Lenie Marlinae
Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Published : 18 Documents
Articles

Found 18 Documents
Search

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kecacingan pada siswa Sekolah Dasar Negeri Cempaka 1 Kota Banjarbaru Faridan, Kharis; Marlinae, Lenie; Audhah, Nelly Al
Buski Vol 4, No 3 (2013)
Publisher : Buski

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi akibat cacing dapat mengakibatkan terjadinya anemia, gangguan gizi, pertumbuhan, dan kecerdasan yang dalam jangka panjang akan menurunkan kualitas sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebersihan kuku dengan kejadian kecacingan pada siswa Sekolah Dasar Negeri Cempaka 1. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 71 orang yang diambil dari kelas IV, V, dan VI. Hasil pemeriksaan feses menunjukkan bahwa siswa yang positif infeksi kecacingan sebanyak 4 orang (5,64%) dan negatif sebanyak 67 orang (94,4%). Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa keadaan kuku kotor 1,7 kali lebih berisiko menderita kecacingan dibandingkan kuku bersih (OR=1,7; p=0,632),  jenis kelamin perempuan berisiko 1,1 kali lebih tinggi menderita kecacingan dibandingkan laki-laki (OR=1,1; p=1,000), tidak ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian kecacingan pada siswa (p=0,931), dan  tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan kejadian kecacingan pada siswa SDN Cempaka 1 Kota Banjarbaru (p=0,286). Berdasarkan hasil di atas diambil kesimpulan bahwa ada hubungan antara kebersihan kuku, jenis kelamin, umur, dan tingkat pendidikan dengan kejadian kecacingan pada siswa SDN Cempaka 1, tetapi tidak bermakna.
PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DARI ASPEK SUMBER DAYA MANUSIA PELAKSANA PELAYANAN KESEHATAN Saputra, Maman; Marlinae, Lenie; Rahman, Fauzie; Rosadi, Dian
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 1 (2015): JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (KEMAS) JULI 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jaminan kesehatan nasional (JKN) mulai beroperasi sejak 1 Januari 2014. Pelaksanaan jaminan kesehatan di Kabupaten Tabalong, masih mengalami beberapa permasalahan seperti SDM pelaksana pelayanan kesehatan yang masih belum mencukupi baik dari segi kuantitas, distribusi dan kualitas. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi program JKN dari aspek SDM pelaksana pelayanan kesehatan di Kabupaten Tabalong periode Januari-Juni 2014. Penelitian ini menggunakan mix method dengan desain urutan pembuktian sequential explanatory. Subjek penelitian berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tabalong, RSUD H. Badaruddin, Puskesmas Kelua dan BPJS Kesehatan. Hasil evaluasi konteks, informan memahami mengenai batasan JKN, roadmap dan hambatan program. Hasil evaluasi input SDM pelaksana pelayanan kesehatan, kuantitas masih mengalami kekurangan 136 orang. Distribusi di Puskesmas Kelua sudah sesuai dengan standar ketenagaan di puskesmas tetapi kuantitasnya masih belum sesuai standar rasio per 100.000 jumlah penduduk. Distribusi di RSUD H. Badaruddin berdasarkan standar ketenagaan kesehatan di rumah sakit sudah sesuai, kecuali untuk dokter spesialis. Penilaian kualitas SDM di Puskesmas Kelua belum menggunakan standar Kepmenkes Nomor 857 Tahun 2009. Sedangkan di RSUD H. Badaruddin masih menggunakan penilaian Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3). Hasil evaluasi proses, kuantitas sudah meningkat tetapi masih mengalami kekurangan 82 orang. Distribusi di Puskesmas Kelua tidak ada perubahan. Distribusi di RSUD H. Badaruddin mengalami penambahan tenaga keperawatan. Penilaian kualitas SDM di Puskesmas Kelua tidak ada perubahan. Penilaian SDM di RSUD H. Badaruddin menggunakan Penilaian Prestasi Kerja Pegawai (PKP). Evaluasi output menunjukkan belum ada perubahan kuantitas, distribusi dan kualitas dari hasil