Articles

Found 14 Documents
Search

Spatial Correlation of Radio Waves for Multi-Antenna Applications in Indoor Multipath Environments Hendrantoro, Gamantyo; Handayani, Puji; Mauludiyanto, Achmad
Jurnal Teknik Elektro Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.9744/jte.7.1.36-42

Abstract

This paper presents the results of a concerted effort in characterizing the spatial correlation of radio waves detected by a multi-element antenna system in indoor environments. The number of arriving paths and their directions are first studied through a series of measurements. The results are then used in a simulation to obtain spatial correlation indoors. It is found that generally an antenna array positioned near the center of the room will experience more rapidly decreasing correlation with spacing, which is a desired trait. In addition, a linear array oriented perpendicular to the length of the room in general shows better characteristics in terms of faster slope of correlation compared to the one in parallel with the length of the room. The average correlation indoors is also found to be similar to the correlation function arising from the two-dimensional circularly distributed random scatterers proposed by Clarke. For practical implementation of antenna arrays in small terminals for indoor wireless applications, it is suggested that the inter-element spacing be made 0.3? in the least.
Kinerja Sistem Komunikasi FSO (Free Space Optics) Menggunakan Cell-site Diversity di Daerah Tropis Widyarena, Octiana; Hendrantoro, Gamantyo; Mauludiyanto, Achmad
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.695 KB)

Abstract

Kebutuhan masyarakat akan adanya layanan komunikasi multimedia seperti video conference, high speed internet, video streaming, dan lain sebagainya, saat ini terus meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, perlu adanya suatu sistem komunikasi nirkabel dengan kecepatan tinggi. Salah satunya yaitu dengan menggunakan FSO (Free Space Optics). FSO merupakan sistem komunikasi yang memungkinkan memiliki koneksi layaknya serat optik, namun media transmisi yang digunakan yaitu melalui atmosfer. Penggunaan FSO di daerah tropis memiliki kendala yang cukup serius yaitu tingginya intensitas curah hujan yang dapat mempengaruhi kinerja dari FSO. Semakin tinggi intensitas curah hujan, maka nilai redaman hujan juga semakin besar. Untuk mengatasi dampak redaman hujan tersebut, maka digunakan teknik cell-site diversity dengan selection combining. Penerapan teknik cell-site diversity pada sistem komunikasi FSO menggunakan variasi panjang lintasan 0,5 km, 1 km, 1,5 km, dan 2 km serta variasi sudut antar link sebesar 45°, 90°, 135°, dan 180°. Hasil dari penerapan teknik cell-site diversity menunjukkan bahwa adanya peningkatan kualitas sinyal FSO, dalam hal ini yaitu nilai SNR. Peningkatan nilai SNR terbesar didapatkan pada panjang lintasan 2 km dengan sudut antar link 180° serta pada link availability 99,9 %. Untuk konfigurasi cell-site diversity terbaik didapatkan pada sudut antar link sebesar 90° dan 180°.
Kinerja Sistem Komunikasi Satelit Ka-band Menggunakan Site Diversity Di Daerah Tropis Tanjung, Krisnatianto; Hendrantoro, Gamantyo; Mauludiyanto, Achmad
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.374 KB)

Abstract

Frekuensi Ka-band yang dapat digunakan pada sistem komunikasi satelit adalah sebesar 20 GHz (Downlink) dan 30 GHz (Uplink). Namun, pada kondisi daerah tropis dimana intensitas curah hujan yang cukup tinggi dapat menyebabkan kondisi sistem komunikasi satelit akan teredam di sisi penerima. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menghindari dampak adanya redaman hujan adalah dengan metode site diversity. Metode site diversity adalah metode dengan proses transmisi dari satelit ka-band ke lebih dari satu lokasi stasiun bumi. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan nilai signal to noise ratio (SNR). Penerapan metode site diversity pada sistem komunikasi satelit ka-band mengakibatkan adanya peningkatan kinerja sistem komunikasi bila dibandingkan dengan sistem komunikasi tanpa site diversity. Hal tersebut dapat dilihat pada probabilitas 0,1% nilai SNR pada link perak dengan kondisi downlink dan uplink sebesar -4,349 dB dan 0,09804 dB, sedangkan dengan menggunakan teknik selection combining menghasilkan nilai SNR kondisi downlink dan uplink sebesar 10,31 dB dan 25,15 dB.
Peramalan trafik SMS Area Jabotabek Dengan Metode ARIMA Tofani, Lusi Alvina; Mauludiyanto, Achmad
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.666 KB)

