Maria Mexitalia
Staf pengajar Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Jl. Dr. Sutomo No. 18 Semarang

Published : 31 Documents
Articles

Found 31 Documents
Search

Respons Histopatologik Karsinoma Serviks Uteri Setelah Pemberian Kemoradiasi Iskandar, T Mirza; Mexitalia, Maria; Sarjadi, Sarjadi; Dharmana, Edi; Pramono, Noor
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 3 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.404 KB)

Abstract

ABSTRACTFactors associated with histopathologic responses of cervical cancer after chemoradiation therapyIntroduction: Cervical carcinoma is the second most common women cancer in the world. A combined of surgical, radiation and chemotherapy is the main cervical carcinoma treatment. The histopathological response is one performance to assess the result of the treatment. The purpose of the study is to analyze the factors of cervical cancer which contributes to the histopathological response after chemoradiation treatment.Methods: The design of the study was a case control, done at Dr. Kariadi Hospital Semarang in 2008. Patients with biopsy-proven cervical carcinoma were entered into the study. The variables of risk factors included the stage of the cancer by FIGO staging, the type and differentiation of the tumour, the anemia and the history of the transfusion and the immunotherapy by BCG vaccine. The histopathological response was assessed after the chemoradiation treatment. Chi-square was used to analyze the risk factors and logistic regression was used for the multivariate analysis.Results: Between April-August 2008, 77 patients finished the chemoradiation treatment. The type of the cancer was squamous cell carcinoma (71.4%) and the stage was III B (81.8%). The staging, type and differentiation of the tumor, and the history of transfusion did not contributes to the histopathological response. After adjustment of other factors, the contribution of anemia to poor histopathological response were 6.25 times (95% CI 1.12-34.90; p=0.037) higher than good histopahological response.Conclusion: Anemia is the risk factor of poor histopathological response of cervical carcinoma after chemoradiation therapy.Keywords: Cervical carcinoma, chemoradiation, histopahological responseABSTRAKPendahuluan: Karsinoma serviks uteri (KSU) merupakan kanker kedua terbanyak pada wanita di seluruh dunia. Sampai saat ini terapi pilihan utama KSU adalah operasi, radiasi dan kemoterapi. Salah satu penilaian keberhasilan terapi adalah dengan respon histopatologik. Tujuan penelitian ini adalah menilai faktor-faktor yang berperan terhadap respons histopatologik setelah terapi kemoradiasi.Metode: Desain penelitian adalah kasus kontrol. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Kriteria inklusi adalah KSU yang telah menyelesaikan kemoradiasi. Faktor-faktor yang dinilai berperan terhadap respons histopatologi adalah tipe histologis dan diferensiasi tumor, stadium tumor berdasarkan FIGO, anemia dan riwayat transfusi serta pemberian imunoterapi dengan BCG. Analisis statistik menggunakan kai-kuadrat dan regresi logistik.Hasil: Selama periode April-Agustus 2008 terdapat 77 penderita yang menyelesaikan kemoradiasi. Sebagian besar penderita berada pada stadium IIIB (71,4%) dan mempunyai tipe histologi karsinoma sel skuamosa (81,8%). Stadium tumor, tipe histologi dan diferensiasi tumor, riwayat transfusi serta imunoterapi BCG tidak berperan pada respons histopatologik. Setelah memperhitungkan faktor perancu, risiko anemia terhadap respons histopatologi yang jelek adalah 6,25 kali (95% CI 1,12-34,90; p=0,037).Simpulan: Anemia merupakan faktor risiko terjadinya respon histopatologik yang jelek pada penderita karsinoma serviks uterisetelah mendapatkan terapi kemoradiasi.
Komposisi Tubuh dan Kesegaran Kardiovaskuler yang Diukur dengan Harvard Step Test dan 20m Shuttle Run Test pada Anak Obesitas Mexitalia, Maria; Anam, MS; Uemura, Azusa; Yamauchi, Taro
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2012:MMI VOLUME 46 ISSUE 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.313 KB)