evaluasi proses. Pelaksanaan JKN di Kabupaten Tabalong sudah berjalan, baik dari aspek peraturan perundangan, kepesertaan, pelayanan kesehatan, keuangan dan tata kelola organisasi. Ada beberapa hambatan seperti peraturan daerah masih kurang dan kurangnya jumlah SDM pelaksana pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, perlu adanya upaya penambahan kuantitas dan pemerataan distribusi SDM pelaksana pelayanan kesehatan oleh Pemerintah Daerah dan upaya memaksimalkan jumlah dan kualitas SDM pelaksana pelayanan kesehatan yang tersedia. National health insurance (JKN) started operating on January 1, 2014. The implementation of health insurance in Tabalong, still have some problems such as health services workforce are still not enough in terms of quantity, distribution and quality. This study aims to evaluate the JKN program of health services workforce aspects in Tabalong period January to June 2014. This study used a mixed method design with sequential explanatory. Study subjects were from the Department of Health Tabalong, H. Badaruddin Hospital, Kelua Health Center and BPJS Health. The results of the evaluation context, informants understand the JKN restrictions, roadmap and program obstacles. The results of the evaluation of health services workforce inputs, the quantity is still deficient 136 people. Distribution in Kelua Health Center is appropriate with the standard for personnel in health centers but the quantity is still not appropriate with the ratio per 100,000 of population standard. Distribution in H. Badaruddin hospital based health workforce standards in hospitals is appropriate, except to specialists. Assessment of the quality of human resources in Kelua Health Center not using Kepmenkes No. 857 of 2009 standard. While in H. Badaruddin hospital still use assessment Implementation Assessment Work List (DP3). The results of the evaluation process, the quantity has increased but is still deficient 82 people. Distribution in Kelua Health Center no change. Distribution in H. Badaruddin hospital have additional for nursing staff. Assessment of the quality of human resources in the Kelua Health Center no change. Assessment of human resources in H. Badaruddin hospital using Employee Job Performance Assessment (PKP). Evaluation of the output shows no change in the quantity, distribution and quality of the results of the evaluation process. Implementation JKN in Tabalong already running, both from the aspect of legislation, participation, health care, financial and organizational governance. There are several obstacles such as local regulation are still lacking and the lack of workforce for the services of health. Therefore, efforts are needed to increase the quantity and distribution of health workforce by local government and maximizing the amount and quality of available health workforce.
ANALISIS PENGARUH PENGAWASAN, PENGETAHUAN DAN KETERSEDIAAN TERHADAP KEPATUHAN PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI Japeri, Japeri; Helmi, Zairin Noor; Marlinae, Lenie
Jurnal Berkala Kesehatan Vol 2, No 1 (2016): JURNAL BERKALA KESEHATAN
Publisher : Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.098 KB)

Abstract

Standar oleh Badan Pengawasan Tenaga Nuklir untuk APD yang harus digunakan pada saat pemeriksaan harus mengandung bahan Pb di antaranya berupa apron, kaca mata, perisai gonad, perisai tiroid, dan sarung tangan. petugas radiografer wajib mematuhi aturan untuk memakai alat perlindungan diri (APD). Aspek yang mempengaruhi pemakaian alat pelindung diri di antaranya pengawasan dan peringatan dari tim K3 sangat berpengaruh terhadap kedisiplinan pemakaian APD. Pengetahuan seseorang mempengaruhi cara berpikirnya dalam menghadapi pekerjaannya, termasuk cara menghindari kecelakaan saat bekerja dan ada pengaruh ketersediaan mengenai jumlah APD yang disediakan terhadap kepatuhan pemakaian APD. