Yanti Lusiyanti
Center for Technology of Radiation Safety and Metrology, National Nuclear Energy Agency, Jalan Lebakbulus Raya No. 49, Pasar Jum’at, Jakarta 12440, Indonesia

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

RESPON SITOGENETIK PENDUDUK DAERAH RADIASI ALAM TINGGI DI KABUPATEN MAMUJU, SULAWESI BARAT A., Zubaidah; Lusiyanti, Yanti; P., Sofiati; Ramadhani, Dwi; L., Masnelly; AS., Viria
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 13, No 1 (2012): Februari 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESPON SITOGENETIK PENDUDUK DAERAH RADIASI ALAM TINGGI DI KABUPATEN MAMUJU, SULAWESI BARAT. Manusia di dunia menerima paparan radiasi alam baik eksternal maupun internal. Total paparan tahunan dari radiasi alam dengan latar normal adalah 2,4 mSv, sedangkan daerah dengan tingkat paparan radiasi alam mencapai 20 mSv atau lebih dikategorikan sebagai High Natural Background Radiation (HNBR). Tingkat paparan radiasi di HNBR dianggap sebagai radiasi dosis rendah. Efek biologik radiasi dosis rendah khususnya efek sitogenetik telah dipelajari pada penduduk di beberapa daerah HNBR di dunia. Tulisan ini melaporkan hasil studi sitogenetik khususnya aberasi kromosom pada sel limfosit darah tepi penduduk di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, yang mempunyai tingkat paparan radiasi alam relatif tinggi di Indonesia. Pemeriksaan aberasi kromosom dilakukan dengan teknik Giemsa dan Fluoresence in situ Hybridization terhadap sampel darah penduduk yang telah dibiakkan dalam media pertumbuhan. Hasil penelitian tidak menunjukkan adanya perbedaan nyata frekuensi aberasi kromosom pada sel limfosit penduduk daerah radiasi alam tinggi dan latar normal. Terdapat indikasi adanya fenomena respon radioadaptif pada penduduk di Kabupaten Mamuju yang perlu diteliti lebih lanjut. Kata kunci : dosis rendah, aberasi kromosom, HNBR, Mamuju. ABSTRACT CYTOGENETIC  RESPONSE OF THE RESIDENTS OF HIGH NATURAL RADIATION AREA IN KABUPATEN MAMUJU, SULAWESI BARAT. People in the world are exposed to background  radiation from natural sources both internally and externally. Total exposure to natural radiation in areas of normal background averages 2.4 mSv per year, while the area that has total exposure to natural radiation up to 20 mSv or more is categorized as the High Natural Background Radiation (HNBR). Such radiation level of HNBR is considered as low dose radiation.The biological effects of low dose radiation, especially cytogenetic effects, have been extensively studied on the habitants of several HNBR areas in the world. This paper reports the results of cytogenetic study, especially chromosome aberrations, in peripheral blood lymphocyte cells of  the residents in Kabupaten Mamuju, West Sulawesi, which relatively has high level of natural radiation in Indonesia. Chromosome aberration examinations were performed using Geimsa staining method and fluorescence in situ hybridization painting technique after culturing the blood samples of the residents in enriched growth media. The results did not indicate significant difference on the frequency of chromosome aberrations in the lymphocytes of  people who live in HNBR area and that who live in normal natural radiation area. It is suggested that there is an indication of radioadaptive response phenomena in Kabupaten Mamuju people that needs further investigation. Keywords: low dose, chromosome aberration, HNBR, Mamuju
APOPTOSIS DAN RESPON BIOLOGIK SEL SEBAGAI FAKTOR PROGNOSA RADIOTERAPI KANKER Nurhayati, Siti; Lusiyanti, Yanti
Buletin Alara Vol 7, No 3 (2006): April 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (949.548 KB)

