Articles

Found 19 Documents
Search

PEMANFAATAN LIMBAH BAGLOG JAMUR SEBAGAI BIOBRIKET DENGAN PENAMBAHAN GETAH DAMAR DAN TEPUNG KANJI SEBAGAI PEREKAT Moeksin, Rosdiana; Febrianti, Fitri; Octavirosa, Ade
Jurnal Teknik Kimia Vol 23, No 4 (2017): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.163 KB)

Abstract

Wastes baglog white oyster mushroom is a waste generated from the media planting oyster mushrooms that have been unproductive. In general, baglog waste oyster mushrooms have not been utilized to the fullest. Oyster baglog baglog contains a composition of 80% sawdust, 10% rice bran, 1.8% gypsum and 0.4% TS. Of the highest number of compositions sawdust and rice bran are the compositions in which the two components have supercarbon content which can be used as raw material for making bio briquette alternative fuel. The research undertaken was the manufacture of bioquets without carbonization from the baglog waste of white oyster mushrooms by comparison of the ratio of raw materials and adhesives (10: 3: 3 10: 3: 5 10: 3: 7) and oven temperature (95 ºC, 105 ºC, 115 ºC , 125ºC). This research is to know the effect of the ratio of resin and temperature of the oven on the biobriket produced. Biobrick making uses the resin of cat's eye and tapioca flour as adhesive. From the research, the result of bio briquette that fulfill the SNI requirement is 4735-5759 cal/g.
PEMBUATAN BIOETANOL DARI AIR LIMBAH CUCIAN BERAS MENGGUNAKAN METODE HIDROLISIS ENZIMATIK DAN FERMENTASI Moeksin, Rosdiana; R, Eni; Sari, W
Jurnal Teknik Kimia Vol 21, No 1 (2015): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.625 KB)

Abstract

Dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk Indonesia, maka kebutuhan pokok berupa beras, yang merupakan makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Beras menjadi nasi, sebelum dimasak dilakukan peroses pencucian terlebih dahulu. menghasilkan limbah berupa cucian air beras.Limbah cucian beras ini yang akan dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pembuatan bioetanol, masih mengandung karbohidrat yang dapat dihidrolisa untuk menghasilkan glukosa. Pada penelitian ini, proses hidrolisis dilakukan penambahkan enzim glukoamilase dengan variabel bebas yaitu 1, 2, dan 3% (v/v) dengan sampel cucian air beras 1500 ml. Proses fermentasi, dengan variasi waktu fermentasi 2, 4, dan 6 hari, dengan penambahan Saccharomyces cerevisiae sebanyak 1,5% (v/v), pH fermentasi 4,5;  Hasil penelitian kadar  penambahan enzim glukoamilase sebesar 3% (v/v) dan waktu optimum hidrolisis  6 jam  menghasilkan kadar glukosa sebesar 93,02 mg/L. Waktu optimum fermentasi  4 hari yang menghasilkan kadar etanol sebesar 11,177%
PEMBUATAN BIOETANOL DARI ECENG GONDOK (EICHHORNIA CRASSIPES) DENGAN PERLAKUAN FERMENTASI Moeksin, Rosdiana; Comeriorensi, Liliana; Damayanti, Rika
Jurnal Teknik Kimia Vol 22, No 1 (2016): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.714 KB)

Abstract

Eceng gondok (Eichhornia crassipes) merupakan tumbuhan yang digolongkan sebagai gulma perairan dan dapat berkembang biak cepat (3% per hari). Eceng gondok memiliki kandungan Selulosa (64,51%), Pentosa (15,61%), Lignin (7,69%), Silika (5,56%), dan Abu (12%). Selulosa yang terkandung di dalam eceng gondok dapat diolah menghasilkan bioetanol. Proses pembuatan bioetanol dilakukan dalam tiga tahap yaitu pretreatment, hidrolisis, dan fermentasi. Proses pretreatment dilakukan dengan menggunakan larutan NaOH 5% terhadap variasi bahan baku (eceng batang daun kering dan basah; eceng batang kering dan basah). Proses pretreatment dimaksud untuk mengurangi jumlah kandungan lignin yang terikat dengan selulosa. Hasil pretreatment dihidrolisis dengan menggunakan larutan H2SO4 2% pada temperatur 100oC. Selanjutnya, hasil hidrolisis difermentasi menggunakan ragi Saccharomyces cerevisiae dengan berbagai variasi waktu (20; 40; 60; 80; 100; 120 jam). Hasil penelitian menunjukkan kadar bioetanol tertinggi dihasilkan sebesar 60,41925344% dan hasil analisa gas chromatography (GC) menunjukkan kadar bioetanol tertinggi sebesar 67,18%  pada eceng gondok batang kering dan waktu fermentasi 80 jam. Hasil analisa menunjukkan kadar bioetanol tertinggi sebesar 67.18% .Kata Kunci: bioetanol, eceng gondok, fermentasi, hidrolisis, pretreatment
PENGARUH VOLUME ASAM (PROSES HIDROLISIS) DAN WAKTU FERMENTASI PADA PEMBUATAN BIOETANOL DARI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT Pratiwi, Riska Ayu; Amelia, Rizki; Moeksin, Rosdiana
Jurnal Teknik Kimia Vol 19, No 1 (2013): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.057 KB)

