Articles

Found 5 Documents
Search

KEMAMPUAN MEMPARAFRASAKAN PUISI KE DALAM BENTUK PROSA BEBAS

JURNAL KATA (Bahasa, Sastra, Dan Pembelajarannya) Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : FKIP Unila

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.902 KB)

Abstract

The problem discussed in this research is how the ability paraphrasing poetry into prose free of students of grade X in SMA Negeri 1 Ambarawa school year 2012/2013. This study aimed to describe the level of ability paraphrasing poetry into prose free grade X. This reasearch uses descriptive method. The population of this research were 280 students’ distributed in 8 classes, 40 (15%) of them were randomly chosen to be taken as the research sampel. The data were collected by using the technique of writing test. Based on the research results, the ability paraphrasing poetry into prose free of students of grade X in SMA Negeri 1 Ambarawa quite well with the average 68%.Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kemampuan memparafrasakan puisi ke dalam bentuk prosa bebas siswa kelas X SMA Negeri 1 Ambarawa tahun pelajaran 2012/2013. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kemampuan memparafrasakan puisi ke dalam bentuk prosa bebas siswa kelas X. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Ambarawa yang berjumlah 280 siswa yang tersebar dalam 8 kelas. Sampel yang diambil dalam penelitian ini 15% dari jumlah siswa setiap kelas, sehingga jumlah sampelnya 40 siswa. Pengambilan data dilakukan dengan teknik tes tertulis. Berdasarkan hasil penelitian, kemampuan memparafrasakan puisi ke dalam bentuk prosa bebas siswa kelas X SMA Negeri 1 Ambarawa tergolong baik dengan rata-rata 68%.Kata kunci: kemampuan, memparafrasakan, puisi.

Pengaruh LKS Berbasis Inkuiri Terbimbing Terhadap Peningkatan Keterampilan Menyimpulkan dan Mengomunikasikan

Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Kimia Vol 6, No 3 (2017): Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Kimia
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.93 KB)

Abstract

This study aimed to describe the effect of guided inquiry based student worksheet in increasing inferring and communicating skills on electrolite and non-electrolite solution topic. Population in this study was all students of class X MIPA SMA YP Unila Bandarlampung. Samples in this study were students of class X MIPA 8 as experimental class and students of class X MIPA 2 as control class which obtained by purposive sampling technique. The research method was quasi experiment with non equivalence pretest-posttest control group design. The result showed that n-gain average in experiment class is higher than control class, it confirmed that guided inquiry based student worksheet was effective in increasing inferring and communicating skills on electrolite and non-electrolite solution topic. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh LKS berbasis inkuiri terbimbing terhadap peningkatan keterampilan menyimpulkan dan mengomunikasikan pada materi larutan elektrolit dan non-elektrolit. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X MIPA SMA YP Unila Bandarlampung. Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan teknik purposive sampling, siswa kelas X MIPA 8 sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas X MIPA 2 sebagai kelas kontrol. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuasi eksperimen dengan desain non equivalence pretest-posttest control group design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata n-gain dari kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol, hal ini menunjukkan LKS berbasis inkuiri terbimbing berpengaruh terhadap peningkatan keterampilan menyimpulkan dan mengomunikasikan pada materi larutan elektrolit dan non-elektrolitKata kunci: inkuiri terbimbing, keterampilan mengomunikasikan, keterampilan menyimpulkan, lembar kerja siswa

EFEKTIFITAS METIL EUGENOL TERHADAP PENANGKAPAN LALAT BUAH PADA PERTANAMAN CABAI DI KABUPATEN TANGGAMUS

Jurnal Agrotek Tropika Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.396 KB)

Abstract

Produksi cabai merah di Provinsi Lampung terus mengalami penurunan. Kendala yang sering dihadapi dalam peningkatan produksi tanaman cabai ialah gangguan hama, salah satunya lalat buah. Serangan lalat buah dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar hingga 30%-60%. Salah satu pengendalian yang aman bagi lingkungan dan cukup efektif adalah penggunaan metil eugenol sebagai atraktan nabati lalat buah. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dosis metil eugenol yang efektif dalam mengendalikan hama lalat buah, mengetahuiperbedaan populasi tangkapan lalat buah berdasarkan perbedaan waktu pemasangan perangkap lalat buah, mengetahui interaksi antara dosis dan waktu pemasangan serta mengetahu jenis-jenis lalat buah yang ada pada tanaman cabai. Perlakuan disusun dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial. Faktor pertama adalah beberapa taraf dosis metil eugenol dan faktor kedua yaitu perbedaan waktu pemasangan perangkap lalat buah (pagi dan siang). Hasil penelitian menunjukkan dosis metil eugenol yang efektif untuk mengendalikan hama lalat buah pada tanaman cabai ialah 1,5 ml/perangkap. Pemasangan perangkap lalat buah saat pagi lebih efektif dibandingkan saat siang hari. Perangkap akan lebih efektif bila dipasang dengan dosis 1,5 ml/perangkap dan diaplikasikan saat pagi hari karena dengan dosis dan waktu pemasangan tersebut menghasilkan jumlah tangkapan tertinggi. Selain itu ditemukan 2 jenis lalat buah yaitu Bactrocera dorsalis dan Bactrocera umbrosa.

