Articles

Found 10 Documents
Search

PENINGKATAN UNJUK KERJA MOTOR BENSIN EMPAT LANGKAH DENGAN PENGGUNAAN METHYL TERTIARY BUTHYL ETHER PADA BENSIN Kristanto, Philip; Anggono, Willyanto; Michael, Michael
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 2 (2001): OCTOBER 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Octane number is reference to measure quality of gasoline as the fuel of gasoline engine. Gasoline with higher octane number gives less tendency to knocking. Methyl Tertiary Buthyl Ether is a chemical solutions that gives positive effect to rise the octane number. Using a motor Daihatsu CB-23, the best power obtained by using gasoline with 20% Methyl Tertiary Buthyl Ether and ignition timing is 15 degree before TDC. Abstract in Bahasa Indonesia : Angka oktan merupakan acuan untuk mengukur kualitas bensin yang digunakan sebagai bahan bakar motor bensin. Makin tinggi angka oktan maka makin rendah kecenderungan bensin untuk terjadi knocking. Methyl Tertiary Buthyl Ether merupakan suatu larutan kimia yang memberikan pengaruh positif untuk meningkatkan angka oktan dari bensin. Dari hasil percobaan dengan motor Daihatsu CB-23 diperoleh bahwa dengan penambahan Methyl Tertiary Buthyl Ether dengan konsentrasi 20% dalam bensin dan sudut pengapian 15 derajat sebelum TMA diperoleh daya yang dihasilkan motor paling optimal. Kata kunci: angka oktan, motor bensin, Methyl Tertiary Buthyl Ether.
Indikator Perawatan Pasien: Resep Pasien Degeneratif-Nondegeneratif dan Resep Racikan-Nonracikan di Salah Satu Apotek di Bandung Destiani, Dika P.; Nasution, Ainun M.; Pratama, Anita P.; Mujihardianti, Elida R.; Rahayu, Fenadya; Michael, Michael; Amrillah, Muhammad W.; Anistia, Nida; Pamolango, Steven A.; R., Theresia; Sinuraya, Rano K.; R., Abdurahman; Permata, Riestya D.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.68 KB)

