Yanuar Luqman
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Published : 19 Documents
Articles

Found 19 Documents
Search

MEMAHAMI FENOMENA KOMUNIKASI HIPERPERSONAL MENGGUNAKAN ANONYMOUS USERNAME DALAM PORTAL BERITA ONLINE Irsya, Eleonora; Santosa, Hedi Pudjo; Luqman, Yanuar
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MEMAHAMI FENOMENA KOMUNIKASI HIPERPERSONAL MENGGUNAKANANONYMOUS USERNAME DALAM PORTAL BERITA ONLINEAbstrakPortal berita online memberikan keleluasaan kepada pengaksesnya untuk mengunduhaplikasi situs berita dan berkomentar dalam kolom komentar yang disediakan hanya denganmembuat akun. Namun, banyak yang membuat akun dengan identitas lain atau tidak denganidentitas aslinya atau anonim. Hal itu dipermudah dengan tidak adanya verifikasi ketat ketikaakan membuat akun. Selain itu diduga adanya komunikasi hiperpersonal dalam portal beritaonline yaitu masyarakat lebih tertarik berkomunikasi dengan perantaraan internet daripadaberkomunikasi secara langsung. Banyak alasan yang mendasari mengapa mereka melakukan haltersebut ditambah dengan menggunakan akun anonim. Penelitian ini bertujuan untukmengungkap alasan yang mendasari mengapa mempraktikkan komunikasi hiperpersonalmenggunakan akun anonim. Penelitian ini menggunakan landasan Computer MediatedCommunication Theory (CMC), Deindividuation Theory dan Dependency Theory.Hasil penelitian ini menemukan fakta bahwa Portal berita online, selain sebuah situsberita online juga merupakan media komunikasi maya, memungkinkan penggunanya dapatmenulis identitas yang diinginkan sebagai upaya membentuk suatu image tertentu. Akun anonymtersebut dibuat supaya diri mereka tidak mudah dikenali oleh orang lain ketika mengirimkankomentar. Ada pula yang merasa identitas tidak terlalu penting dalam kolom komentar karenadirinya tidak ingin terganggu oleh orang yang terganggu dengan komentar yang dikirimnya.Komunikasi hiperpersonal yang terjadi dikarenakan adanya sebuah kesepahaman yang terbentukwalaupun tidak mengenal latarbelakang masing-masing. Ada pula yang mempunyai keterbatasandalam berkomunikasi dengan orang lain dalam kehidupan nyata sehingga beralih ke portal beritaonline untuk membahas isu-isu yang terjadi.Penelitian ini diharapkan dapat memberikan implikasi-implikasi dalam aspek akademisdan praktis. Implikasi akademis penelitian ini berupa kontribusi dalam memperkaya ilmupengetahuan mengenai interaksi dengan menggunakan media baru di mana terdapat fenomenamelakukan komunikasi hiperpersonal dengan akun anonim. Sementara itu, implikasi praktismemberikan rekomendasi bagi pengakses portal berita online dalam berperilaku sehingga dapattercipta komunikasi yang sehat.Kata Kunci: Media Online, Anonim, Komunikasi Hiperpersonal.UNDERSTANDING HYPERPERSONAL COMMUNICATION PHENOMENON USINGANONYMOUS USERNAME IN ONLINE NEWS PORTALAbstractOnline news portal provides flexibility for users to download the application news sitesapplication and submit a comment in the comments field which will if only users made theaccount. However, many user creates account using fake or anonymous identity. The access tobe anonymous user get easier by the absence of the detail verification when creating an account.Besides that, it is believed that using hyperpersonal communication is because people these dayare more interested to communicate using Internet than direct communication. Many underlyingreason that make them do so and also using the anonymous account. This research is aimsuncover the reason why using hyperpersonal communication using anonymous username. Thisresearch uses Computer Mediated Communication Theory (CMC), Deindividuation Theory andDependency Theory.The research’s outcomes found that online news portal, in addition to an online news siteis also a virtual communication media, allowing users to write the desired identity as an effort toestablish a certain image. The anonymous accounts were made so that they themselves are noteasily recognized by others when submitting a comment. There is also a feeling of identity doesnot really matter in the comments field because he did not want to bothered by people who aretroubled by the comments sent. Hyperpersonal communication that occurs due to a form ofunderstanding that even do not know the background of each. There also has limitations incommunicating with other people in real life so the switch to online news portal to address issuesthat occur.The research is expected to provide the implications of the academic and practicalaspects. Academic implications of this research is a contribution in enriching the knowledge ofthe interaction by using new media where there is a phenomenon Hyperpersonal communicatewith an anonymous account. Meanwhile, the practical implications of providingrecommendations to the access of online news portals to behave so as to create a goodcommunication.Key words : Online Media, Anonym, Hyperpersonal CommunicationMEMAHAMI FENOMENA KOMUNIKASI HIPERPERSONAL MENGGUNAKANANONYMOUS USERNAME DALAM PORTAL BERITA ONLINEKolom sign in or log in atau register or log in sudah tidak asing lagi ketika mengaksessosial media. Fungsinya adalah mendaftarkan identitas untuk memperoleh username. Apakahsulit? Tidak, tinggal mengisi kolom-kolom sesuai dengan data diri. Sayangnya, dewasa ini makinbanyak identitas non riil atau asal-asalan yang dibuat untuk berinteraksi antar pengunjung atauuser lain dalam media sosial tersebut. Hal ini dikarenakan tidak adanya tuntutan untuk membuatidentitas username yang sesuai dengan identitas asli dan kebebasan untuk membuat sebanyakmungkin username.Mendaftar dengan verifikasi yang longgar memicu adanya identitas palsu yangmemberikan kebebasan dalam menggunakan sosial media. Kelonggaran identitas tersebut tidakterlepas dari salah satu karakteristik media baru yang disampaikan Feldman (dalam Flew2005:101) yaitu manipulable (mudah dimanipulasi). Masyarakat diberi kebebasan untukmemanipulasi, merubah data dan informasi secara bebas tanpa adanya batasan atau aturan.Belum pernah ada kasus hukum yang melibatkan users dalam sebuah portal media online karenakomentar yang melanggar etika.Masyarakat seperti diberi kesempatan untuk tidak perlu bertanggung jawab terhadapkomentar atau pendapat dengan pilihan kata yang tidak patut. Hal itu dikarenakan masyarakataman karena identitas mereka tidak riil atau berlindung dibalik username palsu. Manusia telahlupa pada kehidupan nyata dan terjebak dalam virtual reality di mana mereka lebih nyamanuntuk hidup di dalamnya. Internet digunakan sebagai pelarian untuk mendapatkan rasa nyamandan mengatasi rasa kesepian sehingga dapat mengembalikan harga diri sebagai makhluk sosial—tidak dapat hidup tanpa berinteraksi dengan orang lain.Orang yang hidup dengan menggunakan internet acap kali terjebak dalam situasi isolasisosial di mana dia lebih terbuka pada media tersebut. Orang-orang tersebut menggunakaninternet sebagai teknologi sosial atas solusi dalam mengatasi kesepian, ketidakberdayaan, dankehilangan harga diri (Maria Bakardjieva, 2005:123). Sedangkan Walther memberi nama“komunikasi hiperpersonal” untuk menggambarkan komunikasi dengan perantara komputer yangsecara sosial lebih menarik daripada komunikasi langsung. Dia memberikan tiga faktor yangcenderung menjadikan partner komunikasi via komputer lebih menarik: (a) e-mail dan jeniskomunikasi komputer lainnya memungkinkan presentasi diri yang sangat efektif, dengan lebihsedikit penampilan atau perilaku yang tidak diinginkan dibandingkan komunikasi langsung; (b)orang yang terlibat dalam komunikasi via komputer kadang kala mengalami proses atributif yangberlebihan yang di dalamnya dengan membangun kesan stereotip tentang partner mereka; dan (c)ikatan intensifikasi bisa terjadi dalam pesan-pesan positif dari seseorang partner sehingga akanmembangkitkan pesan-pesan positif dari rekan satunya (dalam Severin dan Tankard, 2005:462).Dalam dunia nyata identitas merupakan karakteristik esensial yang menjadi basis pengenalandari sesuatu hal, ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang; jati diri. Menurut Chris Barker,identitas itu bukanlah sesuatu yang terberi (given), tetapi merupakan sesuatu yang dibuat(created). Sama halnya dengan virtual reality, identitas harus dibuat namun tidak mengharuskanakan kebenarannya.Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan mengungkap alasan yang mendasari mengapa mempraktikkankomunikasi hiperpersonal menggunakan anonymous username.TeoriComputer Mediated Communication Theory and the problem of identityComputer Mediated Communication Theory digunakan untuk menjelaskan komunikasiyang terjadi dengan menggunakan media baru yang dinamakan internet. Teori ini digunakanuntuk menjelaskan komunikasi yang dalam hal ini memberi tanggapan atau komentar antarpemilik username pada portal berita online, di mana komunikasi tersebut terjadi dalam ruangvirtual yang dikenal sebagai virtual reality.Deindividuation TheoryTeori Deindividuation juga menegaskan bahwa masuknya individu secara mendalamdalam sebuah kerumunan atau kelompok mengakibatkan hilangnya identitas diri. Akibatnya,seseorang yang merasa kehilangan identitas pribadi lebih cenderung mendorong orang untukbertindak agresif atau menyimpang dari perilaku sosial supaya dapat diterima ketika merekaberada di pengaturan grup daripada ketika mereka sendirian. Dalam kaitannya dengan teorideindividuation, kondisi anonim dalam kelompok menyebabkan kurangnya kesadaran seseorangsiapa mereka sebagai individu.Dependency TheoryTeori ketergantungan media itu sendiri berpendapat bahwa pengaruh media ditentukan olehketerkaitan antara media, penonton, dan masyarakat. Keinginan individu untuk informasi darimedia adalah variabel utama dalam menjelaskan mengapa pesan media memiliki efek kognitif,afektif, atau variabel. Ketergantungan media tinggi, ketika individu mendapatkan kepuasan tetapibergantung pada informasi dari sistem media.Metode PenelitianPenelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif-deskriptif. Penelitiankualitatif mencari jawaban atas pertanyaan dengan menguji berbagai latar sosial dan individuyang menjalaninya. Moleong (2007:6) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai penelitianyang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitianmisalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll. Secara holistik dan dengan cara deskripsidalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan denganmemanfaatkan metode alamiah.Mengungkap alasan atau motivasi yang mendasari mengapa mempraktikkan komunikasihiperpersonal menggunakan username anonym pada portal berita online membutuhkanpendekatan secara langsung di lapangan sehingga diperoleh pengetahuan baru berdasarkanpandangan para informan.Menurut Husserl (dalam Kuswarno 2009:40) fenomenologi bertugas untuk menjelaskanthings in themselves, mengetahui apa yang masuk sebelum kesadaran dan memahami makna danesensinya dalam intuisi dan refleksi diri. Proses ini memerlukan penggabungan apa yang tampakdan apa yang ada dalam gambaran orang yang mengalaminya. Jadi gabungan antara yang nyatadengan yang ideal.Salah satu komponennya yang menjadi analisis dalam penelitian ini adalah kesengajaan.Kesengajaan untuk membuat anonymous username untuk berkomunikasi dalam portal beritaonline. Kesengajaan selalu berhubungan dengan kesadaran, dengan demikian kesengajaanmerupakan proses internal dalam diri manusia. Faktor yang berpengaruh terhadap kesengajaanantara lain kesenangan (minat), penilaian awal dan harapan terhadap objek. Kesengajaan untukmembuat anonymous username dibangun oleh konsep pokok yaitu identitas menjadikan sebuahentitas yang masuk dalam kesadaran sama seharusnya identitas mempertahankan karakteristikdasar dari sebuah entitas. Dalam fenomenologi, identitas terdapat pada ilusi untukmempertahankan hal-hal pokok dari objek sehingga masih bisa dikenali. Dalam sisi portal beritaonline, individu merusak identitas ketika mengembalikan ilusi kepada kesadaran, inilah yangdisebut Husserl sebagai sebuah kesengajaan.PembahasanPerilaku Mengakses Internet dalam Kehidupan Sehari-hariInternet sebagai media komunikasi paling mutakhir bisa dipahami sebagai bagian darikomunikasi massa yang tujuannya memberikan informasi seluas-luasnya kepada khalayak.Tetapi, karena adanya beberapa perbedaan karakteristik yang cukup signifikan sebagaiakibat perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat (Hadi, 2005:20). Portal beritaonline sebagai bagian dari internet telah menjadi bagian dari kebutuhan hiduppenggunanya. Dengan mengakses media sosial ini, pengakses portal berita online dapatmemanfaatkan internet sebagai ”sebuah alat” untuk memenuhi kebutuhan akan informasidan komunikasi manusia yang semakin tinggi. Ditambah lagi, dukungan piranti dalammengakses internet yang semakin praktis memungkinkan manusia dapat lebih mudahdalam mengakses internet dengan menggunakan handphone. Dari keterangan yangdiperoleh dari para informan, aktivitas yang cukup padat tidak menghalangi mereka untuktetap menyempatkan waktu mengakses portal berita online, walaupun sekadar mengecekataupun mencari informasi yang sedang up to date. Dari hasil penelitian, diperolehpemanfaatan lain dari portal berita online dan kolom komentar. Informan dari penelitianmengakui bahwa pemanfaatan portal berita online dan kolom komentar juga dapatdigunakan untuk menambah wawasan atas sebuah isu yang berkembang baik dibacanyasecara langsung atau diperolehnya dari komentar pengakses lain. Ditambah, para informantidak menemukan kelebihan yang dirasakannya menggunakan portal berita online darimedia konvensial. Para informan menganggap media konvensional sudah tidak praktis danekonomis, sehingga perlahan meninggalkan media konvensional untuk beralih ke mediaonline. Tidak semua portal yang ada di Indonesia diakses oleh para informan penelitian ini,paling sering dikunjungi adalah Detik.com, Kompas.com, Tempo.co dan Bola.net karenamenurut informan portal ini menjanjikan kecepatan informasi dalam mengakses berita yangterbaru. Selain itu, tampilan yang lebih sederhana dan lebih terfokus pada beritamenjadikan alasan menarik menjadikan akun portal berita pantas dipilih untuk diikuti. Darihasil penelitian, ditemukan bahwa informan menggunakan portal berita online sebagaimedia baru yang memiliki banyak kegunaan, seperti yang dikatakan McQuail (2000:128-129) yang menjabarkan konsep media baru yang dimiliki oleh portal berita online yaituTingkat Interaktivitas, Tingkat Social Presence, Tingkat Autonomy dan TingkatPlayfullness.Penggunaan Akun Anonymous dalam Portal Berita OnlinePara informan seperti terpengaruh oleh orang lain dan merasakan bahwa tidak adaketentuan yang ketat dalam pembuatan akun. Slouka dalam Ashar Hadi (2005:165)menjelaskan bahwa penggandaan identitas di Internet tak lebih dari sekedar komoditas.Artinya, identitas tidak bersifat esensial, melainkan dibentuk untuk kepentingankepentingan.Para informan juga mempunyai kepentingan menggunakan anonymous,mereka tidak ingin ditelusuri identitasnya karena tidak ingin berurusan dengan orang lainkarena komentarnya. Goffman (dalam Littlejohn dan Foss [eds], 2008:87) mengatakantentang bagaimana cara komunikator mempresentasikan dirinya (self-presentation).Kehidupan sehari-hari dapat dilihat seperti sebuah pertunjukan, di mana terdapat rasapenasaran apa yang akan ditampilkan oleh sang aktor dan yang akan membentuk suatukesan kepada khalayaknya. Seperti layaknya sebuah pertunjukan, terdapat dua bagian dimana aktor tersebut berperan, yaitu front stage dan back stage. Bagian front stage adalahtempat di mana pertunjukan tersebut berlangsung dan diatur sedemikian rupa. Bagianback stage adalah tempat di mana terdapat kesan yang berlawanan dari kesan yangdibangun saat pertunjukan (Goffman dalam Lemert dan Branaman [eds], 1997:Ixv).Akun anonymous yang dimiliki oleh para informan memainkan peran sebagaiaktor pada front stage. Dalam front stage, terdapat beberapa faktor penentu yaitu latar(setting), ciri khas (personal front), dan penampilan dan sikap (appearance and manner)(Goffman, 1956:13-16). Sebagai aktor pada front stage, akun anonymous diharuskanmenyembunyikan beberapa hal, seperti misalnya kesalahan (errors) yang secara tidaksengaja muncul saat persiapan pertunjukan atau saat pertunjukan tersebut berlangsung(Goffman, 1956:27). Hal itu dilakukan oleh para informan dengan membaca ulangkomentar yang hendak mereka kirimkan dan menambah wawasan mereka telebih dahulusebelum memberikan komentar. Goffman sendiri yang mengatakan bahwa untukmemperoleh peran, maka seorang aktor tidak diperkenankan untuk membiarkan dirinyamengalami ejekan, hinaan, dan berbagai bentuk perendahan diri (1956:29). Sependapatdengan Goffman, para informan menghindari hal-hal negatif yang bisa saja terjadidengan menyembunyikan identitas asli mereka. Seperti yang dikatakan oleh Goffman(1956:28), untuk menghasilkan sebuah pertunjukan yang bagus, standar ideal yangdimiliki seorang aktor dapat diperoleh dengan mengorbankan privasi dirinya ataubeberapa hal yang berhubungan dengan dirinya dan orang lain di sekitarnya. Privasibukan saja seputar identitas namun juga berupa kegiatan-kegiatan yang dilakukan olehaktor pada back stage. Para informan tidak memberikan tambahan informasi mengenaidiri mereka sebenarnya dalam bentuk apapun dalam akun anonymous. Bagaimana punjuga, meski terdapat tekanan dari suatu bagian untuk dapat diidentifikasi sebagai frontdan back dari sebuah pertunjukan yang di mana saling berhubungan satu sama lain, tetapakan ada beberapa bagian yang fungsinya dapat saling bertukar, kapan menjadi front dankapan menjadi back, dan juga sebaliknya (Goffman, 1956:77). Hal ini menurut parainforman bergantung pada rubrik berita yang mereka baca, mereka bisa menjadi dirisendiri ketika mengomentari hal yang mereka suka, bola misalnya. Berbeda ketikamengomentari news dan isu politik yang mereka belum tentu paham.Perilaku Komunikasi Hiperpersonal dalam Portal Berita OnlineTerdapat perbedaan pandangan pengakses portal berita online dalam menyikapikomunikasi dengan menggunakan media virtual ini. Pandangan pertama, bahwa portalberita online memberikan kenyamanan kepada penggunanya sebagai media komunikasiyang mudah. Portal berita online memberikan situasi yang berbeda di mana penggunanyadapat menentukan momen yang tepat dalam membuat komentar sehingga orang dapatmemberikan respon yang sesuai dengan harapan. Maka dari itu, pengakses portal beritaonline berusaha menyesuaikan dengan orang lain sehingga dapat tertarik untuk meresponkomentar yang dibuatnya. Harapan (expectation) yang dimaksud dalam bahasan iniadalah seperti yang dijelaskan oleh West dan Turner (2008:159) yang dapat diartikansebagai pemikiran dan perilaku yang diantisipasi dan disetujui dalam percakapan oranglain. Oleh karenanya, termasuk di dalam harapan ini adalah perilaku verbal dan nonverbalseseorang. Akan tetapi, harapan dalam komunikasi pengakses portal berita onlineberkaitan dengan isi berita dan perilaku yang diwakilkan oleh tulisan yang dibuat olehpenggunannya di portal berita online. Untuk memaknai harapan yang bersifat non-verbalcukup berbeda dengan dunia nyata karena para pelaku komunikasi tidak bertemu secaralangsung. Burgoon dan Hale menyatakan ada dua jenis harapan : prainteraksional daninteraksional.Harapan pra-interaksional (pre-interactional expectation) mencakupjenis pengetahuan dan keahlian interaksional yang dimiliki oleh komunikatorsebelum memulai percakapan. Jika dikaitkan dengan hasil penelitian mengenaiperilaku pengakses portal berita online, para pengakses portal berita online tidakselalu mengetahui apa yang dibutuhkan untuk memasuki dan mempertahankansebuah percakapan. Percakapan yang terjadi tidak selalu sesuai yang diharapkankarena belum tentu suatu permulaan pembicaraan dapat menarik orang lain untukturut berkomentar atau mengomentari komentar yang dibuat oleh para informan.Pengetahuan akan komunikan dan keahlian kecakapan interaksional komunikatorsangat besar pengaruhnya.Harapan interaksional (interactional expectation) merujuk padakemampuan seseorang untuk menjalankan interaksi itu sendiri. Kebanyakan orangmengharapkan orang lain untuk menjaga jarak sewajarnya dalam sebuahpercakapan. Menurut Burgoon dan Hale kemampuan seseorang dalammenjalankan interaksi ini sering kali mempertimbangkan isyarat non-verbal danketergantungannya pada latar belakang budaya dari komunikator. Dengandemikian, harapan akan terpenuhi oleh budaya tempat komunikator tinggal.KesimpulanPerangkat elektronik seperti perangkat komputer atau laptop serta gadget seperti smartphone danandroid memudahkan para pengakses portal berita online untuk selalu terhubung dengan internetdan mengakses situs berita. Walaupun tidak praktis dibandingkan dengan gadget, intensitasmengakses internet menggunakan komputer tidak kalah dengan pengguna gadget canggih.Media konvensional meliputi koran dan majalah sudah tidak efisien dibandingkan dengan situsberita online dalam menyajikan sebuah news dan perkembangan isu-isu yang sedang hangatdiperbincangkan. Situs berita online dianggap lebih efisien dan hemat dan memiliki efek dominoyang mampu membawa pembaca untuk mengetahui berita secara mendalam dan dalam berbagaisisi yang berbeda. Ditambah dengan kemudahan interaktif yang disediakan dalam bentuk kolomkomentar.Pembuatan akun anonymous yang dilakukan merupakan dianggap tidak menyalahi peraturankarena tidak ada peraturan yang berlaku tegas dalam pembuatan identitas dalam portal beritaonline. Nama yang dipakai ada yang tidak jauh dari identitas asli namun ada yang sangat jauhdari identitas asli. Hal ini dimanfaatkan para pengakses portal untuk bisa berkomentar tanpadikenali langsung oleh orang lain. Mereka tidak ingin terganggu ruang privasinya karenakomentar yang dikirimkan.Komunikasi dalam portal berita online sangat rentan terhadap mis-understanding dalammemaknai pesan. Kecakapan pengakses portal berita online dalam menyampaikan pesan kepadapengakses lain dianggap penting dalam berkomunikasi sehingga pesan yang disampaikan dapatdimaknai secara benar dan tidak menyinggung orang lain.Kekurangan dalam berkomunikasi langsung dan kekurangan dalam diri sendiri menjadi salahsatu alasan pengakses portal berita online untuk secara nyaman berkomunikasi via portal beritaonline. Identitas baru yang dibuat bisa saja diketahui kemudian hari, namun pengakses portalberita dan pemilik akun anonymous tidak gentar dan takut karena mereka merasa benar danberkomentar secara sopan.
