Articles

Found 9 Documents
Search

Koefisien Perpindahan Massa pada Ekstraksi Aspal Buton dari Kabungka dan Bau-Bau dengan Pelarut n-Heksan

Majalah Forum Teknik UGM Vol 29, No 1 (2005)
Publisher : Majalah Forum Teknik UGM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7180.71 KB)

Abstract

Butonion  natural  asphalt  can be used for binder in road construction after its impurities were  removed  by  extraction  using  suitable  solvent.  Researches  on  extraction of Butonion asphalt  have been  done. However, most of them  are  explorative  research.This  experiment  tried  to find mass  transfer  coeficient for Butonion  asphalt  extraction.  The mass tronsfer  coefficient  will be  used  in  extraction  tower  design. In  this  experiment,  multi-stage  cross-cwrent  extraction  was  used  using  n-hexane  as  a solvent.  The number  of  stages was  seven.  Bitumen  obtained  was then  distilled to  separate  the  n-hexane. The operation  variables  were  :  size  of  solid,  rotation  and extTaction  time.The  relationship  of the  mass transfer  coefficient with other variables  can  be written  as:The  constant  values  of  Kabungka  asphalt  are  :  K=6.43558x10tt,  a=0.141569, b=0.2825804,  c =1.76857,  d=  -  1.381755,  e=t.636537x102 ;  those  of Bau-Bau  asphalt  are  : K=  6.3x  I0tta  = 0.0891,  b=  0.28258,  c=  L7699,  d = -1.3821Keywords  :  extraction,  mass transfer,  Butonion asphalt

Study of Gasohol as Alternative Fuel for Gasoline Substitution: Characteristics and Performances

International Journal of Renewable Energy Development Vol 3, No 3 (2014): October 2014
Publisher : Center of Biomass & Renewable Energy, Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1364.92 KB)

Abstract

Gasohol is a mixture of premium petrol (gasoline) with alcohol, in this case ethanol. The use of gasohol can reduce fuel consumption without having to modify the existing engine. Therefore, this research is conducted to study the characteristics and performance of gasohol in various mixing ratios, which includes analysis of physical properties and the use of gasohol in the machine. Results show that the addition of technical ethanol at 7.0169%v increases the value of gasohol vapor pressure on the value of 8.6682 psi (7.7 psi for regular gasoline). Gasohol with technical ethanol content above 30%v decreases vapor pressure, promotes phase separation, and causes a sharp drop in temperature from 40%v distillation. In term of corrosivity, gasohol with up to 50%v ethanol content has the same corrosion level with regular gasoline, which is corrosion level 1A. Based on gasohol characteristics test, it is known that gasohol with technical ethanol content below 20%v can be used as a fuel substitute for gasoline. Real-time performance test of gasohol in engines has shown that the addition of ethanol content in gasohol tend to increase the engine power at a certain compression ratio, but it also increases fuel consumption because the heat value of ethanol is lower than gasoline. Machine in gasohol with ethanol content below 20%v can operate smoothly without having to modify the engine. Based on the studies that have been done, gasohol in the range of 10%v ethanol content is well-functioned as a substitute for gasoline fuel and meets fuel specifications required by the General Director of Oil and Gas. The feasibility of using gasohol as an alternative fuel can be studied further.

PENCEMARAN UDARA DI RUANG PROSES PEMBATIKAN INDUSTRI RUMAH TANGGA BATIK: STUDI KASUS INDUSTRI RUMAH TANGGA BATIK DI KAMPUNG TAMAN KOTAMADYA YOGYAKARTA

Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 10, No 1 (2003)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi konsentrasi karbon monoksida, karbon dioksida, sulfur dioksida, suhu, kelembaban dan bau ruang kerja pembuatan batik sebagai akibat dari proses pembuatan batik dalam lingkungan kerja. Studi kasus dilakukan di industri rumahan (home indyustry) di kampung Taman Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dari bulan desember 1999 sampai januari 2000. Pengukuran parameter dilakukan dalam 2 rumah industri batik yang masing-masing menggunakan satu dan tiga kompor sebagai pemanas. Metode analisis data adalah analisis times series dan analisis grafis. Konsentrasi karbon monoksida berkisar antara 2,00-8,66 ppm, karbondioksida berkisar antara 372,498-472,885 ppm. Sulfurdioksida berkisara antara 0,00028-0,00268 ppm. Temperatur berkisar antara 29 oC-34 oC, sedangkan kelembaban berkisar antara 50,5 %-67%. Penelitian mengindikasikan bahwa ruang kerja batik telah terkontaminasi karbon monoksida yang beresiko terhadap kesehatan para pekerja. Ruang kerja pembuatan batik tidak nyaman.

