Articles

Found 15 Documents
Search

MANEUVERING PERFORMANCE OF A FERRY AFFECTED BY RUDDER AREA AND SPEED Muhammad, Andi Haris; Djabbar, Muhammad Alham; Yuniarsih, Nidia
The Indonesian Journal of Naval Architecture Vol 1, No 1 (2013): Indonesian Journal of Naval Architecture
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of the study is to determine the effect of rudder area and speed on a ferry ship maneuvering performance, especially during the turning circle and zigzag maneuver.  MATLAB-simulink was used to simulate turning circle and zigzag maneuver. The simulation utilized model based on the concept of Mathematical Modelling Group (MMG) includes testing/separating components of the hull equations, propeller and rudder as well as the interaction among them (hull, propeller and rudder). The result of simulation indicated that rudder  dimension and ship speed  affect both turning circle and zigzag maneuver of the ferry reasonably.
TINJAUAN HIDRODINAMIKA KONFIGURASI PROPELLER ASIMETRIK KAPAL TRADISIONAL TIPE PINISI Muhammad, Andi Haris; Dewa, Syarifuddin; Alwi, Rusydi; ., Hamzah
978-979-127255-0
Publisher : PROSIDING HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kapal tradisional Tipe Pinisi telah banyak dibangun dan difungsikan sebagai kapal wisatadengan tujuan pulau-pulau kecil di nusantara, pelayarannya melalui jalur pelayarantradisional, disamping fungsi utamanya adalah sebagai kapal angkutan penyeberanganrakyat antar pulau besar di Indonesia. Dibanding kapal niaga pada umumnya kapaltradisional Tipe Pinisi yang dibangun secara tradisional memiliki sejumlah keunikan diantaranya adalah kapal dibangun tanpa mengunakan gambar rencana garis air (lines plan) sebagai mana layaknya kapal yang dibangun oleh bangsa Eropa, hal tersebut termasuk perencanaan sistem propulsi kapal. Kapal dibangun hanya berdasarkan kepiawaian pengrajin semata yang diperoleh secara turun temurun. Untuk menggerakan Kapal selain mengunakan propeller kapal juga dilengkapi layar. Pemasangan propeller tidak hanya diletakan pada buritan kapal (center line) tetapi juga dipasang pada bagian kiri kapal (asimetrik konfigurasi propeller). Hal tersebut hampir tidak ditemukan pada kapal-kapal modern. Penelitian ini adalah kajian hidrodinaika pengaruh peletakan propeller sisi (asimetrik konfigurasi propeller) terhadap peningkatan kemampuan olah gerak kapal. Hasil penelitian menujukan bahwa pemasangan propeller sisi pada kapal tradisonal Tipe Pinisi hal tersebut menambah kemampuan manuver kapal (turning dan zigzag manuver kapal) sebesar 6.43% dengan asumsi daya motor yang digunakan pada sistem propulsi sisi sebesar 30% dari total daya motor yang digunakan.
KAJIAN DIMENSI DAN MODEL SAMBUNGAN KONSTRUKSI KAPAL KAYU PRODUKSI GALANGAN RAKYAT DI KABUPATEN BULUKUMBA Karim, Azis Abdul; Hasbullah, Mansyur; Muhammad, Andi Haris
978-979-127255-0
Publisher : PROSIDING HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kapal kayu tradisional tipe Pinisi telah banyak dibangun dan difungsikan sebagai kapal wisata dengan tujuan menggujungi pulau-pulau kecil di nusantara. Dibanding kapal niaga pada umumnya kapal kayu tradisional yang dibangun secara tradisional tersebut memiliki sejumlah keunikan diantaranya adalah kapal dibangun tanpa mengunakan gambar rencana garis air (lines plan) sebagaimana layaknya kapal yang dibangun oleh bangsa Eropa, termasuk perencanaan konstruksi kapal. Kapal dibangun hanya berdasarkan kepiawaian pengrajin semata yang diperoleh secara turun temurun dan teknologi pembuatannya terbilang sederhana. Meskipun demikian sejumlah kapal ukuran besar (diatas 100 GT) dapat diselesaikan. Penelitian ini untuk mengetahui pengunaan dimensi dan model sambungan yang digunakan pada pembangunan kapal kayu tradisional berukuran besar serta tingkat keamanan berdasarkan kriteria standar keselamatan kapal sebagaimana yang disyaratkan Biro Klasifikasi Indonesia. Hasil penelitian menunjukan bahwa: Pemilihan jenis material, dimensi dan model sambungan berdasarkan peletakanya telah sesuai sebagaimana yang disarankan peraturan konstruksi kapal kayu (BKI).
TINGKAT KELAYAKAN OPERASIONAL KAPAL PERIKANAN 30 GT PADA PERAIRAN SULAWESI (STUDI KASUS KM INKA MINA 957) The Operational Feasibility Level of 30 GT Fishing Vessel in Sulawesi Waters (case study of KM INKA MINA 957) Muhammad, Andi Haris; Paroka, Daeng; Rahman, Sabaruddin; Syarifuddin, `
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol 9, No 1 (2018): Marine Fisheries - Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jmf.9.1.1-9

