobin level. There were no significant association between vitamin B12 with hemoglobin level.Regression analysis showed that iron intake contributed 67.7% variant to hemoglobin level. There were no significant association between hemoglobin level with physical fitness after controlled by nutritional status and physical activity.Conclusion: Intake of Fe, Zn, Cu, folic acid and B6 are associated with hemoglobin level, but hemoglobin level is not associated with physical fitness.Keyword: Female adolescents, physical fitness, hemoglobin, iron, zinc, copper, folic acid, vitamin B6, vitamin B12ABSTRAKLatar belakang: Remaja putri merupakan golongan yang rawan terhadap anemia. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia diantaranya adalah asupan mikronutrien seperti besi, seng, tembaga, folat, vitamin B6, vitamin B12. Seseorang yang mengalami anemia dapat memiliki tingkat kesegaran jasmani yang kurang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara asupan mikronutrien (besi, seng, tembaga, folat, vitamin B6, vitamin B12) dengan kadar hemoglobin dan hubungan kadar hemoglobin dengan kesegaran jasmani remaja putri.Metode: Desain penelitian cross sectional dengan jumlah subyek 40 dipilih secara simple random sampling dari kelas X dan XI yang memenuhi kriteria inklusi. Data asupan diperoleh dengan semi quantitative food frequencies. Kadar Hb diukur dengan metodecyanmethaemoglobin, sedangkan tingkat kesegaran jasmani diukur dengan metode harvard step test.Hasil: Sebanyak 32 subyek (80%) termasuk dalam kategori tingkat kesegaran jasmani sangat kurang sampai kurang. Sebanyak 10 subyek (25%) termasuk dalam kategori anemia. Sebanyak 8 subyek diantaranya memiliki tingkat kesegaran jasmani kurang. Ada hubungan antara asupan besi, seng, tembaga, folat, vitamin B6 dengan kadar hemoglobin. Analisis data dengan uji regresi didapatkan bahwa 67,7% kadar hemoglobin dapat dijelaskan oleh asupan zat besi. Tidak ada hubungan antara asupan vitamin B12 dengan kadar hemoglobin. Tidak ada hubungan antara kadar hemoglobin dengan kesegaran jasmani setelah dikontrol dengan status gizi dan aktivitas fisik .Simpulan: Asupan Fe, Zn, Cu, asam folat dan B6 berhubungan dengan kadar hemoglobin, namun kadar hemoglobin tidak berhubungan dengan kesegaran jasmani

Tinggi Badan yang Diukur dan Berdasarkan Tinggi Lutut Menggunakan Rumus Chumlea pada Lansia

MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2012:MMI VOLUME 46 ISSUE 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.234 KB)

Abstract

Measured height and calculated height based on knee height using chumlea formula in elderlyBackground: Height is an important anthropometric measurement. Height calculation equation for elderly with dorsal deformity using knee height was developed by Chumlea. However, the equation is not appropriate for elderly in Asian population. The aim of this study was to compare measured height with calculated height based on knee height using Chumlea formula for elderly in Indonesia.Method: A cross sectional study was conducted in 86 elderly in geriatric outpatient clinic in Kariadi hospital, nursing home, and eldery integrated health service (posyandu lansia) in Semarang which were randomly selected in July-September 2009. The inclusion criteria were elderly without deformities and able to stand up straightly. Data collected were demography characteristics, height and knee height. Height was measured using microtoise, knee height was measured using knee calliper. Both microtoise and knee calliper had 0.1 cm accuracy. Data were analysed using Wilcoxon signed rank test.Result: Most samples were female, aged 59-88 years. The average age was 71±8.7 years. The average measured height in female and male subjects were 146.8±5.6 cm and 160.8±6.2 cm respectively. The average calculated height in female and male subjects were 154.3±7.03 cm and and 159.1±6.78 cm respectively. There was no different (p=0.077) in measured height and calculated height using Chumlea formula.Conclusion: There was no different in measured height and calculated height using Chumlea formula.Keywords: Elderly, height, knee height, nutritional assesmentABSTRAKLatar belakang: Tinggi badan merupakan salah satu indikator pengukuran antropometri yang penting. Persamaan perhitungan tinggi badan pada lansia (lanjut usia) dengan deformitas punggung telah dikembangkan oleh Chumlea. Persamaan yang ada saat ini tidak tepat untuk populasi Asia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kesesuaian antara tinggi badan yang diukur dengan microtoise dengan perhitungan berdasarkan tinggi lutut menggunakan rumus Chumlea untuk lansia di Indonesia.Metode: Desain penelitian ini adalah belah lintang. Subyek penelitian adalah 86 (delapan puluh enam) lansia yang menjadi pasien rawat jalan Poliklinik Geriatri di RSUP Dr. Kariadi Semarang, lansia yang menjadi penghuni panti wredha dan lansia yang menjadi anggota posyandu lansia di Semarang pada bulan Juli-September 2009. Kriteria inklusi pasien adalah tidak ada deformitas pada struktur tubuh dan mampu berdiri tegak. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik demografi, tinggi badan dan tinggilutut. Tinggi badan diukur menggunakan microtoise, sedangkan tinggi lutut diukur menggunakan knee calliper dengan akurasi 0,1 cm. Analisis data menggunakan uji beda Wilcoxon signed rank test.Hasil: Sebagian besar subyek berjenis kelamin perempuan, dengan usia 59-88 tahun. Rerata umur subyek sebesar 71±8,7 tahun. Rerata tinggi badan perempuan dan laki-laki adalah 146,8±5,6 cm, dan 160,8±6,2 cm. Rerata tinggi badan perempuan dan laki-laki dengan rumus Chumlea, adalah 154,3±7,03 cm dan 159,1±6,78 cm, dengan perbedaan yang tidak bermakna (p=0,077).Simpulan: Tidak ada perbedaan pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise dan rumus Chumlea.