PR Campaign Klub Sepatu Roda di Bawah Porserosi Semarang Melalui Rangkaian event “Juara Bersama Sepatu Roda”dan “Fun Skate on Car Free Day” (Project Officer) Ciptaning, Rodra; Luqman, Yanuar; ulfa, Nurist Surraya
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan Olahraga merupakan suatu kegiatan positif yang penuh dengan manfaat bagi setiapinsan yang menjalankannya. Berbagai jenis cabang olahraga telah dikenal diIndonesia, bahkan diantaranya mampu membawa Indonesia dikenal di kancah dunia,sebut saja Bulu Tangkis, Angkat besi, Dayung dan masih banyak lagi. Disampingolahraga – olahraga tersebut, masih banyak cabang olahraga yang berpotensi untukmengukir prestasi, sebut saja sepatu roda.Akhir-akhir ini masyarakat kota Semarang memang sedang mengalami musimpermainan sepatu roda, dimana tiap sore hingga malam disepanjang jalan SimpangLima dipenuhi masyarakat pecinta sepatu roda yang memainkan atraksinya dan tidaksedikit pula para pemula yang belajar untuk mencoba permainan ini. Hal ini diikutidengan menjamurnya komunitas yang menyewakan sepatu roda di kawasan SimpangLima Semarang. Tidak sedikit pengunjung yang ikut meramaikan permainan sepaturoda ini, mulai dari anak-anak hingga remaja bahkan dewasa yang bermain sepaturoda tiap harinya.PORSEROSI (Persatuan Olah Raga Sepatu roda Seluruh Indonesia) kotaSemarang pun menyatakan bahwa selama ini, sosialisasi tentang olah raga sepatu rodamemang masih kurang. Sosialisasi klub – klub sepatu roda di bawah naunganPORSEROSI kota Semarang untuk menjaring anggotanya juga sangat kurang.Sampai saat ini terdapat 3 (tiga) klub sepatu roda di kota Semarang, diantaranyaEagle, Ikos, Kairos. Klub-klub tersebut siap memberi pelatihan dan mengajarkanteknik – teknik olahraga sepatu roda, baik untuk anak – anak maupun dewasa.Karenanya PORSEROSI kota Semarang akan menyasar pada tingkat anak-anak,dengan jenjang usia 7 – 12 tahun, dengan maksud dapat mendapatkan anak-anak yangberbakat sejak dini.Segmen pesepatu roda dini atau anak-anak, dipilih berdasarkan beberapafaktor, diantaranya anak-anak adalah fase yang berpeluang untuk dijejali motivasi dangambaran-gambaran, yang akan mampu mendorong dan menjadi pedoman merekauntuk menggali dan menentukan bakatnya sejak dini. Kedua, anak – anak tersebutmasih memiliki pemikiran yang terbatas sehingga hal ini merupakan peluang untukmengedukasi mereka dan dapat menghasilkan anak-anak berbakat yang akan menjadiatlet sebagai upaya regenerasi Sepatu roda Jawa Tengah khususnya Kota Semarang.Dapat dilihat antara fenomena yang terjadi sekarang ini, bahwa sepatu rodayang sedang digandrungi disemua kalangan. Namun, hal ini tidak diimbangi denganpengetahuan masyarakat akan keberadaan klub-klub sepatu roda di kota Semarang.Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui klub-klub sepatu roda, sehinggabanyak diantara mereka yang tidak berminat untuk bergabung ke klub-klub sepaturoda. Sebagian dari masyarakat kota Semarang yang gemar bersepatu roda, hanyamelakukan olah raga ini untuk mengisi waktu luang dan mengikuti trend terkini.Selain sosialisasi klub yang sangat kurang, faktor area atau lapangan untukberlatih juga minim sehingga jumlah anggota klub-klub yang terbentuk juga tidaklahbanyak, hanya sekitar 50 – 70 anggota di tiap klub-nya. Dengan berkembangnyapermainan sepatu roda di kota Semarang, PORSEROSI bermaksud untuk mengajakanak-anak yang tertarik Sepatu roda untuk turut serta bergabung dengan klub-klubSepatu roda dengan tujuan agar mereka mendapat pengarahan, pengetahuan sertateknik-teknik Sepatu roda. Di samping itu, dengan tergabungnya mereka ke dalamklub sepatu roda juga dapat menjaring bibit-bibit unggul sebagai upaya regenerasiatlet Sepatu roda yang masih lambat.B. Batang TubuhKarya bidang ini disusun dengan menggunakan pendekatan persuasif serta penerapanteori- teori kampanye PR untuk mendukung keberhasilan tujuan komunikasinya.Melalui penyelenggaraan serangkaian event yang meliputi roadshow “Juara BersamaSepatu Roda” dan “Fun Skate on Car Free Day” cara ini dinilai efektif untukmeningkatkan awareness masyarakat akan klub sepatu roda. Roadshowdiselenggarakan di enam sekolah dasar di kota Semarang dengan materi acarameliputi perkenalan olah raga sepatu roda, perkenalan klub beserta atletnya sertamengadakan coaching clinic teknik dasar bermain sepatu roda. Acara puncak “FunSkate on Car Free Day” diselenggarakan di area Car Free Day jalan Pahlawan denganmenampilkan atraksi masing- masing klub sepatu roda. Masyarakat yang inginbergabung dalam klub pun dapat mendaftar secara langsung di stan masing-masingklub yang diinginkan.Keberhasilan dalam mencapai tujuan komunikasi dapat diketahui berdasarkanriset pasca event. Setelah event berlangsung, awareness audiens meningkat sebanyak23,37% dari yang semula 48,3% menjadi 71,67%. Sedangkan minat untuk bergabungke dalam klub sepatu roda juga meningkat sebesar28,67%. Dengan demikian,rangkaian event PR campaign ini efektif untuk mencapai tujuan komunikasi awal.Berikut merupakan parameter keberhasilan event ini :Tabel Parameter keberhasilan eventParameter KeteranganCommunication Objective Dari riset penyelenggara pasca event yang dilakukan melalui 60responden yang mengetahui Klub sepatu roda kota Semarang,sebanyak 43, yang berminat gabung ke dalam klub sebanyak 41responden dan yang mengetahui event “Fun Skate on CFD”sebanyak 53 responden. Data per klub menunjukkan jumlahkenaikan anggota setelah acara terselenggara. (Ikos mengalamikenaikan anggota sebanyak 18 anak, Kairos 21 anak dan Eagle 14anak)Konsep Acara Dari 34 responden yang mengikuti acara “Fun Skate on Car FreeDay”, sebanyak 23 responden menyatakan bahwa acara tersebut“sangat menarik”, sisanya menyatakan “menarik”.Target Audience Total peserta coaching clinic “Juara Bersama Sepatu Roda” dan‘Fun Skate on CFD” secara akumulatif mencapai 550 peserta daritarget minimal 200 peserta.Rundown dan Timeline a. Tidak terjadi pembatalan event. Event “Fun Skate on CFD”tetap dilaksanakan pada hari H, yaitu Minggu, 28 Oktober 2012sesuai dengan kesepakatan.b. Acara “Fun Skate on CFD” berjalan sesuai dengan rundown,meskipun terjadi delay selama 15 menit dan overtime selama 20menit, namun tetap masih dalam batas toleransi awal yaitumaksimal delay adalah selama 59 menit.Budgeting a. Tidak terjadi adanya pembengkakan budget selamaperencanaan hingga pelaksanaan eventb. Semua anggaran pelaksanaan acara” diperoleh dari kegiatansponsorshipc. Kegiatan “Fun Skate on CFD” mendapatkan surplus sebesarRp. 2.250.000,- dari sponsorshipSponsorship a. Kegiatan “Fun Skate on Car Free Day” berhasilmendapatkan pendanaan secara penuh dari pihak sponsor, yaituPT KAI, Suara Merdeka group dan sponsor lainnyab. Kegiatan ini juga didukung oleh sponsor (dalam bentukproduk), yaitu Telkomsel, Aquaria, Horison,CocacolaPermit and Venue Kegiatan “Fun Skate on CFD” berhasil mendapatkan izin venue dienam sekolah dasar dan area Car Free Day jalan pahlawan padawaktu yang telah ditentukan tanpa mengeluarkan biaya.C. PenutupKarya bidang ini diharapkan dapat memberikan implikasi-implikasi dalam aspekakademis dan praktis. Implikasi akademis karya bidang ini berupa kontribusi untukmemperkaya pengetahuan akan penerapan strategy persuasive dan penerapan teori PRcampaign dalam pencapain tujuan komunikasi. Sementara itu, implikasi praktismemberikan pengetahuan dan pengalaman untuk membuat kegiatan promosi yangefektif sesuai dengan target audiens serta tujuan komunikasinya.D. Daftar PustakaWebsitehttp://ponriau2012.com/index.php?option=com_content&view=article&id=200&Itemid=149 diakses pada tanggal 30 Mei 2012 pukul 21.45WIBhttp://www.satlakprima.com/news/sepatu-roda-berpeluang-ukir-medali/) diakse padatanggal 30 Mei 2012 pukul 22.10 WIB(http://sports.okezone.com/read/2012/04/02/43/603974/sepatu-roda-jabar-gemilangdi-selandia-baru) diakses pada tanggal 30 Mei 2012 pukul22.17 WIBhttp://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/16/69 Diakses pada tanggal 2 juni 2012pukul 23.10 WIBBukuBelch E.George and Belch A. Michael,2001, Introduction to Advertasing andPromotions an Interegated Marketing Communications Perspective, New Yor; :Mc Graw HillDeVito,Joseph.1997.Komunikasi Antar Manusia. Jakarta : Professional BookEffendy, Onong Uchjana. 2002, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT.Remaja Rosda KaryaLarson,Charles U.2009.Persuasion: Reception andResponsibility.California:Wadsworth Publishing CompanyLerbinger,Otto.2003.Design for Persuasive Communication. Yogyakarta;PustakaPelajarLittlejohn, Stephen W.2009.Teori Komunikasi ( Theories of Human Communication).Jakarta: Salemba HumanikaSissors, Jack Z. and Bumba, Lincoln. (1996). Advertising and Media Planning, (5thed.). USA: Ntc Business BookSumber lainData Statistik kota Semarang tahun 2009Data keanggotaan klub Porserosi kota Semarang 2012
PR Campaign Klub Sepatu Roda di Bawah Porserosi Semarang Melalui Rangkaian event “Juara Bersama Sepatu Roda” dan “Fun Skate on Car Free Day” (Marketing Communications) Sawitri, Ruli; Luqman, Yanuar; ulfa, Nurist Surraya
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan Olahraga merupakan suatu kegiatan positif yang penuh dengan manfaat bagi setiapinsan yang menjalankannya. Berbagai jenis cabang olahraga telah dikenal di Indonesia,bahkan diantaranya mampu membawa Indonesia dikenal di kancah dunia, sebut saja BuluTangkis, Angkat besi, Dayung dan masih banyak lagi. Disamping olahraga – olahragatersebut, masih banyak cabang olahraga yang berpotensi untuk mengukir prestasi, sebut sajasepatu roda.Akhir-akhir ini masyarakat kota Semarang memang sedang mengalami musimpermainan sepatu roda, dimana tiap sore hingga malam disepanjang jalan Simpang Limadipenuhi masyarakat pecinta sepatu roda yang memainkan atraksinya dan tidak sedikit pulapara pemula yang belajar untuk mencoba permainan ini. Hal ini diikuti dengan menjamurnyakomunitas yang menyewakan sepatu roda di kawasan Simpang Lima Semarang. Tidak sedikitpengunjung yang ikut meramaikan permainan sepatu roda ini, mulai dari anak-anak hinggaremaja bahkan dewasa yang bermain sepatu roda tiap harinya.PORSEROSI (Persatuan Olah Raga Sepatu roda Seluruh Indonesia) kota Semarangpun menyatakan bahwa selama ini, sosialisasi tentang olah raga sepatu roda memang masihkurang. Sosialisasi klub – klub sepatu roda di bawah naungan PORSEROSI kota Semaranguntuk menjaring anggotanya juga sangat kurang. Sampai saat ini terdapat 3 (tiga) klub sepaturoda di kota Semarang, diantaranya Eagle, Ikos, Kairos. Klub-klub tersebut siap memberipelatihan dan mengajarkan teknik – teknik olahraga sepatu roda, baik untuk anak – anakmaupun dewasa. Karenanya PORSEROSI kota Semarang akan menyasar pada tingkat anakanak,dengan jenjang usia 7 – 12 tahun, dengan maksud dapat mendapatkan anak-anak yangberbakat sejak dini.Segmen pesepatu roda dini atau anak-anak, dipilih berdasarkan beberapa faktor,diantaranya anak-anak adalah fase yang berpeluang untuk dijejali motivasi dan gambarangambaran,yang akan mampu mendorong dan menjadi pedoman mereka untuk menggali danmenentukan bakatnya sejak dini. Kedua, anak – anak tersebut masih memiliki pemikiranyang terbatas sehingga hal ini merupakan peluang untuk mengedukasi mereka dan dapatmenghasilkan anak-anak berbakat yang akan menjadi atlet sebagai upaya regenerasi Sepaturoda Jawa Tengah khususnya Kota Semarang.Dapat dilihat antara fenomena yang terjadi sekarang ini, bahwa sepatu roda yangsedang digandrungi disemua kalangan. Namun, hal ini tidak diimbangi dengan pengetahuanmasyarakat akan keberadaan klub-klub sepatu roda di kota Semarang. Masih banyakmasyarakat yang belum mengetahui klub-klub sepatu roda, sehingga banyak diantara merekayang tidak berminat untuk bergabung ke klub-klub sepatu roda. Sebagian dari masyarakatkota Semarang yang gemar bersepatu roda, hanya melakukan olah raga ini untuk mengisiwaktu luang dan mengikuti trend terkini.Selain sosialisasi klub yang sangat kurang, faktor area atau lapangan untuk berlatihjuga minim sehingga jumlah anggota klub-klub yang terbentuk juga tidaklah banyak, hanyasekitar 50 – 70 anggota di tiap klub-nya. Dengan berkembangnya permainan sepatu roda dikota Semarang, PORSEROSI bermaksud untuk mengajak anak-anak yang tertarik Sepaturoda untuk turut serta bergabung dengan klub-klub Sepatu roda dengan tujuan agar merekamendapat pengarahan, pengetahuan serta teknik-teknik Sepatu roda. Di samping itu, dengantergabungnya mereka ke dalam klub sepatu roda juga dapat menjaring bibit-bibit unggulsebagai upaya regenerasi atlet Sepatu roda yang masih lambat.B. Batang TubuhKarya bidang ini disusun dengan menggunakan pendekatan persuasif serta penerapanteori- teori kampanye PR untuk mendukung keberhasilan tujuan komunikasinya. Melaluipenyelenggaraan serangkaian event yang meliputi roadshow “Juara Bersama Sepatu Roda”dan “Fun Skate on Car Free Day” cara ini dinilai efektif untuk meningkatkan awarenessmasyarakat akan klub sepatu roda. Roadshow diselenggarakan di enam sekolah dasar di kotaSemarang dengan materi acara meliputi perkenalan olah raga sepatu roda, perkenalan klubbeserta atletnya serta mengadakan coaching clinic teknik dasar bermain sepatu roda. Acarapuncak “Fun Skate on Car Free Day” diselenggarakan di area Car Free Day jalan Pahlawandengan menampilkan atraksi masing- masing klub sepatu roda. Masyarakat yang inginbergabung dalam klub pun dapat mendaftar secara langsung di stan masing-masing klub yangdiinginkan.Keberhasilan dalam mencapai tujuan komunikasi dapat diketahui berdasarkan risetpasca event. Setelah event berlangsung, awareness audiens meningkat sebanyak 23,37% dariyang semula 48,3% menjadi 71,67%. Sedangkan minat untuk bergabung ke dalam klubsepatu roda juga meningkat sebesar28,67%. Dengan demikian, rangkaian event PR campaignini efektif untuk mencapai tujuan komunikasi awal. Berikut merupakan parameterkeberhasilan event ini :Tabel Parameter keberhasilan eventParameter KeteranganCommunicationObjectiveDari riset penyelenggara pasca event yang dilakukan melalui60 responden yang mengetahui Klub sepatu roda kotaSemarang, sebanyak 43, yang berminat gabung ke dalamklub sebanyak 41 responden dan yang mengetahui event“Fun Skate on CFD” sebanyak 53 responden. Data per klubmenunjukkan jumlah kenaikan anggota setelah acaraterselenggara. (Ikos mengalami kenaikan anggota sebanyak18 anak, Kairos 21 anak dan Eagle 14 anak)Konsep Acara Dari 34 responden yang mengikuti acara “Fun Skate on CarFree Day”, sebanyak 23 responden menyatakan bahwa acaratersebut “sangat menarik”, sisanya menyatakan “menarik”.Target Audience Total peserta coaching clinic “Juara Bersama Sepatu Roda”dan „Fun Skate on CFD” secara akumulatif mencapai 550peserta dari target minimal 200 peserta.Rundown dan Timeline a. Tidak terjadi pembatalan event. Event “Fun Skate onCFD” tetap dilaksanakan pada hari H, yaitu Minggu, 28Oktober 2012 sesuai dengan kesepakatan.b. Acara “Fun Skate on CFD” berjalan sesuai denganrundown, meskipun terjadi delay selama 15 menit danovertime selama 20 menit, namun tetap masih dalam batastoleransi awal yaitu maksimal delay adalah selama 59 menit.Budgeting a. Tidak terjadi adanya pembengkakan budget selamaperencanaan hingga pelaksanaan eventb. Semua anggaran pelaksanaan acara” diperoleh darikegiatan sponsorshipc. Kegiatan “Fun Skate on CFD” mendapatkan surplussebesar Rp. 2.250.000,- dari sponsorshipSponsorship a. Kegiatan “Fun Skate on Car Free Day” berhasilmendapatkan pendanaan secara penuh dari pihak sponsor,yaitu PT KAI, Suara Merdeka group dan sponsor lainnyab. Kegiatan ini juga didukung oleh sponsor (dalam bentukproduk), yaitu Telkomsel, Aquaria, Horison,CocacolaPermit and Venue Kegiatan “Fun Skate on CFD” berhasil mendapatkan izinvenue di enam sekolah dasar dan area Car Free Day jalanpahlawan pada waktu yang telah ditentukan tanpamengeluarkan biaya.C. PenutupKarya bidang ini diharapkan dapat memberikan implikasi-implikasi dalam aspekakademis dan praktis. Implikasi akademis karya bidang ini berupa kontribusi untukmemperkaya pengetahuan akan penerapan strategy persuasive dan penerapan teori PRcampaign dalam pencapain tujuan komunikasi. Sementara itu, implikasi praktis memberikanpengetahuan dan pengalaman untuk membuat kegiatan promosi yang efektif sesuai dengantarget audiens serta tujuan komunikasinya.D. Daftar Pustaka1. Websitei. http://ponriau2012.com/index.php?option=com_content&view=article&id=200&Itemid=149 (diakses pada tanggal 30 Mei 2012 pukul 21.45 WIB).ii. http://www.satlakprima.com/news/sepatu-roda-berpeluang-ukir-medali/) diaksespada tanggal 30 Mei 2012 pukul 22.10 WIB).iii. http://sports.okezone.com/read/2012/04/02/43/603974/sepatu-roda-jabargemilang-di-selandia-baru (diakses pada tanggal 30 Mei 2012 pukul 22.17 WIB).iv. http://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/16/69 (diakses pada tanggal 2 juni2012 pukul 23.10 WIB).2. Bukui. Belch E.George and Belch A. Michael,2001, Introduction to Advertasing andPromotions an Interegated Marketing Communications Perspective, New Yor; :Mc Graw Hill.ii. DeVito,Joseph.1997.Komunikasi Antar Manusia. Jakarta : Professional Bookiii. Effendy, Onong Uchjana. 2002, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung:PT. Remaja Rosda Karya.iv. Larson,Charles U.2009.Persuasion: Reception andResponsibility.California:Wadsworth Publishing Company.v. Lerbinger,Otto.2003.Design for Persuasive Communication. Yogyakarta;PustakaPelajar.vi. Littlejohn, Stephen W.2009.Teori Komunikasi ( Theories of HumanCommunication). Jakarta: Salemba Humanika Sissors, Jack Z. and Bumba,Lincoln. (1996). Advertising and Media Planning, (5th ed.). USA: Ntc BusinessBooks3. Sumberlaini. Data Statistik kota Semarang tahun 2009ii. Data keanggotaan klub Porserosi kota Semarang 2012
Memahami Strategi Komunikasi Pesan Akademi Berbagi di Twitter Palupi, Retno; Luqman, Yanuar; Hasfi, Nurul
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar BelakangAkademi Berbagi merupakan salah satu gerakan sosial yang ada di Indonesia.Keberadaannya sejak Juni 2010 telah berhasil menyedot perhatian masyarakatmelalui twitter. Tidak hanya masyarakat biasa yang ingin terus belajar, tetapi jugaorang-orang yang telah ahli dan memiliki cukup ilmu. Akademi Berbagimenyelenggarakan kelas – kelas pendek kepada semua orang secara gratis.Mereka datang dan belajar tanpa perlu membayar dan gurunya pun secarasukarela membagikan ilmunya. Ilmu – ilmu yang dipelajari bersama di kelas dapatberasal dari berbagai macam disiplin ilmu, terutama ilmu aplikatif, seperti iklan,creative writing, fotografi, budaya, kesehatan dan lain-lain. Dengan tagline“Berbagi Bikin Happy”, Akademi Berbagi menyebarkan virus berbagai ke seluruhpelosok negeri.Berawal dari keinginan inisiatornya, Ainun Chomsun, untuk belajarcopywriting dengan Subiakto (CEO Hotline Advertising) pada Juli 2010, sebuahkelas kecil berisi 30 orang telah dimulai pada saat itu. Dilanjutkan dengan kelaskecil berikutnya, tentang jurnalistik bersama Budiono Darsono (CEO Detikcom),hingga saat ini Akademi Berbagi telah menyelenggarakan banyak kelas kecil di 35kota di Indonesia, termasuk Singapura. Jika dibayangkan, hal tersebut tidak akanbisa terjadi tanpa twitter. Bagaimana tidak? Gerakan sosial ini bermula danberkembang melalui twitter. Kemampuan twitter menyebarkan berita atauinformasi secara cepat dan luas menjadi modal dan alasan utama pemilihan mediaini.Akademi berbagi menjadikan twitter sebagai media utama dalampenyebarannya. Dalam kurun waktu dua tahun, tidak heran jika penyebaraannyabegitu cepat hingga mencapai 35 kota di Indonesia, termasuk Singapura. Dari kotabesar seperti Jakarta hingga kota kecil seperti Madiun bahkan Batu andBondowoso, semua mulai terjangkit virus berbagi yang disebarkan AkademiBerbagi. Kelas-kelas pendek diadakan seara rutin di seluruh kota sehinggamemungkinkan orang untuk dapat belajar gratis secara rutin.Seperti halnya Akademi Berbagi, dewasa ini, dalam prakteknya twitterkemudian digunakan sebagai media utama untuk menyebarkan segala macaminformasi dan pesan. Jaringannya yang sangat luas, real time, tidak terbatas dancepat menjadikan orang lebih “membaca” twitter daripada media-media lain.Terlebih lagi, suara satu orang di twitter dapat lebih berpengaruh daripada suarasebuah media massa tradisional dan sebuah brand. Setiap user di twitter memilikikemampuan untuk mem-boost-up sebuah berita.Dapat diakses secara mobile juga menjadikan orang semakin tidak bisalepas dari aktivitas twitter. Dalam sekali mengakses twitter, orang bisamendapatkan berbagai macam informasi melalui timeline yang secara aktif terusmeng-update berbagai macam informasi dengan sangat cepat. Adanya trendingtopic yang bisa diakses berdasarkan worldwide, negara, maupun kota jugamenjadikan orang dapat mengetahui topik apa yang sedang dibicarakan orangorangdalam cakupan wilayah tersebut dan memungkinkan orang untuk masuk kedalam topik tersebut dengan bebas dan gratis.II. Perumusan MasalahKemampuan twitter untuk menyebarkan sebuah isu atau berita secara cepat, luas,dan tanpa batas menjadikannya dijadikan pilihan utama oleh pihak-pihak tertentuuntuk menyebarluaskan sebuah informasi atau pesan kepada khalayak luas.Begitupun dengan Akademi Berbagi. Gerakan sosial ini menggunakan twittersebagai media utama dalam komunikasinya dengan khalayak. Semakin lama,gerakan sosial ini semakin luas walaupun baru dua tahun lebih berdiri.Hingga pada tanggal 29 Desember 2012, followers Akademi Berbagi ditwitter mencapai angka 30.271. (https://twitter.com/akademiberbagi yang diaksespada 29 Desember 2012 pukul 23.16). Berdasarkan angka tersebut, dapatdisimpulkan bahwa gerakan sosial ini benar-benar memaksimalkan twitter sebagaimedia utama untuk persebarannya. Dan semakin lama, semakin banyak orangyang terkena terpaan untuk mengikuti gerakan ini baik secara aktif denganmengikuti kegiatan offline-nya maupun secara pasif dengan mem-follow akuntwitter Akademi Berbagi.Berdasarkan fenomena tersebut, maka yang akan dikaji dalam penelitianini adalalah bagaimana strategi komunikasi pesan yang digunakan AkademiBerbagi di twitter sehingga menjadikannya dapat tersebar hingga begitu cepat danluas, bahkan ke kota kecil dan negara tetangga sekalipun.III. Tujuan PenelitianTujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami strategi komunikasi pesan yangdigunakan oleh Akademi Berbagi.IV. Kerangka TeoriDi ranah media baru, terdapat beberapa situs social media yang kontennyadiciptakan dan didistribusikan melalui interaksi sosial. Sosial media bisaditerjemahkan menjadi komunikasi dari banyak orang ke banyak orang sejakpenggunanya juga merupakan sumber konten informasi. (Straubhaar, LaRose,Davenport: 2012: 20).Pada tahun 1990, Mark Poster meluncurkan buku besarnya, The SecondMedia Age, di mana ada dua pandangan tentang perbedaan antara era mediapertama dengan era media kedua dengan penekanannya pada jaringan, yaitu:pendekatan interaksi sosial (sosial interaction), membedakan media menurutseberapa dekat media dengan interaksi tatap muka, yang mana di twitter, orangorangbertemu secara maya, real time serta non stop untuk berbagai keperluan,termasuk di dalamnya saling berbagi pengetahuan, ilmu dan pandangan sertamemperluas dunia jaringan orang per orangan, dan pendekatan integrasi sosial(social integration), menggambarkan media bukan hanya sebuah instrumentinformasi atau cara untuk mencapai