Mukammiluddin Mukammiluddin
Dosen di FAH UIN Alauddin

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Kaana (كَانَ) Dalam Surah Al-Isra` (Suatu Analisis Nahwu Dan Terjemahnya) Mukammiluddin, Mukammiluddin
Jurnal Adabiyah Vol 13, No 2 (2013): Jurnal Adabiyah
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.939 KB)

Abstract

There are amount of linguistic terms utilized in al-Quran. One of the is kana and its derivation. This world has various fuction and meaning based on where it is placed or positioned. Kana can be used as the completion of ayat that actually has no meaning, but it determines the pattern of ayat, and sometime it has substantial meaning that determines the position of time where ayat was revealed down or used in textual or contextual meaning.
Kaana (كَانَ) Dalam Surah Al-Isra` (Suatu Analisis Nahwu Dan Terjemahnya) Mukammiluddin, Mukammiluddin
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 13, No 2 (2013): Jurnal Adabiyah
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.939 KB)

Abstract

There are amount of linguistic terms utilized in al-Quran. One of the is kana and its derivation. This world has various fuction and meaning based on where it is placed or positioned. Kana can be used as the completion of ayat that actually has no meaning, but it determines the pattern of ayat, and sometime it has substantial meaning that determines the position of time where ayat was revealed down or used in textual or contextual meaning.
اَلإِسْتِثْنَاءُ بِإلاَّ فِى سُوْرَةِ آلِ عِمْرَانَ (دِرَاسَةً تَحْلِيْلِيَّةً نَحْوِيَّةً) Mukammiluddin, Mukammiluddin
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 15, No 2 (2015): Jurnal Adabiyah
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.267 KB)

Abstract

Tulisan ini bermaksud menganalisa Illa` dalam Surah `Ali Imran. Dalam penelitian ini dijelaskan tentang al-Istitsna` atau Al-Mustatsna` yaitu salah satu isim manshub dalam nahwu. Al- Istitsna` adalah bentuk mashdar dari fi`il mazid yang bertambah tiga huruf yaitu: alif, sin dan ta` استثنى، يستثنى، إستثناء yang artinya pengecualian. Secara leksikal, kata tersebut bermakna kecuali. Secara istilah adalah salah satu isim yang manshub yang terletak sesudah lafazh-lafazh yang menunjukkan kepada arti kecuali atau selain. Al-Istitsna` Illa` ialah mengeluarkan status hukum apa yang ada sesudah Illa` dari status hukum sebelumnya dan mempunyai tiga unsur yaitu al-mustatsna` minhu,al-mustatsna dan adat al-istitsna`. Al-Istitsna` (Al-Mustatsna`) terbagi kepada tiga macam yaitu mustatsna` muttashil, mustatsna` munqathi` dan mustatsna` mufarragh dan hukumnya  ada tiga hal, wajib dinashab sebagai mustatsna` Illa`, boleh keduanya (dinashab sebagai mustatsna` atau mengikuti kata di depannya sebagai badal), dan wajib mengikuti `amil yang mendahuluinya apakah sebagai fa`il, maf`ul bih atau khabar.
اَلإِسْتِثْنَاءُ بِإلاَّ فِى سُوْرَةِ آلِ عِمْرَانَ (دِرَاسَةً تَحْلِيْلِيَّةً نَحْوِيَّةً) Mukammiluddin, Mukammiluddin
Jurnal Adabiyah Vol 15, No 2 (2015): Jurnal Adabiyah
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.267 KB)

Abstract

Tulisan ini bermaksud menganalisa Illa` dalam Surah `Ali Imran. Dalam penelitian ini dijelaskan tentang al-Istitsna` atau Al-Mustatsna` yaitu salah satu isim manshub dalam nahwu. Al- Istitsna` adalah bentuk mashdar dari fi`il mazid yang bertambah tiga huruf yaitu: alif, sin dan ta` استثنى، يستثنى، إستثناء yang artinya pengecualian. Secara leksikal, kata tersebut bermakna kecuali. Secara istilah adalah salah satu isim yang manshub yang terletak sesudah lafazh-lafazh yang menunjukkan kepada arti kecuali atau selain. Al-Istitsna` Illa` ialah mengeluarkan status hukum apa yang ada sesudah Illa` dari status hukum sebelumnya dan mempunyai tiga unsur yaitu al-mustatsna` minhu,al-mustatsna dan adat al-istitsna`. Al-Istitsna` (Al-Mustatsna`) terbagi kepada tiga macam yaitu mustatsna` muttashil, mustatsna` munqathi` dan mustatsna` mufarragh dan hukumnya  ada tiga hal, wajib dinashab sebagai mustatsna` Illa`, boleh keduanya (dinashab sebagai mustatsna` atau mengikuti kata di depannya sebagai badal), dan wajib mengikuti `amil yang mendahuluinya apakah sebagai fa`il, maf`ul bih atau khabar.
SYI’IR PADA MASA ABBASIYAH Mukammiluddin, Mukammiluddin
RIHLAH Vol 5, No 1 (2017): Rihlah
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.477 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v5i1.3186

Abstract

Sastra mengalami perkembangan dari masa ke masa. Sastra telah dikenal sejak masa lampau saat Islam belum datang, yakni di masa Jahiliyah. Sehingga sastra memiliki karakteristik tertentu sesuai tempat dan masanya. Secara universal perkembangan sastra dibagi menjadi lima, yakni sastra di masa Jahiliyah, masa shodrul Islam dan masa Umaiyah, masa Abbasiyah, masa akhir Abbasiyah dan masa Turki, dan di masa modern hingga saat ini. Sejarah keadaan kesusastraan Arab telah mengungkapkan bahwa kebiasaan bangsa Arab pada umumnya adalah senang menggubah syi’ir. Hal ini mereka anggap suatu kebiasaan yang bersifat tradisional karena dipengaruhi oleh lingkungan hidup dan kehidupan mereka serta bahasa mereka yang puistis dan lisan mereka yang pasih, merupakan fakor yang kuat untuk mendorong mereka dalam menggubah syi’ir. Syi’ir adalah suatu kalimat yang berirama dan bersajak yang mengungkapkan tentang khayalan yang indah dan juga melukiskan tentang kejadian yang ada.
Perkembangan Sastra Arab pada Masa Bani Umayyah Mukammiluddin, Mukammiluddin
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 11, No 2 (2011): Jurnal Adabiyah
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The progress of Arabic literature in Umayyah Dynasty period increased more than previous time. It is due to some poets had good creativity to make their poems which were inspired by political atmosphere. The rulers also had good appreciation to the poets who skillfully composed their poems. Some awards were given to those who were able to compose such creativity. Therefore, some composers were motivated to more creatively write some song or lyrics which highlighted the Kings.
Kategorisasi La`(لاَ) dalam Surah Al-Isra` (Suatu Analisis Fungsi Dan Terjemahnya) Mukammiluddin, Mukammiluddin
Diwan : Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol 3, No 1 (2017): Diwan
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memberikan kategorisasi La Al-Qur`an surah al-Isra’. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan, membaca, dan menganalisis data yang terkait. Tulisan ini menemukan terdapat sebanyak 1732 kali la dari berbagai surah dalam al-Qur’an, tetapi khusus dalam surah Al-Isra` disebutkan sebanyak 28 kali dengan beragam fungsi dan makna. Kategorisasi لاَ (La`) antara lain La` al-Nafiyah terbagi tiga: Nafyu fi`il mudhari`, al-Nafyu sama dengan Laisa dan al-Nafiyah li al-Jinsi. La` al-Nahiyah, La` al-Athaf dan La` sebagai harf al-Jawab.