Triyono Lukmantoro
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Published : 74 Documents
Articles

PERAN KOMUNIKASI DALAM DEMOKRATISASI

FORUM Vol 40, No 1 (2012): Kesejahteraan Sosial
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.421 KB)

Abstract

abstract: Communication has a vital role in the processes of democratization. But, on the other perspective, democracy also determines the way of communication. There are three types of relations between communication and democracy: minimalist democracy, radical democracy, and deliberative democracy. We have to take the choice what kind of democracy that we think it is the best for us.  Keywords: communication, democratization, types of democracy.permalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/forum/article/view/3205

Representasi Persahabatan dalam Film 5 cm

Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Representasi Persahabatan dalam Film 5 cmSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata-1Jurusan IlmumKomunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama: Intan Murni HandayaniNIM: D2C 009 034JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013ABSTRAKSIFilm merupakan salah satu media massa yang menjadi wadah bagi parapembuat film untuk menyampaikan pesan serta nilai-nilai yang dimiliki olehpara penggarap film, di mana film selanjutnya akan merepresentasikan nilainilaitadi. Banyak tema yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakatyang diangkat ke dalam film, salah satunya tema persahabatan. Film 5 cmadalah salah satu film bertema bersahabatan yang mencoba merepresentasikansebuah persahabatan dengan konsep yang berbeda. Persahabatan dipahamisebagai hubungan yang ada sepanjang waktu antara orang-orang yang memilikidan saling berbagi kesamaan dan yang paling mendasar adalah persamaansejarah (Beebe, 1996: 273).Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui tanda-tanda verbal dannon-verbal tentang nilai-nilai kebersamaan dan gagasan dominan yang ada didalamnya. Melalui analisis semiotika, penelitian ini akan melihat bagaimanasebuah persahabatan direpresentasikan dalam film 5 cm.Hasil penelitian yang didapatkan adalah, persahabatan adalah sebuahhubungan yang dapat menimbulkan kejenuhan bagi individu yang ada didalamnya jika intensitas pertemuan tinggi. Analisis mendalam selanjutnyamenemukan bahwa persahabatan bukanlah hubungan yang didasarkankebersamaan atau hal-hal yang bersifat fisik, melainkan sebuah hubungan yangdidasarkan pada keterikatan emosional yang akan menimbulkan empati,perhatian, kepercayaan, dan kepedulian.Lebih jauh lagi, persahabatan sering dipahami sebagai hubungan yangmenekankan pada kedekatan emosional dan keakraban, di mana setiap individuadalah rekan yang memiliki posisi sama. Dalam film ini, digambarkan bahwadalam persahabatan ada seseorang yang akan berfungsi sebagai pemimpin.Selain itu, selain itu ditemukan ketidakadilan yang mendiskriminasikan peranperangender.Kebersamaan masih menjadi bagian dari persahabatan namun bukanlahsebuah faktor utama dan keterikatan emosional akan menjadi alasan untukmempertahankan persahabatan. Diharapkan melalui penelitian ini dapatmemberikan konsep baru bagi para penggarap film dan masyarakat untukmemahami persahabatan tidak semata dari kebersamaan.Kata kunci: representasi, komunikasi antarpribadi, semiotika.ABSTRACTFilm is one of mass media that be the space for the filmmaker to delivermessages and values own by the filmmaker, where film will represent the valuesby movie. A lot of theme pertaining to the life social societyappointed into amovie, friendship is one of them. Some of the film’s theme of friendshiphas itsown representation about concept and meaning of friendship. Friendshipunderstood as a relationship that exist all the time between those who havingand sharing in common and most fundamental equation is history (Beebe, 1996:273)Purpose of this research is to know value of verbal or non-verbal signsina community and the dominant idea in it. Through the analysis of semiotics,the study will look at how a friendship is represented in the 5 cm the movie.Result of the research is obtained friendship is a relationship that caninflict overfullness for individuals who were in it if it have high intensity ofmeeting. And than, advance analysis found that relationship is not relation basedon togetherness or things physical, but instead a relationship based on emotionalattachment that will lead to emphaty, attention, trust, and care.Furthemore, the friendship is often understood as a relationship thatplaces emphasis on the emotional closeness and familiarity, where everyindividuals is a collegue who has the same position. This film described that infriendship there is someone who will serve as a leader. In addition, besides theinjusticefound discriminate on gender roles.Togetherness still be a part of friendship but is not a main factor, andemotional attachment will be the reason to maintain friendship. Expectedthrough this research would provide new concept for the tillers film and societyto understand.Key words: representation, Interpersonal communication, semioticsLATAR BELAKANGFilm sebagai salah satu bentuk media massa menarik minat penonton dalammengkonsumsi informasi dengan cara yang berbeda dengan media lainnya. Jikasurat kabar memberikan informasi secara visual melalui tulisan serta gambardan radio hadir dengan memancing imajinasi pendengar melalui suara, makafilm hadir dengan menggabungkan keduanya. Pesan dihadirkan kepada audienssecara audio dan visual yang disertai dengan gerak.Selain itu, pesan yang disampaikan oleh para penggarap film dibawakan kedalam sebuah cerita yang alurnya dekat dengan kehidupan dan lingkunganmasyarakat. Diamati lebih jauh, film bukan hanya sebagai tontonan maupunhiburan semata. Film mampu merepresentasikan berbagai hal dalam kehidupanmasyarakat seperti sejarah, kebiasaan masyarakat, hubungan pernikahan,kehidupan bertetangga, dan lain-lain. Setiap film tentu memiliki cara yangberbeda-beda dalam merepresentasikan isu maupun tema yang diangkat sesuaidengan tujuan pembuat film.Salah satu isu sosial masyarakat yang sering diangkat ke layar lebar adalah‘persahabatan’, banyak sineas Indonesia mengangkat tema bersahabatan danmemberikan konsep serta bentuk yang berbeda tentang sebuah persahabatan.misalnya film Laskar Pelangi (2008), Mengejar Matahari (2004), SerigalaTerakhir (2009), dan Negeri lima Menara (2012). Beberapa film inimerepresentasikan persahabatan mulai dari sebuah hubungan yang indah danmembahagiakan, hingga hubungan yang penuh dengan kekecewaan.Film memang selalu dibumbui dengan konflik dan tidak sedikit konflik yangmenjadi klimaks dalam film. Konflik antar suami-istri, orang tua dan anak, sertakonflik antara sepasang kekasih tentu akan berbeda dengan konflik yangdialami oleh individu-individu yang saling bersahabat. Unsur kedekatan dankepercayaan dalam Persahabatan belum tentu terlepas dari konflik.Setiap film tentu memiliki pesan tersendiri yang ingin disampaikan melaluisimbol-simbol serta tanda-tanda, begitu juga film dengan tema bersahabatanyang juga mencoba merepresentasikan sebuah persahabatan dengan caranyamasing-masing. Permasalahan yang ingin diungkapkan disini adalah bagaimanatanda-tanda serta simbol-simbol dalam film 5 cm mencoba menjelaskan sertamerepresentasikan persahabatan.ISIFilm 5 cm akan di analisi melalui tiga level konsep yang dikemukakanoleh John Fiske tentang The Codes of Television, yakni level reality yangpenampilan (appearance), kostum (wardrobe), tata rias (make-up), lingkungan(environment), latar (setting), gaya bicara (speech), dan ekspresi (expression).Kode-kode dalam level reality adalah kode-kode sosial film yangmenggambarkan realitas dan terlihat nyata dan jelas. Level ini akan membuatpenonton merasa lebih dekat dengan berbagai unsur yang ada dalam film,karena berbagai realitas kehidupan sosial masyarakat dihadirkan di sini. Selainitu, kode-kode sosial pada level ini juga akan memperkuat karakter dari paratokoh dalam film. Sehingga, penonton secara tidak langsung ikut merasakanperasaan sang tokoh dalam film, misalnya melalui ekpresi dan kostum pemain.Level representation meliputi aspek kamera, aspek pencahayaan (lighting),aspek editing, aspek tata suara (sound), aspek penarasian, dan aspek karakterdan penokohan. Kode-kode pada level representation merupakan bagian-bagianterpenting yang akan memberikan pengaruh terhadap bagus tidaknya film yangdiproduksi. Level ini merupakan dapur dalam sebuah produksi film, yangmengolah serta memadupadankan berbagai aspek tadi dalam satu kesatuan,sehingga tersaji sebuah tontonan yang mampu merepresentasikan sebuah idemaupun gagasan. Karena itu, berbagai aspek yang ada bukanlah sesuatu yangberdiri sendiri melainkan saling mempengaruhi agar dapat memproduksi sebuahfilm yang bagus. Fokus analisis dari bab ini adalah adegan-adegan yangmenampilkan representasi persahabatan.Dua level sebelumnya akan membawa peneliti membaca simbol-simboltersembunyi sehingga menemukan nilai-nilai yang baik secara sadar atau tidakoleh para penggarap film, ada dan tertanam di dalam film,. Level ideology akanmengkaji kode-kode secara paradigmatik, di mana kode-kode tadi adalah kodekodeideologis yang merujuk pada representasi persahabatan dalam 5 cm.Analisis paradigmatik melibatkan perpaduan dan kontras dari masing-masingpenanda yang dihadirkan dalam teks, dengan penanda yang tidak ada dalamsuatu