Articles

Found 6 Documents
Search

Pembuatan Media Pembelajaran Interaktif Bangun Ruang Matematika Maryani, Dwi
Speed - Sentra Penelitian Engineering dan Edukasi Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Speed 22 - 2014
Publisher : APMMI - Asosiasi Profesi Multimedia Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK ? Sistem komputer multimedia adalah suatu bentuk integrasi dari elemen-elemen yang tersusun atas gambar, teks, video, audio yang saling mendukung untuk mendapatkan hasil output suatu sistem informasi yang lebih interaktif. Pembuatan media pembelajaran interaktif? bangun ruang matematika salah satunya adalah untuk mengembangkan kualitas pendidikan dengan cara memanfaatkan software pembuat presentasi dan animasi. Software tersebut bertujuan untuk mempermudah pengajar dalam menyampaikan materi dengan fasilitas multimedia yang di dalamnya terdapat gambar, suara dan animasi sehingga siswa lebih mudah menyerap materi yang diajarkan guru. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode: observasi, wawancara, kepustakaan, perancangan/desain, uji coba dan implementasi. Dengan adanya media pembelajaran interaktif yang berbentuk CD interaktif diharapkan guru bisa lebih mudah memberikan materi pembelajaran matematika khususnya materi bangun ruang dan siswa dapat lebih mudah memahami materi-materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. ??Kata Kunci : Media pembelajaran, bangun ruang
PENGGUNAAN MODEL DISCOVERY LEARNING PADA KESETIMBANGAN KIMIA DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR LANCAR Maryani, Dwi; Fadiawati, Noor; Kadaritna, Nina
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Kimia Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Unila

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.255 KB)