Abstract

Dalam dunia telekomunikasi, pertukaran informasidituntut memiliki performansi yang baik. Salah satu layanantelekomunikasi yang banyak digunakan adalah SMS (ShortMessage Service). Dalam tugas akhir ini akan dilakukanpemodelan dan peramalan trafik SMS pada jaringan GSM(Global System for Mobile Communication) area Jabotabekmenggunakan metode ARIMA. Penelitian ini dipusatkan denganmengambil data dari 2 lokasi SMSC (Short Message ServiceCenter) yaitu SMSC yang menampung transaksi SMS peer topeer GSM-T dan SMSC yang menampung transaksi SMS alloperator. Data tersebut merupakan trafik harian selama 4 bulandari bulan Maret hingga Juni 2011 yang akan digunakan untukpemodelan dan Bulan Juli 2011 yang akan digunakan sebagaidata testing. Ada 2 kategori pemodelan yaitu untuk tipe SMSCall operator pada selang waktu 0-15 sec dan 16-30 sec sedangkantipe yang kedua yaitu tipe SMSC peer to peer GSM-T padaselang waktu 0-15 sec dan 16-30 sec. Dari penelitian ini diperoleh4 model dari data selama 4 bulan yaitu model ARIMA untuk alloperator 0-15 sec adalah ([6,9],1,2), model ARIMA untuk alloperator 16-30 sec adalah (1,0,[1,4,5]), model ARIMA untuk peerto peer GSM-T 0-15 sec adalah (1,0,[1,7]), dan model ARIMAuntuk peer to peer GSM-T 16-30 sec adalah ([1,5],0,5). Kemudianuntuk hasil peramalan dari 4 model tersebut didapatkan nilaiMAPE terendah yaitu pada model ARIMA untuk trafik alloperator GSM-T 0-15 sec sebesar 0,32883%. Hasil peramalan iniyang akan digunakan sebagai prediksi trafik kedepan.
Application of Adaptive QAM Modulation and Diversity Scheme for 30 GHz Cellular Communications under the Impact of Rain Attention in Indonesia Hendrantoro, Gamantyo; Mauludiyanto, Achmad; D. Yundariani, Ninik
IPTEK The Journal for Technology and Science Vol 18, No 3 (2007)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j20882033.v18i3.167

Abstract

In millimeter-wave wireless cellular systems like Local Multipoint Distribution Services (LMDS) rain attenuation is an essential factor of performance degradation. It can cause signal outages and poor quality of signal reception. To mitigate the problem, a combination of diversity and adaptive modulation is proposed. To investigate the impact of the use of these techniques, a simulation is performed for a 30 GHz cellular system to obtain SNR (signalto- noise ratio), diversity gain, modulation level and BER (bit error rate). Analysis of the implementation of the combined techniques is accomplished by taking into account such factors as length of links and the combining method Simulation results show that diversity can improve the overall system SNR. Diversity gain of up to 15 dB can be achieved on two 4-km converging links at 0.01% outage probability when maximal-ratio combining (MRC) is used. For systems with luxurious link design for which the clearsky SNR is more than 30 dB, as considered in this paper, diversity and adaptive modulation do not significantly contribute to improvement of achievable transmission rate and BER performance. However, for systems with lower values of clear-sky SNR, use of both techniques will be more worthwhil.
Perencanaan dan Penataan Menara Telekomunikasi Seluler di Kabupaten Bangkalan menggunakan MapInfo Manjayanti, Dwi Adha; Mauludiyanto, Achmad
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.533 KB)

