Articles

Found 22 Documents
Search

Terminologi Traktor dan Peralatan (Bagian I) Sembiring, E Namaken; S, Radite Praeko A; Suastawa, I Nengah; Mandang, Tineke
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol 12, No 2 (1998): Buletin Ketenikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terminologi traktor beserta peralatan dan pengoperasiannya atau yang berkaitan dengan traktor, umumnya berasal dan berkembang dari negara-negara pembuat dan pengembang traktor pertanian. Ide awal dari penyusunan terminologi ini berasal dari usulan Prof. Dr. Jun SAKAI (JICA expert), dan diterima dengan baik oleh staf Laboratorium Alat dan Mesin Budidaya Pertanian, Jurusan Teknik Pertanian, FATETA, IPB, yang juga melihat perlunya penyusunan terminologi di bidang keteknikan pertanian agar orang-orang yang bergerak di bidang keteknikan pertanian berkomunikasi dalam istilah dengan pengertian yang sama.  
Study of Optimization of LInear Velocity of Rotary Blade and Tractor Forward Speed Ratio on Soil Pudding of Wet Field Rice Pramuhadi, Gatot; Daywin, Frans Jusuf; Mandang, Tineke; Haridjaja, Oteng
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol 13, No 3 (1999): Buletin Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study on optimization of linear velocity of rotary blade and tractor forward speed ratio oil soil puddling of wetjeld rice was carried out in order to find the relationship between linear velocity of rotary blade and tractor forward speed ratio (u-v ratio) and the number of tractors pass versus soil puddling index and tractor wheel slip during the soil puddling, and todetermine the optimum u-v ratio for rice wetjeldpreparation with certain soil classijication and condition and also with certain two wheel tractor and rotary tiller.The result, using two types of two wheel tractors and rotary tillers, showed that soil puddling was extremely afSected by puddling pass Pequency. The puddling index increased with the increasing of puddling pass prequency until the soil became puddled soil, were 0. 18 up to 0.64 forjeld test I and 0.17up to 0.67 for field test 11 in average.
Getaran Batang Subsoiler Akibat Gangguan Alami dari Variasi Gaya Potong Tanah Soeharsono, Soeharsono; Setiawan, Radite P. A.; Mandang, Tineke
Jurnal Teknik Mesin Vol 10, No 1 (2008): April 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Analytical and experiment study on vibratory tillage tools by adding an external energy to the tillage tools has been widely applied. This method would significantly reduce soil’s resistance; unfortunately it uses a lot of energy. Self excited vibration phenomenon on vibrating subsoiler has also been shown experimentally reduce soil’s resistance though not as much as the former. However no analytical study of the latter method can be found. This paper present mathematical derivation of shank-subsoiler’s vibration due to natural excitation of varied cutting forces. Shank-subsoiler was modeled as a single degree of freedom; while the natural excitation of varied cutting force was modeled as a periodic function. This paper also discusses the effect of spring’s elasticity to maximum displacement of the tillage-tools. Therefore, the possibility of decreasing the soil-cutting force for loosening soil’s density due to self exited vibration significantly is visualized. Abstract in Bahasa Indonesia: Studi analitis dan eksperimental terhadap penggetaran tillage tools dengan cara memberikan energi mekanis ke tillage tools telah banyak dilakukan. Walaupun metode ini berhasil menurunkan tahanan tanah secara signifikan, namun penggunaannya berakibat pada kenaikan konsumsi energi secara berlebihan. Penggetaran dengan cara menggunakan metode eksitasi sendiri pada subsoiler getar juga telah banyak dilakukan secara eksperimental. Penggetaran dengan cara ini berhasil menurunkan tahanan tanah. Namun, penurunannya tidak sebesar yang dicapai dengan cara sebelumnya. Kendati demikian, studi analitis terhadap penggetaran dengan cara yang kedua ini belum pernah dilakukan. Oleh sebab itu, pada makalah ini akan dibahas tentang penurunan persamaan matematik dari getaran subsoiler shank akibat gangguan alami yang timbul karena variasi gaya potong tanah. Getaran subsoiler shank dimodelkan sebagai getaran dari sistem getaran dengan satu derajad kebebasan. Sedang gangguan alami dimodelkan sebagai fungsi periodik. Selain itu pengaruh elastisitas pegas terhadap besar simpangan maksimum dari getaran subsoiler shank juga dibahas pada makalah ini. Berdasarkan persamaan matematik yang telah diturunkan, diungkapkan bahwa pada frekuensi resonansi, subsoil shank akan begetar hebat sehingga diharapkan mampu menurunkan tahanan dan gaya potong yang diperlukan untuk membongkar kepadatan tanah, secara signifikan. Kata kunci: Self excited, vibration, subsoiler shank, tahanan tanah, elastisitas pegas
Aspek Teknologi Dan Analisis Kelayakan Pengelolaan Serasah Tebu Pada Perkebunan Tebu Lahan Kering ., Iqbal; Mandang, Tineke; Sembiring, E. Namaken; Chozin, M.Achmad.