Abstract

Apotek merupakan salah satu sarana dilakukannya pelayanan kefarmasian oleh seorang apoteker. Dilaporkan bahwa 50% pasien gagal menerima pengobatan secara tepat karena peresepan dan praktik pemberian obat (dispensing) yang tidak sesuai. Apoteker memiliki peran untuk lebih terlibat dalam pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) yang berorientasi pada pasien. Pada penelitian ini dilakukan evaluasi perawatan pasien (patient care) di Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran (Unpad) Kota Bandung, pada bulan Juli–Oktober tahun 2017, dengan menilai beberapa faktor dalam pemberian obat sesuai dengan ketentuan instrumen indikator perawatan pasien dari WHO. Penelitian ini menggunakan rancangan cross-sectional dengan jumlah sampel minimal 20 pasien. Indikator yang digunakan meliputi: lama waktu konsultasi, lama waktu pemberian obat, persen obat yang dapat diserahkan, pelabelan yang benar, dan pengetahuan akan dosis. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata waktu pemberian obat 264 detik, persentase obat yang diserahkan 97,18%, persentase obat yang terlabeli dengan benar 100%, dan waktu rata-rata konsultasi 99,03 detik. Indikator pengetahuan pasien mengenai obatnya hanya 17,07% dan waktu konsultasi bervariasi yaitu 10–370 detik, dibandingkan waktu rekomendasi yaitu 60 detik. Tingkat pengetahuan pasien mengenai obat atau dosis hanya 21,17%. Kegiatan pelayanan kefarmasian di Apotek Pendidikan Unpad dapat dinilai dengan menggunakan indikator WHO dan diketahui bahwa pengetahuan pasien akan dosis obat dipengaruhi oleh jenis penyakit yaitu penyakit degeneratif dan nondegeneratif, sedangkan waktu pemberian obat dan pelabelan obat yang benar dipengaruhi oleh jenis resep pasien yaitu resep racikan atau nonracikan. Kecepatan waktu pelayanan untuk pasien nonkonseling perlu ditingkatkan sehingga diharapkan pasien dapat menerima obat dengan cepat. Pengetahuan pasien mengenai terapinya yang masih rendah juga diharapkan dapat meningkat dengan pemberian informasi obat atau konseling.Kata kunci: Indikator pasien, pelayanan kefarmasian, pengetahuan pasien, waktu konsultasi, waktu dispensing, tepat labelPatient Care Indicator: Degenerative-Nondegenerative Patients and Compounded-Non-Compounded Prescription in One of Community Pharmacy in BandungAbstractPharmacy is one of facilities for pharmacist to do a pharmaceutical care. It has been reported that 50% of patients failed to receive a treatment properly because of error in prescription and dispensing practices. Pharmacist has to be more involved in patient-oriented of pharmaceutical care. This study was conducted to evaluate pharmaceutical care in Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung from July–October in 2017, by assessing several factors in drugs dispensing using WHO patient indicators instrument. This cross-sectional study was conducted with a minimum sample size of 20 patients. The indicators that we used based on WHO assessment were average consultation time, dispensing time, percent of drugs that can be delivered, percent of labeling, and knowledge of dosage. The results showed that the average of consultation time was 99.03 s, average of dispensing time was 264 s, percentage of delivered drug was 97.18%, and 100% of correctly labeled drugs. Patients’ knowledge about their drug was only 17.07%, and consultation time varied from 10 to 370 s, compared with recommended time which is 60 s. Patients’ knowledge about dose was only 21.17%. Pharmaceutical care in Apotek Pendidikan Unpad Bandung could be assessed by WHO indicators and can be seen that patients’ knowledge of drug dose was influenced by type of disease which is degenerative and nondegenerative diseases, while time of drug administration and correct drug labeling was influenced by type of prescription of patients that is prescription of compounded medicine or non-compounded medicine. Pharmacists need to increase their service time so that patients can receive the drug quickly. Low patient’s knowledge is also expected to increase by drug information service and counseling.Keywords: Consultation time, dispensing time, patient indicators, patient knowledge, pharmaceutical care, right label
Pengaruh jumlah penduduk dan inflasi serta investasi swasta terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengangguran Rahayu, Kuswati Indra; Michael, Michael; Amalia, Siti
INOVASI Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Economics and Business Mulawarman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.945 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah penduduk, inflasi, dan investasi swasta terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengangguran di Provinsi Kalimantan Timur, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Penelitian ini bersifat eksplanatif (eksplanatory research), yakni berusaha menjelaskan hubungan kausalitas (causality relationship) antara jumlah penduduk, inflasi, dan investasi swasta terhadap pengangguran melalui pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kalimantan Timur dengan menggunakan data panel, tahun 2003-2014 di 9 kabupaten/ kota. Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah structural equation model (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah penduduk secara langsung berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur, sedangkan inflasi dan investasi swasta secara langsung tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur. Kemudian, Pertumbuhan ekonomi, inflasi dan investasi swasta secara langsung tidak berpengaruh signifikan terhadap pengangguran di Kalimantan Timur.  Sedangkan jumlah penduduk secara langsung berpengaruh signifikan terhadap pengangguran di Kalimantan Timur. Selanjutnya, jumlah penduduk, inflasi dan investasi swasta secara tidak langsung tidak berpengaruh signifikan terhadap pengangguran di Kalimantan Timur.
Design and Development of Computer Specification Recommendation System Based on User Budget With Genetic Algorithm Michael, Michael; Winarno, Winarno
IJNMT (International Journal of New Media Technology) Vol 5 No 1 (2018): International Journal of New Media Technology (IJNMT)
Publisher : Universitas Multimedia Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.794 KB)

Abstract

There are a lot of things that must be considered when determining specifications of computer components to make sure those components chose are working compatible. According to a survey conducted to 78 respondents, about 72.5% of the respondents prefer to buy a built-up computer. The reason is because of a lack of knowledge of computer components and how to assemble computer properly. This research aimed to develop   a recommendation system that able to give recommendation of buying computer based on compatible components to be assembled, with the available budget, so that people who do not know computer components can also buy a assembled computer. The Genetic Algorithm was chosen for making this recommendation system because this Algorithm gives more alternative solutions through the process of crossover and mutation compared to the Greedy Algorithm which doesn’t produce a solution by trying all alternative solution nor  Exhaustive Search on Brute Force Algorithm which takes a long time to find optimum solution. The recommendation system of computer components specifications based on the budget available has been successfully developed using Genetic Algorithm and achieved 75.75% user satisfaction. Index Terms— Computer Components, Genetic Algorithm, Greedy Algorithm, Recommendation System.
STUDI KASUS EVALUASI KINERJA SEISMIK BANGUNAN BETON BERTULANG DENGAN MEMPERTIMBANGKAN SOIL-STRUCTURE INTERACTION Michael, Michael
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 8, No 1 (2019): Jurnal Teknik Sipil USU Volume 8, No. 1 Tahun 2019
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.958 KB)