Perbedaan Profil Lipid Pada Peserta Senam Jantung Sehat

JURNAL GIZI INDONESIA Volume 1. Nomor 2. Juni 2006
Publisher : JURNAL GIZI INDONESIA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.551 KB)

Abstract

ABSTRACT Background: Sports or regular physical activities have roles in preventing coronary cardiac disease. Healthy cardiac exercise is one of an aerobic exercises which has complete composition, which are warming up, main exercise , and cooling down. Sports can give best result if it is done at least three times a week. Objective of this study was to determine blood lipid profile differences in healthy cardiac exercise which had been done three times a week and once a week. Covariate factors are sex, fat, carbohydrate, calcium, and fiber intake, other physical activities, BMI, life style, and sport obedience. Methods: This study was observational design. Samples in this study are members of healthy cardiac club in Mugas, Paraga Wonodri, and Kini Jaya, Semarang. Samples were selected with Consecutive Sampling technique and data was analyzed by t test. GLM (General Linear Multivariate ) was used to find out lipid profile difference between two groups with covariate factors. Data were Analyzed by data procesing software. Result: There is no significant difference between two groups in mean energy intake (ρ=0,74), protein (ρ=0,06), fat (ρ=0,43), calcium (ρ=0,39), fiber (ρ=0,09) and cholesterol (ρ=0,24). And there is no significant difference in total cholesterol level (ρ=0,54), HDL (ρ=0,05), LDL (ρ=0,32) and triglyceride (ρ=0,77) either after including covariate factors. Conclusion: There is no difference of blood lipid level between three times a week exercise group and once a week exercise group with considering some influenced factors. Keyword: Total cholesterol, HDL, LDL, Triglyceride, Healthy cardiac exercise.   ABSTRAK Latar Belakang. Olahraga atau aktifitas fisik yang teratur mempunyai peran dalam mencegah terjadinya penyakit jantung koroner. Senam jantung sehat merupakan salah satu senam aerobik yang mempunyai susunan lengkap, dalam artian format pemanasan, latihan, dan pendinginan dalam satu paket. Olahraga yang memberikan hasil terbaik adalah olahraga yang dilakukan paling sedikit 3 kali perminggu. Tujuan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan profil lipid darah pada latihan fisik terprogram yang dilakukan tiga kali seminggu dan satu kali seminggu pada peserta Klub Jantung Sehat dengan memperhitungkan beberapa faktor kovariat, yaitu jenis kelamin, asupan lemak dan energi, aktifitas fisik lain, BMI, gaya hidup, asupan kalsium, asupan serat, kepatuhan olahraga. Metode. Penelitian ini adalah penelitian observasional. Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah seluruh anggota Klub Jantung Sehat yang berumur >40 tahun di Semarang. Sedangkan populasi targetnya adalah anggota Klub Jantung Sehat Mugas, Paraga Wonodri dan Perumahan Kini Jaya Semarang. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik Consecutive Sampling dan analisa data dilakukan dengan Uji beda t. Untuk mengetahui perbedaan profil lipid pada kedua kelompok dengan memasukkan berbagai variabel kovariat, digunakan analisis GLM (General Linear Multivariat) dengan program pengolah data. Hasil : Rerata asupan energi (ρ=0,74), protein (ρ=0,06), lemak (ρ=0,43), kalsium (ρ=0,39), serat (ρ=0,09) dan kolesterol (ρ=024) pada kedua kelompok tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Selain itu, tidak didapatkan pula perbedaan yang bermakna terhadap kadar kolesterol total (ρ=0,54), HDL (ρ=0,05), LDL (ρ=0,32) dan trigliserida (ρ=0,77) pada kedua kelompok peserta senam jantung sehat. Simpulan : Kadar profil lipid pada kelompok yang melakukan latihan senam jantung sehat 3x seminggu tidak berbeda jika dibandingkan dengan kelompok yang melakukan latihan senam jantung sehat Ix seminggu dengan memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi. Kata kunci : Kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida, senam jantung sehat.Permalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jgi/article/view/3242

