Articles

Found 28 Documents
Search

Komposisi Jenis dan Struktur Tumbuhan Bawah pada Hutan Tanaman Jati Bertumbuhan Ketela Pohon di KPH Ngawi, Jawa Timur Hasanbahri, Soewarno; Marsono, Djoko; Hardiwinoto, Suryo; Sadono, Ronggo
Biota Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014
Publisher : PBI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe existence of Cassava under the Teak stand, in Ngawi Forest District, have change the undergrowth species composition and their ecological structure. Based on the research results of the different age class of teak plantation forest (II – V) could be concluded that the species composition of undergrowth tend to decrease either species number or individual number of each species. Only 4 species from 21 species of undergrowth that were found in all of the research compartments those are Hoplismenus burmani, Clitoria ternatea, Eupatorium odoratum and Synedrela nudiflora; and their distribution were horizontally aggregated. For vertical structure of the undergrowth community were not different for each compartment with Cassava. The nutrients rate information of the soil under teak stand with cassava showed low enough.Key words: Undergrowth, cassava, ecological structure, teak standAbstrakKeberadaan tanaman Ketela pohon di bawah tegakan hutan tanaman Jati di KPH Ngawi telah mengakibatkan terjadinya perubahan komposisi jenis tumbuhan bawah dan struktur ekologisnya. Berdasarkan hasil penelitian pada petak hutan tanaman Jati dengan kelas umur yang berbeda (KU II-V) dapat disimpulkan bahwa komposisi jenis tumbuhan bawah cenderung menurun baik dalam jumlah jenis maupun jumlah individu setiap jenis. Hanya ada 4 jenis dari 21 jenis tumbuhan bawah yang dijumpai dari seluruh petak hutan tanaman Jati yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Hoplismenus burmani, Clitoria ternatea, Eupatorium odoratum dan Synedrela nudiflora; dan sebaran horizontalnya mengelompok. Untuk struktur vertikal komunitas tumbuhan bawah pada petak hutan tanaman Jati bertumbuhan Ketela pohon ternyata tidak jauh berbeda antara satu petak dengan petak yang lainnya dari kelas umur yang berbeda. Kandungan hara dalam tanah dibawah tegakan hutan tanaman Jati bertumbuhan Ketela pohon berada pada tingkat yang rendah.Kata kunci: Tumbuhan bawah, ketela pohon, struktur ekologis, tegakan Jati  
KLASTERISASI EKOSISTEM TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU BERDASARKAN ASPEK BIOLOGIS DAN SOSIAL EKONOMI Hastuti, Dwi; Marsono, Djoko; Irham, Irham; Sumardi, Sumardi
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 18, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk klasterisasi unit ekologis ekosistem Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) berdasarkan aspek biologis dan sosial ekonomi masyarakat, mengetahui pola pemanfaatan masyarakat terhadap sumberdaya alam TNGMb. Sampel untuk sosial ekonomi sebanyak 310 KK, sedangkan sampel aspek biologis sebanyak 226 titik sampel. Analisis data menggunakan metode Minimum Variance Clustering (Ward Linkage) berdasarkan Euclidean Distance dan analisis diskriminan. Hasil klasterisasi unit ekologis TNGMb sebanyak 8 klaster yaitu klaster I (2 responden, dominasi jenis C. sempervirens), klaster J (39 responden, dominasi jenis P. merkusii, A. lophanta), klaster F (210 responden, dominasi jenis P. merkusii, C. sempervirens, C. junghuniana), klaster O (96 responden, dominasi jenis P. merkusii, C. sempervirens, C. junghuniana), klaster Q (54 responden, dominasi jenis P.merkusii, A. lophanta, A. decurens), klaster P (158 responden, dominasi jenis P.merkusii, C. sempervirens, A.decurens, klaster H (34 responden, dominasi jenis P. merkusii), dan klaster R (46 responden, dominasi jenis P. merkusii). Pola pergerakan masyarakat mencakup seluruh klaster dan meliputi zona inti, zona rimba, dan zona pemanfaatan. Pergerakan masyarakat yang mencapai zona inti merupakan faktor yang terpenting untuk dipertimbangkan dalam pengelolaan TNGMb.