Abstract

Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) merupakan limbah yang belum termanfaatkan dengan baik. TKKS memiliki kandungan Selulosa (45,59%), hemiselulosa (22,84 %), lignin (16,49  %), abu (1,63%), nitrogen (0,53%), dan minyak (2,41%). Selulosa  di dalam TKKS dapat didegradasi menjadi bioetanol. Proses pembuatan bioetanol dilakukan dalam tiga tahap yaitu pretreatment, hirolisis dan fermentasi. TKKS di pretreatment dengan menggunakan larutan NaOH untuk menghilangkan lignin. Hasil pretreatment dihidrolisis dengan menggunakan larutan H2SO4 dalam berbagai variasi volume (20; 40; 60; 80 ml) dan difermentasi menggunakan ragi saccaromyces cerivisiae dengan berbagai variasi waktu (2; 4; 6; 8 hari). Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar bioetanol yang dihasilkan semakin tinggi sampai waktu fermentasi tertentu (waktu optimum) dan setelah waktu optimum terlewati kadar bioetanol yang dihasilkan menurun. Kadar bioetanol tertinggi dihasilkan sebesar 7.12% pada waktu fermentasi 6 hari dan volume pelarut 20 ml.
PEMBUATAN ETANOL DARI BENGKUANG DENGAN VARIASI BERAT RAGI, WAKTU, DAN JENIS RAGI Moeksin, Rosdiana; Francisca, Shinta
Jurnal Teknik Kimia Vol 17, No 2 (2010): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.423 KB)

Abstract

Pemanfaatan  bengkuang terkadang menjadi masalah terutama pada saat musim panen. Etanol dari bahan baku bengkuang, dengan bantuan  ragi, lama fermentasi (3, 5, dan 7 hari. Jenis ragi (ragi tape dan ragi roti),semakin besar berat ragi maka semakin tinggi etanol yang terbentuk. Pada penelitian ini, kadar etanol tertinggi dari bengkuang yang difermentasi dengan berat ragi 6 gr dan dengan lama fermentasi 5 hari  didapat  sebesar 22 %.
PENGARUH KOMPOSISI PEMBUATAN BIOBRIKET DARI CAMPURAN SERBUK GERGAJI, KULIT SINGKONG DAN BATUBARA TERHADAP NILAI PEMBAKARAN Moeksin, Rosdiana; Kunchoro, Adi
Jurnal Teknik Kimia Vol 21, No 4 (2015): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.543 KB)

Abstract

Penduduk Indonesia setiap tahun mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Dengan meningkatnya pertumbuhan tersebut, maka semakin banyak pula sumber energi yang digunakan. Oleh karena itu, perlu ditemukannya energi alternatif baru untuk mengatasi hal tersebut. Salah satunya yaitu dengan pemanfaatan campuran limbah kulit singkong dan serbuk untuk membuat biobriket.Pada penelitian ini, biobriket dibuat dengan pencampuran bahan baku antara Kulit Ubi Kayu dan Serbuk Gergaji dengan komposisi : 90 KUK : 10 SG ; 85 KUK : 15 SG ; 80 KUK : 20 SG ; 75 KUK : 25 SG ; 70 KUK : 30 SG ; 30 KUK : 70 SG ; 25 KUK : 75 SG ; 20 KUK : 80 SG ; 15 KUK : 85 SG ; 10 KUK : 90 SG.Pencampuran biobriket menggunakan perekat tepung tapioka sebanyak 10% dari berat biobriket dengan  temperatur  karbonisasi  untuk kulit ubi kayu sebesar 300oC dan untuk serbuk gergaji sebesar 500oC. Berdasarkan hasil analisa biobriket didapatkan semakin banyak komposisi bahan baku serbuk gergaji maka akan menghasilkan nilai kalor yang tinggi. Kondisi optimum didapatkan pada sampel dengan komposisi 10 KUK : 90 SG dengan nilai kalor sebesar 5775 cal/gr.Kata kunci : Biobriket, Komposisi bahan baku, karbonisasi
PENGARUH PENAMBAHAN AIR REBUSAN KECAMBAH SEBAGAI SUMBER NITROGEN PADA PEMBUATAN BIOETANOL DENGAN BAHAN BAKU MOLASE Moeksin, Rosdiana; Fadhilah, Afina; Permata, Adellia Indah
Jurnal Teknik Kimia Vol 23, No 4 (2017): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.496 KB)