ketertarikan diri, tetapi menyatukan kitadalam beberapa bentuk masyarakat dan member kita rasa saling memiliki.Munculnya berbagai sosial movement adalah bukti dari sosial integration di eramedia kedua.Strategi adalah keseluruhan keputusan kondisional tentang tindakan yangakan dijalankan guna mencapai tujuan. Jadi, dalam merumuskan strategikomunikasi juga terutama memperhitungkan kondisi dan situasi khalayak. (Arifin,1984: 10). Di dalam penyusunan strategi komunikasi, terdapat 5 tahap yang harusdiperhatikan menurut Joep Cornelissen dalam bukunya CorporateCommunications, yaitu: strategic analysis yang meliputi demografi, ekonomi,sosial, teknologi, ekologi dan politis; analisis pasar dan kompetitor; strategicintent yang berfungsi untuk menetapkan arah yang ditempuh berupa wujud dalambentuk sasaran dan aksi tindakan yang akan diambil untuk mencapai sasaran;strategic action yang terdiri dari menspesifikasikan peran komunikasi danmenegaskan sasaran specific (spesifik), measurable (dapat diukur), actionable(dapat dilaksanakan secara nyata, realistic (realistis) dan targeted (dapatditargetkan), merencanakan teknik-teknik komunikasi, menentukan tatananorganisasi; serta tracking dan evaluasi.Strategi komunikasi tidak hanya digunakan oleh brand yang berorientasiprofit dan menggunakan segala bentuk saluran komunikasi. Akan tetapi,organisasi non profit seperti Akademi berbagi yang notabene lahir danberkembang melalui twitter, pun turut serta menggunakan strategi dalampengomunikasikan pesannya. Janel M. Radtke dalam bukunya StrategicCommunication for Nonprofit Organization (1998) menjelaskan ada 7 Langkahdalam menciptakan strategi komunikasi untuk organisasi non profit, yaitu:memajukan misi, mengidentifikasi dan menentukan target audiens, menargetkandan menciptakan pesan, praktis strategi memilih alat yang tepat, membangunrencana, membuat eksekusi, membuat rencana terjadi, mengevaluasi apa yangterjadi.V. Metodologi PenelitianTipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subyek penelitian iniadalah strategi komunikasi pesan Akademi Berbagi di twitter. Data primerdiperoleh dari dua orang, yaitu founder Akademi Berbagi sebagai orang yangmerencanakan strategi komunikasi pesan Akademi Berbagi sejak awal berdiri danadmin twitter Akademi Berbagi sebagai eksekutornya di twitter. Data sekunderdiperoleh dari dua ahli komunikasi digital dan audiens Akademi Berbagi. Masingmasinginforman dipilih melalui goodness criteria. Data diperoleh melaluiwawancara mendalam kepada kelima informan.VI. Kesimpulan1. Dalam penyampaian pesan dan penyebarannya, Akademi Berbagimenggunakan beberapa strategi komunikasi pesan di twitter, yaitu:a. Membuat sebuah cerita (Story Of I), berupa cerita dari perorangan relawanyang kemudian dipublikasikan melalui berbagai online media.b. Membuat narasi yang kuat (Story Of Us), merupakan cerita bersama tentangAkademi Berbagi yang kemudian juga dipublikasikan melalui berbagai onlinemedia.c. Menggunakan endorser, biasanya adalah mereka yang menjadi opinion leaderdalam bidang tertentu.d. Mengikuti kegiatan-kegiatan pada momentum tertentu agar Akademi Berbagisemakin dikenal.e. Branding Akademi Berbagi di twitter dengan mengusung tentang pendidikansebagai benang merahnyaf. Membuat konten pesan yang singkat dan sederhana agar mudah dipahami olehaudience terutama mereka yan masih belum mengenal Akademi Berbagi.2. Selain beberapa strategi komunikasi pesan di atas, ada dua faktor yang jugaberperan penting dalam penyebaran Akademi Berbagi, yaitu jaringankomunikasi pribadi dari masing – masing relawan dan word of mouth (WOM)yang berasal dari pengalaman nyata orang – orang yang pernah terlibat aktifmengikuti Akademi Berbagi.DAFTAR PUSTAKABukuAnwar, Arifin. 1984. Strategi Komunikasi. Bandung: CV ArmicoAssael, Henry. 1998. Customer Behavior and Marketing Action, 6th Edition.Boston: Wadsworth Inc.Cornelissen, Joep 2004. Corporate Communication. London: Sage PublicationLtdDrucker, Peter Ferdinand. 1992. Managing The Non-Profit Organization.Massachusetts: Butterworth-Heinemann PublishingFisher. Aubrey B,. 1986. Teori-Teori Komunikasi (Perspektif Mekanistis,Psikologis, Interaksional dan Pragmatis). Bandung: CV Penerbit RemajaKaryaGuba, Egon G,. 1990. The Paradigm Dialog. Michigan: Sage PublicationHasan, Ali S.E., M.M., 2010. Marketing dari Mulut ke Mulut Word of MouthMarketing . Yogyakarta: Media Presindo.Idrus, Muhammad. 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial: Pendekatan Kualitatifdan Kuantitatif. Yogyakarta: Penerbit ErlanggaKotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran. Jakarta: ErlanggaLittlejohn, Stephen W, dan Foss, Karen A,. 2009. Teori Komunikasi: Theory OfHuman Communication (9th Edition). Jakarta: Penerbit Salemba HumanikaMoleong, Lexy J,. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: P.T. RemajaRosdakaryaMcQuail, Dennis. 2011. Teori Komunikasi Massa (6th Edition). Jakarta: PenerbitSalemba HumanikaNurrudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: P.T. Raja GrafindoPersadaRadtke, Janel M., 2008. Strategic Communication for Non Profit Organizations.Wiley Non Profit SeriesRogers, Everest M. dan D. Lawrence Kincaid. 1980. Communication Network.London: Collier Macmillan PublisherSchramm Wilbur. 1995. The Process Effect Of Mass Communication. UniversityOf Illinois Press UrbanaSmith, Andy. 2011. The power of storytelling: What Non Profits Can Teach ThePrivate Sector About Social Media. London: McKinsey & CompanyStaubhaar, Joseph, Robert LaRose and Lucinda Davenport. 2012. Media Now:Understanding Media, Culture, and Technology (7th edition). MA:Wadsworth Cengage LearningSunarto, Kamanto. 2002. Pengantar Sosiologi Edisi Revisi. Depok: LembagaPenerbit Fakultas Ekonomi Universitas IndonesiaSutisna. 2001. Perilaku Konsumen & Komunikasi Pemasaran. Bandung: PT.Remaja Rosda Karya.WebsiteAnonim. 2012. Microblogging Definition. http://www.hudsonhorizons.com/Our-Company/Internet-Glossary/Microblogging.htm. Diakses pada 15 Mei2012 pukul 2025Bill Moyer. 2010. The Eight Stages of Successful Social Movements.http://paceebene.org/nonviolent-change-101/building-nonviolentworld/methods/eight-stages-successful-social-movements yang diakses pada 18Februari 2013 pukul 09.01Dan Schawbel. 2009. Personal Branding 101. http://mashable.com/2009/02/05/personalbranding-101/ yang diakses pada 22 Februari 2013 pukul 02.10Julian, Leonita. 2012. Personal Branding Emang Perlu.http://leonisecret.com/personal-branding-emang-perlu/ yang diakses pada21 Febriaru 2013 pukul 17.18McGee, Nathan. 2008. http://socialmediatoday.com/index.php?q=SMC/45510 yangdiakses pada 18 Februari 2013 pukul 08.55Novosti, Ria. 2010. Website Group. Twitter: The World In 140 Character.http://en.rian.ru/infographics/20120523/173579422.html. Diakses pada 13Mei 2012Proud, Indonesia. 2012. http://www.youtube.com/watch?v=iYfN8rGZGrs yang diaksespada 1 Januari 2013 pukul 22.34We Are Social Singapore. 2011. We Are Socials Guide To Social Digital Mobile InIndonesia. http://www.slideshare.net/wearesocialsg/we-are-socials-guide-tosocial-digital-mobile-in-indonesia-nov-2011-10407653 yang diakses pada 21Februari 2013 pukul 22.21http://akademiberbagi.org/ yang diakses pada 31 Desember 2012 pukul 22.07http://en.wikipedia.org/wiki/Models_of_communication yang diakses pada 13Mei 2012 pukul 21.06http://id.linkedin.com/pub/ainun-chomsun/27/305/3b8 yang diakses pada 16Januari 2013 pukul 16.11http://id.linkedin.com/in/bangwin yang diakses pada 16 Januari 2013 pukul 16.14http://id.linkedin.com/pub/karmin-winarta/52/25/b59 yang diakses pada 16Januari 2013 pukul 16.20http://id.linkedin.com/in/nukman yang diakses pada 16 Januari 2013 pukul 16.31https://mail.google.com/mail/u/0/#inbox/13c0342cc694cf01 yang diakses pada 2Januari 2013 pukul 09.02http://salingsilang.com/baca/niat-tulus-ida_baik-dan-proses-berbelit-dari-airasiaid.Diakses pada 15 Mei 2012 pukul 20.03http://salingsilang.com/baca/air-asia-airasiaid-sudah-tanggapi-keluahanida_baik_. Diakses pada 15 Mei 2012 pukul 20.05http://thejakartaglobe.com/lifeandtimes/a-virtually-inspiring-idea/453394 yang diaksespada 2 Januari pukul 08.41http://tv.detik.com/readvideo/2012/10/28/142832/121028006/120726017/121028606/akademi-berbagi-penyebar-virus-berbagi-dan-belajar yang diakses pada 2 Januari2013 pukul 08.22https://twitter.com/akademiberbagi yang diakses pada 1 Januari 2013 pukul 23.16JurnalGreenhalgh, Trisha, Glenn Robert, Paul Bate, Olympia Kyriakidon, FraserMacFarlane Richard Peacock. 2004. How To Spread Good Ideas – ReportFor The National Co-ordinating Center For NHS Service Delivery andOrganization R&D (CN CCSDO). University Of LondonGeser, Hans. 2011. Has Tweeting Become Inevitable: Twitter’s Strategis Role InThe World Of Digital Communication.http://socio.ch/intcom/t_hgeser26.pdf yang diakses pada 21 Februari pukul10. 51Shenton, Andrew K., 2004. Strategies for ensuring trustworthiness in qualitativeresearch projects. Division of Information and Communication Studies,School of Informatics, Lipman Building, Northumbria University,Newcastle.http://www.angelfire.com/theforce/shu_cohort_viii/images/Trustworthypaper.pdf yang diakses pada 17 Desember 2012 pukul 23.11Lain-LainAdi S. Nugroho. 2012. Digitalk, dalam Akademi Berbagi JakartaAinun Chomsun. 2012. Membangun Brand di Social Media, dalam SeminarCaraka Creative FestivalPutri, Dibyareswari U,. 2012. Skripsi: Peran Media Dalam Membentuk GerakanSosial (Studi Kasus pada Individu yang Terlibat dalam Indonesia Unite diTwitter). Universitas Indonesia
PENGARUH KETEPATAN PENGGUNAAN SELEBRITI ENDORSER OREO ICE CREAM ORANGE DAN FREKUENSI PERBINCANGAN IKLAN DI JEJARING SOSIAL MEDIA TERHADAP MINAT BELI PRODUK Ekantina, Yuaristi; Naryoso, Agus; Luqman, Yanuar
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH KETEPATAN PENGGUNAAN SELEBRITIENDORSER OREO ICE CREAM ORANGE DAN FREKUENSIPERBINCANGAN IKLAN DI JEJARING SOSIAL MEDIATERHADAP MINAT BELI PRODUKOleh : Yuaristi EkantinaIlmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas DiponegoroSemarangABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketepatan penggunaan selebriti endorser Oreo IceCream orange dan frekuensi perbincangan iklan di jejaring sosial media terhadap minat beli produktersebut. Penelitian kuantitatif ini merupakan tipe penelitian explanatory. Subjek penelitian adalahremaja SMA di Kota Semarang. Data diperoleh melalui wawancara, dan kuesioner. Teknikpengambilan sampel dengan menggunakan random sampling, sebanyak 90 responden. Penelitian inimenggunakan metode kuantitatif dengan uji statistik menggunakan rumus konkordansi Kendall. Teoriyang mendasari penelitian ini adalah Model VisCAP dan teori WOM (Word of Mouth). Uji korelasidiantara ketiga variabel menunjukkan signifikansi sebesar 0,000 yang artinya diantara ketiga variabelmemiliki hubungan yang sangat kuat, di mana antara variabel saling mempengaruhi satu sama lain.Penggunaan endorser yang tepat dalam sebuah iklan serta terjadinya fenomena word of mouthterbukti efektif dalam mempengaruhi minat konsumen untuk membeli produk.Kata Kunci : Selebriti Endorser, Perbincangan Iklan, Minat Beli, model VisCAP, Word Of MouthABSTRACTThis research aims to know the influence appropriate uses selebrity endorser Oreo Ice Cream Orangeand conversation frequency of advertising in social media network to purchase intention these product.This quantitative research is a type of explanatory. The underlying theory this research is VisCAPmodels and theories WOM (Word of Mouth). Subjects are high school students in Semarang. Datawere obtained through interviews and questionnaire. Sampling technique using random sampling, totalof 90 respondents. This study uses quantitative statistical test using the formula Kendall concordance.Test the correlation between these three variables showed a significance of 0.000, which means thesethree variables has a very strong correlation, in which the variables influence each other.Anappropriately used celebrity in advertisement as well as the phenomenon of word of mouth provedto be effective in influencing consumer intention to buying the product.Keywords : Selebrity Endorser, Conversation of Advertising, Purchase Intention, VisCAP model,Word of Mouth1. PENDAHULUANDi zaman yang semakin modern ini,persaingan bisnis semakin dinamis, kompleks,dan serba tidak pasti. Setiap perusahaan dalamindustri ini berusaha untuk menarik perhatian(calon) konsumen melalui pemberianinformasi tentang produk. Dalam hal ini,periklanan merupakan salah satu bentukpembeian informasi mengenai produk sebagaifungsi komunikasi dalam melakukanpemasaran. Saat ini, banyak produk yangsaling berlomba-lomba untuk menarik minatkonsumennya melalui penyampaian iklan yangmenarik. Berbagai stretegi periklananditerapkan untuk menarik minat masyarakatterhadap produk yang diiklankan. Bintangtelevisi, aktor film, dan atlit terkenal saat inibanyak digunakan dalam iklan majalah,maupun TV komersial untuk mendukung suatuproduk. Selain itu selebriti dapat jugadigunakan sebagai alat yang cepat untukmewakili segmen pasar yang dibidik (Royan,2005:12). Dalam hal ini produk Oreo IceCream Orange yang menyasar untuk anakanakdan remaja sebagai target market mereka,menggunakan Afika sebagai endorser produkOreo Ice Cream Orange, dalam iklan tersebutsosok Afika digambarkan sebagai sosok yangperiang, cerdas dan sangat menggemaskandengan gaya dan tingkah anak-anak seusianya.Dalam tayangan iklan Oreo Ice Cream Orangedimana terdapat dua gadis cilik, yaitu Afikabersama temannya sedang menikmatipengalaman mereka dalam merasakan sensasidingin Oreo Ice Cream Orange. Iklan tersebutmenggambarkan keceriaan, keseruan dankelucuan mimik muka mereka, dengan atributpakaian perlengkapan dingin serta ritual“diputar-dijilat-dicelupin” dalam menikmatibiskuit tersebut. Dalam hal ini iklan Oreo IceCream Orange menggunakan teknikadvertising Slice of life yang dimaksud adalahiklan oreo ini berhasil menstimulasimasyarakat dalam situasi kehidupansebenarnya (real life). Slice of slice advertisingini terlihat dalam gambar, dimana Afika yangsedang belajar di rumah (seperti kegiatan anakkecil pada umumnya), kemudian diajakbermain oleh temannya selain itumenggunakan teknik Vignettes dan Sittuation.Menurut Russel dan kawan-kawan, produkprodukyang sering menggunakan teknikseperti ini adalah minuman, permen, danproduk-produk lain yang sering dikonsumsidalam kehidupan sehari-hari. Gambar yangditampilkan menunjukkan sejumlah orangyang tengah asik menikmati suatu produk,seperti layaknya menikmati hidup (Kasali,1995:95).Berikut merupakan grafik perbincangan Afikayang sempat menjadi trending topic di linimasa Twitter :Gambar 1.1 (sumber :http://salingsilang.com/baca/tren-twitterpekan-3-februari-valentine-angie-adeledan-afika , 4 Maret 2012, 21:33 WIB)Dari grafik diatas dapat kita lihatpekan ketiga Februari yang lalu (13-19Februari 2012), dari 15 topik yang terjaring diSalingsilang.com, terdapat empat topik yangpaling populer: Hari Valentine, AngelinaSondakh (politisi Partai Demokrat), Adele dariajang Grammy Awards, dan bintang iklanOreo, Afika. Topik lainnya datang dari ajangsepakbola, dan peristiwa dari acara televisi dankehidupan sehari-hari.Gambar 1.5 (sumber :http://media.kompasiana.com/mainstreammedia/2012/02/21/jangan-salahkan-afikabila/,4 Maret 2012, 22:45 WIB)Tanda merah di sebelah kiri grafik,dengan kata Bantu iklan oreo, justru kata-kataAfika mendapatkan urutan lebih tinggi dalamanalisa terhadap 499 Twitter pada 21 Februari2012 pukul 17.08 WIB. Dengan adanya datadatadi atas tersebut, membuktikan bahwasosok Afika sangatlah populer di dunia mayakarena membintangi produk Oreo Ice CreamOrange di televisi banyak orang menyukaiwajahnya yang imut dan tingkahnya yang amatmenggemaskan. Bahkan justru nama Afikalebih dikenal oleh masyarakat dibandingkandengan produk iklan yang ia bintangi, yaituvarian rasa baru dari biskuit Oreo. Kata kunci(key word) pencarian tidak secara langsungmerujuk kepada produk “Oreo”, akan tetapijustru lebih merujuk kepada endorser “Afika”.Bahkan dengan adanya perkembangan socialmedia sekarang ini, hampir di semua socialmedia terjadi “Demam” Afika. Sering kita lihatfoto-foto yang sudah mengalami olah digital,dimana dialog antara Afika dan temannyadalam iklan Oreo diplesetkan menjadi sebuahcerita bergambar yang lucu. Kepolosan Afikaini dijadikan komik strip oleh para penggunaInternet. Hal inilah yang akhirnya membuatnama Afika semakin berkibar. Komik yangkebanyakan dapat membuat kita tersenyumtersebut bahkan sempat menghebohkan duniamaya. Namun yang perlu digaris bawahiadalah bahwa salah satu tujuan iklan jamansekarang adalah menjadikan iklan tersebutbahan perbincangan di situs jejaring sosialkarena itu akan menjadi media promosi gratisuntuk mereka. Di era ini, komunikasipemasaran diwarnai dengan makinmembludaknya data dan makin cerdasnyakonsumen. Facebook, Twitter, Google telahmembawa banyak orang ke dalam duniapercakapan online. Social media merupakansumber informasi tentang berbagai macamperistiwa dan update, bahkan pemantauan dirisendiri oleh jutaan pengguna di seluruh dunia.Social media juga menjadi tools untuk bereaksiterhadap peristiwa yang terungkap di mediasecara real time. Fenomena ini membuat socialmedia makin powerful dan hanya masalahwaktu sebelum beralih ke komunitasriset sebagai sumber informasi sosial,pemasaran komersial, dan politik yang kaya.(http://mix.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=816&Itemid=14, diaksespada tanggal 10 Maret 2012, pukul 01.45WIB)Fenomena sosial media jugamelahirkan selebriti baru di luar jalurkonvensional seperti yang terjadi pada limaatau sepuluh tahun lalu. Banyak orang tiba-tibamenjadi terkenal dan sukses karena sosialmedia. Mereka kini menjadi brand ambassadoryang dengan segala kreativitasnya berhasilberimprovisasi mengemas pesan-pesanmenjadi sangat menarik dan interaktif sesuaidengan target market brand. Implikasinyaadalah perusahaan semakin ketat memantaudan menjaga bagaimana caranya supaya pesanyang disampaikan oleh para ambassadortersebut sesuai dengan positioning merek.Tentunya setiap endorser pasti memiliki gayakomunikasinya masing- masing.Oreo Ice Cream Orange merupakanvarian rasa baru dari biskuit Oreo yangmemiliki cream dengan sensasi dingin sepertiIce Cream rasa jeruk. Target marketnya adalahanak-anak mulai usia 6-12 tahun, serta remajausia 13-19 tahun. Harga Oreo sangatlahterjangkau bagi seluruh kalangan masyarakat.Oreo sebagian besar didistribusikan pada minimarket ataupun toko didaerah perkotaan. Oreokental dengan ciri khas ritualnya “Diputar-Dijilat-Dicelupin” yang disebut juga sebagai‘Momen Oreo’. Biskuit Oreo merupakan salahsatu merek biskuit yang cukup dikenal diIndonesia. Kondisi ini terlihat jelas padaperolehan top brand index biskuit Oreo selamaempat tahun terakhir. Berikut disajikan padaTabel 1.2 di bawah ini.Gambar berikut merupakan TopBrand Index beberapa produk biskuit selamaempat tahun terakhir :Gambar 1.6 (sumber :http://www.topbrand-award.com/topbrand-survey/survey-result/top-brandresult-2012/#, diunduh : 12 Maret, 15:43WIB)Dari grafik di atas tersebut dapatdilihat bahwa produk biskuit Oreo memilikibeberapa kompetitor yang cukup kuatkedudukannya, yaitu produk biskuit Biskuatdan Roma yang selalu menduduki peringkattop brand award, dengan top brand indexminimum sebesar 10%.Dalam hal ini, Top Brand Indexdiukur dengan menggunakan 3 parameter,yaitu top of mind awareness (yaitu didasarkanatas merek yang pertama kali disebut olehresponden ketika kategori produknyadisebutkan), last used (yaitu didasarkan atasmerek yang terakhir kali digunakan/dikonsumsi oleh responden dalam 1 repurchasecycle), dan future intention (yaitudidasarkan atas merek yang ingin digunakan/dikonsumsi di masa mendatang). Top BrandAward diberikan kepada merek-merek didalam kategori produk tertentu yangmemenuhi dua kriteria, yaitu merek-merekyang memperoleh Top Brand Index minimumsebesar 10%, dan merek-merek yang menuruthasil survei berada dalam posisi top three didalam kategori produknya.Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis pengaruh ketepatan penggunaanselebriti endorser dan frekuensi perbincanganmengenai iklan Oreo Ice Cream Orange di05101520253035RomaBiskuatKhongGuanRegalOreoMondeBetterjejaring sosial media terhadap minat beliproduk.Tayangan iklan televisi produk Oreoversi Afika cukup tenar di dunia maya, banyakorang yang memperbincangkan kelucuan dankeluguan afika dalam iklan tersebut. Oranglebih tertarik untuk memperbincangkan sosokdan tingkah afika yang lucu danmenggemaskan dibandingkan dengan produkOreo Ice Cream Orange yang ia bintangi.Selayaknya seeorang endorser berfungsi untukmemasarkan produk yang ia iklankan, akantetapi tak jarang yang terjadi justru sebaliknya,dimana ia memperoleh ketenaran ataupopularitas melalui iklan yang ia bintangi,seperti halnya dalam kasus ini. Oleh karena itujika hal tersebut terjadi akan dapatmengakibatkan endorser akan lebih dikenaldan disukai masyarakat, sementara produkakan tertinggal serta penjualan tidakmeningkat, atau tidak berpengaruh terhadapminat beli masyarakat terhadap produk yangdiiklankan.Asosiasi berulang dari suatu merekdengan seorang selebriti akhirnya membuatkonsumen berpikir bahwa merek tersebutmemiliki sifat-sifat menarik yang serupadengan sifat-sifat yang dimiliki oleh siselebriti. Para konsumen mungkin menyukaimerek hanya karena mereka menyukai selebritiyang mendukung produk tersebut. Selebritiadalah tokoh (aktor, penghibur, atau atlet)yang dikenal masyarakat karena prestasinya didalam bidang-bidang yang berbeda darigolongan produk yang didukung. Para selebritibanyak diminta sebagai juru bicara produk.Ohanian membagi tiga faktor yang ada padaselebriti yang dapat mempengaruhi konsumenuntuk membeli, antara lain daya tarik fisik(kecantikan, ganteng, lucu dan sebagainya),dapat dipercaya dan expertise (adanyakeahlian). Sementara itu menurut PhilipKotler, seorang selebriti yang sangatberpengaruh disebabkan memiliki kredibilitasyang didukung faktor keahlian, sifat dapatdipercaya, dan adanya kesukaan (Royan,2005:8).Dalam buku “AdvertisingCommunication and promotion management”tulisan John Ressiter dan Larry Percy,disebutkan bahwa selebriti dapat digunakanoleh pemasar untuk melakukan boostingterhadap satu atau lebih komunikasi yang akandilakukan. Itu artinya selebriti diharapkannantinya dapat membantu brand awareness,brand recognition, brand recall dan meningkatpada brand purchase. Kenyataan yang ada jikadihubungkan dengan statement di atas,memang penggunaan selebriti yang sedang“naik daun” dapat meningkatkan penjualanketika produk diiklankan. Hal ini jugaditegaskan Agrawal dan Kamakura dalamJurnal marketing tahun 1995 bertajuk “Theeconomic worth of celebrity endorser: an eventstudy analysis”, bahwa konsumen lebihmemilih barang atau jasa yang di-endor olehselebriti dibanding tidak (Royan, 2005:12).Setiap pemasar perlu mengarahkanusaha mereka pada penciptaan kesadaran akanmerek dan mempengaruhi sikap serta niatpositif atas merek. Kesadaran (awareness)adalah upaya untuk membuat konsumenfamiliar melalui iklan, promosi penjualan, dankomunikasi pemasaran lainnya akan suatumerek, memberikan informasi kepada banyakorang tentang ciri khusus dan manfaatnya,serta menunjukkan perbedaannya dari merekpesaing, dan menginformasikan bahwa merekyang ditawarkan lebih baik ditinjau dari sisifungsional atau simbolisnya. Jika komunikatorsukses memberikan kesadaran konsumen akanmereknya, konsumen dapat membentuk sikap(attitudes) positif terhadap merek tersebut danmungkin akan muncul niat (intention) untukmembeli merek tersebut, ketika timbulkeinginan untuk membeli suatu produk dimasa yang akan datang (Shimp, 2003:161).Dalam model yang telahdikembangkan oleh Rossiter dan Percy,karakter si selebritis akan disesuaikan denganCommunication objective yang hendak dicapai.VisCAP itu sendiri terdiri dari 4 unsur yaituVisibility, Credibility, Attraction dan Power.Di mana visibility memiliki dimensi seberapajauh popularitas selebriti. Credibilityberhubungan dengan product knowledge yangdiketahui sang bintang. Attraction lebihmenitikberatkan pada daya tarik sang bintang,personality, tingkat kesukaan masyarakatkepadanya (nge-fans), dan kesamaan dengantarget user. Power adalah kemampuan selebritidalam menarik konsumen untuk membeli(Royan, 2005:15).Bintang iklan Afika cukup banyakmenarik perhatian masyarakat. Seperti halnyadi Jejaring sosial media banyak sekali yangmengunggah dan melihat video Afika dalamIklan Oreo Ice Cream Orange, serta banyakpula yang mengupload foto Afika besertaprofilnya. Consumer Generated Marketing(Advertising) adalah penciptaan iklan ataukonten pemasaran lainnya oleh pelanggan baikdisengaja maupun tidak disengaja. Dalam halini konsumen sendiri yang menghasilkan tidakhanya iklan yang menarik, tetapi juga beberapapers yang baik dan WOM yang dihasilkan juga(Kardes 2010:320). Contohnya adalah dalamkasus Oreo Ice Cream Orange, banyak sekaliyang membicarakan mengenai iklan tersebut dijejaring sosial media, tingkah Afika yang lucudan menggemaskan mampu menyedotperhatian masyarakat sehingga banyakmenimbulkan perbincangan di sosial media,seperti halnya twitter, facebook, dan youtube.Seiring dengan perkembangan pesat teknologikomunikasi serta semakin banyakpenggunanya yang mahir dalam menggunakanaplikasi, software, website terbaru menjadisalah satu faktor penting yang memungkinkanmunculnya fenomena ini. Kini siapa saja bisamembuat video, merekam gambar kemudianmemasukkannya ke situs sosial seperti Twitter,Youtube, dan Facebook di mana siapa sajadapat melihat hasil karya orang tersebutdengan mudah. Sebenarnya ConsumerGenerated Marketing berawal dari kehausanmanusia akan perhatian dari orang lain.Dimana tujuan utamanya adalah untukmemungkinkan konsumen untukmengekspresikan, dalam kata-kata merekasendiri, bagaimana perasaan mereka tentangmerek. Akibatnya, pesan-pesan otentik,inovatif, dan menghibur menawarkankesempatan yang lebih besar untukmenghasilkan desas-desus/Word Of Mouthyang positif tentang merek daripadakomunikasi pemasaran tradisional.Word Of Mouth adalah tindakan satukonsumen berbicara lain tentang merek, danitu bisa terjadi tatap muka dan secara tidaklangsung melalui telepon, surat, atau internet.Berkat teknologi, word of mouth dapatmenyebar lebih cepat dan lebih jauhdibandingkan sebelumnya, melalui teleponseluler, email, pesan teks, situs jejaring sosial,blog, instant messaging, chat room, dan papanpesan. Karena adanya internet, Word OfMouth dapat berlama-lama untuk waktu yanglama di ruang cyber (Kardes, 2010:317).Suprapti (2010:248), mengungkapkan ada 2(dua) fungsi komunikasi WOM yaitu memberiinformasi dan mempengaruhi. Pembicaraanmengenai iklan Oreo Ice Cream Orange versiAfika di jejaring sosial media membuat orangsemakin mengenal secara lebih jauh mengenaisosok Afika, dan juga membuat orang-orangmengetahui bahwa Oreo mengeluarkan varianrasa baru yaitu Oreo Ice Cream Orange yangmemiliki sensasi dingin.Word of mouth dilahirkan justruuntuk kepentingan komunikasi pemasaranyang lebih efisien dan credible. Word of mouthditujukan untuk menggantikan programkomunikasi pemasaran konvensional sepertiiklan yang sudah kehilangan kredibilitas danterlalu memakan biaya. Keberhasilan WOMtidaklah tunggal. WOM juga dipengaruhi olehperan public relations, media iklan, yangmempunyai peran untuk membangunawareness akan sebuah produk atau merek.Jika konsumen datang ke point of purchaseuntuk memutuskan membeli barang atau tidak,WOM menjadi sebuah faktor yangmenentukan. Advertising membangkitkankesadaran orang. Namun, orang yang inginmembeli produk dipengaruhi oleh referensidari orang lain.Banyak orang dan juga komponenyang terlibat dalam menciptakan saranapromosi bagi suatu brand atau produkmenggunakan social media, kesemuanya ituharus mampu memunculkan influence ataupengaruh. Influence dideskripsikan sebagaikemampuan dalam membentuk dan mengubahpesan yang mampu menarik perhatian orangorangdan menginspirasi orang-orang untukmengambil tindakan dari atensi yang berhasildimunculkan. Influencer ini harus mampumembentuk ikatan yang sangat kuat ataudiistilahkan dengan Engagement. Engagementmengandung arti keterikatan yang dibangunsecara langsung atau tidak langsung dari tujuanutamanya untuk memberikan perhatian padaproduk atau brand juga memungkinkanterjadinya interaksi di dalamnya, ini dilakukansecara virtual karena social medialah sebagaitool-nya (Juju&Sulianta, 2010:10-11).Keberadaan selebriti dalam iklanyang dapat berjalan selaras dengan frekuensiperbincangan iklan dalam media jejaring sosialakan memunculkan minat beli konsumen.Minat membeli merupakan tahap awal dariperilaku konsumen. Engel (1994:3)mndefinisikan perilaku konsumen sebagaitindakan yang langsung terlibat dalammendapatkan, mengkonsumsi danmenghabiskan produk dan jasa, termasukproses keputusan yang mendahului danmenyusuli tindakan ini.Minat membeli merupakan aktivitaspsikis yang timbul karena adanya perasaan danpikiran yang diikuti oleh perasaan senang dancenderung untuk mencari terhadap suatu objekyaitu barang atau jasa yang diinginkan danmerupakan tahapan sebelum terjadi keputusanmembeli (Marx dalam Engel, 1994: 201).Hipotesis penelitian dimana terdapathubungan positif antara variabel pengaruhketepatan penggunaan selebriti endorser OreoIce Cream Orange dan frekuensi perbincanganiklan di jejaring sosial media terhadap minatbeli produk, artinya semakin tepat selebritiyang digunakan dalam sebuah iklan Oreo IceCream Orange, maka semakin tinggi minat beliterhadap produk tersebut. Serta semakin seringfrekuensi perbincangan iklan yang dilakukandi jejaring sosial media , maka semakin tinggiminat beli terhadap produk tersebut.2. METODETipe penelitian yang digunakanadalah eksplanatory (penjelasan), yaitu untukmejelaskan ada tidaknya hubungan danpegaruh dua gejala atau lebih(Singarimbun,1995 : 5). Yang dimaksudkandalam penelitian ini untuk menegetahui sejauhmana pengaruh ketepatan penggunaan selebritiendorser Oreo Ice Cream Orange dan frekuensiperbincangan iklan di jejaring sosial mediaterhadap minat beli Produk.Sampel dari penelitian ini adalahsiswa SMA Negeri 1 Semarang kelas X dan XIyang memiliki akun jejaring sosial dan masihaktif menggunakannya dalam ±5 bulanterakhir. Dan yang menjadi sample riil yangdidapat menggunakan rumus Slovin adalahsebanyak 90 siswa.Teknik sampling yang digunakanadalah teknik random sampling, yaitu teknikpengambilan sample yang memberi peluangatau kesempatan sama bagi setiap unsur atauanggota populasi untuk dipilih menjadisample, dengan kata lain penentuan sampelberdasarkan tidak berdasarkan pertimbanganatau kriteria responden tertentu. Alat danteknik pengumpulan data yang digunakanuntuk memperoleh data dalam penelitian iniadalah interview dan kuesioner.3. PEMBAHASANBerdasarkan hasil perhitunganstatistik konkordasi Kendall diperoleh nilaikoefisien sebesar 0,909 dengan tarafsignifikansi sebesar 0,000. Hasil uji hipotesismembuktikan bahwa ketika ketepatanpenggunaan selebriti endorser Oreo Ice CreamOrange dan frekuensi perbincangan iklan dijejaring sosial media bersama-sama,mempengaruhi minat beli produk tersebut.Dengan demikian, hipotesis yang menyatakanbahwa terdapat hubungan positif antaravariable pengaruh ketepatan selebriti endorserOreo Ice Cream Orange dan frekuensiperbincangan iklan di sosial media terhadapminat beli terhadap produk dapat diterima.Selebriti dapat digunakan olehpemasar untuk melakukan boosting terhadapsatu atau lebih komunikasi yang akandilakukan. Itu artinya selebriti diharapkannantinya dapat membantu brand awareness,brand recognition, brand recall dan meningkatpada brand purchase. Kenyataan yang ada jikadihubungkan dengan statement di atas,memang penggunaan selebriti yang sedang“naik daun” dapat meningkatkan penjualanketika produk diiklankan. Hal ini jugaditegaskan Agrawal dan Kamakura dalamJurnal marketing tahun 1995 bertajuk “Theeconomic worth of celebrity endorser: an eventstudy analysis”, bahwa konsumen lebihmemilih barang atau jasa yang di-endor olehselebriti dibanding tidak (Royan, 2005:12).Setiap pemasar perlu mengarahkanusaha mereka pada penciptaan kesadaran akanmerek dan mempengaruhi sikap serta niatpositif atas merek. Kesadaran (awareness)adalah upaya untuk membuat konsumenfamiliar melalui iklan, promosi penjualan, dankomunikasi pemasaran lainnya akan suatumerek, memberikan informasi kepada banyakorang tentang ciri khusus dan manfaatnya,serta menunjukkan perbedaannya dari merekpesaing, dan menginformasikan bahwa merekyang ditawarkan lebih baik ditinjau dari sisifungsional atau simbolisnya. Jika komunikatorsukses memberikan kesadaran konsumen akanmereknya, konsumen dapat membentuk sikap(attitudes) positif terhadap merek tersebut danmungkin akan muncul niat (intention) untukmembeli merek tersebut, ketika timbulkeinginan untuk membeli suatu produk dimasa yang akan datang (Shimp, 2003:161).Dalam model yang telahdikembangkan oleh Rossiter dan Percy,karakter si selebritis akan disesuaikan denganCommunication objective yang hendak dicapai.VisCAP itu sendiri terdiri dari 4 unsur yaituVisibility, Credibility, Attraction dan Power.Di mana visibility memiliki dimensi seberapajauh popularitas selebriti, Afika dinilai cukuppopular karena dia sebelumnya memenangkankontes Bebelac Star dan membintangi iklanBebelac “You are my everything”. Credibilityberhubungan dengan product knowledge yangdiketahui sang bintang, serta layak dan dapatdipercaya. Tokoh Afika dinilai respondencukup kedible, selain karena dia merupakantokoh anak-anak yang polos, aktingnya pundinilai cukup memuaskan dan tidak dibuatbuat.Attraction lebih menitikberatkan padadaya tarik sang bintang, personality, tingkatkesukaan masyarakat kepadanya (nge-fans),dan kesamaan dengan target user. Afikadengan tingkahnya yang lucu danmenggemaskan banyak disukai olehmasyarakat, selain itu wajahnya yang cantikdan imut-imut juga memiliki daya tariktersendiri. Dan yang terakhir adalah Poweryang merupakan kemampuan selebriti dalammenarik konsumen untuk membeli (Royan,2005:15).Pengalaman manusia hanyamerupakan perubahan sikap yang temporersifatnya ketika dipersuasi melalui jalurperiferal dibandingkan dengan perubahan yangbersifat tetap yang dialami dalam jalur utama.Sikap yang dibentuk melalui jalur utama akanrelatif tetap dan bertahan terhadap perubahan.Seperti yang juga dijabarkan dalam hipotesispertama (H1) hasil uji korelasi dijelaskanbahwa nilai koefisien bertanda positif yangberarti terjadi hubungan positif, namun beradapada kondisi yang lemah karena nilai koefisienkorelasi < 0,5. Yang berarti ketepatanpenggunaan selebriti endorser Oreo Ice CreamOrange terbukti memiliki pengaruh dankorelasi dalam menarik minat konsumen untukmembeli produk, hanya saja tidak terlalu besar.Secara komparatif, ketika kecenderunganelaborasi rendah (karena topik komunikasitidak terlalu relevan dengan penerima pesan),perubahan sikap dapat terjadi, namun sifatnyatemporer kecuali jika konsumen dihadapkansecara kontinu (Shimp, 2003:248). Afikamemang pernah memenangkan kontes BebelacStar yang di tayangkan di Televisi, akan tetapiberdasarkan wawancara peneliti, repondenkurang mengenal sosok Afika sebelum iamembintangi Iklan Oreo Ice Cream Orange.Nama Afika booming dan banyak dibicarakansetelah ia membintangi produk Oreo IceCream Orange.Asosiasi berulang dari suatu merekdengan seorang selebriti akhirnya membuatkonsumen berpikir bahwa merek tersebutmemiliki sifat-sifat menarik yang serupadengan sifat-sifat yang dimiliki oleh siselebriti. Para konsumen mungkin menyukaimerek hanya karena mereka menyukai selebritiyang mendukung produk tersebut. Selebritiadalah tokoh (aktor, penghibur, atau atlet)yang dikenal masyarakat karena prestasinya didalam bidang-bidang yang berbeda darigolongan produk yang didukung. Para selebritibanyak diminta sebagai juru bicara produk.Ohanian membagi tiga faktor yang ada padaselebriti yang dapat mempengaruhi konsumenuntuk membeli, antara lain daya tarik fisik(kecantikan, ganteng, lucu dan sebagainya),dapat dipercaya dan expertise (adanyakeahlian). Sementara itu menurut PhilipKotler, seorang selebriti yang sangatberpengaruh disebabkan memiliki kredibilitasyang didukung faktor keahlian, sifat dapatdipercaya, dan adanya kesukaan (Royan,2005:8).Fenomena Afika cukupmenghebohkan dunia maya, seperti halnya dijejaring sosial media banyak sekali yangmengunggah dan melihat video Afika dalamIklan Oreo Ice Cream Orange, serta banyakpula yang mengupload foto Afika besertaprofilnya. Consumer Generated Marketing(Advertising) adalah penciptaan iklan ataukonten pemasaran lainnya oleh pelanggan baikdisengaja maupun tidak disengaja. Dalam halini konsumen sendiri yang menghasilkan tidakhanya iklan yang menarik, tetapi juga beberapapers yang baik dan WOM yang dihasilkan juga(Kardes 2010:320). Contohnya adalah dalamkasus Oreo Ice Cream Orange, banyak sekaliyang membicarakan mengenai iklan tersebut dijejaring sosial media, tingkah Afika yang lucudan menggemaskan mampu menyedotperhatian masyarakat sehingga banyakmenimbulkan perbincangan di sosial media,seperti halnya twitter, facebook, dan youtube.Seiring dengan perkembangan pesat teknologikomunikasi serta semakin banyakpenggunanya yang mahir dalam menggunakanaplikasi, software, website terbaru menjadisalah satu faktor penting yang memungkinkanmunculnya fenomena ini. Kini siapa saja bisamembuat video, merekam gambar kemudianmemasukkannya ke situs sosial seperti Twitter,Youtube, dan Facebook di mana siapa sajadapat melihat hasil karya orang tersebutdengan mudah. Pada dasarnya ConsumerGenerated Marketing berawal dari kehausanmanusia akan perhatian dari orang lain.Dimana tujuan utamanya adalah untukmemungkinkan konsumen untukmengekspresikan, dalam kata-kata merekasendiri, bagaimana perasaan mereka tentangmerek. Akibatnya, pesan-pesan otentik,inovatif, dan menghibur menawarkankesempatan yang lebih besar untukmenghasilkan desas-desus/Word Of Mouthyang positif tentang merek daripadakomunikasi pemasaran tradisional. Sepertihalnya banyak pula yang membuat ‘komikstripplesetan’ perbincangan Afika dalam iklanOreo Ice Cream Orange. Consumer generatedadvertising adalah bentuk baru yang menarikdari keterlibatan pelanggan yangmemanfaatkan kemampuan komunikasidigital.Word Of Mouth adalah tindakan satukonsumen berbicara lain tentang merek, danitu bisa terjadi tatap muka dan secara tidaklangsung melalui telepon, surat, atau internet.Berkat teknologi, word of mouth dapatmenyebar lebih cepat dan lebih jauhdibandingkan sebelumnya, melalui teleponseluler, email, pesan teks, situs jejaring sosial,blog, instant messaging, chat room, dan papanpesan. Seperti fenomena yang terjadi dalamkasus ini, beberapa orang yang mengunduhtentang iklan Oreo Ice Cream Orange tersebut,baik berupa video, komik strip dan lainsebagainya ke berbagai jejaring sosial media,cukup banyak menggundang tanggapan dankomentar dari pengguna jejaring sosial medialainnya. Karena adanya internet, Word OfMouth dapat berlama-lama untuk waktu yanglama di ruang cyber (Kardes, 2010:317).Seperti halnya ketika Afika dalam iklan OreoIce Cream menjadi perbincangan (TrendingTopic) di Twitter, Serta banyaknya yangmelihat dan me likes video iklan Oreo IceCream Orange di youtube atau bahkanbanyaknya like fanspage Afika di Facebook.Bahkan banyak pula yang membuat konten‘tiruan’ mengenai profil Afika di Facebook.Suprapti (2010:248), mengungkapkan ada 2(dua) fungsi komunikasi WOM yaitu memberiinformasi dan mempengaruhi. Pembicaraanmengenai iklan Oreo Ice Cream Orange versiAfika di jejaring sosial media membuat orangsemakin mengenal secara lebih jauh mengenaisosok Afika, dan juga membuat orang-orangmengetahui bahwa Oreo mengeluarkan varianrasa baru yaitu Oreo Ice Cream Orange yangmemiliki sensasi dingin.Word of mouth yang berawal darisesuatu yang natural dan tidak terencanaakhirnya berkembang menjadi bagian daripromotion mix yang dapat didesain dandirencanakan layaknya melakukan rencanakomunikasi pemasaran lainnya seperti iklandan even. Dalam hal ini banyaknya masyarakatyang membicarakan iklan tersebut di jejaringsosial media secara tidak langsung telah terjadiWOM (word of mouth) yang memiliki peluanguntuk mempersuasi calon konsumen untukmembeli produk yang dibicarakan, yangtermasuk dalam level Word of mouth yangmembuat konsumen yang mempromosikanproduk perusahaan, namun kegiatan promosidan komunikasi seperti ini biasanya tidakterlalu mempengaruhi penjualan selain hanyamenambah kehebohan dan menambah jumlahantrian (Harjadi&Fatmasari, 2008:75). Sepertiyang juga dijabarkan dalam hipotesis kedua(H2) hasil uji korelasi dijelaskan bahwa nilaikoefisien bertanda positif yang berarti terjadihubungan positif, namun berada pada kondisiyang lemah karena nilai koefisien korelasi <0,5. Yang berarti frekuensi perbincangan iklandi jejaring sosial media terbukti memilikipengaruh dan korelasi dalam menarik minatkonsumen untuk membeli produk, hanya sajatidak terlalu memiliki pengaruh yang besar.Oreo merupakan produk yang cukupdiminati oleh masyarakat, terutama anak-anakdan remaja. Walaupun persaingan produk Oreodengan beberapa produk biskuit lainnya tinggi.Keseluruhan responden tetap memilih produkOreo. Hal ini di sebabkan karena produk Oreomerupakan produk yang dipercaya olehkonsumen, baik segi kualitas rasa, dan lainsebagainya. Minat membeli merupakanaktivitas psikis yang timbul karena adanyaperasaan dan pikiran yang diikuti olehperasaan senang dan cenderung untuk mencariterhadap suatu objek yaitu barang atau jasayang diinginkan dan merupakan tahapansebelum terjadi keputusan membeli (Marxdalam Engel, 1994: 201).4. KESIMPULANDiantara ketiga variable yang diteliti,dimana Ketepatan penggunaan selebritiendorser Oreo Ice Cream Orange dan frekuensiperbincangan iklan di jejaring sosial mediaterhadap minat beli produk memiliki korelasisangat kuat. Hasil uji korelasi antara variableX1, X2, dengan Y diperoleh signifikansisebesar 0,000 yang menunjukkan bahwahubungan antar variable sangat signifikan. Jikanilai signifikansi < 0,05 berarti pengaruh antarvariable sangat signifikan. Maka hipotesisditerima. Dimana penggunaan selebriti yangtepat dalam iklan Oreo Ice Cream Orange,menjadikan iklan tersebut banyakdiperbincangkan di jejaring sosial media, yangmana secara tidak langsung dapatmempengaruhi sikap seseorang untuk tertarikmembeli produk tersebut.Pemanfaatan ketenaran endorserAfika dalam membintangi iklan tersebutmemiliki peluang dalam merubah sikapkonsumen, namun sifatnya temporer kecualijika konsumen dihadapkan secara kontinudengan menampilkan bintang iklan tersebutdalam iklan-iklannya. Dengan dihadirkannyaendorser yang tepat secara kontinu tentunyaakan dapat merubah sikap calon konsumenagar tertarik untuk membeli produk tersebut.5. DAFTAR PUSTAKAAndeas, Diki. 2010.Chickenstrip:Why Did The Chicken BrowseThe Social Media?. Jakarta : PT. Elex MediaKomputindoArens, William F. 2006.Contemporary Advertising. New York:McGrawHill/Irwin.Durianto, Darmadi., Sugiarto & ToniSitinjak. 2001. Strategi Menaklukan Pasar:melalui riset ekuitas dan perilaku merek.Jakarta : PT. Gramedia Pustaka UtamaEngel, J.F., Roger D. Blackwell &Paul W. Miniard. 1994. Perilaku konsumen(Edisi keenam Jilid 1). Alih Bahasa: Drs.Budijanto. Jakarta: Binarupa Aksara.Griffin, EM. 1997. A First Look AtCommunication Theory (Third Edition). TheMcGraw-Hill Companies, IncHasan, Ali. 2008. Marketing.Yogyakarta: MedPress.Holmes, David. 2005.Communication Theory: Media, Technology,Society. London, Thousand Oaks, New Delhi:Sage Publications.Ibnu Widiyanto. 2008. Pointers :Metodologi Penelitian. Semarang: BP UndipJuju, Dominikus & Feri Sulianta.2010. Branding Promotion with SocialNetwork. Jakarta: PT. Elex MediaKomputindo.Kardes, Frank R., Maria L. Cronley,and Thomas W. Cline. 2010. ConsumerBehaviour. USA : Cengage LearningKurniawan, Albert. 2009. BelajarMudah SPSS Untuk Pemula. Jakarta : PT.Buku Kita.Littlejohn, Stephen W., and Karen A.Foss. 2009. Encyclopedia of CommunicationTheory. London: Sage Publications.McQuail, Denis. 2000. Mediaperformance; mass communication and thepublic interest. London: Sage Publications.Nunnally dalam Ghozali, Imam.2001. Aplikasi Analisis Multivariate denganProgram SPSS, Badan Penerbit UniversitasDiponegoro, Semarang.Royan, Frans M. 2005. MarketingSelebritis. Jakarta : PT. Elex MediaKomputindoShimp, Terence A. 2000/2003.Advertising Promotion and Supplement Aspectof Integrated Marketing Communication 5thEdition ; Alih Bahasa : Periklanan Promosidan Aspek Tambahan Komunikasi PemasaranTerpadu, edisi ke-5 , Terjemahan: ReyvaniSyahrial. Jakarta : ErlanggaSuprapti, Ni Wayan, Sri. 2010.Perilaku Konsumen Pemahaman Dasar danAplikasinya dalam Strategi Pemasaran. Bali :Udayana University PressThurlow, Crispin dan kawan-kawan.2004. Computer Mediated Communication :Social Interaction and The Internet. London :Sage Publications.Trompenaars, Fons dan PeterWoolliams. 2004. Marketing Across Cultures.West Sussex, England: Capstone PublishingLtd.JurnalHarjadi, Dikdik & Dewi Fatmasari.,2008. Word of mouth (WOM) communicationsebagai alternatif kreatif dalam komunikasipemasaran. Equilibrium Vol 4 No.8, 72-78Internet(http://mix.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=816&Itemid=14, diaksespada tanggal 10 Maret 2012, pukul 01.45WIB)(http://dc204.4shared.com/doc/N6ZM5ijl/preview.html (Majalah MARKETING –Edisi Khusus TOP BRAND / 2008), diaksespada tanggal 22 Oktober, pukul 01.34 WIB)(http://www.mayora.com/ourcompany/mayora-at-a-glance/, diakses padatanggal 23 Oktober, pukul 20.00 WIB)(http://www.khongguan.co.id/index.php?option=com_content&view=section&layout=blog&id=6&Itemid=54, diakses pada tanggal 23Oktober, pukul 20.28 WIB)(http://www.topbrand-award.com/top-brandsurvey/survey-result/top-brand-result-2012/#,diakses pada tanggal 12 Maret, pukul 15:43WIB)(http://www.topbrand-award.com/top-brandsurvey/survey-report/, diakses pada tanggal 13November 2012, pukul 01:52 WIB)(http://media.kompasiana.com/mainstreammedia/2012/02/21/jangan-salahkan-afika-bila/,diakses pada tanggal 4 Maret 2012, pukul22:45 WIB)(http://www.scribd.com/doc/111639637/Kraft-Foods-Company, diakses pada tanggal 23Oktober, pukul 18:49 WIB)(http://poppyfriscilla.blogspot.com/2012/04/analisis-iklan-oreo-terbaru-dengan.html, diaksespada tanggal 18 Juni 2012, pukul 05:09 WIB)(http://www.hanyaoreo.com/products.php,diakses pada tanggal 23 Oktober 2012, pukul18:45 WIB)(http://www.idnewsblast.com/foto-profil-afikaiklan-oreo-ice-cream.html, diakses padatanggal 10 November 2012, pukul 02:21 WIB)(http://antumfiqolbi.wordpress.com/2012/03/19/kumpulan-komik-afika-update/, diakses padatanggal 10 November 2012, pukul 02:07 WIB)(http://salingsilang.com/baca/ketika-afikabernyanyi-paman-datang, diakses pada tanggal4 Maret 2012, pukul 21:36 WIB)(http://blogsiffahartas.blogspot.com/2011/07/produk-biskuit-oreo-produksi-pt-kraft.html,diakses pada tanggal 23 Oktober 2012, pukul18:17 WIB)(http://balakampret.blogspot.com/2012/02/kumpulan-komik-strip-lucu-afika-oreo.html,diakses pada tanggal 05 Maret 2013, pukul02:54 WIB)(http://salingsilang.com/baca/tren-twitterpekan-3-februari-valentine-angie-adele-danafika,diakses pada tanggal 4 Maret 2012,pukul 21:33 WIB(http://salingsilang.com/baca/pola-marketingdi-media-sosial, diakses pada tanggal 18 Juni2012, pukul 05:31 WIB)(http://id.wikipedia.org/wiki/Pemasaran_kreasi_konsumen, diakses pada tanggal 05 Maret2013, pukul 02.20 WIB)