STRUKTUR KOMUNITAS TUMBUHAN DAN FAKTOR LINGKUNGAN DI LAHAN KRITIS, IMOGIRI YOGYAKARTA Nahdi, Maizer Said; Marsono, Djoko; Djohan, Tjut Sugandawaty; Baequni, M.
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan mempelajari struktur komunitas tumbuhan pada berbagai tingkat pertumbuhan  sebagai  respon  terhadap aktivitas masyarakat, dan kualitas fisik kimia tanah yang terbentuk di kawasan lahan kritis Imogiri. Metode penelitian menggunakan kuadrat plot, dengan  ukuran plot 1x1, 5x5, 10x10, ulangan 6 – 10 diletakkan secara stratified random sampling. Pengumpulan data dengan mengamati kehadiran cacah spesies, dihitung kerapatan, dominansi, frekuensi spesies, dan Nilai Penting. Analisis ordinasi dua dimensi digunakan untuk mengelompokkan komunitas pada berbagai tingkat pertumbuhan, dengan analisis t-test untuk uji signifikansi unsur fisik kimia tanah. Hasil penelitian ditemukan 303 spesies, terdiri dari 34 tingkat pohon, 62 sapling dan 207 tumbuhan bawah dengan distribusi yang bervariasi. Kemelimpahan menunjukkan bahwa pada tingkat pohon terjadi pengelompokan, sedangkan pada tingkat sapling dan tumbuhan bawah mengumpul menjadi satu. Dalbergia sisso tingkat pohon dan sapling serta tumbuhan bawah  Euphatorium inulifolium merupakan spesies paling dominan dan merespon kondisi lahan kritis sehingga dapat dijumpai pada semua lokasi kajian. Kemelimpahan tingkat pohon sangat dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat, dan mineral organik yang terbentuk sehingga didominasi vegetasi dengan nilai ekonomi tinggi. Sedangkan kehadiran spesies tingkat sapling dan tumbuhan bawah merespon kandungan hara yang terbentuk.
SERANGAN BENALU PADA BEBERAPA KELAS UMUR TANAMAN JATI DI WILAYAH HUTAN BKPH BEGAL, KPH NGAWI, JAWA TIMUR Hasanbahri, Soewarno; Marsono, Djoko; Hardiwinoto, Suryo; Sadono, Ronggo
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kelas umur tanaman jati dengan frekuensi dan tingkat kerusakan pohon jati akibat serangan benalu, serta pola sebaran tumbuhan benalu secara horizontal. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini ialah Multistage Sampling dengan penempatan plot contoh pada setiap kelompok kelas umur tanaman jati (KU I s.d. KU VII). Pada setiap kelompok kelas umur diwakili satu petak/anak petak, dan setiap petak/anak dibuat contoh pohon individu sebanyak 10% untuk KU V ke atas (kelas umur tua), 5% untuk KU III dan KU IV (kelas umur sedang), dan 1% untuk KU I dan KU II (kelas umur muda) terhadap total populasi pohon penyusun petak/anak petak tersebut. Hubungan kelas umur dengan frekuensi dan tingkat kerusakan pohon akibat serangan benalu dianalisis dengan rumus uji korelasi, sedangkan sebaran serangan benalu dengan rumus distribusi Poisson dan uji statitik binomial terbalik. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada dua jenis tumbuhan benalu yang dijumpai yaitu Dendrophthoe pentandra dan Scurula parasitiaca, anggota famili Loranthaceae, sub-famili Viscoidae. Frekuensi pohon jati yang terserang tumbuhan benalu berkisar antara 12,88% untuk KU II diikuti 15,55% untuk KU I, 15,72% untuk KU V, 18,06% untuk KU IV dan KU VI, serta 19,73% untuk KU III. Hubungan tingkat serangan benalu dengan kelas umur hutan jati terbukti bahwa kelas umur memiliki hubungan secara signifikan terhadap tingkat kesehatan bagian cabang antara batang dan benalu (proksimal). Di bagian lain, terbukti bahwa kelas umur tidak memiliki hubungan secara signifikan terhadap tingkat kerusakan pada bagian cabang setelah benalu (distal). Walaupun demikian, kerusakan pohon jati yang mengalami serangan tumbuhan benalu lebih banyak terjadi pada pohon-pohon di kelas umur muda. Hal ini ditunjukkan oleh perbandingan bagian cabang proksimal dan distal pada setiap kelas umur, yaitu:   -23,81 cm untuk KU I, -1,56 cm untuk KU II, 14,66 cm untuk KU III, 24,13 cm untuk KU IV, 22,40 cm untuk KU V, dan 54,59 cm untuk KU VI. Dengan hilangnya masa pertumbuhan yang dihadapi oleh pohon-pohon jati di kelas umur muda menjadi sangat rawan dengan adanya tumbuhan benalu tersebut. Pola sebaran benalu adalah mengelompok untuk tanaman jati kelas umur muda, kelas umur sedang dan kelas umur tua. 
KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI TANAMAN PADA SISTEM KALIWU DI PULAU SUMBA Njurumana, Gerson N.; Marsono, Djoko; Irham, Irham; Sadono, Ronggo
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konservasi keanekaragaman hayati tanaman di lahan rakyat memiliki peluang strategis mendorong masyarakat melakukan konservasinya, karena akumulasi lahan rakyat lebih luas dibandingkan dengan kawasan konservasi alam yang tersedia. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman mengenai sudut pandang masyarakat dan penerapannya dalam konservasi keanekaragaman hayati tanaman, yang tercermin pada berbagai bentuk dan sistem pengelolaannya oleh masyarakat. Penelitian bertujuan mengetahui sudut pandang masyarakat terhadap keanekaragaman hayati tanaman, dan penerapannya melalui pengelolaan sistem Kaliwu di Pulau Sumba. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pemahaman masyarakat terhadap keanekaragaman hayati tanaman sangat komprehensif, karena nilai dan manfaatnya menyentuh aspek-aspek kehidupan masyarakat yaitu aspek ekonomi-pendapatan, aspek ekologi-konservasi, aspek sosial-budaya dan aspek spiritual. Manifestasi dari sudut pandang masyarakat diterapkan melalui pengelolaan keanekaragaman hayati tanaman pada sistem Kaliwu yang mencapai 145 spesies, termasuk spesies terancam punah dan langka yang berasal dari 52 Famili. Nilai dan prinsip dasar dari konservasi keanekaragaman hayati tanaman oleh masyarakat pada sistem Kaliwu bersimpul pada keselarasan dan keberlanjutan antara kegiatan pemanfaatan dan konservasinya.
PENGKLASTERAN EROSI DI SUB DAS NGRANCAH KULONROGO Kusumandari, Ambar; Marsono, Djoko; Sabarnurdin, Sambas; Gunawan, Totok
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 19, No 1 (2012)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Sub DAS Ngrancah yang merupakan daerah tangkapan air Waduk Sermo. Luas wilayah penelitian ini sekitar 2.200 ha. Mayoritas lahan di Sub DAS Ngrancah tergolong kritis yang ditunjukkan oleh tingginya tingkat erosi. Dengan demikian, wilayah ini sangat mendesak untuk dapat dikelola dengan benar agar degradasi lahan dapat dihambat. Untuk memprediksi erosi, diterapkan Model USLE, dengan rumus: A = RKLSCP. Wilayah studi dapat dipilahkan menjadi 77 unit lahan. Sampel tanah diambil dari seluruh unit lahan, demikian pula pengamatan lereng, vegetasi, dan penerapan konservasi tanah. Untuk menganalisis data digunakan analisis kluster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat erosi bervariasi dari yang paling rendah sebesar 2,54 ton/ha/th sampai dengan yang tertinggi sebesar 489,30 ton/ha/th. Sekitar 68% wilayah studi termasuk dalam kelas erosi sedang dan sekitar 15% wilayah studi termasuk dalam kelas erosi tinggi. Pengklasteran unit lahan secara statistik menunjukkan bahwa pada jarak klaster terpendek terbentuk 8 klaster tingkat erosi. Uji diskriminan menunjukkan bahwa faktor K (erodibilitas) dan P (praktek konservasi tanah dan air) merupakan faktor yang paling dominan untuk terbentuknya klaster-klaster tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam merancang teknik konservasi tanah dan air untuk menangani erosi di Sub DAS Ngrancah.
