Eni Mahawati
Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

STRESS KERJA DAN KESELAMATAN PADA PEKERJA SEKURITI DI PT. TELKOM DCSS IV JAWA TENGAH DAN DIY SEMARANG Pusparini, Indah; Mahawati, Eni
VISIKES Vol 12, No 1 (2013): Visikes
Publisher : VISIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.09 KB)

Abstract

Stres merupakan isu penting dalam kaitannya dengan produktivitas karyawan. Stres yang dialami oleh karyawan dapat bervariasi antara satu karyawan dan karyawan lain karena stresadalah proses persepsi individu. Keamanan Dan Keselamatan (SAS) karyawan dibagi dalam dua shift selama 12 jam dan kadang-kadang mereka harus bekerja lembur karena ada banyak pekerjaan dan harus selesai tepat waktu.Penelitian ini merupakan penelitian Explanatory dengan rancangan studi Cross Sectional. Populasi dan sampel adalah seluruh Keamanan Dan Keselamatan (SAS) karyawan yang 54 orang. Uji statistik yang digunakan adalah uji korelasi Pearson.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 31-40 tahun (38,8 %), 51,9 % telah bekerja selama 1-4 tahun, permintaan peran dalam kategori sedang 72,2 %,struktur organisasi di kategori 68, 5 %, stres kerja dalam kategori rata-rata 68,5 %. Hasil dari uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa ada hubungan antara usia dan stres kerja (p value 0,043< 0,05) dengan r 0903. Ada korelasi antara masa kerja dan stres kerja (p value 0,017 < 0,05) dengan r 0505. Ada korelasi antara permintaan peran dan stres kerja (p value 0,000 <0,05) dengan r 0633. Ada korelasi antara struktur organisasi dan stres kerja (p value 0,006 < 0,05) dengan r 0371.Disarankan untuk kepala Keamanan Dan Keselamatan (SAS) departemen untuk tidak memberikan tugas berlebihan pada karyawan ditempat kerja.Kata kunci : stres kerja, pekerja keamanan
PERBEDAAN KAPASITAS VITAL PARU KARYAWAN BERDASARKAN KONSENTRASI PARTIKULAT PM DI UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG Nugroho, Rizkiawan Adi; Mahawati, Eni; Hartini, Eko
VISIKES Vol 12, No 2 (2013): Visikes
Publisher : VISIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.799 KB)

Abstract

Kualitas udara partikulat PM2,5 di lingkungan kerja akan berpengaruh terhadap konsentrasi debu dan akhirnya mempengaruhi kapasitas vital paru karyawan. Berdasarkan penelitian sebelumnya oleh AQM pada tahun 2011 dengan sampel di Universitas Dian Nuswantoro Semarang, rata-rata konsentrasi PM2,5 di ruang dosen Fakultas Teknik adalah 23,23 μg/m3, Fakultas Kesehatan 27,55 μg/m3, Fakultas Komputer 113,11 μg/m3 dan TVKU 51,42 μg/m3. Hasil ini menunjukkan bagaimana tingkat PM2.5 sebagai salah satu partikulat mampu menyusup ke paru-paru dan mengganggu nilai kapasitas vital paru-paru. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui perbedaan kapasitas vital paru-paru karyawan berdasarkan konsentrasi partikulatPM2,5 di Universitas Dian Nuswantoro Semarang.Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan metode observasi dan pengukuran kapasitas vital paru dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan adalah 34karyawan UDINUS yang memenuhi kriteria inklusi. Uji statistik untuk menentukan perbedaan antara variabel bebas dengan variabel terikat adalah uji Mann-Whitney.Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi kapasitas vital paru-paru responden masing-masing kategori, yaitu Restriksi Berat 11,8 %, 35,3 % Restriksi Sedang,Restriksi Ringan 14,7% dan normal 38,2%. Sedangkan konsentrasi PM2,5 memenuhi satandar 32,4% dan tidak memenuhi standar 67,6%. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kapasitas vital paru yang signifikan bagi karyawan yang berada di tempat kerja dengan kualifikasi konsentrasi PM2,5 memenuhi standar dan tidak memenuhi standar nilai p = 0.938.Dari hasil penelitian, diketahui bahwa tidak ada perbedaan kapasitas vital paru karyawan berdasarkan konsentrasi PM2,5 di tempat kerja. Dianjurkan agar pemeriksaan konsentrasiPM2,5 dan kapasitas vital paru karyawan dilakukan secara bersamaan. Disarankan untuk melakukan pengukuran konsentrasi PM2,5 pada ruangan yang beresiko tinggi terpapar debu dan asap rokok.Kata kunci : kapasitas vital paru-paru, Particulate PM2,5
EFEKTIFITAS PENYULUHUAN TERHADAP SANITASI WARUNG MAKAN DI SEKITAR UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG Mahawati, Eni
VISIKES Vol 11, No 1 (2012): Visikes
Publisher : VISIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.498 KB)