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol 26, No 1 (2012): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PG Takalar adalah salah satu pabrik gula yang terdapat di Sulawesi Selatan dan memiliki potensi serasah tebu yang besar. Serasah tebu merupakan limbah yang kaya bahan organik yang bisa diolah menjadi pupuk organik berupa kompos. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan kebutuhan alat dan mesin pada pengelolaan serasah tebu  pada PG Takalar .  Hasil penelitian menunjukkan bahwa PG Takalar  memiliki rata-rata potensi ketersediaan serasah tebu pada PG Takalar adalah 19.96% atau 20% dari setiap batang tanaman tebu. Dengan luas lahan 4186 ha, maka total potensi serasah tebu adalah 32860 ton/tahun. Hingga saat ini pengelolaan serasah tebu pada PG Takalar masih dilakukan secara konvensional dengan membakar serasah tebu tersebut di lahan perkebunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan 4186 ha membutuhkan jumlah alat dan mesin untuk mendukung kegiatan mekanisasi pada pengelolaan serasah tebu adalah traktor 48 unit, trash rake 13 unit, trailer besar 31 unit, aplikator 4 unit, pencacah 18 unit, truk 3 unit, pengaduk 3 unit, dan  loader 3 unit Kata kunci : potensi, mekanisasi, pengelolaan, serasah tebu, tanaman tebu Abstract PG Takalar is one of sugar factory in South Sulawesi which has enormous potential of sugarcane litter. Sugarcane litter is organic waste that could be processed into organic fertilizer in form of compost. The objectives of this study were to determine the potential of sugarcane litter and to determine the machinery requirement for sugarcane litter management in PG Takalar. The result showed that the average availability potential of sugarcane litter in PG Takalar was 19.96% or 20% from each stem of sugarcane. In total, with 4186 ha area of PG Takalar, the potential of sugarcane litter was 32860 ton/year. Nowadays, in PG Takalar, the management of sugarcane litter is done conventionally by burning the litter in the field. It is also found from the study that to manage the sugarcane litter in 4186 ha area, the number of machinery needed to support the mechanization of sugarcane litter management were 48 units of tractor, 13 units of trash rake, 31 units of trailer, 4 units of applicator, 18 units of chopper, 3 units of truck, 3 units of composting turner, and 3 units of loader. Key words: potential, mechanization, management, sugarcane litter, sugarcane Diterima:14 Desember 2011; Disetujui:17 Maret 2013  
Studi Ergonomi Pada Penyiapan Lahan Sawah Lebak Menggunakan Alat Tradisional Tajak di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan Dewi, Indya; Syuaib, M. Faiz; Mandang, Tineke
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol 25, No 2 (2011): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : Jurnal Keteknikan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Traditional local farmers in South Kalimantan conventionally do the field preparation by using a traditional tool named “tajak”. This typical traditional tool is very appropriate for land preparation in marshland field which is enabling to cultivate without raising the pirit (FeS2) layer. However, it is quite difficult, hard and dangerous to operate tajak, and it’s difficult to learn by a novis operator as well. Therefore, ergonomics study will be beneficial to develop more convenient, safe and effective tajak.  The result of workload analysis revealed that tajak operation is an “extremey hard” workload, whichs the avarage of IRHR is 2.14.  The workload level of tajak operation is indicatively by workload intencity and swing elevation.  Regarding the Total energy cost per weight (TEC’) and hours of work (JOK), the tajak operation consumes  5.36 kcal/kg.hour and need 61.07 hour/ha in average.  Anthropometri and motion study analysed revealed that the dimentional suitability of tajak tool is strongly related to shoulders and waist heightly, arms length, and hands grips diameter.  