KEANEKARAGAMAN STRUKTUR TEGAKAN HUTAN ALAM BEKAS TEBANGAN BERDASARKAN BIOGEOGRAFI DI PAPUA Kuswandi, Relawan; Sadono, Ronggo; Supriyatno, Nunuk; Marsono, Djoko
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 22, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan penebangan berdampak pada perubahan komposisi dan struktur tegakan, penyebaran jenis pohon, kesamaan komunitas dan keragaman jenis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman struktur dan komposisi tegakan pada hutan bekas tebangan berdasarkan bioregion di Papua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi dan struktur secara ekologi berbeda yang ditunjukkan dengan nilai indeks kesamaan jenis yang rendah. Jenis-jenis penyusun tegakan pada tingkatan semai, pancang, tiang dan pohon dari tiap-tiap lokasi hampir semua berbeda. Namun ada beberapa jenis yang sama ditemui mendominasi pada lokasi PT. TTL dan PT. MML seperti Vatica rassak dan Syzygium sp. Kerapatan tegakan di PT. TTL lebih tinggi dibanding dengan kedua lokasi, sementara PT. WMT adalah lokasi dengan kerapatan tegakan paling rendah. Keragaman tegakan di PT. WMT adalah yang paling tinggi, sedangkan keragaman tegakan di PT. TTL adalah yang paling rendah.
PEMODELAN SISTEM PENGUSAHAAN WISATA ALAM DI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI, JAWA BARAT Yuniarsih, Ai; Marsono, Djoko; Pudyatmoko, Satyawan; Sadono, Ronggo
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan sumber daya alam taman nasional yang terbatas untuk wisata alam dan jasa lingkungan memerlukan perencanaan yang cermat sehingga tujuan konservasi dan tujuan sosial ekonomi dapat tercapai. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk membangun model pemanfaatan sumber daya alam TNGC yang dapat memenuhi tujuan ekologi dan tujuan sosial-ekonomi. Metode penelitian yang digunakan adalah Analisis Sistem Dinamik dengan perangkat lunak STELLA 9.02.  Berdasarkan kajian sebelumnya pengusahaan wisata alam merupakan program pemanfaatan pilihan masyarakat dengan prioritas tertinggi.  Hasil simulasi sesuai kondisi saat ini menunjukkan bahwa apabila tidak ada perubahan pada variabel kunci pada sepuluh tahun yang akan datang maka terjadi peningkatan dalam hal jumlah wisatawan, pendapatan masyarakat dan pendapatan pemerintah, dengan luas tutupan hutan hanya sampai sebesar 46,63 % dari luas TNGC. Pada simulasi dengan skenario pengembangan terjadi peningkatan secara signifikan dalam hal jumlah wisatawan, pendapatan masyarakat dan pendapatan pemerintah, dengan  tutupan hutan mencapai 68,64 % dari luas TNGC. Model pengusahaan wisata alam ini sangat dipengaruhi oleh peran stakeholders dalam pengelolaan promosi wisata alam, kegiatan restorasi,  pengamanan TNGC untuk menekan gangguan hutan, peningkatan kualitas objek-objek wisata alam, dan sarana jalan akses menuju objek wisata alam, peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia taman nasional, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pengusahaan wisata alam.  