STRATEGI BRANDING KOTA SURAKARTA DALAM PENGELOLAAN SEBAGAI DESTINASI WISATA Mustikawati, Lina; Luqman, Yanuar; Setiabudi, Djoko
Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

STRATEGI BRANDING KOTA SURAKARTA DALAM PENGELOLAANSEBAGAI DESTINASI WISATAAbstrakPengembangan pariwisata menjadi salah satu fokus dalam peningkatan kualitashidup masyarakat melalui pendapatan daerah. Surakarta menjadi salah satu kota diIndonesia yang konsen terhadap sektor pariwisata karena memiliki potensi senidan budaya untuk dijadikan sebuah produk wisata yang dapat dijual kepadawisatawan.Saat ini, Surakarta menjadi sebuah kota wisata dengan konsep wisatabudaya. Tahun 2010 menjadi tahun dimana kota Surakarta mengoptimalkan brandpariwisatanya yaitu ’Solo, The Spirit of Java’ sejak diresmikan tahun 2003.Namun pada kenyataanya hingga saat ini, Surakarta masih belum dapat bersaingdengan kota-kota wisata lainnya seperti Bandung dan Yogyakarta dari segi jumlahwisatawan.Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahuistrategi branding dan mengevaluasi proses branding kota Surakarta dalammengkomunikasikannya sebagai sebuah destinasi wisata. Fase-fase destinationbranding dan destination branding model menjadi dasar dalam evaluasi brandingpariwisata kota Surakarta. Oleh karena itu, metode penelitian yang digunakanadalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan evaluatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses branding yang dilakukan olehkota Surakarta masih belum sesuai dengan konsep branding sebuah destinasi,karena tidak ada keterpaduan antara tujuan pemasaran dan tujuan komunikasi.Surakarta cenderung menekankan pada hal-hal yang bersifat komersial untukkepentingan industri pariwisata sehingga mengesampingkan esensi sebenarnyadari konsep branding sebuah destinasi yaitu penyampaian pesan-pesankomunikasi brand pariwisata kota Surakarta.Kata Kunci : branding, Surakarta, destinasi, pariwisata, pemasaran, komunikasiviiiNama : Lina MustikawatiNIM : D2C009012SURAKARTA CITY’S BRANDING STRATEGIES IN MANAGEMENT ASA TOURISM DESTINATIONAbstractTourism development is one focus in improving quality of life through localrevenues. Surakarta became a city in Indonesia, concentrated on the tourism sectorbecause it has the potential of arts and culture to be used as a tourism product thatcan be sold to tourists.Currently, Surakarta became a city tour with the concept of culturaltourism. The year 2010 became the year in which Surakarta optimize its tourismbrand Solo, The Spirit of Java since it was inaugurated in 2003. But the fact isuntil today, Surakarta still can not compete with other tourism cities such asBandung and Yogyakarta in terms of the number of tourists.The objectives of this research is to investigate and evaluate the process ofbranding strategies branding Surakarta in communicating it as a tourismdestination. Phases of destination branding and destination branding model thebasis for the evaluation of tourism branding Surakarta. Therefore, the researchmethod used was a qualitative research method with an evaluative approach.The results showed that the branding process conducted by the city ofSurakarta still not in accordance with the concept of branding a destination,because there is no coherence between the objectives of marketing andcommunication objectives. Surakarta tends to emphasize matters of a commercialnature for the benefit of the tourism industry to the exclusion of the true essenceof the concept of branding a destination that is delivering brand communicationmessages Surakarta tourism.Key words : branding, Surakarta, destination, tourism, marketing,communicationSTRATEGI BRANDING KOTA SURAKARTA DALAM PENGELOLAAN SEBAGAIDESTINASI WISATA1. PendahuluanSurakarta atau Solo adalah kota di Jawa Tengah yang tengah menjadi salah satu ikon dalampromosi pariwisata Indonesia. Strategi komunikasi pariwisata kota Surakarta dikelola olehDinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta yang berkedudukan sebagai NationalTourism Organization (NTO). Berbagai kegiatan difokuskan pada kegiatan yang berujungpada kota MICE (Meeting, incentive, convention, and exhibition).Sebagai kota tujuan wisata, komunikasi branding kota Surakarta belum mampumencapai posisi teratas dalam kunjungan wisatawan. Surakarta baru mencapai targetkunjungan wisatawan tahun 2012 dengan kunjungan 2.133.848 orang. Sementara brandpariwisata dengan „Solo, The Spirit of Java‟ sudah berjalan semenjak tahun 2005, namunselama 5 tahun berjalan hingga tahun 2010, pariwisata kota Surakarta masih belummenunjukkan perkembangan untuk bersaing dengan kota-kota wisata lainnya. Tahun 2010,kepemimpinan Jokowi-Rudy periode kedua, Surakarta melakukan perubahan dari berbagaibidang, baik infrastruktur, kebijakan ekonomi, hingga pariwisata. Angin segar bagi pariwisataditunjukkan dengan peresmian badan promosi pada tahun 2010 yang khusus bertugasmempromosikan pariwisata kota Surakarta kepada calon-calon wisatawan di seluruh daerah.Kunjungan wisatawan menunjukkan adanya peningkatan, namun terkesan lambat untuksebuah kota wisata yang telah dibangun selama 7 tahun. Hal ini ditunjukkan denganpenurunan tertinggi terjadi pada wisatawan mancanegara yang datang melalui pintu masukbandara Adi Sumarmo sebanyak 9,31 persen dari kunjungan wisman tahun 2012 sebanyak8.044.062 pengunjung. (sumber : Berita resmi statistik, Perkembangan pariwisata, dantransportasi nasional 2012).Perkembangan pariwisata kota Surakarta pada tahun 2010ditandai dengan banyaknya penyelenggaraan berbagai event budaya dan promosi pariwisatadi dalam negeri maupun luar negeri, bahkan sempat dinobatkan oleh Indonesia TourismAward 2010 sebagai „kota Terfavorit‟ yang dikunjungi wisatawan, dan „Kota denganPelayanan Terbaik‟. Hal ini semestinya berdampak positif pada perkembangan jumlahwisatawan yang berkunjung ke kota tersebut. Mengamati kondisi tersebut, penelitian inibermaksud merumuskan permasalahan tentang bagaimana strategi branding yang dilakukankota Surakarta dalam pengelolaannya sebagai daerah destinasi wisata? Apakah dalam prosesmengkomunikasikan brandingnya sesuai dengan tahapan-tahapan yang seharusnya dilakukanuntuk destinasi branding pariwisata?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi branding yang diterapkan olehkota Surakarta dalam pembangunan brand sebagai sebuah destinasi wisata, dan mengevaluasiproses strategi branding dalam mengkomunikasikan kota Surakarta sebagai sebuah destinasiwisata. Penelitian ini menggunakan beberapa konsep destination branding, yaitu destinationbranding models yang dikemukakan oleh Cai (2002), destination branding phase, destinationbranding complexity. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodepenelitian kualitatif pendekatan evaluatif dimana evaluasi dilakukan secara deskriptifberdasarkan konsep ideal dari branding sebuah destinasi (destination branding).Tipe Penelitian ini tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan evaluatif program,yang berfokus pada proses dan hasil suatu perencanaan strategi program. Sumber data dalampenelitian ini meliputi data primer yang diperoleh secara langsung dari sumbernya melaluiwawancara mendalam (indepth interview) kepada narasumber terkait dan data sekunderdigunakan sebagai pendukung data primer yang dikumpulkan secara tidak langsung darisumber penelitian yaitu berupa tambahan sumber yang diperoleh peneliti secara tidaklangsung melalui media perantara.2. PembahasanEvaluasi dilakukan melalui analisis tentang proses dan kegiatan branding yang dilakukankota Surakarta untuk selanjutnya disesuaikan dengan konsep branding sebagai sebuahdestinasi. Hal ini didasarkan dengan analisis SOSTAC yang merupakan langkah-langkahdalam melakukan pemasaran branding yang nantinya akan terlihat apakah proses brandingkota Surakarta tersebut sesuai dengan konsep branding pariwisata yang seharusnya dilakukanuntuk menciptakan sebuah destinasi.Latar belakang yang dimiliki oleh kota Surakarta untuk dijadikan sebuah destinasi,sudah sesuai dengan konsep destination audit, yang meliputi daya tarik, kekuatan destinasi,dan jangkauan wisatawan. Ketiga faktor ini adalah sesuai dengan target audiens yang ingindicapai, yaitu wisatawan, baik asing maupun nusantara dengan segala fasilitas yang ada dapatmenikmati pariwisata di Surakarta. Branding destinasi wisata (destination branding)didefinisikan sebagai nama, simbol, logo, word mark atau gambaran lainnya yang dapatmengidentifikasi dan membedakan sebuah destinasi, selebihnya menjanjikan sebuahpengalaman wisata yang dapat diingat karena keunikan yang dimiliki oleh sebuah destinasiyang juga berfungsi dalam memperkuat ingatan kenangan yang mengesankan dari sebuahpengalaman destinasi (Ritchie, Ritchie; 1998). Definisi konsep branding destinasi wisata kotaSurakarta menunjukkan bahwa adanya kesesuaian, dimana Surakarta memiliki keunikansebagai pusat peradaban jawa yang berbasis seni dan kultur. Kekayaan yang dimiliki didalamnya seperti seni, budaya, kuliner dan wisata belanja memberikan pengalaman wisatayang menarik karena merupakan potensi khas kota Surakarta tidak dimiliki oleh kota-kotalainnya. Adapun tujuan (objective) branding destinasi kota Surakarta adalah (1) Keterbukaanakses yang lebih luas bagi wisatawan, (2) Perkembangan wisatawan yang signifikan setiaptahunnya (5-10%) untuk menghadirkan multiplier effect bagi sektor perdangangan danindustri pariwisata, (3) Keanekaragaman objek dan atraksi wisata yang dapat mendukunglama tinggal wisatawan, (4) Efisiensi sumber daya bagi pengembangan kepariwisataan(anggaran, SDM dan sumberdaya lainnya).Proses perencanaan meliputi penentuan strategi yang didahului dengan riset analisisSWOT dan Benchmarking kota Surakarta terhadap wilayah yang memiliki potensi serupaseperti Singapura dan Bali. Setelah itu dilakukan penentuan target audiens yang meliputiTarget Primer yaitu Wisatawan Nusantara, Target Sekunder yaitu wisatawan Malaysia,Singapura, dan Australia, dan target wisatawan tersier yang berdomisili selain target primerdan sekunder. Strategi branding dituangkan dalam Roadmap pariwisata yang didesain secaratematik sesuai dengan renstra meliputi Festive City, Theater of Community Arts, Pioneer ofEco Art, ArtEpolis.Kegiatan Implementasi dilakukan melalui kegiatan komunikasi pemasaran directmarketing dengan kegiatan promosi secara langsung seperti pameran pariwisata. Sedangkanindirect marketing dilakukan melalui kegiatan event seni budaya yang dilakukan dalam satutahun penuh. Selain itu dalam memperkuat brand equity, dilakukan maksimalisasi dalamberbagai komponen seperti brand identity melalui slogan dan logo, endorser melalui putradan putri Solo, dan kerjasama promosi melalui asosiasi terkait seperti Visit Jateng danWonderful Indonesia.Proses evaluasi dilakukan selama 1 tahun sekali, dimana ada indikator tertentu yangdigunakan untuk mengukur keberhasilan dari proses branding yang dilaksanakan, adapunindikator tersebut adalah The Number of Tourism, Length of Stay (LoS), Peredaran uang,Peningkatan jumlah akomodasi, dan penghargaan. Indikator keberhasilan kota Surakarta diatas belum sesuai dengan faktor ideal dalam mengukur keberhasilan branding sebuahdestinasi. Hal ini disebabkan karena tujuan utama yang ingin dicapai oleh kota Surakartaberfokus pada peningkatan jumlah wisatawan yang masuk ke kota Surakarta.3. PenutupBerdasarkan permasalahan dan tujuan dari penelitian ini, maka dapat dipaparkan kesimpulansebagai berikut :3.1 Proses perumusan konsep didasari dengan latar belakang kota Surakarta yangdijadikan pusat dari pengembangan pariwisata Solo Raya karena memiliki potensiyang ada sesuai dengan konsep branding sebagai sebuah destinasi wisata (destinationaudit) meliputi keragaman atraksi, kekuatan untuk disandingkan dengan destinasilainnya, dan jangkauan wisatawan. Perumusan konsep dilakukan oleh berbagai pihakdimulai dari organisasi pemerintah, badan eksekutif dan legislatif, tokoh seni danbudaya, serta stakeholder pariwisata. Namun media sendiri yang berkedudukansebagai pembentuk opini tidak dilibatkan di sini karena media dianggap sebagaichannel dari pihak eksternal yang berguna dalam penyampaian informasi mengenaiberbagai kegiatan dalam proses branding. Objektif dari branding kota Surakarta masihbergantung tujuan marketing dibandingkan tujuan komunikasi. Selain itu, targetaudiens kota Surakarta didasarkan aspek geografis saja, sedangkan dalam prosesbranding, penentuan target audiens, setidaknya harus didasarkan pada aspekpsikografis, karena berkaitan dengan minat dan ketertarikan target audiens terhadapkonsep wisata kota Surakarta sebagai kota Budaya, sehingga akan memudahkandalam penyerapan pesan branding.3.2 Perencanaan strategis dalam jangka panjang penting dilakukan oleh sebuah kotasebagai dasar untuk melakukan segala kegiatan branding. Strategi tersebut,diimplementasikan melalui sebuah manajemen yaitu manajemen produk, manajemenbrand, dan manajemen servis.3.3 Implementasi strategi branding kota Surakarta melibatkan NTO (National TourismOrganization) dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta denganberbagai stakeholder Internal pariwisata yaitu ASITA, PHRI, HPI, dan BPPIS. Dalamprosesnya, NTO mengikut sertakan para stakeholder pada setiap kegiatan promosiyang terdiri dari kegiatan direct marketing dan indirect marketing. Penetapan tolakukur keberhasilan kegiatan branding kota Surakarta masih belum sesuai denganfaktor-faktor penentu keberhasilan branding sebuah destinasi yang lebih menekankanpada komunikasi brand untuk selanjutnya dipahami oleh berbagai stakeholder dantarget audiens. Dalam membranding sebuah destinasi akan terlibat melalui berbagaiaspek, dimana faktor ini sewaktu-waktu akan menghambat dalam proses branding.Aspek Natural diatasi dengan perjanjian dalam MoU yang ditandatangani olehmasing-masing walikota dalam kerjasama promosi terhadap keunikan masing-masingdestinasi. Aspek politik yang merujuk pada isu kerusuhan diatasi hal ini,dilakukankirab budaya oleh walikota Surakarta dalam rangka menciptakan image kotaSurakarta yang aman dan nyaman. Kendala lain dari aspek ekonomis adalahbudgeting yang dinilai sangat kecil, dilakukan pendekatan untuk menumbuhkan senseof belonging pada stakeholder eksternal, dimana melalui perasaan tersebut akanmenekan budgeting yang harus dikeluarkan. Manusia menjadi salah satu aspek,dimana akan mempengaruhi dalam perencanaan branding karena bertindak sebagaipembuat keputusan. Hal ini dianggap sebagai perubahan selera masyarakat, dan untukmengatasinya, Surakarta memfasilitasinya dalam hal ini melalui wisata belanjadengan produk-produk tradisional sehingga menarik wisatawan seperti batik dansouvenir.DAFTAR PUSTAKABukuAaker , David A. 2000. Brand Leadership. New York : The Free Press.Aaker, David A . 1991. Managing Brand Equity: Capitalising on the Value of a Brand Name,London: the Free PressBungin, B. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta : Prenada Media Group.Cultures and Markets. Kogan Page Business BooksDreyfuss, Henry. 1972. Symbol Sourcebook : An Authoritative Guide to InternationalGraphic Symbols. McGraw-Hill Inc.Gelder, Sicco Van. 2005. Global Brand Strategy : Unlocking Brand Potential AcrossCountries,Gregory, Anne. 2010. Planning and Managing Public Relations Campaigns : A StrategicApproach. Kogan Page Publisher.Kasali, Rhenald. 1998. Membidik Pasar Indonesia : Segmentasi, Targeting, dan Positioning.Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.Keller, Kevin Lane. 2003. Strategic Brand Management : Building, Measuring, andManaging Brand Equity. California : Prentice Hall.Kerzner, Harold. 2001. Strategic Planning for Project Management Using a ProjectManagement Maturity Model. WileyKotler Philip & Keller Kevin Lane, 2009, Manajemen Pemasaran, edisi ketiga belas, Jakarta:Erlangga.Kotler, P, Haider, DH & Rein, IJ . 1993. Marketing places: Attracting investment, industry,and Tourism to cities, States, and Nations.Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana.Lesly, Philip. 1991. Leslys Handbook of Public Relations And Communications. McGrawHill.Macnamara, Jim. 1996. Public Relations Handbook For Manager and Executive.Australia: Prentice Hall.McNally, David. Speak, Karl D. 2004. Be Your Own Brand. Jakarta : Gramedia PustakaUtama.Moleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.Morgan, N., Pritchard, A., & Pride, R. (2004). Destination Branding – Creating the UniqueDestination Proposition. (2ndEd). Oxford: Butterworth-Heinemann.Patton, Michael Quinn. 2009. Metode Evaluasi Kualitatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.Percy, Larry. 1987. Advertising Communication and Promotion Management. Mc Graw HillInc.Ries, A. and Trout,J. 1981. Positioning, The battle for your mind. New York : Warner Books– McGraw-Hill Inc.Sadat, Andi M. 2009. Brand Belief : Strategi Membangun Merek Berbasis Keyakinan.Jakarta : Salemba Empat.Schultz, Don. E and Barnes, Beth E. (1999). Strategic Brand Communication Campaigns.Lincolnwood, IL : NTC Business Books.Smith, Paul Russel. 2003. Great Answer Tough Marketing Quest. Koogan Page Publisher.Temporal, Paul. 2002. Advanced Brand Management : Managing Brand in A ChangingWorld. WileyTjiptono, Fandy. 2005. Brand Management & Strategy. Yogyakarta : Andi Offset.tourism to cities, states, and nations. New York: The Free Press.UNWTO and ETC. 2009. Handbook on Tourism Destination Branding. Madrid : The WorldTourism Organization and the European Travel Commission.Upshow, Lynn B. 1995, Building Brand Identity, A strategy for success in hostilemarketplace. John Wiley & Sons, Inc, pp. 15-16.Worthen, Blaine R. ,Sanders, James R. 1979. Practices and Problems in Competency-BasedMeasurement.PenelitianChaerani, R.Y. (2011). Pengaruh City Branding Terhadap City Image (Studi Pencitraan KotaSolo : „The Spirit of Java’). Laporan Penelitian. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.Illiachenko, Elena Y. 2005. Exploring Culture, History and Nature as Tourist DestinationBranding Constructs : The Case of a Peripheral Region in Sweden. Dipresentasikanpada Seminar Policy and marketing/ Destination image and marketing di Akureyri,Iceland (22-25 Sept 2005) :1-12Ionela Cretu. (2011) . Destination image and destination branding in transition countries :the Romanian tourism branding campaign ‘Explore the Caparthian Garden’ .Desertasi. University of York.Liestiandre, Hanugerah K. Analisis Positioning Bali Sebagai Destinasi Wisata. Tesis.Universitas Udayana Denpasar.Linh, Duong Thuy. (2012). Practice of Internet Marketing in Destination Branding.Bachelor’s Thesis. Savonia University.Morrison, A. M & Anderson, D. J. 2002. Destination Branding, Dipresentasikan padaSeminar the Annual Meeting of the Missouri Association of Convention and VisitorBureaus.Risitano, M. (2005). The role of destination branding in the tourism stakeholders system. TheCampi Flegrei case. Laporan Penelitian. Faculty of Economics: University of NaplesFederico II.Stufflebeam, Daniel L. (2003). The CIPP Model for Evaluation. Dipresentasikan padaAnnual Conference of The Oregon Program Evaluators Network (OPEN) di Portland,Oregon. (10 Maret 2003) : 2-68.Hassan,Suzan B., Mohamed Soliman A. Hamid, dan H. Al Bohairy. (2001). Perception ofDestination Branding Measures : A Case Study of Alexandria Destination MarketingOrganizations. Laporan Penelitian.Trost, Klaric, dan Ruzik. (2012). Events as a Framework For Tourist Destination Branding-Case Studies of Two Cultural Events in Croatia. Laporan Penelitian.JurnalArgenti, Paul A. , Howell, Robert A. , Beck, Karen A. 2005. The Strategic CommunicationImperative. MIT Sloan Management Review. 83-89.Armstrong, J. Scott. 1986. Strategic Planning Improves Manufacturing Performance.Marketing Papers. 127-129Cai, L. A. (2002). Cooperative branding for rural destination. Annals of Tourism Research.29 (3), 720 – 742.David A. and Kevin L. Keller (1990), “Consumer Evaluations of Brand Extensions,” Journalof Marketing, 54 (January), 27-41Lassar, W., Mittal B. , and Sharma A. (1995). Measuring Customer-Based Brand Equity.Journal of Consumer Marketing 12(4): 11-19.Lavidge and Steiner. (1961). A Model for Predictive Measurements of AdvertisingEffectiveness. Journal of Marketing (October 1961) : 59–64.Ritchie, J.R.B. and Ritchie, R.J.B. (1998). Branding of Tourism Destinations : pastachievements and future challenges. A basic report for presentation th the 1998Annual Congress of the International Association of Scientific Experts in Tourism,Marrakech, Morocco, September 1998.Schultz, D., and H. Schultz. 1998. Transforming marketing communication into the twentyfirstcentury.Journal of Marketing Communications 4, no. 1: 9–26.Yoo, Bonghee , Donthu, Naven, Lee, Sungho. (2000). An Examination of Selected MarketingMix Elements and Brand Equity. Journal of Academy Marketing Science . SagePublications, 28 ; 195.InternetBPPIS Solo Fokus Promosi ke Tiga Kawasan Potensial . (2013). Dalamhttp://www.harianjogja.com/baca/2013/02/01/bppis-solo-fokus-promosi-ke-tigakawasan-potensial-374585 . Diunduh pada tanggal 18 Maret 2013 pukul 12.59 WIB.EUROCITIES. 2010. A shared vision on city branding in Europe [electronic material].Dalamhttp://ddata.overblog.com/xxxyyy/1/19/97/12/eurocities/EUROCITIES_City_branding_final-SMUL.pdf. Diunduh tanggal 15 April 2013 pukul 9.05 WIBIndonesia Tampil Total dalam Pameran Wisata Berlin . (2013). Dalamhttp://www.antaranews.com/berita/359928/indonesia-tampil-total-dalam-pameranpariwisata-berlin. Diunduh pada tanggal diunduh pada tanggal 18 Maret 2013 pukul12.32 WIB.Kunjungan Wisatawan ke Semarang Meningkat. (2013). Dalamhttp://travel.kompas.com/read/2013/01/15/14164693/Kunjungan.Wisatawan.ke.Semarang.Meningkat . Diunduh pada 17 Februari 2013 pukul 22.43 WIB.Kunjungan Wisatawan ke Semarang Meningkat. Dalamhttp://travel.kompas.com/read/2013/01/15/14164693/Kunjungan.Wisatawan.ke.Semarang.Meningkat diunduh pada tanggal 9 April 2013 pukul 11.10 WIB.Pertumbuhan Ekonomi Sragen Tertinggi di Surakarta. (2012). Dalamhttp://economy.okezone.com/read/2012/12/28/20/738578/2012-pertumbuhanekonomi-sragen-tertinggi-di-surakarta . Diunduh pada tanggal 17 Maret 2013 pukul18.00 WIBSurakarta targetkan 2 juta wisatawan per-tahun. Dalamhttp://www.wisatamelayu.com/id/news/12650-Surakarta-Targetkan-2-Juta-Wisatawan-Per-Tahun diunduh pada tanggal 9 April 2013 pukul 12.07 WIB.Ulfah, Anita. (2012). ”Eco-Cultural” City Jokowi. Dalamhttp://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/07/26/194009/10/Ecocultural-City-Jokowi . Diunduh pada tanggal 16 Maret 2013 pukul 11.41 WIB.