PENGARUH PEMBERIAN AIR KELAPA TERHADAP KEBUGARAN ATLET SEPAK BOLA

Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: The athlete’s fitness is one of the supporting factor for athlete’s performance. Consumption of carbohydrate-electrolyte beverage during training  maintain hydration status and athlete’s performance. Coconut water is potential natural fluid that can be used as natural sport drink. Objective: The aim of this study was to verify the effect of additional sugar in coconut water on soccer athlete’s fitness Methode: An experimental study was done in randomized pretest - post test design with a control group. The subject were 18 soccer’s player aged 14-18 years at Persatuan Sepak Bola Kudus in August 2012. The control group is consumed pure coconut water and the treatment group is consumed coconut water which added with 3 g of sugar every 100 ml. The amount of fluid given based on fluid requirement during training. After physical training during 90minutes, all player completed the fitness test with cooper test 12 minutes run. Result: Consumption of coconut water affect the results of VO2 max on control group (p=0.016), and has no significant effect on treatment group (p=0,871). There no significant different between two groups in consumption of energy(p=0.643), fluid before training(p=0.385), body fat(p=0,698) and muscle mass(p=0.919) Conclusion: Consumption of pure coconut water affected on change value of VO2 max compared with coconut water which added with sugar

PENGARUH ASUPAN MAKAN (ENERGI, KARBOHIDRAT, PROTEIN DAN LEMAK) TERHADAP DAYA TAHAN JANTUNG PARU (VO2 MAKS) ATLET SEPAK BOLA

Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Asupan zat gizi yang seimbang dapat mempengaruhi performa seorang atlet pada saat bertanding. Secara umum pemain sepak bola memerlukan pemenuhan energi, karbohidrat, protein dan lemak dengan mempertimbangkan latihan dan aktivitas fisik sehari-hari. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asupan makan (energi, karbohidrat, protein dan lemak) terhadap daya tahan jantung paru (VO2 maks) atlet sepak bola. Metode : Studi eksperimental quasi dengan pendekatan one group pre and post test design pada 19 atlet sepak bola berusia 14-18 tahun di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Jawa Tengah pada bulan Juni 2012. Selama sebelas hari subjek diberi makanan yang terdiri dari 55-60% karbohidrat, 15-20% protein dan 20-30% lemak dari total kebutuhan atau pengeluaran energi per hari. Pengukuran daya tahan jantung paru dilakukan dengan metode Cooper Test. Hasil : Asupan energi, karbohidrat, protein dan lemak tidak berpengaruh terhadap daya tahan jantung paru dengan nilai p > 0,05. Simpulan : Asupan energi, karbohidrat, protein dan lemak tidak berpengaruh terhadap daya tahan jantung paru atlet sepak bola. Daya tahan jantung paru dipengaruhi oleh indeks massa tubuh.