Abstract

Background: The rise of food stalls on campus culminated in the emergence of a variety of issues, among other health problems. In Central Java has started 21 events poisoning (2006), with the number of 1269 people, and 3 patients died. Based on data from DKK Semarang mentioned that the number of patients because of food poisoning in the city of Semarang in2006 reached an average of 21.95%. The results of the initial survey of 14 food vendors on campus UDINUS in the last 3 years (2008, 2009, 2010) showed about 45% have the knowledge, practices and the availability of sanitary hygiene compliance has not been good.Method: This is a “quasi experimental research” with “one group pre-post test design”. Using the observation method of data collection / survey with questionnaires. Purposive sample isdetermined, as many as 25 food stalls crowded. Processing and data analysis performed with SPSS for windows. Data were analized with “ Wilcoxon test “ to know about counseling effectiveness of food stall sanitation.Result: Based on the result of this research was known that there has been improvement of motivation, knowledge, awareness of hygiene and sanitation practices of food stalls target. Based on the results of data processing and analysis can be seen that the general sanitary conditions of hygiene that still needs to be fixed to respondents to the ideal standard sanitaryaspects of the washing, sanitizing processing and sanitary serving / food packaging.Conclusion: To optimize achieving certification stalls it is advisable need assessment for immediate assistance and facilitation to improved hygiene practices and improved sanitation facilities as a series of subsequent certification process that is well worthy of certification for food service businesses. In addition to do research on the number of germs as outcome of food hygiene and sanitation.Keyword : Food hygiene,Food sanitation,Food stalls, Counseling Effectiveness
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN NYERI PINGGANG PADA TENAGA KERJA BAGIAN PENGEMASAN INDUSTRI FARMASI TAMBAKAJI SEMARANG Farahwati, Hafni; Mahawati, Eni; Yuantari, MG Catur
VISIKES Vol 11, No 2 (2012): Visikes
Publisher : VISIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.287 KB)

Abstract

Latar Belakang : Keluhan nyeri punggung merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang disebabkan oleh aktivitas tubuh yang salah . Dari hasil studi, hampir semua pekerja sering mengeluhkan nyeri pinggang dengan berbagai macam intersitasnya dari yang ringan hingga berat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis hubungan antara usia, masa kerja, posisi dan fasilitas dengan keluhan nyeri pinggang pada pekerja industri kemasan farmasi di Tambakaji Semarang.Metode : Data dikumpulkan dengan Metode Survey dan Cross Sectional Study Design. 36 pekerja kemasan sebagai sampel diwawancarai dan diukur tingkat keluhan nyeri pinggangdengan pemeriksanaan klinis.Hasil : Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat hubungan antara umur ( p value: 0,000; r: 0,699 ) , masa kerja ( p value: 0,000 ; r : 0647 ) , posisi kerja ( p value : 0,11 ), fasilitas kerja ( p value: 0,013 ) dengan ringan kasus nyeri punggung bawah 13 responden (36,1 %) , 20 (55,6%) responden mengeluhkan nyeri pinggang dengan kategori sedang dan 3 (8,3%) responden dalam kategori berat.Kesimpulan : Penelitian ini terdapat hubungan antara usia, masa kerja, posisi kerja dan fasilitas kerja dengan keluhan nyeri pinggang pada pekerja industri kemasan farmasi diTambakaji Semarang.Kesimpulan: Saran bagi perusahaan, pekerja disediakan kursi dengan sandaran untuk memberikan kenyamanan selama duduk dan untuk menghindari kram otot, meja kerja harusmemenuhi kualifikasi ergonomis untuk membuat pekerja lebih mudah bekerja dan keranjang harus di tersusun rapi sehingga itu tidak mengganggu mobilitas kerja.Kata kunci : Keluhan nyeri pinggang, posisi kerja, fasilitas kerja
Analisis Penggunaan Handphone Saat Berkendara terhadap Potensial Kecelakaan Lalu Lintas pada Remaja di Semarang Mahawati, Eni; Prasetya, Jaka
Semantik Vol 3, No 1 (2013): Semantik 2013
Publisher : Semantik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.611 KB)