keadaan yang sama. Kode-kode yang ada dalam 5 cm akan diuraikanmencakup hal-hal yang diatur dalam koherensi dan penerimaan sosial olehberbagai kode ideologis1. Dinamika persahabatan dalam film 5 cm: Persahabatan di dalam 5 cm adalahhubungan yang bergerak. Pergerakannya berupa, interaksi dan komunikasi,memunculkan kejenuhan, penghentian komunikasi, dan yang terakhir adalahrekonsiliasi.2. Persahabatan dan konsep kebersamaan : Kebersamaan bukanlah faktor utamayang mendasari persahabatan, melainkan ikatan emosional masing-masingindividu. Kebersamaan hanyalah sebuah bumbu dalam persahabatan yang jikadilakukan dengan monoton dapat menimbulkan konflik berupa kejenuhan.Kebersamaan menjadi faktor yang mengantarkan terbentuknya sebuahpersahabatan, sedangkan ikatan emosional, kepercayaan, rasa salingmembutuhkan menjadi faktor utama yang mendasari dipertahankannya sebuahpersahabatan.3. Posisi dominan laki-laki dalam persahabatan : Persahabatan bukanlahhubungan yang selalu menganggap setiap individu di dalamnya memiliki posisidan peran yang sama atau pun setara. Dalam 5 cm justru laki-laki danperempuan memiliki posisi dan peran yang berbeda. Perilaku-perilaku yangditujukan kepada Riani adalah suatu perwujudan bagaimana nilai-nilai patriarkiberkembang di masyarakat. Dengan adanya kekuasaan dan kekuatannya, lakilakidianggap memiliki peran penting serta sangat dibutuhkan oleh kaumperempuan.4. Dalam film yang menceritakan tentang persahabatan, di mana setiap orangseharusnya memiliki posisi yang setara, maskulinitas dan femininitas bukanlahdua hal yang setara. Peran laki-laki yang dominan karena kuatnya konstruksipatriarki di masyarakat, menjadikan Riani sebagai seorang perempuan punberada di bawah kekuasaan patriarki.5. Melalui adegan-adegan yang ada dalam film 5 cm, Genta memiliki peransebagai sosok pemimpin walau pun tidak ada sebuah status yang menyatakanbahwa dia adalah seorang pemimpin. Dapat diambil kesimpulan bahwa setiaphubungan yang melibatkan orang lain akan ada sosok yang memimpinhubungan tersebut, ketika ada seseorang yang mengambil keputusan dalampersahabatan maka orang tersebut akan berperan sebagai pemimpin dalampelaksanaan keputusan yang diambil.6. pemain juga dikonstruksikan berpenampilan seindah mungkin lengkapdengan makeu-up. Ini menggambarkan bahwa 5 cm juga menjadi salah satuproduk kapitalis yang mencari keuntungan semata dengan menampilkan aktrisdan aktor yang terkenal agar dapat menjual film. Untuk tetap menjagakeindahan, akhirnya berbagai esensi mendaki gunung pun dihilangkan. Padahaltidak menutup kemungkinan kegiatan mendaki gunung ini akan ditiru olehmasyarakat yang juga pemula.PENUTUPFilm sebagai salah satu produk kebudayaan tidak hanya berfungsi sebagaisarana hiburan, namun penting untuk dipahami bahwa terdapat tanda-tandatersembunyi yang mencoba merepresentasikan nilai-nilai budaya yang ada dimasyarakat. Bagaimana nilai-nilai tadi diproduksi oleh para pembuat film,sedikit banyak akan memberikan pengaruh kepada masyarakat yang menonton.Pada akhirnya, persahabatan digambarkan sebagai hubungan yang didasaridengan ikatan emosional. Hal ini digambarkan melalui adegan ketika lima tokohdalam 5 cm berada dalam masa penghentian komunikasi, mereka merasakankerinduan ingin bertemu. Kerinduan ini merupakan bentuk ikatan emosional.Walau pun mereka berpisah namun persahabatan mereka akan tetap terjaga.Interaksi dan komunikasi yang dimiliki oleh setiap individu dalam sebuahpersahabatan adalah proses yang terjadi karena adanya faktor sepertikepercayaan, keterbukaan, dan penerimaan oleh lingkungan sekitar. Sehinggaseseorang akan menjadi dirinya sendiri ketika sedang bersama sahabatnyaseperti berpenampilan, bersikap, dan berperilaku apa adanya. Selain itu,komunikasi dalam persahabatan dilakukan secara verbal dan nonverbal. Verbaladalah pesan yang disampaikan melalui kata-kata, dan komunikasi nonverbaladalah pesan yang tersirat melalui ekspresi dan gesture. Komunikasi nonverbalini akan mengkomunikasikan hal-hal yang bersifat emosional yang akanmendukung pesan verbal seperti ungkapan empati, kesedihan, kasih sayang, dankepedulian.Konflik disimbolkan dengan berbagai ungkapan dari individu yangmengungkapkan kebosanan tentang berbagai hal. Penyebab utama konflikkarena adanya rasa ketidaknyamanan (disonansi) yang dialami setiap orangyang berakibat pada kejenuhan. Nilai-nilai maskulinitas dalam film 5 cmditunjukkan dengan pemeran film yang empat di antaranya adalah laki-laki,gambaran-gambaran mengenai fisik yang kuat, pengambilan keputusan, sertadominasi laki-laki, serta sikap mereka dalam memperlakukan Riani, yaitucenderung lembut dan menjaga serta penguasaan terhadap Riani. SehinggaRiani pun sebagai perempuan dikesankan memiliki posisi yang inferior.Kepercayaan adalah konsep yang dibentuk secara perlahan setelah setiapindividu mulai mengenali lawan bicaranya masing-masing sehingga seseorangtidak ragu lagi untuk membuka diri. 5 cm merepresentasikan persahabatansebagai suatu hubungan yang tidak hanya didasari oleh kebersamaan. Tapi jugahubungan yang didasari oleh kedekatan emosional sehingga konflik seperti apapun yang terjadi di antara mereka akan coba mereka selesaikan karena adausaha dari setiap individu untuk mempertahankan persahabatan. Film 5 cmmerupakan salah satu produk kapitalis, karena banyak hal-hal penting yangberkaitan dengan mendaki gunung yang dihilangkan untuk menampilkangambar-gambar yang dapat menarik minat penonton.DAFTAR PUSTAKAFILMFilm 5 cm : Karya Sutradara Rizal Mantovani. Skenario: Donny Dirgantoro,Sunil Soraya, dan Hilman Mutasi. Rilis di bioskop 12 Desember2012.. Produksi Soraya Intericine Film.BUKUAbrams, Nathan., et al. (2001). Film Studying. USA: Oxford University PressInc..Beebe, Steven A. (1994). Communication in Small Groups: Principles andPractices, 4th Ed. USA: HarperCollins College Publisher.Beebe, Steven A., Susan J. Beebe, Mark. V. Redmond. (2005). InterpersonalCommunication: Relating to Others (4th ed.). USA: PearsonEducation Inc.Bordwell, David. (1986). Film Art. USA: Newbwry Award RecordIncorporation.Burton, Graeme. (1990). More than Meet the Eyes (3rd ed.). London: Arnold.Butler, Andrew M. (2005). Film Studies.USA:Trafalgar Square Publishing.Chandler, Daniel. (2002). Semiotics: The Basic (2nd Ed). London: Routledge.Devito, Joseph A. (1997). Komunikasi Antarmanusia. Jakarta: ProfessionalBooks.Devito, Joseph A. (2000). The Interpersonal Communication Book. 9th Ed.USA: Longman PubEffendy, Heru. (2009). Mari Membuat Film. Jakarta: Erlangga.Fiske, John. (1999). Televison Culture: Popular Pleasures and Politics.London: Routledge.Fiske, John. (2010). Cultural and Communication Studies: Sebuah PengantarPaling Komprehensif. Terjemahan Drs. Yosal Iriantara, MS.Yogyakarta: JALASUTRA.Hall, Stuart. (1997). Representation. London: SAGE publication.Littlejohn, Stephen W. (2009). Theory Of Human Communication 9th ed.Jakarta: Salemba Humanika.Mosse, Julia Cleves. (1996). Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: PustakaPelajar.Mulhall, Stephen. (2001). On Film. USA: Routledge.Naratama. (2013). Menjadi Sutradara Televisi.Jakarta: PT Gramedia.Neuman, Lawrence W. (2007). Basic of Social Research: Qualitative andQuantitave Approaches (2nd ed.). USA: Pearson Education Inc.Paningkiran, Halim. (2013). Make-Up Karakter untuk Televisi dan Film.Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.Pearson, Nelson, Titsworth, Harter. (2011). Human Communication (4th ed.).New York: The Mac Grown-Hill Inc.Saadawi, El Nawal. (2001) Perempuan dalam Budaya Patriarki. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.Sobur, Alex. (2003). Semiotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Stadler, Jane., dan Kelly McWilliam. (2009). Screen Media: Analysing Filmand Television. Singapore: CMO Image Printing.Stolley, Kathy S. (2005). The Basic of Sociology. USA: Greenwood PressStorey, John.(2008). Cultural Theory and Popular Culture: an Introduction.Britain: Henry Ling Ltd.Sumarno, Marselli. (1996). Dasar-Dasar Apresiasi Film. Jakarta: PT Grasindo.West, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi:Analisis dan Aplikasi (3rd Ed.). Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.INTERNET5 cm Film Terpuji Festival Film Bandung. Dalamm.antaranews.com/berita/380306/5-cm-film-terpuji-festival-filmbandun.Diunduh pada 13 Juli 2013. @5 cm. (2012). Dalam http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-5003-12-405162_5-cm#UUsOSNGyOoK. Diunduh pada 2 April pukul 22.00 WIB. @Eratnya Persahabatan di Puncak Semeru. Dalam http://www.yangmuda.com/read/detail/1936537/film-5-cm-eratnya-persahabatan-di-puncaksemeru.Diunduh pada 4 Mei 2013 pukul 21.00 WIB. @Film 5 cm: Esensi Sebuah Persahabatan, Cinta, dan Perjuangan. Dalamhttp://www.kabar24.com/index.php/film-5-cm-esensi-sebuahpersahabatan-cinta-dan-perjuangan/. Diunduh pada 2 April pukul22.00 WIB. @Kejanggalan-Kejanggalan Film ‘5 cm’. Dalamhttp://hiburan.kompasiana.com/film/ 2013/01/05/kejanggalankejanggalan-film-5-cm-521571.html. Diunduh pada 5 April 2013pukul 20.00 WIB. @Yanuar Elang Riki. (2009). Serigala Terakhir, Pemeran Utama Tak SelaluJawara. Okezone, dalamhttp://celebrity.okezone.com/read/2009/11/05/35/272496/serigalaterakhir-pemeran-utama-tak-selalu-jawara. Diunduh pada 2 Aprilpukul 21.00 WIB.JURNALPonti, Lucia et all. (2010). A Measure for the Study of Friendship and RomanticRelationship Quality from Adolescence to Early-Adulthood. TheOpen Psychology Journal. Vol. 3: 76-87.

