Angger Sukma Mahendra
Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

CONDITION OF URBAN PHYSICAL ELEMENT IMPACT ON LAND SURFACE SUBSIDENCE IN PANGLIMA SUDIRMAN CORRIDOR, SURABAYA Mahendra, Angger Sukma; Handoko, Eko Yuli; K, Akbar
Journal of architecture&ENVIRONMENT Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (810.619 KB) | DOI: 10.12962/j2355262x.v12i1.a557

Abstract

Surabaya is the second largest city in Indonesia and has been categorized as a metropolitan. The development of Surabaya is quite fast in terms of physical development. That condition can be observed from the number of high rise buildings at the city centre corridors. One of the corridors in Surabaya city centre is Jalan Pang-lima Sudirman. The corridor is a high density mixed-used area, dominated by commercial and service such as office retails and hotels. From the measurement, it was found that land subsidence happened at Jalan Panglima Sudirman which in the future will impact on environmental physical condition at the location. Therefore, observation of certain items mainly related to urban physical element impact on land subsidence was important. The result expected is the visibility of urban physical element impact in land subsidence at the corridor of Jalan Panglima Sudirman Surabaya.
OPEN BUILDING CONCEPT FOR FISHERMAN HOUSING ON THE NORTH COASTAL SURABAYA Defiana, Ima; Mahendra, Angger Sukma
DIMENSI (Journal of Architecture and Built Environment) Vol 44, No 1 (2017): JULY 2017
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.9744/dimensi.44.1.15-20

Abstract

One of global warming impacts is sea levels rising. Fisherman settlements on the North coastal Surabaya  is one of built enviromment that is affected by the threat from sea levels rising. Addtionally, this settlements faces severeal environmental problems including slums and housing density. Yet, this paper is limited only discussed the influence of fish processing activity area with the minimum housing area. The aim of study provides an alternative solution to these problems and to achieve feasible and sustainable fisherman settlements.  The descriptive qualitative is used as a research method. The field survey was used to obtain data for design concept supports. Results shows the current location has still fit as fisherman settlement, then the open building concept is proposed to redesign fisherman housings.  This design concept offers two aspects, namely adaptation and flexibility. The result shows that the concept of a vertical single housing unit in which  is owened by single (one) family, which is fit with the limited area, approximately 28 square meters.
Desa Wisata Sebagai Desa Relokasi Dengan Prinsip Simbiosis Begin, Die Tia; Mahendra, Angger Sukma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.936 KB)

Abstract

Peristiwa meletusnya gunung berapi seringkali diikuti dengan kerusakan yang terjadi pada daerah sekeliling gunung api tersebut. Salah satunya adalah pemukiman dan perkebunan warga yang ada di sekitar gunung. Kerusakan ini sering kali sangat parah sehingga wilayah ini tidak dapat lagi dihuni, oleh karena itu dibutuhkan sebuah pemukiman relokasi untuk warga. Seperti yang terjadi pada pemukiman di sekitar Gunung Sinabung. Maka ditetapkan lah sebuah area relokasi di Siosar. Dimana setelah dilihat, ternyata wilayah ini memiliki potensi untuk dijadikan sebagai desa wisata. Perancangan desa relokasi yang juga merupakan desa wisata tentu saja memerlukan beberapa penyesuaian, karena pasti ada hal-hal yang bertentangan dan harus saling bersanding dalam objek rancang. Dengan demikian perancang merasa bahwa prinsip rancang Simbiosis oleh Kisho Kurokawa tepat digunakan dalam objek rancang. Dengan prinsip rancang ini diharapkan didapatnya rancangan yang baik dan dapat memberikan kenyamanan baik baik penduduk maupun bagi wisatawan yang berkunjung ke desa ini.
Arsitektur Pasar dan Manusia sebagai Penggerak Peradaban Kota Ibrahim, Rizky Maulana; Mahendra, Angger Sukma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.612 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.34439

Abstract

Arsitektur dan manusia sama sekali tidak dapat dipisahkan. Meskipun arsitektur dibentuk oleh manusia sedemikian rupa, tetapi secara tidak sadar arsitektur juga membentuk dimensi berfikir dan pola berperilaku manusia itu sendiri. Mereka adalah sebuah paradoksial yang akan terus berlanjut, dimana arsitektur itu ada karena manusia dan manusia itu ada karena arsitektur. Hubungan mereka sangat sinergis dalam menciptakan suatu peradaban dimasa lampau yang dapat dirasakan saat ini, bahkan hingga masa mendatang. Namun keegoisan manusia dewasa ini, tidak lagi memperdulikan keberadaan arsitektur yang mempunyai pengaruh penting dalam kehidupan manusia. Sehingga arsitektur diciptakan hanya sekedar variabel fisik (alat guna), yang kemudian akan berdampak buruk dalam tatanan kehidupan sosial yang cenderung individualis. Bercermin dari semua itu, re-design Pasar Tradisional Puri Pati dengan pendekatan synomorphy adalah untuk memicu adanya interaksi antar pengguna dan bangunan. Adapun metode riset menggunakan behavior mapping untuk menganalisa data dan fakta-fakta yang terjadi pada lapangan melalui pemetaan perilaku dan metode perancangan menggunakan teori Architectural programing untuk mempermudah alur berfikir dalam menentukan permasalahan desain yang kemudian ditarik menjadi perwujudan kriteria konsep desain. Sehingga perancangan dapat menjadi triger dalam menciptakan keberadaan arsitektur yang akan mengembalikan harmonisnya kehidupan sosial yang arif dan humanis.
Penerapan Healing Architecture dengan Konsep Slow Living dalam Perancangan Ruang Publik Pereda Stres Ruspandi, Adinda Aprilia Kirana; Mahendra, Angger Sukma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2354.881 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33492