Abstract

Teknologi kenyamanan dan keamanan berkendara terus berkembang menyesuaikan kebutuhan dan kondisi terkini   di jalanan yang semakin ramai seiring meningkatnya mobilitas manusia. Hal ini berdampak pada semakin padatnya kendaraan   di jalan raya dan peningkatan risiko kecelakaan lalu lintas.  Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama kematian di kalangan anak muda, berusia 15-24  tahun.  Lebih dari 90% kematian  yang diakibatkannya terjadi di negara berpenghasilan rendah    dan menengah. Apabila tidak dilakukan pencegahan dan penanggulangan, kecelakaan lalu lintas diperkirakan  mengakibatkan  kematian sekitar 1,9 juta orang per tahun pada tahun 2020.  Angka kematian akibat  kecelakaan lalu lintas  di Indonesia menduduki peringkat  2  di dunia (rata-rata 99  korban meninggal per hari ).  Menurut data Satlantas Polwiltabes Kota Semarang sepanjang  tahun  2011 terdapat 19.839 kejadian kecelakaan lalu lintas. Agus Aji Samekto  menemukan bahwa kejadian kecelakaan lalu lintas didominasi kelompok remaja dan mahasiswa. Faktor dominan penyebab kecelakaan lalu lintas adalah unsafe action para pengendara motor. Antara lain penggunaan  handphone  oleh remaja untuk menelpon, sms maupun mendengarkan musik sambil berkendara. Berbicara atau SMS menggunakan handphone  saat berkendara adalah gangguan utama yang menyebabkan kecelakaan . Bahaya langsung bagi pengendara  saat adanya panggilan telepon, sementara masalah yang lebih serius  saat  berbicara menggunakan handphone. Gangguan tersebut diklasifikasikan ke dalam dua kategori yaitu berupa gangguan fisik  dan    gangguan kognitif (mental) yang terjadi ketika tugas dilakukan bersamaan, yaitu ketika pengendara menggunakan  handphone  atau hands-free saatberkendara maka harus membagi perhatian antara mengoperasikan  handphone  dan konsentrasi pada jalur berkendara.  Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perilaku safety riding remaja khususnya dalam penggunaan  handphone  sambil berkendara dan risikonya  terhadap kecelakaan lalu lintas. Jenis penelitian ini adalah survey “cross sectional” dengan populasi penelitian mahasiswa UDINUS dan pelajar SMAN 1 Kota Semarang. Penentuan sampel secara purposive yaitu 50 mahasiswa dan 50 siswa SMA. Pengumpulan data melalui pengisian kuesioner, observasi dan focus group discussion.  Data dianalisis secara deskripstif  dan analitik  untuk mengetahui potensial risiko perilaku berbahaya penggunaan HP pada remaja selama berkendara.Hasil penelitian menunjukkan responden pengendara motor kelompok  mahasiswa  (usia 19-25 tahun) lebih berisiko dalam hal ini dibandingkan kelompok usia    SMA  (usia 16-18 tahun).  Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara umur dengan  perilaku penggunaan HP saat berkendara dan  kejadian kecelakaan lalu lintas  serta adanya  hubungan bermakna antara penggunaan  handphone  dengan kejadian kecelakaan  lalu lintas (p value < 0,05).  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku penggunaan  Handphone  selama berkendara merupakan masalah serius yang harus  segera ditangani dengan melibatkan pihak sekolah, kampus, pendidik, orang tua, keluarga serta lingkungan dan pergaulan mereka.
Hubungan Antara Kadar Fenol Dalam Urin Dengan Kadar Hb, Eritrosit, Trombosit Dan Leukosit (Studi Pada Tenaga Kerja Di Industri Karoseri CV Laksana Semarang) Mahawati, Eni; Suhartono, Suhartono; Nurjazuli, Nurjazuli
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN INDONESIA Vol 5, No 1 (2006): Vol 5, No 1 (2006)
Publisher : JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.697 KB)

