Muhilal Muhilal
Puslitbang Gizi dan Makanan Kementerian Kesehatan RI

Published : 45 Documents
Articles

KHASIAT JAMU MELAHIRKAN TERHADAP KENAIKAN PRODUKSI AIR SUSU IBU Moecherdiyatiningsih, Moecherdiyatiningsih; Komala, Komala; Muhilal, Muhilal
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan JILID 18 (1995)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anggapan bahwa jamu melahirkan dapat meningkatkan produksi air susu ibu telah diteliti. Sebagai sampel penelitian adalah ibu baru melahirkan di wilayah Kabupaten Bogor dengan kriteria sebagai berikut: berstatus gizi baik, umur 30 tahun, paritas 1-3 dan kelahiran normal. Berdasarkan kebiasaan ibu minum jamu atau tidak ditetapkan dua kelompok. Tiga puluh ibu kelompok pertama (kelompok MJ) diberi jamu bersalin merk "NM" yang diminum sampai 40 hari. Sedangkan 30 orang kelompok kedua (kelompok TMJ) hanya diberi jamu bersalin berupa parem yang dioleskan. Ke 60 ibu ini terpilih dari 185 ibu hamil yang terdaftar dan dipantau kelahirannya. Data yang dikumpulkan meliputi volume ASI selama 24 jam dengan metoda penimbangan, hemoglobin ibu, zat besi ASI, berat badan bayi, konsumsi zat gizi dan cairan yang diminum ibu selama 24 jam serta serta data penunjang lain. Pengumpulan data awal dan akhir masing-masing pada 4 hari dan 40 hari umur bayi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur ibu, pendidikan dan pekerjaan suami kurang lebih sama untuk kedua kelompok. Rata-rata volume ASI pada awal penelitian untuk kelompok MJ dan TMJ masing-masing 343±89,7 ml dan 320±81,2 ml. Dengan uji t, tidak berbeda bermakna (p>0,05). Tetapi berbeda bermakna pada akhir penelitian (p<0,05) dengan rata-rata untuk kelompok MJ 475,7±117,4 ml dan kelompok TMJ 409±120,6 ml. Rata-rata Hb ibu pada kelompok MJ dan di awal penelitian masing-masing adalah 11,02±1,45 dan 11,30±1,37 sedang di akhir penelitian masing-masing adalah 11,76±1,16 dan 11,98±1,11. Tidak ada perbedaan Hb ibu yang bermakna antar kedua kelompok, baik pada awal maupun akhir penelitian (p>0,05). Zat besi ASI dan berat badan bayi tidak berbeda bermakna pula (p>0,05). Konsumsi zat gizi khususnya vitamin C dan vitamin A berbeda bermakna antar kedua kelompok pada akhir penelitian. Tidak terbukti ada perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok dalam hal jumlah cairan yang diminum ibu.
ABSORPSI β-KAROTEN SERBUK DAUN SINGKONG (Manihot Utilissima) KERING PADA ANAK PRASEKOLAH Almasyhuri, Almasyhuri; Khumaidi, M.; Muhilal, Muhilal; Rimbawan, Rimbawan
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan JILID 20 (1997)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia telah bebas dari masalah kurang vitamin A (KVA), tetapi jumlah anak balita dengan vitamin A serum marjinal (<20 ug/dl) masih tinggi. Salah satu program penanggulangan KVA di Indonesia adalah dengan peningkatan konsumsi sayuran hijau pada anak balita. Menurut de Pee, karoten sayuran hijau kurang dapat diabsorpsi karena berupa ikatan komplek yang kuat yang berada dalam kloro plas. Penelitian ini mempelajari pengaruh pembuatan serbuk kering daun singkong muda dan tua terhadap absorpsi β-karoten pada anak prasekolah. Penelitian dilakukan di Kotamadya Bogor, Jawa Barat. Daun singkong diberikan dalam bentuk masakan gulai, yang diberikan dalam diit makanan pagi, siang dan sore selama tiga hari. Kadar β-karoten dalam duplikat makanan yang dikonsumsi dan dalam tinja selama tiga hari dianalisis dengan HPLC. β-karoten yang diabsorpsi merupakan selisih β-karoten dalam duplikat makanan yang dikonsumsi dan β-karoten dalam tinja selama tiga hari. Absorpsi β-karoten serbuk daun singkong muda kering (DSMK) paling tinggi (37.9±5.2%) dibanding β-karoten serbuk daun singkong tua kering (DSTK) maupun daun singkong muda segar (DSMB) yang besarnya masing-masing adalah 36.8±9.2% dan 35.4±5.8%. β-karoten daun singkong muda segar (DSMB) paling kecil absorpsinya. Tetapi hasil uji anova β-karoten dari ketiga jenis daun singkong tersebut tidak ada perbedaan nyata (p>0.05). Kesimpulan dari penelitian ini ternyata pengeringan dan penghancuran menjadi serbuk belum dapat memperbaiki absorpsi β-karoten yang dikandung dalam daun singkong. 