Based on the result of tajak anthropometri and motion analyses, for better design of  tajak’s handle was recommended 75.70 cm. Keywords: tajak, marshland field, ergonomic, work load, motion analysis, anthropometri Abstrak "Tajak" adalah alat yang lazim digunakan untuk penyiapan lahanoleh umumnya petani padi rawa/lebak tradisional di Kalimantan Selatan. Alat ini sangat tepat dan sesuai untuk penyiapan lahan di area sawah lebak (rawa), di mana diperlukan suatu cara pengolahan dan penyiapan lahan yang tidak mengakibatkan naiknya lapisan pirit (FeS2) ke area perakaran tanaman. Cara penggunaan tajak relatif sulit, berat, dan berbahaya, bagi petani yang sudah berpengalaman sekalipun. Terlebih untuk para pemula, pengoperasian tajak sangat sulit dipelajari. Oleh karena itu, studi ergonomi ini diharapkan dapat bermanfaat untuk mengembangan desain serta cara penggunaan tajak yang lebih aman, nyaman dan efektif. Hasil analisis beban kerja mengindikasikan bahwa pengoperasian tajak tergolong pekerjaan "luar biasa berat", dengan nilai IRHR rata-rata 2.14. Tingginya tingkat beban kerja (IRHR) tersebut sangat ditentukan oleh dua indikator kerja, yaitu intensitas dan tinggi ayunan tajak. Laju konsusmsi energi kerja tajak adalah 5.36 kkal/jam.kg-bb (kilokalori per jam per berat badan operator), sedangkan rata-rata kebutuhan waktu kerja efektif adalah 61.07 jam/ha. Analisis antropometri dan gerak mengindikasikan bahwa tinggi bahu, tinggi pinggang, panjang lengan dan diameter genggaman tangan merupakan parameter terpenting untuk kesesuaian dimensional tajak terhadap operator penggunanya. Sesuai dengan antropometri petani setempat, panjang tangkai tajak ideal yang direkomendasikan adalah 75.70 cm. Kata kunci: tajak, lahan sawah lebak, ergonomi, beban kerja, analisis gerak, antropometri Diterima; 08 April 2011 ; Disetujui: 09 Agustus 2011    
PENGARUH LINTASAN TRAKTOR TANPADAN PEMBERIAN BAHAN ORGANIK TERHADAP PEMADATAN TANAH DAN KERAGAAN TANAMAN KACANG TANAH ., Iqbal; Mandang, Tineke; Sembiring, E Namaken
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol 20, No 3 (2006): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The amendment of organic matter into soil can improve the soil condition and prevent soil comaction caused by tractor traffice. The aims of this research are to know the influence or tractor traffic and organic matter on nature of physical mechanic of soil, analyze the influence of tractor traffic and organic matter on performance of soil tillage and to know the influence of soil compaction on performance of peanut crop. This research was conducted in leuwikopo farm (dry land) and in the laboratory for soil analyze. The result show that tractor traffic and organic matter treatmen have effect to soil compaction and performance peanuut crop. The highest value of bulk density is 1.2 g / cm3 at 6 traffic with the organic matter doses 4 ton /ha /hatreatment. The biggest number of pods is 25 pod / tree there is at 2 traffic with pod / tree at 6 traffic without organic matter treatment. Keyword: Tractor traffic, organic matter, soil compaction. Diterima: 27 Pebruari 2006; Disetujui: 23 Juli 2006
Pemanfaatan Limbah Daun Kelapa Sawit sebagai Bahan Baku Pupuk Kompos Bulan, Ramayanty; Mandang, Tineke; Hermawan, Wawan; Desrial, Desrial
Rona Teknik Pertanian Vol 9, No 2 (2016): Volume 9, No. 2, Oktober 2016
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.377 KB) | DOI: 10.17969/rtp.v9i2.5650

Abstract

Abstrak. Limbah padat pada perkebunan kelapa sawit telah diketahui potensial sebagai bahan baku pupuk organik padat melalui proses pengomposan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan teknik dan mengkarakterisasi proses pengomposan limbah daun kelapa sawit sebagai bahan dasar pupuk organik potensial. Proses pengomposan dilakukan dengan dua faktor perlakuan, meliputi komposisi bahan katalisator kompos (Bokashi, Vermikompos dan Natural) dan ukuran cacahan daun sawit (2 cm, 4 cm 6 cm). Parameter yang diamati meliputi persentase penyusutan massa dan fluktuasi perubahan suhu selama proses pengomposan, serta pengukuran zat hara Nitrogen, Phospor, Kalium (NPK) dan rasio C/N yang terkandung pada hasil pengomposan yang diukur setelah 10 dan 14 minggu proses pengomposan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengomposan dengan bokashi memberikan penyusutan massa terbesar jika dibandingkan dua metode lainnya pada semua ukuran cacahan yaitu sebesar 32%. Cacahan daun sawit yang berukuran kecil cenderung memberikan proses pengomposan yang lebih cepat dan memberikan produk kompos yang lebih baik. Hasil pengukuran setelah proses pengomposan menunjukkan bahwa interaksi dua faktor perlakuan yang diberikan hanya berpengaruh signifikan pada rasio C/N dan tidak signifikan pada zat hara NPK. Utilization of Waste Palm Leaves as Raw Material Palm CompostAbstract. The use of oil palm