Abstract

The ability of a vessel to obtain catches is known as fishing vessel productivity. This greatly influences the feasibility level of the fishing operation. The objctive of the study is to evaluate the operational feasiblity level of 30 GT fishing vessel that operates in Sulawesi waters (case study INKA MINA 957). The use of  Net Present Value (NPV) and Internal Rate of Return (IRR) methods showed that the catch should be of more than minimum 116 ton per year or the NPV value at  Rp. 124.797.638,- with 10% interest rate assumption within 10 years. Furthermore, based on the internal rate of return (IRR) the interest obtained was approximately 12.2% which was higher than the market interest rate assumptions at about 2.2%. Keywords: fishing vessel, operational feasibility, NPV and IRRABSTRAKProduktivitas kapal perikanan adalah kemampuan kapal untuk memperoleh hasil tangkapan ikan. Produktivitas ini sangat mempengaruhi tingkat kelayakan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kelayakan operasional kapal perikanan 30 GT yang beroperasi di perairan Sulawesi (studi kasus KM INKA MINA 957). Metode Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR) telah digunakan untuk mengukur tingkat kelayakan operasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa kapal perikanan layak dioperasikan dengan prediksi hasil tangkapan minimal sebesar 116 ton pertahun atau nilai NPV sebesar Rp.124.797.638,- dengan asumsi suku bunga 10% selama 10 tahun. Selanjutnya berdasarkan Metode IRR diperoleh suku bunga 12,2%, hasil ini lebih besar 2,2% sebagaimana asumsi suku bunga dipasaran.Kata kunci: kapal perikanan, kelayakan operasional, NPV dan IRR
LOKASI KRITIS JALUR EVAKUASI PENUMPANG KAPAL PENYEBERANGAN ANTARPULAU DENGAN METODE PERGERAKAN SIMULTAN Muhammad, Andi Haris; Paroka, Daeng
Jurnal Transportasi Vol 15, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Transportasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract One important factor to avoid casualties on a shipwreck is a safe evacuation route design. Number of locations that can slow the evacuation process, such as doors, stairs and corridors are essential for analysis. This paper discusses a number of critical locations that have the potential failure of evacuation, particularly in the inter-island ferry. The method used to identify the critical location or locations, where the density of passengers occurs during the evacuation process, is the Simultaneous Movement Method. The simulation results showed that the total time required to evacuate passengers was 870 seconds or 14.50 minutes. This time is much smaller than the time required by the International Maritime Organization (60 minutes). Potential passenger density or the critical path starts at the door 1 when the path traversed by all economy class passengers before entering the hall 1 and hall 2. The number of passengers that accumulates at these sites is 72 people on the 300th second. Furthermore, passenger density occurs at the meeting area of the movement passengers toward the exit deck, where the passengers come from the corridors 3 and 4. At that location the density of passengers reached 76 people in the 490th second. The potential location or the critical point of passenger evacuation path occurs at the junction between two or more evacuation lanes, especially in the transition location, such as at doors, stairs, or narrowing lane due to the large number of passengers. Keywords: evacuation lane, critical location, evacuation time, emergency exit, ferry  Abstrak Salah satu faktor penting untuk menghindari terjadinya korban jiwa pada suatu kecelakaan kapal adalah desain jalur evakuasi yang aman. Sejumlah lokasi yang dapat memperlambat proses evakuasi, seperti pintu-pintu, tangga, dan koridor penting untuk dianalisis. Makalah ini membahas sejumlah lokasi kritis yang berpotensi terjadinya kegagalan evakuasi, khususnya pada kapal penyeberangan antarpulau. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi lokasi kritis atau lokasi tempat terjadinya kepadatan penumpang selama proses evakuasi adalah Metode Pergerakan Simultan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa total waktu evakuasi yang diperlukan penumpang adalah 870 detik atau 14,50 menit. Waktu tersebut lebih kecil daripada waktu yang disyaratkan Organisasi Maritim Internasional (60 menit). Potensi kepadatan penumpang atau jalur kritis dimulai pada pintu 1 ketika jalur tersebut dilalui oleh semua penumpang kelas ekonomi sebelum memasuki koridor 1 dan koridor 2. Jumlah penumpang yang terakumulasi pada lokasi tersebut adalah 72 orang pada detik ke-300. Selanjutnya kepadatan penumpang terjadi pada daerah pertemuan pergerakan penumpang yang menuju pintu darurat geladak, yaitu penumpang yang berasal dari koridor 3 dan koridor 4. Pada lokasi tersebut terjadi kepadatan penumpang yang mencapai 76 orang pada detik ke-490. Potensi lokasi atau titik kritis jalur evakuasi penumpang terjadi pada pertemuan antara dua atau lebih jalur evakuasi, khususnya pada lokasi transisi, seperti pada pintu, tangga, atau penyempitan jalur yang disebabkan jumlah penumpang yang besar. Kata-kata kunci: jalur evakuasi, lokasi kritis, waktu evakuasi, pintu darurat, kapal penyeberangan
Maneuverability of Ships with small Draught in Steady Wind Paroka, Daeng; Muhammad, Andi Haris; Asri, Syamsul
Makara Journal of Technology Vol 20, No 1 (2016)
Publisher : Directorate of Research and Community Services, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/mst.v20i1.296