Abstract

Body composition and cardiovascular fitness measured by Harvard step test and 20m shuttle run test in obese childrenBackground: One of the impacts of obesity are physical and cardiovascular problems. Harvard step test and 20m shuttle run test can be used to measure cardiovascular fitness. Objective of this research is to determine the association between body composition with cardiovascular fitness in obese children measured by Harvard step test (HST) and 20m shuttle run test (SRT).Method: Cross sectional study was conducted to 31 students of Bernardus Elementary School Semarang in August 2010. Body composition (body mass index/BMI and fat percentage) was measured by Tanita BC545. Cardiovascular fitness was measured by HST and 20m SRT. During the step test Polar Vantage? Heart Rate (HR) monitor was attached to the subjects. Data were analyzed with Spearman correlation.Result: The average age was 10.7 (0.68) years. Only 17 children finished level III of Harvard test. The HR recovery never met the normal limit. There was no difference of physical fitness index (PFI) level I, II, and III (p=0.130) but the HR recovery decreased significantly (p=0.020). The mean of VO2max measured by 20m SRT was 20.5 (1.2) ml/kg/min, significantly lower compared with HST 24.2 (2.27) ml/kg/min. There were negative correlation between PFI and BMI (r=-0.381; p=0.034) and VO2max and BMI(r=-0.448; p=0.012).Conclusion: There are negative correlation between body mass index and cardiovascular fitness. However there are difference result of VO2max from Harvard step test comparing with 20m shuttle run test.Keywords: Harvard step test, 20m shuttle run test, physical fitness, obesityABSTRAKLatar belakang: Salah satu dampak obesitas adalah masalah fisik dan kardiovaskuler. Harvard step test (HST) dan 20m shuttle run test (SRT) merupakan tes yang digunakan untuk mengukur tingkat kesegaran kardiovaskuler. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan komposisi tubuh dengan tingkat kesegaran kardiovaskuler pada anak obesitas menggunakan HST dan 20m SRT.Metode: Penelitian belah lintang dilakukan di SD Bernardus Semarang bulan Agustus 2010. Komposisi tubuh (indeks massa tubuh/ IMT) dan persentase lemak tubuh diukur dengan Tanita BC545. Dilakukan Harvard step test dan denyut jantung selama tes direkam menggunakan Polar Vantage Heart Rate (HR) monitor, serta dilakukan 20m SRT. Data dianalisis dengan uji korelasi Spearman.Hasil: Tiga puluh satu anak obesitas berumur 10,7(0,68) tahun mengikuti penelitian ini. Hanya 17 anak yang bisa menyelesaikan tes Harvard sampai tahap III. Didapatkan rerata HR saat istirahat lebih tinggi dibanding normal. Tidak didapatkan perbedaan physical fitness index (PFI) antara tes I, II, dan III (p=0,130) tetapi didapatkan penurunan HR recovery I, II, dan III yang bermakna (p=0,020). Rerata VO2max SRT 20,5(1,2) ml/kg/menit lebih rendah secara bermakna dibandingkan HST I yaitu 24,2(2,27) ml/kg/menit. Didapatkan hubungan terbalik antara PFI dengan IMT (r=-0,381, p=0,034) dan VO2max dengan IMT (r=-0,448, p=0,012).Simpulan: Didapatkan hubungan terbalik antara indeks massa tubuh dengan kesegaran kardiovaskuler pada anak obesitas, tetapi tidak didapatkan kesesuaian VO2max berdasarkan Harvard step test dan 20m shuttle run test.
Asupan Makan dan Status Gizi Anak dengan Palsi Serebralis Sugiarto, Felicita; Mexitalia, Maria
MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang: Pada 25% anak-anak normal dan 80% anak-anak dengan gangguan perkembangan dilaporkan mempunyai masalah kesulitan makan. Salah satunya adalah palsi serebralis. Pada anak-anak dengan palsi serebralis terjadi gangguan motorik yang mengakibatkan gangguan dalam pemberian makanan. Gangguan ini memiliki efek yang signifikan terhadap pertumbuhan, perkembangan dan status gizi.Tujuan: Mendeskripsikan dan menganalisis asupan makan (energi dan protein) serta status gizi pada anak dengan palsi serebralis.Metode: Rancangan penelitian adalah belah lintang dengan analisis deskriptif. Penentuan status gizi didapat dari pengukuran antropometri dan asupan makanan didapat dari perhitungan catatan makan selama 2 hari.Hasil: Penelitian yang dilakukan di Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Semarang dengan jumlah subyek 27 anak, umur 2 – 10 tahun, memberikan hasil: rerata asupan kalori pada anak dengan palsi serebralis adalah 1133,96 kkal dan rerata asupan protein nya adalah 38,69 gram. Rerata kebutuhan kalori individu menurut rumus Nelson adalah 1761,39 kkal dan rerata kebutuhan protein nya adalah 29,23 gram. Asupan kalori yang lebih rendah didapati pada 81,5% responden dan asupan protein yang lebih rendah didapati pada 33,3% responden. Status gizi kurang didapati pada 88,9% responden.Simpulan: Asupan kalori pada anak dengan palsi serebralis hampir seluruhnya lebih rendah dan asupan protein pada anak dengan palsi serebralis sebagian besar lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan kalori dan kebutuhan protein individu menurut rumus Nelson. Sebagian besar status gizi anak dengan palsi serebralis adalah gizi kurang.Kata kunci: Asupan makan, status gizi, palsi serebralis
Proporsi dan Status Gizi Anak Usia 6-24 Bulan yang Mengalami Kesulitan Makan di Semarang (Studi Kasus di Kelurahan Tandang dan Kelurahan Sendangguwo) Antolis, Patricia Vanessa; Ratu, Irma Rezki; Mexitalia, Maria
MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

