I Made Muliarta
Bagian Faal, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Published : 36 Documents
Articles

Found 36 Documents
Search

PELATIHAN PLIOMETRIK DEPTH JUMP LEBIH MENINGKATKAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI DARIPADA PELATIHAN PLIOMETRIK BOX JUMP SISWA PESERTA EKSTRAKURIKULER BOLA VOLI SMK NEGERI 1 PETANG Jaya, I Putu Prisa; Tirtayasa, Ketut; Muliarta, I Made; Sri Handari Adiputra, Luh Made Indah; Purnawati, Susy; Griadhi, I Putu Adiartha
Sport and Fitness Journal Volume 6, No.3, September 2018
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2018.v06.i03.p02

Abstract

ABSTRACTThe basic techniques of volleyball used to use muscular group in our body, especially the leg’s muscles that is facilitating the springboard movement. Explosive power is the ability of muscles to exert maximum force in a very quick time. Leg muscle explosive power is one of the essential components required in the sport of volleyball particular in the motion of smash, passing and blocking hat needs to be improved by training plyometrics. The training that were conducted during this research are the plyometric depth jump and plyometric box jump training using the principle of progressive load with 3 times frequencies a week within 6 weeks. The aim of this study is to compare the explosive power of training leg muscle. This study use a randomized experimental design with pre test and post test group design for six weeks with 3 times frequencies a week. The sample’s numbers is 32 participants that was divided into two groups. The first group was given training in plyometrics depth jump and the second group was given training plyometrics box jump. The explosive power of leg muscle is measured by using a jump DF which measured before and after training for each groups. The result of this research is shown before training in group I is 42.25 ± 3.92 cm and 51.81 ± 4.41cm after training (p <0.05). While, in group II the mean shows 40.25 ± 5.14 cm before training and 45.25 ± 5.07 cm after training (p <0.05). Training in group I can increase explosive power leg muscle than group II (p <0.05). Based on the result, it is concluded that the plyometric depth jump training is more better than the plyometric box jump training in increasing explosive power leg muscle for the students of volley ball extracurricular at SMK Negeri 1 Petang.Keywords: plyometrics depth jump training and box jump, explosive power leg muscle, sports volleyball.
KADAR KORTISOL DARAH MAHASISWA FK UNUD SELAMA UJIAN PADA PEMAKAIAN LAMPU FLORESEN SPEKTRUM PENUH DAN LAMPU FLORESEN BIASA Adiartha Griadhi, I Putu; Muliarta, I Made
Medicina Vol. 39, No. 1 Januari 2008
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerangan artifisial dapat mengakibatkan keadaan yang dikenal dengan nama maliluminasi, tanpa memiliki spektrum cahaya biru dan merah. Maliluminasi akan menempatkan manusia dalam kondisi stres dan memerlukan suatu adaptasi. Proses adaptasi dapat ditunjukkan dengan pengukuran kadar kortisol dalam darah sebagai suatu hormon stres. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat perbedaan kadar kortisol darah pada mahasiswa yang sedang ujian pada pemakaian penerangan berspektrum penuh dan penerangan artifisial biasa. Penelitian ini menggunakan post test only group design dengan sampel berpasangan yang melibatkan 30 mahasiswa Fakultas Kedokteran Unud. Sampel dipasangkan satu-satu berdasarkan variabel tipe kepribadian dan tingkat kebugaran jasmani sehingga akan ada 15 pasang sampel. Uji penelitian memakai uji t sampel berpasangan. Hasil penelitian menujukkan bahwa kadar kortisol pada pemakaian lampu berspektrum penuh dan lampu biasa sebesar 10, 69 + 1,20 dan 9,11 + 0,95 ?g/dL. Perbedaan ini tidak bermakna secara statistik (P>0,05). Namun demikian berdasarkan analisis terhadap jenis kelamin diperoleh perbedaan bermakna kadar kortisol dan tekanan darah (P<0,05), lebih rendah pada perempuan dibandingkan pada laki-laki. Intensitas pemaparan dan lama pemaparan pada subyek penelitian dipikirkan sebagai variabel yang mungkin berpengaruh terhadap subyek penelitian. Perlu dilakukan penelitian lain untuk dapat melengkapi data tentang pengaruh spektrum penerangan pada manusia.