Abstract

Kanker merupakan masalah paling utama dalam bidang kedokteran dan merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian utama di dunia serta merupakan penyakit keganasan yang bisa mengakibatkan kematian pada penderitanya karena sel kanker merusak sel lain. Sel kanker adalah sel normal yang mengalami mutasi/perubahan genetik dan tumbuh tanpa terkoordinasi dengan sel-sel tubuh lain. Proses pembentukan kanker (karsinogenesis) merupakan kejadian somatik dan sejak lama diduga disebabkan karena akumulasi perubahan genetik dan epigenetik yang menyebabkan perubahan dalam pengaturan normal kontrol molekuler perkembang biakan sel. Perubahan genetik tersebut dapat berupa aktivasi proto-onkogen dan atau inaktivasi gen penekan tumor yang dapat memicu pembentukan tumor. Berbagai macam percobaan (bahkan sampai jutaan) telah dilakukan untuk mempelajari karakteristika suatu kanker dengan menggunakan hewan percobaan seperti tikus, mencit, anjing, domba, bahkan organisme bersel tunggal, dll [1].
PEMERIKSAAN ABERASI KROMOSOM PADA PEKERJA RADIASI Lusiyanti, Yanti
Buletin Alara Vol 8, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.034 KB)

Abstract

PENDAHULUANPemeriksaan kesehatan pekerja radiasi merupakan suatu kegiatan yang mutlak perlu dilakukan pada setiap fasilitas yang memanfaatkan radiasi pengion. International Atomic Energy Agency (IAEA) telah memberikan pedoman untuk pelaksanaan pemeriksaan kesehatan ini dalam publikasi Basic Safety Standards atau Standar Keselamatan Dasar yang diterbitkan pada tahun 1996. Di Indonesia, beberapa ketentuan hukum yang berkaitan dengan pemeriksaan kesehatan juga telah berlaku, yaitu Undang-Undang No 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran pasal 16 ayat (1) yang menyatakan bahwa “setiap kegiatan yang berkaitan dengan pemanfaatan tenaga nuklir wajib memperhatikan kesehatan, keamanan dan ketentraman, kesehatan pekerja dan anggota masyarakat serta perlindungan terhadap lingkungan hidup”. Kemudian Keputusan Kepala BAPETEN No. 01/Ka-BAPETEN/V-99 tentang Ketentuan Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi. Selain itu juga ada Peraturan Pemerintah RI No. 63 tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion, dan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 172/MENKES/PER/III/1991 tentang Pengawasan Kesehatan Pekerja radiasi. Pada saat tubuh terpajan radiasi, sel dapat mengalami kerusakan sitogenetik yaitu kerusakan yang terjadi pada aspek genetik sel, khususnya kromosom bergantung pada dosis yang diterima. Kromosom terdapat di dalam inti sel dan merupakan struktur yang terdiri dari rangkaian panjang molekul asam deoksiribonukleat (DNA) dengan matriks protein, dan memegang peranan sebagai pembawa sifat dari suatu individu. Kromosom manusia berjumlah 23 pasang mengandung ribuan gen yang merupakan suatu rantai pendek dari DNA yang membawa kode informasi genetik tertentu dan spesifik. Secara normal, kromosom terdiri dari lengan atas dan lengan bawah yang dihubungkan dengan sentromer. Radiasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan struktur kromosom. Perubahan yang dimaksud dapat berupa: (1). kromosom disentrik yaitu kromosom dengan dua sentro- mer yang terbentuk dari penggabungan dua patahan kromosom; (2). fragmen asentrik yaitu delesi pada lengan kromosom sehingga terbentuk fragmen kromosom tanpa sentromer;(3). kromosom cincin yang terbentuk karena adanya penggabungan patahan antar lengan kromosom. Kromosom disentrik merupakan bentuk aberasi yang paling spesifik akibat radiasi pengion dan merupakan Gold Standard untuk  diaplikasikan dalam pengkajian efek radiasi. Jumlah kromosom disentrik yang terbentuk akibat paparan radiasi latar dari alam pada tubuh adalah sekitar 1–2 dalam 1000 sel darah limfosit.
PENGENALAN TEKNIK FISH UNTUK DETEKSI ABERASI KROMOSOM TRANSLOKASI AKIBAT RADIASI PENGION Lusiyanti, Yanti; Indrawati, Iwiq; Purnami, Sofiati
Buletin Alara Vol 8, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.319 KB)

