Articles

Found 17 Documents
Search

Penerimaan Diri Ibu Yang Memiliki Anak Tunanetra Melati, Melati; Levianti, Levianti
Jurnal Psikologi Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini akan melihat bagaimana proses penerimaan diri seorang Ibu yang memiliki anak tunanetra. Jenis penelitian Kualitatif, metode deskriptif. Sampel penelitian 3 Ibu yang memiliki anak tunanetra sejak lahir. Teknik purposive sampling. Mengumpulkan data dengan cara wawancara mendalam. Berdasarkan hasil analisis, ketiga Subjek dapat menerima dirinya dengan melalui beberapa Phase dalam penerimaan diri. Walaupun tidak semua tanda-tanda dari sebuah perasaan yang kemungkinan muncul pada suatu tahapan mereka rasakan. Contohnya seperti Subjek pertama yang tidak merasakan perasaan terguncang, dan tidak percaya, namun merasakan perasaan tidak siap. Faktor-Faktor yang mempengaruhi terjadinya penerimaan diri tersebut diantaranya adalah,adanya pemahaman tentang diri sendiri yang baik, adanya hal-hal realistik yang terpikirkan, tidak adanya hambatan dalam lingkungan, sikap anggota keluarga yang menyenangkan, tidak adanya gangguan emosional yang berat, pengaruh keberhasilan yang dialami, identifikasi dengan orang yang memiliki penerimaan diri yang baik, pola asuh dimasa kecil yang baik. Kata kunci: penerimaan diri, sikap positif, pemahaman diri
PENERAPAN MODEL CONTEXTUAL TEACHING LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS V SDN 55 KESUMBO AMPAI KECAMATAN MANDAU KABUPATEN BENGKALIS Melati, Melati; Hamizi, Hamizi; Erlisnawati, Erlisnawati
Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol 3, No 1 (2016): Wisuda Februari 2016
Publisher : Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : The problem in this research was natural studies students achievement in five graderes (VA) SDN 55 Kesumbo Ampai stil low with average value 55,36(with KKM 65).The purpose of this research was to improve the students achievement of the five graderes(VA)SDN 55 Kesumbo Ampai ,with the implementation Contextual teaching and learning.This research was an classroom action research with two cycles in second semester 2014/2015.Before implementation Contextual teaching and learning average62,5%, after implementation contextual teaching and learning ,UH I was 66,61 that improve 35 % from before exam with average 55,36 .UH II was 75,54 that improve 52,86% .Teacher’s activities with the implemettation of contextual teaching and learning at firs meeting of firs 62,5% (good category),and second meeting was 68,75%(good category) at second cycle,student activities at first.Second meeting of second cycle was 93,75%.Implementation contextual teaching and learning improve natural studies students achievement of five graderes (VA)SDN 55 Kesumbo Ampai Kecamatan Mandau kabupaten Bengkalis.Key word : contextual Teaching and learning,natural studies student‟s Achievement2
PENGARUH IRADIASI SINAR GAMMA (60Co) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAHE PUTIH KECIL (Zingiber officinale var.a ma rum) BERMAWIE, NURLIANI; MEILAWATI, NUR LAELA W.; PURWIYANTI, S.; MELATI, MELATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.355 KB) | DOI: 10.21082/littri.v21n2.2015.47 - 56