KOMUNIKASI STRATEGIS UNIVERSITAS DIPONEGORO DAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG DALAM MEMBANGUN BRAND IMAGE UNIVERSITAS SEBAGAI GREEN UNIVERSITY Akbar, Kurniawan; Luqman, Yanuar; Setiabudi, Djoko
Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KOMUNIKASI STRATEGIS UNIVERSITAS DIPONEGORO DAN UNIVERSITASNEGERI SEMARANG DALAM MEMBANGUN BRAND IMAGE UNIVERSITASSEBAGAI GREEN UNIVERSITYAbstrakKebijakan green university merupakan kombinasi antara tiga elemen yaitu green building, greenplace dan green behaviour yang diterapkan pada komunitas akademis. Ketiga hal tersebut dapattercapai jika dilaksanakan melalui implementasi strategi komunikasi strategis yang tepat.Komunikasi strategis terdiri dari dua aspek yaitu komunikasi secara makro dan komunikasi secaramikro. Kedua aspek tersebut mempunyai fungsi untuk menyebarluaskan pesan komunikasi yangbersifat informatif, persuasif dan instruktif secara sistematis kepada sasaran untuk memperoleh hasilyang optimal pada implementasi program atau kebijakan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi implementasi strategikomunikasi strategis Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes)dalam membangun brand image universitas sebagai green university. Upaya menjawabpermasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan strategikomunikasi strategis yang diaplikasikan pada kebijakan green university. Metode penelitian yangdigunakan adalah metode penelitian deskriptif evaluatif dengan pendekatan studi kasus.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan green university belum diterapkansebagaimana mestinya karena masih menekankan pada pembangunan fisik kampus saja.Pemrosesan informasi pada target audiens terhadap kebijakan green university masih cukup rendahkarena strategi komunikasi yang dijalankan cenderung belum tepat sasaran dan tidakmengedepankan aspek efektivitas dan efisiensi sehingga berdampak pada pembangunan brandimage universitas yang tidak optimal. Hal tersebut juga dikarenakan strategi komunikasi yangdijalankan masih sebatas pada publisitas media dan pengadaan kegiatan.Disarankan setiap implementasi kebijakan sebaiknya dilakukan melalui pendekatankomunikasi strategis secara komprehensif dan didahului oleh proses riset serta dievaluasi denganindikator-indikator tertentu untuk mengetahui keberhasilan kebijakan yang diterapkan.Key Words: komunikasi strategis, green university, strategi komunikasi, brand image, implementasikebijakan.STRATEGIC COMMUNICATIONS OF UNIVERSITAS DIPONEGORO ANDUNIVERSITAS NEGERI SEMARANG IN BUILDING BRAND IMAGE AS GREENUNIVERSITYAbstractGreen university policy is a combination of the three elements of green building, green place andgreen behavior is applied to the academic community. These three things can be achieved in theimplementation of strategic communication suitable strategy. Strategic communication consists oftwo aspects : the micro communication and macro communication. Both aspects have a function todisseminate communication messages that are informative, persuasive and instructivesystematically to target audience to obtain optimal results in the implementation of the program orpolicy.The purpose of this study to determine and evaluate the implementation of a strategiccommunications strategy of Universitas Diponegoro and Universitas Negeri Semarang in buildingthe brand image of the university as a green university. Efforts to address concerns and goals ofresearch by using a strategic communications strategies approach that apply to green universitypolicy. The research method is descriptive evaluative research with the case study approach.Results of this study indicate that the university has not been implemented green policies as theyshould because they emphasize the physical development of the campus. Processing of informationon the target audience of the green university policies are still quite low due to communicationstrategies tend out of the target and not prioritizing aspects of the effectiveness and efficiency sothat the impact on the development of the brand image of the university that are not optimal. Thatwas caused by priority in the strategic communications just concern at themedia publicity and special events. Policy implementation should be done through a comprehensiveapproach to strategic communications and is preceded by a process of research and evaluated withspecific indicators to determine the success of the green university is applied.Key Words: strategic communications, green university, communication strategy, brand image, theimplementation of the policy.PendahuluanFenomena dan isu mengenai kerusakan lingkungan sedang menjadi sorotan dan perhatian berbagaikalangan masyarakat dewasa ini. Lingkungan diartikan sebagai sebuah sistem yang kompleks dalamtatanan kehidupan makhluk hidup. Kompleksitas permasalahan lingkungan tersebut menuntutsebuah gerakan penyelamatan lingkungan dari semua kalangan baik pemerintah, pihak swasta,akademisi dan semua masyarakat secara umum.Berbagai bentuk antisipasi menyiasati berupa mitigasi serta adaptasi sebagai wujudkepedulian telah mewujudkan telah melahirkan berbagai program maupun gerakan lingkungan, baikprogram yang diprakarsai oleh pemerintah, gerakan lingkungan oleh LSM lingkungan, pendidikanlingkungan di lembaga pendidikan serta kampanye dan lain sebagainya.Salah satu hal yang muncul dalam bentuk antisipasi fenomena kerusakan lingkungan adalahmanifestasi konsep green campus pada perguruan tinggi. Green campus adalah sistem pendidikan,penelitian pengabdian masyarakat dan lokasi yang ramah lingkungan serta melibatkan wargakampus dalam aktifitas lingkungan yang harus berdampak positif bagi lingkungan, ekonomi dansosial. Green campus tersebut merupakan konsep perpaduan antara lingkungan dengan duniakampus dimana konsep lingkungan yang meliputi 3R, penghijauan, in front of office, CSR dansebagainya digabung dengan konsep kampus yang terdiri dari fisik kampus, lokasi dan perilakuwarga kampus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa green campus merupakan kombinasi antaragreen building, green place dan green behaviour.Implementasi konsep green campus di beberapa perguruan tinggi disebut juga sebagai sebuahkomunitas perguruan tinggi untuk meningkatkan efisiensi energi, melestarikan sumber daya danmeningkatkan kualitas lingkungan yang berkelanjutan serta menciptakan lingkungan belajar yangsehat (Humblet, E.M, Owens, R. Roy, L.P., 2010). Konsep green campus meliputi beberapa elemenantara lain :a. Green BuildingGreen Building memiliki 4 ciri yaitu: Material Bangunan ramah lingkungan, Pengolahanlimbah, media promo tools yang ramah lingkungan dan bebas polusi udara dan suara.b. Green PlaceGreen Place memiliki lima ciri yaitu permukiman tersebut memiliki konsep yang disebutone stop living, ruang terbuka hijau, harmonis, mengurangi penggunaan kendaraan bermotordan kemudahan mengakses transportasi umum.c. Green BehaviourGreen behaviour memiliki ciri yaitu pengetahuan lingkungan, perilaku lingkungan sertatanggung jawab sosial.Terdapat fenomena menarik ketika banyak kampus khususnya yang tak hanya berwacananamun berlomba-lomba untuk menjadikan konsep green university sebagai reputasi dan citra yangdekat dengan perguruan tinggi tersebut yakni sebagai lembaga pendidikan yang berwawasanlingkungan. Sebagai contoh Universitas Indonesia (UI) bertekad menjadi green campus denganmengembangkan hutan kota seluas 100 hektare. Upaya tersebut sangat positif dalam kaitannyapelestarian flora dan fauna serta bisa menjadi daerah resapan air sekaligus mencegah banjir danlongsor, selain membangun danau untuk penghijauan, UI juga merilis green metric world universityranking yang melakukan pemeringkatan universitas di dunia merujuk pada konsep green university.Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) juga mengusungkonsep green kampus dengan mengoptimalkan kampus dengan fasilitas ramah lingkungan, InstitutPertanian Bogor (IPB) juga gencar melaksanakan gerakan penghijauan untuk mewujudkan greenuniversity pada area kampus.Universitas Diponegoro (Undip) muncul melalui gerakan penghijauan dan mewujudkan hutankampus dan diterapkannya program car free day di area kampus Undip Tembalang sekali setiapminggu setidaknya dapat meminimalisir polusi dan merupakan bagian dari upaya implementasi darikampus berwawasan lingkungan (green campus). Universitas Negeri Semarang (Unnes)mengembangkan taman keanekaragaman hayati yang meliputi program penghijauan, pemilahansampah organik dan anorganik di kawasan kampus termasuk pengolahan sampah organik menjadikompos. Dalam mewujudkan kampus berkonsep hijau, Pada tahun 2010 Unnes mendeklarasikandiri sebagai kampus konservasi dan masih banyak universitas lain di Indonesia yang membangunbrand image kampus sebagai green university. (Suara Merdeka, 17 Januari 2013)Undip dan Unnes dikenal sebagai tempat aktivitas pendidikan berlangsung danmengedepankan wawasan lingkungan terhadap warga kampus melalui penerapan konsep greenuniversity. Hal tersebut didukung dengan apresiasi yang diberikan oleh Kementerian LingkunganHidup Republik Indonesia dimana Universitas Diponegoro (Undip) ditunjuk sebagai model greencampus pertama di Indonesia, sebelumnya Undip juga meraih penghargaan dari KementerianKehutanan RI sebagai perguruan tinggi yang peduli terhadap penghijauan (Suara Merdeka, 30November 2012) sedangkan Universitas Negeri Semarang (Unnes) di tahun 2010 dikukuhkanKementerian Pendidikan RI untuk mendeklarasikan diri sebagai Universitas Konservasi bertarafinternasional. Hal tersebut berdampak pada citra Undip dan Unnes sebagai kampus dalampenerapan konsep green university dan berwawasan lingkungan terbaik dengan reputasiinternasional.PembahasanImplementasi dari sebuah kebijakan selalu berawal pada keputusan-keputusan lintas fungsionalyang dapat memungkinkan suatu perusahaan atau lembaga mencapai sasarannya, sehingga perludilakukan langkah strategis yang berfokus pada proses penetapan tujuan organisasi, pengembangankebijakan dan perencanaan untuk mencapai sasaran, serta mengalokasikan sumber daya untukmenerapkan kebijakan dan merencanakan pencapaian tujuan organisasi tersebut, salah satu hal yangdisebut memiliki peran yang signifikan dalam keberhasilan suatu kebijakan agar dapat mencapaitujuan yang diinginkan oleh para perumus dan pelaksana kebijakan adalah upaya-upaya strategisdalam melakukan komunikasi yang baik dan terarah kepada sasaran kebijakan.Universitas Diponegoro (Undip) dan Uniiversitas Negeri Semarang (Unnes) merupakansalah satu lembaga pendidikan yang tengah menjalankan kebijakan green university di lingkungankampusnya. Melalui berbagai langkah strategis, Kedua lembaga pendidikan tinggi tersebutmengupayakan terciptanya brand image baru yang muncul di mata khalayak terhadap kampussebagai perguruan tinggi yang berhasil mengintegrasikan antara isu lingkungan dengan kehidupanakademis.Secara konsepsi kebijakan, Universitas Diponegoro dikenal khalayak baik secara internalmaupun eksternal sebagai universitas riset sehingga image excellent research university dilekatkanpada lembaga pendidikan tersebut, namun melalui pemikiran pimpinan universitas yang jugaberperan sebagai policy makers maka menginginkan adanya image baru yang ingin diciptakan olehUndip yakni sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bukan hanya dikenal sebagai universitas risettetapi juga universitas yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sedangkan konsepgreen university diterapkan Unnes sejak tahun 2010 dengan mendeklarasikan diri sebagaiuniversitas konservasi. Konsep konservasi yang dirumuskan oleh Universitas Negeri Semarang(Unnes) adalah menciptakan suasana kampus dengan melakukan pelestarian alam dan lingkungansekitar dan mengajarkan unsur nilai seni dan budaya kepada civitas akademika.Upaya untuk membangun brand image sebagai kampus green university dilakukan melaluiberbagai strategi oleh Undip dengan tujuan mencapai mutual understanding dari target audiens baikpublik internal seperti mahasiswa, dosen dan karyawan (seluruh civitas akademika) dan publikeksternal seperti masyarakat luas pada umumnya. Penerapan kebijakan green university olehUniversitas Diponegoro (Undip) dilakukan melalui langkah-langkah strategis dalam mencapaitujuan kebijakan. Hal tersebut sesuai dengan konsepsi green university yang dirumuskan olehUndip yakni dengan mengembangkan drainase (penataan lingkungan termasuk penghijauan),biopori, pengolahan sampah dan transportasi sedangkan Unnes menerapkan kebijakan greenuniversity atau kampus konservasinya berdasarkan 7 pilar konservasi Unnes yang meliputiarsitektur hijau dan transportasi internal, biodiversitas, pengolahan limbah, energi bersih, kebijakannir kertas, kaderisasi konservasi dan seni budaya.Kebijakan tersebut memiliki tujuan jangka panjang yaitu menciptakan mutual understandingtarget audiens dan stakeholders dan berakhir pada munculnya brand image sebagai greenuniversity. Tujuan green university akan tercapai melalui perumusan kebijakan komunikasi yangbaik dan tepat sasar. Upaya tersebut dilakukan oleh Undip dan Unnes dalam mencapai tujuan greenuniversity melalui formula kebijakan komunikasi seperti fact finding, planning, action andcommunication dan evaluation. Tahap fact finding dan planning dilakukan oleh perumus kebijakanmelalui observasi lingkungan kampus yang ternyata masih sangat minimnya jumlah ruang terbukahijau serta tingkat polusi udara yang cukup tinggi terlebih Unnes yang didukung dengan topologiatau lokasi kampus yang sangat mendukung untuk dikembangkannya kebijakan tersebut. Tahapanaction communication dijalankan oleh UPT. Hubungan Masyarakat (Humas) dari masing-masinginstitusi, berbeda dengan Undip , Unnes memiliki Badan Pengembang Konservasi sebagaipelaksana kebijakan tersebut berkoordinasi dengan Humas dalam menjalankan kebijakankomunikasinya. Undip lebih cenderung menekankan pada upaya publisitas dan pemanfaatan mediadalam membangun citranya sebagai green university, melalui pendistribusian press release kepadasejumlah media dengan ekspektasi yakni intensitas publikasi pemberitaan sebanyak-banyaknya sementaraUnnes lebih cenderung pada upaya media relations yakni membangun hubungan jangka panjang denganwartawan dalam upaya pemberitaan pada media melalui pengadaan acara bersama rekan pers dansebagainya, Pengadaan kegiatan (event) juga menjadi pilihan dalam melaksanakan startegi komunikasiseperti diadakannya car free day setiap hari jumat pagi di kampus Undip dan kebijakan kampus bebaskendaraan di lingkungan Unnes. Sementara untuk tahapan evaluasi, baik Undip maupun Unnes belummempunyai indikator keberhasilan yang rigid, hal tersebut dikarenakan tidak adanya target pencapaian yangharus dilakukan dalam strategi komunikasi. Tingkat keberhasilan diukur melalui respon dan kendali yangdiberikan oleh perumus kebijakan dan respon target audiens yang dilakan melalui survey secara informal.PenutupPengembangan kebijakan dan komunikasi strategis mempunyai hubungan yang kuat dalamimplementasi kebijakan dan akan berdampak pada respon audiens terhadap pelaksanaan kebijakantersebut dan akan berimbas pada tujuan kebijakan. Dalam membangun brand image universitassebagai green university, implementasi strategi komunikasi strategis yang diterapkan oleh Undipbelum diformulasikan secara optimal. Secara konsep kebijakan green university yang diterapkanoleh Undip belum dengan pola kebijakan green university yang seharusnya mencakup pada tigaaspek yaitu green builing, green place dan green behaviour. Hal tersebut dikarenakan Undip masihmenekankan pada pembangunan secara fisik atau green building dan green place sedangkan aspekgreen behaviour belum me Dalam menjalanjadi prioritas, Kondisi audiens yang masih sangatrendah jika dilihat dari segi pemrosesan informasi (aspek kognisi, afeksi dan konasi) menunjukkanbahwa belum diterpkannya kebijakan komunikasi secara efisien dan tepat sasar.Implementasi kebijakan green university Unnes dilakukan oleh Badan PengembangKonservasi Unnes bekerjasama dengan pimpinan universitas berupaya untuk mencapai aspek greenbehaviour sehingga yang dilakukan bukan hanya pada aspek green building dan green place sajanamun program yang dijalankan dan berdasarkan pada tujuh pilar konservasi sesuai rencanastrategis universitas dalam kebijakan cenderung tidak didasarkan pada proses riset tetapi lebihmenekankan pada kewajiban yang diberlakukan oleh perumus kebijakan dan harus diikuti olehtarget audiens. Hal tersebut berdampak positif terhadap tingkat kognisi, afeksi dan konasi targetaudiens namun karena dilakukan melalui tidakan koersif maka tidak akan mencapai pada tataranbehaviour (perilaku) dalam jangka waktu yang lama.Strategi komunikasi dalam kebijakan green university Unnes dilakukan dengan cara mediarelations (hubungan media), event (pengadaan kegiatan) dan komunikasi verbal dua arah melaluisosialisasi langsung namun karena hal tersebut tidak melalui proses riset dan perencanaan makaaspek green behaviour yang dicapai hanya merupakan efek dari tindakan koersif yang diberlakukanoleh perumus kebijakan saja meskipun tetap dapat disimpulkan bahwa dampak implementasistrategi komunikasi strategis Unnes kaitannya dalam kebijakan green university dapat dikatakansudah berhasil dalam membangun brand image universitas sebagai green university meskipunbelum secara optimal.DAFTAR PUSTAKAAbdurahman, Oemi. 2001. Dasar-dasar Public Relations, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.Allen , Center dan Scott Cutlip. 2007. Effective Public Relations. Jakarta : PT. Kencana PrenadaMedia GroupAlo, Liliweri. 2011. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta : Kencana Prenada Media GroupArdianto, Elvinaro & Soemirat, Soleh. 2004. Dasar-Dasar Public Relations, Cetakan Ketiga,Bandung : Remaja Rosda KaryaAprilia, Hera. 2009. Evaluasi Pelaksanaan Program Transmigrasi Model Ring Satu. Tesis.Universitas Gadjah Mada.Argenti, Paul. A. Howell, Robert A, Beck, Karen A. 2005. The Strategic Communication. MITSloan ManagementBeard, M. 2002. Running a Public Relations Departement. London : Kogan SageCutlip, S. M., Center, A. H., & Broom, G. M.. (2000). Effective Public Relations.Jakarta : Kencana.Cutlip, S. M., Center, A. H., & Broom, G. M.. (2007). Effective Public Relations.Jakarta : Kencana.Danim Sudarman. 2000. Pengantar Studi Penelitian Kebijakan, Jakarta : Bumi Aksara.Denig, E, A. Van Der Meiden. 1985. A Geographic of Public Relations Trends. Dordrecht :Martins Publisher.Effendy, Onong Uchajana. 1981. Komunikasi dan Modernasi, Bandung : AlumniJefkins, Frank. (1998). Public Relations. Jakarta : Erlangga.Jefkins, Frank. (2003). Public Relations. Jakarta : Erlangga.Goldblatt, Joe. 2010. Special Events A New And The New Frontier. 6ed. John Willey : New Jersey.Grindle, Marilee. 1980. Politics and Policy Implementation in The Third World. PrincetonUniversity Press : New JerseyGregory, Anne. 2010. Planning and Managing Public Relations Campaigns : A StrategicApproach. Kogan Page Publisher : LondonKurniawan.E, 2006. Studi Analisis Isi Pemberitaan Media Masa Tentang Lingkungan danImplikasinya Terhadap Kebijakan Pengelolaan Lingkungan di Kabupaten Bangka. Tesis.Universitas DiponegoroLesly, Philip, 1987. Lesly’s Public Relations Handbook Third Edition. Englewood Cliff, New York: Prentice Hall.Moleong, Lexy J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.Mulyana, Dedy. 2007. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.Nakamura, R & Smallwood. F, 1980. Politics and Policy Implementation. New York : St. Martin’sPress.Ruslan, Rosady. 2005. Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations, Jakarta : PT. Raja GrafindoPersadaRakhmat Jalaludin, 1996. Komunikasi Massa. Bandung : PT. Remaja Rosda KaryaSabatier, Paul. 1986. Top Down And Bottom Up Models of Policy Implementation : A CriticalAnalysis and Sugested Synthesis. Journal of Public Policy.Sukmadinata. 2005. Landasan Kebijakan Makro, Bandung : PT. Remaja Rosda KaryaSoemirat, Soleh dan Elvinaro Radianto.2003. Dasar-Dasar Public Relations. Bandung : RemajaRosdakarya.Wilcox, Dennis L, dkk. 2006. Public Relations Strategies and Tactics. Interaksa : Batam.www.e-journal.undip.ac.id/index.php/pwk/article/view/1451/teknik-perencanaan-wilayah-dankota/ISSN-2338-3526. (diunduh 19 Maret 2013, pk. 16.35)www.edukasi.kompas.com/read/2011/12/14/13141023/inilah.kampus.hijau.terbai.di.dunia.versi.ui(diunduh 23 Maret 2013, pk.20.09)www.dikti.go.id/?p=8453&lang-id 5 perguruan tinggi jadi percontohan kampus hijau. (diunduh 23Maret 2013, pk. 21.44)www.digilib.unmuhjember.ac.id/gdl.pdf?mood=browse&op=read&id=umj-ix-heribudh-1355Analisis asosiasi merek dalam membentuk brand image (diunduh 24 Maret 2013, pk. 16.37)www.suaramerdeka.com/vi/index.php/read/news/2013/03/06/148015/ tahun ini lima perguruantinggi dijadikan green campus. (diunduh 26 Maret 2013, pk. 17.22)www.sustainablecampus.org/universities.html.the.sustainable.campus. sustainable campusdevelopment. (diunduh 26 Maret 2013, pk.14.22)www.unnes.ac.id/bulettin/sosialisasi-kebijakan-transportasi-hijau-unnes-sekaran (diunduh 26 Maret2013, pk. 20.10)www.e-resources.pnri.go.id/index.php?option=com-library&itemid=53key=1. corporatecommunication : a strategic approach to building reputation. (diunduh 27 Maret 2013pk.17.23)http://www.shnews.co/duniakampus/detile-1206-ui-raih-peringkat-kampus-terhijau-ke25-didunia.html (diunduh 29 Maret 2013 pk.16.42)http://www.ui.ac.id/en/campus/page/green-campus green campus global development in recentyears brings indications that the future of the world are on the down edge of the environmen.(diunduh 5 April 2013 pk.13.20)www.find.lib.uts.edu.au/search-do-jsesionedid, Building The Brand : A Case Study of TroyUniversity (diunduh : 23 Maret 2013, pk. 19.22)www.researchgate.net/profile/andrea-muntean/publication, The Brand : One of The University’sMost Valuable Asset. (diunduh : 24 Maret, pk.13.21)www.palgrave.journal.com.pb./journal.abs/p20137a.html, City Branding : A brand concept mapAnalisys of a university top (diunduh 24 Maret 2013, pk. 17.09)www.digilib.ui.ac.id/file?file-abstrak-79123.pdf, Studi Kasus Brand Image Universitas Terbuka(Membangun ekuitas merek (brand equity) elemen brand awareness dan brand associationUniversitas Terbuka (diunduh : 24 Maret 2013, pk. 22.14)www.e-prints.undip.ac.id/21945/1/447.ki-fsp-1995a.pdf. Membentuk Citra Undip Melalui Media(diunduh :25 Maret 2013, pk.12.18)www.puslit.petra.ac.id.journals/iko/190080202/180020202.pdf. Kajian Peran Public Relationsdalam Meningkatkan Citra Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Tengah (diunduh : 25 Maret 2013,pk. 17.22)
