Aris Mukimin
Advance treatment and Materials (Center of Industrial Pollution Prevention Technology)

Published : 8 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI KARTON BOX DENGAN METODE INTEGRASI UPFLOW ANAEROBIC SLUDGE BED REACTOR (UASB) DAN ELEKTROKOAGULASI-FLOTASI

Jurnal Riset Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri Vol 6, No 1 (2015)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.824 KB)

Abstract

            Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi kinerja teknologi integrasi Upflow Anaerobic Sludge Bed Reactor (UASB) dengan elektrokoagulasi-flotasi (ECF) sebagai unit pengolah air limbah industri karton box dalam berbagai kondisi operasi. Sebelum diaplikasikan, unit UASB diawali dengan proses aklimatisasi selama 7 hari menggunakan dua jenis substrat, yaitu gula dan pati. Operasional UASB secara kontinyu dilakukan pada berbagai OLR dan HRT konstan (24 jam). Air limbah terproses UASB kemudian dielektroflotasi menggunakan anoda alumunium (Al) dan besi (Fe). Optimalisasi proses ECF dikaji pada berbagai variabel pH dan waktu elektrolisis. Proses UASB dengan susbtrat pati menunjukkan efektivitas aklimatasi yang tinggi dibanding subtrat gula. Kondisi steady-state akan tercapai setelah 6 hari operasional dengan efisiensi penurunan COD 91% dan OLR 25 kg COD/m3 hari. Aplikasi UASB secara kontinyu telah mampu menurunkan COD 94% dengan waktu tinggal 24 jam. Proses ECF mampu menurunkan COD air limbah terolah UASB sekitar 70-81%. Kondisi optimum penurunan COD tercapai pada pH 7,5  untuk anoda Al dan pH 6 atau 9 untuk anoda Fe. Penambahan waktu elektrolisis di atas 10 menit sangat mempengaruhi efektivitas penurunan COD untuk anoda Fe sedangkan anoda Al tidak terjadi penurunan yang signifikan.  Jumlah sludge yang dihasilkan oleh proses ECFsebanyak 4 kg/m3 untuk anoda Al dan 5 kg/m3 untuk anoda Fe. Biaya kebutuhan energi berkisar antara 4,5 hingga 18 kWh/m3dan konsumsi elektroda sebanyak 0,17 kg Al/m3 atau 0,515 kg Fe/m3. Integrasi UASB dan ECF berpotensi untuk diaplikasikan sebagai sistem pengolahan air limbah industri karton box yang efektif. 

PENGEMBANGAN METODE ANALISIS PARAMETER MINYAK DAN LEMAK PADA CONTOH UJI AIR

Jurnal Riset Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri Vol 5, No 1 (2014)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.613 KB)

Abstract

Minyak dan lemak merupakan parameter yang konsentrasi maksimumnya dipersyaratkan untuk air limbah industri dan air permukaan. Analisis infra merah dan gravimetri adalah dua metode standar yang  hingga  saat  ini  digunakan. Kelemahan metode-metode tersebut  yaitu  penggunaan pelarut CCl4(metode IR) dan daerah konsentrasi analisis yang besar (metode gravimetri) sehingga penting dilakukan penelitian penggunaan pelarut lain dan penurunan limit deteksi, khususnya metode gravimetri. Pelarut C2Cl4  dan S316 digunakan sebagai pelarut ekstraksi pada metode IR  karena tergolong pelarut yang masih direkomendasikan untuk penggunaannya. Variasi volume sampel dan tahapan ekstraksi dengan n-heksan sebagai pelarut dilakukan untuk pengembangan metode gravimetri sehingga mampu menurunkan limit deteksi di bawah 10 mg/L. Jenis minyak yang digunakan sebagai sampel yaitu minyak nabati dan minyak mineral. Pada pembacaan absorbansi pelarut C2Cl4 dan S316 menunjukkan level respon yang sangat tinggi yaitu 18 mg/L (C2Cl4) dan 15 mg/L (S316) sehingga tidak bisa digunakan untuk analisis minyak dengan metode infra merah. Pada metode gravimetri diperoleh persen  recovery  92,28%  (sampel  minyak  nabati)  dan  99,25%  (sampel minyak  mineral)  dengan konsentrasi analit sebesar 0,9 mg/L dan 0,88 mg/L. Nilai persen recovery tersebut diperoleh pada volume sampel 2000 mL dan teknik ekstraksi 4 tahap dengan limit deteksi 0,5639 mg/L dan 0,4736 mg/L sehingga pengembangan metode gravimetri ini layak digunakan untuk analisis sampel air limbah dan air permukaan.

