Articles

MODEL KINETIKA REAKSI PEMBENTUKAN POLYOL BERBASIS MINYAK SAWIT Ifa, La; Sumarno, Sumarno; Susianto, Susianto; Mahfud, Mahfud
REAKTOR Volume 14, Nomor 1, April 2012
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.839 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.14.1.1-8

Abstract

REACTION KINETIC MODEL OF RBD PALM OIL BASED-POLYOL PRODUCTION. Polyol, a raw material of polyurethane, has successfully been produced from a renewable resource namely RBD palm oil. This polyol was made by firstly adding a peroxyacetic acid formed in situ from H2O2 and CH3COOH with H2SO4 as cataliyst into RBD palm oil to form epoxidized RBD palm oil. The epoxidized palm oil then was added to a mixture of methanol (MeOH), isopropanol (IPA), and H2SO4 for 2 hours at 60oC so that palm oil-based polyol was formed. The main equipment used in this research was a 500 mL three necked flask, equipped with a reflux condeser, thermometer, water bath and magnetic stirrer. The product was analysed using a titration method and Infra Red (IR) Spectroscopy. It was obtained that the produced palm oil-based polyol has a value of hydroxyl number of 150-209 mg KOH/g sample and a viscosity of 740.777 cP. These results are in accordance with other polyol products from other sources. The kinetic of palm oil-based kinetic was studied and the best model of the reaction rate equation was where k’ = 3.399 e-2391.,6/RT.  The unit of  k is L2 mol-2 menit-1 . The average error of the equation is 4,549%.  Polyol, bahan baku polyuretan, telah berhasil dibuat dari bahan baku terbarukan yakni polyol berbasis RBD palm olein. Polyol ini mula-mula dibuat dengan menambahkan asam peroksi asetat yang dibentuk secara in situ dari H2O2 dan CH3COOH dengan katalis H2SO4 kedalam RBD palm olein untuk membentuk RBD palm olein terepoksidasi. RBD palm oil terepoksidasi ditambahkan kedalam campuran metanol (MeOH), isopropanol (IPA) dan sejumlah katalis H2SO4 selama 2 jam pada suhu 60 oC sehingga terbentuk polyol berbasis RBD palm oil. Peralatan utama yang digunakan dalam percobaan pembuatan polyol adalah labu leher tiga 500 mL dilengakapi dengan kondesor reflux, termometer, water bath dan magnetic stirrer. Polyol produk dianalisa bilangan hidroksil dengan cara titrasi dan dianalisis dengan Infra Red (IR) Spectroscopy. Polyol berbasis RBD palm oil yang dihasilkan memiliki bilangan hidroksil 150-209 mg KOH/g sampel dan viskositas 740,777 cP. hasil ini sebanding dengan polyol yang dihasilkan dari sumber minyak yang lain. Kinetika reaksi polyol berbasis RBD palm oil telah dipelajari dan hasil terbaik didekati dengan persamaan laju reaksi yang diperoleh pada penelitian adalah dimana k’ = 3,399 e-23913,6/RT dalam satuan L2 mol-2 menit-1. Kesalahan estimasi rata-rata adalah 4,549%. Kata kunci: model kinetika; RBD palm oil; polyol
Pembuatan Kristal Tembaga Sulfat Pentahidrat (CuSO4.5H2O) dari Tembaga Bekas Kumparan Fitrony, Fitrony; Fauzi, Rizqy; Qadariyah, Lailatul; Mahfud, Mahfud
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.514 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mempelajari proses pembuatan kristal CuSO4.5H2O dari bahan baku Cu bekas kumparan; mempelajari pengaruh suhu reaksi, pengadukan, dan seeding terhadap kristal CuSO4.5H2O yang dihasilkan; dan membuktikan kristal hasil percobaan berupa kristal CuSO4.5H2O yang dihasilkan. Bahan baku yang dipakai yaitu berupa kawat tembaga bekas kumparan dinamo. Penelitian ini mencakup penanganan produk dan persiapan bahan baku. Sebelum digunakan, bahan baku logam dibersihkan dari pengotor lalu dipotong kecil-kecil yang bertujuan agar mempermudah dan mempercepat proses pelarutan tembaga dengan HNO3. Setelah pelarutan, larutan direaksikan dengan H2SO4 pekat yang sudah diencerkan pada suhu tertentu. Kemudian dilakukan kristalisasi disertai dengan pengadukan. Dari data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kristal CuSO4.5H2O dengan 99% yield dan ukuran kristal rata-rata 0,7 mm dapat dibuat dari tembaga bekas kumparan dengan suhu reaksi 90ºC, penambahan seed, dan pengadukan kristalisasi 500 rpm. Semakin tinggi suhu reaksi maka kelarutan CuSO4 dalam air semakin besar sehingga semakin banyak yield kristal yang dihasilkan. Kecepatan pengadukan cenderung tidak mempengaruhi yield kristal yang dihasilkan, namun berpengaruh terhadap ukuran kristal. Pengadukan akan membuat ukuran kristal lebih kecil daripada tanpa pengadukan. Pengondisian seeding dapat menaikkan yield kristal sekitar 10,72 – 27,13 % jika dibandingkan dengan non seeding dikarenakan terjadinya heterogeneous nucleation. Berdasarkan analisa XRD, kristal CuSO4.5H2O hasil percobaan sesuai dengan data standard XRD kode referensi 01-072-2355.