DAMPAK PEMBERIAN NIASIN DAN KRONIUM TERHADAP PROFIL DISLIPID PADA PENDERITA DISLIPIDEMIA D., A. Murdiana; Almasyhuri, Almasyhuri; Reviana, Reviana; S., Martuti; Yuhajah, Enok; Muhilal, Muhilal
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan JILID 21 (1998)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study on niacin and chromium supplementation has been conducted to women of 30-60 years old with cholesterol level between 200-250 mg/dl. The aimed of the study was to see the effect of the supplementation on blood cholesterol, triglyceride and low density lipoprotein (LDL). Fourty two respondents were selected purposively and divided into 4 groups. The supplementation was in the form of capsules and given for 3 weeks. Group I, 10 respondents received 200 mcg of chromium; Group II, 7 respondents received chromium 200 mcg and niacin 2x75 mg; Group III, 12 respondents received 2x75 mg niacin and Group IV, 13 respondents received 2x75 mg fructose as placebo. Data collected including anthrophometric, dietary recall for 1x24 hours and clinical status. Analysis of blood sample for cholesterol and triglyceride was done using enzymatic calorimetric method (CHOD-PAP) whereas LDL was done using PVS method (GPO-PAP). The results of this study showed that niacin supplementation significantly decreased cholesterol and LDL level by 15% and 13% respectively, chromium supplementation significantly decreased cholesterol and LDL level by 15% and 20% respectively. Cholesterol and LDL remained in that level three weeks afterwards. The mixture of niacin and chromium supplementation significantly decreased only cholesterol level by 10%. Triglyceride level decreased in all groups including placebo group but not statistically significant. Keywords: supplementtaion, niacin, cromium, cholsterol, triglyceride, low density lipoprotein.
POTENSI DAUN SINGKONG KERING SEBAGAI SUMBER VITAMIN UNTUK ANAK PRA SEKOLAH Almasyhuri, Almasyhuri; Yuniarti, Heru; Luciasari, Erna; Muhilal, Muhilal
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan JILID 19 (1996)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mempelajari potensi serbuk daun singkong kering sebagai sumber provitamin A meliputi kandungan karoten dalam serbuk daun singkong kering dan pengaruhnya terhadap pemasakan serta daya terima gulai serbuk daun singkong muda dan tua kering (DSMK dan DSTK) pada anak prasekolah. Sebagai pembanding adalah daun singkong muda segar yang sebelum dimasak diblancing terlebih dahulu (DSMB). Penelitian dilakukan terhadap 36 anak prasekolah (3-5 tahun) yang dibagi menjadi tiga kelompok. Daun singkong diberikan dalam bentuk masakan gulai yang diberikan bersama dengan menu makanan lengkap pada waktu makan pagi, siang dan sore selama tiga hari penuh. Daya terima daun singkong dinilai berdasarkan jumlah gulai yang dapat dikonsumsi per hari. Hasil yang diperoleh adalah daun singkong muda dan tua kering mengandung karoten cukup tinggi, yaitu berturut-turut adalah 14.270 dan 14.733 per 100 g berat kering. Penggulaian menyebabkan penurunan jumlah karoten sebesar 6.1%-8.6%. Baik DSMK maupun DSTK yang dimasak gulai dapat diterima oleh anak prasekolah. Secara statistik daya terima gulai DSMK dan DSTK tidak berbeda dengan gulai DSMB (P>0.05). Dari penelitian disimpulkan bahwa serbuk daun singkong kering merupakan sayur yang kaya dengan provitamin A yang dapat diterima anak prasekolah.                                        