Abstract

This research was aimed to describe the effectiveness of discovery learning model to increase student’s fluency thinking skills on chemical equilibrium subject matter.  The method of the research was quasi-experimental with  Non Equivalent Control Group Design.  The population of this research was all students in XI science class of MA Negeri 1 Metro whose sit in odd semester of academic year 2013-2014.  The sample were taken by purposive sampling technique then obtained XI IPA2 dan XI IPA3 class as sample of the research.  The effectiveness of discovery learning model was showed by the significant difference of n-Gain between control and experiment class.The result of research showed that the average n-Gain score for experiment class was  0,32 and the average n-Gain score for control class was 0,21.  Proving the hypothesis showed that discovery learning model is effective to increase student’s fluency thinking skills on chemical equilibrium subject matter. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan efektivitas model discovery learning dalam meningkatkan keterampilan berpikir lancar siswa pada materi kesetimbangan kimia.  Metode dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen.  Populasi dalam peneliian ini adalah semua siswa kelas XI IPA MA Negeri 1 Metro semester ganjil Tahun Pelajaran 2013-2014.  Sampel diambil dengan tehnik purposive sampling sehingga diperoleh kelas XI IPA2 dan XI IPA3 sebagai sampel penelitian.  Efektivitas model discovery learning ditunjukan berdasarkan perbedaan nilai n-Gain yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukan rata-rata nilai n-Gain untuk kelas eksperimen adalah 0,32 dan rata-rata nilai n-Gain  untuk kelas kontrol adalah 0,21.  Pengujian hipotesis menunjukan bahwa model discovery learning efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir lancar siswa pada materi kesetimbangan kimia. Kata kunci : kesetimbangan kimia, keterampilan berpikir lancar, model discovery learning
Proses Kreatif Koreografi Karya Tari ‘Subur’ Maryani, Dwi
PANGGUNG Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT This paper describes the creative process of choreography of fat people. It also explains that a dancer with a fat posture is not always unpleasant. A fat person is more represented, in a posi- tive way of thinking, with “subur” person. The questions to be discussed are: how is the character of dance movement of the fat people? And how is the choreography of the fat people in order to be looked beautiful and attractive? The creative process has been conducted through analyzing self dance movements and comprehending someone’s painting works. The result of the study shows that dances which are performed by fat people can also be looked attractive, smooth and beautiful. Keywords: creative process, choreography  ABSTRAK Tulisan ini menguraikan proses kreatif koreografi orang bertubuh gemuk. Tulisan ini juga menjelaskan bahwa seorang penari bertubuh gemuk tidak selalu jelek. Orang yang gemuk,  dalam  pengertian  positif,  lebih  banyak  diartikan  dengan  orang  yang  ‘subur ’. Permasalahan yang diangkat ialah bagaimana karakter gerak tarian orang bertubuh ge- muk? Serta bagaimana koreografi orang bertubuh gemuk agar kelihatan indah dan me- narik? Proses kreatif dilakukan melalui penelaahan gerak-gerak dari diri sendiri serta pemahaman terhadap karya seni lukis seseorang. Hasil kajian menunjukkan bahwa ta- rian yang ditampilkan oleh orang gemuk bisa juga terlihat menarik, halus, dan indah. Kata kunci: proses kreatif, koreografi  
PKM LAPAS SURAKARTA Maryani, Dwi
Abdi Seni Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Abdi Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program Pengabdian Kepada Masyarakat yang dilaksanakan di Rumah Tahanan Negara Kelas I Surakartamemilih materi Tari Tradisi. Pelatihan tari ini akan mendorong warga binaan dapat mengembangkankreativitas, meningkatkan kemampuan tehnik kepenarian, menguasai materi tari. Selain itu pengalamanafektif, kognitif dan psikomotorik yang dilakukan dalam proses latihan akan bermanfaat dalam membangunkarakter warga binaan. Secara garis besar kegiatan pelatihan tari dilakukan dengan dua metode; pertamametode ceramah, dan metode drill. Metode ceramah dilakukan untuk memberi penguatan wawasan/pengetahuan mengenai nilai-nilai seni dan kemanusiaan ke dalam pengalaman hidup peserta didik.Sedangkanmetode drill, dilakukan untuk memberi penguatan dalam pelatihan yang sifatnya kemampuan fisik kepenarian.Program palatihan dilaksanakan selama enam bulan, dalam pelatihan juga melibatkan langsung parapendamping dari rutan, hal ini sangat berperan dalam kelancaran latihan, dan juga untuk keberlanjutanprogram.Materi dan hasil pelatihan berupa reportoar tari tradisi digunakan untuk pentas penutupan program.Kata kunci: Pelatihan, Tari, Apresiasi.
BENTUK SAJIAN TARI SRIKANDHI CAKIL Maryani, Dwi
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 8, No 1 (2010)
Publisher : Gelar : Jurnal Seni Budaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Srikandhi Cakil dance has the theme of heroism using antawecana (dialogues) and tembang (Javanese songs). Javanese gamelan is used to accompany the dance and at the beginning the accompaniment is ada-ada, Srepeg, ketawang teplek, and then the second srepek, and ada-ada jugag is used before dialogues. In the dialogue, Cakil sits with the knees bent after knowing that he is facing Dewi Woro Srikandhi. To show that Cakil is surprised and gives a respect to Dewi Woro Srikandhi, this scene is accompanied by pathetan jugag. The dialogue is continued to the conversation on the king Jungkung Madiyo’s proposal which is rejected by Srikandhi. The accompaniment of ada-ada jugag is used to make the atmosphere that Cakil is angry. Key words : dance, Srikandi, Cakil
Wiraga Wirama Wirasa Dalam Tari Tradisi Gaya Surakarta Maryani, Dwi
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 5, No 1 (2007)
Publisher : Gelar : Jurnal Seni Budaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Javanese traditional dances of Surakarta style are one of the ancestor’s  heritage owned by the king so that abdi dalem (the royal servants), especialy abdi  dalem taya in the court of Surakarta remain obeying the king’s order. In other  words, traditional art of Surakarta existing in the court of Surakarta still go on  according to the handbook or guidelines applicable at that time. To be a good Javanese  dancer, someone has to have a good knowledge of three basic concepts, namely, wiraga,  wirama, and wirasa. A Javanese dancer, especially that of  surakarta style, should  pay attention to the series and forms of movements, and dance structure and call  adjust the kind and character of the dance to the rhythm of gending (melody). A  dance who has acquired skills in wiraga, wirama, and wirasa will dance gracefully,  not stiffly. He will not make forced movements; everything looks smooth and flows in  enjoyable rhythm. He moves seriously but does not look strained.Keywords: Wiraga Wirama Wirasa, Traditional Dance.