Ekstraksi Minyak Atsiri Dari Akar Wangi Menggunakan Metode Steam - Hydro distillation dan Hydro distilation dengan Pemanas Microwave Hanief, Maulana M Al; W, Halim Al Mushawwir; mahfud, mahfud
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.005 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh minyak atsiri dari akar wangi dengan modifikasi metode steam-hydro distillation dan hydro distillation yaitu menggunakan pemanasan microwave kemudian membandingkan hasilnya dengan penelitian sebelumnya. Modifikasi ini diharapkan lebih efisien dalam masalah lama penyulingan dan kualitas serta kuantitas rendemen minyak yang lebih baik dan banyak. Penelitian ini menggunakan dua metode yaitu steam-hydro distillation dan hydro distillation dengan pemanfaatan gelombang mikro. Bahan baku yang digunakan dalam penelitian adalah akar wangi jenis pulus wangi yang tumbuh di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Variabel yang digunakan adalah bahan baku yang dicacah dan bahan baku utuh dengan variasi massa bahan 50 gr, 60, gr, 70 gr, 80 gr, dan 90 gr dengan pelarut air sebanyak 450 ml dalam labau distiller berukuran 1000 ml. Lama penyulingan adalah lima jam dengan pengamatan tiap 30 menit serta daya yang digunakan adalah 400 Watt. Analisa terhadap hasil minyak atsiri yang diperoleh antara lain analisa GC-MS, spesific gravity, indeks bias, dan bilangan asam. Hasil dari penelitian ini dibandingkan dengan hasil penelitian terdahulu yang tidak memanfaatkan gelombang mikro. Dari hasil penelitian diperoleh % rendemen kumulatif, sifat fisik, sifat kimia, dan kandungan komponen minyak dari metode steam-hydro distillation lebih baik dibandingkan metode hydro distillation ditandai dengan kuantitas dan kualitas yang sesuai dengan SNI.  Sementara itu jika dibandingkan dengan metode terdahulu dapat disimpulkan bahwa penggunaan gelombang mikro lebih efisien dalam waktu dan kuantitas serta kualitas minyak yang lebih baik dibandingkan tanpa penggunaan gelombang mikro
Pengambilan Minyak Atsiri dari Bunga Kenanga Menggunakan Metode Hydro-Distillation dengan Pemanas Microwave Setyawan, Moch. Aris; Zakariyya, Mohammad; mahfud, mahfud
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.43 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proses penyulingan minyak kenanga dengan menggunakan metode Hydro-distillation dengan pemanas microwave. Selain itu, juga untuk mempelajari beberapa faktor yang berpengaruh seperti kondisi operasi daya microwave, rasio massa bahan terhadap pelarut air, dan kondisi bunga segar atau layu. Metode pemisahan minyak atsiri yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Hydrodistillation dengan pemanas microwave dalam keadaan atmosferik. Pertama-tama sampel bunga segar (S) dan bunga layu (L) yang telah dirajang dimasukkan ke dalam labu distiller bervolume 1000 mL sebanyak 100, 150, dan 200 gram untuk sampel bunga segar dan layu. Kemudian ditambahkan 300 mL aquades, sehingga rasio massa terhadap volume distiller yang digunakan berturut-turut adalah 0,4; 0,45; dan 0,5. Kondensor dialiri dengan air dan mulai dilakukan pemanasan menggunakan alat microwave pada daya 264, 400, dan 600 Watt. Proses pemisahan dilakukan selama 180 menit dengan pengamatan setiap 20 menit. Pada setiap pengamatan akan diperoleh minyak atsiri dan air distilat. Air distilat dimasukkan kembali ke dalam labu distiller dengan volume secukupnya untuk merendam bunga yang masih didalam labu. Sedangkan, minyak atsiri yang diperoleh ditampung dan diukur volume serta massanya, dan disimpan di dalam botol kecil. Dari hasil penelitian diperoleh data % rendemen, dan sifat fisik minyak kenanga berupa specific gravity, indeks bias, bilangan asam dan kadar β-caryophyllene dalam minyak kenanga. Dan dari data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa (1) metode Microwave Hydro distillation dapat digunakan untuk mengambil minyak atsiri dalam bunga kenanga, (2) minyak kenanga yang dihasilkan melalui metode Microwave Hydrodistillation memiliki properti fisik (indeks bias, specific gravity, dan bilangan asam) yang memenuhi SNI, (3) bunga kenanga segar memiliki % rendemen lebih besar daripada bunga layu, dan (4) untuk mendapatkan % rendemen yang maksimum, rasio yang tepat antara masa bahan beserta pelarut dibandingkan dengan volume distiller adalah 0,4 dengan daya 400 watt.
Proses Pengambilan Minyak Atsiri Dari Daun Nilam Dengan Pemanfaatan Gelombang Mikro (Microwave) Hernawati, Novita Setya; Budiarti, Aprilia; Mahfud, Mahfud
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.938 KB)

