Donny Kristanto Mulyantoro
Balai Litbang GAKI

Published : 14 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Media Gizi Mikro Indonesia

Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang GAKI, Sikap dan Praktek dengan Kualitas Garam Beriodium di Rumah Tangga

Media Gizi Mikro Indonesia Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Media Gizi Mikro Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The use of iodized salt for prevention programs of Iodine Deficiency Disorders (IDD) was still facing many obstacles. Poor quality of iodized salt and non iodized salt was still circulating in the market. The level of knowledge, attitudes and practices of consumers on IDD prevention can influence both selection and purchase of standardized iodized salt which in turn will affect the supply of iodine at household level. This research was conducted in District Pakis of Magelang regency with cross sectional design. Samples of eligible women aged between 18-45 years were selected at random. The level of knowledge was measured using a structured questionnaire. Attitudes were measured using the statement of attitude scale. Iodine content in salt was measured using the iodometric method. The purpose of the study was to determine the relationships between the level of knowledge, attitudes and practices on the quality of iodized salt consumed in the household. The results of this study indicate that there is no relationships between the level of knowledge and attitudes to the quality of household iodized salt. Good level of knowledge obtained from the study subjects only simple knowledge of the term and how prevent IDD use iodized salt instead of how to perform the selection of iodized salt by iodine content in the salt test.The level of a good knowledge of IDD not guarantee a salt containing iodine consumption according to standard ISO. This happens because there are still many low quality iodized salt and non iodized salt sold in the market. Keywords: iodized salt, practice, attitude, level of knowledge.   ABSTRAK Program garam beriodium untuk penanggulangan GAKI masih banyak menemui kendala. Kualitas garam beriodium yang jelek dan garam non iodium masih banyak beredar di pasaran. Tingkat pengetahuan, sikap dan praktek konsumen tentang upaya penanggulangan GAKI dapat mempengaruhi pemilihan dan pembelian garam beriodium sesuai SNI yang pada gilirannya akan mempengaruhi penyediaan sumber iodium di rumah tangga. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang dengan disain cross sectional. Sampel wanita usia subur berumur antara 18-45 tahun yang dipilih secara random. Tingkat pengetahuan diukur menggunakan kuesioner terstruktur. Sikap diukur menggunakan daftar pernyataan sebagai skala sikap. Kadar iodium dalam garam diukur menggunakan metode iodometri. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap dan praktek terhadap kualitas garam beriodium yang dikonsumsi di rumah tangga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap dengan kualitas garam beriodium di rumah tangga. Tingkat pengetahuan yang baik dari responden hanya diperoleh dari pengetahuan sederhana tentang istilah GAKI dan cara penanggulangannya menggunakan garam beriodium dan bukan dari bagaimana cara melakukan pemilihan garam beriodium dengan melakukan tes kandungan iodium dalam garam. Tingkat pengetahuan yang baik tentang GAKI dan upaya penanggulanggannya tidak menjamin mendapatkan garam konsumsi mengandung iodium sesuai standar SNI. Hal ini terjadi karena masih banyak ditemukan garam beriodium dengan kualitas rendah dan garam non iodium dijual di pasaran. Kata kunci: garam beriodium, praktek, sikap, tingkat pengetahuan.

Suplementasi Besi Mampu Memperbaiki Kadar Hormon TSH Anak Sekolah di Daerah Endemik GAKI

