I Made Merdana
Udayana University
Articles
14
Documents
UJI BIOAKTIVITAS ANTIBAKTERI TANAMAN OBAT TRADISIONAL

Buletin Veteriner Udayana Vol 2 No. 1 Pebruari 2010
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research has been conducted to five kinds of traditional herbs which were collectedfrom Tajun village, Kubutambahan District, Buleleng Regency, Bali. It was conductedthrough extracting process and antibacterial bioactivity test to the five traditional herbs,naely kamboja (Plumeria rubra), kedondong (Spondias pinnata), kembang sepatu(Hibiscus rosa sinensis), mangga (Mangifera indica) dan manggis (Garnicia mangostana).The bioactivities antibaterial of these herbs had been exsperimented toward Micrococcusluteus and Escherichia coli. As the result, the leaves of the herbs which actively hamperedthe growth of Micrococcus luteus and Eschericia coli bacteria was manggis leaves (Garnicia mangostana). The herb which only hampered the growth ofEscherichiacoli actively was kamboja leaves (Plumeria rubra), kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis), mangga (Mangifera indica). Mean while kedongdong leaves do not haveactivities to both kins of bacteria. Manggis had a goods potential to hamper the growthof Micrococcus luteus and Eschericia coli. It could be seen from the wide area of obstacleproduced by manggis leaves (Garnicia mangostana), namely 4,63 mm2 towardMicrococusluteus and toward Eschericia coli 5,63 mm2 in 105,5 part of point concentration.

UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK DAUN KEDONDONG (LANNEA GRANDIS ENGL) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI ERWINIA CAROTOVORA

Buletin Veteriner Udayana Vol. 3 No. 1 Pebruari 2011
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research with the title of the inhibition test kedondong leaf extract (Lannea grandisENGL)on the growth of bacteria Erwinia carotovora, causes soft rot of Aloe vera have beenconducted in vitro on media PPGA and testing of antibacterial activity of leaf extractkedondong on aloe vera leaf pieces. This study aims to determine the bactericidal activityof leaf extract and concentration kedondong minimal constraints on the growth ofbacteria Erwinea carotovora. Bacteria E. Carotovora isolated from the Aloe Vera plant softrot disease.Sections of leaves among the sick and the healthy cut to the size of ± 3 cm andcleaned with water and then soaked with 70% alcohol for 2 minutes inserted into laminar flow. Leaves clean kedondong have weighed as much as 100 grams chopped, then addedwith 1000 ml of methanol solvent. Immersion extract was filtered with filter paper watmanNo. 2.The filtrate obtained was evaporated by vacuum rotary evaporator to separate thesolvent (methanol) and the extract, made up to concentration. Bacteria isolated on mediapropagated PPGA tilted as stock for testing bacterial pathogens isolated colony of yellowwhitecolor with the aroma of sulfur-like smell of gas.Based on research results, it can beconcluded that the leaf extract could inhibit bacterial growth kedondongE carotovora withdoses at least 4% concentration in media PPGA and pieces of aloe vera leaves, whereas atconcentrations of 1, 2 and 3% have not been able to provide inhibition.

Studi Patologi Kejadian Cysticercosis pada Tikus Putih

Jurnal Veteriner Vol 11, No 4 (2010)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rats are commonly used as animal model in pathological and reproduction research, butunfortunately they are often infected with cysticercosis. The objective of this research was to determinethe pathological changes the of the rats (Rattus novergicus) tissues affected with cysticercus. Thisresearch using 24 of female rats. They were adapted to a new environment for a week and the feeding andwater were provided ad libitum. At the end of adaptation period rats were necropsied and the visceralorgans were examined for pathological changes especially the present of cysticercosis. The liver and kidneyof each rat were soaked in 10% phosphate buffered formalin. Following dehydration process, tissue wereembedded in paraplast, cut at 5 micron and stained with Harris hematoxylin eosin (HE). The resultshowed that 8 of 24 rats were affected by cysticercosis on the liver. The histopathological changes werenecrotic lesions and eosinophylic cells infiltration around the cysticercosis lesion. The results showed that8 of 23 rats were affected by cysticercosis. The presence of necrosis and cells inflammation could interferethe results of the study when such a rats are used. It is therefore necessary to screen rats for cysticercosis.