Interpretasi Khalayak dalam Rubrik Goresan Hati pada Majalah Sekar

Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nama : Astuti Dwi Wahyu PertiwiNIM : D2C009126Judul : Interpretasi Khalayak dalam Rubrik Goresan Hati padaMajalah SekarABSTRAKPerempuan senantiasa dijadikan objek yang tepat dalam setiap bidikan panahmedia massa, khususnya di Indonesia. Berbagai masalah pribadi perempuan yangterungkap di media massa menjadikan posisi perempuan semakin termarjinalkan.Salah satu media massa yang melanggengkan praktik publikasi masalah pribadiyang dilakukan para perempuan adalah Majalah Sekar dengan nama rubriknyaGoresan Hati. Mulai dari kasus perselingkuhan, perceraian, sampai kekerasandalam rumah tangga, coba diangkat oleh pihak Goresan Hati sebagai motifbantuan bagi para perempuan yang mengalami kisah pahit dalam hidupnya,dengan bercerita secara gamblang pada rubrik tersebut.Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif denganmenggunakan pendekatan resepsi yang berpijak pada deskripsi kata-kata yangmencakup pencarian data dan fakta mengenai suatu fenomena dengan tujuanmenjelaskan suatu keadaan atau fenomena. Penelitian kualitatif memerlukanketerlibatan yang lebih mendalam dengan khalayak itu sendiri. Ini termasukteknik seperti wawancara dalam rangka untuk sampai pada kesimpulan tentangperilaku khalayak dalam kaitannya dengan konsumsi media (Kothari, 2004).Hasil penelitian berdasarkan pemaknaan pembaca pada rubrik Goresan Hati,menunjukkan khalayak menganggap bahwa cerita dalam rubrik Goresan Hatimerupakan sebuah cerita yang dapat dijadikan pembelajaran dalam kehidupanseseorang. Selain itu, sikap waspada dan hati-hati dalam bertindak dapat munculsetelah membaca rubrik ini. Selain itu masalah pribadi perempuan yang ada padamajalah wanita, diyakini karena masih diterapkannya sistem patriarki yang masihmengakar kuat dalam kehidupan antara laki-laki dan perempuan. Terdapatkeberagaman pendapat mengenai keorisinilan kisah dalam rubrik Goresan Hatisebagian informan menganggap bahwa cerita Goresan Hati merupakan kisahnyata yang ditulis langsung oleh si ‘korban’ sedangkan dua informan lainberpendapat bahwa kisah tersebut adalah murni hasil rekayasa media demimendapatkan perhatian publik dengan latar belakang untuk memperolehkeuntungan semata.Kata kunci : perempuan dan media, pengungkapan masalah pribadi.Nama : Astuti Dwi Wahyu PertiwiNIM : D2C009126Judul : Audience Interpretation for Rubric of Goresan Hati on SekarMagazineABSTRACTWomen continue to be appropriate objects in every shot arrows of mass media,especially in Indonesia. Womens personal problems were revealed in the mediamakes women more marginalized position. One of the mass media who perpetuatethe practice of publishing personal problems that the women are Sekar Magazineto name columns Goresan Hati. Ranging from cases of infidelity, divorce,domestic violence up, trying to be appointed by the liver as a motive Scratches aidfor women who experienced the bitter story of his life, with vivid storytelling onthe rubric.This research uses descriptive qualitative research method using an approachbased on the description of the reception of words that includes collecting dataand facts about a phenomenon in order to explain a situation or phenomenon.Qualitative research requires a deeper engagement with the audience itself. Theseinclude techniques such as interviews in order to arrive at conclusions aboutaudience behavior in relation to media consumption (Kothari, 2004).The results based on the interpretation of the reader Goresan Hati rubric, show theaudience think that the story in the rubric Goresan Hati is a story that can be usedas learning in ones life. In addition, being alert and cautious in acting may ariseafter reading this column. Besides womens personal problems that exist inwomens magazines, is still believed to be due to the implementation of thepatriarchal system that still entrenched in the lives of men and women. There is adiversity of opinion regarding the originality of the story within the rubric of someinformants Goresan Hati Stroke Heart assume that the story is a true story writtendirectly by the victim while two other informants argued that the story is purelyengineered media to get the publics attention to the background to obtain profit.Keywords: women and the media, the disclosure of personal problems.Interpretasi Khalayak dalam Rubrik Goresan Hati padaMajalah SekarSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Imu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Astuti Dwi Wahyu PertiwiNIM : D2C009126JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANMedia massa pada hakikatnya merupakan perantara komunikasiyang digunakan untuk menyampaikan pesan dari sumber berita kekhalayak banyak. Salah satu media massa tersebut adalah majalah.Majalah adalah sebuah media publikasi atau terbitan secara berkala yangmemuat artikel-artikel dari berbagai penulis (Assegaff, 1983 : 127).Selain memuat artikel, majalah juga merupakan publikasi yangberisi cerita pendek, gambar, review dan ilustrasi yang dapat mewarnai isidari majalah. Majalah juga tak jarang dijadikan rujukan oleh parapembacanya dalam mencari sesuatu hal yang diinginkannya. Kemunculanmajalah memberikan kemudahan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatakan informasi beragam yang sesuai dengan gaya hidup masyarakat saatini. Maka tak perlu heran berbagai ragam majalah beredar saat ini, yangmana disesuaikan dengan segmentasinya.Majalah dapat dibedakan menurut pembaca pada umumnya ataukelompok pembaca yang menjadi target pasarnya, yakni majalah dapatdiklasifikasikan menurut segmen demografis (usia atau jenis kelamin),atau pun pembedaan secara psikografis, dan geografis atau dapat dilihatdari segi kebijakan editorialnya (Kasali, 1992:111).Salah satu jenis majalah yang saat ini sedang mengalamiperkembangan yang sangat pesat yakni majalah wanita. Majalah wanitaadalah majalah yang berisikan karangan-karangan khusus mengenai duniawanita, dari masalah-masalah mode, resep masakan, kekeluargaan danjuga yang dihiasi dengan foto-foto (Assegaff, 1983 : 126-128).Kehadiran majalah wanita ini menjadi ruang tersendiri bagi kaumhawa untuk mengekspresikan diri. Salah satu isi dari majalah wanitaadalah rubrik-rubrik yang berisi curahan hati yang dilengkapi dengankonsultasi dari ahli psikolog.Selama ini sudah banyak majalah yang memberikan kesempatanbagi para perempuan untuk menuliskan segala opini atau bahkanmenuliskan masalah-masalah (nyata) yang dialaminya dalam rubrik-rubrikcurahan hati yang sudah disediakan. Kisah nyata yang dikirim langsungoleh ‘si korban’ ini, ternyata diminati banyak pembaca perempuan untukmenceritakan kisah seputar kehidupan dan masalah mereka untuk dimuatdalam majalah.Majalah Sekar hadir untuk mencoba memenuhi segala informasiyang dibutuhkan oleh para wanita Indonesia. Sekar memposisikan brandnyasebagai sahabat dan tempat bertanya yang tepat dan akurat.Menghadirkan informasi seputar dirinya, keluarga, hingga kehidupansebagai seorang wanita. Dengan komposisi yang berimbang Sekarmenyajikan informasi yang dibutuhkan oleh wanita pada umumnya yaknigaya hidup, kecantikan, kesehatan, dan resep-resep masakan.(http://www.majalahsekar.com/sekar-info/feature, 17 Maret : 20.45 ).Banyak ditemuinya majalah wanita yang memberikan ruangcurahan hati bagi kaumnya untuk menceritakan masalah-masalah yangsedang dialami membuat media tak lagi hanya menjadi saluran informasimelainkan juga sebagai tempat untuk pengungkapan sebuah hal yangbersifat pribadi. Media tampaknya dapat menjadi pengaruh yang cukupbesar bagi pembacanya dengan menyajikan isi pesan yang ditulis cukupsederhana sehingga mudah untuk dimengerti.Berdasarkan hal tersebut, peneliti mencoba mengidentifikasibagaimana khalayak secara aktif dapat memaknai isi pesan dari rubrikGoresan Hati pada Majalah Sekar.ISIKetika sorotan media massa pada persoalan perempuan, terkesanmaknanya sebagai pelengkap pemberitaan. Persoalan menjadi serius ketikapemberitaan media massa menyangkut sisi-sisi “pribadi perempuan”,makna pemberitaannya justru menjadi konsumsi laki-laki, maka di situterkesan bahwa perempuan sedang dieksploitasi sebagai sikapketidakadilan terhadap perempuan dan bahkan kekerasan terhadap mereka.Hal yang dilakukan media ini, tidak berlaku ketika kaum laki-lakimengalami hal yang sama dengan wanita, ketika kaum Adam mengalamihal yang mencoreng sisi seksualitas mereka, jarang sekali mediamenghadirkannya ke publik. Ketika hadir pun, media menganggapnyasebagai hinaan terbesar bagi kaum yang terkuat di bumi ini.Media juga tak jarang memperlihatkan berita mengenaipemerkosaan atau tindak kekerasan terhadap perempuan. Seolah-olahtindakan tersebut dapat terjadi karena tindakan atau cara berperilakuperempuan. Helen Benedict mengungkapkan tentang laporan kejahatanseksual ditemukan bahwa perempuan memang sering disalahkan atastindakan “provokatif” mereka, namun tidak semua korban kejahatanseksual direpresentasikan dengan cara yang persis sama (dalam Byerly,2006 : 43).Memang media turut membuat sejarah