Abstract

Wind force and moment may force a ship to drastically decrease its speed and use a large drift angle as well as a large rudder angle in order to maintain its course. Shipswith a small draught might have more risk in maneuvering to its point of view compared with a ship with a larger draught. This paper discusses maneuverability of a ship with a small draught in steady wind. The effect of wind on ship speed, drift angle, and rudder angle are investigated in a steady state condition. Five different ratios of wind velocity to ship speed from 1.0 to 20.0 are used in the simulation. The variation in wind direction is examined from 0°to 180°. Results of the numerical simulation show that thewind has a significant effect on the reduction in ship speed with a wind direction less than 100°. The drift angle increases due to increasing wind velocity in the same wind direction. Wind direction also has a significant effect on the drift angle especially when the wind direction is less than 140°. The same phenomenon was found for the rudder angle. The necessary rudder angle is greater than the maximum rudder angle of the ship when the wind direction is 60°with a wind velocity to ship speed ratio of 20 or more.
ANALISIS LOKASI KRITIS JALUR EVAKUASI PENUMPANG KAPAL PENYEBERANGAN ANTAR PULAU DENGAN METODE PERGERAKAN SIMULTAN Muhammad, Andi Haris; Paroka, Daeng
Prosiding Forum Studi Transportasi Antar Perguruan Tinggi The 17th FSTPT of International Symposium
Publisher : FSTPT Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of important factor to avoid accident fatalities of passanger vessel evacuation is the evacuation route design of safety. A number of critical locations can slow down the evacuation process such as doors, stairs and corridors essential for analysis. This paper discusses a number of critical locations, potential to evacuation failure, especially on ships crossing inter-islands. The method used to identify the critical location or locations where the concentration of passengers during the evacuation process is the Simultaneous Movement Method. The simulation results show that the total time required evacuation of passengers, especially on economy class of KMP Jatra II, since leaving the passenger compartment until all passengers are on the vehicle deck emergency exit is 870 seconds or 14.50 minutes, smaller than required by IMO ( 60 menit). Potential of passenger density or the critical path, starting at the 1st door where in the path traversed by all economy class passengers before entering the 1st and 2nd corridors. Maximum number of passengers that accumulates at these sites is 72 people on 300 seconds. Subsequently passenger’s concentration occurs at the meeting movement toward the passenger emergency exit vehicle deck that is derived from the 3rd and 4th corridors, at the location of a concentration of passengers up to 76 people on 490 second. This study suggests that the potential of location or critical point of the passenger evacuation path occurs at a meeting between two or more evacuation routes, especially in locations such as the transition to the doors, stairs or passenger traffic bottlenecks due to the larger capacity. The results of this analysis can also be used as a basis for determining an alternative evacuation route or routes change if the conditions are experienced during vessel operation.
LOKASI KRITIS JALUR EVAKUASI PENUMPANG KAPAL PENYEBERANGAN ANTARPULAU DENGAN METODE PERGERAKAN SIMULTAN Muhammad, Andi Haris; Paroka, Daeng
Jurnal Transportasi Vol 15, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Transportasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jt.v15i2.1730.%p

Abstract

