Martarosa Martarosa
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

DIKIA RABANO : MUSIK PROSESI DALAM SENI BUDAYA MASYARAKAT KAMANG KABUPATEN AGAM Martarosa, Martarosa
Jurnal Ekpresi Seni Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Ekspresi Seni, Vol. 14, No. , November 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.465 KB)

Abstract

Abstrak: Dikia Rabano dalam budaya masyarakat Kamang Kabupaten Agam, Propinsi Sumatera Barat merupakan gabungan musik perkusi Rebana dengan musik vokal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling terkait menjadi satu kesatuan dalam penyajian materi. Syair-syair yang digunakan dalam teks lagu berjudul “Shalawat”, tidak berbentuk pantun. Artinya teks yang dinyanyikan sudah tetap dan tidak berubah-rubah. Sesuatu yang menarik pada Dikia Rabano tersebut adalah melodinya yang khas dan syair-syairnya yang dikaikan dengan puji-pujian kepada Nabi dan Rasul, serta petunjuk-petunjuk dari Allah Subhanahu Wataa’la.Kata Kunci: Dikia Rabano, melodi vokal, puji-pujian. Dikia Rabano: Music Of Procession In Arts And Culture Of Kamang Community In Agam District Abstract. Dikia Rabano in the culture of Kamang community in Agam district, West Sumatera province, is the combination of percussion music of Rebana and vocal music that cannot be separated. Both  are interelated to form a unity in its presentation. The lyrics used in the songs is called “Shalawat”, but not in the form of pantun. It means that the texts are fixed and cannot be changed. One interesting aspect about Dikia Rabano is its unique melody and lyrics cited to praise the Prophet, and guidance for Allah Subhanahu Wataa’la.Key words: Dikia Rabano, vocal melody, praise.
Apropriasi Musikal dan Estetika Musik Gamat Martarosa, Martarosa
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v17i1.1687

Abstract

Penelitian ini membahas cara orang Pesisir Minangkabau mengimbuhkan atau mencangkokkan beberapa genre musik tradisional Pesisir Minangkabau hingga genre musik ini menjadi semakin kuat diakui sebagai musik mereka. Penelitian difokuskan pada perubahan dan estetika. Secara musikologis data dipisahkan menjadi dua aspek yaitu aspek musikal dan aspek sosial atau tekstual dan kontekstual. Secara tekstual data dianalisis berdasarkan konsep estetika yang meliputi harmoni dan  orkestrasi yang menyangkut penyajian formasi instrumen. Konsep ini dapat digunakan untuk melihat bentuk-bentuk apropriasi musikal yang terjadi pada musik gamat sebagai kajian analisis dalam bentuk dan struktur, vibrato dan ornamentasi melalui teknik penyajian  garitiak dan gayo. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa proses interaksi dan cara kepemilikan atau apropriasi terhadap musik gamat oleh orang-orang Minangkabau diduga terjadi melalui penawaran-penawaran pada sisi musikal antar budaya timbal balik.
THE HISTORY AND DEVELOPMENT OF GAMAT MUSIC AS A PROTOTYPE OF BANDAR ART IN THE WEST SUMATERA COASTAL AREA (PESISIR) Martarosa, Martarosa
Humaniora Vol 28, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Cultural Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1026.901 KB) | DOI: 10.22146/jh.v28i1.11503

Abstract

At the end of the 19th century and the beginning of 20th century, the city of Padang has been dubbed the metropolis of the island of Sumatera. This is because the population of the Europeans who live there is relatively higher than other cities in Sumatera. An influence of this condition appears to be the phenomenon of Western-style music which was introduced to the indigenous peoples (Bandar natives). The appropriation of this musical style from various cultures such as of Portuguese (European), Malay and Minangkabau eventually became known as Gamat. Nowadays, the well-known Gamat is part of the identity of the culture, especially for Minangkabau in the West Sumatera coastal area.
BASOSOH: KOMPOSISI MUSIK ALEATORIC DALAM FORMAT ORKESTRA FLUXUS Suhendra, Hadi; Martarosa, Martarosa; Haris, Asep Saepul
Gorga Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2018): Gorga Jurnal Seni Rupa
Publisher : Jurusan Seni Rupa Unimed