Abstract

Perkembangan teknologi nuklir telah menjadi salah satu penopang pembangunan. Oleh karena itu aplikasi teknologi nuklir dalam segala bidang seperti energi listrik, industri, makanan dan pertanian, kesehatan, perlindungan lingkungan dan lain sebagainya merupakan topik yang sedang hangat dibicarakan. Di Jepang misalnya, sumbangan ekonomi total dari aplikasi teknik nuklir non-energi adalah kurang lebih 45% dari 150 milyar dolar US pada tahun 2000 lalu. Sedangkan di bidang pembangkit listrik, sebagai salah satu contoh, bahwa satu dari tiga lampu di Jepang berasal dari sumber energi nuklir. Di tingkat dunia, energi nuklir pun secara nyata ikut berperan dalam penyediaan listrik sebesar 25% di 17 negara penggunanya [1]. Pertumbuhan ekonomi terus bertambah di negara-negara sedang berkembang, terutama negara dengan jumlah penduduk sangat besar seperti Indonesia, yang akan terus bertambah kebutuhan ekonomi perkapitanya, juga biaya konsumsi untuk hidup yang lebih baik. Disamping besarnya pemanfaatan teknologi nuklir untuk kesejahteraan manusia, segi keselamatannya pun harus diperhitungkan, bahkan selalu diutamakan sehingga perlu suatu tindakan pemantauan agar dosis radiasi yang diterima seseorang karena pekerjaannya atau tindakan medik untuk diagnosis atau terapi tidak melebihi batas yang diijinkan. Selama proses penggunaan secara normal maupun saat terjadi kecelakaan radiasi pengion maka tubuh dapat menerima sejumlah tertentu dosis radiasi. Indikator biologik akibat pajanan radiasi pada tubuh meliputi kerusakan yang terjadi pada sistem hematopoetik, sel germinal atau sel dalam sistem imunitas, cairan tubuh, komponen biologik membran sel dan karakteristik genetik atau sitologik. Di samping itu terdapat gejala lain seperti epilasi, edema, eritema, dan absces. Perubahan sitogenetik merupakan indikator yang dapat diandalkan yang dapat dikaji menggunakan sel limfosit darah tepi. Penghitungan aberasi kromosom pada sel limfosit merupakan suatu metode yang sangat sensitif untuk digunakan sebagai dosimeter biologi. Aberasi kromosom yang diinduksi oleh radiasi pengion pada sel limfosit dibagi dalam dua kelompok utama, yaitu aberasi tidak stabil (kromosom disentrik, fragmen asentrik dan kromosom cincin sentrik), dan aberasi stabil (translokasi dan inversi). Kromosom disentrik diyakini sebagai indikator kerusakan yang paling dapat diandalkan di antara aberasi tidak stabil dan digunakan sebagai dosimeter biologi pada individu yang terpajan secara akut dalam kasus kecelakaan radiasi yang pemeriksaannya harus dilakukan sesegera mungkin [2].
PEMBUATAN KURVA KALIBRASI KROMOSOM TRANSLOKASI AKIBAT RADIASI GAMMA Lusiyanti, Yanti
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 15, No 2 (2014): Agustus 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.795 KB)

Abstract

PEMBUATAN KURVA KALIBRASI KROMOSOM TRANSLOKASI akibat RADIAsi gamma. Aberasi kromosom merupakan biomarker utama untuk mendeteksi adanya kerusakan sitogenetik pada sel  limfosit akibat paparan radiasi dan mengkaji dosis pada individu terpapar radiasi pengion berlebih. Teknik Chromosome painting Fluoresence in situ hybridization (FISH)  digunakan untuk mengukur frekuensi aberasi kromosom translokasi pada limfosit darah tepi manusia dan telah digunakan sebagai dosimetri biologi retrospektif menggunakan kurva kalibrasi dosis respon aberasi kromosom dengan dosis. Tujuan penelitian ini adalah membuat kurva kalibrasi standar kromosom translokasi yang diinduksi oleh radiasi gamma. Sampel darah perifer dari tiga orang donor sehat diiradiasi dengan dosis 1 - 4 Gy pada laju dosis 0,38 Gy/menit dengan sumber teleterapi Co-60. Sampel darah dibiakkan dengan metode standar mengacu pada protocol IAEA dengan sedikit modifikasi pada metode pembiakan. Pada preparat yang diperoleh dicat dengan teknik FISH menggunakan whole chromosome probes nomr 1 dan nomor 2 bertanda fluorocrome Fluorescent isothiocyanate, dan diamati dengan mikroskop fluoresen. Kedua kurva dosis respon yang diperoleh dianalisis dengan model  Linear Quadratic, Y= a + αD + βD2 dan menunjukkan nilai α dan β masing-masing 0,004 ± 0,009 dan 0,021 ± 0,003, dan 0,027 ± 0,009 dan 0,010 ± 0,003. Kurva standar kalibrasi kromosom translokasi ini perlu divalidasi secara in vitro dan in vivo untuk dapat diaplikasikan sebagai biodosimetri restrospektif untuk radiasi gamma.
Lack of Radioprotective Potential of Ginseng in Suppressing Micronuclei Frequency in Human Blood Lymphocyte under Gamma Irradiation LUSIYANTI, YANTI; ALATAS, ZUBAIDAH; SYAIFUDIN, MUKH
HAYATI Journal of Biosciences Vol 22, No 2 (2015): April 2015
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1686.665 KB) | DOI: 10.4308/hjb.22.2.93