PERUBAHAN KANDUNGAN YODIUM DALAM ASI SETELAH PEMBERIAN YODIUM DOSIS TINGGI PER ORAL PADA IBU MENYUSUI Muhilal, Muhilal; Permaesih, Dewi; Suwardi, Suci Suwarti
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan JILID 19 (1996)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian pengaruh pemberian kapsul iodium dosis tinggi pada ibu menyusui terhadap kadar iodium dalam ASI di Kecamatan Dukun dan Srumbung, Jawa Tengah. Ibu menyusui dibagi dalam 2 kelompok: kelompok perlakuan dan kelompok pembanding. Urine dan ASI pada kelompok perlakuan dan pembanding dikumpulkan pada hari 0, 2, 7, 30, 90 dan 180. Analisis iodium dilakukan dengan cara Kolhoff and Sanders. Pola perubahan kandungan iodium ASI sama dengan pola perubahan iodium dalam urin dengan koefisien korelasi sebesar 0.96. Kandungan iodium dalam ASI pada kelompok perlakuan ditemukan pada hari kedua dengan nilai 16350 ug/L dibandingkan dengan 75 ug/L pada kelompok pembanding, kemudian menurun secara perlahan sampai mendekati nilai normal pada hari ke 180 setelah pemberian kapsul iodium. Diperkirakan kandungan iodium dalam ASI sekitar 60% dari kandungan iodium dalam urin. Dengan dugaan adanya kelebihan masukan iodium pada bayi yang menerima dari dua sumber, yaitu ASI dan kapsul yang diberikan langsung pada bayi dalam program IDD, perlu dipertimbangkan kemudian timbulkan efek sampingan pada bayi karena kelebihan iodium.
HUBUNGAN ANTARA STATUS BESI DAN STATUS VITAMIN A PADA IBU MENYUSUI Dahro, Ance Murdiana; Kusharto, Clara M.; Saidin, Sukati; Permaesih, Dewi; Muhilal, Muhilal
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan JILID 16 (1993)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kualitas ASI pada ibi hamil khususnya kandungan besi dan vitamin A dipengaruhi oleh status besi dan status vitamin A ibu. Ibu menyusui yang tinggal di pedesaan hingga saat ini masih mempunyai kebiasaan memberikan ASI pada anak balitanya walau sudah berumur 2 tahun. Sampai saat ini belum ada data status besi dan status vitamin A ibu menyusui, kecuali status besi dan status vitamin A ibu hamil. Data ibu hamil menunjukkan bahwa anemi gizi masih merupakan masalah dan status vitamin A ibu hamil pun sebagian masih rendah. Kedua masalah gizi tersebut merupakan masalah yang terpisah akan tetapi ada kemungkinan keduanya merupakan masalah yang berkaitan antara satu dengan lainnya. Penelitian status besi dan status vitamin A telah dilakukan pada 75 orang ibu menyusui dari pedesaan di Kabupaten Bogor. Sampel berumur antara 16 tahun sampai dengan 35 tahun dengan status gizi baik, yang mempunyai anak balita berumur sampai dengan 2 tahun. Dari hasil penelitian terungkap bahwa rata-rata kadar vitamin A ibu menyusui tersebut adalah 32.8±11 ug/dl, sedangkan kadar ferritin (besi) adalah 20.4±12.6 ng/ml. Uji regresi menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 ug/dl vitamin A akan terjadi kenaikan ferritin sebesar 0.32 ng/ml (Fsign.=0.0149), Uji korelasi Pearson antara vitamin A dan ferritin adalah 0.2803 (p<0.05).