PEMBERIAN WORKPLACE STRETCHING EXERCISE DAN MODIFIKASI KONDISI KERJA DAPAT MENURUNKAN KELUHAN MUSKULOSKLETAL DAN KELELAHAN PADA PEKERJA PEMBUAT DODOL TRADISIONAL DI DESA TAMBLANG – KABUPATEN BULELENG Dewi, Ketut Laksmi Puspa; Adiputra, Nyoman; Muliarta, I Made; Tirtayasa, Ketut; Adiatmika, I Putu Gede; Adnyana, I Wayan Bandem
Jurnal Ergonomi Indonesia (The Indonesian Journal of Ergonomic) Vol 4 No 1 (2018): Volume 4, No 1, Tahun 2018
Publisher : Program Studi Magister Ergonomi Fisiologi Kerja, Pascasarjana, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JEI.2018.v04.i01.p02

Abstract

The activity of traditional dodol stirrer workers is done with standing position. The stirring process is done monotonically and over a long period of 5 hours. This study aims to show that workplace stretching exercise administration and modification of working conditions may decrease musculoskeletal and fatigue complaintas in traditional dodol stirrer workers. The stirring tool (siut) used by the worker does not correspond to anthropomethry, causing a work with a bent position. This study was an experimental study, with the same subject design. Period I subjects were treated with conventional working condition. Period II subjects were treated with workplace stretching exercise administration and improved working conditions in the form of re-design the stirring tool(siut) of the dodol stirrer and active rest. Musculoskeletal complaints were measured by Nordic body map questionnaires on a 4 likert scale, working fatigue using 30 item rating scales. Analysis of the collected data is started with the descriptive analysis and the normality data tested using Shapiro-Wilk. Further, the data that has normal distribution are analyzed using t-paired and the data that has not a normal distribution are analyzed using Wilcoxon test. This study indicated that the administration of workplace stretching exercise and modification of working conditions can decreasing musculoskeletal decline of 18.3 % from the mean 12.67±0.50 to 5.59±0.52 and fatigue decreased by 18.5% from the mean 12.42±1.45 to 5.34±0.66 It can be concluded that the provision of workplace stretching exercise and modification of working condition can decrease musculoskeletal complaintas and fatigue of dodol stirrer workers. So it is advisable for the dodol making industry to applied this technique of exercise to minimize complaints due to the working process of stirring dodol.
PENINGKATAN FLEKSIBILITAS OTOT HAMSTRING PADA PEMBERIAN MYOFASCIAL RELEASE DAN LATIHAN AUTO STRETCHING SAMA DENGAN LATIHAN STRETCHING KONVENSIONAL Suciptha Gago, I Komang; Indra Lesmana, Syahmirza; Muliarta, I Made
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia (MIFI) Volume 1, Number 1, January 2014
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia (MIFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk mengetahui efektifitas peningkatan fleksibilitas otot hamstring pada  pemberian Myofascial Release dan latihan Auto Stretching sama dengan latihan Stretching Konvensional. Subjek : 28 subjek sehat, terbagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama mendapatkan perlakuan berupa myofascial release dan latihan auto stretching sedangkan kelompok kedua mendapat perlakuan latihan stretching konvensional. Masing – masing  kelompok terdiri dari 14 subjek. Tempat penelitian: Ruang terapi latihan Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Waktu penelitian: 22 Juni 2013 – 02 Juli 2013. Alat ukur : Sit And Rich Test . Desain penelitian : Penelitian ini menggunakan metode quosi eksperimental dengan menggunakan rancangan randomized two group pre-test and post-test design hasil : Masing – masing  kelompok diuji normalitas data dengan Shapiro Wilk Test,  untuk Kelompok I(p<0,05) maka data tidak berdistribusi normal. Kelompok II(p>0,05) maka data berdistribusi normal. Pada Kelompok I dengan menggunakan uji Wilcoxon Singed Ranks Test dan didapatkan nilai p<0,05 yang berarti bahwa ada perbedaan yang bermakna rata – rata nilai fleksibilitas otot hamstring sebelum dan sesudah diberikan intervensi myofascial release dan latihan auto stretching. Kelompok II dengan menggunakan uji beda dua rata – rata yaitu paired sample  t-test didapatkan nilai p<0,05 yang berarti bahwa ada perbedaan yang bermakna rata – rata nilai fleksibilitas otot hamstring sebelum dan sesudah diberikan intervensi latihan stretching konvensional Pada uji beda sesudah perlakuan kelompok I dan II uji Independent t test didapatkan p= 0,053 (p>0.05), hal tersebut menunjukkan pemberian latihan kelompok I dan kelompok II adalah sama. Kesimpulan : Berdasarkan analisis penelitian yang telah dilakukan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa aplikasi myofascial release dan latihan auto stretching dapat meningkatkan nilai fleksibilitas otot hamstring. Aplikasi latihan stretching konvensional dapat meningkatkan nilai fleksibilitas otot hamstring. Namun aplikasi myofascial release dan latihan auto stretching tidak terdapat perbedaan yang bermakna dengan latihan stretching konvensional dalam meningkatkan nilai fleksibilitas otot hamstring.