Abstract

Teknologi dan industri telekomunikasi saat ini sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama untuk sistem komunikasi nirkabel dan/atau bergerak. Hal ini mengakibatkan peningkatan kebutuhan fasilitas-fasilitas yang mendukung terbangunnya suatu jaringan nirkabel, seperti menara telekomunikasi yang menyediakan jaringan untuk berkomunikasi bagi penggunanya. Sedangkan untuk membangun menara telekomunikasi ini memerlukan ketersediaan lahan, bangunan dan ruang udara. Dengan demikian hal yang harus dilakukan adalah merancang suatu master plan penataan menara telekomunikasi seluler berdasarkan estetika dan kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah Kabupaten Bangkalan yang kemudian dievaluasi agar memenuhi kebutuhan layanan seluler. Master plan penataan menara telekomunikasi ini meliputi, analisa zona penempatan menara baru (zona biru), analisis potensi pengguna telepon seluler sampai 5 tahun ke depan, prediksi jumlah menara/tower telekomunikasi bersama, dan pemetaan pola penataan pemakaian menara/tower bersama di Kabupaten Bangkalan dengan menggunakan bantuan software MapInfo.
PEMODELAN ARIMA DAN DETEKSI OUTLIER DATA CURAH HUJAN SEBAGAI EVALUASI SISTEM RADIO GELOMBANG MILIMETER Mauludiyanto, Achmad; Hendrantoro, Gamantyo; P, Mauridhi Hery; Suhartono, Suhartono
JUTI: Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi Vol 7, No 3, Januari 2009
Publisher : Teknik Informatika, ITS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j24068535.v7i3.a76

Abstract

The purpose of this paper is to provide the results of Arima modeling and outlier detection in the rainfall data in Surabaya. This paper explained about the steps in the formation of rainfall models, especially Box-Jenkins procedure for Arima modeling and outlier detection. Early stages of modeling stasioneritas Arima is the identification of data, both in mean and variance. Stasioneritas evaluation data in the variance can be done with Box-Cox transformation. Meanwhile, in the mean stasioneritas can be done with the plot data and forms of ACF. Identification of ACF and PACF of the stationary data is used to determine the order of allegations Arima model. The next stage is to estimate the parameters and diagnostic checks to see the suitability model. Process diagnostics check conducted to evaluate whether the residual model is eligible berdistribusi white noise and normal. Ljung-Box Test is a test that can be used to validate the white noise condition, while the Kolmogorov-Smirnov Test is an evaluation test for normal distribution. Residual normality test results showed that the residual model of Arima not white noise, and indicates the existence of outlier in the data. Thus, the next step taken is outlier detection to eliminate outlier effects and increase the accuracy of predictions of the model Arima. Arima modeling implementation and outlier detection is done by using MINITAB package and MATLAB. The research shows that the modeling Arima and outlier detection can reduce the prediction error as measured by the criteria Mean Square Error (MSE). Quantitatively, the decline in the value of MSE by incorporating outlier detection is 23.7%, with an average decline 6.5%.
Sistem Pendukung Keputusan Perencanaan Penempatan Lokasi Potensial Menara Baru Bersama Telekomunikasi Seluler Di Daerah Sidoarjo Menggunakan Metode Simple Additive Weighting (SAW) Christine, Lucyana Angel; Mauludiyanto, Achmad
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5439.533 KB)

Abstract

Perkembangan teknologi mengalami peningkatan yang pesat khususnya telekomunikasi misalnya pada teknologi GSM. Semakin berkembangnya teknologi maka semakin banyak juga pengguna sehingga operator akan menambah antena dan kemudian menambah menara untuk menyokong penambahan antena. Banyaknya menara telekomunikasi akan menimbulkan efek yang tidak baik. Oleh karena itu dikeluarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 02/PER/M.KOMINFO/03/2008 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Menara Telekomunikasi Bersama dimana dengan satu menara telekomunikasi harus diisi lebih dari satu operator. Melalui implementasi metode Simple Additive Weighting dapat ditentukan prioritas lokasi potensial untuk membangun menara baru berbasis website yang dapat melihat lokasi penempatan BTS eksisting ataupun menara baru dengan google Maps ataupun image yang telah diolah dari Mapinfo.  Hasil yang didapatkan untuk tahun 2014 di Kabupaten Sidoarjo terdapat 469 BTS eksisting yang ditopang oleh 389 menara eksisting. Total jumlah kebutuhan untuk tahun 2019 adalah 774 BTS dan 496 menara. Dengan demikian perlu dilakukan penambahan 305 BTS dan 105 menara bersama yang tersebar di Kabupaten Sidoarjo.
Optimasi Penempatan Lokasi Potensial Menara Baru Bersama Pada Sistem Telekomunikasi Seluler Dengan Menggunakan Fuzzy Clustering Di Daerah Sidoarjo Muthmainnah, Muthmainnah; Mauludiyanto, Achmad
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3486.84 KB)