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v7i2.11032

Abstract

AbstrakBasosoh merupakan karya seni bunyi yang terinspirasi dari fenomena ritual Tabuik di Pariaman Sumatra Barat. Basosoh merupakan kata sifat yang frontal, biasanya diungkapkan dengan berbagai media seperti permainan musik, mengguncang atau mengarak benda seperti Tabuik dengan meneriakan kata Sosoh. Seiring berkembangnya teknologi, Tabuik di tengah-tengah masyarakat telah terkontaminasi oleh desakan otonomi daerah, desakan pariwisata dan otoriter pemerintah yang lebih menggairahkan untuk menunjang sektor kepariwisataan. Posisi dan tujuan untuk pariwisata telah menjadikan Tabuik berubah dari ‘ritual’ menjadi sekuler. Adanya sekularitas masyarakat secara sadar menyadari perubahan (transformasi) terhadap nilai, fungsi dan makna dalam ritual Tabuik. Berlatar belakang dari transformasi ritual Tabuik, pengkarya terinspirasi untuk menciptakan sebuah karya musik Aleatoric dengan memakai teknik komposisi avant garde serta teknik tradisional musik Barat seperti Canon, imitasi, repetisi dan sekuen. Metode penciptaan dilakukan dengan beberapa pengelompokan kerja: Metode Pengembangan Konsep (Observasi, Wawancara, Pengumpulan Data, dan Perumusan Konsep); dan Metode Mewujudkan Konsep (Eksplorasi, Eksperimentasi, dan Aplikasi). Dalam penggambaran ekspresi zeitgeist ritual Tabuik, karya komposisi musik ini dibuat dalam bentuk tiga bagian berbeda, yang masing-masing diberi judul: Ago, Oyak dan Sosoh. Selanjutnya karya komposisi ini disajikan dengan harapan agar mengetahui, menyadari dan mengkritisi peristiwa budaya masyarakat Pariaman serta memberi tawaran musik baru dalam setiap prosesi upacara Tabuik.           Kata Kunci: Basosoh,Tabuik, Aleatoric, Orkestra, Fluxus. AbstractBasosoh is a sound artwork inspired by the phenomenon of Tabuik ritual in Pariaman, West Sumatra. Basosoh is a frontal adjective, usually with various media such as music games, shaking or parading objects like Tabuik by shouting Sosoh. Along with the development of technology, Tabuik in the midst of the community has been contaminated by the insistence of regional autonomy, the pressure of the government and the authoritarian government which is more exciting to support the tourism sector. The position and purpose to make Tabuik change from ritual to secular. The existence of societys secularity, especially towards changes (changes) in values, functions and meanings in the Tabuik ritual. Set from a change in ritual of Tabuik, a visual masterpiece to create an Aleatoric music by using avant garde techniques and traditional music techniques such as Canon, imitation, repetition and sequences. The method is done with several work groupings: Observation Method, Interview, Data Collection, and Concept Formulation); and Conceptualizing Methods (Exploration, Experimentation, and Applications). In describing the zeitgeist Tabuik ritual expressions, this musical composition work is made in the form of three different parts, each of which is entitled: Ago, Oyak and Sosoh. Furthermore, these tasks are carried out in ways to find out, and criticize Pariaman cultural events and provide new tasks in each Tabuik ceremony procession.  Keywords: basosoh, tabuik, aleatorik, orchestra, fluxus. 
TERBANG KENCER IN DIGITAL MUSIC Munjazi, Achmad Ibnu; Martarosa, Martarosa; Nurkholis, Nurkholis
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 1 (2018): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.816 KB) | DOI: 10.26887/lg.v4i1.443

Abstract

Terbang kencer adalah kesenian musik tradisional yang berasal dari Jawa Tengah. Komponen penyusun Terbang Kencer terdiri dari Guru (Vokal/Penyair) dan alat musik perkusif yang berjumlah sembilan buah. Mereka Terdiri dari dua buah Terbang, empat buah Kencer, dua buah Kempling, dan satu buah Induk. Syair yang ada pada  Terbang kencer memiliki banyak jenis. Jenis Syair yang digunakan pada karya ini adalah Syair Sholawat  yang diambil dari Kitab Barzanji. Terbang kencer In Digital Music adalah sebuah karya yang mewujudkan permainan terbang kencer kedalam bentuk digital dan menerapkan rasa permainannya kedalam Musik elektronik dengan jenis House Music. Beberapa teknik Audio Digitalization yang digunakan antara lain Audio Sampling, Audio Variaton, dan Virtual Studio Instrumnetation. Karya ini dituangkan dalam dua bagian. Bagian pertama merupakan perwujudan bentuk Terbang kencer dalam bentuk MIDI Instrument. Bagian Kedua merupakan penuangan rasa permainan Terbang Kencer ke jenis House Music.  
BENTUK SENI PERTUNJUKAN RONGGENG PASAMAN DI KABUPATEN PASAMAN SUMATERA BARAT Fernando, Kurniawan; Martarosa, Martarosa; Awerman, Awerman
Gorga Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2018): Gorga Jurnal Seni Rupa
Publisher : Jurusan Seni Rupa Unimed