Peningkatan Vertical Jump Pada Latihan Isometrik Otot Ekstensor Knee Dan Plantar Fleksor Ankle Sama Dengan Latihan Konvensional Mahasiswa Fisioterapi S1 Reguler Di Universitas Udayana Adi Widiantara, I Made; Indra Lesmana, Syahmirza; Muliarta, I Made
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia (MIFI) Volume 2, Number 1, Mei 2014
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia (MIFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk mengetahui efektifitas penerapan latihan isometrik pada otot ekstensor knee dan plantar fleksor ankle dengan latihan konvensional pada peningkatan vertical jump Subjek : 24 subjek sehat, terbagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama mendapatkan perlakuan berupa latihan isometrik dan kelompok kedua mendapat perlakuan latihan konvensional. masing-masing kelompok terdiri dari 12 subjek. Tempat penelitian: Gajah merah gym. Waktu penelitian: 17 juni 2013 – 17 juli 2013. Alat ukur : Vertical jump test . Desain penelitian : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis quasi, rancangan penelitian dengan menggunakan two group pre test and post test design. Hasil : Masing-masing kelompok diuji normalitas data,  untuk kelompok I dan kelompok II data berdistribusi normal maka diuji dengan Dependent t test. Pada kelompok I uji Dependent t test, p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti ada pengaruh pemberian latihan isometrik terhadap peningkatan vertical jump. Pada kelompok II uji dependent t-test.  p = 0,006 (p < 0,05),  yang berarti ada pengaruh pemberian latihan konvensional terhadap peningkatan vertical jump. Pada uji beda sesudah perlakuan kelompok I dan II uji Independent t test didapatkan p= 0,836 (p>0.05), hal tersebut menunjukkan pemberian latihan kelompok I dan kelompok II sama. Kesimpulan : Latihan isometrik pada otot ekstensor knee dan plantar fleksor ankle dapat meningkatan vertical jump. Latihan konvensional dapat meningkatkan vertical jump. Peningkatan vertical jump pada latihan isometrik otot ekstensor knee dan plantar fleksor ankle sama dengan latihan konvensional.