Koefisien Perpindahan Massa pada Ekstraksi Aspal Buton dari Kabungka dan Bau-Bau dengan Pelarut n-Heksan

Forum Teknik Vol 29, No 1 (2005)
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Butonion  natural  asphalt  can be used for binder in road construction after its impurities were  removed  by  extraction  using  suitable  solvent.  Researches  on  extraction of Butonion asphalt  have been  done. However, most of them  are  explorative  research.This  experiment  tried  to find mass  transfer  coeficient for Butonion  asphalt  extraction.  The mass tronsfer  coefficient  will be  used  in  extraction  tower  design. In  this  experiment,  multi-stage  cross-cwrent  extraction  was  used  using  n-hexane  as  a solvent.  The number  of  stages was  seven.  Bitumen  obtained  was then  distilled to  separate  the  n-hexane. The operation  variables  were  :  size  of  solid,  rotation  and extTaction  time.The  relationship  of the  mass transfer  coefficient with other variables  can  be written  as:The  constant  values  of  Kabungka  asphalt  are  :  K=6.43558x10tt,  a=0.141569, b=0.2825804,  c =1.76857,  d=  -  1.381755,  e=t.636537x102 ;  those  of Bau-Bau  asphalt  are  : K=  6.3x  I0tta  = 0.0891,  b=  0.28258,  c=  L7699,  d = -1.3821Keywords  :  extraction,  mass transfer,  Butonion asphalt

Dekolorisasi dan Deoilisasi Parafin menggunakan Adsorben Zeolit, Arang Aktif dan Produk Pirolisis Batu Bara

Jurnal Rekayasa Proses Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesian wax production was reaching 50277 barrels in 2009. Although the wax production rate in Indonesia is quite high, it is still not enough to fulfill the demand. Therefore, Indonesia has to import wax from China. Unfortunately, Indonesian wax qualities, especially related to colour and hardness, are less compared with those from China. Local wax is more brownish yellow, soft and easily melted compared with the wax from China which is whiter, harder and difficult to melt. Many research activities have been conducted to improve quality of local wax. Among of them is with the use of adsorption method with adsorbent.Various adsorbents can be used, including activated carbon, zeolite, and coal pyrolysis product. The present work aim was to find the ability of forementioned adsorbent in purpose to improve the quality of wax, i.e. colour and texture, by decolorization dan deoilization process. Adsorbent was added to the wax at 90C and mixing was then conducted. Parameters under investigation were the influence of the ratio of wax to adsorbent and the optimum mixing time. Based on reduction of oil content and colour intensity, the best wax -adsorbent ratio was 6 : 6 with a mixing time of 50 minutes. Zeolite gives the best adsorption properties and high effectivity in deoilization and decolorization process. Keywords : adsorption, decolorization, deoilization, adsorbent, wax Produksi lilin di Indonesia mencapai 50.277 barrel pada tahun 2009. Walaupun produksi lilin di dalam negeri cukup tinggi, jumlah tersebut belum mencukupi permintaan dari masyarakat sehingga masih harus mengimport lilin dari Cina. Sayangnya, lilin dalam negeri kualitasnya lebih rendah dibandingkan lilin dari Cina. Lilin dalam negeri masih berwarna kuning kecoklatan, lunak dan mudah meleleh sedangkan lilin produksi Cina jauh lebih putih, keras dan lebih lama meleleh. Banyak penelitian telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas lilin. Proses adsorbsi menggunakan adsorben merupakan salah satunya. Berbagai jenis adsorben dapat digunakan, seperti arang aktif, zeolite, maupun produk pirolisis batu bara. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan adsorpsi dari masing-masing adsorben tersebut dalam meningkatkan kualitas, warna dan struktur lilin, dengan cara dekolorisasi dan deoilisasi. Adsorben ditambahkan ke lilin pada suhu sekitar 90C dan dilakukan pengadukan. Parameter yang dikaji dalam penelitian ini adalah pengaruh rasio lilin : adsorben dan waktu pengadukan optimum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio lilin : adsorben terbaik adalah 6:6 bila dilihat dari pengurangan kadar minyak dan kadar zat warna, dengan waktu pengadukan terbaik adalah 50 menit. Zeolit memberikan sifat penjerapan terbaik dan efektivitas tinggi dalam proses deoilisasi dan dekolorisasi. Kata kunci : adsorpsi, dekolorisasi, deoilisasi, adsorben, lilin