Abstract

ABSTRAKKeragaman  genetik  plasma  nutfah  jahe  rendah  sehingga  perlu dilakukan  peningkatan  keragaman,  antara  lain  dengan  iradiasi sinar gamma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis iradiasi terhadap pertumbuhan dan produksi jahe putih kecil.  Penelitian dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat serta Kebun Percobaan Cicurug, Sukabumi pada bulan Juni 2010 sampai dengan Mei 2011. Iradiasi dilakukan di P3TIR, BATAN, Jakarta. Percobaan disusun menggunakan rancangan split plot dengan petak utama dua aksesi jahe putih kecil ZIOF 0048 dan HALINA 1 dan anak petak adalah 11 dosis iradiasi (0-50 Gy) dengan interval 5 Gy. Perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Pengamatan karakter morfologi dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif pada umur 2, 3, dan 4 BST. Hasil penelitian menunjukkan aksesi berpengaruh terhadap radiosensitivitas. Aksesi HALINA 1 lebih sensitif dibandingkan   dengan   ZIOF 0048   ditunjukkan   dengan   nilai   LD50 HALINA 1 (11,07 Gy) lebih rendah dari LD50 ZIOF 0048 (13,43 Gy). Interaksi aksesi pada dosis 5 dan 10 Gy memiliki nilai terbaik pada  tinggi tanaman, ukuran daun serta jumlah anakan. Dosis mempengaruhi tinggi tanaman, ukuran daun, diameter dan panjang batang, serta jumlah daun. Pertumbuhan tanaman semakin meningkat dengan bertambahnya umur tanaman. Namun, semakin tinggi dosis iradiasi, pertumbuhan tanaman semakin melambat.  Pertumbuhan tanaman terbaik diperoleh pada dosis 5 Gy, dan tidak berbeda dengan kontrol. Bobot dan ukuran rimpang terbaik (964 g/rumpun) diperoleh dari HALINA 1 pada dosis 10 Gy, dan berbeda dengan kontrol (454 g/rumpun), serta perlakuan lainnya.Kata kunci:  Zingiber officinale var. amarum, iradiasi sinar gamma (60Co), keragaman genetik, mutasi, karakter morfologi. The Effect of Gamma Irradiation (60Co) on the Growth and Production of Small White Ginger (Zingiber officinale var. amarum)ABSTRACTGenetic variability of ginger germplasm was low, therefore it was necessary to broaden genetic variability using gamma irradiation. This research aimed to see the effect of irradiation on the growth of small white ginger. This study was conducted in the Plant Breeding Laboratory, Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institute and the Cicurug Experimental Garden Sukabumi from June 2010 to May 2011. Irradiation was undertaken in P3TIR, BATAN, Jakarta. The experiment was arranged in a split plot design with the main plot was two accessions HALINA 1 and ZIOF 00 48, and the sub plots was 11 irradiation doses (0-50 Gy) with 5 Gy interval.  The experiment was replicated three times.  Parameters observed were quantitative and qualitative characters at 2,3 and 4 months after   planting (MAPs).   Results   showed   that   accession   influenced radiosensitivity. Accession HALINA 1 was more radiosensitive than ZIOF 0048, indicated by LD50 of HALINA 1 was 11.0693 Gy, lower than ZIOF 0048 13.4254 Gy. Interaction between accessions at 5 and 10 Gy showed the highest plant height, leaf size, and number of shoots. Irradiation dose affected plant height, leaf size, stem diameter and length, and number of leaf. The plant growth increased in conjunction with plant age, but the higher irradiation dose, the growth of plants slowed down. The best plant growth was obtained from 5 Gy, not different from control. The highest rhizome weight (964 g/plant) was obtained from HALINA 1 treated with 10 Gy, differ from control (545 g/plant) and the other treatments.Keywords:  Zingiber officinale var. amarum, gamma irradiation (60Co), genetic variability, mutation, morphological characters.
PENGARUH JUMLAH RUAS DAN PANJANG BATANG TERHADAP VIABILITASB ENIH SERAI W ANGI (Cy mpobogon nardus L.) SUKARMAN, SUKARMAN; SESWITA, D.; MELATI, MELATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.253 KB) | DOI: 10.21082/littri.v21n3.2015.139 - 144