panjang “penjajahan”terhadap perempuan, namun media melalui beritanya sampai hari ini masihbelum mau beranjak dari lingkaran stereotipe gender yang diperlihatkandalam setiap pemberitaan yang diterbitkan.Ketertarikan seseorang dalam membeli majalah juga dapatdipengaruhi pula oleh cover atau sampul majalah tersebut. Sampul dalamsebuah majalah dapat mengungkapkan janji-janji seperti personality ataukepribadian dari majalah itu sendiri. Selain itu, lewat sampul majalah akanjelas terlihat siapa target pembacanya (Kitch, 2001 : 4).Penelitian tentang resepsi khalayak perempuan pernah dilakukanoleh Janice Radway. Karyanya, Reading The Romance : Women,Patriarchy, and Popular Literature (1984) merupakan salah satu studipertama yang meneliti ketertarikan teks dari sudut pandang pembacasehingga merupakan sebuah teks kunci dalam sejarah penelitian khalayak.Radway mewawancarai para pembaca novel-novel Harlequin Romance.Radway mempelajari bagaimana para perempuan menafsirkan novel-novelromantis dan mencermati teks sebagai bagian dari sebuah prosesinterpretatif.Dalam penelitian khalayak dalam majalah Sekar ini teori yangtepat digunakan adalah teori khalayak Ien Ang, dimana analisis resepsimenyampaikan bahwa teks dan penerimanya adalah bagian yang tidakdapat dipisahkan sebagai suatu daerah kajian yang berkesinambungan danmemiliki aspek sosial komunikasi. Teks media hanya memunculkanmakna pada saat diresepsi, yaitu ketika teks tersebut dibaca, dilihat, ataudidengar. Khalayak sebagai penerima dipandang sebagai producer ofmeaning, bukan hanya konsumen media saja. Mereka men-decode ataumenginterpretasikan teks media sesuai dengan pengalaman sosial danhistoris mereka. Dengan demikian dihasilkan cara yang berbeda darikelompok-kelompok sosial yang berbeda pula dalam menginterpretasikanteks media yang sama. Atas dasar kesamaan minat dan pemahaman yangsama mengenai teks media maka terbentuklah kelompok-kelompokdimana tiap anggota di dalamnya memiliki ketertarikan yang sam untukbertukar pikiran mengenai teks di media (dalam Downing, Mohammad,dan Sreberny Mohammad, 1990 : 165).Khalayak yang mejad informan daam penelitian ini merupakankhalayak yag masih aktif membaca rubrik Goresan Hati. Keempatinforman memiliki tingkat pendidikan dan lingkungan sosial yang berbedaDalam wawancara informan menyampaikan interpretasi mereka masingmasingterkait dengan tulisan rubrik Goresan Hati. Khalyak yang dalamhal ini merupakan penghasil makna memaknai isi rubrik Goresan Hatisecara beragam, karena teks yang berbeda dapat menghasilkan pemaknaanyang beragam.Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara dapat disimpulkansebagai berikut :1. Khalayak menganggap bahwa cerita dalam rubrik Goresan Hatimerupakan sebuah cerita yang dapat dijadikan pembelajaran dalamkehidupan seseorang.2. Penelitian ini menunjukkan kesamaan pendapat antara keempatinforman mengenai gambaran perempuan dalam rubrik Goresan Hatiyakni perempuan sebagai sosok yang tertindas, bodoh, hina, tergantungpada pihak laki-laki.3. Penelitian ini menunjukkan keberagaman pendapat mengenaikeorisinilan kisah dari setiap cerita dalam rubrik Goresan Hati.Sebagian informan mengaku bahwa proses dramatisasi kuat terjadi didalam rubrik tersebut. Sedangkan salah seorang informan mengakubahwa cerita dalam rubrik Goresan Hati adalah cerita yang memangbenar-benar terjadi yang dialami oleh seseorang. Dimungkinkan bahwaseseorang yang menuliskan masalahnya dalam rubrik tersebut karenatidak memiliki tempat untuk bercerita sehingga memilih media massasebagai wadah dalam mengungkapkan perasaan hati.PENUTUPBerbagai penelitian tentang perempuan dalam media massa nyarissemuanya menunjukkan wajah perempuan yang kurang menggembirakan.Perempuan sering digambarkan sebagai sosok yang penuh derita, noda danterdiskriminasi. Padahal perempuan pun sama dengan laki-laki sebagaimanusia utuh yang terdiri atas badan dan jiwa serta bebas menentukansikap dan menjadi dirinya sendiri. Sejumlah kalangan menilai,pemberitaan tentang wanita pun masih sedikit, sehingga terjadiketimpangan informasi.Isu seputar perempuan seperti kesetaraannya dengan laki-laki,terutama dalam sektor publik, memang sudah menjadi kebijakanpemerintah. Tak kurang dari regulasi tentang perempuan dan pembentukanMenteri Negara Pemberdayaan Perempuan yang mengurusi masalahmasalahkaum perempuan. Tapi, kondisi aktual masyarakat saat ini kurangmendukung upaya penyetaraan itu. Masyarakat kita masih menganutideologi dan nilai-nilai patriarki, yang menganggap posisi laki-laki lebihdominan ketimbang perempuan. Bahkan, perempuan masih dianggapsebagian besar orang sebagai subordinat dari sebuah sistem.DAFTAR PUSTAKAAssegaf, Djaffar. 1983. Jurnalistik Masa Kini. Ghalia Indonesia. Jakarta.Byerly, Carolyn M., and Karen Ross. 2006. Women and Media, A CriticalIntroduction. Australia: Blackwell Publishing.Chambers, Deborah, Steiner, and Carole, F. (2004). Women And Journalism.London And New York.Croteau, David, and Hoynes, William. (2003). Media Society : Industries, imagesand audiences (3rd Edition). Thousand Oaks : Pine Forge Press.Downing, John, Ali Mohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi. 1990.Questioning The Media a Critical Introduction. USA: Sage PublicationFakih, Mansoer. 1996. Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta :Pustaka Pelajar.Holmes, Diana. 2006. Romance and Readership In Twentieth-Century France.Oxfort University Press.Radway, Janice. 1991. Reading Romance : Women, Patriarchy and PopularLiterature. University of California Press.Jensen, Klaus Bruhn. 2002. “Media Audience Reception Analysis: MassCommunication as The Social Production of Meaning”. Klaus BruhnJensen and Nicholas W.Jankowski. A Handbook of QualitativeMethodologies for Mass Communication Research. USA: RoutledgeKasali, Rhenald. (1992). Manajemen Periklanan Konsep dan aplikasinya DiIndonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kitch, Carolyn L. 2001. The Girl on the Magazines Cover : The Origins of VisualStereotypes in American Mass Media. University of North CarolinePress.Kothari, C.R. 2004. Research Methodology : Methods and Techniques. NewDelhi : New Age International (P) Ltd.McKay, Jenny. 2000. The Magazines Handbook.New York.McQuail, Dennis. 1991. Teori Komunikasi Massa. Erlangga. Jakarta.Michelle, Zimbalist, Rosaldo, and Lamphere Louise. 1974. Women, Culture andSociety. Stanford cal.: Stanford University Press.Moleong, Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi revisi). Bandung :PT. Remaja.Neuman, Lawrence. 2007. Social Research Methods: Qualitative andQuantitative Approaches – 6th Edition. Boston: Pearson Education.Tong, P. Rosemarie. 1998. Feminist Thought, Pengantar Paling Kompehensifkepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Jala Sutra, Yogyakarta.Sunarto. 2009. Televisi, Kekerasan, dan Perempuan. Kompas. Jakarta.Thornham, Sue. 2010. Teori Feminis dan Cultural Studies. Yogyakarta: Jalasutra.Thornham, Sue. 2007. Women, Feminism and Media. Edinburgh : EdinburghUniversity.Jurnal :Siregar, Yuanita, Aprilandini, dan Anggoro, Yudho Mahendro. PencitraanPerempuan di Majalah: Konstruksi Identitas Perempuan KelasMenengah di Perkotaan. Komunitas Vol.5 No.1. Edisi : Juli 2011.Skripsi :Yanti, Fitri. 2010. Analisis Semiotik Isi Cover Majalah Sekar Edisi Februari-Maret 2010 : Representasi Perempuan Indonesia dalam Cover Majalah.(http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/2s1hi/206612122/halamandepan.pdf)Efendi, M. Yusuf. 2011. Interpretasi Khalayak terhadap Berita-BeritaDemonstrasi Mahasiswa di Surat Kabar Kompas. UniversitasDiponegoro.Marline, Riris. 2010. Interpretasi Khalayak terhadap Program Acara TelevisiTermehek-mehek. Universitas Diponegoro.Majalah :Kartini. 2011. Oh Mama,Oh Papa : Wanita yang Dicintai Suamiku.Minggu Pagi. 2012. Oh Tuhan : Kekuatan Tuhan yang Kuandalkan.Sekar. 2013. Goresan Hati : Kecil Ditelantarkan Orang Tua Saat DewasaDitelantarkan Suami. Edisi 104.Sekar. 2013. Goresan Hati : Karena Terpaksa, Kutukar Anakku dengan Uang.Edisi 108.Situs Internet :Dwiagustriani. 2009. Beda Chic Beda Sekar.http://terasimaji.blogspot.com/2009/06/beda-chic-beda-sekar.html, diakses9 Juli 2013 : 11.00 wib).Hidayat, Ari. 2012. Sosok Perempuan dalam Media Massa.(http://arihidayat-arihidayat.blogspot.com/2012/04/sosok-perempuandalam-media-massa.html, diakses pada 15 Juli 2013, 13 : 30 wib)Kania, Dessy. 2013. Komisi Penyiaran Indonesia dan Pencitraan Perempuan diMedia. (http://mediadanperempuan.org/tag/citra-perempuan/, diakses pada16 Juli 2013, 14 : 14 wib).Majalah Sekar. Dunia Usaha Profil. (http://www.majalahsekar.com/duniausaha/profil , 9 Juli 2013, 11.00 wib).Prasojo, Haryo. 2013. Kapitalisme dan Citra Tubuh Perempuan : Sebuah Gugatanterhadap Libido Pornografi.(http://haryo-prasodjo.blogspot.com/2013/05/kapitalisme-dan-citra-tubuhperempuan.html, diakses pada 16 Juli 2013, 14 : 34 wib).Santi, Sarah. 2006. Perempuan dalam Iklan Otonomi atas Tubuh atau Komoditi.(http://www.esaunggul.ac.id/article/perempuan-dalam-iklan-otonomi-atastubuh-atau-komoditi/, diakses pada 15 Juli 2013, 15 : 11 wib).