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktorfaktor yang berpengaruh terhadap kepatuhan pemakaian alat pelindung diri pada petugas radiologi rumah sakit di Banjarmasin. Jenis penelitian ini bersifat observasional analitik dengan metode cross sectional. Subjek penelitian adalah petugas radiologi yang bekerja di empat rumah sakit berbeda di Banjarmasin terdiri dari RSUD Ulin Banjarmasin sebanyak 17 petugas, RSUD Dr. H. Moch Anshari Saleh sebanyak 11 Petugas, RS Sari Mulia sebanyak 5 petugas dan RS Islam sebanyak 4 petugas. Data dianalisis menggunakan uji statistik Regresi Logistik Berganda. Uji Fisher exact test menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara pengawasan dengan kepatuhan, nilai p = 0,013, tidak ada pengaruh antara pengetahuan dengan kepatuhan pemakaian alat pelindung diri pada petugas radiologi nilai p = 0,140. tidak terdapat pengaruh yang bermakna antara ketersediaan dengan kepatuhan pemakaian alat pelindung diri dalam bekerja di instalasi radiologi dengan nilai P value 0,160. Pada analisis multivariat menggunakan uji Regresi Logistik Ganda dengan metode Enter, menunjukkan bahwa variabel pengawasan merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan (p= 0,019). Nilai Odd ratio menunjukkan angka 15,429 yang berarti petugas radiologi yang mendapat pengawasan rendah maka 15,43 kali akan tidak patuh memakai APD, dibandingkan petugas radiologi yang mendapatkan pengawasan tinggi. Data penelitian juga memperlihatkan 29 responden yang patuh terhadap APD, 22 orang (74,1%) bekerja dengan pengawasan tinggi. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan faktor yang paling berpengaruh adalah pengawasan dengan nilai Nilai Odd ratio (OR) menunjukkan angka 14,571 yang berarti petugas radiologi yang mendapat pengawasan rendah maka 14,57 kali akan tidak patuh memakai APD, dibandingkan petugas radiologi yang mendapatkan pengawasan tinggi.
Hubungan Hygiene Sanitasi dengan Kualitas Bakteriologis Depot Air Minum (DAM) di Kabupaten Balangan Suriadi, Suriadi; Husaini, Husaini; Marlinae, Lenie
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN INDONESIA Vol 15, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Lingkungan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Drinking water depo (DAM) continues to increase in line with the dynamics of the community needs to drinking water. DAM water contamination can be caused by  factor sanitation hygiene of the DAM. This research aims to determine of the relationshipbetweensanitary hygiene andbacteriological quality in the DAM. It is observational using cross sectional design. Thepopulation of this research was over all depo of drinking water in Balangan, while sample was takenby purposive sampling which has been determined based on inclusion and exclusion criteria. The research variables are location, building, production equipment, production process, sanitary facilities and bacteriological quality. The instrument used in this research was the observation sheets and laboratory tests. Data was analyzed by univariate, bivariate analysis using chi square test. The results showed from 41 DAM, there are 13 (31.7%)  less sanitary conditions of hygiene, 17 (41.5%) is enough and 11 (26.8%) good,  then  quality of bakteriologis are 30 (73%) eligible and 11 (27%)  not eligible. There is no relationship betwen locations (p = 0.698) and bacteriological quality, no relationship building (p=0.840) with the bacteriological quality, no relationship of production equipment (p=0.618) with the bacteriological quality, no relationship of production proces (p=0.986) with the bacteriological quality and there is no relationship of sanitation facilities (p=0.515) with bacteriological quality.The most of sanitation hygiene condition is notrelationshipto bacteriological quality of reffil drinking water depo. 