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v7i2.11066

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk seni pertunjukan Ronggeng Pasaman di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Ronggeng Pasaman merupakan seni pertunjukan  terdiri dari pantun, joget, dan musik, khususnya terdapat di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Bentuk pertunjukan Ronggeng Pasaman adalah menggabungkan keahlian berpantun sambil menari dengan iringan musik biola dan gendang. Pertunjukan dimulai pada malam hari, dan berakhir hingga menjelang pagi. Beberapa grup Ronggeng Pasaman yang berada di Kabupaten Pasaman saat ini juga menampilkan pertunjukan Ronggeng Pasaman yang dikemas lebih kekinian dan menggunakan alat musik modern, sehingga Ronggeng Pasaman bisa dinikmati dengan dua versi, yaitu tradisi dan modern. Adapun dalam pertunjukan Ronggeng Pasaman modern yaitu menggunakan instrumen musik keyboard dan tidak menampilkan penyanyi atau Anak Ronggeng yang berpenampilan seperti perempuan dalam pertunjukannya. Tentunya kemajuan teknologi dimanfaatkan para seniman dalam pertunjukan Ronggeng Pasaman agar kesenian tersebut tetap hidup, berkembang dan terus diminati masyarakatnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, bersifat deskripsi analitik, partisipan observan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan Ronggeng Pasaman dalam bentuk tradisi ataupun dalam bentuk modern oleh masyarakatya diterima dengan baik dan juga didukung penuh oleh pemerintah setempat.           Kata Kunci: bentuk pertunjukan, ronggeng Pasaman Sumatera Barat.   AbstractThis study aims to find out the art form of Pasaman Ronggeng performances in Pasaman Regency, West Sumatra. Ronggeng Pasaman is a performance art consisting of pantun, joget, and music, especially in Pasaman Regency, West Sumatra. The form of the Ronggeng Pasaman show is combining bouncing skills while dancing to the accompaniment of violin and drum music. The show starts at night, and ends until early morning. Some Ronggeng Pasaman groups in Pasaman Regency also present Ronggeng Pasaman performances which are packed more recently and use modern musical instruments, so Ronggeng Pasaman can be enjoyed in two versions, namely traditional and modern. As for the modern Rongaman Ronggeng show, it uses keyboard music instruments and does not display Ronggeng singers or children who look like women in their performances. Of course, technological advances are utilized by the artists in the Ronggeng Pasaman show so that the art will continue to live, develop and continue to be in demand by the community. This study uses qualitative methods, is analytic description, observant participants. The results showed that the performance of Pasaman Ronggeng in the form of tradition or in modern form by the community was well received and was also fully supported by the local government.  Keywords: form of performance, ronggeng Pasaman West Sumatra.
Musik Bandar Dalam Perspektif Seni Budaya Nusantara Martarosa, Martarosa
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v18i1.2444

Abstract

Musik bandar merupakan salah satu jenis musik yang dikategorikan sebagai hasil dari proses apropriasi musical, yaitu penyesuaian dan penerimaan antara budaya yang datang dengan budaya lokal. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan proses pembentukan musik bandar dalam aspek-aspek apropriasi musikal. Dalam hal ini kehadiran musik bandar diwujudkan dari sebuah peradaban pluralistis yaitu, proses penyebaran dan interaksi dari berbagai unsur dapat diterima dan dimasukkan ke dalam proses pembentukan budaya. Jenis musik bandar tersebut meliputi: musik gamat, musik ronggeng, musik ghazal, musik dondang sayang, musik keroncong, dan musik gambang kromong.
Kesenian Ronggeng Pasaman Dalam Perspektif Kreativitas Apropriasi Musikal Martarosa, Martarosa; Yakin, Imal; Fernando, Kurniawan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 34 No 1 (2019): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v34i1.642

Abstract

Tumbuh dan berkembangnya kesenian Ronggeng Pasaman tidak luput dari dampak interaksi secara multikultur antara musik Barat (Portugis dan Belanda) dan musik Timur (Arab, India, Melayu, Minangkabau,  Mandailling dan Jawa imigran). Hal ini terkait dengan isu identitas, migrasi (diaspora), dan bentuk apropriasi musikal. Fenomena yang muncul diisukan bahwa, kesenian Ronggeng yang berkembang dalam budaya masyarakat Pasaman saat ini, mereka yakin bahwa kesenian tersebut adalah didatangkan dari Jawa imigran. Namun secara musikal dijumpai bahwa, bentuk seni pertunjukan kesenian ronngeng pasaman yang berkembang, sangat jauh berbeda dengan bentuk seni pertunjukan Ronggeng yang berkembang di daerah Jawa. Ditinjau dari ciri-khasnya kesenian ronggeng teramati bahwa, bentuk seni pertunjukannya banyak kemiripannya dengan aspek musikal yang terkandung diluar ranah budaya masyarakat Pasaman seperti, dijumpai dalam pemakaian alat musik, sistem nada dan penggunaan teknik dalam permainan alat musik tradisi masyarakat Pesisir Sumatera Barat yang disebut garitiak dan gayo atau ornamentasi yang terkandung dalam kesenian rabab pasisie dan musik gamat. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah dibawah payung disiplin musikologi dengan menggunakan metode deskriptif analisis dan interpretatif yang terdiri dari dua aspek (tekstual dan kontekstual). Hasil akhir dari penelitian ini ditemukan bahwa,  tumbuh dan berkembangnya tradisi kesenian Ronggeng Pasaman disamping menggunakan alat musik biola Eropa (Barat) juga dapat dikatakan sebagai salah satu hasil produk budaya apropriasi musikal antara Barat (Portugis dan Belanda) dan Timur (Arab, India, Melayu, Minangkabau,  Mandailling dan Jawa imigran).