Abstract

Abstrak : Analisa respons seismik struktur sering dilakukan tanpa mempertimbangkan interaksi struktur tanah, dimana dasar struktur diasumsikan kaku (rigid) . Namun, diketahui bahwa fleksibilitas dasar memberikan pengaruh yang signifikan terhadap respons seismik struktur. Bangunan beton bertulang dengan jumlah lantai 3, 4 dan 5, terletak pada tanah sedang dan tanah lunak akan dikaji dengan analisis nonlinear pushover. Analisis akan dilakukan pada bangunan dengan mempertimbangkan interaksi struktur tanah maupun tidak. Untuk menunjukkan perilaku inelastik elemen balok dan kolom, digunakan model fiber dengan distributed plasticity pada kedua elemen tersebut. Respons tanah dimodelkan sebagai pegas (Beam Nonlinear Winkler Foundation) yang menggunakan acuan ATC-40. Hasil menunjukkan bahwa pada bangunan 3 lantai ,variasi tanah tidak memberikan perbedaan yang besar terhadap kapasitas lateral bangunan sehingga interaksi struktur tanah dapat diabaikan. Namun, pada bangunan 4 dan 5 lantai ditunjukkan bahwa kapasitas lateral berkurang secara bertahap sehingga interaksi struktur tanah perlu dipertimbangkan. Selanjutnya, daktilitas struktur menunjukkan hasil yang serupa dengan kapasitas lateral berdasarkan jenis tanah. Untuk bangunan 3 lantai variasi tanah tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap daktilitas struktur. Namun, untuk bangunan 4 dan 5 lantai daktilitas menurun secara drastis dari tanah sedang ke tanah lunak.Kata kunci: Interaksi Struktur Tanah, Bangunan Beton Bertulang, Nonlinear Pushover
DAMPAK SUB-SEKTOR UNGGULAN TERHADAP PEREKONOMIAN KOTA SAMARINDA: PENDEKATAN INPUT-OUTPUT Mahakam, Jerry Pahlevy; Michael, Michael; Amalia, Siti
Journal of Innovation in Business and Economics Vol 6, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Economics and Business, University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.144 KB)