Prediksi Kesetimbangan Adsorpsi Uranium pada Air dan Sedimen pada Berbagai pH

Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan yang melibatkan uranium sebagai bahan bakar nuklir berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Uranium merupakan salah satu logam berat berbahaya dan bersifat radioaktif sehingga perlu diketahui penyebarannya di alam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model kesetimbangan adsorpsi uranium pada air dan sedimen. Model yang disusun diharapkan sesuai untuk berbagai pH air. Percobaan adsorpsi uranium dijalankan dalam sistem batch. Air limbah sebanyak 100 ml yang mengandung uranium dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan pH larutan diatur menjadi 3, 5, 7, atau 9. Sebanyak 0,5 g tanah dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Erlenmeyer ditempatkan dalam shaker dengan kecepatan 100 rpm selama 6 jam dan dibiarkan selama 24 jam sampai tercapai kesetimbangan. Filtrat yang terbentuk disaring dan dianalisis menggunakan spektrofotometer. Lima model kesetimbangan isotermal diajukan untuk mendekati data kesetimbangan. Sebagai hasil, kesetimbangan Chapman cocok dalam mendekati data percobaan pada berbagai pH air. Dari hasil perhitungan diketahui ion UO22+ memiliki nilai parameter α, β, γ masing-masing sebesar 25 mg/g, 2,3 l/mg, dan 18,1 sedangkan untuk ion (UO2)3(OH)7- masing-masing sebesar 19 mg/g, 0,095 l/mg, dan 3,4. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai data pendukung bagi analisis dampak lingkungan dalam pembangunan PLTN. Kata kunci: adsorpsi, kesetimbangan, uranium, prediksi, sedimen, pH Activities involving uranium as nuclear fuel has potentially polluted the environment. Since uranium is a toxic and radioactive heavy metal, it is necessary to identify its distribution in nature. This study aims to define uranium adsorption equilibrium model in water and sediment. The model is also supposed to be appropriate for various pH of water. Experiments were performed in a batch system. One hundred mL of waste water for National Atomic Energy Agency (BATAN) containing uranium was placed in an erlenmeyer flask and the pH was varied at 3, 5, 7, or 9. Soil was used as adsorbent. The process was shaken at 100 rpm for six hours and then was left for 24 hours to reach the equilibrium. The resulting filtrate was filtered and analyzed using a spectrophotometer. Five different isotherm equilibrium models were proposed in order to fit the equilibrium experimental data. It was found that Chapman equilibrium could fit the data more thoroughly than the other models. From the calculation, it was known that UO22+ parameter values of α, β, γ were 25 mg/g-soil, 2,3 l/mg, and 18,1 respectively, while for (UO2)3(OH)7- were 19 mg/g, 0,095 l/mg, and 3,4 respectively. It is expected that this research will be useful as supporting data for environment impact analysis in nuclear power plants development. Keywords: adsorption, equilibrium, uranium, sediment, pH

PREDIKSI KESETIMBANGAN ADSORPSI URANIUM PADA AIR DAN BERBAGAI SEDIMEN

Jurnal Forum Nuklir JFN Vol 9 No 1 Mei 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.08 KB)

Abstract

PREDIKSI KESETIMBANGAN ADSORPSI URANIUM PADA  AIR DAN BERBAGAI SEDIMEN. Kegiatan penelitian, pengembangan, penambangan, dan pemurnian uranium berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Uranium merupakan salah satu logam berat berbahaya karena bersifat racun dan radioaktif sehingga perlu diketahui sampai sejauh mana sebaran uranium di lingkungan. Penelitian ini bertujuan meramalkan model kesetimbangan adsorpsi uranium yang dapat berlaku umum pada berbagai sedimen. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai  data dukung bagi kegiatan analisis dampak lingkungan dalam pembangunan PLTN. Percobaan adsorpsi uranium dijalankan dalam sistem batch. Air limbah sebanyak 100 mL yang mengandung uranium dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan pH larutan diatur menjadi 7. Sebanyak 0,5 g sedimen dengan berbagai kandungan bahan organik, dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Erlenmeyer ditempatkan dalam shaker dengan kecepatan 100 rpm selama 6 jam dan dibiarkan selama 24 jam sampai tercapai kesetimbangan. Filtrat yang terbentuk disaring dan dianalisis menggunakan spektrofotometer.  Lima model kesetimbangan isotermal diajukan untuk mendekati data kesetimbangan. Kesetimbangan Chapman cocok dalam mendekati data percobaan pada berbagai sedimen dengan berbagai kadar bahan organik. Hasil olah data menunjukkan hanya bahan organik yang signifikan berperan dalam adsorpsi uranium. Berdasarkan asumsi hanya bahan organik yang mengadsorpsi uranium diajukan suatu metode yang dapat dipakai untuk meramalkan kesetimbangan adsorpsi uranium yang berlaku umum pada berbagai  sedimen. Sebagai hasil, kesetimbangan Chapman memiliki nilai parameter α, β, γ berturut-turt sebesar 255 mg/g bahan organik; 0,049 L/mg, dan 1,9.