Media Gizi Mikro Indonesia Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Media Gizi Mikro Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Multiple nutritional and environmental influences contribute to the prevalence and severity of IDDs in iodine deficient areas, including iron. In many developing countries, children are at high risk of both goiter and iron deficiency anemia. Iron deficiency adversely affects thyroid metabolism and may reduce the efficacy of iodized salt. The aim of this study was to investigate whether iron supplementation can improve thyrothrophin hormone in school children in iodine deficient areas. A trial of iron supplementation was carried out in an area of endemic goiter in Kertek Wonosobo (n = 35), another group given placebo (n = 35). At baseline, anthropometri, TSH, ferritin, urinary iodine excretion and level of iodized salt were measured. After 13 weeks supplementation, the same data collecting was conducted. Supplement’s compliance during the study reached 100%. Two subject were excluded from from the analysis because they have extreme bio chemical data than the overall average. Statistical test showed no differences in age and gender proportion between groups. There were no significant difference in nutritional status, level of EIU, and level of iodine in salt between groups after the intervention, but there was a significant increase in ferritin level in the iron group (31.0 vs 44.8 μg/l, p<0.05). There were a significant difference in protein and iron intake, but no significant different in energy intake.These two group did not differ in TSH level change. After taking into account the modification variable effect of adequate protein > 70% RDA, the effect of iron supplementation was proved to be effective in changing TSH level (p <0.05). Our result indicate that increase in iron status can improve TSH hormone after considering adequate protein intake (RDA). Keywords : IDD, iron supplementation, thyroid function.   ABSTRAK Di daerah yang kekurangan iodium, pengaruh gizi dan lingkungan berkontribusi pada prevalensi dan tingkat keparahan GAKI, termasuk defisiensi mikronutrien lain diantaranya zat besi. Di negara berkembang, banyak anak-anak menderita GAKI dan defisiensi besi secara bersamaan. Defisiensi besi dapat mengganggu metabolisme tiroid dan mengurangi efektivitas garam beriodum. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh suplementasi besi dosis 60 mg/minggu terhadap hormon tiroid pada anak sekolah di daerah endemik GAKI. Suplementasi besi diberikan pada anak sekolah dasar umur 9-12 tahun di daerah dengan kasus kretin, di Kertek Wonosobo (n = 35) dan kelompok lainnya mendapatkan plasebo (n = 35). Awal penelitian dilakukan pengukuran antropometri, kadar TSH, ferritin, UIE dan kadar garam. Setelah 13 minggu suplementasi dilakukan pengukuran yang sama. Tingkat kepatuhan subyek mengonsumsi bahan intervensi 100%, tetapi 2 orang dikeluarkan dari analisis karena data biokimia yang ekstrim dibandingkan rerata keseluruhan. Umur dan jenis kelamin subyek tidak berbeda secara statistik. Setelah suplementasi, status gizi, kadar UIE dan kadar iodium dalam garam tidak berbeda nyata, tetapi ada peningkatan kadar ferritin yang signifikan pada kelompok Fe (31.0 menjadi 44.8 μg/l, p <0.05). Ada perbedaan asupan protein dan zat besi yang signifikan (p <0.05) antara kelompok Fe dan plasebo, tetapi tidak pada asupan energi. Tidak ada perbedaan perubahan kadar TSH yang signifikan antara kelompok Fe dan plasebo. Setelah memperhitungkan efek modifikasi (kecukupan protein >70% AKG), terbukti suplementasi besi berpengaruh terhadap perubahan TSH (p <0.05). Peningkatan status besi dapat memperbaiki hormon TSH setelah memperhitungkan tingkat kecukupan protein (AKG). Kata kunci: GAKI, suplementasi besi, fungsi tiroid.

Hubungan Kadar Iodium dalam Garam Beriodium di Rumah Tangga dengan Kecukupan Iodium Berdasarkan Nilai Ekskresi Iodium Urin (EIU) pada Wanita Usia Subur