Abstract

ABSTRAKPengembangan   serai   wangi  memerlukan   ketersediaan   benih bermutu. Sampai saat ini, informasi standar mutu benih serai wangi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui viabilitas benih serai wangi dengan jumlah ruas dan panjang batang yang berbeda sebagai dasar penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI). Penelitian dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) dari Mei sampai Juni 2013 dengan menggunakan benih serai wangi klon G 2. Percobaan disusun secara faktorial dengan tiga faktor dan diulang empat kali dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor pertama adalah jumlah ruas stolon: (1) satu dan (2) dua. Faktor kedua adalah ukuran panjang batang semu: (1)15, (2) 20, dan (3) 25 cm. Faktor ketiga adalah periode penyimpanan: (1) 0, (2) 3, (3) 6, (4) 9, dan (5) 12 hari. Parameter yang diamati meliputi kadar air, daya tumbuh, serta bobot basah dan kering.  Hasil  penelitian  menunjukkan viabilitas  benih  serai  wangi dipengaruhi oleh jumlah ruas stolon dan panjang batang. Benih dengan dua ruas dan panjang batang 25 cm mempunyai viabilitas lebih baik dibandingkan satu ruas dan panjang 15 cm. Sampai 12 hari penyimpanan di suhu kamar, benih masih segar dengan daya tumbuh 83,75%.Kata kunci:  Cymbopogon  nardus  L.,  jumlah  ruas,  panjang  batang, penyimpanan, viabilitas ABSTRACTEffect of Internodes Number and Stems Length on Viability of Citronella Seeds (Cympobogon nardus L.) Development of citronella required the availability of good quality seed. Presently, standard information of citronella seed quality is not available. The research aims to study the viability of citronella seeds from different internodes number and stem length as the basic for preparing Indonesian National Standards. The experiment was conducted in the green house  of  the Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institute (ISMECRI), from May until June 2013, by using citronella clones G 2. Factorial experiment with three factors and four replications was arranged in a Randomized Completely Block Design (RCBD). The first factor was  internodes numbers: (1) one and (2) two. The second factor was stem length: (1) 15, (2) 20, and (3) 25 cm. The third factor was storage periods: (1) 0, (2) 3, (3) 6, (4) 9, and (5) 12 days. Parameters observed included seeds moisture content, seeds germination, fresh, and dry weight. The results of experiment indicated that viability of citronella seeds was affected by stolon internodes number and stem length. Seeds with two internodes and stem length 25 cm has better viability than with one of internode and 15 cm   of stem   length.   Up to 12 days storage at room temperature, the seeds were still fresh with the germination 83.75%.Keywords:  Cymbopogon nardus  L.,  internodes number,  stem length, storage, viability
KARAKTER MORFOLOGI, HASIL, DAN MUTU ENAM GENOTIP LENGKUAS PADA TIGA AGROEKOLOGI Bermawie, Nurliani; Purwiyanti, Susi .; Melati, Melati; Meilawati, Nurlaila Wahyuni
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 23, No 2 (2012): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.779 KB) | DOI: 10.21082/bullittro.v23n2.2012.%p

