Articles

Found 8 Documents
Search

Sebaran akuifer dan pola aliran air tanah di Kecamatan Batuceper dan Kecamatan Benda Kota Tangerang, Propinsi Banten Hadian, Mohamad Sapari; Mardiana, Undang; Abdurahman, Oman; Iman, Munib Ikhwatun
Indonesian Journal on Geoscience Vol 1, No 3 (2006)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1226.33 KB) | DOI: 10.17014/ijog.v1i3.14

Abstract

http://dx.doi.org/10.17014/ijog.vol1no3.20061Geologically the Batuceper and Benda Sub-Regencies belongs to the western part of the Jakarta Basin. The area is covered by coastal alluvial and delta deposits, and volcanic product. Understanding the distribution and groundwater pattern, either in the shallow part or the deep part, are of the basic thing for a geometric model and its groundwater fl ow in identifying the groundwater conservation. The result of the aquifer distribution, either in the shallow or the depth parts, was approached by the geoelectrical and hydrogeological surveys in the fi eld and well data that has resulted in aquifer distribution, either in the shallow or the deep parts. In general, the shallow aquifer developed downward becomes semi confi ned and confi ned aquifers. Groundwater fl ow pattern indicated local cones depression of groundwater level, especially around the city. Depression of groundwater level is considered to be related to the natural shape of aquifer as lences. However, it was possible to be caused by over pumping in this zone.    
Sebaran akuifer dan pola aliran air tanah di Kecamatan Batuceper dan Kecamatan Benda Kota Tangerang, Propinsi Banten Hadian, Mohamad Sapari; Mardiana, Undang; Abdurahman, Oman; Iman, Munib Ikhwatun
Indonesian Journal on Geoscience Vol 1, No 3 (2006)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1226.33 KB) | DOI: 10.17014/ijog.1.3.115-128