Abstract

ABSTRACT Background: The concentration of phenol within urine represent accurate biological indicator of benzene exposure on workers. One of chronic effect of benzene exposure is bone marrow disorder that disturbs hematopoesis system, and causes the decrease of blood component count. The aim of this research was to analyze the correlation between phenol urine concentration and haemoglobin (Hb), erythrocyte,thrombocyte, and leukocyte concentration on workers that exposed to benzene in CV Laksana. Methods:This was an explanatory research. Observation and interview were done with a cross sectional approach. The data include respondent’s characteristics (age, job, work periode, body mass index, the use of personal protection equipment), phenol urine, Hb; erythrocyte; thrombocyte; leukocyte concentration. The data were analyzed by univariate and bivariate with Rank-Spearman correlation test. Results: This research showed that the mean of phenol urine concentration was 20 (± SD 4,519) mg/l and prevalence of benzene toxicity 57,1%. The result of haematological examination shows that the mean of Hb concentration was 14,8 (± SD 0,7) mg/dl, leukocyte 8.072,99 (± SD 1.627,9) cells/ųl, thrombocyte 282.857,1 (± SD 64.389,5) cells/ųl and erythrocyte 4.651.428,6 (± SD 25.403,5) cells/ųl. Most of respondents (60%), age between 21-50 years old, work period 3-25 years, mean of body mass index was 23,4. There were 51,43% respondents who didn’t use personal protective equipment and 97,14% respondents who didn’t use gloves as personal protection equipment. Based on Rank-Spearman correlation test, there was a significant correlation between phenol urine concentration and erythrocyte concentration with p value 0,030 and correlation coefficient -0,368. It means that there was a negative correlation between those two kinds of variables. Other statistical tests for the other variables have no significant correlation. Conclusions: Benzene toxicity levels based on phenol urine concentration still in low  exposure category, erythrocyte count was decreased under normal value, but haemoglobin (Hb); thrombocyte and leukocyte concentration were still normal. Workers, company, and worker department need to handle and prevent of benzene toxicity furthermore. This research should be continued with cohort design. Keyword: phenol, benzene, Haemoglobin (Hb), erythrocyte, thrombocyte, leukocyte
PENGGUNAAN PESTISIDA SEBAGAI FAKTOR RISIKO “MCI” (MILD COGNITIVE IMPAIREMENT) PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MIJEN KOTA SEMARANG Mahawati, Eni
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 13, No 1 (2014): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.868 KB)