PERSEPSI TENTANG PERINGATAN BERGAMBAR PADA KEMASAN ROKOK DAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN TINDAKAN PEROKOK Wulandari, Anggun; Rahman, Fauzie; Marlinae, Lenie; Arifin, Syamsul
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 12, No 1 (2016): MKMI MARET 2016
Publisher : Media Kesehatan Masyarakat Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.526 KB)

Abstract

Kota Banjarbaru khususnya Kelurahan Sungai Besar mempunyai prevalensi perokok terbesar pada tahun 2013 dan 2014 yaitu 90,47% dan 80,96%. Pemerintah mengeluarkan Permenkes Nomor 28 Tahun 2013 mewajibkan setiap produsen rokok untuk mencantumkan peringatan bergambar pada setiap kemasan rokok untuk meningkatkan pengetahuan perokok dan mengurangi angka perokok. Harapan tersebut sangat dipengaruhi oleh persepsi dan tingkat pendidikan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara persepsi tentang peringatan bergambar pada kemasan rokok dengan fokus gambar nomor 2 dan 4 dan tingkat pendidikan dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan perokok. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan observasional analitik melalui pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 19.465 jiwa. Perhitungan sampel menggunakan rumus Slovin dengan jumlah sampel 100 orang yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 80% responden mempunyai persepsi positif, 48% responden mempunyai tingkat pendidikan tinggi, dan 68% responden mempunyai tindakan yang baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan antara persepsi dengan tindakan (p-value=0,000) dan tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan tindakan perokok (p-value=0,071). Disarankan kepada pemerintah agar tetap memertahankan promosi kesehatan melalui kemasan rokok dan adanya penelitian lain mengenai persepsi tentang peringatan bergambar pada kemasan rokok dengan fokus gambar nomor 1, 3, dan 5.Kata kunci: Persepsi, pendidikan, tindakan, perokok
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG PERSONAL HIGIENE DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN PENULARAN SKABIES Studi Observasional pada Narapidana Anak di Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas IIA Martapura Jasmine, Indira Aprilia; Rosida, Lena; Marlinae, Lenie
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Narapidana anak memiliki risiko terhadap skabies karena kurangnya kepedulian akan personal higiene dan perilaku sehat individu. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang personal higiene dengan perilaku pencegahan penularan skabies pada narapidana anak di Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas IIA Martapura. Penelitian menggunakan rancangan observasional analitik dengan pedekatan cross-sectional. Populasi penelitian dengan total sampling sebanyak 54 orang narapidana anak. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Variabel bebas adalah pengetahuan dan sikap tentang personal higiene, sedangkan variabel terikat adalah perilaku pencegahan penularan skabies. Uji statistik hasil penelitian menunjukkan sebanyak 72,2% responden memiliki pengetahuan tentang personal higiene kurang, 77,8% responden memiliki sikap tentang personal higiene negatif dan 75,9% responden memiliki perilaku pencegahan penularan skabies buruk. Analisis data dilakukan dengan uji fisher exact didapatkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan tentang personal higiene dengan perilaku pencegahan penularan skabies (p=0,000) dan ada hubungan antara sikap tentang personal higiene dengan perilaku pencegahan penularan skabies (p=0,004). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang personal higiene dengan perilaku pencegahan penularan skabies pada narapidana anak di Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas IIA Martapura. Kata-kata kunci: pengetahuan, sikap, perilaku, pencegahan penularan skabies AbstractPrisoners child has risks to scabies because of a lack of concern personal hygiene and behavior healthy individual. This study aims to determine the relationship between knowledge and attitudes about personal hygiene to prevent transmission of scabies in the behavior of the child prisoners in penitentiaries children Klas IIA Martapura. This study uses a quantitative method with observational analytic design through cross-sectional method. The study population of 54 inmates of children. The research sample was determined by total sampling technique. The research instrument using a questionnaire. The independent variable of knowledge and attitudes about personal hygiene, while the dependent variable scabies infection prevention behaviors. The results showed the majority of 72.2% of respondents have less knowledge about personal hygiene, 77.8% of respondents have a negative attitude about personal hygiene and 75.9% of respondents had a bad scabies infection prevention behaviors. Results of analysis with fisher exact test shows that there is a relationship between knowledge of personal hygiene with scabies infection prevention behavior (p= 0.000) and there is a correlation between attitudes about personal hygiene with scabies infection prevention behavior (p=0.004). From these results it can be concluded that there is a correlation between knowledge and attitudes about personal hygiene to prevent transmission of scabies in the behavior of the child prisoners in penitentiaries children Klas IIA Martapura.Key words: knowledge, attitude, behavior, prevention of transmission scabies