Abstract

Minyak daun nilam merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang sering juga disebut dengan minyak eteris atau minyak terbang. Proses pembuatan minyak daun nilam  dapat dilakukan dengan destilasi air, destilasi uap-air dan destilasi uap. Untuk menaikkan harga jual minyak atsiri dan mengoptimalkan potensi minyak atsiri, maka perlu dilakukan usaha untuk menaikkan mutunya sehingga sesuai dengan standart mutu (SNI). Salah satu cara adalah memperbaiki teknik destilasi dan memperbaiki kondisi operasi agar proses distilasi dapat menghasilkan minyak atsiri dengan standart mutu yang berlaku. Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan gelombang mikro (microwave), pertama daun nilam sebanyak 100 gram ditambahkan pelarut atau steam untuk variabel daun kering,untuk daun kering di labu distilasi  II diberi steam dari labu distilasi I yang bersuhu 100oC dan tekanannya ± 1 atm yang dialirkan ke labu distilasi II, sedangkan untuk daun  kering dengan penambahan pelarut kemudian memanaskan labu destilasi yang berisi daun nilam dengan mengatur daya pemanas dan suhu pada proses distilasi sesuai dengan variabel yang ditentukan. Kemudian menampung destilat dan memisahkan air dengan minyak menggunakan corong pemisah kemudian minyak disimpan ke dalam freezer, kemudian menganalisa minyak yang dihasilkan. Dari hasil penelitian diperoleh %rendemen minyak yang dihasilkan dengan menggunakan MDP lebih besar daripada menggunakan MDS untuk daun nilam utuh maupun daun nilam cacah (±2cm). Perlakuan daun cacah (±2cm) lebih baik secara kuantitas dibandingkan dengan perlakuan daun utuh. Dan % pactchouli alcohol pada daun nilam cacah lebih besar dibandingkan dengan daun nilam utuh.
Pembuatan Biodiesel Secara Batch Dengan Memanfaatkan Gelombang Mikro (Microwave) Putra, Rhesa Purnama; Wibawa, Gria Armando; Priharini, Pantjawarni; Mahfud, Mahfud
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.714 KB)

