Albertus Ata Maran
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Deskriptif Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Dengan Pendekatan Spasial Di Kota Kupang (Analisis Data sekunder Tahun 2010-2011) Maran, Albertus Ata; Nurjazuli, Nurjazuli; Suhartono, Suhartono
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN INDONESIA Vol 11, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.705 KB) | DOI: 10.14710/jkli.11.2.114 - 122

Abstract

Background :Dengue Haemorrhagic Fever (DHF), an endemic disease in Kupang, has been an enormous healthissue throughout years, as it frequently causes outbreak. The risk factors of the disease, according to certainvariables; time, location, civil and population density, climate, precipitation, temperature, humidity, and diseaseincidence, are still remaining unknown. Therefore, no predictive agent to estimate the DHF outbreak in Kupang hasbeen found.Methode : The research is a obsevasional study, with a spatial approach. The research variables were inspectedat same time and the samples were taken from the whole population; all secondary data on Health Departmentregistration record of Kupang. The data was presented on tables and were analyzed by descriptive method.Result : The result of the secondary data analysis indicated that the endemic trend of DHF profile in Kupang hasbeen decreasing over the last 2 years, however the number of exposed area towards DHF endemic increases. DHFIR showed decreasing trend; particular decline was noted on 2011 (55.45 per 100.000 people) compared to 2010.Highest proportion of DHF patient was found on age 5 – 9 years, followed by age 1 – 4 years, and age 15-19 years.There was changed phenomenon in time, distribution pattern and age; from younger age into productive age,with increasing proportion. There were 6 kecamatan and 44 kelurahan that proned to DHF. DHF IR reached thehighest point at 2010, in Kecamatan Kota Raja (122.80 per 100.000 people), the lowest point indicated atKecamatan Kelapa Lima 50.55 per 100.000 people. In 2011, highest IR was indicated at Kecamatan Kota Lama(84.64 per 100.000 people) while the lowest IR indicated at Kecamatan Alak (35.40 per 100.000 people). Certainfactors are believed to take effect on DHF incidence, these factors are; population density, location, precipitation,air temperature and humidity.Keywords: DHF, incidence, descriptive, spatial
P, Bahan PENGGUNAAN BAHAN BAKAR DAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI KELURAHAN SIKUMANA SINGGA, SIPRIANUS; MARAN, ALBERTUS ATA
JURNAL INFO KESEHATAN Vol 11 No 1 (2013): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.784 KB) | DOI: 10.31965/infokes.v11i1.4

Abstract

Penggunaan bahan bakar dalam rumah tangga menjadi salah satu faktor penyebab kejadian ISPA pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan bahan bakar dan faktor risiko kejadian ISPA pada balita di kelurahan Sikumana. Penelitian ini bersifat deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita yang menderita ISPA di kelurahan sikumana pada bulan Juni tahun 2013 dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 100 orang balita. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis-jenis bahan bakar yang paling banyak digunakan pada rumah penderita ISPA adalah minyak tanah dan kayu api. Rata-rata jumlah bahan bakar yang dalam rumah tangga adalah minyak tanah sebanyak 5 l/minggu dan kayu api sebanyak 10 ikat/minggu. Faktor risiko kejadian ISPA yang paling dominan adalah letak dapur yang dekat dengan ruang sebesar 100%, diikuti oleh kebiasaan ibu membawa anak saat memasak sebesar 96%dan terdapat asap dalam rumah ketika memasak sebesar 74%. Masyarakat disarankan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar yang banyak mengeluarkan asap, menjauhkan dapur dari ruang keluarga dan tidak membawa anak ke dapur ketika memasak dan membuat ventilasi rumah yang memenuhi syarat.