SOSOK WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) DALAM TABLOID SOCCER (Analisis Semiotika Kolom Soccer Babes dan Kolom Love Story di Tabloid Soccer )

Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nama : Dwinda HardityaNIM : D2C009014Judul : SOSOK WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) DALAM TABLOID SOCCER (Analisis Semiotika Kolom Soccer Babes dan Kolom Love Story di Tabloid Soccer )ABSTRAKSIWAGs merupakan akronim dari wives and girfriends. WAGs pertama kali diperkenalkan oleh para jurnalis Inggris pada perhelatan Piala Dunia 2006 sebagai bentuk kekesalan terhadap para pacar dan istri personel Timnas Inggris yang dianggap mengganggu konsentrasi dan membawa dampak yang negatif. Pada perkembangannya istilah ini digunakan untuk menyebut para pacar dan istri pesepak bola profesional. Tabloid Soccer merupakan salah satu tabloid bertema sepak bola di Indonesia yang secara khusus membahas tentang sosok WAGs dalam kolom Soccer Babes dan Love Story.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sosok WAGs yang direpresentasikan melalui kolom Soccer Babes dan kolom Love Story. Selain itu, penelitian ini juga ingin membedah konstruksi sosok WAGs untuk mencari nilai tersembunyi tentang sosok WAGs Teori yang digunakan adalah teori representasi dari Stuart Hall dan Teori tentang konstruksi perempuan dalam tabloid. Tipe penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan sintagmatik dan paradigmatik dengan pendekatan analisis narasi dan pemikiran Roland Barthes tentang teknik konotasi pesan fotografis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tabloid Soccer menampilkan para pacar dan istri pesepak bola profesional tersebut dengan nilai-nilai yang positif, baik melalui narasi maupun tampilan gambar. Dengan menampilkan sosok WAGs dengan peran dan nilai-nilai positif tersebut, nilai-nilai negatif yang dihasilkan oleh pemaknaan WAGs terdahulu akan tertutupi. Soccer, membantu memperkenalkan dan membentuk pemahaman baru kepada pembacanya tentang sosok WAGs, lewat WAGs yang ditampilkan melalui kolom Soccer Babes dan kolom Love Story.Kata kunci : perempuan, tabloid, representasi, stereotip, fenomena sepak bola.Name : Dwinda HardityaNIM : D2C009014Title : WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) FIGURES IN TABLOID SOCCER (Semiotical Analysis of Soccer Babes Column and Love Story Column in Tabloid Soccer)ABSTRACTWAGs is an acronym for wives and girfriends. WAGs, first introduced by British journalists at the World Cup 2006 in Germany as a form of resentment against the wives and girlfriends who are interfere concentration of England national team personnel and have a negative effect. In the development, this term is used to describe all the wives and girlfriends professional footballer . Soccer is one of the football tabloid in Indonesia that specifically discusses the WAGs figures in Soccer Babes column and Love Story column.The purpose of this research is to identify the WAGs figures, which is represented by Soccer Babes column and Love Story column. In addition, this research also wanted to dissect WAGs construction to find the hidden value. This research used representation theory of Stuart Hall and theories about the construction of women in the tabloids. The type of research is a qualitative descriptive with semiotical approach and documentation technique for collecting data. Data analysis was performed with the syntagmatic and paradigmatic analysis with narrative analysis approach and message connotations photographic technique by Roland Barthes .The results showed, WAGs of professional footballers have positive values, both through with narrative and image display. WAGs with the main role and the positive values will covered negative values, which is generated by the previous WAGs. Soccer helps to introduce and establish a new understanding to the readers about WAGs figures through display and narrative in Soccer Babes column and Love Story column.Keywords : women, tabloid, representation, stereotypes , phenomenon of footballSOSOK WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) DALAMTABLOID SOCCER(Analisis Semiotika Kolom Soccer Babes dan Kolom Love Storydi Tabloid Soccer)I. PENDAHULUANWAGs (dibaca wog) merupakan akronim dari wives and girfriends, sebuah istilah yang dilekatkan pada pacar dan istri para pesepak bola profesional. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh para jurnalis Inggris pada perhelatan Piala Dunia 2006 di Jerman. Para WAGs personel Inggris tersebuat antara lain sosok Victoria Adams, mantan vokalis Spice girls yang merupakan istri David Beckham, Cheryl Tweedy istri dari bek Inggris Ashley Cole sekaligus anggota grup musik Girls Aloud, Alex Curran, super model Eropa yang sekaligus istri dari Steven Gerrard, dan masih banyak lagi yang kesemuanya merupakan artis, model, public figure papan atas di Inggris maupun Eropa. Para jurnalis Inggris yang dikenal tajam dalam mengkritik, menganggap para WAGs tersebut menjadi kambing hitam atas kegagalan Inggris di Piala Dunia 2006. Para WAGs tersebut dianggap mengganggu konsentrasi para pemain karena harus menemani dan melayani kehidupan sosialita mereka seperti berbelanja di butik dan pergi ke salon.Sejak saat itu, istilah, WAGs sudah menjadi sebuah stereotip negatif bagi para pacar dan istri pesepak bola profesional. Stereotip negatif yang dimaksud adalah para pacar dan istri mereka dianggap sebagai pendompleng status kepopuleran para pesepak bola profesional tersebut, selain itu penghasilan pesepak bola profesional yang tinggi dianggap menjadi daya tarik. Bagi para WAGs, selain gaji para pesepak bola yang tinggi, ketenaran akibat prestasi yang ditorehkan oleh para pesepak bola tersebut secara tidak langsung turutmenaikkan nama WAGs tersebut di mata masyarakat. Mereka yang awalnya berasal dari sosok yang tidak dikenal, belum terlalu terkenal di mata masyarakat, secara tiba-tiba dapat menjadi populer seiring dengan prestasi pacar atau suami mereka di dunia sepak bola, atau sosok yang terkenal dapat meningkatkan popularitas dengan berpacaran dengan pesepak bola profesional yang berprestasi. Media memiliki peran besar dalam memperkenalkan sosok WAGs tersebut lewat berbagai cara. Pertama, cara yang dilakukan adalah dengan mengkategorisasikan para WAGs tersebut. Kedua, melalui kontroversi yang dilakukan oleh pesepak bola terhadap WAGsnya maupun sebaliknya.Tabloid Soccer merupakan salah satu tabloid olahraga yang khusus mengambil tema sepak bola. Tabloid olahraga yang terbit di Indonesia yang membahas secara spesifik mengenai sosok WAGs melalui kolom Soccer babes dan love story. Kedua kolom tersebut termasuk dalam kategori rubrik Soccer Style dalam tabloid ini. Soccer Style merupakan salah satu rubrik dalam Tabloid Soccer yang membahas mengenai sisi lain dunia sepak bola. Soccer mencoba memberikan ruang bagi para perempuan untuk dapat muncul dalam tabloid olahraga yang seringkali didominasi oleh laki-laki. Hal tersebut salah satunya coba diwujudkan dengan cara menampilkan sosok WAGs yang selama ini jarang dibahas secara mendalam oleh media lain. Melalui kedua kolom tersebut, sosok WAGs coba diprofilkan sekaligus diperkenalkan kepada para pembaca tabloid ini. Sebagai sebuah media cetak, Soccer memiliki ideologi sendiri dalam menampilkan sosok WAGs. Soccer memiliki tampilan atau cara tersendiri untukmenghadirkan sosok ini bagi para pembacanya. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Soccer merepresentasikan sosok WAGs dalam kolom Soccer Babes dan Love Story. Penelitian ini menggunakan pendekaan teori representasi dari Stuart Hall, Tabloid dan konstruksi perempuan dari Martin Hamer dan Martin Conboy. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan semiotika dengan analisis data secara sintagmatik melalui analisis narasi dan teknik konotasi pesan fotografis dari Roland Barthes. Selain analisis sintagmatik, peneliti menggunakan analisis paradigmatik untuk mencari nilai tersembunyi yang terdapat dalam Soccer yang menampilkan sosok WAGs melalui kolom Soccer Babes dan Love Story.II. ISIDari dua belas sosok WAGs yang diwakili oleh sosok Eleanor Abbagnato, Michella Quattrocioche, Carolina Marcialis (Liga Italia), Heather Weir, Ursula Santirso, Georgina Dorsett (Liga Inggris), Pilar Rubio, Jorgelina Cardoso, Carolina Martin (Liga Spanyol), Maria Imizcoz Garcia, Lilli Hollunder, dan Anna Stachurska (Liga Jerman), yang termuat dalam kolom Soccer Babes dan kolom Love Story. Menurut Vladimir Propp, analisis sintagmatik menggunakan unit narasi dasar yang disebutkan oleh Propp sebagai sebuah “fungsi”, fungsi tersebut dapat diperoleh dari berbagai adegan atau bagian yang terdapat dalam film, komik, televisi, dan segala jenis produk media yang mengandung narasi (Berger, 1991: 14). Analisis paradigmatik digunakan untuk mencari nilai-nilai atau ideologi yang tersembunyi dalamteks yang mampu membangkitkan makna tertentu bagi pembaca (Berger, 1991: 18), secara analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik maka diperoleh nilai-nilai antara lain :1. Secara sintagmatik, melalui analisis narasi dan analisis fotografis Roland Barthes, Tabloid Soccer menampilkan sosok WAGs sebagai sosok perempuan yang aktif, memiliki pengaruh, ceria, setia independen, memiliki bakat, dan berprestasi. Melalui gambar, sosok WAGs ditampilkan Soccer sebagai sosok perempuan modis, berparas cantik, dan menampilkan nilai sensualitas perempuan dalam batas kewajaran.2. Secara paradigmatik, ada lima nilai yang bisa dipetik dari dua belas sosok WAGs yang diteliti, yaitu WAGs sebagai sosok penentu karir, WAGs sebagai pasangan ideal, WAGs sebagai perempuan mandiri, WAGs sebagai sosok perempuan pecinta fashion, dan WAGs sebagai sebuah stereotip yang dibenci.Pertama, Sosok WAGs sebagai penentu karir. Definisi WAGs sebagai sosok penentu karir adalah Sosok WAGs yang memiliki pengaruh besar terhadap karir pasangannya sebagai pesepak bola profesional, seperti pengaruh WAGs dalam menentukan klub yang dipilih oleh pasangannya dan WAGs membantu meningkatkan perubahan moral pasangannya dalam karir sepak bola.Kedua, WAGs sebagai sosok pasangan ideal didefinisikan bahwa sosok WAGs membantu memberi dukungan terhadap pasangannya sebagai pesepak bola profesional, dan menjadi sosok yang bisa diandalkan untuk membangun komitmen dalam membina sebuah hubungan.Ketiga, WAGs sebagai perempuan mandiri memiliki definisi sosok WAGs yang secara ekonomi mampu memiliki profesi yang bisa diandalkan untuk hidup, dan tidak bergantung dari penghasilan pasangannya. Hal ini sebagai perwujudan liberalisme secara ekonomi dan eksistensi yang dilakukan oleh WAGs.Keempat, WAGs sebagai sosok pecinta fashion didefinisikan sebagai sosok WAGs yang memiliki selera fashion yang baik, karena latar belakang sosok WAGs yang mayoritas merupakan selebriti sehingga memiliki selera fashion yang cukup baik, selain itu fashion merupakan salah identitas yang membangun karakter sosok WAGs.Kelima, sosok WAGs sebagai sebuah stereotip yang dibenci oleh perempuan didefinisikan sebagai WAGs merupakan sebuah stereotip yang diciptakan media-media di Inggris dan berkonotasi negatif, dari hasil penelitian ditemukan beberapa WAGs yang secara nyata menolak sebutan itu karena mampu mempengaruhi nilai dan peran mereka di mata masyarakat.Dari kelima nilai tersebut, dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa Tabloid Soccer, membantu memperkenalkan dan membentuk pemahaman baru kepada pembacanya tentang sosok WAGs, lewat WAGs yang ditampilkan melalui kolom Soccer Babes dan kolom Love Story.III. PENUTUPSoccer menampilkan para pacar dan istri pesepak bola profesional tersebut dengan nilai-nilai yang positif, baik melalui narasi maupun tampilan gambar. Dengan menampilkan sosok WAGs dengan peran dan nilai-nilai positif tersebut, nilai-nilai negatif yang dihasilkan oleh pemaknaan WAGs terdahulu akan tertutupi. Dalam hal ini, media berperan membentuk makna baru dengan merepresentasikan nilai-nilai dan bentuk yang berbeda.Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa Soccer tidak sekadar menganggap para WAGs sebagai news candy semata, melainkan ada nilai yang coba disampaikan kepada pembacanya, misalnya nilai kemandirian. Dalam penelitian ini, sosok WAGs telah mengalami pergeseran nilai yang ke arah positif dibanding ketika istilah ini muncul pertama kali pada 2006. Hal ini menunjukan bahwa sosok WAGs saat ini tidak bisa digeneralisir dengan makna terdahulu, perlu adanya pembanding atau informasi mendalam yang menunjukkan sosok WAGs memiliki nilai positif atau negatif.DAFTAR PUSTAKASUMBER BUKU :Barker, Chris. 2004. Dictionary Of Cultural Studies. London : Sage Publications.Barthes, Roland. 1990. Imaji, Musik, dan Teks. Yogyakarta : Jalasutra.Berger, Arthur Asa. 1991. Media Analysis Techniques. London : Sage Publications.Burton, Graeme. 2008. Yang Tersembunyi di Balik Media. Yogyakarta: Jalasutra.Cashmore, Elish. 2002. Key Concepts Sports and Exercise Psychology. London: Routledge.Coakley, Jay. 2001. Sports in Society : Issues & Controversies. New York: Mc Graw Hill.Conboy, Martin. 2006. Tabloid Britain. London : Routledge.Danesi, Marcel. 2010. Memahami Semiotika Media. Yogyakarta : Jalasutra.Denzin, Norman & Yvonna Lincoln. 1994. The SAGE Handbook of Qualitative Research. London: Sage Publications.Eriyanto. 2001. Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta : LKIS. Fiske, John. 2004. Cultural and Communication Studies : Sebuah pengantar paling Komprehensif. Yogyakarta : Jalasutra. Hall, Stuart. 1997. Representation : Cultural Representation and Signifying Practises. London : Sage Publications.Hamer, Martin. 2004. Key Concepts In Journalism Studies. London : Sage Publications.Kamus Bahasa Indonesia. (2008). Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kawamura, Yuniya. 2005. Fashionology: an introduction to fashion studies. Oxford: Berg Publisher. Kuper, Simon & Stefan Szymanski. 2009. Soccernomics. New York : Nation Books. Leslie, Larry Z. 2011. Celebrity in 21 Century. California : ABC CLIO LLC. Potter, Deborah. 2006. Handbook of Independent Journalism. United States: Bureau of International Information Programs U.S. Department Of State. Putnam, Hilary. 2001. Representation and Reality. Cambridge : The Mit Press. Rojek, Chris. 2001. Celebrity. London: Reaktion Books. Sugiarto, Atok. 2005. Paparazzi: Memahami Fotografi Kewartawanan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.Scapp, Ron & Brian Seitz. 2010. Fashion Statements. New York: Palgrave Macmilan. Schwarzmantel, John. 2008. Ideology and Politics. London: Sage Publications. Sterling, Cristopher H. 2009. Encyclopedia of Journalism. London : Sage Publications. Tannsjo, Torbjorn & Claudio Tamborini. 2000. Values in Sport. London: E & FN Spon. Tong, Roesmarie Putnam. 2008. Feminist Thought. Yogyakarta : JalaSutra. Turner, Rachel S. 2008. Neo Liberal Ideology: History, Concepts, and Policies. United Kingdom: Edinburgh University Press Ltd. Thornham, Sue. 2010. Teori Feminis Dan Cultural Studies. Yogyakarta: Jalasutra Thornham, Sue. 2007. Women, Feminism, and Media. United Kingdom: Edinburgh University Press Ltd. Urrichio, William. 2008. Media, Representations, and Identities. United Kingdom: Intellect Books.Van loon, Borin, dkk. 2008. Introducing Media Studies. Yogyakarta : Resist Book. Watkins, Susan Alice dkk. 2007. Feminisme untuk Pemula. Yogyakarta : Resist Book. Webb, Jenn. 2009. Understanding Representation. London : Sage Publications. Wood, Julie T. 1994. Gendered Lives: Communication, Gender, and Culture. Stamford: Wadswoerth Publishing.SUMBER MEDIA CETAK : London Evening Standard, 5 July 2006.London Lite, 14 May 2007.Times Magazine, New Yorker, & Sunday Times, July 2006. New Yorker, 3 July 2006. The Football Agents, Buklet Tabloid Bola Edisi 03, Terbit 28 Januari 2013. 20 Highest Paid Footballers, Buklet Tabloid Bola Edisi 17, Terbit 6 Mei 2013. Tabloid Soccer edisi 1 September 2012. Tabloid Soccer edisi 15 Oktober 2012. Tabloid Soccer edisi 15 Desember 2012 Tabloid Soccer edisi 26 Januari 2013 Tabloid Soccer edisi 2 Februari 2013 Tabloid Soccer edisi 16 Februari 2013 Tabloid Soccer edisi 11 Mei 2013 Tabloid Soccer edisi 1 Juni 2013 Tabloid Soccer edisi 22 Juni 2013.SKRIPSI : Ayun, Primada Qurrota. 2011. Representasi Perempuan dalam Rubrik Sosialita Koran Kompas. Skripsi : Universitas Diponegoro. Savitri, Isma. 2009. Representasi Perempuan dalam Tabloid Bola. Skripsi: Universitas Diponegoro. Tambunan, Chrismanto. 2010. Konstruksi Perempuan Pada Iklan Obat Kuat di Media Cetak. Skripsi: Universitas Diponegoro.SUMBER INTERNEThttp://www.biography.com/people/mia-hamm-16472547, diakses 2 juli 2013. www.bola.net/bolatainment/shakira-dinobatkan-sebagai-WAGs-tercantik-di-euro-2012-b33ff4.html, diakses 9 Maret 2013. www. bolamaster.com, diakses 27 Juni 2013. bleachreport.com, diakses 27 Juni 2013.http://www.cbc.ca/sports/soccer/fifawomensworldcup2011/story/2011/05/27/spf-homare-sawa.html, diakses 2 juli 2013. dnaberita.com, diakses 27 Juni 2013. www. detiksport.com, diakses 19 Mei 2013. www.duniasoccer.com, diakses 27 Juni 2013.http://www.fifa.com, diakses 2 Juli 2013. Footbalerswives.com, diakses 27 Juni 2013. google images.com/WAGsEngland2006, 19 Mei 2013. Hufftington.post, diakses 27 Juni 2013. Lavaguardian.com, diakses 27 Juni 2013 www. kapanlagi.com, diakses 27 Juni 2013 Madrid-Barcelona.com , diakses 27 Juni 2013www. namafb.com, diakses 9 Maret 2013. Mirror.co.uk, diakses 27 Juni 2013. Reveal.co.uk, diakses 27 Juni 2013.http://rsssf.com/tableso/ol-women.html, diakses 2 Juli 2013. http://www.thesun.co.uk/themostbeautifulWAGs, diakses 27 Juni 2013 uk.omg.yahoo.co.uk, diakses 27 Juni 2013. www.wowkeren.com, diakses 27 Juni 2013zimbio.com, diakses 27 Juni 2013.www. zonabola.com, diakses 19 Mei 2013.

