Y. Marlida
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Potensi Antibakterial Bakteri Asam Laktat Proteolitik dari Bekasam Sebagai Biopreservatif Daging Sapi Afriani, Afriani; Arnim, Arnim; Marlida, Y.; Yuherman, Yuherman
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 19, No 3 (2017): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.738 KB) | DOI: 10.25077/jpi.19.3.161-169.2017

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi antibacterial bakteri asam laktat proteolitik dari bekasam sebagai biopreservatif daging sapi. Penelitian ini menggunakan 3 isolat bakteri asam laktat proteolitik dengan cara merendam daging dalam substrat antibakterial dari isolat BAL tersebut kemudian disimpan pada suhu dingin. Pengamatan utama pada penelitian ini adalah : (1) kualitas fisik daging, (2) kualitas mikrobiologi. Penelitian  ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 3 kali ulangan. Faktor A adalah jenis BAL proteolitik yaitu a1 =  Lactobacillus pentosus BS15, a2 = Lactobacillus plantarum 1 BS22 dan a3 = Lactobacillus plantarum 1 BL12 dan faktor B adalah  penyimpanan daging pada suhu dingin selama 2, 4 dan 6 hari. Kualitas fisik daging menunjukkan bahwa nilai pH daging yang diberi substrat antibakterial Lactobacillus pentosus BS15 lebih rendah dibandingkan  dengan Lactobacillus plantarum 1 BS22 dan Lactobacillus plantarum 1 BL12 sedangkan lama penyimpanan tidak berbeda. Daya ikat air daging yang diberi substrat antibakterial  ketiga jenis bakteri tidak berbeda sedangkan lama penyimpanan 2 hari dan 4 hari lebih tinggi dibandingkan dengan 6 hari. Susut masak daging yang diberi substrat antibakterial  Lactobacillus pentosus BS15 lebih kecil dari pada  Lactobacillus plantarum 1 BS22 dan Lactobacillus plantarum 1 BL12, penyimpanan 2 hari dan 4 hari lebih besar susut masaknya dibandingkan 6 hari. Kualitas mikrobiologi menunjukkan bahwa total mikroba daging yang diberi substrat antibakterial  Lactobacillus pentosus BS15 lebih tinggi dibandingkan dengan Lactobacillus plantarum 1 BS22 dan Lactobacillus plantarum 1 BL12 dan penyimpanan 2 hari lebih tinggi dibandingkan dengan 4 hari dan 6 hari. Total E. coli dan total S. aureus menunjukkan tidak ada perbedaan sedangkan lama penyimpanan 2 hari lebih tinggi dibandingkan dengan 4 hari dan 6 hari. Kesimpulan dari hasil penelitian ini penggunaan substrat antibakterial dari BAL proteolitik dan penyimpanan pada suhu dingin dapat mempengaruhi kualitas fisik dan mikrobiologis daging yang lebih baik.
Perkembangan dan Usaha Pengembangan Dadih: Sebuah Review tentang Susu Fermentasi Tradisional Minangkabau Putra, A.A.; Marlida, Y.; Khasrad, Khasrad; Azhike, S.Y.D.; Wulandari, R.
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 13, No 3 (2011): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.762 KB) | DOI: 10.25077/jpi.13.3.159-170.2011

Abstract

Dadih is a traditional fermented milk of Minangkabau ethnic which has been part of the richness of Indonesian food. Its existence has united with society life in West Sumatra, especially for community who resides in buffalo utilization areas. Here, some of buffalo milk productions are taken for dadih manufacturing. However, the production of dadih is still limited and does not show any immense progress so far. This review explains some aspects related to basic understanding about dadih, real condition of dadih production, the limitation of dadih’s production development and its consumption level, and completing with some dadih-related-researches and other potential attempts which are used as temporary answers to overcome low level of those conditions. Application of various researches on market scale is hoping to be the real response to force modern commercialization of dadih production and as a final point to enhance the level of dadih consumption.
Isolasi Bakteri Asam Laktat (BAL) Penghasil Asam Glutamat dari Ikan Budu sebagai Feed Suplemen Ayam Broiler Maslami, V.; Marlida, Y.; Mirnawati, Mirnawati; Jamsari, Jamsari; Nur, Y. S.
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 20, No 1 (2018): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.683 KB) | DOI: 10.25077/jpi.20.1.29-36.2018