Abstract

http://dx.doi.org/10.17014/ijog.vol1no3.20061Geologically the Batuceper and Benda Sub-Regencies belongs to the western part of the Jakarta Basin. The area is covered by coastal alluvial and delta deposits, and volcanic product. Understanding the distribution and groundwater pattern, either in the shallow part or the deep part, are of the basic thing for a geometric model and its groundwater fl ow in identifying the groundwater conservation. The result of the aquifer distribution, either in the shallow or the depth parts, was approached by the geoelectrical and hydrogeological surveys in the fi eld and well data that has resulted in aquifer distribution, either in the shallow or the deep parts. In general, the shallow aquifer developed downward becomes semi confi ned and confi ned aquifers. Groundwater fl ow pattern indicated local cones depression of groundwater level, especially around the city. Depression of groundwater level is considered to be related to the natural shape of aquifer as lences. However, it was possible to be caused by over pumping in this zone.    
ALTERASI DI SUMUR PENGEBORAN SMN-1 DAN SMN-2 DI DAERAH PANAS BUMI SUMANI, KABUPATEN SOLOK, PROPINSI SUMATERA BARAT Sukaesih, Sukaesih; Rezky, Yuanno; Rosana, Mega Fatimah; Mardiana, Undang
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10, No 3 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah penelitian berada di lokasi sumur pengeboran SMN-1 dan lokasi sumur pengeboran SMN-2 berada di daerah panas bumi Sumani, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Penelitian dilakukan untuk mengetahui tipe alterasi bawah permukaan dalam lingkungan sistem panas bumi daerah Sumani. Metode yang digunakan adalah melakukan deskripsi megaskopis, mikroskopis dananalisis karakterisasi terhadap batuan inti dari sumur SMN-1 (702 meter) dan SMN-2 (428 meter). Dilakukan juga pengukuran suhu pada sumur SMN-1 dan SMN-2 untuk mengetahui anomali gradien geothermal. Berdasarkan hasil penelitian diketahui jenis-jenis mineral yang terbentuk dalam batuan bawah permukaan dan tipe ubahan serta korelasi zonasi alterasi bawah permukaan. Mineral ubahan yang dijumpai dalam batuan inti sumur SMN-1 terdiri dari; montmorilonit, smektit, sulfat, silika, halit, hematit, oksida vanadium, arsenat, karbonat, zeolit, ilit, pirofilit, klorit, muskovit, dan opal. Mineral ubahan yangterbentuk dalam sumur SMN-2 terdiri dari; kaolinit, montmorilonit, smektit, hematit, posfat, silikat, zeolit dan karbonat. Berdasarkan hasil pengelompokan mineral ubahan yang terbentuk dalam batuan bawah permukaan, sumur SMN-1 didominasi oleh tipe argilik (hingga kedalaman 100 meter) dan tipe propilitik (100-702 meter), sedangkan Sumur SMN-2 merupakan tipe ubahan argilik. Gradien geothermal dari permukaan hingga kedalaman 700 m di sumur SMN-1 menunjukkan ratarata 12,86 o C/100 meter, sedangkan di sumur SMN-2 diperoleh rata-rata 7 derajat C/100 meter. 
PENDUGAAN NILAI TAHANAN JENIS BATUAN UNTUK MENGETAHUI STRUKTUR GEOLOGI PADA ENDAPAN VULKANIK DI KEC. PADARINCANG, PROVINSI BANTEN. Endyana, Cipta; Hirnawan, Febri; Hendrawan, Hendrawan; Mardiana, Undang
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 6, No 3 (2011): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendugaan nilai-nilai tahanan jenis batuan menggunakan metode Schlumberger merupakan pendekatan yang efektif untuk menduga kondisi batuan bawah permukaan. Penggunaan teknik interpolasi danpengelompokkan nilai tahanan jenis lebih lanjut dapat menafsirkan kontinuitas lateral jenis batuan dan struktur geologi.Pengolahan dan pengujian secara statistik  analisis regresi berganda pada nilai tahananjenis menghasilkan enam jenis kelompok batuan, yaitu: Breksi grain supported, Tuf Lapili, Tuf Kasar, Breksi grain supported, tuf lapili, breksi matrix supported. Hasil uji korelasi pada karakter tahanan jenis keenam kelompok batuan tersebut ditemukan bahwa ada tiga sumber material yang berbeda pada saat pengendapannya. Material endapan diyakini berasal dari Gunung Parakasak, Gunung Karang dan Gunung Kamuning. Kesamaan nilai tahanan jenis pada pola berarah barat-timur menunjukkan kesamaan litologi, sedangkan kesamaan nilai tahanan jenis pada pola dengan arah utara-selatan menunjukkan nilai kontras tahanan jenis yang disebabkan oleh dua jenis sesar berarah relatif barat-timur dengan mekanisme yang berbeda.
FASIES PENGENDAPAN BATUBARA SEAM X25 FORMASI BALIKPAPAN BERDASARKAN LOG INSIDE CASING DI DAERAH SEPARI, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Margaesa, Dany; Isnaniawardhani, Vijaya; Mardiana, Undang
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 8, No 3 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cekungan Kutai terletak di Kalimantan Timur menyimpan banyak kandungan sumber daya alam yang melimpah, seperti endapan batubara. Daerah penelitian secara geologi termasuk ke dalam Formasi Balikpapan yang dicirikan oleh keterdapatan litologi batupasir lepas (loose sand). Penggunaan Log Inside Casing merupakan salah satu solusi terbaik dalam pengambilan data well logging di Formasi Balikpapan ini untuk mengatasi beberapa kendala, seperti runtuhnya lubang bor dalam batuan sedimen lepas. Dengan metode Log Inside Casing ternyata terjadi penurunan kualitas pembacaan log sekitar 50% terutama pada Log Density. Namun demikian Log Gamma Ray masih sangat baik digunakan dalam interpretasi tekstur batuan sedimen sehingga suksesi sedimen dapat dipelajari sebagai aplikasi dari elektrofasies.Batubara seam X25 dibedakan menjadi dua fasies berbeda dan diendapkan pada lingkungan Transitional Lower Delta Plain yang dicirikan oleh pola fasies crevasse splay, channel, levee dan interdistributary bay berdasarkan model Horne (1978). Penelitian ini dapat mengkoreksi korelasi litostratigrafi dan perhitungan sumberdaya batubara berdasarkan genesa batubaranya secara tepat, akurat dan ilmiah.
Potensi Gas Biogenik di Cekungan Kutai Bagian Selatan, Kalimantan Timur Yuniardi, Yuyun; Mardiana, Undang; Abdullah, Fikri
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 16, No 4 (2015): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Delineation of the subsurface of data required to determined potential the presence of biogenic gas. Subsurface interpretation is done by using the data for analysis electrolysis cutting, the log data in the form of Logs GR, RT, NEU, RHOB of 39 wells and gas data (Mud Logs) from the chromatograph and Correlation wells are done. Shallow gas is concentrated or accumulated in the marker interval until Fs-s2 and Fs-s3 (at the depth interval of 950-1300 MSS), and isolated existence.The existence of gas on the platform M in shallow zones (shallow zone, above the marker MF2) is dominated by C1 gas/methane (gas surface), there were no gas C2 (only minor traces on the M38 start at a depth of wells 1200 MSS), while the presence of other gas (C3, C4, C5) only appear as minor traces. Based on gas analysis, it can be concluded that in the interval of 950-1300 MSS there is a surge of the total gas, when compared with data from its Master Log turns anomaly is derived from limestone and coal layers in which these results are correlated with a map of Gas Bearing Reservoir Mapping.Based on the data that has been processed, it can be concluded that the shallow gas accumulates at a depth of 950-1300 MSS or at interval marker Fs-s2 and Fs-s3. So for the next drilling activity on Platform M, is expected to be aware of the depth zone.Keyword - Biogenic Gas, Electrofacies Analysis, Delineation, Gas Analysis, , Marker Interval, Well Correlation
EVALUASI CADANGAN MINYAK ZONA A DAN B, LAPANGAN RAMSES, BLOK D, MELALUI PEMODELAN GEOLOGI BERDASARKAN DATA PETROFISIKA Iqbal, Prahara; Mardiana, Undang
Teknologi Indonesia Vol 32, No 1 (2009)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jti.v32i1.55