Batman Sebagai Pahlawan Borjuis (Analisis Semiotika pada Film Batman Returns)

Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nama : Shafira Indah MNIM : D2C009036Judul : Batman Sebagai Pahlawan Borjuis(Analisis Semiotika pada Film Batman Returns)ABSTRAKBatman merupakan salah satu karakter superhero (pahlawan super) yangeksistensinya dalam dunia perfilman Hollywood tidak dapat diragukan lagi. Mengawalikesuksesan melalui komik dan serial TV, Batman telah berhasil menjadi film superheroterbaik dan terlaris sepanjang masa. Namun penelitian ini akan mengkritik sosok pahlawanborjuis yang direpresentasikan dalam karakter Batman sebagai superhero dalam film BatmanReturns. Bruce Wayne dengan latar belakang keluarga milyarder yang memiliki kekuasaandalam masyarakat memanfaatkan kekayaannya untuk menjadi seorang Batman.Tipe penelitian ini adalah deskriptif, di mana penelitian yang dilakukan berusahamengungkapkan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan bertujuan untukmembuat gambaran secara sistematis pada tanda-tanda yang direpresentasikan dalam filmBatman Returns. Metode analisis yang digunakan adalah analisis semiotika Roland Barthesdengan membedah teks melalui dua tataran penandaan, yaitu makna denotasi dan maknakonotasi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dokumentasi, yaitu denganmengumpulkan informasi yang berkaitan dengan penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa tanda yang merepresentasikanBatman sebagai pahlawan borjuis yaitu status sosial Batman sebagai kelas atas, sikap yangmenunjukkan kekuasaan dan pro-kapitalis, dan sosoknya yang individualis. Bertentangandengan Batman, Penguin, yang muncul sebagai musuh Batman justru memegang peransebagai sosok proletariat. Hal ini dapat dilihat dari aspek pakaian, lingkungan, kamera, dansikap Penguin yang memperjuangkan haknya secara revolusioner sebagai bentuk perlawananterhadap ketidakadilan yang diterimanya. Dengan adanya penelitian ini, penulis berharap agarmasyarakat dapat lebih kritis dalam memahami hal-hal yang ditampilkan oleh media. Sosokyang ditampilkan protagonis dalam media tidak selalu dapat dinilai sebagai sosok yanginnocent (polos), namun dapat dilihat sisi lainnya melalui kaitannya dengan nilai-nilai sepertinilai kemanusiaan, kelas sosial, dan kapitalisme. Begitu juga sebaliknya, sosok yangditampilkan media secara antagonis tidak dapat selalu dipahami sebagai sosok yang buruk.Kata kunci: Film, Superhero, Pahlawan BorjuisNama : Shafira Indah MNIM : D2C009036Judul : Batman Sebagai Pahlawan Borjuis(Analisis Semiotika pada Film Batman Returns)ABSTRACTBatman is a superhero character whose existence in the Hollywood film industry can not bedoubted. Venturing through the success of the comic and TV series, Batman has managed tobe the best superhero movie and best-selling of all time. However, this study will criticizebourgeois hero who represented by Batman as a superhero in the film Batman Returns. BruceWayne with a family background of billionaires who have power in society utilizing hiswealth to become Batman.The type of research is descriptive, where research is done trying to tell a problem orsituation as it is and aims to make a systematic overview on the signs that represented in thefilm Batman Returns. The analytical method used was Roland Barthes semiotic analysis todissect the text through two level tagging, i.e the meaning of denotation and connotations.Techniques of data collection is documentation, which is to gather information related to theresearch .The results showed that there are some signs that represent the bourgeois hero asBatmans status as an upscale social, power, and attitude that shows pro-capitalist andindividualist figure. Contrary to Batman , Penguin , which appears as an villain of Batmanactually holds the role as a figure of the proletariat. It can be seen from the aspect of clothing(dress), environment, camera , and attitudes Penguin fought revolutionary for their rights inthe struggle against injustice is received. Given this research, the author hopes that people canbe understanding the things shown by the media critically. The protagonist figure shown inthe media can‟t always be assessed as being innocent, but can be seen through the other sideof relation with values such as human values, social class, and capitalism . Vice versa , thefigure shown is antagonistic media can‟t always be understood as a bad figure.Keywords: Film, Superhero, Bourgeoise HeroesBatman Sebagai Pahlawan Borjuis(Analisis Semiotika pada Film Batman Returns)SkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Shafira Indah MNIM : D2C009036JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANA. Latar BelakangBatman merupakan salah satu karakter superhero (pahlawan super) yang eksistensinyadalam dunia perfilman Hollywood tidak dapat diragukan lagi. Mengawali kesuksesanmelalui komik dan serial TV, Batman telah berhasil menjadi film superhero terbaik danterlaris sepanjang masa (Sofyan, 2012). Film Batman pertama sudah hadir pada tahun1966 dan terus diproduksi sekuelnya oleh beberapa sutradara terkenal di antaranya TimBurton dan Christoper Nolan. Seperti salah satu film masterpiece bikinan Tim Burtonyang diadaptasi dari komik karya Bob Kane dan Bill Finger ini berjudul Batman Returns.Menjadi sekuel dari film Batman (1989), Batman Returns (1992) masih bercerita seputarkehidupan Bruce Wayne (Michael Keaton), milyarder asal kota Gotham yang memilikialter ego sebagai Batman. Bruce Wayne bukanlah manusia atau makhluk khayalan yangdapat terbang di atas awan, menembakkan laser dari bagian tubuhnya, atau dapat berubahmenjadi makhluk kuat selain manusia. Bruce Wayne adalah orang biasa yangmemanfaatkan kekuatan teknologi dan uang untuk memberantas ketamakan dankeserakahan di Gotham City (Wiyoto, 2012).Kehadiran sosok Batman sebagai pahlawan pembela kebenaran yang mengandalkanteknologi, iptek, ilmu bela diri, dan tentunya kekayaan, tentu membuat audiens larutdalam karakter heroik yang mulia dan innocent. Namun jika ditilik melalui sudutpandang Marxisme, karakter Batman sebagai bourgeois heroes merupakan sosokpahlawan pendukung kapitalisme yang memiliki kekuasaan dalam masyarakat. Denganlatar belakang sebagai anak milyarder dan pewaris utama perusahaan paling berpengaruhdi Gotham, Wayne Enterprise, Bruce/Batman berfungsi untuk mempertahankan statusquo dengan menjajakan ideologi kapitalis dalam bentuk terselubung dan denganmembantu menjaga keinginan konsumen tetap tinggi. Salah satu nilai dijual dalamkonsep pahlawan borjuis adalah individulisme, sebuah nilai yang muncul dalam berbagaibentuk (the self-made man, the American dream, the “me generation”, dan sebagainya)(Berger, 1991: 47-48). The Penguin dalam film ini berperan sebagai villain justru hadirsebagai seseorang pimpinan gang kelas bawah yang mewakili kaum yang ditinggalkan,dibuang, dikucilkan. Penguin di sini mewakili kaum kelas bawah. Kaum kelas bawahmerupakan kaum yang tertindas dimana harapan dan hak mereka dirampas (Magnis-Suseno, 2003:114).B. Perumusan MasalahPenelitian ini akan mengkritisi dan menjelaskan kepada masyarakat mengenai sosokpahlawan borjuis yang digambarkan dalam karakter Batman sebagai superhero dalamfilm Batman Returns. Bruce Wayne dengan latar belakang keluarga milyarder yangmemiliki kekuasaan dalam masyarakat memanfaatkan kekayaannya untuk menjadiseorang Batman. Dari hal tersebut maka dapat membuka permasalahan penelitian yaitubagaimana sosok pahlawan borjuis pada Batman direpresentasikan dalam film BatmanReturns?C. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana sosok pahlawan borjuis padaBatman direpresentasikan dalam film Batman Returns.D. Kerangka Pemikiran- Sosok Superhero- Stratifikasi Sosial- Film sebagai RepresentasiE. Metodologi Penelitian- Tipe Penelitian: deskriptif-kualitatif. Penelitian deskriptif digunakan untukmendeskripsikan fenomena sosial yang menyajikan gambaran tentang detil spesifikdari situasi, lingkungan sosial, atau sebuah hubungan (Neuman, 2007 : 16). Tujuanutama penelitian kualitatif adalah untuk mengetahui motif yang mendasari perilakumanusia (Kothari, 2004: 3-4)- Pendekatan Penelitian: Teori semiotika Roland Barthes- Subyek Penelitian: Film Batman Returns yang diproduksi Warner Bros pada tahun1992 dan disutradarai oleh Tim Burton.- Sumber Data: Data primer diperoleh langsung dari mengamati dan mengkaji filmBatman Returns. Data sekunder diperoleh dari: internet, kepustakaan, buku, jurnalataupun informasi lain yang mampu membantu penelitian dan relevan denganpermasalahan yang diteliti.- Teknik Pengumpulan Data: Dokumentasi. Yaitu dengan mengumpulkan berbagaiinformasi tentang film tersebut yang berkaitan dengan tema penelitian ini.