Abstract

In this paper, the writer would like to investigate the sub-sectors of the economy categorized as superior, potential, and non-superior, determine the magnitude of  multiplier income arising from these sub-sector on household income and job opportunities, and identify the sub-sector of the economy which can be placed as a superior in Samarinda. This study employed Input-Output approach which later discovered several factors which were considered as superior, namely  food and beverage industry; Paper and printing industry; electricity; construction / building; land transportation; and other services, while the sub-sectors which were included in non-superior categories were rice, cassava, vegetables, fruits, other staple food crops, plantation crops, timber and forest products, fisheries, mining, timber industry, chemical industry, hotels, telecommunications, insurance, government, education services. In addition, the results of forward and backward linkages analysis and multiplier income calculating of household income and job opportunities found that those sub-sectors of food and beverage industry, building/ construction, other services, and land transportation were categorized into major sub-sectors.
Indikator Perawatan Pasien: Resep Pasien Degeneratif-Nondegeneratif dan Resep Racikan-Nonracikan di Salah Satu Apotek di Bandung Destiani, Dika P.; Nasution, Ainun M.; Pratama, Anita P.; Mujihardianti, Elida R.; Rahayu, Fenadya; Michael, Michael; Amrillah, Muhammad W.; Anistia, Nida; Pamolango, Steven A.; R., Theresia; Sinuraya, Rano K.; R., Abdurahman; Permata, Riestya D.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Apotek merupakan salah satu sarana dilakukannya pelayanan kefarmasian oleh seorang apoteker. Dilaporkan bahwa 50% pasien gagal menerima pengobatan secara tepat karena peresepan dan praktik pemberian obat (dispensing) yang tidak sesuai. Apoteker memiliki peran untuk lebih terlibat dalam pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) yang berorientasi pada pasien. Pada penelitian ini dilakukan evaluasi perawatan pasien (patient care) di Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran (Unpad) Kota Bandung, pada bulan Juli–Oktober tahun 2017, dengan menilai beberapa faktor dalam pemberian obat sesuai dengan ketentuan instrumen indikator perawatan pasien dari WHO. Penelitian ini menggunakan rancangan cross-sectional dengan jumlah sampel minimal 20 pasien. Indikator yang digunakan meliputi: lama waktu konsultasi, lama waktu pemberian obat, persen obat yang dapat diserahkan, pelabelan yang benar, dan pengetahuan akan dosis. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata waktu pemberian obat 264 detik, persentase obat yang diserahkan 97,18%, persentase obat yang terlabeli dengan benar 100%, dan waktu rata-rata konsultasi 99,03 detik. Indikator pengetahuan pasien mengenai obatnya hanya 17,07% dan waktu konsultasi bervariasi yaitu 10–370 detik, dibandingkan waktu rekomendasi yaitu 60 detik. Tingkat pengetahuan pasien mengenai obat atau dosis hanya 21,17%. Kegiatan pelayanan kefarmasian di Apotek Pendidikan Unpad dapat dinilai dengan menggunakan indikator WHO dan diketahui bahwa pengetahuan pasien akan dosis obat dipengaruhi oleh jenis penyakit yaitu penyakit degeneratif dan nondegeneratif, sedangkan waktu pemberian obat dan pelabelan obat yang benar dipengaruhi oleh jenis resep pasien yaitu resep racikan atau nonracikan. Kecepatan waktu pelayanan untuk pasien nonkonseling perlu ditingkatkan sehingga diharapkan pasien dapat menerima obat dengan cepat. Pengetahuan pasien mengenai terapinya yang masih rendah juga diharapkan dapat meningkat dengan pemberian informasi obat atau konseling.Kata kunci: Indikator pasien, pelayanan kefarmasian, pengetahuan pasien, waktu konsultasi, waktu dispensing, tepat labelPatient Care Indicator: Degenerative-Nondegenerative Patients and Compounded-Non-Compounded Prescription in One of Community Pharmacy in BandungAbstractPharmacy is one of facilities for pharmacist to do a pharmaceutical care. It has been reported that 50% of patients failed to receive a treatment properly because of error in prescription and dispensing practices. Pharmacist has to be more involved in patient-oriented of pharmaceutical care. This study was conducted to evaluate pharmaceutical care in Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung from July–October in 2017, by assessing several factors in drugs dispensing using WHO patient indicators instrument. This cross-sectional study was conducted with a minimum sample size of 20 patients. The indicators that we used based on WHO assessment were average consultation time, dispensing time, percent of drugs that can be delivered, percent of labeling, and knowledge of dosage. The results showed that the average of consultation time was 99.03 s, average of dispensing time was 264 s, percentage of delivered drug was 97.18%, and 100% of correctly labeled drugs. Patients’ knowledge about their drug was only 17.07%, and consultation time varied from 10 to 370 s, compared with recommended time which is 60 s. Patients’ knowledge about dose was only 21.17%. Pharmaceutical care in Apotek Pendidikan Unpad Bandung could be assessed by WHO indicators and can be seen that patients’ knowledge of drug dose was influenced by type of disease which is degenerative and nondegenerative diseases, while time of drug administration and correct drug labeling was influenced by type of prescription of patients that is prescription of compounded medicine or non-compounded medicine. Pharmacists need to increase their service time so that patients can receive the drug quickly. Low patient’s knowledge is also expected to increase by drug information service and counseling.Keywords: Consultation time, dispensing time, patient indicators, patient knowledge, pharmaceutical care, right label
Studi Komunikasi Hubungan Antara Anak yang Pindah Agama dengan Keluarganya Michael, Michael
Koneksi Vol 1, No 1 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi yang terjalin paling awal dalam kehidupan manusia adalah komunikasi dengan keluarga. Keluarga di Indonesia menjunjung tinggi agama dan kepercayaannya. Sedangkan proses globalisasi dan multikultur membuat setiap orang lebih mudah untuk bertemu dan bekenalan dengan orang lain yang berbeda latar belakang agama. Penelitian ini dibuat dengan maksud ingin mengetahui bagaimanakah komunikasi yang terjalin antara anak yang pindah agama dengan keluarganya. Yang diteliti disini adalah anak yang telah berusia dewasa dan sudah menikah dengan pasangannya yang berbeda agama. Anak tersebut kemudian pindah agama mengikuti keyakinan pasangannya karena hukum di Indonesia tidak memperbolehkan pernikahan beda agama. Teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah teori komunikasi keluarga, teori komunikasi dan konsep hubungan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian dengan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dengan tipe penelitian studi kasus. Data yang akan dianalisis diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan empat narasumber yang pindah agama. Kesimpulan penelitian ini adalah komunikasi antara anak yang pindah agama dengan keluarganya menjadi renggang ditandai dengan jarangnya komunikasi tatap muka. Komunikasi dilakukan hanya melalui telepon.
PENGARUH PENAMBAHAN BATUBARA LIGNIT TERHADAP KUALITAS BRIKET BIOARANG DARI CAMPURAN TANDAN KOSONG DAN CANGKANG KELAPA SAWIT Fachry, H.A.R; Afrah, Bazlina Dawami; Michael, Michael
Jurnal Teknik Kimia Vol 17, No 6 (2011): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.284 KB)