Media Gizi Mikro Indonesia Vol 5, No 1 (2013)
Publisher : Media Gizi Mikro Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Iodine Deficiency Disorder (IDD) was one of the nutrition problems in Indonesia that causes decrease of human resource quality. The main cause of iodine deficiency was the environmental factors where land and water in that area were poor of iodine. Childbearing age woman was one of the most vulnerable group to have IDD. Iodine fortification in salt was one of the approach to control iodine deficiency problem. The aim of this study was to measure the relationship between iodine level of iodized salt in the household with the iodine allowance based on Urinary Excretion of Iodine (UEI) value. This was an observational study with cross sectional design and conducted in Kragilan village, Pakis sub district, Magelang. A total of 68 women age 18 – 45 years was measured for iodine level of iodized salt in the household, UEI which reflect iodine allowance, the amount of iodine comsumption dan recall for iodine contained food consumtion. The result of this study showed that median UEI was 124.6 μg/L, among subject of this study, the proportion who had iodine deficiency was 41.1% and excess 5.9%. Mean iodine level of iodized salt in the household was 19.58 ppm and 52.9% had ≥ 30 ppm KIO3. The pearson correlation statistic analysis showed there was a significant relationship between iodine level of iodized salt in the houshold with the iodine allowance based on urinary excretion of iodine (UEI) value (rho=0,5 p<0,01). Based on multi variable analysis, the regression equation was Y = 22.199 + 6.076 X1. With that equation, the level of iodine in the salt for sufficient allowance of iodine should be in the range of 13 – 29 ppm iodine or 22 – 49 ppm KIO3. Keywords: iodine, iodized salt, allowance of iodine, UEI, women.   ABSTRAK Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) adalah salah satu masalah gizi di Indonesia yang akan mengakibatkan penurunan kualitas sumber daya manusia. Kekurangan iodium terutama disebabkan karena faktor lingkungan di mana tanah dan air setempat kurang mengandung iodium. Pada daerah tersebut Wanita Usia Subur (WUS) adalah segmen penduduk yang rawan mengalami GAKI. Sebagai upaya penanggulangan, saat ini dilakukan fortifikasi iodium pada garam. Tujuan penelitian ini untuk mengukur hubungan antara kadar iodium dalam garam beriodium di rumah tangga dengan kecukupan iodium berdasarkan nilai ekskresi iodium urin (EIU). Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain potong lintang. Lokasi penelitian di Desa Kragilan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Sebanyak 68 wanita usia 18 – 45 tahun terlibat dalam penelitian ini, yang diukur kadar iodium dalam garam yang digunakan di rumah tangga, kecukupan iodium berdasarkan kadar iodium urin (EIU), konsumsi garam beriodium dan makanan sumber iodium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa median EIU sebesar 124,6 μg/L, proporsi subyek penelitian mengalami defisiensi iodium sebesar 41,1%, dan mengalami excess sebesar 5,9%. Rata-rata kadar iodium dalam garam beriodium di rumah tangga sebesar 19,6 ppm dan proporsi garam beriodium memenuhi syarat (≥ 30 ppm KIO3) sebesar 52,9%. Hasil analisis korelasi pearson menunjukkan ada hubungan bermakna antara kadar iodium dalam garam beriodium di rumah tangga dengan kecukupan iodium berdasarkan nilai EIU (rho = 0,5, p < 0,01). Hasil analisis multi variabel diperoleh persamaan Y = 22,199 + 6,076 X1. Dengan persamaan tersebut, untuk memenuhi kebutuhan iodium, kadar iodium dalam garam beriodium berkisar antara 13 – 29 ppm iodium atau 22 – 49 ppm KIO3. Kata kunci: iodium, garam beriodium, kecukupan iodium, EIU, wanita.

Pengaruh Suplementasi Ganda Iodium dan Zat Besi (Fe) terhadap Kadar Tsh, Ft4, T3 dan Ferritin Anak Sekolah Dasar