plantation solid waste, particularly oil palm leaf as organic compost raw material are now receiving greater attention by researchers, but have not been fully utilized on large scale, either agriculturally or industrially. The aim of present study was to characterize composting process with oil palm leaf as raw material. The research of composting conducted with two combination of composting factor, namely: composting starter composition (i.e. Bokashi, vermi-compost and natural composting) and piece of frond dimension (2 cm, 4 cm, 6 cm). The percentage of mass reduction and temperature fluctuation during composting process were measured. The NPK compound and C/N ratio measurement were conducted after composting process which are 10 and 14 weeks. The result indicates that Bokashi starter composition gives higher percentage of mass reduction on all variant of piece of frond dimension. Results also showed that smaller piece of frond enable the composting process quicker and had better result. Statistical analysis reveals that combination of composting factors have significant effect on C/N ratio but insignificant on NPK.
Rancangbangun Aplikator Kompos untuk Tebu Lahan Kering ., Iqbal; Mandang, Tineke; Sembiring, E. Namaken; Chozin, M. A.
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol 2, No 1 (2014): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe widely sugarcane plantation area in Indonesia causes the management of sugarcane litter conducted by mechanization. To manage sugarcane litter into compost needed several machineries such as tractors,trash rakes, trailesr, choppers, trucks, composting turner, loaders, and compost applicators. The objective of this study was to design a compost applicator for sugarcane litter that can be used for a plant cane andratoon in dry land. The process of making a prototype applicators follow the design flowchart that begins with the calculation of the dimensions, design of engineering drawings, selection and material purchases. The result showed that the applicator prototype with belt conveyor metering device could function well and was able to apply the compost with a high dose (15 ton / ha).Keywords: mechanization, compost applicator, compost, sugarcane litter, sugarcaneAbstrakAreal perkebunan tebu di Indonesia yang luas menyebabkan kegiatan pengelolaan serasah tebu dilakukan dengan mekanisasi. Untuk mengelola serasah tebu menjadi kompos dibutuhkan beberapateknologi seperti traktor, trash rake, trailer, alat pencacah, truk, pengaduk, loader, dan aplikator kompos. Tujuan penelitian ini adalah merancang aplikator kompos serasah tebu yang dapat dioperasikan untuktanaman tebu baru (PC) dan tebu keprasan (ratoon) lahan kering. Proses pembuatan prototipe aplikator mengikuti alur perancangan alat yang diawali dengan perhitungan dimensi, disain gambar teknik dan pemilihan serta pembelian bahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prototipe aplikator dengan penjatah tipe belt conveyor dapat berfungsi dengan baik dan mampu mengaplikasikan kompos dengan dosis tinggi (15 ton/ha).Kata kunci : mekanisasi,aplikator kompos, kompos, tebu, lahan keringDiterima: 27 November 2013; Disetujui: 19 Februari 2014
Evaluasi Sistem Penggerak dan Modifikasi Mesin Penanam Jagung Bertenaga Traktor Tangan Hermawan, Wawan; Mandang, Tineke; Sutejo, Agus; Sitorus, Agustami
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol 3, No 1 (2015): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractTo improve the performance of corn planter powered by hand tractor, the following efforts were carried out: a) the evaluation of minimum tillage (strip tillage) using rotary tiller, b) the evaluation of the performance of the drive system for seed metering device; and c) modifications of the planting and fertilizing units. The machine capacity to be improved by using two planting rows in one pass. The machine was driven by a hand tractor equipped with a rotary tiller unit. The experiment results show that the strip tillage using the rotary tiller could be done when the soil is plowed, in a relatively loose condition. Among the five types of drive wheel to rotate the seed metering device, lugged rubber wheel had the lowest level of sliding (21- 22%), and produced seed spacing of the closest to the target (19-21 cm). The evaluation showed that one drive wheel is not able to drive two units of seed metering device and two units of fertilizer