PENGARUH PEMBERIAN ENERGI, KARBOHIDRAT, PROTEIN, LEMAK TERHADAP STATUS GIZI DAN KETERAMPILAN ATLET SEPAK BOLA

Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Good skills in soccer are very needed to accomplish the achievement. Nutritional status in soccer athletes can effect the performance on the match. Besides exercises, nutrition intake is considered to have an effect on the nutritional status and skills of soccer athletes. Objective: The purpose of this study was to determine the effect of food intake on nutritional status and skills of soccer athletes. Methods: An experimental study with one group pre and post test designed on soccer athletes in PPLP Central Java on June 2012. Food intake were given in 55%-60% carbohydrates, 15%-20% protein, 20%-30% fat. Anthropometry, physical fitness, skill (passing and dribbling), and nutrition intake were measured pre- and post- intervention. The data obtained were analyzed by paired t-test and Pearson correlation. Results: Eighteen subjects completed this study. Significant increase in energy intake (p= 0,000), carbohydrate (p= 0,000), protein (p= 0,000), fat (p= 0,000), BMI (p= 0,000), percent body fat (p= 0,031), physical fitness (p= 0,038), and passing (p= 0,000), but no significant differences found on dribbling (p= 0,056) after a given intervention. There was no effect of energy, carbohydrate, protein, fat on nutritional status and skills of soccer athletes (p> 0.05). Conclusion: There was no effect of energy, carbohydrate, protein, fat on nutritional status and skills of soccer athletes.

PENGARUH KONSUMSI MINUMAN MADU TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH ATLET SEPAK BOLA REMAJA SELAMA SIMULASI PERTANDINGAN

Journal of Nutrition College Vol 2, No 3 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Ketersediaan glukosa darah selama latihan atau pertandingan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap performa endurance. Pemberian minuman yang mengandung karbohidrat sederhana selama latihan atau pertandingan dapat membantu meningkatkan performa atlet dengan mempertahankan kadar glukosa darah dan menunda kelelahan. Madu merupakan sumber karbohidrat alami yang dapat bertindak sebagai penyuplai energi pada olahraga endurance.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi minuman madu terhadap kadar glukosa darah atlet sepak bola remaja selama simulasi pertandingan.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan Crossover study. 18 atlet sepak bola usia 16-18 tahun di Persatuan Sepak Bola Kudus (PERSIKU) berpartisipasi dalam penelitian dan menjalani dua kali simulasi pertandingan. Subjek menerima intervensi pemberian minuman madu dan air putih (plasebo) sebanyak 200 ml setiap interval 20 menit selama 100 menit simulasi pertandingan. Kadar glukosa darah diukur sesaat sebelum dan setelah simulasi pertandingan.Hasil: Terdapat penurunan yang tidak bermakna sebesar 1.89 ± 34.17 mg/dl antara kadar glukosa darah sebelum dan setelah simulasi pertandingan pada perlakuan minuman madu (p = 0.817). Terdapat penurunan yang bermakna sebesar 11.22 ± 0.013 mg/dl antara kadar glukosa darah sebelum dan setelah simulasi pertandingan pada perlakuan air putih (p = 0.013). Simpulan: Pemberian minuman madu lebih efektif dalam mempertahankan kadar glukosa darah selama simulasi pertandingan dibanding air putih (plasebo).

HUBUNGAN LINGKAR PERGELANGAN TANGAN DENGAN KADAR GLUKOSA DARAH WANITA OBESITAS USIA 40 – 55 TAHUN

Journal of Nutrition College Vol 7, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Obesitas meningkatkan risiko terjadinya DM 2 pada seseorang. Meningkatnya usia seseorang juga berpengaruh terhadap peningkatan risiko DM 2. Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi DM 2 pada wanita lebih tinggi daripada laki-laki. Lingkar pergelangan tangan merupakan salah satu antropometri yang digunakan sebagai prediktor DM 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkar pergelangan tangan dengan kadar glukosa darah puasa pada wanita obesitas usia 40 – 55 tahun.Metode : Studi cross sectional dengan metode consecutive sampling terhadap wanita dewasa sebanyak 69 subjek obesitas usia 40 – 55 tahun dilakukan di Kelurahan Kedungmundu Kota Semarang. Dilakukan pengambilan data berupa karakteristik subjek, lingkar pergelangan tangan, aktivitias fisik, asupan makan, dan kadar glukosa darah puasa. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji korelasi Rank Spearman.Hasil : Sebagian besar (84,1%) subjek penelitian memiliki kadar glukosa darah normal, sedangkan lingkar pergelangan tangan terdapat 65,2% masuk kategori besar. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara lingkar pergelangan tangan dengan kadar glukosa darah (r=0.16, p=0,182).Simpulan : Tidak terdapat hubungan lingkar pergelangan tangan dengan kadar glukosa darah wanita obesitas usia 40 – 55 tahun.