Abstract

Penampilan karakter morfologi, hasil dan mutu sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter morfologi, hasil dan mutu enam genotip lengkuas (Alpina galanga) pada tiga agroekologi. Penelitian dilakukan sejak Januari 2011 sampai Agustus 2012 di Lebak (Banten); Kulon Progo (Yogyakarta), dan Karang Anyar (Jawa Tengah). Enam genotip lengkuas dan dua nomor lokal ditanam menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan empat ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap karakter morfologi, produksi, dan mutu. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan ragam gabungan. Mutu dianalisis mengacu kepada Farmakope Herbal Indonesia (FHI). Terdapat keragaman pada karakter morfologi, hasil, dan mutu antar genotip pada berbagai lokasi. Nomor Lokal-2 asal Karang Anyar menunjukkan pertumbuhan terbaik dibandingkan nomor lokal yang lain. Lokasi berpengaruh terhadap bobot dan karakter morfologi rimpang. Hasil terbaik diperoleh dari penanaman di Lebak dan Karang Anyar. Terdapat variasi pada kadar minyak atsiri antar genotip pada tiga lokasi berkisar antara 0,30-0,50%. Kadar minyak atsiri tertinggi dan memenuhi standar FHI (0,5%) diperoleh dari genotip lengkuas merah Alga 013 yang ditanam di Kulon Progo. Kadar air simplisia sesuai dengan standar FHI, sedangkan kadar abu dan abu tak larut asam masih melebihi batas MMI. Kadar sari yang larut dalam alkohol dan air lengkuas lebih baik dibandingkan ketentuan FHI. Kadar serat dan kadar pati berbeda antar lokasi. Kadar serat tertinggi ditunjukkan oleh genotip yang ditanam di Lebak dan terendah di Kulon Progo.
PENGARUH BATANG ATAS DAN BAWAH TERHADAP KEBERHASILAN PENYAMBUNGAN JAMBU METE (Anacardium occidentale L.) RUSMIN, DEVI; SUKARMAN, SUKARMAN; MELATI, MELATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.144 KB) | DOI: 10.21082/littri.v12n1.2006.%p