metering device. Rotation of tractor axle can be used effectively to drive the rotor of two units of the fertilizer applicator and corn seed metering devices of two planter units, using the sprocket-chain transmission. Modifications were constructed for two planting units; two fertilizing units; and the addition of drive system for the metering devices using rotation of the tractor axle.Keywords: Planting machine, fertilizer applicator, corn, tractor wheel axle, hand tractorAbstrakUntuk meningkatkan kinerja mesin penanam dan pemupuk jagung bertenaga traktor tangan, telah dilakukan: a) evaluasi pengolahan tanah minimal (strip tillage) menggunakan unit pengolah tanah rotari, b) evaluasi kinerja sistem penggerak bagian penjatah benih; dan c) modifikasi pada unit penanam dan pemupuk jagung. Kapasitas mesin ditingkatkan dengan penanaman dua alur dalam satu lintasan. Mesinpenanamdigerakkan oleh traktor tangan yang dilengkapi unit pengolah tanah rotari. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pengolahan tanah strip dengan unit pengolah tanah rotari bisa dilakukan dengan baik bila tanah sudah dibajak, dalam kondisi yang relatif gembur. Dari lima jenis roda bantu untuk menggerakkan sistem penjatah benih, roda penggerak karet bersirip memiliki tingkat luncuran yang paling rendah (21-22%), dan menghasilkan jarak tanam benih yang paling mendekati target (19-21 cm). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebuah roda bantu tidak mampu menggerakkan dengan baik dua unit penjatah benih dan dua unit penjatah pupuk. Putaran poros roda traktor dapat digunakan secara efektif untuk menggerakkan poros rotor penjatah pupuk pada dua unit pemupuk dan poros piringan penjatah benih jagung pada dua unit penanam, menggunakan transmisi sproket-rantai. Modifikasi terlah berhasil dilakukan pada unit penanam, pemupuk dan penambahan sistem penggerak unit penjatah benih dan pupuk dari putaran poros roda traktor.Kata kunci: Mesin penanam, pemupuk, jagung, poros roda traktor, traktor tanganDiterima: 06 November 2014; Disetujui: 05 Februari 2015
Efek Paparan Musik dan Noise pada Karakteristik Morfologi dan Produktivitas Tanaman Sawi Hijau (Brassica Juncea) Prasetyo, Joko; Mandang, Tineke; Subrata, I Dewa Made
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol 2, No 1 (2014): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe objective of present study was to investigate the effect of various sounds on the green mustard’s (Brassica Juncea) morphology characteristic and productivity. The plant has been subjected to three various sound, namely classical music (rhythmic violin music), machine and traffic noise, and mixed sound (classical music and traffic noise) with 70-75 dB sound pressure level, from germination to harvest for three hours (7-10 am.) each day. Six parameters, i.e. germination, plant height, leaf width, leaf lenght, total plant lenght, and fresh weight, related with growth and productivity of plant were been monitored on regular basis.The results showed classical music improves germination up to 15% for 36 hours, plant height 13,5%, leaf width 14,8%, leaf length 14,2%, and wet weight 57,1%. In general, exposure to classical music gives thebest results on the morphological characteristics and productivity of green mustard.Keywords: Sound exposure, plant morphology , productivity, green mustardAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi efek paparan variasi suara terhadap karakteristik morfologi dan produktivitas tanaman sawi hijau. suara yang dipaparkan antara lain musik klasik (suara biola), bising lalu lintas dan mesin industri (noise) dan campuran antara musik klasik dan noise. Level suara yang digunakan berkisar antara 70-75 dB dimulai sejak masa perkecambahan hingga panen selama 3 jam tiap harinya dimulai pukul 07.00-10.00. Enam parameter yang diamati dan diambil datanya meliputi, daya berkecambah, tinggi tanaman, lebar daun, panjang daun, panjang tanaman total dan berat basah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik klasik meningkatkan daya berkecambah sebesar 15%, tinggi tanaman sebesar 13,5%, lebar daun sebesar 14,8%, panjang daun sebesar 14,2%, dan berat basah sebesar 57,1%. Secara umum paparan musik klasik memberikan hasil terbaik terhadap karakteristik morfologi dan produktivitas sawi hijau.Kata kunci: Paparan suara, morfologi, produktivitas, sawi hijauDiterima: 21 Oktober 2013;Disetujui: 28 Januari 2014