Abstract

Biodiesel merupakan bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak nabati, baik minyak baru atau bekas penggorengan melalui proses transesterifikasi, esterifikasi, atau proses esterifikasi-transesterifikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat biodiesel dari minyak goreng secara batch melalui proses transesterifikasi dengan menggunakan radiasi mikrowave serta mempelajari berapa daya dan waktu optimal yang diperlukan untuk proses pembuatan biodiesel dengan radiasi microwave dengan katalis CaO, H2SO4, dan tanpa katalis. Dalam penelitian ini digunakan tiga variabel, yaitu daya (Watt);100,200,300,400, waktu (menit); 5,10,15,20 dan jenis katalis; CaO, H2SO4, dan tanpa katalis. Pada tahap persiapan menghitung volume minyak dan metanol yang akan dicampur. Kemudian mencampurnya didalam reaktor. Lalu mendinginkan campuran hingga terbentuk dua lapisan atas dan bawah dilanjutkan dengan melakukan pemisahan lapisan atas (biodiesel) dari lapisan bawah (gliserol). Adapun pada tahap analisis, biodiesel hasil reaksi transesterfikasi dianalisa untuk mendapatkan data yield metil ester, densitas, viskositas, dan flash point. Dari penelitian diketahui bahwa hasil yang didapatkan masih belum dapat memenuhi standar biodiesel yang ditetapkan. Katalis CaO dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan katalis H2SO4 dan tanpa katalis. Kondisi operasi untuk menghasilkan kualitas yield biodiesel terbaik yaitu pada daya 200 Watt selama 20 menit dengan menggunakan katalis CaO. Yield biodiesel terbesar didapatkan yield sebesar 60,11 %.
Pembuatan Nitroselulosa dari Kapas (Gossypium Sp.) dan Kapuk (Ceiba Pentandra) Melalui Reaksi Nitrasi Pramunditta, Bayu Erlangga; Tafdhila, Ilman; Mahfud, Mahfud; Prihatini, Pantjawarni
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.895 KB)

Abstract

Saat ini pemanfaatan kapas dan kapuk masih terbatas penggunaannya dan seiring dengan berkembangnya teknologi yang ada saat ini penggunaan kapas dan kapuk mulai sering banyak yang ditinggalkan. Oleh karena hal tersebut perlu dipikirkan kembali penggunaan kapas dan kapuk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomis yang lebih tinggi, diantaranya memanfaatkannya untuk pembuatan nitroselulosa. Tulisan ini menerangkan tentang pengaruh bahan baku selulosa pada proses pembuatan nitroselulosa dari bahan selulosa kapas dan kapuk dengan reaksi nitrasi, yang kedua pengaruh waktu reaksi, suhu reaksi, dan komposisi larutan asam terhadap kualitas nitroselulosa yang dihasilkan, dan yang ketiga perbandingan kualitas nitroselulosa yang dihasilkan dari selulosa kapas dan dari selulosa kapuk. Pada penelitian ini dibagi dalam dua tahapan yaitu tahap pembuatan nitroselulosa dan tahap pengujian ratio %nitroselulosa yang diperoleh dan kandungan gugus nitro dalam nitroselulosa. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah diketahui bahwa bahan baku selulosa kapas menghasilkan % rasio nitroselulosa produk lebih besar apabila dibandingkan dengan % rasio yang dihasilkan oleh bahan baku selulosa kapuk. %Rasio nitroselulosa dari bahan kapas adalah 20-50%, sedangkan untuk bahan kapuk adalah 6-30%.  Untuk menghasilkan gugus nitro yang paling banyak, pada variabel kapas diperlukan waktu reaksi 30 menit, suhu reaksi 15OC, dan komposisi campuran asam H2SO4 60 ml dan HNO3 45 ml. Sedangkan untuk variabel kapuk, untuk menghasilkan gugus nitro yang paling banyak, pada variabel kapas diperlukan waktu reaksi 60 menit, suhu reaksi 5OC, dan komposisi campuran asam H2SO4 60 ml dan HNO3 30 ml.
Analisa Pengaruh Variasi Tanggem Pada Pengelasan Pipa Carbon Steel Dengan Metode Pengelasan SMAW Dan FCAW Terhadap Deformasi Dan Tegangan Sisa Menggunakan Analisa Pemodelan Elemen Hingga Mahfud, Mahfud; Soeweify, Soeweify
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.197 KB)