Abstract

ABSTRAKRata-rata produksi jambu mete Indonesia masih rendah (350 kggelondong/ha/tahun), dibandingkan dengan India dan Brazil (800 – 1000kg gelondong/ha/tahun). Hal itu antara lain disebabkan oleh teknikbudidaya yang masih tradisional, rendahnya mutu bibit, dan kurang ter-sedianya pohon induk sebagai sumber benih. Berdasarkan permasalahantersebut, telah dilakukan percobaan penyambungan 1 varietas dan 3 nomorharapan jambu mete. Tujuannya adalah untuk mendapatkan bibit hasilsambungan bermutu tinggi, sebagai dasar pendirian kebun benih jambumete. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Muktiharjo, Jawa Tengah,bulan Januari - Desember tahun 2001. Percobaan disusun dalam rancanganpetak terbagi (RPT) dengan 3 ulangan. Petak utama adalah 4 jenis batangatas yaitu: Gunung Gangsir 1, Gunung Gangsir 2, Muktiharjo 1 danMuktiharjo 2. Anak petak adalah empat jenis batang bawah yaitu: GunungGangsir 1, Gunung Gangsir 2, Muktiharjo 1 dan Muktiharjo 2. Parameteryang diamati adalah keberhasilan penyambungan pada fase pembibitan,data pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, diameter batang, diameterkanopi, jumlah cabang primer, sekunder dan tersier). Hasil percobaanmenunjukkan bahwa penyambungan batang bawah Muktiharjo 1 denganbatang atas Muktiharjo 1 dan Muktiharjo 2, menghasilkan persentasekeberhasilan penyambungan tertinggi (50%). Penyambungan denganGunung Gangsir 1 sebagai batang bawah dan Muktiharjo 1 danMuktiharjo 2 sebagai batang atas, keberhasilan penyambungannya palingrendah (38,89%). Tidak ada interaksi antara batang atas dan batangbawah terhadap pertumbuhan tanaman. Batang atas berpengaruh nyataterhadap jumlah daun, tetapi tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman,diameter batang, dan lebar kanopi. Penyambungan Gunung Gangsir 1 danMuktiharjo 2 sebagai batang atas, menghasilkan pertumbuhan tanamanyang lebih baik dibandingkan dengan batang atas Gunung Gangsir 2 danMuktiharjo 1. Penyambungan Gunung Gangsir 1, Gunung Gangsir 2, danMuktiharjo 1 sebagai batang bawah menghasilkan diameter batang dantinggi tanaman lebih baik dibandingkan Muktiharjo 2. Setelah tanamanmencapai umur 3 tahun, batang atas tidak berpengaruh terhadap pertum-buhan tanaman, sedangkan batang bawah memberikan pengaruh terhadappertumbuhan tanaman. Pertumbuhan tanaman terbaik diperoleh padatanaman dengan batang bawah Gunung Gangsir 1.Kata kunci : Jambu mete, Anacardium occidentale L., klon, penyam-bungan, batang bawah, batang atas, pertumbuhan, JawaTengahABSTRACTEffect of scion and root stock on successful grafting ofcashew plantCashew nut production of Indonesia is lower (350 kg/ha/year)compared to India and Brazil (800 and 1000 kg/ha/year). There are manyfactors causing low production of cashew in Indonesia such as lowcultivation technology, poor quality of seedlings and insufficient of motherplants. The purpose of the research was to find out good quality seedlingsfrom grafting as a basic to establish cashew mother plants gardens. Theexperiment was conducted in Muktiharjo Experimental Garden, CentralJava, in 2001. The experiment was arranged in split-plot design with 3replications. The main plot was 4 kinds of scions namely Gunung Gangsir1, Gunung Gangsir 2, Muktiharjo1 and Muktiharjo 2. The sub plot was 4kinds of root stocks the same as the scions. Variables observed weresuccessful grafting at nursery phase and plant growth such as height ofplants, diameter of trunk, diameter of canopy, and number of primer,secondary and tertiary branches. The results of experiment showed thatgrafting by using clone Muktiharjo 1 as root stock, and Muktiharjo 1 andMuktiharjo 2 as scions produced the highest percentage of successfulgrafting (50%). Grafting by using Gunung Gangsir 1 as root stock and,Muktiharjo 1 and Muktiharjo 2 as scions produced the lowest percentageof successful grafting (38.89%). There were no significant interactionsbetween root stock and scion on the growth of cashew plant. Scion hadsignificant effect on the number of leaves, but, it did not have significanteffect on the plant height, diameters of trunk and diameters of canopy.Grafting by using Gunung Gangsir 1 and Muktiharjo 2 as scions producedbetter plant growth compared to those of Gunung Gangsir 2 andMuktiharjo 1 as scions. Grafting by using Gunung Gangsir 1, GunungGangsir 2 and Muktiharjo 1 as root stocks produced diameter of trunk andheight of plants better than that of Muktiharjo 2 as rootstock. At 3 yearsold after planting, scions did not significantly affect the plant growthneither did their interaction. While rootstock significantly affected thegrowth of cashew plant. As a rootstock, Gunung Gangsir 1, produced thebest cashew plant growth compared to other clones.Key words: Cashew, Anacardium occidentale L, clones, grafting,rootstock, scion, growth, Central Java
VIABILITAS BENIH JAHE (Zingiber officinale Rosc.) PADA CARA BUDIDAYA DAN LAMA PENYIMPANAN YANG BERBEDA Sukarman, Sukarman; Rusmin, Devi; Melati, Melati
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 18, No 1 (2007): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.937 KB) | DOI: 10.21082/bullittro.v18n1.2007.%p