PRODUKSI PROGRAM KEBUDAYAAN GAMBANG SEMARANG PADA PROGRAM ACARA SLUMAN SLUMUN CAKRA SEMARANG TV Arrahman, Syahdam; Luqman, Yanuar; Hasfi, Nurul
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PRODUKSI PROGRAM KEBUDAYAAN GAMBANG SEMARANGPADA PROGRAM ACARA SLUMAN SLUMUN CAKRA SEMARANG TVABSTRAKGambang Semarang merupakan sebuah kesenian tradisional kerakyatan yang berkembang dikota Semarang sejak tahun 1930, hal ini berdasarkan peneltian yang dilakukan oleh tim peneliti kesenian Gambang Semarang, fakultas Ilmu Budaya, Universitas Dipongoro. Dalam sejarahnya kesenian Gambang Semarang merupakan sebuah kesenian yang berasal ataupun memiliki kemiripan dengan Gambang Kromong yang berasal dari Ciputat, dan ini menjadi sebuah perdebatan dalam asal-usul kesenian Gambang Semarang itu sendiri. Walaupun menjadi sebuah perdebatan, kini Gambang Semarang diamini oleh warga kota Semarang sebagai kesenian khas kota Semarang. oleh karena itu juga, tim peneliti kesenian Gambang Semarang FIB mengangkat kesenian gambang Semarang sebagai identitas budaya Semarang.Mengapa kemudian Gambang Semarang di anggap menjadi sebuah kesenian khas dan menjadi identitas kesenian kota Semarang, hal tersebut berdasarkan melalui proses sejarah, dimana Gambang Semarang memiliki sejarah yang panjang di kota ini, berkembang dan mendapat apresiasi dari warga kota Semarang. Dalam perkembangannya, Gambang Semarang mendapat penataan tari yang menggambarkan keadaan geografis kota Semarang. Tidak hanya tari, penataan alat musik turut serta dikembangkan baik itu bentuk, rupa, notasinya serta penggunaan lagu-lagu yang bernuansa Semarang. tidak hanya unsur musik dan tari, kesenian gambang semarang juga memiliki unsur lawak.Beragam kesenian dikota semarang sejatinya tidak bisa terlepas dari berbagai etnis yang berada di kota Semarang Yakni, etnis Jawa, Arab dan Cina. Ini juga yang terlihat dalam kesenian Gambang Semarang, dimana didalamnnya terdapat unsur Cina dan Jawa, baik itu dari segi peralatan dan juga pemainnya. Tak kadang pula perkembangan kesenian tersebut merupakan buah usaha dari berbagai etnis dalam melahirkan, mempertahankan hingga melestarikannya. Oleh karena itu gambang semarang memiliki visi misi sebagai kesenian yang membawa misi akulturasi, hibridasi dan juga asimiliasi.Dalam perkembangannya kesenian gambang semarang mengalami pasang surut, dan keadaan surut paling dirasakan pada tahun 2010, sebagian besar pemain Gambang Semarang klasik telah meninggal dunia. Agar tetap ada yang bisa melestarikan maka terbentuklah sebuah komunitas ang bernama Gambang Semarang Art Company. Melaui komunitas tersebutlah kesenian Gambang Semarang bisa terus ada, dan menjadi sebuah kesenian khas dan identitas kesenian di kota Semarang.Kata kunci : Identitas, Gambang Semarang, perkembangan, pelestarian.AbstractGambang Semarang is a traditional art that developed in a Semarang city since the 1930s, based on a research done by a team of art researchers of Gambang Semarang from the Faculty of Culture, Diponegoro University. In its history, Gambang Semarang is an art that having a resemblance to Gambang Kromong from Ciputat and it becomes a debate about the true origin of art Gambang Semarang itself. Despite being a debate, now Gambang Semarang has agreed by the citizens of the city as a landmark art of Semarang. Hence also, the researchers team art Gambang Semarang a FIB raised art Gambang Semarang as cultural identity of Semarang.Then why Gambang Semarang in deem to be a distinctive culture and art director of semarang city into the identity of it is based on the process of history, through where gambang semarang has a long history in this town, Develop and got appreciation of the people of Semarang. In its development, Gambang Semarang got the arrangement a dance that describe the state of geographical the city of Semarang. Not only dance, the arrangement and developed musical instrument played a good shape, a way notasinya and the use of songs features semarang. Not only element of the music and dance, art gambang semarang also have an element buffoonery.Diverse art in a Semarang city actually cant in spite of different ethnicities located in the town of semarang are ethnic Java, Arab, and China. Is also seen in the arts of Gambang director of Semarang where didalamnnya there is an element of china and java whether it s in terms of equipment and also gradually. Dont sometimes also the development of the music business is the result of different ethnicities in childbirth, maintain to preserve it. Hence Gambang Semarang have a vision of the mission as the arts which bring mission acculturation, hybrid and also asimiliasi.In its development the arts Gambang Semarang experiencing ups and downs, and the States most experienced recede in 2010, most of the players of classical Xylophone Semarang had died. In order to keep anyone can preserve then formed a community called Gambang ang Semarang Art Company. Through the community that the arts Gambang Semarang could continue to exist, and be a typical arts and identity of the arts in the city of Semarang.Keywords: Identity, Gambang Semarang, development, sustainability.PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang:Banyak sudah yang meyakini bahwa Gambang Semarang itu merupakan produk khas dari Kota Semarang, hal ini didasarkan pada penelitian Dewi Yuliati dkk penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi, dengan judul Penataan Kesenian Gambang Semarang sebagai Identitas Budaya Semarang. Tetapi ada juga pihak yang mempertanyakan apakah Gambang Semarang Merupakan produk khas dari kota Semarang.Seiring perkembangan Zaman kini tidak banyak lagi yang tahu apa itu sebenarnya Gambang Semarang, bahkan ada yang menganggap bahwa Gambang Semarang itu judul sebuah lagu, ada pula yang menganggap bahawa adalah jenis alat musik. Sejatinya, Gambang Semarang merupakan salah satu kesenian yang lahir dan berkembang di kota Semarang, yang menampilkan unsur-unsur seni musik, vokal, tari dan lawak. Jika dilihat pola garapannya, Gambang Semarang dapat dikategorikan sebagai kesenian tradisional kerakyatan, karena ia berkembang di kalangan rakyat jelata, dan telah menempuh perjalanan sejarah yang cukup lama, dimana perkembangannya tetap bertumpu pada unsur-unsur seni yang telah dimilikinya sejak dulu (Dewi Yuliati dkk penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi, dengan judul Penataan Kesenian Gambang Semarang sebagai Identitas Budaya Semarang).Sebagai salah satu kesenian khas, apakah Gambang Semarang memiliki identitas yang ada kotanya, dari penelusuran jurnnais, Identitas yang terdapat pada Gambang Semarang salah satunya adalah Perpaduan antara unsur-unsur seni Cina dan Jawa baik itu dalam hal alat music dan juga pemainya. Inilah yang menjadisalah satu identitas yang menonjol dalam kesenian tersebut. Terlepas dari kontroversi mengenai asal-usul Gambang Semarang, tidak dapat diingkari bahwa kesenian itu lahir atas prakarsa masyarakat Semarang sendiri dan sampai kini juga masih dibutuhkan serta diperhatikan oleh banyak pihak di Semarang. Lagi pula, Gambang Semarang terus mengalami pengembangan sesuai dengan selera masyarakat Semarang.Seiring berkembangn waktu pula, tak banyak yang mengetahui kesenian Gambang Semarang itu apa. Tidak banyak yang tahu tentang perkembangannya dari masa ke masa tentang kesenian Gambang Semarang yang dijadikan simbol kesenian khas di ibu kota Jawa Tengah ini, apakah Kesenian Gambang semarang ini asli Semarang atau bahkan budaya dari luar Semarang yang diadaptasi. Maka perlu adanya sebuah langkah untuk kembali mempopulerkan kesenian Gambang Semarang tersebut, salah satunya melalui media massa, khususnya Televisi. Televisi merupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasi secara cepat dan mampu mencapai pemirsa dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan. Televisi (TV) dengan berbagai acara yang ditampilkan telah mampu menarik minat pemirsanya, dan mampu membius pemirsanya untuk selalu menyaksikan berbagai tayangan yang disiarkan televisi. Terlebih lagi TV merupakan media yang menyuguhkan tampilan melalui bentuk audio visual (suara dan gambar) sehingga tentunya membuat masyarakat lebih tertarik kepada televisi daripada media massa lainnya.Banyaknya audien televisi mejadikannya sebagai medium dengan efek yang besar terhadap orang, kultur dan juga terhadap media lain. Sekarang televisi adalah medium massa dominan (Vivian, 2008:225). Televisi menjadi media komunikasi massa yang tidak terpisahkan dengan masyarakat. Tidak hanyamenjadi sumber informasi, tetapi juga media hiburan dan edukasi bagi masyarakat. Masyarakat dari segala usia menjadi sangat akrab dengan TV. Berbicara tentang televisi akan membawa pada program-program yang ditayangkan di dalamnya, ada komedi situasi, berita, reality show, kuis / permainan dan salah satunya dokumenter. Dokumenter sebagai salah satu produk jurnalistik menjadi suatu program yang penting untuk tayang pada suatu stasiun televisi.Dokumenter sebagai salah satu produk jurnalistik memiliki konten lengkap untuk dikonsumsi. Dokumenter mampu memberikan informasi, pendidikan, sekaligus hiburan secara mendalam terhadap suatu objek untuk audien. Ketika teknologi audio-visual berkembang − salah satunya kemunculan televisi – maka bentuk dan gaya dokumenter pun ikut berkembang. Karena produksi program televisi bertujuan komersial seperti halnya barang dagangan, para sineas (jurnalis) mencoba segala macam cara untuk menyajikan tontonan dokumenter dengan format televisi yang baik. Akhirnya, bentuk dokumenter terpecah menjadi dua kategori produksi. Yang pertama, film dokumenter; yang kedua, televisi dokumenter (Ayawaila, 2008 : 21).Jurnalis dalam pembuatan dokumenter Gambang Semarang ini nantinya akan menggunakan format Televisi dokumenter, karena hasil dokumenter ini nantinya akan dipublikasi melalui media massa televisi.Dalam penyusunan proposal dan pelaporan, tugas akhir karya bidang ini, saya menggunakan istilah jurnalis, bukan dokumentaris. Selain itu istilah dokumenter, saya menggunakan istilah news feature, karena sebagai mahasiswa jurusan Ilmu komunikasi, kami merupakan mahasiswa dengan konsentrasi jurnalistsik, bukan mahasiswa pembuat film maupun video. Alasan lainnya adalah jurnalis memilikitanggung jawab untuk mempublikasikan sebuah karyanya. Jika dokumentaris hanya sebatas membuat film dan ada pihak yang akan mempublikasikannya.1.2. TujuanMelalui News feature ini jurnalis ingin menginformasikan kepada target audiens mengenai identitas semarang apa saja yang terdapat dalam Kesenian Gambang Semarang. Seperti Identitas yang terdapat pada Gambang Semarang salah satunya dalah Perpaduan antara unsur-unsur seni Cina dan Jawa. Dalam kesenian Gambang Semarang merupakan salah satu gambaran bahwa di kalangan masyarakat Semarang telah terjadi proses integrasi atapun akulturasi antara unsur-unsur budaya pribumi dan budaya Cina. Dan mempertanyakan kenapa kesenian Gambang Semarang bisa menjadi kesenian khas kota Semarang1.3. Tinjauan Pustaka1. Dokumenter Sebagai Produk JurnalistikMenurut Suhandang dalam pengertian jurnalistik dia mendefinisikan jurnalistik sebagai seni dan ketrampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya, sehingga terjadi perubahan sikap, sifat pendapat, dan perilaku khalayak sesuai dengan kehendak para jurnalisnya (Suhandang, 2004:21).Pengertian lain menyebutkan bahwa Good Journalism adalah kegiatan dan produk jurnalistik yang dapat mengajak kebersamaan masyarakat disaat krisis. Ketika sebuah kejadian terjadi, media mampu memberi sesuatu yang dapat dipegang oleh masyarakat. Fakta-fakta,penjelasan dan ruang diskusi yang menolong banyak orang terhadap sesuatu yang tak terduga kejadiannya. Downie dan Kaiser (Santana, 2005:4).Salah satu ciri dari komunikasi massa (mass communication), yaitu Kemampuan untuk menjangkau ribuan, atau bahkan jutaan orang, yang dilakukan melalui medium massa seperti radio, televisi atau koran. Komunikasi massa dapat didefinisikan sebagai proses penggunaan sebuah medium massa untuk mengirim pesan kepada audien yang luas untuk tujuan memberi informasi, menghibur, atau membujuk.Tidak hanya menjadi sumber informasi, Televisi juga berperan menjadi media hiburan dan edukasi bagi masyarakat. Masyarakat dari segala usia menjadi sangat akrab dengan TV. Berbicara tentang televisi akan membawa pada program-program yang ditayangkan di dalamnya, ada komedi situasi, berita, reality show, kuis / permainan dan salah satunya dokumenter. Di sinilah jurnalis sebagai komunikator massa membutuhkan sarana agar pesan dapat tersampaikan dengan baik kepada audien yang ditarget. Sarana tersebut bukan lain adalah melalui News feature yang ditayangkan di televisi, karena Televisi menjadi media komunikasi massa yang tidak terpisahkan dengan masyarakat.Dokumenter sebagai salah satu produk jurnalistik menjadi suatu program yang penting untuk tayang pada suatu stasiun televisi. Dokumenter sebagai salah satu produk jurnalistik memiliki konten lengkap untuk dikonsumsi. Dokumenter mampu memberikan informasi, pendidikan, sekaligus hiburan secara mendalam terhadap suatu objek untuk audien.2. Gaya dan Strukur DokumenterAda banyak tipe, kategori, dan bentuk penuturan dalam documenter. Beberapa contoh yang berdasarkan gaya dan bentuk bertutur itu, antara lain: laporan perjalanan, sejarah, potret atau biografi, perbandingan, kontradiksi, ilmu pengetahuan, nostalgia, rekonstruksi, investigasi, association picture story, buku harian, dan dokudrama. Dalam pembuatan dokumenter ini, jurnalis memilih menggunakan gaya dialogis.Berkaitan dengan struktur, jurnalis menggunakan struktur penuturan tematis, dimana cerita dipecah ke dalam beberapa kelompok tema yang menempatkan sebab dan akibat dan digabungkan kedalam tiap sekuens.1.4. Konstribusi KaryaNews feature ini dibuat sebagai tugas akhir untuk persyaratan kelulusan dalam Program Studi S-1 jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk :1. Media dalam mengkomunikasikan identitas semarang dalam Kesenian Gambang Semarang2. Sarana promosi daerah tentang makna dan nilai dari Kesenian Gambang Semarang3. Bahan kajian dan penelitian dalam pelestarian kesenian tradisional Gambang Semarang.4. Sarana untuk memperkenalkan dan membuka wawasan tentang kesenian Gambang Semarang yang artistik dalam hal persepsi tentang penari yang bergerak erotis1.5. Konsep Film Bentuk dokumenter tematik.Dengan cara bertutur tematis dan dimana cerita dipecah ke dalam beberapa kelompok tema yang menempatkan sebab dan akibat digabungkan kedalam tiap sekuens. Struktur penuturan ini biasanya digunakan apabila fokus cerita adalah sebuah objek lokasi yang merupakan tempat sejumlah orang melakukan aktivitasnya. Seperti halnya ronggo warsito yang merupakan tempat paguyuban seni di kota Semarang dan didukung argument dari pihak-pihak yang pernah meneliti, menikmati serta tergabung dalam kesenian Gambang Semarang tersebut. Selain tematis, dokumenter ini akan disusun secara kronologis karena akan dituturkan bagaimana perjalanan gambang semarang itu sendiri tercipta sampai akhirnya terdapat makna-makna didalamnnya. Dengan harapan melalui karya dokumenter ini mampu memberikan pencerahan dan juga mempertegas maksud dan makna yang terkandung dalam tarian Gambang Semarang yang sejalan dengan identitas kota Semarang itu sendiri.1.6. JOB DESCRIPTIONDalam pembuatan News feature televisi ini, tim terdiri dari dua orang yang terdiri dari :1. Nama : Gilang WicaksonoNIM : D2C607017Telp/HP : 081233340870Jabatan : Produser, Penyunting gambar dan Tata Cahaya2. Nama : Syahdam ArrahmanNIM : D2C009089Telp/HP : 085741852114Jabatan : Sutradara, Juru kamera, dan Penulis naskah1.7. Rencana KerjaPembuatan News feature ini dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu :Tabel 1.1 Rencana kerjaNoKegiatanUraianPenanggung jawab1Pra Produksi Perencanaan Riset Penentuan Ide Cerita Persiapan PeralatanPersiapan Pengambilan Gambar Membuat budgeting Membuat timeline PerijinanGilang Wicaksono2Produksi Menentukan ide, struktur, pendekatan Membuat skenario Eksekusi Pengambilan Gambar latihan, pementasan WawancaraSyahdam Arrahman3PascaProduksi Capturing Editing Publikasi dan penayanganGilang Wicaksono &Syahdam ArrahmanKarya bidang ini dibuat oleh dua (2) orang mahasiswa dalam sebuah sistem kerja yang dirancang sedemikian rupa untuk penilaian yang independen dalam laporan yang disusun. Job description tersebut sebagai berikut :A. Gilang Wicaksono Producer : Penanggung jawab dalam suatu produksi acara radio atau televisi. Editor : bertugas memilih dan menyambung gambar atau siaran audio (Wibowo, Fred. 1997:23) Lighting operator : Orang yang bertangggung jawab dalam bidang lighting (cahaya) dalam produksi acara televisi.B. Syahdam Arrahman Penulis Naskah/Reporter : Orang yang berprofesi sebagai peliput atau pencari berita, menulis naskah atau melaporkan (to report) suatu event atau peristiwa atau kejadian pada media radio tau televisi. Program Director/Sutradara : Orang yang bertanggung jawab dalam mengarahkan suatu proses produksi acara radio atau televisi. Juru Kamera (cameraman) : Orang yang berprofesi merekam gambar dan suara (audio-video) atau shooting suatu obyek untuk disiarkan di media televisi.PENUTUPMembuat sebuah film baik itu fiksi ataupun non fiksi diperlukan riset yang matang. Dalam pembuatan news faeture , riset secara mendalam sangat dibutuhkan karena news faeture tidak disajikan dalam sisi estetika saja tetapi juga kelengkapan informasi dalam news faeture tersebut. Dalam proses pembuatanya, video news faeture merupakan sebuah karya yang berdasarkan pada peristiwa nyata yang benar-benar terjadi. Umumnya dalam news faeture terdapat fakta-fakta tertentu yang ingin diinformasikan pada masyarakat. Kesimpulan1. Bertindak Sebagai sutradara dan juru kamera, jurnalis bertanggung jawab atas proses pelaksanaan dilapangan dalam hal ini proses produksi. Baik itu menentukan alur cerita, jenis pendekatan, bentuk penuturan dan strukstur penuturan news faeture . Tidak sebatas itu dokumentaris juga bertindak menyusun treatment, dan pembuatan naskah skenario, pada saat proses produksi mengatur tim produksi baik itu alat yang digunakan, posisi kamera, teknik pengambilan gambar, dan format kamera yang digunakan2. Pemahaman tentang karakter tempat atau lokasi pengambilan gambar perlu diperhatikan baik itu cuaca, ukuran lokasi syuting, dan juga sumber daya manusia yang terlibat didalamnnya pemain, crew dan juga lainnya. Karena ini akan mempengaruhi totalitas dalam proses produksi tersebut. Kerna ada beberapa waktu pementasan, suasana tidak sesuai dengan apa yg diharapkan oleh tim produksi3. Agar lebih mendalami pembuatan news feature ini, riset secara mendalam sangat perlu dilakukan agar sudut pandang/Angle newsfeature yang dikerjakan nanti memiliki konten yang kuat dan bernilai tinggi4. Pengetahuan tentang kamera, jenis lensa dan kegunaanya sangat mutlak bagi seorang juru kamera, sehingga jika terdapat kendala dilapangan khususnya pencahayaan, tidak menjadi hambatan ketika memasuki proses editing.5. Penggunaan SOP dalam sebuah stasiun Tv sangat penting di berikan kepada mahasiswa yang akan membuat karya bidang, karena ini akan berkaitan dengan produk yang akan dibuat oleh mahasiswa tersebut. Informasi tentang “apakah munculnya running text mengganggu grafis, tittle dalam karya tersebut. Pemotongan adegan, gambar atau statement dan lain sebagainya. Pada proses ini jurnalis, melakukan kesalahan perhitungan lebar running text. Pada saat editing grafis/tittle yang telah dibuat oleh editor tertutupi oleh keberadaan running text tersebut. Sehingga bisa membuat informasi yang disampaikan tidak sampai.6. Pendalaman tokoh narasumber menjadi perhatian khusus, karena dengan memiliki kedekatan yang lebih intim, proses pengambilan gambar dan pencarian informasi bisa menjadi leluasa. Pada tahap ini jurnalis harus mencari narasumber pengganti dikarenakan narasumber tersebut menolak untuk melakukan proses pengambilan gambar secara audio-visual, padahal beberapa waktu sebelumnnya jurnalis telah membuat kesepakan tentang pengambilan gambar dan wawancara.