Ekstrak Akar Tuba (Derris Elliptica) Efektif Membunuh Pinjal (Siphonaptera) Kucing Secara In Vitro

Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstrak akar tuba mengandung racun alami yang disebut rotenon yang dapat dipakai sebagai antiektoparasit. Penggunaan akar tuba sebagai antiektoparasit belum banyak dilaporkan, oleh karena itu dilakukan uji in vitro efektifitas akar tuba. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas ekstrak akar tuba kadar terhadap pinjal (Siphonaptera) kucing. Sebanyak 40 pinjal (ukuran yang sama) dibagi menjadi empat kelompok, masing-masing kelompok berisikan 10 pinjal kemudian ditaruh dalam cawan petri yang dialasi kapas. Masing-masing kelompok disemprot dengan menggunakan 0% (aquadest), 1%, 2%, dan 3% ekstrak akar tuba. Pengamatan dilakukan pada menit ke-5, 10, 15, 20, 25, dan 30 terhadap jumlah pinjal yang mati.     Hasil menunjukan bahwa  kadar 1% angka mortalitas 10% pada pinjal pada menit ke-5, 30% pada menit ke-15, 70% di menit ke-20, 80% menit ke-25, 100% pada menit ke-30. Perlakuan konsentrasi 2% menunjukkan angka mortalitas 20%  pada menit ke-5, 30% di menit 10, 70%  di menit ke-15 dan 100% di menit ke-30 sedangkan pada perlakuan konsentrasi 3% angka mortalitas sebanyak 50% di menit ke-5, 80% di menit ke-10, 90% di menit 15 serta 100% di menit ke-20. Dari hasil penelitian dapat  disimpulkan bahwa ekstrak akar tuba efektif membunuh pinjal kucing.

Uji Toksisitas Ekstrak Akar Tuba (Derris Elliptica) Secara Topikal pada Kulit Anjing Lokal

Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (2) 2015
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstrak akar tuba (Derris elliptica) mengandung zat beracun disebut dengan rotenon yang dapat membunuh kutu pada anjing maupun kucing. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak akar tuba terhadap alergi pada kulit dan toksisitas ekstrak akar tuba yang digunakan sebagai antiektoparasit secara topikal. Penelitian ini menggunakan hewan coba sebanyak 10 ekor anjing lokal yang terdiri dari lima ekor jantan dan lima ekor betina, umur 1,5-2 tahun. Untuk perlakuan digunakan aquades sebagai kontrol negatif dan larutan ekstrak akar tuba dengan konsentrasi 1%, 2%, dan 3%. Pengamatan dilakukan setelah 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam dan setelah 24 jam terhadap terjadinya dermatitis pada kulit. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak akar tuba dengan konsentrasi 1%, 2%, dan 3% yang diberikan secara topikal tidak menimbulkan dermatitis pada anjing. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak akar dapat digunakan sebagai antiektoparasit pada anjing lokal.

Uji Efektivitas Ekstrak Akar Tuba (Derris Elliptica) Terhadap Caplak Anjing Secara In Vitro

Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (2) 2015
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstrak akar tuba (Derris elliptica) mengandung zat kimia yang disebut rotenon yang dapat membasmi serangga, larva, nyamuk, rayap tanah dan lain sebagainya. Belum adanya penelitian tentang pengaruh extrak akar tuba terhadap caplak anjing, maka dilakukan penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak akar tuba sebagai anti ektoparasit terhadap caplak anjing. Sampel yang digunakan adalah caplak sebanyak 40 ekor yang dibagi dalam empat kelompok, masing-masing sepuluh ekor ditaruh dalam cawan petridis yang dialasi kapas. Kemudian dilakukan penyemprotan 0% aquades (kontrol), 1%, 2%, dan 3% ekstrak akar tuba. Pengamatan dilakukan terhadap caplak yang sudah mati. Pada konsentrasi 1% menunjukkan kematian caplak tiga ekor pada menit ke-20, lima ekor pada menit ke-30, dan kematian 100% pada menit ke-64. Pada konsentrasi 2% menunjukkan kematian dua ekor pada menit 10,tujuh ekor pada menit ke-30 dan kematian 100% pada menit ke-55. Dan pada konsentrasi 3% menunjukkan kematian pada tujuh ekor caplak pada menit ke-10, sembilan ekor pada menit ke-20 dan kematian 100% pada menit ke-30. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak akar tuba dengan konsentrasi 3% lebih efektif daripada 1% dan 2%. Ini dibuktikan dengan jumlah dan kecepatan kematian pada caplak. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak akar tuba kadar 1%, 2%, dan 3% sangat efektif digunakan sebagai anti ektoparasit anjing.