Abstract

Pertumbuhan penduduk lanjut usia (lansia) diprediksi meningkat cepat terutama di negaranegaraberkembang termasuk Indonesia berdasarkan proyeksi 2010-2035. Masalah terbesarlansia adalah penyakit degeneratif antara lain demensia dan parkinson. Tingginya insidensipenyakit ini di daerah pedesaan juga dilaporkan oleh Lu, et. al (1995) dan hubungan antarazat pestisida juga terdapat pada Alzheimer Disease dan Parkinson. Sektor pertanian masihmenjadi tumpuan sebagian besar pekerja lansia (60,92%), kemudian jasa (28,80%) danindustri (10,28%). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penggunaan pestisida sebagai11PENDAHULUANIndonesia sebagai salah satu negaraberkembang juga akan mengalami ledakanjumlah penduduk lansia (50-64 tahun dan65+) berdasarkan proyeksi 2010-2035.Meningkatnya populasi lansia ini membuatpemerintah perlu merumuskan kebijakan danprogram agar lansia tidak menjadi beban bagimasyarakat. Peningkatan jumlah lansia diIndonesia diiringi pula peningkatanpermasalahan penyakit akibat prosespenuaan. Otak sebagai organ kompleks,pusat pengaturan sistem tubuh dan pusatkognitif, merupakan salah satu organ tubuhyang sangat rentan terhadap proses penuaanatau degeneratif. Berbagai penyakitdegeneratif di otak, seperti Demensiaalzheimer, Demensia vaskular, danParkinson, sampai saat ini pengobatannyabelum memberikan hasil yang diharapkan.Hampir semua obat tidak dapatmenghentikan proses penyakit. 1Gangguan kognitif ringan adalah suatukondisi awal perkembangan sebelumnyaterjadinya dementia. Gangguan kognitiffaktor risiko gangguan kognitif ringan (MCI) pada lansia.Jenis penelitian ini adalah survey “cross sectional” terhadap 50 lansia di wilayah kerjapuskesmas Mijen Kota Semarang yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulandata melalui wawancara dengan kuesioner serta MMSE (Mini-Mental State Examination)dan dianalisis dengan uji statistik “Chi Square”.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% responden pernah mengggunakan pestisida dan78.8% responden menderita gangguan kognitif. Distribusi tingkat gangguan kognitif terdiridari 56.41% gangguan ringan dan 43.59% gangguan berat. Ada hubungan penggunaanpestisida pertanian (p value = 0.041; OR=4.455) dan pembasmi serangga (p value = 0.004;OR = 8.889) dengan gangguan kongnitif lansia. Tidak terbukti adanya hubungan antarapenggunaan obat nyamuk bakar (p value = 0.293; OR = 2.400), lotion anti nyamuk (p value =0.306; OR = 2.533) dan racun tikus (p value = 0.445; OR = 1.905) dengan gangguan kognitiflansia.Disarankan perlunya sosialisasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentangpenggunaan pestisida secara aman, dampak kesehatan, keselamatan, pemantauan danpengawasan peredaran pestisida secara rutin dan ketat serta pendampingan dan pembinaanguna meningkatkan kemandirian hidup lansia melalui posyandu lansia.Kata Kunci : Gangguan Kognitif Ringan, Lansia, Petani
PENGARUH SIKAP INDIVIDU DAN PERILAKU TEMAN SEBAYA TERHADAP PRAKTIK SAFETY RIDING PADA REMAJA (STUDI KASUS SISWA SMA NEGERI 1 SEMARANG) Sumiyanto, Andi; Mahawati, Eni; Hartini, Eko
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 13, No 2 (2014): VISIKES
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.265 KB)

Abstract

Safety riding adalah perilaku mengemudi secara selamat yang bisa membantu untukmenghindari terjadinya kecelakaan lalu lintas. Safety riding dirancang untuk meningkatkankesadaran pengendara terhadap segala kemungkinan yang terjadi selama berkendara. Tujuanpenelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sikap individu dan perilaku teman sebayaterhadap praktik safety riding pada remaja (studi kasus siswa SMA Negeri 1 Semarang).Jenis penelitian ini menggunakan Eksplanatory Research dengan pendekatan cross sectional.Teknik analisis data menggunakan uji korelasi pearson product moment dan regresilinier sederhana. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII SMA Negeri 1Semarang yang berjumlah 423 siswa. Sampel dalam penelitian ini adalah 82 orang yangdipilih secara “purposive sampling”Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktek safety riding responden secara umum baik.Aspek safety yang sering dilakukan yaitu membawa STNK setiap kali berkendara, kendaraandilengkapi STNK, menggunakan helm setiap kali berkendara, menyalakan lampu sein kiri/kanan sebelum belok. Hasil uji statistik menunjukkan adanya pengaruh perilaku teman sebayaterhadap praktik safety riding (p value = 0,000), F=20.593, R2= 0,205 yang artinya 20,5%praktik safety riding dipengaruhi oleh perilaku teman sebaya, sedangkan sisanya 79,5%dipengaruhi oleh sebab-sebab lain.Kata kunci : Perilaku tema sebaya, sikap, Keselamatan berkendaraan
PERAN PENGELOLA GEDUNG DAN TETANGGA TERHADAP KESIAPAN TANGGAP DARURAT KEBAKARAN PENGHUNI RUMAH SUSUN PEKUNDEN KOTA SEMARANG Murdiono, Edi; Mahawati, Eni
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 14, No 1 (2015): VISIKES
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.516 KB)