Abstract

Molase merupakan limbah pabrik gula yang masih belum dimanfaatkan secara maksimal, yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pembuatan bioetanol. Penelitian ini akan digunakan dua jenis molase dari Tuban di wilayah provinsi Jawa Timur dan daerah Kendal di wilayah provinsi Jawa Tengah. Molase akan difermentasi dengan menggunakan ragi (Saccharomyces cerevisiae) dengan variasi waktu yaitu 1, 3 dan 5 hari dan penambahan air kecambah sebagai sumber nitrogen dengan berbagai variasi 0%(b/v), 30%(b/v) dan 60%(b/v). Proses pemisahan larutan fermentasi dan etanol yang terbentuk dilakukan dengan metode distilasi. Hasil penelitian menunjukkan kadar bioetanol sebesar 40,025%(v/v) dengan menggunakan metode massa jenis dan 50,0468%(v/v) dengan menggunakan metode analisa gas chromatography (GC).
PENGARUH UKURAN PARTIKEL DAN JENIS PELARUT SERTA WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP YIELD MINYAK PIPER RETROFRACTUM VAHL Moeksin, Rosdiana; Saputra, Bayu; Mareta, Hesti
Jurnal Teknik Kimia Vol 17, No 8 (2011): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.998 KB)

Abstract

Piper retrofractum vahl (Cabe Jawa) merupakan salah satu  tanaman obat-obatan yang sudah dimanfaatkan sejak zaman dahulu. Salah satu manfaatnya adalah sebagai bahan baku pembuatan minyak atsiri yang dapat dilakukan dengan cara ekstraksi. Ekstraksi dapat dilakukan dengan cara memvariasikan ukuran partikel dan jenis pelarut serta waktu ekstraksi untuk mendapatkan minyak piper retrofractum vahl. Jumlah yield paling tinggi dihasilkan oleh ekstraksi piper retrofractum vahl berukuran halus dengan menggunakan pelarut etanol dan waktu ekstraksi selama dua jam, yaitu 14,52%, berat jenis 0,884 gr/ml, viskositas 3,864 mm2/s, dan angka asam 34,70.
PENGARUH PENAMBAHAN PAPAIN TERHADAP KUALITAS VCO DENGAN METODE ENZIMATIS, SENTRIFUGASI DAN PEMANASAN Moeksin, Rosdiana; Rahmawati, Yuni; Rini, Puspa
Jurnal Teknik Kimia Vol 15, No 1 (2008): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (36.575 KB)

Abstract

VCO  (Virgin Coconut Oil) hasil olahan buah kelapa  dengan bantuan enzim papain yang berasal dari getah papaya, waktu pengenziman berkisar 20-26 jam, karena pemanasan bersuhu tinggi merusak kandungan senyawa aktif VCO seperti asam laurat dan vitamin E yang sangat berkhasiat.Dari proses enzimatis didapatkan VCO yang sedikit maka dilakukanlah sentrifugasi untuk tujuan merusak ikatan protein yang belum terpecah pada proses enzimatis, lalu dipanaskan pada temperature dibawah 100oC dan  waktu pemanasan berkisar 5 - 20 menit dan diperoleh VCO yang berkualitas. Hasil menunjukkan bahwa semakin besar penambahan papain maka kualitas VCO semakin tinggi hingga mencapai titik optimum di 30% , asam lemak bebas pada temperature 65oC dengan waktu pengenziman selama 24 jam dan pemanasan selama 5 menit.
Influence of Blending of Diesel Certified and Biodiesel CPO on Efficiency of 60 MMT SB Boiler Type Sumardi, Novia; Ellyanie, Ellyanie; Moeksin, Rosdiana
Journal of Mechanical Science and Engineering Vol 1, No 1 (2013): Journal of Mechanical Science and Engineering
Publisher : Sriwijaya University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.227 KB)

Abstract

Abstract Combustion is the process of mixing  oxygen and carbon in speed and produces heat. Oxygen  from the air, while carbon derived from fuel. Combustion  boilers as a chemical process of unification of the fuel and oxygen from the air with the speed of a particular reaction that produces energy. Calculation of the combustion process is the starting point  the design of boilers, furnaces and other appliances that generate heat from the combustion process derived from the number of elements involved in a chemical reaction, the amount of heat generated and the efficiency of combustion. The fuel is a mixture of diesel and biodiesel certified crude palm oil, ratio B0, B5, B10, B15, B20, B30 testing using Fire Tube BoilersSB60MMT. From the ultimate analysis and dry flue gas emissions (gas Analyzer), then calculated based on stoichiometric combustion and efficiency using the indirect method, the calculation results obtained from the more mixed crude palm oil biodiesel is added then the content of SO2, CO, NOx  increasingly reduced. Also obtained the largest heat loss due to dry flue gas and 8,209% heat loss due to evaporation of water formed in  H2 fuel efficiency of 7,002% to 85.637% on the  blend B20. Keywords: Solar Certified, CPO Biodiesel, Fire Tube Boilers, Emissions, Effici