Abstract

Ginseng appears to be a promising radioprotector for therapeutic or preventive protocols capable of attenuating the deleterious effects of radiation on human normal tissue. This research addresses results on the study of radioprotective potential of ginseng on radiation induced micronuclei in lymphocyte cells in vitro. The peripheral blood samples were exposed to gamma rays at doses of 0.0, 0.5, and 1.0 Gy and then added with 0, 100, and 1000 ug/mL of ginseng extract. These treated samples were cultured for micronuclei (MN) examination using standard procedure. The evaluation of incubation with ginseng extract for 24 h before irradiation was also done. Our results showed that there was no radioprotective effect of ginseng addition to the frequency of MN in lymphocyte cells. Pre-incubation with ginseng extract before irradiation also did not effectively suppress the MN frequency. This research lacks to prove the ginseng?s radioprotective potential that maybe related to its immunomodulating capabilities and its capabilities in scavenging free radicals induced by radiation or in attenuating the deleterious effects of radiation and its important role in increasing levels of several cytokines.
Deteksi Sel Rogue Pada Sel Limfosit Darah Tepi Pasien Kanker Serviks Pra dan Paska Kemoradioterapi Ramadhani, Dwi; Soetopo, Setiawan; Kurjana, Tjahya; S Hernowo, Bethy; DL Tobing, Maringan; Tetriana, Devita; Suvifan, Viria Agesti; Purnami, Sofiati; Lusiyanti, Yanti
Jurnal Keselamatan Radiasi dan Lingkungan Vol 1, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radisasi - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.755 KB)

Abstract

Proses penentuan nilai dosis radiasi pengion berdasarkan indikator biologis atau biodosimetri umumnya dilakukan berdasarkan analisis kromosom disentrik. Proses biodosimetri berdasarkan analisis kromosom disentrik yang tidak boleh melibatkan kromosom disentrik dalam sel rogue karena nilai dosis yang diperoleh lebih tinggi dari nilai sebenarnya. Sel rogue adalah sel dalam tahap metafase yang berasal dari kultur sel limfosit darah tepi dan memiliki jumlah aberasi kromosom sangat tinggi meskipun sampel darah tidak terpapar oleh radiasi pengion. Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab timbulnya sel rogue dalam sel limfosit darah tepi. Terdapat Didugaan bahwa infeksi virus atau bakteri penyebab terbentuknya sel rogue. Dugaan lainnya menyatakan bahwa paparan radiasi dengan Linear Energy Transfer (LET) tinggi adalah penyebab timbulnya sel rogue. Tujuan penelitian adalah mendeteksi keberadaan sel rogue pada pasien kanker serviks sebelum dan sesudah dilakukan proses kemoradioterapi. Prediksi nilai dosis radioterapi dilakukan berdasarkan jumlah kromosom disentrik dengan atau tanpa melibatkan kromosom disentrik dalam sel rogue. Sebanyak 20 ml sampel limfosit darah tepi dari lima pasien kanker serviks paska radioterapi dikultur, dibuat preparatnya dan diamati. Hasil penelitian menunjukkan adanya satu sel rogue pada salah satu pasien kanker serviks paska kemoradioterap. yang diakibatkan oleh paparan radiasi. Prediksi dosis menunjukkan bahwa nilai prediksi dosis dengan melibatkan kromosom disentrik dalam sel rogue menyebabkan nilai dosis yang diperoleh lebih tinggi dari nilai sebenarnya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa paparan radiasi pengion dapat mengakibatkan terbentuknya sel rogue pada individu dengan tingkat radiosensitivitas tinggi. Dengan demikian proses biodosimetri berdasarkan analisis kromosom disentrik tidak dapat dilakukan dengan melibatkan kromosom disentrik dalam sel rogue. The process of determining the ionizing radiation dose based on biological indicator or biodosimetry is generally carried out using the analysis of dicentric chromosome. Biodosimetry process based on the analysis of dicentric chromosome should not involving the dicentric in a rogue cell that may cause the radiation prediction doses value more higher than the true doses value. Rogue cells is cells in metaphase derived from the peripheral blood lymphocytes culture and contain a high number of chromosome aberration even though the blood sample were not exposed to ionizing radiation. Until now it was not clear what factor that can induce the rogue cells in peripheral blood lymphocytes. There was suggestion that infection of virus or bacteria and radiation exposure of high linear energy transfer (LET) can induce rogue cells. Aim of this research was to detect the presence of rogue cells in cervical cancer patients before and after radio chemotherapy process. The prediction of radiotherapy doses was carried out with and without involving the dicentric chromosomes in the rogue cells. Twenty milliliter of blood samples from five cervical cancer patients obtained before and after radiotherapy was cultured, harvested and analyzed. The experimental result showed that there was a presence of one rogue cell in one cervical cancer patient after radio chemotherapy process. A radiotherapy prediction doses showed that predictive dose value dose involving dicentric chromosomes in rogue cell was higher compared to the real radiation dose value. Based on the research result it can be concluded that exposure to ionizing radiation can induced the presence of the rogue cells in high radiosensitivity person. It means that in the biodosimetry process based on the analysis of dicentric chromosome should not involve the dicentric chromosome in the rogue cell.
PENERAPAN EFEK INTERAKSI RADIASI DENGAN SISTEM BIOLOGI SEBAGAI DOSIMETER BIOLOGI Lusiyanti, Yanti; SYAIFUDIN, MUKH
Jurnal Forum Nuklir JFN Vol 2 No 1 Mei 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1968.25 KB)