Abstract

Tingginya resiko terjadinya kebakaran di rumah susun pekunden namun minimnya saranadan prasarana yang tersedia untuk mengantisipasi hal tersebut maka pengelola dan setiappenghuni rumah susun pekunden di harapkan memiliki perilaku tanggap darurat, berdasarkansurvei awal pada tanggal 28 Maret 2014 diketahui bahwa pernah terjadi kebakaran di semualantai yang ada di rumah susun dari lantai 2, 3 & 4 dengan akibat kebakaran yang berbedabeda.tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui hubungan antara peran pengelola dan tetanggadengan kesiapan tanggap darurat kebakaran di rumah susun pekunden.Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik, dengan menggunakan pendekatan crosssectional. Populasi penelitian adalah semua penghuni rumah susun pekunden semarang responden yang memiliki KK keseluruhan berjumlah 124 KK. Selanjutnya dilakukanpengkatagorian sampel agar sampel memenuhi kriteria / syarat yang dibutuhkan dalampenelitian, dengan cara menggunakan Proporsional Cluster Random Sampling, dengan kriteriainklusi dan yang terpilih menjadi sampel minimal harus tinggal dirumah susun selama 3tahun dan umur minimal 15 tahun maksimal umur 55 tahun, Instrumen penelitian yangdigunakan yaitu dengan daftar pertanyaan /kuesioner yang diolah dengan spss menggunkanuji statistik rank sperman.Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesiapsiagaan penghuni rumah susun pekunden tentangtanggap darurat bencana kebakaran dapat dikatakan belum baik faktor-faktor yangberhubungan dengan kesiapsiagaan tanggap darurat bencana kebakaran yaitu peran pengelolabelum ada perhatian khusus untuk melakukan tindakan dan peran tetangga tidak salingpeduli antar tetangga dalam menggunakan barang (peralatan) maupun bahan yang mudahmemicu kebakaran, serta belum dapat mengenali lingkungan sekitar, khususnya yang terkaitjalur penyelamatan saat kebakaran yang ada di rumah susun pekunden kota seamarang.Baik peran pengelola maupun peran tetangga rumah susun pekunden di sarankan untuk berperanaktif dan adanya perhatian khusus saling bekerjasama dalam upaya kesiaapsiagaan tanggapdarurat bencana kebakaran agar bisa meminimalisir kerugian material maupun korban jiwa.Kata kunci : Peran Pengelola, Peran Tetangga, Kesiapsiagaan
Analisis Perbedaan Klaim INA-CBGs Berdasarkan Kelengkapan Data Rekam Medis Pada Kasus Emergency Sectio Cesaria trimester I tahun 2013 di RSUD KRT Setjonegoro Kabupaten Wonosobo Hasanah, Uswatun; Mahawati, Eni; Ernawati, Dyah
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v1i2.51