Abstract

Salah satu permasalahan dalam pengem-bangan tanaman jahe (Zingiber officinale Rosc.) adalah kurang tersedianya benih jahe unggul bermutu. Pada umumnya produksi be-nih jahe dilakukan secara monokultur, jarang dilakukan dengan menyisipkan tanaman lain. Oleh karena itu, informasi mengenai mutu benih jahe yang dibudidayakan secara inter-cropping dengan tanaman lain masih sangat terbatas. Percobaan ini dilakukan dengan tu-juan untuk mengetahui viabilitas benih jahe da-ri cara budidaya yang berbeda selama periode penyimpanan. Percobaan dilakukan di Keca-matan Bantarujeg, Kabupaten Majalengka (600 m dpl), sejak Agustus sampai November 2003. Percobaan menggunakan 3 tipe jahe yaitu : 1). Jahe Putih Besar/JPB (Z. officinale var. Offici-nale), 2).Jahe Putih Kecil/JPK (Z. officinale var. amarum) dan 3). Jahe Merah/JM (Z. Offici-nale var. rubrum). Untuk masing-masing tipe jahe percobaan disusun dalam rancangan petak terbagi (RPT) dengan 3 ulangan. Petak utama adalah 3 cara budidaya benih jahe yaitu :1) Jahe ditanam secara monokultur, 2). Jahe ditanam secara intercropping dengan bawang daun, dan 3). Jahe ditanam secara intercroping dengan kacang merah. Anak petak adalah 4 periode penyimpanan yaitu : 0, 1, 2, dan 3 bulan. Parameter yang diamati adalah kadar air benih, penyusutan bobot benih dan daya tum-buh benih pada akhir penyimpanan. Hasil per-cobaan menunjukkan bahwa benih JPK, yang diproduksi dengan cara budidaya inter-crop-ping dengan kacang merah menghasilkan mutu yang lebih baik (kadar airnya lebih tinggi dan penyusutan bobot benih/rimpang rendah). Mu-tu fisiologis benih JPB, JPK, dan JM dengan cara budidaya secara monokultur dan inter-croping dengan kacang merah dan bawang daun, tidak berbeda. Setelah 3 bulan penyim-panan, daya tumbuh untuk JPB, JPK, dan JM  berturut – turut masih diatas 90,67 %, 85,33 % dan 86,67 %. Kadar air benih jahe menurun, penyusutan bobot rimpang meningkat sejalan dengan lamanya penyimpanan. Berdasarkan hasil tersebut, di atas maka benih jahe dapat diproduksi secara monokultur atau intercrop-ping dengan kacang merah dan bawang daun atau tanaman lain yang bukan merupakan tanaman inang  bagi hama dan penyakit utama tanaman jahe. 
PENGARUH UMUR FISIOLOGIS SULUR DAN POSISI RUAS TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT VANILI KLON 1 DAN 2 DI RUMAH KACA Sukarman, Sukarman; Melati, Melati
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 20, No 2 (2009): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.971 KB) | DOI: 10.21082/bullittro.v20n2.2009.%p

Abstract

Salah satu permasalahan dalam pengembangan vanili adalah kurang tersedia-nya benih dari varietas unggul dan pertumbuh-an yang tidak seragam, akibat penggunaan setek yang tidak seragam. Untuk itu penelitian pengaruh umur fisiologis dan posisi ruas terhadap pertumbuhan bibit dua klon harapan vanili dilaksanakan untuk mendapatkan tek-nologi perbanyakan vegetatif, sebagai landasan penetapan standar prosedur operasional (SPO) perbanyakan benih vanili. Percobaan dilakukan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) dari Januari – Desem-ber 2006, dengan menggunakan klon harapan 1 dan klon harapan 2, yang diambil dari kebun induk vanili di KP Natar, BPTP Lampung. Percobaan faktorial, dengan 2 faktor dan 3 ulangan, disusun dalam rancangan petak terbagi (RPT). Petak utama adalah 2 umur fisiologis sulur, yaitu : (1) 12 bulan dan (2) 6 bulan setelah pemangkasan. Anak petak adalah 10 perlakuan terdiri dari kombinasi 2 klon dan 5 posisi ruas yaitu ; 1). klon 1 + setek dari ruas kesatu; 2). klon 1 + setek dari ruas kedua; 3). klon 1 + setek dari ruas ketiga; 4) klon 1 + setek dari ke empat, dan 5). klon 1 + setek dari ruas ke lima; 6). klon 2 + setek dari ruas kesatu; 7). klon 2 + setek dari ruas kedua; 8). klon 2 + setek dari ruas ketiga; 9). klon 2 + setek dari ke empat, dan 10). klon 2 + setek dari ruas ke lima. Parameter yang diamati meliputi persentase tumbuh benih, tinggi benih, jumlah ruas, dan jumlah daun. Hasil penelitian menunjukkan persentase tumbuh, jumlah ruas, dan jumlah daun tidak nyata dipengaruhi oleh interaksi antara umur fisiologis sulur dan kombinasi klon harapan dengan posisi ruas dan faktor tunggal umur fisiologis sulur, tetapi nyata dipengaruhi oleh faktor tunggal kombinasi klon harapan dengan posisi ruas. Persentase tumbuh tertinggi didapatkan pada perlakuan kombinasi klon harapan 2 dengan posisi ruas kelima (92,92%). Jumlah ruas tertinggi pada perlakuan kombinasi klon harapan 2 dengan posisi ruas ketiga (7,57). Jumlah daun tertinggi didapatkan pada perlakuan kombinasi klon harapan 2 dengan posisi ruas ketiga (7,55). Setek yang berasal dari umur fisiologis 12 dan 6 bulan setelah pemangkasan, serta kombinasi klon harapan 1 dan 2 dengan posisi ruas 1 sampai 5 dapat direkomendasikan sebagai bahan perbanyakan vegetatif tanaman vanili. 
PENGARUH UKURAN BENIH RIMPANG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TEMULAWAK Sukarman, Sukarman; Rahardjo, Mono; Rusmin, Devi; Melati, Melati
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 22, No 2 (2011): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.947 KB) | DOI: 10.21082/bullittro.v22n2.2011.%p