STATUS GIZI, ASUPAN MAKAN REMAJA AKHIR YANG BERPROFESI SEBAGAI MODEL

Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Journal of Nutrition College
Publisher : Program Studi ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang :Ketidakpuasan terhadap bentuk dan ukuran tubuh semakin sering dijumpai di kalangan remaja putri,khususnya di kalangan model. Masalah yang paling umum dihadapi oleh model yakni membatasi asupan jenis makanan tertentu untuk mendapatkan tubuh yang kurus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gizi, asupan makan  remaja putri usia 19-20tahun yang berprofesi sebagai model.Metode : Peneliti menggunakan deskriptif analitis. Penelitian ini diadakan pada 31 subyek remaja putri usia 19-20 tahun di managemen modeling school.Sampel diambil secara non probability sampling. Kriteria inklusi adalah sehat jasmani dan tidak sedang menjalani pengobatan tertentu. Data perilaku makan diperoleh dari Food Frequency Questionner (FFQ). Analisis data dengan menggunakan Nutrisurvey untuk memperoleh hasil asupan karbohidrat, protein, dan lemak dari subyek.Hasil : Subyek sebanyak (80,6%) dengan status gizi kurang, asupan karbohidrat, protein dan lemak belum sesuai dengan AKG. Sebanyak  (12,9 %) dengan status gizi normal Asupan protein sesuai dengan AKG namun karbohidrat dan lemak tidak sesuai AKG. Sebanyak (6,45%) status gizi normal asupan karbohidrat sesuai namun protein dan lemak belum sesuai dengan AKG.Simpulan : Asupan remaja akhir yang berprofesi sebagai model belum baik, dan sebagian remaja akhir memiliki status gizi kurang.

HUBUNGAN KECUKUPAN ASUPAN ZAT BESI DAN KADAR TIMBAL DARAH DENGAN KADAR HEMOGLOBIN ANAK JALANAN USIA KURANG DARI 8 TAHUN DI KAWASAN PASAR JOHAR SEMARANG

Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Journal of Nutrition College
Publisher : Program Studi ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kadar timbal dalam udara mempunyai pengaruh terhadap kadar timbal dalam darah seseorang yang beraktivitas tinggi di jalanan, seperti pada anak jalanan. Kadar timbal dalam darah yang tinggi dapat mengganggu proses eritropoesis dan adanya gangguan sintesis heme yang diakibatkan oleh akumulasi timbal akan semakin buruk bila kecukupan zat besi tubuh tidak terpenuhi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kecukupan asupan zat besi dan kadar timbal dengan kadar hemoglobin responden.  Metode: Desain penelitian Cross Sectional pada 19 anak jalanan di kawasan Pasar Johar, Semarang. Responden dipilih secara purposive sampling. Data kecukupan asupan zat besi diperoleh dari wawancara dengan responden dan orangtua menggunakan kuesioner Food Frequency Questioner Semi kuantitatif dan dianalisis menggunakan Nutrisoft. Kadar timbal dianalisis menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer)  dengan kategori tinggi (>10µg/dL) dan sangat tinggi (>40µg/dL). Kadar hemoglobin dianalisis dengan metode cyanmethemoglobin dengan standar berdasarkan kelompok usia yaitu 6 bulan -5 tahun tergolong normal jika >11 gr/dl dan 6-11 tahun >11,5 gr/dl. . Hasil: Sebagian besar responden (64,8%) mengonsumsi zat besi kurang dari angka kecukupan. Kadar Hb pada 6 responden (31,8%) tergolong rendah. Kadar timbal responden sebanyak 73,7% tergolong tinggi, dan 26,3% tergolong sangat tinggi. Ada korelasi antara kecukupan asupan zat besi ddengan kadar hemoglobin (r=0,580;p=0,009) dan ada korelasi antara kadar timbal dengan  kadar hemoglobin (r=-0,552 ;p=0,014). Simpulan: Ada hubungan antara kecukupan asupan zat besi dan kadar timbal dengan  kadar hemoglobin anak jalanan usia kurang dari 8 tahun di Kwasan Pasar Johar, Semarang.