Abstract

ABSTRAKINA-CBGs adalah sistem software yang digunakan dalam pembayaran klaim jamkesmas, dengan skema pembiayaan yang digunakan adalah casemix sehingga yang menjadi perhatian utama adalah bauran kasus, diagnosis utama, dan prosedur utama yang menj adi acuan untuk menghitung biaya pelayanan. Berdasarkan evaluasi pada studi pendahuluan di RSUD KRT Setjonegoro padabulan Januari 2013 untuk kasus emergency sectio cesaria (sc) terdapatperbedaanjumlahklaim (4,08%) dan severity level (34,92%) berdasarkan kelengkapan data rekam medis.Metode penelitian ini menggunakan pendekatan evaluatif dan analitik dengan jumlah sampel penelitian sebesar 126 dokumen rekam medis. Data primer dikumpulkan dengan menelusuri dan menelaah dokumen rekam medis untuk pasien j amkesmas dengan kasus sc dan melakukan pengamatan menggunakan pedoman pelaksanaan, aplikasi software INA-CBGs, lCD 10 dan lCD 9 CM serta data ketidaklengkapan pencatatan dokumen rekam medis. Berdasarkan basil penelitian ditemukan 45% dokumen rekam medis untuk kasus sc tidak lengkap (riwayat penyakit pasien, tanda tangan operator operasi, hasil konsultasi, laporan pemeriksaan penunjang, diagnosa sekunder dan tanda tangan DPJP) di mana hal tersebut berpengarub terbadap besaran klaim berdasarkan isian resume medis dan didapatkan perbedaab jumlah klaim setelah dilakukan entry data berdasarkan dokumen rekam medis (6,34% atau 23.988.179,00) dan perbedaan severity level (31,75%) apabila dilakukan evaluasi menggunakan data rekam medis.Hasil uji statistik untuk beda klaim menggunakan Wilcoxon diketabui adanya perbedaan signifikan antara severity level sebelum dan setelah data rekam medis dilengkapi (pvalue 0,000). Terbukti juga adanya perbedaan sigifikan antara jumlab klaim sebelum dan setelab data rekam medis dilengkapi (pvalue 0,000). Faktor - faktor yang terbukti secara statistik berbubungan signifikan dengan perbedaan besaran klaim adalab ketelitian koder (pvalue 0,000) dan kelengkapan diagnosa sekunder (pvalue 0,000). Sedangkan faktor lain yang belum terbukti berhubungan secara statistik dengan perbedaan jumlah klaim adalah software INA-CBGs (pvalue 0,053) dan prosedur entry (p value 0,053).Kata kunci : INA-CBGs,jamkesmas, sectio cesaria, rekammedis,DifferencesINA-CBGsclaimsbasedont*ecompleteness ofmedical records in case of emergency cesarean sectio first trimester of2013 at RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo.ABSTRACTINA-CBGs is a software system that is used in the payment of claims jamkesmas, financing scheme used is casemix so the main concern is the mix of cases, primary diagnosis and principal procedure which is used to calculate the service charge. Evaluation based on a preliminary studi in RSUD KRT. Setjonegoro in January 2013 in the case of emergency cesarean sectio there are differences in the amount of claims (4,08%) and the severity level (34,92%) based on the completeness of medical records.This research method using analytic and evaluative approach to the total sample of 126 medical records document. Primary data were collected by tracking and reviewing medical records to document patient health card with cesarean section case and make observations using the implementation guidelines (manlak), INA-CBGs software applications, ICD 10 and ICD 9 CM and incompleteness of data recording medical record documents.Based on the results study found 45% of medical record documents for the case of incomplete sc (history of the disease the patient, operator signature operations, the results of the consultation, investigation reports, secondary diagnosis and signature DPJP) where it affects the amount of a claim based on medical resume stuffing and obtained different result number (6, 34% or 23.988.179,00) and severity level (31,75%) when evaluated using medical records. Statistical test results using wilcoxon test known sign i0cant differences between severity levels before and after the medical records completed (p value 0.000) . Sign i0cant differences also proved between the amount of claims before and after the medical records completed ( p value 0.000 ) . Factors that proved to be sign i0cant statistically associated with differences of the amount of claim is the coder accuracy (p value 0.000 ) and completeness secondary diagnoses (p value 0.000 ) . While other factors were not enough statistical evidence related to the differences the amount of claims were software INA - CBGs ( p value 0.053 ) and entry procedures ( p value 0.053 ) . Suggestions for improvements that PJSN team engage in training on the INA - CBGs software , the doctors and paramedics on the completeness of clinical data as a basis for claims of INA - CBGs pattern , making SPO coder must review the provisions of DRM , especially for cases with different claims are too high and give feedback to the team National Casemix Centre ( NCC ) on some cases to improve software INA - CBGs .Keywords : INA-CBGs, jamkesmas, sectio caesarea, medical