Asnah Marzuki
Faculty of Pharmacy, Pharmaceutical Chemistry Department, Hasanuddin University, Makasar.

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETIL ASETAT KAYU BATANG BANYURU SULAWESI (Pterospermum celebicum Miq.) DENGAN METODE PENANGKAPAN RADIKAL BEBAS DPPH (2,2-diphenyl-1-picryl-hydrazyl)

MAJALAH FARMASI DAN FARMAKOLOGI Vol 16, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.303 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian uji aktivitas antioksidan ekstrak etil asetat kayu batang Banyuru Sulawesi (Pterospermum celebicum miq.) Dengan metode penangkapan radikal bebas DPPH (2,2-diphenyl-1-picryl-hydrazyl) dan menggunakan metode spektrofotometri UV-VIS. Hasil penelitian menun-jukkan aktivitas senyawa antioksidan ekstrak  dengan menggunakan metode pengikatan radikal bebas 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH)  terhadap data diperoleh dengan nilai IC50 180 ppm, sehingga efektif sebagai sumber antioksidan alternatif.

PENGARUH PEMBERIAN SARI BUAH KURMA (Phoenix dactylifera L) TERHADAP PERUBAHAN JUMLAH TROMBOSIT PADA TIKUS (Rattus norvegicus)

MAJALAH FARMASI DAN FARMAKOLOGI Vol 16, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.747 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh pemberian sari buah kurma (Phoenix dactylifera L) terhadap perubahan jumlah trombosit pada tikus (Rattus norvegicus), dengan tujuan untuk mengetahui apakah sari buah kurma dapat meningkatkan jumlah trombosit tikus (Rattus norvergicus) dengan menggunakan 15 ekor tikus kemudian dibagi menjadi  5 kelompok perlakuan. Kelompok pertama sebagai kontrol negatif, kelompok kedua, ketiga dan keempat  diberi sari buah kurma 2,5 g/100 g BB tikus, 5 g/100 g BB tikus dan 10 g/100 g BB tikus, kelompok kelima sebagai kontrol positif heparin 270 UI/200 g BB tikus secara subkutan sebelum diberi sari buah kurma, kemudian dihitung kadar trombosit.   Rata-rata kenaikan trombosit pada kelompok pertama (kontrol negatif) 37,7, kelompok kedua 235,7, kelompok ketiga 343,3, kelompok kempat 225,0 dan kelompok kelima (kontrol positif) 319,0 µL/100 g. Berdasarkan hasil analisa statistik dengan metode rancangan acak lengkap  memperlihatkan bahwa pemberian sari buah kurma secara nyata dapat meningkatkan jumlah trombosit pada tikus (Rattus norvegicus).

EKSTRAKSI DAN PENGGUNAAN GELATIN DARI LIMBAH TULANG IKAN BANDENG (Chanos chanos Forskal) SEBAGAI EMULGATOR DALAM FORMULASI SEDIAAN EMULSI

MAJALAH FARMASI DAN FARMAKOLOGI Vol 15, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.004 KB)

Abstract

Limbah tulang ikan bandeng dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan gelatin alternatif. Gelatin yang berasal dari ikan mempunyai tingkat keamanan, viskositas, dan kecepatan disolusi lebih baik daripada gelatin yang berasal dari mamalia. Emulsi minyak ikan (Oleum Iecoris Aselli) yang diformulasi dengan penambahan co-emulgator gelatin dari tulang ikan bandeng (Chanos chanos Forskal) dengan konsentrasi 0,5% adalah emulsi yang stabil secara fisik.

ANALISIS KANDUNGAN KALSIUM (Ca) DAN BESI (Fe) PADA KEPITING BAKAU (Scylla olivacea) CANGKANG KERAS DAN CANGKANG LUNAK DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

MAJALAH FARMASI DAN FARMAKOLOGI Vol 17, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.46 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian analisis kandungan kalsium dan besi pada kepiting bakau (Scylla olivacea) cangkang keras dan cangkang lunak secara spektrofotometri serapan atom. Penelitian ini dilakukan dengan cara destruksi kering pada kepiting bakau, hasil destruksi dilarutkan dengan asam. Dari kedua sampel yang di uji keduanya mengandung kalsium dan besi. Analisis kimia menggunakan metode spektrofotometrik serapan atom pada panjang gelombang 422,7 nm untuk analisis kalsium dan panjang gelombang 248,3 nm untuk analisis besi. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu kandungan kalsium kepiting bakau (Scylla olivacea) untuk cangkang keras 10,75 gram/100 gram, untuk cangkang lunak 29,14 gram/100gram. Sedangkan untuk kandungan besi pada kepiting bakau cangkang keras 1,875 gram/100 gram, dan cangkang lunak 2,15 gram/100 gram.