Abstract

Fast Paced Life atau biasa disebut dengan hidup-serba-cepat adalah gaya hidup dengan aktivitas padat dan terus menerus. Fast Paced Life dapat mendorong stimulasi berlebih dan overscheduling, yang menjadi stres kronis yang menyebabkan emosi dan kebiasaan yang tidak stabil. Usulan objek disain adalah ruang publik yang dapat meredakan stress masyarakat Serpong akibat fast paced life. Peranan bangunan ruang publik adalah membantu penyembuhan dari sisi psikologis atau pengobatan non medis yang menggunakan pendekatan prinsip-prinsip desain yang diterapkan pada objek. Fungsi bangunan sebagai ruang publik pereda stres akibat fast paced life maka diterapkan pendekatan healing architecture dan slow living pada obyek desain. Healing architecture merupakan sebuah pendekatan dimana tujuan utama dari penggunaanya adalah untuk membantu menyembuhkan pengguna dengan konsep pembentukkan lingkungan perawatan yang memadukan aspek fisik serta psikologis pasien di dalamnya yang bertujuan untuk mempercepat proses penyembuhan. Sedangkan slow living merupakan sebuah gaya hidup yang dengan tempo lambat dan lebih mengutamakan kualitas waktu. Gaya hidup tersebut bertolak belakang dengan gaya hidup fast paced life. Obyek desain menggunakan pola lingkaran sebagai acuan dalam proses mendesain. Sebuah eksperimen menunjukkan bahwa curve atau melengkung dapat memperlambat tempo kecepatan manusia saat berjalan. Oleh karena itu lingkaran dipilih menjadi pola acuan saat mendesain karena semua sisi lingkaran merupakan curve atau melengkung. Obyek desain akan menggabungkan karakteristik mall (community mall) dan ruang publik. Community mall terdiri dari beberapa massa bangunan yang dihubungkan dengan jalan setapak. Karakteristik ini lah yang akan diterapkan pada obyek desain.
Redesain Rumah Potong Hewan: Persepsi pada Batas Ruang Urfansyah, Faliq; Mahendra, Angger Sukma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.173 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33736

Abstract

Penggunaan pendekatan persepsi pada batas ruang RPH merupakan konsep yang digunakan untuk memisahkan antara dua jenis ruang di dalam bangunan utama RPH. Dengan menggunakan pendekatan ini maka optimasi lahan bisa dilakukan dengan penggabungan bangunan utama dari kedua RPH sehingga dapat meminimalkan kebutuhan lahan untuk bangunan utama. Pemisah antara kedua ruang yang dibuat oleh batas menjadi kunci utama dalam desain yang memungkinkan konsep lain dapat diterapkan menjadi sebuah desain dalam kompleks RPH. Dalam penerapannya, batas yang memisahkan kedua ruang ini menghadapi permasalahan berupa aturan yang sudah ditetapkan dalam persyaratan rumah potong hewan ruminansia dan unit penanganan daging (meat cutting plant), dari Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 13/PERMENTAN/OT.140/1/2010 yang mensyaratkan terpisahnya secara fisik RPH babi dari lokasi kompleks RPH hewan lain atau dibatasi dengan pagar tembok dengan tinggi minimal 3 (tiga) meter untuk mencegah lalu lintas orang, alat dan produk antar rumah potong. Berdasarkan peraturan ini maka dibutuhkan desain batas yang dapat memisahkan kedua ruang dalam satu bangunan utama dengan pertimbangan aturan tersebut. Cara yang digunakan untuk membuat desain batas seperti yang diharapkan adalah dengan membuat batas yang berwujud fisik sebagai pemisah, namun dengan kedua ruang yang dibatasi ini tidak dipersepsikan sebagai dua bagian bangunan yang berbeda dalam satu bangunan tersebut. Metode yang digunakan dalam redesain RPH ini adalah revealing architectural design oleh Philip D. Plowright yang berdasar pada pendekatan ilmu arsitektur ataupun diluar itu dengan kerangka berpikir yang jelas. Jenis kerangka berpikir yang diaplikasikan pada redesain RPH adalah concept-based framework yang menggunakan ide utama sebagai pusat dari semua konsep yang dibuat pada desain. Dengan pendekatan persepsi batas sebagai kunci konsep, maka ide utama dan konsep lain dapat diaplikasikan dalam desain. Konsep-konsep ini terdiri dari tiga konsep utama, yaitu penambahan fasilitas, perubahan tata letak, dan aplikasi dari batas dengan persepsi yang dibuatnya.
Metode Hybrid dalam Perancangan Terminal Kampung Melayu Jatinegara, Jakarta Timur Ardan, Muhammad Nuril; Mahendra, Angger Sukma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26453