recordABSTRAKINA-CBGs adalah sistem software yang digunakan dalam pembayaran klaim jamkesmas, dengan skema pembiayaan yang digunakan adalah casemix sehingga yang menjadi perhatian utama adalah bauran kasus, diagnosis utama, dan prosedur utama yang menj adi acuan untuk menghitung biaya pelayanan. Berdasarkan evaluasi pada studi pendahuluan di RSUD KRT Setjonegoro padabulan Januari 2013 untuk kasus emergency sectio cesaria (sc) terdapatperbedaanjumlahklaim (4,08%) dan severity level (34,92%) berdasarkan kelengkapan data rekam medis.Metode penelitian ini menggunakan pendekatan evaluatif dan analitik dengan jumlah sampel penelitian sebesar 126 dokumen rekam medis. Data primer dikumpulkan dengan menelusuri dan menelaah dokumen rekam medis untuk pasien j amkesmas dengan kasus sc dan melakukan pengamatan menggunakan pedoman pelaksanaan, aplikasi software INA-CBGs, lCD 10 dan lCD 9 CM serta data ketidaklengkapan pencatatan dokumen rekam medis. Berdasarkan basil penelitian ditemukan 45% dokumen rekam medis untuk kasus sc tidak lengkap (riwayat penyakit pasien, tanda tangan operator operasi, hasil konsultasi, laporan pemeriksaan penunjang, diagnosa sekunder dan tanda tangan DPJP) di mana hal tersebut berpengarub terbadap besaran klaim berdasarkan isian resume medis dan didapatkan perbedaab jumlah klaim setelah dilakukan entry data berdasarkan dokumen rekam medis (6,34% atau 23.988.179,00) dan perbedaan severity level (31,75%) apabila dilakukan evaluasi menggunakan data rekam medis.Hasil uji statistik untuk beda klaim menggunakan Wilcoxon diketabui adanya perbedaan signifikan antara severity level sebelum dan setelah data rekam medis dilengkapi (pvalue 0,000). Terbukti juga adanya perbedaan sigifikan antara jumlab klaim sebelum dan setelab data rekam medis dilengkapi (pvalue 0,000). Faktor - faktor yang terbukti secara statistik berbubungan signifikan dengan perbedaan besaran klaim adalab ketelitian koder (pvalue 0,000) dan kelengkapan diagnosa sekunder (pvalue 0,000). Sedangkan faktor lain yang belum terbukti berhubungan secara statistik dengan perbedaan jumlah klaim adalah software INA-CBGs (pvalue 0,053) dan prosedur entry (p value 0,053).Kata kunci : INA-CBGs,jamkesmas, sectio cesaria, rekammedis,DifferencesINA-CBGsclaimsbasedont*ecompleteness ofmedical records in case of emergency cesarean sectio first trimester of2013 at RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo.ABSTRACTINA-CBGs is a software system that is used in the payment of claims jamkesmas, financing scheme used is casemix so the main concern is the mix of cases, primary diagnosis and principal procedure which is used to calculate the service charge. Evaluation based on a preliminary studi in RSUD KRT. Setjonegoro in January 2013 in the case of emergency cesarean sectio there are differences in the amount of claims (4,08%) and the severity level (34,92%) based on the completeness of medical records.This research method using analytic and evaluative approach to the total sample of 126 medical records document. Primary data were collected by tracking and reviewing medical records to document patient health card with cesarean section case and make observations using the implementation guidelines (manlak), INA-CBGs software applications, ICD 10 and ICD 9 CM and incompleteness of data recording medical record documents.Based on the results study found 45% of medical record documents for the case of incomplete sc (history of the disease the patient, operator signature operations, the results of the consultation, investigation reports, secondary diagnosis and signature DPJP) where it affects the amount of a claim based on medical resume stuffing and obtained different result number (6, 34% or 23.988.179,00) and severity level (31,75%) when evaluated using medical records. Statistical test results using wilcoxon test known sign i0cant differences between severity levels before and after the medical records completed (p value 0.000) . Sign i0cant differences also proved between the amount of claims before and after the medical records completed ( p value 0.000 ) . Factors that proved to be sign i0cant statistically associated with differences of the amount of claim is the coder accuracy (p value 0.000 ) and completeness secondary diagnoses (p value 0.000 ) . While other factors were not enough statistical evidence related to the differences the amount of claims were software INA - CBGs ( p value 0.053 ) and entry procedures ( p value 0.053 ) . Suggestions for improvements that PJSN team engage in training on the INA - CBGs software , the doctors and paramedics on the completeness of clinical data as a basis for claims of INA - CBGs pattern , making SPO coder must review the provisions of DRM , especially for cases with different claims are too high and give feedback to the team National Casemix Centre ( NCC ) on some cases to improve software INA - CBGs .Keywords : INA-CBGs, jamkesmas, sectio caesarea, medical record