Abstract One important factor to avoid casualties on a shipwreck is a safe evacuation route design. Number of locations that can slow the evacuation process, such as doors, stairs and corridors are essential for analysis. This paper discusses a number of critical locations that have the potential failure of evacuation, particularly in the inter-island ferry. The method used to identify the critical location or locations, where the density of passengers occurs during the evacuation process, is the Simultaneous Movement Method. The simulation results showed that the total time required to evacuate passengers was 870 seconds or 14.50 minutes. This time is much smaller than the time required by the International Maritime Organization (60 minutes). Potential passenger density or the critical path starts at the door 1 when the path traversed by all economy class passengers before entering the hall 1 and hall 2. The number of passengers that accumulates at these sites is 72 people on the 300th second. Furthermore, passenger density occurs at the meeting area of the movement passengers toward the exit deck, where the passengers come from the corridors 3 and 4. At that location the density of passengers reached 76 people in the 490th second. The potential location or the critical point of passenger evacuation path occurs at the junction between two or more evacuation lanes, especially in the transition location, such as at doors, stairs, or narrowing lane due to the large number of passengers. Keywords: evacuation lane, critical location, evacuation time, emergency exit, ferry  Abstrak Salah satu faktor penting untuk menghindari terjadinya korban jiwa pada suatu kecelakaan kapal adalah desain jalur evakuasi yang aman. Sejumlah lokasi yang dapat memperlambat proses evakuasi, seperti pintu-pintu, tangga, dan koridor penting untuk dianalisis. Makalah ini membahas sejumlah lokasi kritis yang berpotensi terjadinya kegagalan evakuasi, khususnya pada kapal penyeberangan antarpulau. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi lokasi kritis atau lokasi tempat terjadinya kepadatan penumpang selama proses evakuasi adalah Metode Pergerakan Simultan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa total waktu evakuasi yang diperlukan penumpang adalah 870 detik atau 14,50 menit. Waktu tersebut lebih kecil daripada waktu yang disyaratkan Organisasi Maritim Internasional (60 menit). Potensi kepadatan penumpang atau jalur kritis dimulai pada pintu 1 ketika jalur tersebut dilalui oleh semua penumpang kelas ekonomi sebelum memasuki koridor 1 dan koridor 2. Jumlah penumpang yang terakumulasi pada lokasi tersebut adalah 72 orang pada detik ke-300. Selanjutnya kepadatan penumpang terjadi pada daerah pertemuan pergerakan penumpang yang menuju pintu darurat geladak, yaitu penumpang yang berasal dari koridor 3 dan koridor 4. Pada lokasi tersebut terjadi kepadatan penumpang yang mencapai 76 orang pada detik ke-490. Potensi lokasi atau titik kritis jalur evakuasi penumpang terjadi pada pertemuan antara dua atau lebih jalur evakuasi, khususnya pada lokasi transisi, seperti pada pintu, tangga, atau penyempitan jalur yang disebabkan jumlah penumpang yang besar. Kata-kata kunci: jalur evakuasi, lokasi kritis, waktu evakuasi, pintu darurat, kapal penyeberangan
DESAIN KONFIGURASI SISTEM PROPULSI HYBRID TERHADAP PENGURANGAN KONSUMSI BBM KAPAL PENANGKAP IKAN 30 GT (Configuration Design of a Hybrid Propulsion System to Reduce Fuel Oil Consumption of a 30 GT Fishing Vessel) Muhammad, Andi Haris; Baharuddin, .; Hasan, Hasnawiya
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol 10, No 1 (2019): Marine Fieheries - Mei 2019
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jmf.10.1.1-9