Abstract

Kota dengan segala perkembangannya menarik orang dengan segala etnis, suku dan budayanya untuk hijrah dari desa ke kota. Hal ini menjadikan komposisi kota semakin heterogen dan beragam. Heterogenitas inilah yang kemudian secara tidak langsung menciptakan “batasan” (red. Segregasi) antar kelompok tertentu (dalam hal ini etnis) dalam kawasan perkotaan. dan hal ini pula yang memungkinkan terjadinya konflik perkotaan. Heterogenitas perkotaan perlu di biaskan (red. Agregasi). Agar kota tetap kondusif dengan segala kompleksitasnya. Dengan menggunakan pendekatan ruang dan aktivitas manusia yang beragam karakteristik etnis, diharapakan batasan-batasan tersebut akan terbiaskan. Melalui arsitektur yang berorientasi pada penyelesaian permsalahan sosial, perancangan pasar dan terminal sebagai ruang interaksi di masyarakat menjadi bagian dari respons segregasi. Dengan pendekatan agregasi dan penyelesaian melalui metode hybrid, rancangan arsitektur diupayakan menjadi rancangan yang interaktive dan bermanfaat
Teritorialitas: Kantor dan Apartemen sebagai Ruang Interaksi Feminisme Puspita, Dewinna Farah; Mahendra, Angger Sukma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26735

Abstract

Arsitektur hadir sebagai problem solving yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup bagi penggunanya. Menjadi makhluk sosial yang dikodratkan untuk bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain diartikan bahwa manusia selalu membutuhkan orang lain. Interaksi sosial secara langsung merupakan salah satu cara untuk membuat manusia saling terkoneksi satu sama lain. Dalam berinteraksi, manusia memiliki ruang personal masing-masing, salah satu faktor yang mempengaruhi besar maupun kecil dari jarak ruang personal adalah jenis kelamin. Gerakan feminisme menunjukkan kebutuhan ruang personal wanita yang lebih besar dari pria, namun dengan tidak mengesampingkan kebutuhan interaksi sosial sebagai makhluk sosial. Edward T. Hall menuliskan hubungan antara manusia dengan ruang, menurut beliau salah satu perasaan kita yang penting mengenai ruang adalah perasaan teritorial. Perasaan ini memenuhi kebutuhan dasar akan identitas diri, kenyamanan dan rasa aman pada pribadi manusia. Dengan menggunakan pendekatan feminisme dan teritorialitas objek dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup wanita serta dengan menggunakan metode rancang geometry as authorities.
Geometri Sebagai Pengaruh Dalam Desain Bentuk Jalur Sepeda Pertiwi, Ledi Yuliawati; Mahendra, Angger Sukma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.27354

Abstract

Arsitektur muncul dari kebutuhan akan ruang dan kenyamanan visual penggunanya. Kenyamanan visual mencakup interior dan eksterior pada rancangan sebuah bangunan. Geometri sebagai salah satu bentuk yang sering diterapkan dalam arsitektur. Sejauh ini, seringkali publik menilai sebuah desain bangunan dari bentuk luarnya saja. Geometri dalam arsitektur apakah hanya sebatas itu saja? Kota Bengkulu merupakan kota yang sedang berkembang dalam segi apapun salah satunya arsitektur. Mengangkat permasalahan mengenai indeks kebahagiaan masyarakat kota kini menjadi salah satu faktor yang menjadi acuan untuk menentukan perkembangan suatu daerah. Dalam sebuah buku Happy City salah satu cara untuk meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat adalah dengan membangun sebuag ruang publik. Survey menunjukkan hasil bahwa kegiatan bersepeda merupakan kegiatan yang sering dilakukan oleh masyarakat kota Bengkulu, namun sangat di sayangkan belum adanya tempat untuk melakukan kegiatan tersebut dengan aman dan nyaman. Dalam mendesain objek arsitektur ini, perancangan melewati proses seperti analisa survey keseharian masyarakat dan menerapkan metode geometri dalam perancangan. Tujuannya ialah menghadirkan Taman Sepeda sebagai tempat yang dapat kemampuan dalam konsentrasi, keseimbangan serta kemampuan sensorik dan motorik akan terstimulasi.