PERBAIKAN CARA ANGKAT-ANGKUT MATERIAL BANGUNAN MENGURANGI AKTIVITAS LISTRIK OTOT ERECTOR SPINAE DAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL TUKANG BANGUNAN Muliarta, I Made
JURNAL ERGONOMI INDONESIA The Indonesian Journal Of Ergonomic Volume 1, No 1, 2015
Publisher : JURNAL ERGONOMI INDONESIA The Indonesian Journal Of Ergonomic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of the property sector bring consequency increasing number of skillfull labour who work in this sector. They work as a conventional management. One of the activity is lifting and carrying building material. Less ergonomic lifting and carrying due to  increasing  in the electrical activity of erector spinae muscle and musculoskeletal complaints among skillfull labours.The aim of the study was to determine that the improvement of lifting and carrying building material may reduce erector spinae muscle electrical activity and musculoskeletal complaints among skillfull labours. This study was using the experimental design extended by treatment by subject design. Samples were taken by purposive sampling, involving 11 males skillfull labour with a mean age of 38.5 ± 7.4 years. The results showed that the average electrical activity of erector spinae muscles in 1stPeriod 36.95 ± 3.85 % and in 1ndperiod 4.10 ± 1.10 % . Statistically, there was a decrease in the electrical activity of erector spinae muscles about 32.85 or 88.90 % with a 95 % CI 30.22 to 35.48 (p=0.000). The mean score of musculoskeletal complaints in 1stPeriod 50.36 ± 2.54 and in 2ndperiod 38.82 ± 4.36. Statistically, there was a decrease in musculoskeletal complaints score 11.54 or 22.92% with a 95 % CI 7.66 to 15.43 (p=0.000).From this research can be concluded that the improvement of lifting-carrying building material  reduce  erector spinae muscle electrical activity 88.90% and musculoskeletal complaints 22.92%  among skillfull labours
PERBEDAAN WAKTU REAKSI PADA BERBAGAI DURASI LATIHAN DAN INDEKS MASSA TUBUH PADA TIM FUTSAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA TAHUN 2014 Saputra, I Putu Gede Windhu; Muliarta, I Made
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 6(2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : E-Jurnal Medika Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Futsal merupakan salah satu olahraga permainan bola yang kini makin digemari oleh banyak orang. Permainan futsal membutuhkan kondisi jasmani, kemampuan menggiring bola, mencetak gol, dan menghadang lawan yang baik. Berbagai kemampuan tersebut membutuhkan latihan rutin, indeks massa tubuh (IMT), serta waktu reaksi yang optimal agar dapat bermain dengan baik. Penelitian ini ingin melihat bagaimana perbedaan waktu reaksi pada berbagai durasi latihan dan IMT pada pemain tim futsal FK UNUD. Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis potong lintang dengan melihat perbedaan waktu reaksi berdasarkan durasi latihan dan IMT. Dari hasil uji T menunjukkan tidak didapatkan perbedaan bermakna dari rata-rata waktu reaksi (p>0,05) antara pemain yang berlatih kurang dari 5 jam per minggu (266,67 milidetik ± 22,223) dibandingkan dengan pemain yang berlatih lebih dari 5 jam per minggu (305,67 milidetik ± 45,247). Tidak didapatkan pula perbedaan signifikan (p>0,05) antara pemain yang memiliki indeks massa tubuh dibawah 25 kg/m2 (283,80 milidetik ± 37,067) dan yang memiliki indeks massa tubuh lebih dari sama dengan 25 kg/m2 (302,40 milidetik ± 51,897). Kesimpulan dari penelitian ini tidak didapatkan perbedaan waktu reaksi yang signifikan antara kelompok pemain yang berlatih kurang dari 5 jam per minggu dibandingkan dengan kelompok pemain yang berlatih lebih dari sama dengan 5 jam per minggu. Tidak didapatkan perbedaan waktu reaksi yang signifikan pada kelompok pemain dengan IMT kurang dari 25 kg/m2 dibandingkan dengan kelompok pemain dengan IMT lebih dari sama dengan 25 kg/m2.    