Abstract

This study aims to reduce fuel oil consumption of a 30 GT fishing vessel through configuration design of diesel and electric motor hybrids propulsion system. The configuration design of hybrids propulsion system systematically include; i) loading assumption; ii) prediction of speed-thrust; iii) prediction of fuel oil consumption. Design of hybrids propulsion system was analyzed by using the concept of time domain simulation of vessel movement. The result indicated that the hybrids propulsion system implemented to fishing vessel was very effective to reduce fuel consumption compared with conventional propulsion system, especially in variation of loading and speed condition.Keywords: fishing vessel, hybrids propulsion system and fuel oilPenelitian ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak kapal penangkap ikan 30 GT melalui desain konfigurasi sistem propulsi hybrid diesel-listrik. Secara sistematis perancangan sistem propulsi hybrid meliputi; i) asumsi pembebanan operasi; ii) prediksi speed-thrust; iii) prediksi konsumsi bahan bakar. Desain sistem propulsi hybrid dianalisis dengan menggunakan konsep time domain simulation pergerakan kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sistem propulsi hybrid pada kapal penangkap ikan sangat efektif dalam mengurangi konsumsi bahan bakar dibandingkan dengan sistem propulsi konvensional, terkhusus pada kondisi pemuatan dan kecepatan yang bervariasi.Kata kunci: Bahan bakar, kapal penangkap ikan, sistem propulsi hybrid
MANEUVERING PERFORMANCE OF A 30 GT FISHING VESSEL WITH ASYMMERICAL PROPELLER CONFIGURATION Muhammad, Andi Haris; Syarifuddin, .; Paroka, Daeng; Rahman, Sabaruddin; Wisyono, .; Pratama, Andi Angga
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 9, No 2 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v9i2.19314

Abstract

Fishing vessels are designed with a specific mission. That mission is to locate, catch, and preserve fish while out at sea, meanwhile the vessel needed to have good maneuverability. This research describes a study on asymmetrical propeller configuration of a fishing vessel to improve its maneuvering quality. MATLAB-simulink program was used to simulate, the turning circle and the zigzag maneuvers. The simulation program was developed based on the mathematical model for a fishing vessel maneuvering. The mathematical model involved the setting-up a 3 DOF (Degres of Freedom) mathematical model in a modular of MMG (Mathematical Modeling Group) of the hull, propeller and rudder component. The result indicated that twin propeller with asymmetrical had an advantages of turning circle ability of 8% to 14 %, meanwhile the zigzag maneuver 20°/20° had 9 to 20 % 1st overshoot different between left and right heading.                                                                                         Keywords: Configuration, propeller, assymetrical, fisheries, simulation