PENGARUH UMUR POHON, BONITA DAN POSISI AKSIAL BATANG TERHADAP STRUKTUR MAKROSKOPIS DAN KUALITAS KAYU JATI SEBAGAI BAHAN FURNITUR Suranto, Yustinus; Prayitno, Tibertius Agus; Marsono, Djoko; Sutapa, Johanes Pramana Gentur
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan kayu jati muda merupakan solusi alternatif terhadap terbatasnya ketersediaan bahan baku yang dihadapi oleh industri mebel. Kayu muda cenderung memiliki kayu berkualitas rendah. Salah satu pengukur kualitas kayu adalah sifat struktur makroskopik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur pohon, bonita dan posisi aksial batang terhadap struktur makroskopis kayu dan kualitas kayu. Tiga puluh enam pohon jati muda ditebang dari kawasan hutan KPH Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Tiga cakram berketebalan 3 cm diambil dari masing-masing posisi aksial batang, yaitu bagian pangkal, tengah dan ujung. Pengukuran proporsi kayu teras dan dimensi lingkaran tahun dilakukan berdasarkan perbedaan warna alami dan dengan menggunakan lembaran plastik transparan bergambar pola milimeter. Data dianalisis dengan analisis varians dalam rancangan acak lengkap berblok yang disusun secara faktorial. Pengujian lanjutan dilakukan dengan uji HSD Duncan. Kualitas kayu ditentukan dengan analisis determinan berdasarkan kurva normal Z. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi tiga faktor tidak berpengaruh terhadap proporsi kayu teras, dan dimensi lingkaran tahun. Interaksi kelas umur dan bonita pengaruh nyata terhadap proporsi kayu teras dan dimensi lingkarah tahun. Posisi aksial batang berpengaruh secara nyata terhadap proporsi kayu teras dan berpengaruh sangat nyata terhadap dimensi lingkaran tahun. Semakin mendekat pada posisi pangkal batang, semakin tinggi proporsi kayu teras dan dimensi lingkaran tahun. Interaksi tiga faktor yaitu kelas umur V, bonita 4 dan posisi tengah batang menghasilkan kualitas kayu tertinggi, yaitu kelas 2, dan interaksi kelas umur V, bonita 3 dan bagian ujung batang menghasilkan kualitas terendah, yaitu kelas 4. Penggunaan kayu berbasis kualitas akan memaksimalkan nilai guna dan meningkatkan umur pakai produk, sehingga mengurangi intensitas penebangan hutan dan lebih ramah lingkungan hidup.
Community preference on scenario management of Baturraden Botanical Garden in Central Java Mandiriati, Herawikan; Marsono, Djoko; Poedjirahajoe, Erny; Sadono, Ronggo
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18330/jwallacea.2018.vol7iss1pp59-68

Abstract

Botanical garden as a preservation area has an important role supporting the plant conservation efforts. It is the best source of information to study about plant distribution and its habitat attributes. Botanical garden can also provide environmental education for the community. Indonesia has a big number of botanical gardens, one of them is Baturraden Botanical Garden, located in Central Java. It is the largest botanical garden in Java Island with its area reaches 143.5 hectares. Currently, Baturraden Botanical Garden management has a serious problem about the high dependence of community in its area. Therefore, it is important to formulate the scenario management that can integrate between the community desires and its direction management. This study aimed to identify the community preference on scenario management of Baturraden Botanical Garden. Data collection was conducted by the questionnaire method using accidental sampling technique. The number of respondents was about 109 people older than 15 years old. This criterion was decided with the assumption that the respondent who had the range of age, having good knowledge about the function of Baturraden Botanical Garden as preservation area. Data analysis was done using Analytical Hirarycal Process. This method was selected because it was capable to describe the normative preference by the number. The result showed that the community preference on scenario management of Baturraden Botanical Garden based on the scale of priority is ecotourism development (0.269); optimization of water resource (0.232); intensification of plant conservation (0.197); environmental education (0.189); and intensive research (0.175).