Abstract

AbstrakInteraksi radiasi pengion dengan sistem biologi dapat menyebabkan berbagai macam efek biologik yang akan dimanifestasikan baik pada tingkat seluler, sitogenetik maupun tingkat molekuler. Berbagai macam metode biologik yang dimaksudkan untuk memperkirakan dosis radiasi telah dikembangkan oleh banyak peneliti menggunakan efek tersebut terutama dalam hal teIjadinya peristiwa kecelakaan radiasi. Hal ini dipertegas lagi dengan kenyataan bahwa dosimetri fisik tidak dapat diandalkan secara sendirian. Dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing, ulasan ulang ini memberikan gambaran yang meluas akan pentingnya uji atau biomarker dalam dosimetri biologi seperti kromosom disentrik, mikronuklei, fragmen kromosom,biokimia darah dan spermatogenesis. Adapun sampel biologik yang dapat dipergunakanuntuk pengkajian dosis radiasi yang diterima oleh pekeIja maupun korban kecelakaanantara lain darah, sperma, rambut, dan urin.Kata kunci : Interaksi radiasi pengion, sistem biologiAbstractInteraction between ionizing radiation with biological system could results in various types of biological effects which will be manifested either in cellular, cytogenetics or molecular levels. Various types of biological methods with the aim for predicting radiation dose have been developed by many researchers by using these effects mainly in the case of radiation accident. This case is supported by the fact that physical dosimetry could not available as alone. With their own advantages and disadvantages, this review provides a broader figure about the importance of assays or markers in biological dosimetry such as dicentric chromosome, micronuclei, chromosomal fragment, biochemistry of blood and spermatogenesis. Whereas the biological samples that can be used for assessing the radiation dose received by workers or accidental victims are blood, sperm, hair, and urine.Keywords: Interaction between ionizing radiation, biological system
SEMI OTOMATISASI KARIOTIPE UNTUK DETEKSI ABERASI KROMOSOM AKIBAT PAPARAN RADIASI Ramadhani, Dwi; Lusiyanti, Yanti; Alatas, Zubaidah; Purnami, Sofiati
Jurnal Forum Nuklir JFN Vol 6 No 2 November 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SEMI OTOMATISASI KARIOTIPE UNTUK DETEKSI ABERASI KROMOSOM AKIBAT PAPARAN RADIASI. Proses analisis citra kromosom dilakukan dengan mengklasifikasikan kromosom berdasarkan panjang dan bentuknya sehingga dihasilkan ideogram. Proses tersebut dinamakan kariotipe. Kariotipe umumnya dilakukan dengan cara mengambil citra sel pada saat metafase sehingga kromosom terlihat jelas terlebih dahulu, kemudian menggunting setiap citra kromosom dan mengidentifikasi masing­masing kromosom untuk dibuat ideogramnya. Proses kariotipe dapat digunakan untuk mendeteksi aberasi kromosom akibat paparan radiasi. Proses pembuatan kariotipe sangat menyita waktu dan tenaga sehingga telah banyak dikembangkan perangkat lunak untuk membantu kariotipe kromosom baik yang otomatis maupun semiotomatis. Salah satu perangkat lunak tersebut adalah Cytovision 3.6. Selain perangkat lunak yang bersifat komersil terdapat perangkat lunak lain yang dapat di unduh dan digunakan secara bebas uotuk membantu proses kariotipe yaitu SmartType