PRODUKSI ANTIBIOTIKA SECARA FERMENTASI DARI BIAKAN MIKROORGANISME SIMBION RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii

MAJALAH FARMASI DAN FARMAKOLOGI Vol 17, No 3 (2013)
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.632 KB)

Abstract

Antibiotika merupakan bahan baku obat yang sangat memegang peranan penting dalam menanggulangi penyakit infeksi di Indonesia. Pemakaian antibiotik yang kurang terkontrol menyebabkan timbulnya resistensi mikroba patogen terhadap antibiotik sehingga penemuan antibiotik baru yang memiliki khasiat farmakologik sangat diperlukan. Kebanyakan antibiotik yang telah digunakan saat ini merupakan hasil isolasi alami dari tanah atau perairan. Penelitian ini dimaksudkan untuk skrining mikroorganisme penghasil antibiotika dari sumber bahan alam Indonesia, khususnya rumput laut Eucheuma cottonii asal perairan Takalar. Isolasi bakteri dilakukan dengan metode tuang menggunakan medium Marine agar, dilanjutkan dengan pemurnian menggunakan metode gores sebelum dilakukan proses produksi melalui fermentasi. Uji aktivitas antimikroba dilakukan terhadap supernatan hasil fermentasi menggunakan metode difusi agar pada medium Muller Hinton agar untuk bakteri uji Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil penelitian isolasi bakteri simbion dari rumput laut Eucheuma cottonii diperoleh 3 isolat bakteri yaitu EC-1, EC-2 dan EC-3. Hasil uji antagonis menunjukkan bahwa setiap isolat dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme uji. Berdasarkan dari hasil uji aktivitas dalam menghambat mikroorganisme patogen, isolat EC-2 memperlihatkan potensi yang baik untuk dikembangkan sebagai mikroorganisme penghasil antibiotika. Coloni EC-2 berbentuk lonjong dengan warnaputih. Produk isolat bakteri simbion EC-2 memperlihatkan daya hambat rata-rata terhadap Escherichia coli sebesar 9.43 mm dibandingkan dengan antibiotika kloramfenikol baku pada konsentrasi 30 ppm yang memiliki daya hambat 7,32 mm. Uji aktifitas dari produk isolat bakteri simbion EC-2 juga memperlihatkan hasil yang serupa dengan baku antibiotika ampisilin pada konsentrasi 30 ppm terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan daya hambat masing-masing sebesar 6,21 mm dan 6,25 mm. Pengamatan mikroskopik dan uji pewarnaan memperlihatkan bahwa isolat EC-2 terdiri atas bakteri coccus gram negatif yang berbentuk lonjong. Isolat ini dapat menggunakan galaktosa sebagai sumber karbonnya.

Analisis Residu Klorpirifos Pada Sawi Hijau (Brassica Rapa Var.Parachinensis L.) Terhadap Parameter Waktu Retensi Metode Kromatografi Gas

PHARMACON Vol 3, No 4 (2014): pharmacon
Publisher : PHARMACON

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.398 KB)