APLIKASI LIMBAH PADAT BATU ALAM SEBAGAI SUBTITUSI FINE AGREGAT PAVING BLOK, BATAKO DAN BAHAN BAKU PRODUKSI SEMEN

Jurnal Riset Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4069.794 KB)

Abstract

Pemanfaatan limbah padat batu alam menjadi penting dilakukan supaya keseimbangan lingkungan dapat dijaga dan dapat berpeluang menjadi sumber usaha baru yang akan berdampak pada sektor ekonomi masyarakat sekitar. Lokasi pengambilan limbah padat ditetapkan dari salah satu industri pengolahan batu alam di Kabupaten Cirebon. Sumber limbah tersebut berasal dari serbuk padat hasil pemotongan dan sludge hasil sedimentasi. Jenis batu alam yang menjadi obyek penelitian terdiri dari dua, yaitu batuan andesit dan batuan Palimanan. Produk bahan bangunan yang dibuat dari limbah padat batu alam hanya dua, yaitu paving dan batako, dimana dalam hal ini limbah difungsikan sebagai subtitusi fine agregat. Pemanfaatan limbah sebagai bahan baku hanya dipelajari dan diaplikasikan untuk pembuatan semen. Limbah padat batu alam dapat digunakan sebagai subtitusi fine agregat dalam pembuatan paving dan batako. Persen subtitusi limbah padat batu alam untuk paving mencapai 30% untuk Andesit dan 50% untuk palimanan dengan kualitas B, C dan D. Persen subtitusi limbah padat batu alam untuk batako mencapai 50% untuk Andesit dan Palimanan dengan kualitas I, II, III dan IV. Limbah padat batuan Palimanan mempunyai image permukaan yang lebih kasar dibanding Andesit. Kandungan utama limbah padat batuan andesit sama dengan palimanan, yaitu: karbon, silika, alumina, kalsium oksida dan besi oksida. Limbah padat batu alam dapat dimanfaatkan untuk membuat semen dengan persen komposisi antara limbah dengan kapur sebesar 43%:56% dan dipanaskan pada suhu 800 oC selama 2 jam  dilanjutkan ke 1450 oC selama 3 jam.

Removal Efficiency of Nitrite and Sulfide Pollutants by Electrochemical Process by Using Ti/RuIrO2 Anode

Indonesian Journal of Chemistry Vol 18, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In general, wastewater treatment by physical, chemical and biological methods are only focused on TSS, BOD and COD removals that the effluent still contains anion pollutant as NO2- and S2-. Electrochemical technology is a proper method for those pollutants treatment due to its fast process, easy operation and minimum amount of sludge. Electrocatalytic reactor with 8 L capacity using Ti/RuIrO2 cylinder as anode and Fe plate as cathode was arranged and applied to treat anion pollutants. Hydraulic retention time (30, 60, 90 and 120 min), salt concentration (250, 500 and 750 mg/L) and voltage (4, 5, and 6 V) were chosen as operation variables and NO2- and S2- concentrations as parameter indicators. Nitrite removal efficiency reached 75 and 99.7% after 60 and 120 min of electrolysis, respectively, while sulfide could obtain higher efficiency, i.e., 97 and 99.9% after 60 and 90 min, respectively, at operation variables of potential of 5 V and salt of 500 mg/L. Removal process is dominated by indirect oxidation mechanism by HClO/ClO- oxidators generated at anode surface as intermediate products. The lifespan of electrode and electric consumption are two main factors of operation cost. Electric consumed was 0.452 kWh per 1 g nitrite removed.

IMPLEMENTATION OF ELECTROCATALYTIC REACTOR AS OXIDATION UNIT FOR RESIDUAL REAGENT WASTEWATER OF TESTING LABORATORY

Jurnal Riset Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri Vol 9, No 2 (2018)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.441 KB)

Abstract

The remaining reagent from the sample analysis process become a significant source of hazardous waste of laboratory tasting activities. Methylene blue, phenol and oil are pollutants common in the remaining reagent waste. The electrocatalytic reactor is effective oxidation units for these organic pollutants. The reactor was made for a 50 L capacity with cylindrical metal oxide as the anode. The three anode which 6 cm in diameter and 50 cm in length were paired stainless cathode with the distance of 2.5 cm. The reactor was also equipped with a stirrer that is connected to the motor so that the mass transfer and oxidizing agents is more effective. The reactor application was carried out by feeding the remaining reagent waste into the electrocatalytic unit and giving DC potential 5 Volt.  Each COD content for reagent waste of detergent: 2864 mg/L, phenol: 838 mg/L and oil: 708 mg/L. The reactor has reduced COD to 2157 mg/L (detergent), 399 mg/L (phenol) and 506 mg/L (oil) for 120 minutes. The high COD content in residual is caused by solvent (chloroform or hexane) that used at extraction step in determining the process of a sample. This compound is tough to oxidize into CO2 by OH radical or hypochlorite acid formed at the anode during the electrolysis process