BAHAN PANGAN SEBAGAI ALTERNATIF DETEKSI IODIUM PADA GARAM BERIODIUM Rosmalin, Yuniar; Muhilal, Muhilal
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan JILID 16 (1993)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian terhadap bahan pangan sebagai alternatif deteksi iodium pada garam beriodium. Bahan yang digunakan yaitu Singkong, Gadung, Rebung dan Biji Karet. Diperoleh 10 sampel Singkong, 4 jenis dari Kuningan (SRK, SGHK, SGK, SMK), 3 jenis dari Sukabumi (SBMS, SBHS, SSKS) dan 3 jenis dari Bogor (SCB, SPB dan SMB). Gadung diperoleh 6 sampel yaitu 2 sampel dari Kuningan (GPK & GKK), 2 sampel dari Sukabumi (GP1S dan GP2S) dan 2 sampel dari Bogor (GPB dan GKB). Rebung diperoleh 9 sampel yaitu 3 sampel dari Kuningan (RBK, RTK, RHK), 3 sampel dari Sukabumi (RBS, RTmS, RTS) dan 3 sampel dari Bogor (RTB, RAB dan RBB). Biji Karet diperoleh 8 sampel yaitu 3 sampel dari Bogor (GT1B, LCB 1320 B, WRB), 2 sampel dari Kuningan (LCB479K, PR300 K) dan 3 sampel dari Sukabumi (GT1S, PR303S, PR300S). Hasil pengujian garam iodium menggunakan singkong menunjukkan tidak terlihat adanya pengaruh kadar air, HCN dan amilosa singkong terhadap intensitas warna yang timbul pada tiap konsentrasi garam. Begitu pula hasil pengujian menggunakan gadung, rebung atau biji karet, menunjukkan tidak adanya pengaruh kadar air, HCN atau amilosa terhadap intensitas warna yang timbul pada tiap konsentrasi garam. Singkong, gadung, rebung dan biji karet dapat digunakan untuk memperoleh gambaran apakah suatu garam beriodium yang beredar memenuhi syarat iodisasi atau tldak. Mengingat adanya variasi warna yang timbul perlu diperhatikan intensitas warna yang timbul serta lamanya intensitas tersebut bertahan.
PENGARUH PENGOLAHAN KEDELAI MENJADI TEMPE DAN PEMASAKAN TEMPE TERHADAP KADAR ISOFLAVON (EFFECTS OF SOYBEAN PROCESSING BECOMING TEMPEH AND THE COOKING OF TEMPEH ON ISOFLAVONES LEVEL) Utari, Diah M; Rimbawan, Rimbawan; Riyadi, Hadi; Muhilal, Muhilal; Purwantyastuti, Purwantyastuti
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan Vol 33, No 2 (2010)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/pgm/article/view/3119

Abstract

ABSTRACT Background: Research over the past two decades has provided significant clinical trial and epidemiological evidence for health benefits of the consumption of soybean-based foods. A health claim indicating that high soybean consumption is associated with a lower risk of coronary heart disease (CHD). Compositions of nutrient and non-nutrient in soybean have been examination and give the contribution on lower risk of CHD especially on improve of lipid profile. Isoflavones is a non-nutrient that abundant in soybean. Tempeh is fermented soybean that popular as Indonesian traditional food and content of isoflavones is greater than soybean. Objective: to study effect of soybean processing becoming tempeh and the cooking of tempeh on isoflavones level. Methods: The samples of this study is raw tempeh and steamed tempeh. The analysis of isoflavones has used high performance liquid chromatography (HPLC). Results: During soybean processing becoming tempeh, twice boiling of soybean produce result isoflavones 47.4 percent greater than once boiling. Steaming tempeh result minimized isoflavones reduction (13.3%). Although there is no dietary recommendation for individual isoflavones, may be great benefit in increased consumption of tempeh. [Penel Gizi Makan 2010, 33(2): 148-153]   Keywords: tempeh, processing, isoflavones