Abstract

Mengikuti perkembangan jumlah pelanggan seluler yang semakin pesat, para operator terus berusaha membangun infrastruktur agar layanan dan kualitasnya semakin meningkat. Salah satu infrastruktur penyelenggaraan yang terus menerus dibangun adalah Base Transceiver Station. Namun, pembangunan BTS tersebut harus mempertimbangkan estetika dan kesesuaian dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Tugas akhir ini bertujuan untuk menerapkan metode Fuzzy Clustering dan Harmony Search untuk mengoptimalkan penempatan lokasi potensial menara baru sehingga diperoleh solusi yang optimal. Selain RTRW, titik potensial juga dapat ditentukan dengan menggunakan titik pusat cluster melalui metode Fuzzy C-Means. Setelah itu titik menara baru dapat dioptimasi dengan menggunakan metode Harmony Search dengan meminimalkan fungsi path loss. Hasil optimasi menunjukan bahwa untuk layanan 2G membutuhkan penambahan BTS sebanyak 343 BTS yang mampu melayani kebutuhan trafik sebesar 42230 Erlang, sedangkan untuk layanan 3G membutuhkan penambahan BTS sebanyak 278 BTS yang mampu melayani Offered Bit Quantity (OBQ) sebesar 1160857  Kbps dengan total luas coverage BTS nya sebesar 60.798 km2. namun dari segi jumlah menaranya tidak terjadi penambahan pada kedua jenis layanan ini. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengefisienkan penggunaan menara eksisting. Dengan menggunakan metode Fuzzy Subtractive Clustering diperoleh 3 (tiga) jumlah cluster yang optimal di setiap kecamatan.
Optimasi Peletakan Base Transceiver Station Di Kabupaten Mojokerto Menggunakan Algoritma Differential Evolution Nugraha, Ahadi Arif; Mauludiyanto, Achmad
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2430.711 KB)

Abstract

Salah satu aspek penting dalam perencanaan infrastruktur jaringan seluler adalah Base Transceiver Station (BTS) yang merupakan sebuah pemancar dan penerima sinyal telephone seluler. Di satu sisi, peningkatan jumlah menara memang akan mendukung tercapainya pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap layanan telekomunikasi. Namun di sisi lain, penempatan menara yang  tanpa perencanaan serta koordinasi yang tepat akan menimbulkan jumlah menara yang berlebih sehingga dapat mengganggu estetika lingkungan, tata ruang suatu wilayah, dan radiasi gelombang radio yang tidak terkontrol sehingga sangat mengganggu. Berdasarkan permasalahan diatas, maka dapat diselesaikan dengan cara menyusun suatu master plan yang lengkap dan rinci tentang penataan lokasi menara di Kabupaten Mojokerto untuk lima tahun mendatang. Penataan lokasi menara dilakukan dengan menggunakan algoritma Differential Evolution (DE) untuk menemukan solusi penataan menara yang baik berdasarkan luas cakupan area sel yang dihasilkan, kemudian menggunakan software MapInfo sebagai media visualisasi peta lokasi penempatan menara telekomunikasi. Dalam perancangan menara BTS tahun 2019, Kabupaten Mojokerto membutuhkan 106 menara BTS 2G dan 36 menara BTS 3G. Penempatan menara BTS 2G dan 3G menggunakan algoritma differential evolution mampu mengoptimalkan 2,94% dari luas wilayah Kabupaten Mojokerto