Dede Mulyanto
Kampus UNPAD, Bandung Jawa Barat, Indonesia

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

EKONOMI PEKARANGAN DI PEDESAAN JAWA

KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk menganalisa peran pekarangan sebagai sumber ketersediaan pangan, energi rumahtangga, dan uang tunai bagi rumahtangga petani. Bagi orang Jawa lahan tidak hanya tempat bekerja mereka tetapi sebagai sebuah status sosial, ekoncomi dan politik di masyarakat. Disinilah pekarangan, sebuah lahan kecil di rumah, mengambil peran ketika petani menghadapai kesulitan ekonomi yang dikarenakan lahan garapannya tidak menguntungkan. Rumusan masalahnya adalah bagaimana karakteristik desa Wetankali dan bagaimana bentuk pemanfaatan ekonomi pekarangan yang terjadi di sana. Metode penelitian yang digunakan adalah etnografis disertai survei dengan kuisioner dan analisis data sekunder. Penelitian ini dilakukan di Desa Wetankali Kecamatan Kutocilik Kabupaten Banyumas. Pekarangan bagi masyarakat Jawa merupakan benteng yang dengannya mereka dapat bertahan hidup. Pekarangan ditanami beberapa jenis tanaman ynag dapat dijual untuk menambah pendapatan rumahtangga petani. Bersaamaan dengan pertumbuhan penduduk yang naik, pekarangan berubah bentuk menjadi semakin sempit karena masyarakat lebih memilih menggunakan lahannya untuk hunian. Akibatnya, untuk rumahtangga miskin, sumber makanan pendukung dan energi murah mulai menghilang. The objective of this article is to analyse the role played by house yards or home garden as source of food storage, household energy, and cash for peasant household. For Javanese peasant, yard was not only a  place for work, but also a space to represent economy and social status. The importance of house yards is felt in difficult situation such as economic crises and corpse failure. Research questions in this anysisis are how about the characteristics of Wetankali village and how about the pattern of using home garden or home yard there. Research method used is etnography with survey using questionaire and secondary data analysis. The research was conducted in Watankali, Kutocilik Banyumas. For Javanese, yards become a place for final defence. Peasent often plant their home garden with several kind of plants that have economical value to sell so that they will earn money from it. Along with the tendency of population growth, traditional home garden is changed to become housing complex. Consequently, for poor household, the source of food suplement and cheap energy deteriorates.

Konsep Proletarisasi dan Akumulasi Primitif dalam Teori Kependudukan Marxis

Padjadjaran Journal of Population Studies Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Padjadjaran Journal of Population Studies

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.023 KB)

Abstract

Istilah ‘proletarisasi’ lekat kaitannya dengan teori kependudukan marxis. Sebagai konsep keilmuan, proletarisasi tampaknya tidak punya tempat di dalam teori-teori kependudukan di luar tradisi marxis. Tulisan ini mencoba memperkenalkan kembali teori proletarisasi dengan mengajukan beberapa contoh empiris dari sejarah Jawa serta koherensinya dengan konsep-konsep lain dalam tradisi marxis yang terkait dengan proses perubahan sosial yang diakibatkan oleh penetrasi corak produksi kapitalis. Dalam teori kependudukan marxis, proletarisasi merupakan bagian dari proses akumulasi primitif. Akumulasi primitif itu sendiri menunjukkan bahwa perubahan sosial yaitu penetrasi corak produksi kapitalis sedang berlangsung. Penciptaan kelas pekerja modern merupakan prasyarat utama di samping komodifikasi tanah.Kata Kunci: marxis, perubahan sosial, corak produksi kapitalis, proletar

Karl Marx : The Anthropologist

UMBARA Indonesian Journal of Anthropology Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.9 KB)

Abstract

EKONOMI PEKARANGAN DI PEDESAAN JAWA

KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk menganalisa peran pekarangan sebagai sumber ketersediaan pangan, energi rumahtangga, dan uang tunai bagi rumahtangga petani. Bagi orang Jawa lahan tidak hanya tempat bekerja mereka tetapi sebagai sebuah status sosial, ekoncomi dan politik di masyarakat. Disinilah pekarangan, sebuah lahan kecil di rumah, mengambil peran ketika petani menghadapai kesulitan ekonomi yang dikarenakan lahan garapannya tidak menguntungkan. Rumusan masalahnya adalah bagaimana karakteristik desa Wetankali dan bagaimana bentuk pemanfaatan ekonomi pekarangan yang terjadi di sana. Metode penelitian yang digunakan adalah etnografis disertai survei dengan kuisioner dan analisis data sekunder. Penelitian ini dilakukan di Desa Wetankali Kecamatan Kutocilik Kabupaten Banyumas. Pekarangan bagi masyarakat Jawa merupakan benteng yang dengannya mereka dapat bertahan hidup. Pekarangan ditanami beberapa jenis tanaman ynag dapat dijual untuk menambah pendapatan rumahtangga petani. Bersaamaan dengan pertumbuhan penduduk yang naik, pekarangan berubah bentuk menjadi semakin sempit karena masyarakat lebih memilih menggunakan lahannya untuk hunian. Akibatnya, untuk rumahtangga miskin, sumber makanan pendukung dan energi murah mulai menghilang. The objective of this article is to analyse the role played by house yards or home garden as source of food storage, household energy, and cash for peasant household. For Javanese peasant, yard was not only a  place for work, but also a space to represent economy and social status. The importance of house yards is felt in difficult situation such as economic crises and corpse failure. Research questions in this anysisis are how about the characteristics of Wetankali village and how about the pattern of using home garden or home yard there. Research method used is etnography with survey using questionaire and secondary data analysis. The research was conducted in Watankali, Kutocilik Banyumas. For Javanese, yards become a place for final defence. Peasent often plant their home garden with several kind of plants that have economical value to sell so that they will earn money from it. Along with the tendency of population growth, traditional home garden is changed to become housing complex. Consequently, for poor household, the source of food suplement and cheap energy deteriorates.

ORANG KALANG, CINA, DAN BUDAYA PASAR DI PEDESAAN JAWA

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.401 KB)

Abstract

This essay is a preliminary analysis on social condition of Chinese people as well as the Kalang of Java in relation to their social identity as ‘merchant family’. Both of them are minority groups of people in rural Java. Though ethnographical research in a Javanese village in Banyumas District, Central Java for four months, I realised that the Chinese and the Kalang are identified by the Javanese as ‘merchant family’ based on ‘market-place culture’ (budaya pasar). Accordingly, market-place culture can be defined as collective way of life that placed local trading activity and livelihood as a main socio-economic orientation of the family. Meanwhile, the Javanese, as dominant ethnic group in the village, see themselves and been seen by Chinese and the Kalangs as thani or traditional land cultivator who hold ‘land-culture’ (budaya lahan) as their main socio-economic orientation. Among their Javanese neighbours, the Chinese and the Kalangs’ social identity is accepted through reproducing their myth of origin and to differentiate their group norms and values.