Abstract

Efisiensi penggunaan benih temulawak (Curcuma xanthorrhiza), beberapa bagian rimpang dan ukurannya diuji dalam pene-litian ini. Penelitian bertujuan untuk mem-pelajari pengaruh ukuran benih (rimpang) terhadap pertumbuhan dan hasil te-mulawak. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan (KP) Sukamulya, Balai Peneliti-an Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri (Balittri) sejak November 2007 sampai Agustus 2008. Percobaan dengan lima perlakuan dan lima ulangan disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK). Perlakuan yang diuji adalah lima taraf asal benih (rimpang) yaitu : (1) rimpang induk utuh (220,5 g), (2) rimpang induk dibelah 2 (109,7 g), (3) rimpang induk dibelah 4 (54,36 g), (4) rimpang induk dibelah 8 (27,29 g), dan (5) rimpang cabang (22,01 g). Peubah yang diamati adalah pertum-buhan tanaman, komponen hasil (jumlah dan bobot rimpang induk serta rimpang cabang, dan hasil). Hasil penelitian me-nunjukkan tanaman berasal dari rimpang induk menghasilkan rimpang segar terting-gi (27,2 t/ha), dan tidak berbeda nyata de-ngan produksi tanaman yang dihasilkan dari rimpang induk dibelah dua (24,2 t/ ha). Untuk efisiensi benih maka rimpang induk dibelah dua dapat dijadikan alterna-tif sebagai bahan tanaman dalam budidaya temulawak.
THE EFFECT OF GROUP INVESTIGATION (GI) MODEL AND LEARNING STYLE TOWARD STUDENTS’ ECONOMICS ENGLISH SPEAKING COMPETENCE OF PROF. DR. HAZAIRIN, SH UNIVERSITY Melati, Melati
Edu-Ling: Journal of English Education and Linguistics Vol 1 No 1 (2017): Edu-Ling
Publisher : English Education Study Program Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT   This study was designed: (1) to find out a significant progress on the English speaking skill of students’ Economics using Internet reading materials. (2) to find out a significant effect by using visual and auditory learning style toward English Speaking Skill. (3) to know an interaction effect between Group Investigation Model and learning style toward English speaking skill. Quasi-experimental research 2 x 2 factorial design used in this research, and all the computational procedure were run by using SPSS. The results showed that, 1) there was a significant progress of students’ Englsih Speaking skill after given Group Investigation Model, 2) there was the effect of learning style to the students’ English speaking skills, 3) there was an interaction effect between the use of Group Investigation Model to the reading materials from the multimedia and learning styles on speaking competence.