Abstract

Geology modelling has been done in Zone A and B, Ramses field, Blok D. The modelling was conducted by determining Zone A and B as zone having to be checked based on gamma ray, resistivity, and densitiy curve integrity reading (qualitative analysis) and petrophysic analysis which used GS software (quantitative analysis). Then the data were entered into IRAP RMS 7.3 software. The results are Zone A and B geology modelling and also oil concentration modeling which describe the biggest area of oil concentration, plus the oil amount. the result showed that, the biggest area of oil concentration is at south of each zone. The oil amount are: Zone A=82,78 million barrel, Zone B=36.08 million barrel.
KERENTANAN GERAKAN TANAH DI DESA WARUNGMENTENG SUB DAS CIBADAK, LERENG BAGIAN TIMUR GUNUNG SALAK Mardiana, Undang; Alfadli, Muhammad Kurniawan; Natasia, Nanda; Mutaqin, Deden Zaenudin
Dharmakarya Vol 8, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2122.583 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v8i1.19165

Abstract

Daerah Warungmenteng dan sekitarnya secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Cijeruk, terletak pada lereng timur Gunung Salak merupakan salah satu kawasan yang masuk dalam zona potensi terjadi gerakan tanah tinggi hingga menengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan tingkat kerentanan gerakan tanah di Desa Warungmenteng dengan menggunakan metode Paimin (Paimin, 2006), yang didasarkan karakteristik fisik berupa kondisi geologi, kemiringan lereng, tataguna lahan dan curah hujan setempat. Terdapat tiga tingkat kerentanan gerakan tanah, yaitu agak rentan, rentan dan sangat rentan. Secara umum klasifikasi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar lokasi longsor memang berada pada daerah dengan tingkat kerentanan gerakan tanah sangat rentan. Kerentanan gerakan tanah di daerah penelitian dipengaruhi oleh kemiringan lereng dan litologi atau jenis tanah, serta curah hujan sebagai faktor pemicu terjadinya gerakan tanah.