Gambaran Histopatologi Usus Halus Tikus Putih Pascapemberian Sarang Semut dan Parasetamol Dosis Toksik

Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 No 5 (2018): Volume 7 (5) 2018
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sarang semut mengandung zat antioksidan yang mampu meminimalisir zat radikal bebas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek pemberian sarang semut terhadap gambaran histopatologi usus halus tikus putih yang diberikan parasetamol dosis toksik. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus putih jantan dengan berat 200-300 gram yang dibagi menjadi empat kelompok perlakuan. Setiap kelompok perlakuan diberi pakan dan minum standar. Tikus pada perlakuan P0 diberikan pakan dan minum standar, P1 diberikan parasetamol 250 mg/kg BB per oral, P2 diberikan  parasetamol 250 mg/kg BB dan ekstrak sarang semut 250 mg/kg BB per oral, dan P3 diberikan ekstrak sarang semut 250 mg/kg BB selama tujuh hari setelah itu diberikan parasetamol 250 mg/kgBB dan ekstrak sarang semut 250 mg/kg BB selama 10 hari per oral. Tikus pada semua kelompok dieuthanasia pada hari ke-18, dengan mengunakan ether. Sampel usus halus diambil untuk diproses menjadi preparat histopatologi dengan pewarnaan rutin Hematoxylin Eosin (HE) dan diperiksa di bawah mikroskop cahaya dengan pembesaran 100-400 kali. Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa perubahan yang dominan pada usus halus adalah pendarahan dan nekrosis pada kelompok perlakuan P1, P2 dan P3. Uji Kruskall-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna pada rerata pendarahan dan nekrosis. Pada lesi pendarahan terdapat perbedaan yang sangat signifikan (P<0,01) antara kelompok kontrol positif (P1) dengan  P2 dan P3. Pada lesi nekrosis terdapat perbedaan yang sangat signifikan (P<0,01) antara kelompok kontrol  positif (P1) dengan  P2 dan P3. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sarang semut dapat memperbaiki kerusakan mukosa usus halus akibat pemberian parasetamol dosis toksik pada hewan coba tikus putih.

Uji Toksisitas Ekstrak Akar Tuba secara Topikal pada Kucing Lokal

Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (4) 2014
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstrak akar tuba (Derris elliptica) mengandung zat rotenon/tubotoxin yang telah di ujisecara in vitro dapat membunuh kutu pada anjing maupun kucing. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui daya toksik ekstrak akar tuba bagi kulit kucing lokal secara topikal. Hewan coba yangdigunakan berjumlah 10 ekor kucing lokal berumur satu sampai satu setengah tahun, terdiri dari limaekor kucing jantan dan lima ekor kucing betina. Perlakuan meliputi kontrol negatif (aquadest) danlarutan ekstrak akar tuba konsentrasi 1%, 2% dan 3%. Pengamatan dilakukan setelah 1 jam, 2 jam, 3jam, 4 jam dan dilanjutkan setelah 24 jam pasca penetesan ekstrak akar tuba untuk melihat apakahterjadi toksisitas pada kulit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak akar tuba tidakmenimbulkan dermatitis pada kucing lokal. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak akartuba dengan konsentrasi 1%, 2% dan 3% tidak menimbulkan toksisitas pada kulit kucing lokal.

Infeksi Cacing Pita pada Anjing Bali dan Gambaran Morfologinya (TAPE WORM INFECTION IN BALI DOGS AND THEIR MORPHOLOGICAL DESCRIPTION)

Jurnal Veteriner Vol 4, No 1 (2003)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstak dapat dibaca pada Full Text Abstract can be read at Full Text

Ekstrak Daun Mimba Efektif terhadap Microsporum gypseum Yang Diisolasi dari Dermatitis pada Anjing

Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 No 6 (2018): Volume 7 (6) 2018
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis merupakan suatu penyakit peradangan pada kulit yang disebabkan oleh dua atau lebih agen penyebab. Salah satu agen penyebab dermatitis adalah jamur Microsporum gypseum. Pengobatan dengan menggunakan obat-obatan antifungal sintetis cenderung memiliki efek samping yang dapat merugikan penderita. Penggunaan obat tradisional sebagai pilihan alternatif semakin populer. Daun mimba (Azadirachta indica) digunakan sebagai obat tardisional, memiliki aktivitas antifungal karena mengandung sulfur, flavonoid dan juga tannin. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas ekstrak daun mimba secara invitro dengan berbagai konsenstrasi yaitu 0%, 5%, 10% dan 25% terhadap Microsporum gypseum yang diisolasi dari dermatitis pada anjing. Metode yang digunakan untuk uji efektivitas ekstrak daun mimba adalah modifikasi metode difusi lempeng agar (Kirby Bauer) dengan teknik sumuran (agar well diffusion) pada media sabaraud dextrose agar. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun mimba mampu menghambat pertumbuhan jamur M. gypseum yang ditunjukkan dengan zona hambat pada lubang atau sumuran. Ekstrak daun Nimba dengan konsentrasi 25% dapat menghambat pertumbuhan jamur paling besar dengan lebar zona 3.50mm. Kemampuan menghambat pertumbuhan jamur belum optimal sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak yang mampu menghambat pertumbuhan jamur secara optimal.