ABSTRACTBackground : Feeding difficulties are identified as any problem that negatively affectsthe process of providing food or supplying nutrition that are concerned as a major healthproblem worldwide. However, there was a limited study of feeding difficulties in childrenaged 6-24 months towards proportion and nutritional status in In Indonesia. Therefore,through this identification, there is an intention that people could anticipate anynutritional problems in children with feeding difficulties.Objective : This studi was aimed to identify the proportion and nutritional status inchildren aged 6-24 months with feeding difficulties in Semarang.Methods : This was a cross-sectional study. Subjects for this study were 95 children aged6-24 months who had problems during feeding practices according to their parents. Thestudy was conducted in Tandang and Sendangguwo sub-district. The diagnosis of feedingdifficulties was obtained from interviewing parents and filling in the questionnaire. Thenutritional status of children was assessed through anthropometry assessment.Results : There were two types of feeding difficulties on subjects, inappropriate feedingpractice (95.8%) and parental misperception (4.2%). The nutritional status of childrenwith parental misperception was normal (4.2%), while the nutritional status of childrenwith inappropriate feeding practice were obese (1.1%), overweight (1.1%), normal(86.3%), mild malnutrition (5.3%), and severe malnutrition (2.1%).Conclusions : The highest proportion of feeding difficulties was due to inappropriatefeeding practice, while the majority of the nutritional status of the children was in termsof normal.Keywords : feeding difficulties, nutritional status, children, aged 6-24 months
PENGARUH KONSELING DENGAN FEEDING RULES TERHADAP STATUS GIZI ANAK DENGAN KESULITAN MAKAN Kadarhadi, Elva; Pratiwi, Rina; Mexitalia, Maria
MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang: Kesulitan makan merupakan masalah yang sering dijumpai di masyarakat. Kesulitan makan diidentifikasikan ketika anak menolak atau tidak mampu menerima sejumlah asupan makanan. Konseling dengan feeding rulespada orangtua anak merupakan salah satu cara untuk membantu anak dalam mengatasi masalah makannya.Tujuan: Mengetahui perbedaan status gizi anak dengan kesulitan makan pada sebelum dan sesudah konseling dengan feeding rules.Metode: Penelitian dengan studi quasi experiment berupa non equivalent control group design dilakukan pada anak usia 6-24 bulan yang menurut orangtuanya memiliki kesulitan makan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga Juli 2012 di Posyandu Kelurahan Tandang dan Sendangguwo Semarang terhadap 20 anak kelompok perlakuan dan 21 anak kelompok kontrol. Konseling dengan feeding rules diberikan oleh dokter spesialis anak kepada ibu subyek padakelompok perlakuan. Perbandingan ΔWAZ, ΔHAZ, dan ΔWHZ antara kedua kelompok diuji dengan menggunakan uji t tidak berpasangan.Hasil: Sebanyak 56.1% subyek adalah anak perempuan, 92,7% anak memiliki masalah makan jenis inappropriate feeding practice. Setelah 3 bulan pengamatan, tidak terdapat peningkatan skor WAZ, HAZ, dan WHZ secara signifikan padakelompok kontrol. Pada kelompok perlakuan terdapat peningkatan skor WAZ (p= 0,058), HAZ (p= 0,018), dan WHZ (p= 0,545), namun hanya skor HAZ yang memiliki nilai signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol.Simpulan: Terdapat perbedaan status gizi anak dengan kesulitan makan pada sebelum dan sesudah konseling dengan feeding rules dilihat dari skor HAZ.Kata kunci: kesulitan makan, konseling feeding rules, status gizi
PERBEDAAN RERATA KADAR BILIRUBIN PADA NEONATUS YANG MENDAPAT ASI EKSKLUSIF DAN TIDAK EKSKLUSIF Oktaviyanti, Nur Ade; Mexitalia, Maria; Sulistyawati, Endang
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang: Hiperbilirubinemia adalah salah satu  permasalahan yang umum terjadi pada neonatus aterm. Hiperbilirubinemia yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko terjadinya bilirubin ensefalopati, kernikterus, defek neurologis bahkan kematian. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian ASI yang adekuat. Namun, masih terdapat perbedaan pendapat tentang  pemberian ASI eksklusif dan tidak eksklusif terhadap jumlah neonatus yang mengalami hiperbilirubinemia. Tujuan: Mengetahui perbedaan rerata kadar bilirubin pada neonatus yang mendapat ASI eksklusif dan tidak eksklusif.Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Subyek adalah neonatus usia 3 hari yang mendapat ASI eksklusif dan tidak eksklusif . Data dikumpulkan dari rekam medik neonatus sehat di RSIA Hermina Pandanaran, Kota Semarang pada periode Januari 2011 sampai Desember 2012 . Data dianalisis dengan menggunakan Mann whithney  dengan p<0,05.Hasil: Dari 753 sampel, terdapat 512 (68%) neonatus yang mendapat ASI eksklusif dan 241 (32%) neonatus yang tidak mendapat ASI eksklusif. Tidak terdapat perbedaan rerata  kadar bilirubin pada kelompok neonatus yang mendapat ASI eksklusif (8,15 ± 2,1 mg/dL) dan tidak eksklusif (8,67 ± 2,87 mg/dL) (p=0,086).Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan rerata kadar bilirubin pada neonatus yang mendapat ASI eksklusif dan tidak eksklusif. 
FAKTOR RISIKO NEONATUS BERGOLONGAN DARAH A ATAU B DARI IBU BERGOLONGAN DARAH O TERHADAP KEJADIAN HIPERBILIRUBINEMIA Khusna, Nailul; Mexitalia, Maria; Rini, Arsita Eka; Sulistyawati, Endang