KARAKTERISASI ALKYD RESIN DARI GLISEROL DAN ASAM ADIPAT YANG DIMODIFIKASI DENGAN MINYAK BIJI KARET SEBAGAI KOMPONEN SURFACE COATING YANG RAMAH LINGKUNGAN

Geosapta Vol 4, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Modifikasi alkyd resin dengan minyak nabati banyak dikembangkan untuk diaplikasikan dalam industri cat dan coating. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik produk alkyd resin yang terbentuk dari reaksi poliesterifikasi gliserol dan asam adipat yang termodifikasi minyak biji karet. Sintesis alkyd resin yang dilakukan menggunakan proses monogliserida yang terdiri atas dua tahap dan reaksi dilakukan dengan variabel perbandingan ekivalen OH/COOH 1,0 – 1,3 mgek/mgek. Tahap pertama adalah reaksi alkoholisis antara minyak biji karet dengan gliserol di dalam labu leher tiga dengan kecepatan pengadukan dan suhu reaksi dijaga tetap. Selanjutnya adalah tahap esterifikasi yang dilakukan dengan mencampurkan asam adipat ke dalam reaktor batch berisi hasil tahap satu. Hasil karakterisasi produk alkyd resin menunjukkan adanya pengaruh perbandingan ekivalen OH/COOH (Rek) pada karakteristik produk tersebut. Dari analisis FTIR ditemukan adanya gugus ester, hidroksil, dan karboksil. Sedangkan dari analisis bilangan asam diketahui bahwa semakin besar nilai Rek, bilangan asam dalam produk alkyd resin semakin kecil. Sementara itu uji viskositas memberikan hasil bahwa viskositas cenderung semakin besar dengan semakin besarnya nilai Rek, yang menjadi indikasi bahwa berat molekul relatif polimer yang terbentuk semakin meningkat dengan besarnya nilai Rek. Kata-kata kunci: alkyd resin, alkoholisis, esterifikasi, minyak biji karet, karakterisasi

PERANAN BAHAN MAGNET DAN KEMAGNETAN UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH NUKLIR DAN NON NUKLIR

Jurnal Sains Materi Indonesia Edisi Khusus Oktober 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Material - National Nuclear Energy Agency of

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERANAN BAHAN MAGNET DAN KEMAGNETAN UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH NUKLIR DAN NON NUKLIR. Sistem magnet dan elektromagnet telah ditemukan lebih dari satu abad yang lalu. Pada awalnya sistem ini diaplikasikan pada pembuatan generator untuk menghasilkan energi listrik. Dalam perkembangannya berbagai bidang seperti industri, kedokteran, pertambangan, perminyakan dan lingkungan juga memanfaatkan sistemini.Manajemen limbah pada umumnya telah banyak dipresentasikan dengan berbagai prosedur alternatif penanganan limbah dan sistem magnet dan elektromagnet banyak dikembangkan untuk berbagai keperluan seperti : separasi komponen, pencegahan korosi,menurunkan tegangan muka, pembentukan kristal, meningkatkan fungsi desinfektan dan pertumbuhan kecambah. Walaupun belum diketahui secara pasti bagaimana mekanisme efek sistem magnet dan elektromagnet berfungsi untuk beberapa tujuan, terutama pada teknik separasi atau bioteknologi, namun alat komersial yangmenggunakan sistemmagnet dan elektromagnet telah beredar luas, misalnya unit pengolahan air, pengolahan limbah (gas, cairan, dan padatan), berbagai alat medis, dan alat industri terutama pertambangan dan perminyakan. Sejak tiga dasa warsa ini, sistem magnet dan elektromagnet banyak diteliti dan dikembangkan, untuk pengolahan limbah berbahaya termasuk bahan radioaktif atau nuklir. Dimana polemik tentang limbah terutama bahan nuklir dewasa ini makin terasa. Di satu sisi manfaat bahan nuklir untuk berbagai bidang seperti industri energi, medis, dan pertanian telah dapat dibuktikan, disisi lain masyarakat masih trauma dengan resiko dan akibat yang ditimbulkan pada limbah yang dihasilkan dan ketika terjadi insiden kecelakaan.