- Analisis dan Interpretasi Data: Kode-kode sosial “Codes of Television” John Fiskeyang terdiri dari 3 level (Level Realitas, Level Representasi, dan Level Ideologis).PEMBAHASANPada bagian ini dilakukan analisis secara sintagmatik dan paradigmatik yang berisi level“reality”, “representation”, dan “ideology”. Dalam bukunya ”Television Culture” (1987: 7)John Fiske menggunakan Codes of Television untuk menganalisis objek yang bergerak. Levelpertama yakni realitas (reality) meliputi penampilan dan lingkungan dalam film antara lain:penampilan, busana/kostum, tata rias, lingkungan, gaya bicara, dan ekspresi. Tataran keduaadalah representasi (representation) yang dibangun lewat kerja teknis seperti kamera,pencahayaan, musik dan selanjutnya ditransmisikan ke dalam konflik, karakter, dan dialog.Untuk level ketiga yaitu level ideologi (ideology) dianalisis secara paradigmatik denganberusaha mengungkapkan kode-kode ideologi yang tersembunyi dalam suatu objek sepertipatriarki, ras, feminisme, kelas, dan sebagainya.Analisis sintagmatik yang sudah dilakukan sebelumnya pada tokoh Batman, Penguin,dan Max sebagai tiga tokoh yang paling menonjol dalam film membawa beberapa nilai danideologi tersembunyi di antaranya:1. Kemunculan Batman menunjukkan status sosial ekonominya yaitu kelas atas (upperclass). Hal tersebut dapat dilihat pada beberapa elemen yaitu: Pakaian. Menggunakanpakaian tertentu memiliki beberapa alasan, sama halnya saat kita berbicara. Beberapaalasannya di antaranya, „untuk membuat hidup lebih mudah, untuk menunjukkanmaupun menyembunyikan identitas kita, dan untuk menarik perhatian lawan jenis‟(Kuruc, tt:198). Pada Batman, kostum yang digunakan memiliki fungsi untukmenunjukkan identitasnya sebagai seorang superhero sekaligus menyembunyikanidentitas aslinya sebagai Bruce Wayne melalui topeng yang ia gunakan. Pakaianpakaianyang dikenakan oleh Batman, Penguin, dan Max memiliki fungsi secaradenotatif yang sama, yaitu sebagai sumber perlindungan tubuh dalam bertahan hidupyang berupa tambahan bagi rambut (topi) dan ketebalan kulit (baju dan celana) padatubuh yang berfungsi melindungi. Namun, seperti halnya semua sistem buatanmanusia, pakaian akan selalu memperoleh selingkupan konotasi dalam latar sosial(Danesi,2010:257). Pakaian digunakan untuk melegitimasi posisi pemakainya dalamidentifikasi simbolik dengan tradisi yang ada pada masyarakat mereka. Kaum elitperkotaan berpakaian berbeda dari yang lainnya dalam fungsinya sebagai simbol kelasatau peringkat (Kawamura, 2005:24). Dari beberapa pakaian yang dikenakan Bruceseperti tuxedo, setelan jas, kemeja, dan dasi juga pada koleksi kostumnya sebagaiBatman yang melimpah menunjukkan Bruce/Batman sebagai seseorang dengan statusekonomi yang tinggi. Menurut pandangan Spencer, fashion adalah simbol manifestasidari hubungan antara superior dan inferior yang berfungsi sebagai kontrol sosial.Fashion juga merupakan simbol dari peringkat sosial dan status (Spencer 1966[1896]dalam Kawamura,2005:22).2. Batman adalah sosok yang berkuasa dan pro-kapitalis. Sebagai tokoh utama dalamfilm, hampir keseluruhan alur cerita tentu didominasi dengan kemunculanBatman/Bruce. Ditemukan beberapa aspek yang memunculkan tanda yangmenegaskan bahwa Batman merupakan sosok yang memiliki kekuasaan di Gothamnamun sekaligus sosok yang pro-kapitalis, di antaranya: Aspek kamera. Penggunaanbeberapa teknik dalam kamera mengandung beberapa tanda yang kemudian dapatsaling terkait dengan aspek-aspek lain hingga menemukan sebuah ideologi tertentu.Penggunaan framing kamera long-shot pada Batman merupakan petanda yangmemiliki makna sebagai sebuah konteks, ruang lingkup, dan jarak publik. Teknik lowangle memaknai adanya kekuasaan (power) dan wibawa (authority) (Berger,1982:27). Keterlibatan Batman dalam kebijakan pemerintah. Pada kelompok statussosial lapisan atas biasanya juga memiliki beberapa aspek lain yang juga dihargai dandiakui oleh masyarakat. Kekayaan tentu erat kaitannya dengan kekuasaan dankehormatan dari lingkungan sosialnya. Bruce memegang peran sebagai pemilikWayne Enterprises. Sebagai seseorang yang berpengaruh di Gotham, Brucemenunjukkan adanya hubungan dan keterlibatannya dengan pemerintah Gotham.Tanda tersebut dapat terbaca melalui potongan dialog Bruce yang mengungkapkanketidaksetujuannya pada upaya Max membangun pembangkit listrik di Gothammelalui kalimat “Ill fight you. Ive already spoken to the mayor and we agree.”(“Aku akan menentangmu. Aku sudah berbicara dengan Walikota dan kitamenyepakati hal ini.”). Bruce menjadi sosok yang memiliki kekuasaan dan pengaruhbagi para kalangan elit Gotham.Meskipun tidak digambarkan secara langsung dalam film ini karena film inimerupakan sekuel kedua kisah Batman namun latar belakang keluarga Batmanmenyebutkan bahwa Bruce menjadi pewaris tunggal dari perusahaan terbesar diGotham yaitu Wayne Enterprises. Hal itu tentu saja secara otomatis membawaBruce/Batman pada status sosial kelas atas melalui ascribed status, yaitu status sosialyang diberikan berdasarkan jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia,dan lain-lain. Dapat juga merujuk pada posisi secara hierarki dan menandakan prestiseseseorang (Bruce, 2006, 289).3. Individualisme pada sosok Bruce/Batman. Marx dalam menganalisis media jugameliputi hubungannya dengan figur heroik dalam suatu film, drama televisi, bukukomik, dll. Bagi beberapa orang, sosok pahlawan dalam film dapat mencerminkanusia dan masyarakat mereka. Bagi yang lain, sosok pahlawan memberi dampakadanya imitasi yang dilakukan untuk mencapai identitaas. Konsep pahlawan yangborjuis dalam suatu tatanan masyarakat dianggap sebagai sebuah penyimpangan yangdapat mengganggu ekuilibrium masyarakat (Berger, 1982:47). Pahlawan borjuismemiliki fungsi utama untuk menjaga status quo dengan „menjajakan‟ ideologikapitalis dalam berbagai bentuk. Kelas borjuis, secara hakiki berkepentingan untukmempertahankan status quo, untuk menentang segala perubahan dalam strukturkekuasaan termasuk usaha perubahan yang dilakukan kelas proletar secararevolusioner. Salah satu konsep yang „dijajakan‟ pahlawan borjuis adalahindiviualisme, di mana hal tersebut juga dapat ditemui pada sosok Batman. Padaanalisis sintagmatik yang telah diuraikan sebelumnya, baik Batman maupun Bruceditampilkan dalam lingkungan sosialnya sebagai sosok yang jarang bersosialisasidengan rekan maupun sahabat terdekat. Hanya Alfred Pennyworth, sebagai pelayandan orang kepercayaan keluarganya saja yang terlihat selalu menemani, melayani, danmembantu aktivitas Batman.PENUTUP1. Status sosial Batman sebagai kelas atas. Dapat dilihat dari cara berpakaian. Gayaberpakaian seseorang juga berfungsi untuk menunjukkan simbol dari peringkat sosialdan status seseorang dalam masyarakat. Beberapa jenis pakaian yang digunakanBruce/Batman seperti tuxedo, kostum berteknologi Batman yang terdiri dari basicsuit, topeng, jubah, dan sepatu boots merupakan pakaian dan aksesoris yang seringdigunakan oleh masyarakat kelas atas untuk menandai kedudukan sosialnya dimasyarakat. Kostum Batman yang hi-tech (berteknologi tinggi) tentunya memerlukanbiaya yang sangat besar dalam pembuatannya dan Batman merupakan salah satusuperhero dengan kapabilitas tersebut.2. Batman adalah sosok yang berkuasa dan pro-kapitalis. Dilihat dari aspek kameradengan framing long-shot merupakan petanda yang memiliki makna sebagai sebuahkonteks, ruang publik, dan jarak pubilk. Sedangkan teknik low-angle memaknaiadanya kekuasaan (power) dan wibawa (authority). Selain itu ditemukan pula ideologikapitalis yang dilihat dari kepemilikan modal (uang dan alat-alat produksi) Batmandalam perusahaan yang dikelolanya dan keterlibatan Batman dalam suatu kebijakanpemerintah, hal ini ditunjukkan melalui dialognya dengan Max Schreck yangmengungkapkan pertentangannya dan Walikota Gotham terhadap rencanapembangunan pembangkit listrik Power Plant di Gotham.3. Nilai individualisme yang ditemukan dalam sosok Batman menegaskan sosoknyasebagai pahlawan borjuis. Menurut Marx, salah satu konsep yang „dijajakan‟pahlawan borjuis adalah individualisme. Hal ini dapat dilihat dari analisis mengenailingkungan pada analisis sintagmatik. Bruce/Batman ditampilkan dalam lingkungansosialnya sebagai sosok yang jarang bersosialisasi dengan rekan maupun sahabatterdekat. Hanya Alfred Pennyworth, sebagai pelayan dan orang kepercayaankeluarganya yang terlihat selalu menemani, melayani, dan membantu aktivitasBatman.4. Bertentangan dengan Batman, Penguin, yang hadir sebagai musuh Batman justrumemunculkan tanda-tanda yang dapat dibaca sebagai sosok proletariat. Proletariatmemegang peranan sebagai strata terbawah dari masyarakat. Sebagai kelas termiskindari sebuah masyarakat yang tidak memiliki alat-alat produksi. Pada aspek gayaberpakaian Penguin digambarkan pakaian yang digunakan hanya berupa longunderwear(pakaian dalam berbentuk terusan) sebagai pelindung tubuh dari udaradingin dan sebuah sepatu boots bertali dan berbahan kulit. Aksesori lain seperti topitinggi (top hat) yang digunakan merupakan topi untuk semua kalangan kelas sosialyang menjadi populer di Abad ke-19. Lingkungan tempat tinggal Penguin adalahgorong-gorong, pipa pembuangan untuk limbah atau air permukaan yang terletak dibawah tanah. Aspek kamera dengan teknik high-angle memberikan kesan inferioritas,ketidakberdayaan, dan lemah.5. Penguin melakukan perlawanan secara revolusioner untuk memperjuangkan haknyasebagai rakyat Gotham yang telah dirampas karena dampak kapitalisme. Dengankeadaan fisiknya yang cacat juga membuat Penguin menjadi sosok yang terbuang dandikucilkan. Hal tersebut dapat dilihat pada dialog-dialog yang digunakan dankemunculannya di Gotham dengan cara revolusioner seperti membuat kekacauandengan kawanan sirkusnya Red Triangle Circus.DAFTAR PUSTAKABuku:Berger, Arthur Asa. (1991). Media Analysis Techniques. New Delhi: Sage Publications Ltd.Bruce, Steve, and Yearley, Steven. (2006). The SAGE Dictionary of SOCI OLOGY .London:Sage Publications Ltd.Danesi, Marcel. (2010). Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotikadan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Kawamura, Yuniya. (2005). Fashion-ology. Berg: New York.Kothari, R. C. (2004). Research Methodology. New Delhi: New Age International Ltd.Magnis-Suseno, Franz. (2003). Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis kePerselisihan ke Revisionisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Neuman, Lawrence W. (2007). Basic of Social Research. Amerika: Pearson Education.Internet:Sofyan, Eko Hendrawan. (2012). Ini Dia, 10 Film Terlaris di Tahun 2012. Dalamhttp://entertainment.kompas.com/read/2012/12/27/16341739/Ini.Dia.10.Film.Terlaris.di.Tahun.2012%20Sofyan%2027%20desember%202012. Diunduh pada 1 April pukul20.15 WIB.Wiyoto (2012). 10 Fakta Batman Yang Tidak Anda Ketahui. Dalamhttp://uniqpost.com/49215/10-fakta-batman-yang-tidak-anda-ketahui/. Diunduh pada 1April pukul 21.00 WIB.Jurnal:Kuruc, Katarina.tt. Fashion as Communication: A semiotic Analysis of Fashion on „Sex andthe City‟