Abstract

Salah satu yang mempengaruhi deformasi dan tegangan sisa pada pengelasan pipa adalah pemasangan tanggem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deformasi dan tegangan sisa pada pengelasan pipa carbon steel dengan variasi pemasangan tanggem. Dilakukan analisa pemodelan ANSYS yang hasilnya divalidasikan dengan hasil pengujian. Pengujian pada penelitian ini menggunakan pipa carbon steel SA 106 grade B schedule 40 dengan las kombinasi SMAW dan FCAW yang mengacu pada WPS dari pihak galangan kapal. Analisa pemodelan menggunakan elemen hingga dengan memvariasikan pemasangan tanggem, yaitu: pengelasan pipa tanpa tanggem, pengelasan pipa dengan 2 tanggem, dan pengelasan pipa dengan 4 tanggem. Dari analisa didapatkan pengelasan pipa dengan pemasangan tanggem berdasarkan tegangan sisa yang paling kecil, yaitu: pada variasi pengelasan pipa dengan 2 tanggem. Pada pengelasan pipa diameter 10 inches dengan 2 tanggem nilai deformasi total dan tegangan sisa adalah 0.193 mm dan 79.9 Mpa, pada pengelasan pipa diameter 12 inches dengan 2 tanggem nilai deformasi total dan tegangan sisa adalah 0.184 mm dan 74.9 Mpa.
Pengambilan Minyak Atsiri dari Daun dan Batang Serai Wangi (Cymbopogon winterianus) Menggunakan Metode Distilasi Uap dan Air dengan Pemanasan Microwave Feriyanto, Yuni Eko; Sipahutar, Patar Jonathan; Mahfud, Mahfud; Prihatini, Pantjawarni
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.385 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proses pengambilan minyak serai wangi (Citronella oil) dari daun dan batang serai wangi dengan metode distilasi uap dan air dengan pemanasan microwave dan membandingkan hasil yang didapatkan dengan penelitian terdahulu yaitu hydro distillation dan steam distillation kemudian mempelajari beberapa faktor yang berpengaruh terhadap rendemen dan mutu  minyak serai wangi yang dihasilkan seperti pengaruh kondisi bahan (segar dan layu) dari daun dan batang serai wangi, pengaruh perlakuan bahan (utuh dan dicacah ± 2 cm), pengaruh bagian dari serai wangi (daun dan batang) serta pengaruh suhu operasi (100 °C, 105 °C dan 110 °C). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode distilasi uap dan air (steam and hydro distillation) dengan pemanasan microwave. Dalam pemanfaatan microwave akan ditambahkan pelarut berupa air untuk mengambil minyak di dalam daun dan batang serai wangi serta dilakukan pengambilan distilat tiap 20 menit. Kondisi operasi untuk metode ini adalah pada massa 200 gram dan tekanan atmosferik. Dari hasil penelitian didapatkan % rendemen minyak serai wangi yang tinggi pada variabel daun adalah pada daun layu cacah pada suhu 110 ℃ dengan % rendemen sebesar 1,52 % dan untuk batang adalah pada batang layu cacah pada suhu operasi 110 ℃ dengan % rendemen sebesar 1,03 %. Kandungan Citronella yang tinggi pada daun adalah saat kondisi daun segar sebesar 67,36 % dan pada batang saat kondisi batang layu sebesar 85,73 %. Densitas minyak serai wangi untuk daun pada range 0,872 – 0,882  gram/cm3 dan untuk batang pada range 0,862 – 0,877 gram/cm3. Nilai indeks bias untuk daun pada range 1,415 – 1,472 dan pada batang pada range 1,415 – 1,438. Nilai bilangan asam untuk daun pada range 2,805 – 3,366 dan pada batang pada range 3,086 – 3,647.
Pengambilan Minyak Atsiri dari Kulit Jeruk Segar dan Kering dengan Menggunakan Metode Steam Distillation Muhtadin, Ahmad Fathur; Wijaya, Ricky; Prihatini, Pantjawarni; Mahfud, Mahfud