Abstract

Analisis Residu Klorpirifos  Pada Sawi Hijau (Brassica Rapa Var.Parachinensis L.) Terhadap Parameter  Waktu Retensi Metode Kromatografi Gas   Asnah Marzuki1), Tajuddin Naid1), Risky S1) 1)Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin . ABSTRACT The purposed of the research is analyzed the chlorpyrifos in green mustard of the retention time parameter with gas chromatography. The green mustard was collected of ready  harvest condition with sample collecting point on diagonal form in the farm. As standard was used chlorpyrifos 99,9%. The research was begin  with make the standard at 0,05 ppm and sample extraction was made duplo. Standard solution and sample was injected  by rolling over in the gas chromatography with column of fused silica Rtx®-1 (Crossbond® dimetyl polisiloxan length 30 meter, inner diameter 0,25 mm and the partikel diameter of stationary phase fase diam 0,25 µm), electron capture detector, carrier gas nitrogen with flow rate 1,61 mL/min, conditioned at column temperature 250ºC, injector temperature 280ºC and detector temperature 300ºC and operating time for 15 minutes. The parameter was used is time retention (tR). the result showed at chromatogram in sample I and II, time retention was obtained similar with standard solution time retention although showed time retention difference above required limit while in sample I and II having the characteistic retention time of standard solution. The retention time based on gas chromatography method can be knew the concentration of chlorpyrifos as 1,0024 mg/kg but it still on tolerance threshold the maximum residue limits (MRL) is 0,1 mg/kg.   Keywords: Chlorpyrifos, Brassica rapa var.parachinensis L,Time retention, Gas Chromatography   ABSTRAK   Telah dilakukan analisis residu Klorpirifos  pada Sawi Hijau (Brassica Rapa Var. Parachinensis L.), terhadap parameter waktu retensi metode khromatografi gas pada sawi hijau (Brassica rapa var.parachinensis L.) secara kromatografi gas. Sawi hijau diambil pada kondisi siap panen dengan titik pengambilan sampel bentuk diagonal dari lahan. Sebagai standar digunakan klorpirifos 99,9 %. Penelitian  diawali dengan pembuatan standar pada konsentrasi 0,05 bpj dan ekstraksi sampel  dilakukan secara duplo. Larutan standar dansampel diinjeksikan secara bergantian ke dalam alat KG dengan kolom fused silica Rtx®-1 (Crossbond® dimetil polisiloksan panjang 30 meter, diameter dalam 0,25 mm dan diameter partikel fase diam 0,25 µm), detektor penangkap elektron (ECD), gas pembawa nitrogen dengan kecepatan alir 1,61 ml/menit, dikondisikan pada suhu kolom 250ºC, suhu injektor 280ºC dan suhu detektor 300ºC serta waktu pengoperasian selama 15 menit. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah waktu retensi (tR). Hasil analisis data menunjukkan pada kromatogram sampel I dan sampel ll, waktu retensi yang diperoleh hampir sama dengan waktu retensi darikromatogram larutan standar, walaupun tetap memperlihatkan perbedaan waktu retensi melebihi batas persyaratan. Sedangkan pada kromatogram sampei l dan sampel II diperoleh gambaran yang nilainya mendekati waktu retensipuncak khas pada standar. Waktu retensi  menurut  metode  Kromatografi  Gas,dapat diketahui kadar residu klorpirifos adalah 0,0024 mg/kg, tetapi masih dalam ambang toleransi BMR yakni 0,1 mg/kg.   Kata kunci : Klorpirifos, Brassica rapa var.parachinensis L,Waktu Retensi, Kromatografi Gas  

Analisis Kadar Kolesterol Low Density Lipoproteinsebagai Faktor Risiko Komplikasi pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2

Medula Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Medula

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.678 KB)

Abstract

Dyslipidemia in type 2 diabetes mellitus (T2DM) can be increased the cardiovascular risk and this condition was equivalent with the elevated of LDL-cholesterol. In type 2 diabetes, LDL was small, dense and more aterogenic. This research was an observational study used cross sectional approach. The samples were 50 samples consist of twenty five of T2DM with non-CHD patient (50%) and twenty five of T2DM with CHD patient (50%) with age 45 years old or more. The level of serum LDL was measured by photometry used ABX Pentra 400. The data was analyzed by statistical method. The result study was conducted that normal LDL level was 9 (18%) patients and abnormal LDL level was 16 (32%) in T2DM with non-CHD patient. While in patient with T2DM with CHD had abnormal LDL level overall (50%). The high level of LDL in T2DM was accelerated complication occurrence, mainly coronary heart disease (CHD).Keywords: Type 2 diabetes mellitus (T2DM), dyslipidemia, LDL level, CHD complication

UJI AKTIVITAS EKSTRAK KULIT BATANG BANYURU (Pterospermum celebicum Miq.) DAN EKSTRAK LENGKUAS (Alpinia galanga (L.)Willd.) SEBAGAI ANTIFUNGI TERHADAP Trichophyton rubrum, Candida albicans dan Aspergillus niger