Melatih Berpikir Kritis dengan Bermain Balok

Edukasi Journal Edisi Khusus: Call of Paper Seminar Nasional FKIP 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2214.589 KB)

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis anak kelompok usia 4 – 5 tahun di Sekolah Laboratorium TK Yasmin melalui penelitian tindakan kelas. Pada dasarnya, pembelajaran di TK Yasmin yang cenderung terstruktur dan sistematis telah memberi kesempatan anak untuk mengembangkan berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan suatu bentuk  pengetahuan baru yang diperoleh anak dari hasil sintesis sejumlah pengalaman belajar. Namun demikian kenyataan di dalam proses pembelajaran sering ditemui guru mengalami kendala karena anak cenderung bersikap pasif, enggan bertanya, anak sulit mengomunikasikan kembali proses belajar yang sudah dialami, dan cenderung enggan memecahkan masalah sederhana yang dihadapi. Melalui pendekatan saintifik di sentra balok, diharapkan proses belajar yang selama ini cenderung monoton,  dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis anak. Penelitian ini dilakukan dalam empat siklus dengan menggunakan model Lewin, dengan indikator berpikir kritis yaitu kemampuan anak dalam a)mengamati; b)menganalisis, c)bertanya dan memahami pertanyaan, d)memecahkan masalah, dan e)kemampuan mengkomunikasikan pada orang lain. Setelah siklus IV, secara klasikal keberhasilan anak mencapai 86%, yang berarti melewati kriteria kesuksesan 80%.

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MELALUI BERMAIN SAINS PADA ANAK TK A DI LABORATORIUM PAUD YASMIN KABUPATEN JEMBER TAHUN AJARAN 2018/2019

EARLY CHILDHOOD : JURNAL PENDIDIKAN Vol 2 No 2b (2018): Early Childhood : Jurnal Pendidikan
Publisher : Pendidikan Guru PAUD, FKIP, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.714 KB)

Abstract

ABSTRAK   Pada abad 21 dimana masyarakat sudah menggunakan teknologi, layak kalau anak-anak usia dini juga dipersiapkan untuk memiliki kemampuan yang lebih baik, utamanya di kemampuan berpikir. Sudah saatnya anak diberikan kegiatan yang lebih menantang dan menggunakan strategi yang tepat sehingga kemampuan anak benar-benar dapat meningkat lebih baik. Salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis anak melalui bermain sains, salah satu permainan yang disukai anak yaitu bermain balon. Strategi  yang dipergunakan untuk meningkatkan kemampuan anak, pemecahan masalah (problem solving) dan penemuan terbimbing (Guided Discovery). Masalah yang akan dipecahkan pada tindakan ini adalah bagaimana permainan sains dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis anak, pada kelompok A (4-5 tahun) di Laboratorium Paud Yasmin Jember tahun ajaran 2018/2019. Adapun jenis penelitian yang dilakukan peneliti  adalah tindakan kelas, metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian kali ini peneliti sebagai guru dan guru sebagai observer, wawancara dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan berupa aktivitas anak selama kegiatan bermain sains, hasil wawancara dengan anak dan guru kelompok A. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bermain sains dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis secara signivikan. Secara klasikal dari 15 anak terdapat 13 anak yang berkembang kemampuan berpikir kritisnya secara individual dan 2 anak yang belum berkembang. Diketahui perkembangan kemampuan berpikir kritis anak secara klasikal yang diperoleh 86,66% yang berarti perkembangan kemampuan berpikir kritis anak kelompok A secara klasikal tercapai.   Kata Kunci: berfikir kritis, bermain sains, PAUD.   ABSTRACT   In the 21st century where people have used technology, it is feasible that early childhood are also prepared to have better abilities, especially being able to think. It's time for children to be given more challenging activities and use the right strategies, and the children ability can really improve better. One of the efforts to improve children's critical thinking skills through playing science, one of the games that children love is playing balloons. Strategies used to improve children's ability, problem solving and guided discovery. The problem that will be solved in this action is how the game of science can improve children's critical thinking skills, in group A (4-5 years) in the Laboratory of Paud Yasmin Jember 2018/2019 academic year. The type of lecturers conducted is class action lectures, data collection methods used in this lecture are observation, interviews and documentation. Data collected in the form of children activities during science playing activities, results of interviews with children and teacher of group A. Based on the results of lecturers, it can be concluded that playing science can improve critical thinking skills in a significant way. Classically from 15 children there are 13 children who develop their critical thinking skills, and 2 children are undeveloped. It is known that the development of children critical thinking abilities classically is 86.66% which means that the development of children critical thinking abilities in group A is classically achieved.   Keywords: Critical thinking, science games, PAUD.