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang:Hiperbilirubinemia merupakan kasus yang banyak terjadi, hal ini menjadi masalah di negara maju dan negara berkembang.  Ketidaksesuaian golongan darah merupakan penyebab terbanyak penyakit hemolitik neonatal yang sulit untuk dikenali manifestasinya.Tujuan: Membuktikanneonatus bergolongan darah A atau B dari ibu bergolongan darah O merupakan faktor risiko hiperbilirubinemia neonatus.Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Subyek adalah neonatus yang bergolongan darah A, B, O dari ibu yang bergolongan darah O. Data berupa data sekunder berupa catatan medik di Rumah Sakit Ibu dan Anak Hermina Pandanaran Semarang selama periode Januari 2011 – Desember 2012. Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square test dengan nilai p< 0,05.Hasil: Dari 244 neonatus terdapat 19 neonatus (7,8%) yang mengalami hiperbilirubinemia. , terdiri dari 5 (10, 9%) neonatus bergolongan darah A, 7 (14,3 %) neonatus bergolongan darah B, dan 7 (4,7%) neonatus bergolongan darah O. Neonatus  bergolongan darah A bukan merupakan faktor risiko hiperbilirubinemia (p= 0,128 ; OR= 2,47 ; CI= 0,75-8,21). Neonatus bergolongan darah B mempunyai faktor risiko sebesar 3,4x lebih besar dari pada neonatus bergolongan darah O (p = 0,023 ; OR= 3,38 ; CI= 1,12-10,19). Selain itu, didapatkan perbedaan rerata kadar bilirubin yang bermakna terdapat pada kelompok neonatus golongan darah A - O dan B- O (p = 0,044 vs 0,004).Kesimpulan: Neonatus yang bergolongan darah B dari ibu yang bergolongan darah O memiliki rerata kadar bilirubin dan insiden hiperbilirubinemia lebih tinggi dari pada neonatus golongan darah A dan O, dan merupakan faktor risiko terhadap kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus.
HUBUNGAN TINGKAT AKTIVITAS FISIK TERHADAP STATUS GIZI PADA ANAK USIA PRASEKOLAH Anggraini, Lonia; Mexitalia, Maria
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang Obesitas dapat terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan energi dengan pengeluaran energi. Faktor yang berperan dalam menentukan status gizi anak adalah pola makan dan aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik dan tidak seimbangnya asupan makan dapat menyebabkan anak mengalami obesitas.Tujuan Mengetahui hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan status gizi pada anak usia prasekolah.Metode Penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Subyek penelitian adalah anak usia 2-5 tahun di PAUD Kota Semarang. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, timbangan serta stadiometer untuk mengukur berat dan tinggi badan. Uji statistik menggunakan uji korelasi Spearman.Hasil Didapatkan 43 responden yang memiliki status gizi normal dan 5 responden yang memiliki status gizi lebih dari normal. Tingkat aktivitas fisik pada anak laki-laki dengan IMT normal adalah 1,5 dan anak perempuan 1,4, sedangkan pada anak dengan IMT lebih dari normal, 1,1 untuk anak laki-laki dan 1,04 untuk anak perempuan. Pada anak gizi normal, lama tidur 11,2 jam, kegiatan sedentary 10,7 jam dan kegiatan aktif 2,1 jam, sedangkan pada anak dengan gizi lebih, lama tidur 13,7 jam, kegiatan sedentary 8,6 jam dan kegiatan aktif 1,1 jam. Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat aktivitas fisik dengan IMT (p=<0,001). Terdapat perbedaan yang bermakna antara waktu tidur, sedentary dan kegiatan aktif pada anak dengan gizi normal dan gizi lebih dari normal (p<0,001).Kesimpulan Terdapat hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan status gizi pada anak usia prasekolah.
HUBUNGAN ASUPAN SUGAR-SWEETENED BEVERAGES DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA PRASEKOLAH Febriyani, Indah; Mexitalia, Maria
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang: Sekitar 60% anak mengonsumsi sugar-sweetened beverages (SSB) dan 30% anak usia prasekolah mengalami overweight atau obesitas. Tingginya asupan SSB dihubungkan dengan kebiasaan makan tidak sesuai yang akan meningkatkan risiko pertumbuhan anak dengan obesitas.Tujuan: Mengetahui hubungan antara asupan sugar-sweetened beverages dengan status gizi pada anak usia prasekolah.Metode: Rancangan penelitian adalah cross-sectional dengan observasional analitik. Penelitian dilakukan pada periode Maret-Mei 2014. Subyek penelitian adalah anak usia prasekolah yang mengonsumsi sugar-sweetened beverages. Asupan energi dinilai dari three days food recall dan status gizi diukur dari indeks massa tubuh (IMT). Uji statistik menggunakan uji korelasi Spearman.Hasil: Jumlah responden sebanyak 45 anak, terdiri dari 38 anak tidak obesitas dan 7 anak obesitas. Anak dengan obesitas memiliki rerata asupan energi total lebih tinggi dibandingkan anak tidak obesitas (1962.2 kkal/hari vs 1572.8 kkal/hari). Sebaliknya, anak tidak obesitas memiliki rerata asupan SSB lebih tinggi dibandingkan anak obesitas (318.2 kkal/hari vs 311.1 kkal/hari). Hasil analisis tidak terdapat hubungan antara asupan SSB dengan indeks massa tubuh ( p = 0.393 dengan r = -0.130).Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara asupan SSB dengan indeks massa tubuh pada anak usia prasekolah.Kata kunci:
Pengaruh pemberian asi eksklusif dan non eksklusif terhadap mental emosional anak usia 3-4 tahun Setyarini, Any; Mexitalia, Maria; Margawati, Ani
JURNAL GIZI INDONESIA Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : JURNAL GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.184 KB) | DOI: 10.14710/jgi.4.1.16-21