PELATIHAN 12 BALANCE EXERCISE LEBIH MENINGKATKAN KESEIMBANGAN DINAMIS DARIPADA BALANCE STRATEGY EXERCISE PADA LANSIA DI BANJAR BUMI SHANTI, DESA DAUH PURI KELOD, KECAMATAN DENPASAR BARAT Satria Nugraha, Made Hendra; Wahyuni, Nila; Muliarta, I Made
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia (MIFI) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia (MIFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keseimbangan dinamis adalah pemeliharaan kesetimbangan tubuh ketika dalam posisi bergerak. Gangguan keseimbangan merupakan masalah umum pada lansia. Masalah yang akan timbul pada gangguan keseimbangan yaitu peningkatan risiko jatuh pada lansia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek pelatihan 12 balance exercise lebih efektif dalam meningkatkan keseimbangan dinamis daripada balance strategy exercise. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan Pre and Post Test Control Group Design. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah simple random sampling. Sampel penelitian berjumlah 28 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol yang diberikan pelatihan balance strategy exercise dan kelompok perlakuan yang diberikan pelatihan 12 balance exercise. Masing-masing kelompok terdiri dari 14 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur keseimbangan dinamis lansia menggunakan skor Berg Balance Scale (BBS) sebelum dan setelah pelatihan pada setiap kelompok. Uji normalitas data diuji dengan menggunakan Saphiro-Wilk Test dan uji homogenitas dengan Levene’s Test. Hasil uji paired sample t-test didapatkan perbedaan yang signifikan pada kelompok kontrol dengan nilai p=0,002 dan menunjukkan adanya peningkatan keseimbangan dinamis pada kelompok kontrol sebesar 1,143, begitupula pada kelompok perlakuan didapatkan perbedaan yang signifikan dengan nilai p=0,000 dan menunjukkan adanya peningkatan keseimbangan dinamis pada kelompok perlakuan sebesar 3,000. Uji beda selisih dengan independent t-test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dimana p=0,000 dengan persentase sebesar 2,58% pada kelompok kontrol dan 6,78% pada kelompok perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pelatihan 12 balance exercise lebih efektif dalam meningkatkan keseimbangan dinamis daripada balance strategy exercise pada lansia.
INTERVENSI SLOW STROKE BACK MASSAGE LEBIH MENURUNKAN TEKANAN DARAH DARIPADA LATIHAN DEEP BREATHING PADA WANITA MIDDLE AGE DENGAN PRE-HYPERTENSION Wulan, Ni Putu Haryska; Winaya, I Made Niko; Muliarta, I Made
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia (MIFI) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia (MIFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pre-hypertension merupakan suatu kondisi peningkatan tekanan darah dimana seseorang memiliki tekanan darah sistolik 120-139 mmHg dan tekanan darah diastolik 80-89 mmHg. Risiko menderita pre-hypertension pada pria dan wanita relatif sama pada umur 45 tahun. Faktor psikologi, prilaku, pekerjaan dan hormon mempengaruhi timbulnya kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan intervensi slow stroke back massage lebih menurunkan tekanan darah daripada intervensi latihan deep breathing pada wanita middle age dengan pre-hypertension. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini yaitu eksperimental pre and posttest control group design terhadap 20 responden yang dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok 1 diberikan latihan deep breathing kemudian kelompok 2 diberikan intervensi slow stroke back massage. Hasil analisis data dengan paired sample t-test pada Kelompok 1 dengan beda rerata 6,8±2,15 dengan p=0,000 (p<0,05) untuk tekanan darah sistolik dan beda rerata 7,6±2,1 dengan p=0,000 (p<0,05) untuk tekanan darah diastolik. Kelompok 2 dengan beda rerata 16,2±5,2 dengan p=0,000 (p<0,05) untuk tekanan darah sistolik dan beda rerata 13,6±3,6 dengan p=0,000 (p<0,05) untuk tekanan darah diastolik. Dari hasil analisis tersebut dikatakan bahwa pada tiap kelompok terdapat penurunan tekanan darah yang bermakna. Berdasarkan uji independent samples t-test antara kelompok 1 dan 2 diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05). Didapat kesimpulan bahwa intervensi slow stroke back massage lebih menurunkan tekanan darah daripada latihan deep breathing pada wanita umur menengah dengan pre-hypertension.