PENGARUH PEMBERIAN TABLET BESI SATU KALI SEMINGGU TERHADAP STATUS HB DAN STATUS BESI ANAK SEKOLAH PENERIMA PMT-AS Saidin, Muhamad; Sukati, Sukati; Murdiana, Ance; Pambudi, Joko; Rustan, Effendi; Martuti, Sri; Ridwan, Endi; Muhilal, Muhilal
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan JILID 22 (1999)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/pgm/article/view/1535

Abstract

It had been conducted a study on "The Effect of Weekly Iron Supplementation on The Status of Hb and Iron among School Children Receiving PMT-AS". The main objective of the study was to investigate the effect of iron tablets supplementation to iron status of school children receiving PMT-AS. The subjects of this study was primary school children in the fourth, fifth and sicth grades in six schools receiving PMT-AS in sub-district of Sidomulyo, south Lampung. The schools were randomly assigned into three groups. The first group received iron tablets given by school teacher. The second group received iron tablets given by school teacher and under supervision of researcher (nutritionist), and the third group was control. Iron tablets containing 60 mg elemental iron were given weekly for the duration of 4.5 months. The results of study showed: 1. The percentage of anemia subjects at the begining of study in group I, II, III were 60.0%, 58.0%, and 55.1% respectively. 2. Weekly Iron Supplementatioon reduced significantly the percentage of anemia subjects (p<0.05). 3. Weekly Iron Supplementation increased Hb status and iron status significantly (p<0.05). 4. Iron tablets distribution conducted by the school teacher without supervision was as effective as iron tablets distribution under supervision of researcher.Keywords: anemia, PMT-AS (School Feeding Program), iron tablet, hemoglobin status.
KADAR ZINC (SENG), SERTA HUBUNGANNYA DENGAN VITAMIN A DAN FERRITIN PADA IBU HAMIL, IBU MELAHIRKAN DAN IBU MENYUSUI Dahro, Ance Murdiana; Suharno, Djoko; Moecherdiyantiningsih, Moecherdiyantiningsih; Mahdar, Dedi; Arifin, M.; Muhilal, Muhilal
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan JILID 5 (1975)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/pgm/article/view/1941

Abstract

Penelitian tentang status seng masyarakat Indonesia baru sangat sedikit dilakukan, antara lain pada anak dengan gizi buruk dan di daerah yang banyak kejadian bibir sumbing. Kelompok yang perlu mendapatkan banyak perhatian dan belum diketahui status seng mereka antara lain adalah kelompok ibu hamil, ibu menyusui dan ibu melahirkan. Fungsi seng amat penting antara lain untuk pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, kekebalan, fungsi sensori, proteksi antioksidan dan stabilisasi membran. Telah dilakukan penelitian secara "cross-sectional" terhadap kelompok ibu hamil, ibu menyusui dan ibu melahirkan masing-masing sebanyak 66, 75 dan 34 orang. Umur ibu hamil berkisar antara 16 hingga 39 tahun, ibu melahirkan berumur antara 18 hingga 40 tahun, dan umur ibu menyusui berkisar antara 17 hingga 39 tahun. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan uji hubungan. Hasil penelltian menunjukkan bahwa kadar seng ketiga kelompok ibu berkisar antara 0.05 hingga 5.0 ug/ml. Median kadar seng serum ibu hamil, ibu melahirkan dan ibu menyusui masing-masing adalah 0.51; 0.49 dan 0.96 ug/ml. Uji kuat hubungan antara kadar seng dengan kadar vitamin A pada masing-masing kelompok ibu ternyata menunjukkan hanya pada ibu hamil masih ada hubungan yang bermakna (r=0.2859, p=0.020). Uji kuat hubungan antara kadar seng dengan kadar ferritin ternyata menunjukkan bahwa hanya pada ibu melahirkan masih ada hubungan yang bermakna (r=0.2736, p=0.0175).