Media Gizi Mikro Indonesia Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH SUPLEMENTASI GANDA IODIUM DAN ZAT BESI (Fe) TERHADAP KADAR TSH, fT4, T3 DAN FERRITIN ANAK SEKOLAH DASAR   Effect of Iodine and Iron (Fe) Dual Supplementation on The Levels of TSH, fT4, T3 and Ferritin in Primary School Children ABSTRACT Background. Intercorrelations between iodine and iron (Fe) on the function of the thyroid gland and the status of iron (Fe) affects the effectiveness of Iodine deficiency disorders (IDD) prevention and anemia programs. Communities group prone to nutritional problems are school age children who are in growth period. Objective. This study aims to compare the effect of iodine iron (I+Fe) double supplementation with single supplementation of iodine (I) and single supplementation of iron (Fe) on the function of the thyroid gland and the status of iron (Fe). Method. The study was a randomized double-blind controlled trial. Provision of interventions done by randomization with block permutations dividing study subjects into four groups: Iodine+iron (I+Fe) dual supplement group, iodine (I) only supplement group, iron (Fe) only suplement group and placebo group. Subjects were primary school children aged 9-12 years. Interventions conducted for 13 weeks and thyroid function measured by serum levels of TSH, fT4 and T3, while the iron status based on ferritin levels. Results. Supplementation of Iodine and Iron can increase ferritin and T3 levels, while supplementation of I+FeI, I or Fe can increase levels of fT4 although it is not statistically significant. Ancova showed there is a mechanism of mutual influence between ferritin, fT4 and T3. Conclusion. There is no differences between dual supplementation of iodine and iron with single supplementation of iodine or iron in alteration of ferritin, TSH, fT4, and T3 serum. Keywords: iodine, iron, supplementation.   ABSTRAK Latar belakang. Interkorelasi antara iodium dan zat besi (Fe) terhadap fungsi kelenjar tiroid dan status zat besi (Fe) mempengaruhi efektifitas program penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) dan anemia. Kelompok masyarakat yang rawan terhadap kedua masalah gizi tersebut adalah anak usia sekolah yang sedang dalam masa pertumbuhan. Tujuan. Analisis ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh suplementasi ganda iodium zat besi (Fe) dengan suplementasi tunggal iodium dan suplementasi tunggal zat besi (Fe) terhadap fungsi kelenjar tiroid dan status zat besi (Fe). Metode. Desain penelitian adalah randomized double blind contolled trial. Pemberian intervensi dilakukan dengan cara randomisasi dengan blok permutasi yang membagi partisipan penelitian ke dalam 4 kelompok yaitu kelompok suplementasi ganda iodium+zat besi (I+Fe), kelompok suplementasi tunggal iodium (I), kelompok suplementasi tunggal zat besi (Fe) dan kelompok placebo. Partisipan penelitian adalah anak sekolah dasar umur 9 – 12 tahun. Intervensi dilakukan selama 13 minggu dan fungsi tiroid diukur berdasarkan kadar TSH, fT4 dan T3 serum, sedangkan status besi berdasarkan kadar feritin serum. Hasil. Pemberian suplementasi Iodium dan Fe (I+Fe) dapat meningkatkan kadar feritin dan T3. Pemberian suplementasi Fe+I, I atau Fe dapat meningkatkan kadar fT4 walaupun secara statistik tidak bermakna. Uji ancova menunjukkan adamekanisme saling mempengaruhi antara feritin, fT4 dan T3. Kesimpulan. Tidak ada perbedaan nyata antara suplementasi ganda iodium zat besi (Fe) dengan suplementasi tunggal iodium atau zat besi (Fe) terhadap perubahan ferritin, TSH, fT4, dan T3 serum. Kata kunci: iodium, zat besi, suplementasi.

PENGGUNAAN GARAM BERIODIUM RUMAH TANGGA DI DESA NGABEAN KECAMATAN SECANG

Media Gizi Mikro Indonesia Vol 3, No 2 (2012): Edisi Juni 2012, Vol 3 No 2
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program garam beriodium banyak mengalami hambatan mulai dari tingkat produsen garam sampai tingkat masyarakat. Situasi saat ini menunjukkan banyaknya beredar garam dan non iodium di pasaran. Data juga menunjukkan bahwa masih banyak rumah tangga yang tidak mengkonsumsi garam beriodium kualitas baik. Di samping itu sifat iodium dalam garam yang mudah rusak jika tidak ditangani dengan baik akan menghambat keberhasilan pelaksanaan penanggulangan GAKI. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang pengetahuan dan perilaku ibu rumah tangga terhadap pemilihan, penyimpanan dan penggunaan garam beriodium di rumah tangga serta faktor– faktor penunjang dan penghambat. Penelitian akan dilakukan di Desa Ngabean, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Penelitian melibatkan 28 informan yang terdiri dari ibu rumah tangga 24 orang, kepala desa 2 orang, tokoh masyarakat 1orang, bidan desa 1 orang dan penjual garam beryodium 1 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan Focus Group Discussion (FGD), observasi, dan wawancara. Informan mengenali dan mengetahui jenis garam yang beriodium. Informan memilih garam karena ada label beriodium, warnanya putih dan bersih. Masyarakat telah menyimpan garam di toples tertutup, untuk menghindari kerusakan akibat basah oleh air, dan ditempatkan jauh dari kompor. Pada umumnya informan tidak tahu cara menambahkan garam beriodium yang baik kaitannya dengan kehilangan iodium selama pemasakan. Penggunaan garam beriodium untuk memasak didasarkan kebiasaan dan pengalaman. Seseorang cenderung membeli kebutuhannya di tempat penjualan yang dekat rumah. Harga bukan merupakan faktor yang mempengaruhi informan untuk membeli garam. Ketersediaan garam beriodium yang memenuhi standar (30-80 ppm) di setiap warung akan menjamin ketersediaan garam beriodium di rumah tangga.