Abstract

Asam glutamat merupakan asam amino building blocks asam amino lainnya dan neurotransmitter pembentuk citra rasa. Bakteri Asam Laktat (BAL) adalah salah satu mikrooganisme penghasil asam glutamat yang banyak terdapat pada produk fermentasi. Ikan budu merupakan fermentasi ikan Tenggiri (Scomberomorus guttatus) dan Talang-Talang (Chorinemus lyson L) yang diproduksi di daerah pesisir Kabupaten Padang Pariaman. Pada penelitian  ini dilakukan tiga tahap. Tahap 1: isolasi BAL yang berasal dari fermentasi ikan budu. Tahap 2: seleksi kualitatif dan kuantitatif BAL penghasil asam glutamat. Tahap 3: karakterisasi BAL penghasil asam glutamat. Hasil yang diperoleh terdapat 17 isolat BAL yang kemudian diseleksi secara kualitatif menggunakan thin layer chromatographic yang direndam dalam campuran pelarut n-butanol, asam asetat dan air (4:1:1 v/v) terdapat 16 yang dapat menghasilkan asam glutamat. Setelah dilakukan seleksi kualitatif selanjutnya dilakukan seleksi kuantitatif dengan spectrophotometer panjang gelombang 570 nm.  Produksi  asam glutamat yang tertinggi terdapat pada isolate IB.9  dengan produksi 13.03  mg/ml. Isolate  dan IB.9 yang paling tinggi dalam menghasilkan asam glutamat dikarakteristik yang berpedoman Bergey’s manual of systemic bacteriology  merupakan genus Lactobacillus sp. Penelitian ini dapat disimpulkan terdapat isolat BAL IB.9  (Lactobacillus sp) yang berpotensi dalam menghasilkan asam glutamat dengan produksi 13.03 mg/ml.
Peningkatan Kualitas Limbah Buah Kopi dengan Phanerochaete chrysosporium sebagai Pakan Alternatif Nuraini, Nuraini; Marlida, Y.; Mirzah, Mirzah; Disafitri, R.; Febrian, R.
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.208 KB) | DOI: 10.25077/jpi.17.2.143-150.2015

Abstract

Limbah buah kopi bisa digunakan sebagai pakan alternatif berdasarkan potensi ketersediaannya dan kandungan nutrisinya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas nutrisi limbah buah kopi melalui fermentasi dengan Phanerochaete chrysosporium. Metode eksperimen yang digunakan adalah dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 2 dengan 3 ulangan. Faktor pertama, dosis inokulum yaitu: 4%, 7% dan 10% dari jumlah substrat. Faktor kedua, lama fermentasi: 7 hari dan 10 hari. Peubah yang diamati adalah protein kasar, serat kasar, retensi nitrogen dan kecernaan serat kasar. Hasil penelitian yang diperoleh adalah interaksi antara dosis inokulum 7% dan lama fermentasi dengan Phanerochaete chrysosporium 10 hari dapat menurunkan serat kasar dan meningkatkan protein kasar, retensi nitrogen dan kecernaan serat kasar limbah buah kopi fermentasi. Kesimpulan penelitian ini adalah fermentasi dengan Phanerochaete chrysosporium dengan dosis inokulum 7% dan lama fermentasi 10 hari merupakan perlakuan terbaik untuk peningkatan kualitas nutrisi dari limbah buah kopi.
Metode Pengolahan Darah sebagai Pakan Unggas: Review Ramadhan, R. F.; Marlida, Y.; Mirzah, Mirzah; Wizna, Wizna
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.137 KB) | DOI: 10.25077/jpi.17.1.63-76.2015

Abstract

Darah sapi merupakan limbah hasil ikutan ternak yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan penyusun ransum ternak unggas. Darah dapat dimanfaatkan sebagai pakan dalam bentuk tepung. Pembuatan tepung darah dapat dilakukan melalui proses fisik, biologi, dan kombinasi keduanya. Pemanfaatan tepung darah sebagai ransum unggas sangat terbatas, hal ini disebabkan ketidakseimbangan asam amino yang terdapat pada tepung darah. Pemanfaatan tepung darah dapat ditingkatkan dengan cara pengolahan. Metode pengolahan darah dapat dilakukan dengan menggunakan tiga metode yaitu  pengeringan, penyerapan dan fermentasi. Metode pengeringan hanya dapat digunakan dalam ransum unggas sebesar 3-6%, sedangkan metode penyerapan dapat meningkatkan penggunaan tepung darah sebagai pakan ternak menjadi 15%, dan metode fermentasi darah menggunakan mikroorganisme sebagai inokulum dapat memanfaatkan tepung darah sampai 20% dalam ransum unggas.
Daya Simpan Konsentrat Sapi Potong Dengan Jenis Kemasan Berbeda Terhadap Kualitas Nutrisi, Ketengikan, dan Kandungan Aflatoksin Halimatuddini, Halimatuddini; Marlida, Y.; Zain, M.; Elihasridas, Elihasridas
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 21, No 3 (2019): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpi.21.3.266-273.2019

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh jenis kemasan dan waktu penyimpanan pakan konsentrat sapi potong yang terbaik berdasarkan kualitas nutrisi, ketengikan dan kandungan aflatoksin. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 2x3x3 dengan dua faktor. Faktor A yaitu Jenis Kemasan (A1 = woven bag; A2 = woven bag dilapisi plastik PE (polyethylene)) dan Faktor B yaitu Waktu Penyimpanan (B1 = 1 bulan; B2 = 2 bulan, B3 = 3 bulan) dengan ulangan 3 kali. Peubah yang diamati adalah kualitas nutrisi (bahan kering, lemak kasar, protein kasar), ketengikan, dan kandungan aflatoksin. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara faktor A (jenis kemasan) dan faktor B (lama penyimpanan) terhadap penurunan bahan kering, protein kasar, lemak kasar namun terjadi peningkatan tingkat ketengikan dan kandungan aflatoksin. Jenis kemasan woven bag yang dilapisi plastik menunjukkan kandungan nutrisi yang lebih baik dibandingkan kemasan woven bag berdasarkan kandungan nutrisi, ketengikan, dan kandungan aflatoksin selama penyimpanan 2 bulan.