Abstract

Background: Breastmilk is the best food contains all the elements of required nutrients for infant aged 0-6 months, and the attachment of the breastfeeding process give better of growth and mental emotional development of the infant. Less attachment between mother and infant caused mental emotional disorders, that affect to the next period of child’s development..Objective : The objective of this research was to analyze the differences of influence of exclusive breastfeeding and non exclusive brestfeeding history on child’s emotional mental age of 3-4 years as well as analyze the most dominant variables. Method: This was an observational analitic research with cross sectional approach. The subjects consisted of 84 children aged 3-4 years, living Banyumanik subdistrict Semarang, taken by purposive sampling and grouped into exclusive and non-exclusive breastfeeding. The data was collected by questionnaire, and the analysis using chi square and logistic regression.Result: The study showed that most of children with exclusively breastfed had good mental emotional (76.2%), while children who did not get exclusively breastfed had a mental emotional problem (64.3%). There were relations between breastfeeding (p=0,001), mother’s knowledge (p=0,001), mother’s attitude (p=0,001), and mother’s education level (p=0,029) to children’s mental emotional. Education level of mother was the most influence variable for child’s emotional mental after addjusted with mother’s knowledge, mother’s attitude,  mother’s education level, and birth weight of children.Conclusion: Breastfeeding history, mother’s knowledge, mother’s attitude, and mother’s education level were factors that influencing to children’s mental emotional