STRATEGI PUBLIC RELATIONS DALAM MEMBANGUN BRANDING RUMAH SAKIT TELOGOREJO MENJADI SEMARANG MEDICAL CENTER Pertiwi, Rifka Ayu; Naryoso, Agus; Luqman, Yanuar
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

viiiSTRATEGI PUBLIC RELATIONS DALAM MEMBANGUN BRANDINGRUMAH SAKIT TELOGOREJO MENJADI SEMARANG MEDICALCENTERAbstrakPerubahan brand merupakan hal yang sering terjadi pada sebuah institusi atauperusahaan. Hal ini menjadi salah satu pekerjaan humas yang bersangkutan dalammendapatkan kesadaran target audiens terhadap perubahan brand tersebut.RS Telogorejo melakukan perubahan brand menjadi Semarang MedicalCenter. Sedangkan brand RS Telogorejo sudah melekat di benak target audienssebagai rumah sakit swasta nomor satu, terlihat dari jumlah kunjungan yangmenempati peringkat tertinggi di Semarang. Hal ini diperlukan strategi tertentuyang meliputi berbagai proses dalam membangun brand tersebut di benak targetaudiens.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi humas RSTelogorejo dalam melakukan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasiuntuk pembangunan branding pada RS Telogorejo Semarang serta untukmengetahui indikator keberhasilan branding Semarang Medical Center. Olehkarena itu, metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatifdengan pendekatan studi kasus.Hasil penelitian ini menunjukkan strategi yang dilakukan humas RSTelogorejo dalam membangun branding Semarang Medical Center yang terfokuspada media promosi, yaitu dengan mengganti logo RS Telogorejo yang ada dimedia promosi menjadi logo Semarang Medical Center. Selain itu, humas jugamemanfaatkan media cetak dan media elektronik untuk melakukan perubahanbranding, dan mengirim press release ke media.Kata Kunci : branding, rumah sakit, Telogorejo, strategi, humasixPUBLIC RELATIONS STRATEGY FOR THE BRANDING OFTELOGOREJO HOSPITAL INTO SEMARANG MEDICAL CENTERABSTRACTRebranding is a common thing in an institution or company. This hasbecome one of the public relations work is concerned in getting the awareness ofthe target audience for the new brand.RS Telogorejo rebrand to Semarang Medical Center. While the RS brandhas adhered minds Telogorejo target audience as the number one private hospital,seen from the number of visits that ranks highest in Semarang. This particularstrategy is needed that includes a variety of processes in building the brand in theminds of the target audience.The purpose of this study was to determine the RS Telogorejo publicrelations strategy in conducting the planning, implementation, and evaluation forthe development of branding on Telogorejo Hospital Semarang and to determineindicators of the success of branding Semarang Medical Center. Therefore, theresearch method used was a qualitative research method with a case studyapproach.The results of this study indicate that conducted public relations strategy tobuild branding Telogorejo Hospital Semarang Medical Center that focuses on themedia campaign, which is to replace the existing logo Telogorejo Hospital inmedia promotion became the Semarang Medical Center. In addition, the publicistalso utilize print and electronic media for rebranding, and send press releases tothe media.Key words : branding, hospital, Telogorejo, strategy, public relationsSTRATEGI PUBLIC RELATIONS DALAM MEMBANGUN BRANDING RUMAHSAKIT TELOGOREJO MENJADI SEMARANG MEDICAL CENTER1. PendahuluanPublic Relations atau humas adalah bidang yang berkaitan dengan penciptaan sertapemeliharaan citra dari perusahaan, institusi, pemerintah, serta figur-figur ternama sepertiselebritis dan politisi. Dari waktu ke waktu, kebutuhan akan pelaku public relations selalumeningkat. Klien-klien yang dilayani bisa dari pemerintahan, institusi pendidikan,organisasi, industri, perusahaan, club olahraga, pelaku dunia hiburan, rumah sakit, danlain-lain. Bidang public relations melibatkan para tenaga ahli untuk melancarkan tugasdiantara penerbit, pakar media, analis, dan ahli komunikasi. Humas pada sebuah RumahSakit dalam menjalankan fungsinya tidak jauh berbeda dengan fungsi humas lembaga yanglain baik pemerintah maupun swasta. Yang membedakan adalah, tanggung jawab seoranghumas atau public relations rumah sakit yaitu melaksanakan penyampaian informasitentang Rumah Sakit kepada customer baik pelanggan tetap maupun calon pelanggandengan lengkap dan data yang akurat.RS Telogorejo melakukan perubahan brand menjadi Semarang Medical Center.Hal ini dilatarbelakangi karena RS Telogorejo ingin menjadi pusat kesehatan di kotaSemarang. Sedangkan brand RS Telogorejo sebenarnya telah melekat di benak targetaudiensnya. Tanpa melakukan perubahan brand, RS Telogorejo telah menjadi rumah sakitswasta nomor satu di kota Semarang dilihat dari jumlah kunjungan yang meningkat daritahun 2009-2011. Dengan perubahan brand ini, menimbulkan pekerjaan tersendiri bagihumas RS Telogorejo karena membutuhkan strategi khusus yang diimplementasikanmelalui tahapan strategik meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam rangkamembangun brand Semarang Medical Center di benak target audiens, dan stakeholderinternal maupun eksternal. Mengamati kondisi tersebut, penelitian ini bermaksudmerumuskan permasalahan tentang bagaimana strategi humas RS Telogorejo dalammelakukan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk pembangunanbranding RS Telogorejo sebagai Semarang Medical Center?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi humas RS Telogorejodalam melakukan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk pembangunanbranding pada RS Telogorejo Semarang serta untuk mengetahui indikator keberhasilanbranding Semarang Medical Center. Metode penelitian yang digunakan adalah metodepenelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus.Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatifdengan menggunakan pendekatan studi kasus. Penelitian deskriptif kualitatif bertujuanuntuk menggambarkan, meringkas berbagai realitas sosial yang ada di masayarakat yangmenjadi objek penelitian dan menarik realitas tersebut kepermukaan sebagai gambarantentang fenomena tertentu.2. PembahasanDalam melakukan strategi untuk mengubah branding diperlukan survey pendahuluanterlebih dahulu. Akan tetapi humas tidak melakukan survey secara eksternal, hanyamelakukan survey secara internal. Target dari survey tersebut adalah karyawan per divisi,office in charge (orang yang bertanggungjawab dalam setiap divisi), dan yayasan. Surveyyang dilakukan humas RS Telogorejo dengan cara menggunakan questioner. Dalamquestioner tersebut ada beberapa pilihan yaitu perubahan nama rumah sakit, logo rumahsakit, desain pembangunan gedung, dan desain seragam karyawan. Kegiatan surveydilakukan pada saat sebelum dibangunnya brand yang baru yaitu pada tahun 2010. Akantetapi, nama rumah sakit berubah setelah pembangunan gedung mencapai 70% yaitu padaJanuari 2013.Strategi yang digunakan public relations dalam pembangunan branding adalahpersuasive dan event. Media yang digunakan dalam strategi ini adalah media cetak sepertikoran, media promosi seperti poster, spanduk, leaflet, kalender, serta media elektronikseperti web, facebook, dan twitter. Bentuk kegiatan yang dilakukan media cetak yaitudengan pemberitahuan adanya seminar, donor darah, produk baru rumah sakit. Dalampemberitahuan tersebut selalu menggunakan SMC dan menampilkan logo baru SMC.Selain itu, event yang dilakukan untuk membangun brand dengan cara seminar kesehatandan membuka stand kesehatan yang diselenggarakan di hotel dan mall.Humas rumah sakit Telogorejo Semarang Medical Center melakukan perubahanbranding tidak hanya dari logo saja, tetapi juga pembangunan gedung baru, fasilitas baru,dan pelayanan yang baru. Alokasi dana yang dibutuhkan untuk melakukan perubahanbranding sebesar ratusan milyar rupiah. Perubahan yang dilakukan oleh Humas RumahSakit Telogorejo adalah logo baru, pembangunan gedung, fasilitas baru, dan pelayananyang baru.Program-program yang dilaksanakan humas RS Telogorejo dalam membangunbranding yang pertama adalah memberi logo baru Rumah sakit yaitu SMC (SemarangMedical Center) melalui media promosi seperti koran, poster, brosur, ambulance,cybernet, souvenir, dan lain-lain. Souvenir diberikan kepada pasien rawat inap yangsedang berulang tahun dan diberikan untuk masyarakat yang menyumbangkan darahnya(donor darah) di RS Telogorejo. Souvenir dengan logo SMC itu diberikan dengan tujuanagar masyarakat mengetahui perubahan branding RS Telogorejo. Souvenir yang diberikanantara lain adalah payung, mug, dan jam dinding. Kemudian humas mengganti logo RSTelogorejo menjadi SMC yang ada disetiap sudut rumah sakit. Strategi lain yang dilakukanhumas dalam mengubah branding yaitu apabila ada seminar atau penyuluhan kesehatankepada masyarakat, humas selalu memberikan informasi mengenai brand baru rumah sakitagar masyarakat mengetahui perubahan branding RS Telogorejo. Kemudian humas jugamengganti semua logo di website, kop surat, screen komputer karyawan, seragamkaryawan, memberi logo SMC pada petunjuk jalan, tempat parkir, dan setiap sudut ruangstrategis yang ada di rumah sakitHumas RS Telogorejo SMC juga memanfaatkan media cetak dan media elektronikuntuk melakukan perubahan branding. Bentuk kegiatan yang dilakukan pada media cetakadalah pemberitahuan adanya seminar, donor darah, dan produk baru yang ada di rumahsakit. Dalam pemberitahuan tersebut selalu menampilkan logo SMC. Selain itu humas jugaselalu mengirim press release ke media, baik cetak maupun cybernews. Bentuk kegiatanyang dilakukan pada media elektronik yaitu dengan cara beriklan di radio Trijaya FM.Iklan tersebut tayang setiap hari selama tiga bulan sejak dibangunnya branding (Januari –Maret 2013).Dalam membangun branding Semarang Medical Center, humas melakukanevaluasi untuk mengetahui keberhasilannya. Evaluasi dilakukan setiap tiga bulan sekali.Proses evaluasi dalam kegiatan pembangunan branding dengan cara observasi, yaitumenghitung jumlah pasien rawat inap. Target setiap bulan adalah 301 pasien. Sedangkanpemberitaan di media minimal empat kali pemberitaan setiap bulan. Untuk menghitungjumlah pasien, humas bekerjasama dengan bagian rekam medis. sedangkan untukmenghitung pemberitaan di media, setiap pemberitaan yang dimuat di media selalu dikliping.3. PenutupBerdasarkan permasalahan dan tujuan dari penelitian ini, maka dapat dipaparkankesimpulan yaitu dalam melakukan strategi untuk membangun branding SemarangMedical Center diperlukan beberapa tahapan, antara lain:1. Penelitian (Research)Dalam membangun branding, strategi pertama yang dilakukan humas RSTelogorejo dengan cara melakukan survey. Survey dilakukan secara internal yaitumemberikan questioner kepada staf dan karyawan rumah sakit. Dalam questionertersebut ada beberapa pilihan yaitu perubahan nama rumah sakit, logo rumah sakit,desain pembangunan gedung, dan desain seragam karyawan. Humas tidakmelakukan survey penelitian mengenai situasi khalayak serta sikap dan opinimasyarakat. Setelah memperoleh hasil survey, humas melakukan tahapperencanaan untuk membangun branding Semarang Medical Center.2. Perencanaan (Planning)Dalam melakukan kegiatan branding, humas RS Telogorejo menggunakan tahapperencanaan. RS Telogorejo mengubah branding menjadi Semarang MedicalCenter dengan tujuan agar masyarakat mengetahui bahwa pusat kesehatan di KotaSemarang adalah RS Telogorejo. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya prestasiprestasidan reputasi medis yang dimiliki rumah sakit yaitu pada tanggal 29 April2009, RS Telogorejo menerima sertifikat ISO 9001:2008 yang dikeluarkan VNZNew Zealand. Sertifikat ini sekaligus menempatkan RS Telogorejo menjadi rumahsakit pertama di Indonesia yang menerima ISO 9001:2008. Pada tahapperencanaan, humas telah menyusun waktu pelaksanaan kegiatan branding, yaitusejak Januari 2013. Cara atau strategi yang dilakukan humas dalam membangunbranding Semarang Medical Center adalah persuasive, event, dan tactic. Targetaudience dari kegiatan branding ini adalah masyarakat Jawa Tengah danmasyarakat Indonesia pada umumnya, dan masyarakat Semarang pada khususnya.Dana yang dibutuhkan dalam membangun branding berkisar hingga ratusan milyarrupiah.3. Pelaksanaan (action)Dalam membangun branding, kegiatan yang dilakukan yaitu menggunakankomunikasi antar personal dengan cara memberikan souvenir untuk pasien yangberulang tahun, memberikan souvenir kepada pengunjung yang mendonorkandarahnya, membuka stand dan pameran kesehatan dengan cara cek kesehatan gratisdi mall. Sedangkan komunikasi kelompok yang dilakukan humas adalahmengadakan seminar kesehatan, mengadakan kegiatan donor darah, danmengadakan gathering untuk komunitas-komunitas yang ada di rumah sakit.Komunikasi mass media yang dilakukan humas RS Telogorejo dengan caramenginformasikan kegiatan yang akan dilakukan melalui media cetak, cybernewsdan facebook, membuat press release dan advetorial, memberikan informasimengenai perubahan branding melalui poster, leaflet, acrylic, dll.4. Evaluasi (Evaluation)Evaluasi merupakan tahap penilaian. Evaluasi adalah tahap terakhir setelah tahapanpenelitian, perencanaan dan action tersebut. Monitoring dan evaluasi dalammembangun branding RS Telogorejo SMC dilakukan oleh humas rumah sakit.Indikator dalam monitoring tersebut yaitu publikasi kegiatan rumah sakit, publikasikegiatan di luar rumah sakit, penyuluhan intern, kegiatan donor darah, promosimedia elektronik (televisi dan radio), event organizer kegiatan rumah sakit,pemasangan media promosi, CSR Rumah Sakit Telogorejo, pemberian parcel hariraya, pembuatan majalah, pembuatan website, dan pembuatan brosur. Evaluasidilakukan setiap tiga bulan sekali. Proses evaluasi dalam kegiatan pembangunanbranding dengan cara observasi, yaitu menghitung jumlah pasien rawat inap.Target setiap bulan adalah 301 pasien. Sedangkan pemberitaan di media minimalempat kali pemberitaan setiap bulan. Untuk menghitung jumlah pasien, humasbekerjasama dengan bagian rekam medis. sedangkan untuk menghitungpemberitaan di media, setiap pemberitaan yang dimuat di media selalu di kliping.5. Indikator keberhasilanAda 2 hal yang menjadi indikator keberhasilan dalam kegiatan branding RSTelogorejo SMC:a. Jumlah PasienJumlah pasien memperlihatkan kenaikkan atau penurunan jumlah pasien.Target jumlah pasien yang harus dicapai dalam pembangunan branding iniadalah 80%-90% bed atau 301 bed per bulan.b. Pemberitaan di MediaPemberitaan di media mempengaruhi jumlah pengunjung RS TelogorejoSMC. Humas menargetkan 50x pemberitaan setiap tahunnya.DAFTAR PUSTAKAAaker, D. A. (1996). Measuring Brand Equity Across Products and Markets. CaliforniaManagement Review. Berkeley: Spring. Vol.38. Iss.3Arafat, Wilson. (2006). Behind a Powerful Image. Yogyakarta : Andi Offset.Baran, Stanley J ,Dennis. & K.. Davis (2004). Teori Komunikasi Massa : DasarPergolakan, dan masa Depan. Jakarta : Salemba Humanika.Buchari, Alma. (2008). Manajemen Corporate dan Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan.Bandung : Alfabeta.Bungin, Burhan. (2008). Konstruksi Sosial Media. Jakarta : Prenada Media Group.Clarkson, B. E. M. (1995). A Stakeholder Framework For Analysing and EvaluatingCorporate Social Performance : Academy of Management ReviewCicik, Erika. (2012). Peran Humas Rumah Sakit Telogorejo Dalam Meningkatkan CitraPositif di Hadapan Masyarakat. Undip : Semarang.Coulson, Colin, Thomas. (2002). Pedoman Praktis Untuk Public Relations. Jakarta : BumiAksara.Cutlip, Scott M. (2007). Effective Public Relations. Jakarta : Kencana.Effendy, Onong Uchyana. (2009). Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek. Bandung:Rosdakarya.Endah P, Chatarina. (2011). Mix Methodology Dalam Penelitian Komunikasi. Yogyakarta: Aspikom.http://www.facebook.com/rs.telogorejo.7?fref=tshttp://dglib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=detail&d_id=18179http://www.imtj.com/articles/2008/indonesia-why-indonesians-go-overseas-for-medicalcare/http://hospitals.webometrics.info/en/Asia/Indonesia%20Jefkins, Frank. (2004). Public Relations. Jakarta : Erlangga.Kasali, Rhenald. (2003). Manajemen Public Relations. Jakarta : PT Pustaka Utama Grafiti.Kapferer, Jean-Noel. (2008). New Strategic Brand Management : Creating and SustainingBrand Equity Long Term 4th Edition. London and Philadelphia : Kogan Page.Lincoln, Yvona S dan Egon G. Guba. (1985). Naturalistic Inquiry. Beverly Hills : SagePublications.Maya Sari, Vita. (2009). Peran Public Relations Rumah Sakit Roemani Semarang DalamMembangun Citra Positif di Masyarakat. Undip : Semarang.Moleong, Lexy J. (2007).Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Rosda.Moore, Frazier. (2005). Humas : Membangun Citra Dengan Komunikasi. Bandung : PTRemaja Rosdakarya.Morissan. (2008). Manajemen Public Relations. Jakarta : Kencana.Morissan. (2010). Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jakarta : Kencana.Patton, Michael Quinn. (2006). Metode Evaluasi Kualitatif. Yogyakarta : Pustaka.Rangkuti, Freddy.( 2004). The Power Of Brand tehnik mengelola Brand Equity danStrategi Pengembangan Merek. Jakarta : Gramedia.Roslan, Rosady. (2004). Etika Kehumasan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.Roslan, Rosady. (2006). Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi. Jakarta :Raja Grafindo Persada.Schiffman, L.G., Kanuk, L.L. (2000). Consumers Behavior 7th ed. New Jersey : Prentice-Hall, IncSetiadi, N. J. (2003). Perilaku Konsumen : konsep dan Implikasi untuk Strategi danPenelitian Pemasaran. Jakarta : Prenada Media.Severin, Werner J dan James W Tankard. (2005). Teori Komunikasi. Jakarta : PrenadaMedia.Theaker, Alison. (2001). The Public Relations Handbook. Roudledge.Uyung, Sulaksana. (2005). Integrated Marketing Communication. Yogyakarta : PustakaPelajar.Yin, Robert K. (2011). Studi Kasus:Desain dan Metode. Jakarta : PT.RajagrafindoPersada.
Peran dan Posisi Hubungan Masyarakat Sebagai Fungsi Manajemen Perguruan Tinggi Negeri di Semarang Luqman, Yanuar
Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 1 (2013): January 2013
Publisher : Master of Communication Science Program, Faculty of Social and Political Science, Diponego

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.133 KB)

Abstract

Abstract :The goal of research to find out the role and position in public relations in management education in­stitution (university) in achieving its objectives. After identification of roles and positions preformance, the study aims to evaluate the performance of public relations as part of management. The basic concept as the foundation is the concept of the role of Public Relations degree : expert precriber, problem solving facilitator, communications facilitator and communication technician. This study used a qualitative descriptive research method with the study subjects were Diponegoro Uni­versity and Public Relations Semarang Public Relations and internal stakeholders. The results of this study indicate Role of Public Relations at State University of Communication tends to act as a technician and only a small role as Communications facilitator. The position of Public Relations at State University is a marginal position as evidenced by many levels of bureaucracy that must be passed in implementing Public Relations function. Performance-related Public Relation role and position in this study assessed the positive and in line with the work portion.  Keywords: role, position, public relations, state university Abstraksi :Tujuan penelitian untuk mengetahui peran dan posisi hubungan masyarakat (humas) dalam manajemen di institusi pendidikan dalam hal ini universitas dalam mencapai tujuan. Setelah melakukan identifikasi per­an dan posisi humas dalm perusahaan, dengan penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja humas se­bagai bagian dari manajemen. Konsep dasar sebagai pijakan adalah konsep tentang tingkatan peran humas : expert precriber, problem solving facilitator, communications facilitator dan communication technicianPenelitian ini menggunakan metoda penelitian deskriptif kualitatif dengan subyek penelitian adalah hu­mas Universitas Diponegoro dan Universitas Negeri Semarang beserta stakeholder internal. Hasil penelitian ini menunjukkan peran humas di universitas negeri cenderung bertindak sebagai communication technician dan hanya sedikit berperan sebagai communication facilitator. Posisi humas di universitas negeri berada posisi yang marginal terbukti dengan masih banyak jenjang birokrasi yang harus dilalui dalam melaksanakan fungsinya. Kinerja humas berkaitan dengan peran dan posisinya pada penelitian ini dinilai positif dan sesuai dengan porsi kerja. Kata Kunci: peran, posisi, hubungan masyarakat, universitas negeri