PHARMACON Vol 7, No 3 (2018): Pharmacon
Publisher : PHARMACON

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

UJI AKTIVITAS  EKSTRAK KULIT BATANG BANYURU (Pterospermum celebicum Miq.) DAN EKSTRAK LENGKUAS (Alpinia galanga (L.)Willd.) SEBAGAI ANTIFUNGI TERHADAP Trichophyton rubrum, Candida albicans dan Aspergillus niger Asnah Marzuki1), M. Natsir Djide2), Sartika2), Rosany T3)1)Lab.Kimia Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Hasanudin, Makassar2)Lab.Mikrobiolog Fakultas Farmasi Universitas Hasanudin, Makassar3)Lab.Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Hasanudin, Makassar ABSTRACT               Candida albicans, Aspergillus niger and Trichophyton rubrum is a common group of pathogenic fungi that can cause infection in humans. Galangal (Alpinia galanga (L.) Willd.) Has various properties including antifungal and antibacterial. Banyuru (Pterospermum celebicum Miq.) Is known to have antibacterial activity. This study aims to determine the antifungal activity of each extract, namely galangal and banyuru against Candida albicans fungi, Aspergillus niger and Trichophyton rubrum compared to extract activity when combined, seeing the diameter of the inhibitory broader or smaller. Banyuru extract and Galangal extract made 5 series of single concentrations (5%, 15%, 25%, 35%, 50%) and 3 series of combination concentrations (25%: 25%, 25%: 50%, 50%: 25%) . Testing of antifungal activity was carried out using a solid diffusion method. The results showed the best antifungal activity on single extracts of 50% concentration of Banyuru (24.72 mm) and Galangal (16.68 mm) on the growth of Trichophyton rubrum fungi. Galangal extract (Alpinia galanga (L.) Willd.) On Candida albicans was found at a concentration of 50% with a value of 10.06 mm and against Aspergillus niger with a value of 12.25 mm. In Banyuru extract there is no inhibitory area for Candida albicans and Aspergillus niger. The best combination of antifungal activity was seen at a concentration of 50%: 25% with a diameter of 31.4 mm inhibition in Trichophyton rubrum and there was no inhibitory area for Candida albicans and Aspergillus niger. Keywords: Antifungal, Trichophyton rubrum, Candida albicans, Aspergillus niger, Banyuru (Pterospermum celebicum Miq.), (Alpinia galanga (L.)Willd.ABSTRAK             Candida albicans, Aspergillus niger dan Trichophyton rubrum merupakan golongan jamur patogen yang umum dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Lengkuas (Alpinia galanga (L.)Willd.) memiliki berbagai khasiat diantaranya sebagai antifungi dan antibakteri. Banyuru (Pterospermum celebicum Miq.) diketahui memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antifungi masing-masing ekstrak yaitu lengkuas dan banyuru terhadap fungi Candida albicans, Aspergillus niger dan Trichophyton rubrum yag dibandingkan aktivitas ekstrak saat dikombinasikan, melihat diameter daya hambat  semakin luas ataupun semakin kecil. Ekstrak Banyuru dan ekstrak Lengkuas dibuat 5 seri konsentrasi tunggal (5%, 15%, 25%, 35%, 50%) dan 3 seri konsentrasi kombinasi (25%:25%, 25%:50%, 50%:25%). Pengujian aktivitas antifungi dilakukan menggunakan metode difusi padat. Hasil menunjukkan adanya aktivitas antifungi terbaik pada ekstrak tunggal konsentrasi 50% Banyuru (24,72 mm) dan Lengkuas (16,68 mm) terhadap pertumbuhan fungi Trichophyton rubrum. Ekstrak lengkuas (Alpinia galanga (L.)Willd.)  terhadap Candida albicans terdapat pada konsentrasi 50% dengan nilai 10,06 mm dan terhadap Aspergillus niger dengan nilai 12,25 mm. Pada ekstrak Banyuru tidak terdapat daerah hambat terhadap Candida albicans dan Aspergillus niger. Ekstrak kombinasi aktivitas antifungi terbaik terlihat pada konsentrasi 50%:25% dengan diameter daya hambat 31,4 mm pada Trichophyton rubrum dan tidak terdapat daerah hambat terhadap Candida albicans dan Aspergillus niger.Kata Kunci : Antifungi, Trichophyton rubrum, Candida albicans, Aspergillus niger, Banyuru (Pterospermum celebicum Miq.), (Alpinia galanga (L.)Willd.