Argandita Meiftasari
Cancer Chemoprevention Research Center Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada
Articles
2
Documents
Safety Evaluation of Chicken Satay In Yogyakarta Indonesia Based on Benzo[A]Pyrene Content

Indonesian Journal of Cancer Chemoprevention Vol 3, No 3 (2012)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chicken  satay  is  one  of  Indonesian  food  which  is  very  popular  and  processed  by direct  flame  over  the  meat.  But,  almost  every  types  of  food  which  are  prepared  by  direct flame  will  produce  chemical  compounds  that  contributes  to  the  incidence  of  cancer. Polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH) is a group of compound which can cause cancer and is  resulted  from  the  incomplete  combustion  of  fossil  fuels  or  pyrolysis  of  organic  material containing  carbon  and  hydrogen  atoms.  One  PAH  compound  having  mutagenic  and  highly carcinogenic  effect  is  benzo[a]pyrene  which  is  the  highest  content  found  in  foods  that  are burned directly on the flame. This study aims to establish levels of benzo[a]pyrene contained in  chicken  satay  in  Yogyakarta,  Indonesia  and  to  evaluate  how  it  meets  with  the maximumbenzo[a]pyrene  limit  in  the  burned  food  based  on  National  Agency  of  Drug  and Food  Control  which  is  equal  to  5  ppb  (5  mg/kg).  Analysis  were  performed  by  Gas Chromatography  method  using  helium  as  carrier  gas  and  CPCB-Sil8  as  stationary  phase. After  the  sample  was  prepared  and  analysed  by  GC,  it  is  known  that  the  amount  of benzo[a]pyrene in chicken satay found in Yogyakarta are ranging from 2.5 to 393.32 ppb. The result are quite high and far  above the safety limit determined by  National Agency of Drug and Food Control.Therefore, the result of the research needs to be socialized to the public so that people can be more aware about the danger of food they consume.Keywords: chicken  satay,  benzo[a]pyrene  (BaP),  policyclic  aromatic  hidrocarbon  (PAH), carsinogen, Yogyakarta

PERBANDINGAN INHIBISI BERBAGAI EKSTRAK TUMBUHAN DAN VITAMIN C PADA FOTODEGRADASI TIROSIN YANG DIINDUKSI KETOPROFEN DAN KANDUNGAN FENOLIK TOTALNYA

Majalah Obat Tradisional Vol 21, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Antioksidan mampu menghambat reaksi radikal bebas dan fotodegradasi tirosin dapat disebabkan oleh reaksi radikal. Antioksidan alami dari tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai inhibitornya dan saat ini meningkat dengan pesat penggunaannya. Uji inhibisi fotodegradasi dilakukan dengan menggunakan enam kelompok. Kelompok P1 berisi 2 mL tirosin 0,05 %. Kelompok P2 berisi 2 mL tirosin 0,05 %, 600 μL Rhetoflam (ketoprofen topical) 1 %. Kelompok P3 berisi 2mL tirosin 0,05 %, 600 μL Rhetoflam 1 %, 100 μL ekstrak air daun teh 0,15 %. Kelompok P4 berisi 2 mL tirosin 0,05 %, 600 μL Rhetoflam 1 %, 100 μL ekstrak air buah mahkota dewa 0,15 %. Kelompok P5 berisi 2 mL tirosin 0,05 %, 600 μL Rhetoflam 1 %, 100 μL ekstrak etanol temu kunci 0,15 %. Kelompok P6 berisi 2 mL tirosin 0,05 %, 600 μL Rhetoflam 1 %, 100 μL vitamin C 0,15 %. Setiap kelompok ditambahkan akuades hingga 5,0 mL dan dipejani sinar lampu merkuri selama empat jam. Setelah pemajanan, dilakukan pengukuran kadar tirosin sisa menggunakan metode spektrofotometri visibel. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95 %. Analisis dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur. Uji penentuan kadar fenolik total dilakukan menggunakan metode Follin-Ciocalteu. Hasil pengukuran diintrapolasikan ke dalam kurva baku asam galat. Hasil uji fotodegradasi menunjukkan bahwa ekstrak air daun teh, ekstrak air buah mahkota dewa, dan ekstrak etanol rimpang temu kunci dengan kandungan fenolik total 29,64 ± 0,86 %; 8,29 % 0,27 %; dan 7,11 % 0,15 % ekivalen asam galat (EAG) mampu menghambat secara fotodegradsi tirosin dengan aktivitas inhibisi 4,03; 1,58; dan 2,09 kali lebih besar dibanding vitamin C pada kadar sama yaitu 0,15 %.