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.998 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah membandingkan rendemen dan mutu citrus oil yang didapat dari bahan baku kulit jeruk manis dan kulit jeruk purut yang segar dan kering dengan metode steam distillation. Kulit jeruk yang digunakan jenisnya adalah kulit jeruk manis dan kulit jeruk purut. Massa kulit yang digunakan adalah 200, 300, 400, dan 500 gram.  Untuk steam distillation dilakukan proses ekstraksi selama 7 jam (pengambilan destilat tiap 1 jam). Kondisi operasi metode ini adalah pada temperatur 100oC dan tekanan 1 atm. Untuk kulit jeruk segar MC (Moisture Content) > 66%. Kulit jeruk yang dikeringkan dalam oven (400C) selama 12 jam (43%<MC<66%) dan selama 24 jam (MC < 43%). Analisa yang dilakukan yaitu analisa %limonene dan %β-pinene dengan GCMS serta analisa SEM. Dari data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa pre-treatment pengeringan dapat meningkatkan hasil rendemen citrus oil yang didapat. Untuk minyak kulit jeruk manis yang segar, dikeringkan 12 jam, dan dikeringkan 24 jam didapat rendemen sebesar 0,58 sampai dengan 0,62%; 0,59 sampai dengan 1,05%; 0,65 sampai dengan 0,88%. Kualitas minyak kulit jeruk yang didapat mengalami peningkatan seiring dengan adanya pre-treatment dengan pengeringan oven. Kadar limonene pada minyak kulit jeruk manis yang segar, dikeringkan 12 jam, dan dikeringkan 24 jam didapatkan dengan nilai 93,39%; 97,57%; 95,32%.
Co-Authors A. Suryanto A. Suryanto, A Suryanto Achmad Roesyadi Adi Winarto Adly Rahmada Admiralia, Cininta Adrianto Prihartantyo Ahmad Fathur Muhtadin Ainal Hadi Ali, M. Tawil Made Amelia, Prilia Dwi Aprilia Budiarti Arifah, Nurcahyanti Ayong Ziyaul Haq Bayu Erlangga Pramunditta Chairun Nisa Dahlan Ali Daniswara, Edwin Fatah Daru Satria Prayanto, Daru Satria Dasa Ismaimuza Devita Dian.L, Devita Efendi Efendi Fadli, Maulana Arif Farsia, Lena Fatih Ridho Muhammad Fatina Anesya Listyoarti Fikri Fikri Fitria Fatmawati Fitrony Fitrony Gilang Ramadhan Ginanjar, Mohamad Gita Shintavia Gria Armando Wibawa Halim Al Mushawwir W Handoko, Lutvianto Pebri Hidayanti, Nur Husodo, F. Ilman Tafdhila Indriyaswati, A. Intan Triana Chintiyatmi, Intan Triana Iwan Iwan Jazilah, Rahmawati Kusuma, Heri Septya Kusuma, Heri Septya Kusuma, Heri Septya La Ifa Lailatul Qadariyah Lidya Linda Nilatari Machfoedz, Ircham Malik, Ibnu Maulana M Al Hanief Mintarto, A. Moch. Aris Setyawan Mohammad Zakariyya Muhammad Salahudin, Muhammad Muharani, Sri Mujibussalim Mujibussalim Mukhlis Mukhlis Novita Setya Hernawati Nurlela Nurlela Pantjawarni Priharini Pantjawarni Prihatini Parasandi, Defina Patar Jonathan Sipahutar Patsun, Patsun Putra, Muhammad Gempa Awaljon Putri Pramodya Rahmaniah Malik Rakhmi, Ida Tutia Retno Hartati Rhesa Purnama Putra Ricco Aditya S. W, Ricco Ricky Wijaya Rismawati - Rasyid, Rismawati - Rismawati Rasyid Rizanizarli, Rizanizarli Rizqy Fauzi Rohadi, Taufik Imam Safetyllah Jatranti Sanusi Bintang Selfina Gala Soeweify Soeweify Sudrajat, Robby Ginanjar Margo Sumarno Sumarno Suprapto Suprapto Susanto, David Febrilliant Susiana Susiana Susianto Susianto Syahbandir, Syahbandir Syahputra, Mahmud Erfandi Syamsul Bahri Tarmizi Tarmizi Triesty, Isabel Variyana, Yeni Walidin, Bahrul Wardah Wardah Widianingsih Widianingsih Wildan Habibi Yuni Eko Feriyanto Yuyun Yuniati Zakiri, Zia Zulpahiyana, Zulpahiyana