Express. Tujuan kegiatan yang dilakukan adalah untuk membandingkan kemampuan perangkat lunak semi otomatis komersil dan yang bersifat bebas dalam membantu proses pembuatan ideogram untuk mendetek si aberasi kromosom akibat paparan radiasi. Metode yang digunakan adalah membandingkan waktu yang dibutuhkan oleh Cytovision 3.6 dan SmartType Express untuk menghilangkan kesepuluh background citra dan meningkatkan intensitas warna gelap pada pita kromosom juga pemisahan citra kromosom tumpang tindih hingga terbentuk citra kromosom yang lebih mudah untuk diklasifikasi dan dibuat ideogramnya. Data yang didapat kemudian diolah secara statistik menggunakan Uji Wilcoxon dengan hipotesis bahwa H0 adalah tidak terdapat perbedaan waktu secara nyata menggunakan kedua perangkat lunak untuk menghasilkan citra kromosom yang lebih baik dan H1 terdapat perbedaan secara nyata menggunakan kedua perangkat lunak untuk menghasilkan citra kromosom yang lebih baik. Taraf nyata yang digunakan (a) adalah 0,05. Hasil pengolahan secara statistik menunjukkan bahwa pengolahan citra kromosom mengunakan SmartType Express cukup baik dan tidak berbeda dengan perangkat lunak komersil Cytovision 3.6.
Studi aberasi kromosom pada pekerja radiasi di rumah sakit Purnami, Sofiati; Lubis, Masnelli; Agesti S, Viria; Lusiyanti, Yanti; Alatas, Zubaidah
Jurnal Forum Nuklir JFN Vol 5 No 2 November 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi aberasi kromosom pada pekerja radiasi di rumah sakit. Pekerja radiasi di rumah sakit merupakan kelompok pekerja yang beresiko menerima paparan dari radiasi pengion seperti sinar-X dan Cobalt 60 secara terus menerus yang dapat menyebabkan kerusakan materi genetik. Studi sitogenetik memperlihatkan bahwa paparan radiasi dosis rendah secara terus menerus dapat meningkatkan frekuensi kerusakan (aberasi) kromosom. Aberasi kromosom berkaitan erat dengan perubahan genetik yang dapat memicu perkembangan kanker sehingga meningkatnya frekuensi aberasi kromosom juga berarti meningkatnya resiko kecenderungan kanker.Oleh karena hal tersebut maka deteksi aberasi kromosom dapat digunakan untuk memprediksi resiko paparan radiaso ionosasi pada pekerja radiasi di rumah sakit. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah kondisi tingkat kerusakan kromosom pada sel darah yang diinduksi oleh paparan radiasi akibat kerja pada para pekerja radiasi di rumah sakit. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah kondisi tingkat kerusakan kromosom pada sel darah yang diinduksi oleh paparan radiasi akibat kerja pada para pekerja radiasi di rumah sakit. Sebanyak 1 mL sampel darah masing-masing dari 4 non pekerja radiasi dan 34 pekerja radiasi rumah sakit yang bertugas sebagai operator radioterapi dan radiodiagnostik serta dokter dan perawat dan juga fisikiawan medis dikultur selama 48 jam dan dipanen kemudian dibuat preparatnya untuk diamati keberadaan aberasi kromosom dengan mikroskop sebanyak 250-500 sel metafase tiap sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe aberasi kromosom yang ditemukan adalah fragmen asentrik. Hal tersebut kemungkinan karena dosis radiasi yang diterima para pekerja belum cukup untuk menginduksi terbentuknya disentrik maupun ring.