Abstract

Ketersediaan Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan cangkang kelapa sawit sebagai limbah kelapa sawit yang belum termanfaatkan cukup banyak di Indonesia. Melalui penelitian diketahui bahwa TKKS dan cangkang kelapa sawit  dapat diolah menjadi arang, yang apabila ditambahkan bahan pengikat dan diolah lebih lanjut dapat dibuat menjadi briket. Pemanfaatan TKKS dan cangkang kosong kelapa sawit  ini juga dapat digunakan sebagai alternatif bahan bakar minyak (BBM). Keterbatasan akan ketersediaan sumber energi tak terbaharukan khususnya BBM menjadi ancaman yang cukup serius bagi masyarakat karena penggunaannya yang sangat essensial. Pemanfaatan energi-energi alternatif, khususnya bagi energi yang dapat diperbaharui (renewable energy), satu diantaranya adalah biomassa. Dari penelitian yang dilakukan suhu optimal untuk proses karbonisasi TKKS dan cangkang kelapa sawit adalah 450 oC karena suhu 450 oC memiliki nilai kalor yang lebih tinggi dibandingkan dengan suhu 300oC, 350 oC, 400 oC, dan 500 oC,  selain itu penambahan batubara dapat menaikkan nilai kalor dari briket. Briket bioarang batubara yanga memiliki kualitas optimal adalah briket dengan penambahan batubara sebesar 35 % serta rasio antara TKKS dan cangkang kelapa sawit 1 : 15 karena memunuhi 4 parameter kualitas. Parameter optimum yang terpenuhi, yaitu nilai kalor sebesr 6834 cal/gr, kadar air lembab dengan persentase sebesar 4,97 %, kadar abu sebesar 3,03 %, serta kadar zat terbang sebesar 26,20 %. 
HUMOR PADA SALESPERSON AUTO 2000 PT. “X” DI JAKARTA BERDASARKAN TINJAUAN PSIKOLOGI ULAYAT Michael, Michael; Sudarji, Shanty
Psibernetika Vol 7, No 1 (2014): Psibernetika
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine how the humor in the salesperson at Auto 2000 in Jakarta based on a review of Indigenous Psychology. Research instruments using open-ended questionnaire that is based on the results of focus group discussion. Answers were analyzed using thematic analysis method. Number of subjects , 134 people from five Auto 2000 branch office in Jakarta . The results of the data showed that most subjects utilizing humor as a way of reducing stress . Humor is used mostly quite aggressive humor and enjoy aggressive humor television scene. Aggressive humor is like mocking and bullying on someone. There is also the use of humor as a way to maintain relationships with others, such as negotiate with customers, which is associated with affliative humor . Keywords : Humor , salesperson , Indigenous Psychology