WANITA OVERWEIGHT DAN OBESITAS MEMILIKI SUDUT EVERSI CALCANEUS LEBIH BESAR DAN EKSTENSIBILITAS GASTROCNEMIUS LEBIH KECIL DARIPADA WANITA NORMAL DI DESA MENGESTA, KECAMATAN PENEBEL, KABUPATEN TABANAN Adi Putri, Ni Made Rininta; Wibawa, Ari; Sugiritama, I Wayan; Muliarta, I Made
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia (MIFI) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia (MIFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan sudut eversi calcaneus dan ekstensibilitas gastrocnemius pada wanita normal, overweight, dan obesitas di Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Penelitian ini adalah penelitian cross sectional analytic yang dilakukan pada bulan Mei tahun 2015. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling dengan jumlah 78 sampel yang dibagi menjadi 3 kelompok penelitian. Kelompok A adalah sampel kategori normal, kelompok B adalah sampel kategori overweight, dan kelompok C adalah sampel kategori obesitas. Uji normalitas dengan Shapiro Wilk test dan uji homogenitas dengan Levene’s test (p > 0,05). Uji beda dengan One Way ANOVA dengan hasil sudut eversi calcaneus (SEC) overweight > normal (beda rerata 2,000; p=0,004), SEC obesitas > normal (beda rerata 11,577 ; p=0,000), dan SEC obesitas > overweight (beda rerata 9,577 ; p=0,000) ; ekstensibilitas gastrocnemius (EG) overweight < normal (beda rerata 11,154 ; p=0,000), EG obesitas < normal dengan beda rerata 13,038 (p=0,000), dan EG obesitas < overweight (beda rerata 1,885 ; p=0,004). Selanjutnya dapat ditarik kesimpulan bahwa wanita overweight dan obesitas memiliki sudut eversi calcaneus lebih besar dan ekstensibilitas gastrocnemius lebih kecil daripada wanita normal di Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan (p<0,05).
Co-Authors -, Wahyuddin A.A.Ngurah Wisnu Nayaka Putra, A.A.Ngurah Wisnu Adhitya, I Putu Gde Surya Adnyana, I Wayan Bandem Ali Imron Anniza, Meiza Ari Wibawa Ariyuda, I Made Dwi Dewa Gede Putra Angga Pradnyana, Dewa Gede Putra Angga Dewi, Ida Ayu Intan Kartika Dinda Kurniawan, Ganesa Puput Griadhi, Putu Adiartha Hamzah, Arfian Hendrawan, I Gede Donny I Dewa Putu Sutjana I Gede Bagus Bhaskara Wijaksana, I Gede Bagus Bhaskara I Gede Bayu Utama Putra, I Gede Bayu Utama I Gede Koko Gustrawan, I Gede Koko I Komang Suciptha Gago I Made Adi Widiantara I Made Ady Wirawan I Made Jawi I Made Niko Winaya I Nyoman Adiputra I Putu Adiartha Griadhi I Putu Adiartha Griadhi, I Putu Adiartha I Putu Gede Adiatmika I Putu Gede Windhu Saputra, I Putu Gede Windhu I Wayan Sugiritama I Wayan Weta Ida Bagus Adnyana Manuaba Ida Bagus Alit Swamardika Iffah, Maghfirotul J. Alex. Pangkahila Jaya, I Putu Prisa Kartiko Pertiwi, Jasmine Ketut Laksmi Puspa Dewi, Ketut Laksmi Puspa Ketut Tirtayasa Kristinayanti, Ni Putu Dita LUH MADE INDAH SRI HANDARI ADIPUTRA Luh Made Indah Sri Handari Adiputra M. Ali Imron Made Hendra Satria Nugraha, Made Hendra Made Sudarma Meryl Pulcheria, Meryl Muh. Irfan Muhammad Irfan Ni Luh Nopi Andayani, Ni Luh Nopi Ni Made Rininta Adi Putri, Ni Made Rininta Ni Putu Haryska Wulan, Ni Putu Haryska Ni Putu Ruspata Bhyantari, Ni Putu Ruspata Nila Wahyuni Nyoman Adiputra Pradnyanini, Ida Ayu Made Putu Dede Asta Wiguna, Putu Dede Asta Putu Sutjana, I Dewa Rusni, Ni Wayan S. Indra Lesmana Semariasih, Ni Komang Dewi Sepriyanti, Ni Komang Ari Sri Handari Adiputra, Luh Made Indah Sugijanto - Sulistyawati, Ni Nengah Nita Surya Adhitya, I Putu Gde Susy Purnawati Syahmirza Indra Lesmana Syam, Masrum Wahyudin - Wayan Weta Wulan Dhari, Ika Fitri