HUBUNGAN MUTU PELAYANAN DENGAN KEPUASAN PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TAMIANG LAYANG Juwita, Grace Siama; Marlinae, Lenie; Rahman, Fauzie
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 4, No 2 (2017): Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tamiang Layang merupakan rumah sakit umummilik Pemerintah Daerah Barito Selatan. Data Bed Occupation Rate (BOR), Average Length Of Stay (ALOS), dan Bed Turn Over (BTO) pada tahun 2013-2014 mengalami penurunan yang artinya bahwa mutu pelayanan di rumah sakit juga semakin menurun. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan mutu pelayanan pasien rawat inap dengan kepuasan pasien RSUD Tamiang Layang. Rancangan penelitian menggunakan cross sectionaldengan jumlah sampel 52 responden menggunakan metodeproportionalrandom sampling.Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dan data dianalisis menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara mutu pelayanan dalam dimensi kehandalan (reliability), jaminan (assurance), bukti langsung(tangible), empati (empathy)dan daya tanggap (responsiveness)dengan kepuasan kerja dengan masing-masing p-value 0,000. Diharapkan agar pihak RSUD Tamiyang Layang dapat meningkatkan mutu pelayanansehingga kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan dapat meningkat, sehingga dapat memaksimalkan kepercayaan pasien dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Kata-kata kunci: Rumah sakit, mutu pelayanan, kepuasan, pasien  Abstract Regional General Hospital (Hospital) Tamiang Layang is a general hospital belonging to the Regional Government of South Barito. Data Bed Occupation Rate (BOR), Average Length Of Stay (ALOS), and Bed Turn Over (BTO) in 2013-2014 has decreased, which means that the quality of care in hospitals is also declining. The purpose of this study was to describe the relationship of quality of service inpatients with hospital patient satisfaction Tamiang Layang. Using a cross sectional study design with a sample of 52 respondents using proportional random sampling method. The instrument used was a questionnaire and the data were analyzed using chi square test. The results showed that there is a relationship between the quality of service in the dimensions of reliability (reliability), assurance (assurance), direct evidence (tangible), empathy (empathy) and responsiveness (responsiveness) and job satisfaction with each of the p-value of 0.000. It is hoped that the hospitals Tamiyang Layang can improve the quality of care that patient satisfaction with the quality of service can be increased, so as to maximize the patients belief in the use of health services. Keywords: Hospital, quality of service, satisfaction, patient
ANALISIS PENGETAHUAN, SIKAP DAN TERPAAN INFORMASI DENGAN PERILAKU HIGIENE DAN SANITASI PENJUAL SAYUR KELILING DI KABUPATEN BANJAR Khairiyati, Laily; Edyson, Edyson; Marlinae, Lenie; Ulfah, Nida
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 4, No 3 (2017): Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak  Masalah kurang energi protein (KEP) sebagai salah satu masalah gizi utama yang terjadi pada anak. Didalamnya terdapat salah satu aspek yaitu higiene dan sanitasi makanan. Implikasi dari kekurangan gizi yang lama pada anak akan mengalami hambatan tumbuh kembang dan terjadinya peningkatan penyakit pada anak. Pemenuhan zat gizi masih sangat rendah di dibandingkan provinsi lain, yaitu sebesar 11,7% hal ini karena akses untuk mencapai pelosok desa dalam memenuhi kebutuhan gizi anak masih tergantung pada pasar keliling yang tidak menjamin kualitas sanitasinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan terpaan informasi dengan perilaku higiene dan sanitasi pada pedagang sayur keliling. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 30 pedagang sayur keliling di Kabupaten Banjar yang diambil secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku (nilai p = 0,044; OR = 8,33), terdapat hubungan antara sikap dengan perilaku (nilai p = 0,017; OR = 0,647), serta tidak ada hubungan antara terpaan informasi dengan perilaku (nilai p = 0,073). Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku higiene dan sanitasi pada pedagang sayur keliling di Kabupaten Banjar. Kata-kata kunci: Higiene dan sanitasi, pengetahuan, sikap, terpaan informasi, perilaku  Abstract The problem of lacking protein energy (PEM) as one of the main nutritional problems that occur in children. In it there is one aspect of hygiene and food sanitation. The implications of long-term malnutrition in children will experience growth barriers and increased disease in children. The fulfillment of nutrients is still very low compared to other provinces, which is 11.7% of this is because access to reach the village corners to meet the nutritional needs of children is still dependent on the mobile market that does not guarantee the quality of sanitation. The purpose of this study is to determine the relationship of knowledge, attitude and exposure of information with hygiene and sanitation behavior on the mobile vegetable traders. This research use cross sectional design with 30 samples of vegetable sellers in Banjar Regency taken by purposive sampling. The instrument used is a questionnaire. Data analysis using chi square test with 95% confidence level. The result showed that there was a significant correlation between knowledge and behavior (p value = 0.044, OR = 8.33), there was correlation between attitude and behavior (p value = 0.017; OR = 0.647), and no relationship between exposure of information with behavior (p value = 0.073). Based on this it can be concluded that there is a relationship between knowledge and attitude with hygiene and sanitation behavior on the mobile vegetable traders in Kabupaten Banjar. Keywords: Hygiene and sanitation, knowledge, attitude, information exposure, behavior
HUBUNGAN KESEHATAN RUMAH TINGGAL TERHADAP KEJADIAN PNEUMONIA BALITA DI DESA SAMBANGAN KECAMATAN BATI-BATI KABUPATEN TANAH LAUT TAHUN 2012 Sari, Nata Lisa Ervina; Marlinae, Lenie; Noor, Frieda Anie
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 1, No 1 (2014): Desember 2014
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pneumonia is an infectious disease that requires special attention, because it is included in the leading cause of pneumonia morbidity and mortality in children under five years old, especially in Indonesia. Construction of homes and neighborhoods that do not meet the health requirement is a risk factor in the transmission of various types of disease-based environment, one of pneumonia. This study aimed to determine the relationship of home health care live on the incidence of pneumonia in children under five in the village of Bati-Bati district Sambangan Tanah Laut  in 2012. This study was observational analytic cross-sectional approach to sampling purposive sampling. Found a total of 36 respondents consisted of 12 respondents with pneumonia and 24 respondents not pneumonia. Fisher Exact test analysis at 95% confidence level. The results showed that there is a relationship between ventilation (p = 0.029), ceiling (p = 0.011), window (p = 0.020), the division of space (p = 0.011) and residential density (p = 0.007) with the incidence of pneumonia. This matter  was supported with result of observation showing house construction some part of ineligibility. While roof (p = 0.727), walls (p = 0.536), and floor (p = 0.278) there was no association with the incidence of pneumonia. Keywords: pneumonia, home construction, children under five years old
FACTORS ANALYSIS CORRELATED WITH THE OCCURANCE OF DENTAL CARIES (Retrospective Study Research In Banjarbaru General Hospital Dental Clinic From October-November 2016) Dewi, Ike Ratna; Rofii, Ahmad; Marlinae, Lenie
Dentino Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : The most common dental and oral disease suffered by many Indonesian is dental caries.The only way to have healthy oral or dental is by maintaining oral hygenie and visiting the dentist regularly tohave oral or dental checked. To know more about dental cariesproblems, we analyze the knowledge of dentaland oral health, education level, age, sex, health infrastucture facility and health care worker. Researchpurposes : Analizing the Factors Related with Dental Caries Case (Study case in dental policlinic RSUDBanjarbaru). Research method : in this research, quantitative method with cross sectional method is used.Research population is all patients who have routine control visit at the dental policlinic of RSUD Banjarbaru,with one year span data cases in 2015. The sampling method used in this research is random sampling of thepatients who was has a routine control visit with dentist at the dental policlinic. The variable used in thisresearch are independent variable such as dental and oral healthy knowledge, sex, age, education level, dentalclinic’s infrastructure facility, health care workers` service, and habit or behaviour of dental routine control,and dependent variable which is DMF-T number. Measurement is done by collecting directly from therespondents who answered questionare given by the researcher (primary data). The measurement the secondarydata in form of patient’s medical record in RSUD Banjarbaru. Meanwhile, the measurement of caries is carriedout by DMF-T index. Research result : The relation knowledge level, education level, age, sex, healthinfrastructure, and also healthcare workers’ service with accident dental caries are showing sig number of>0.05, this decision is accepted which means there is not significant relation occured. While the relation dentalroutine control behaviour to dentist with accident dental caries are showing sig number of 0.006<0.05, thisdecision is rejected which means there is a significant relation occured.Conclusion : The factor dental controlroutine behaviour to dentist has a significant relation to the occurance of dental caries at dental polyclinic inRSUD Banjarbaru.