Stereotip Etnis Tionghoa Dalam Stand-Up Comedy pada lakon “KOPER” (Analisis Semiotika)

Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

1ABSTRAKSIJudul Skripsi : Stereotip Etnis Tionghoa Dalam Stand-Up Comedy padalakon “KOPER” (Analisis Semiotika)Nama : Nur AiniNim : D2C308012Jurusan : Ilmu KomunikasiKaum minoritas dapat dianggap sebagai kelompok subkultur yang dapat menyebabkan pergolakan di sebuah negara. Perbedaan identitas menjadi kerap muncul sebagai awal permasalahan SARA yang salah satunya ditandai dengan adanya stereotip kelompok, terutama pada kaum minoritas. Kemunculan stand-up comedy di Indonesia yang turut meramaikan hiburan tanah air, menjadi salah satu media bagi kaum minoritas untuk lebih terbuka dalam mengkomunikasikan hal tabu seperti rasisme yang dialami oleh etnis Tionghoa. Melalui stand-up comedy hal tersebut diangkat dengan perspektif dan cara yang lebih dapat diterima.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada pembaca tentang makna yang diungkapkan dalam pertunjukan stand-up comedy lakon “Koper” pada sesi Ernest Prakasa, seorang keturunan etnis Cina-Betawi. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes untuk memaknai kode-kode secara denotatif dan konotatif, juga teknik analisis Fiske dengan menguraikan simbol-simbol tayangan yang disajikan melalui tiga level analisis yaitu reality, representation, dan ideology.Hasil penelitian menunjukkan adanya temuan mengenai representasi etnis Tionghoa yang digambarkan melalui stand-up comedy dalam lakon “Koper”. Pertama mengenai diskriminasi sosial yang dialami, etnis Tionghoa seringkali mendapatkan perilaku yang berbeda dari masyarakat karena dianggap sebagai liyan. Kedua, adanya stereotip tentang fisikalitas Tionghoa terutama bentuk mata sipit sebagai ciri khas yang dimiliki masyarakat Tionghoa atau keturunannya, hingga sekarang masih seringkali muncul. Dan yang ketiga adalah kemampuan sosial-ekonominya yang selalu dianggap berada di tingkat menengah ke atas, di mana hal tersebut berdampak pada kecemburuan sosial masyarakat.Disetujui oleh Pembimbing 1Semarang, Maret 2013Drs. Adi Nugroho, M.SiNIP 19651017.199311.1.0012PENDAHULUANIndonesia, sebuah negara besar yang terdiri dari berbagai kepulauan, memiliki begitu banyak ragam etnis kebudayaan. Salah satunya etnis Tionghoa yang meskipun dianggap sebagai kelompok subkultur, namun secara faktual merupakan warga Indonesia. Berbagai peristiwa yang terjadi, di negara ini seolah memandang etnis tersebut dengan sebelah mata. Adanya ketimpangan sosial yang terjadi pada masa lalu antara kelompok pribumi dan Tionghoa (keturunan) membuat pribumi merasa takut dan terancam. Refleksi ketakutan yang muncul dari kalangan pribumi tersebut pada akhirnya berubah menjadi persepsi umum. Charless A. Coppel dan Rizal Sukma (dalam http: //www.yusufmaulana.com/2009/07/menakar-diaspora-etnis-tionghoa.html) mengidentifikasi lima persepsi masyarakat pribumi terhadap karakter umum etnis Tionghoa, yaitu :1. Mereka adalah bangsa (ras) yang terpisah, yakni bangsa Cina;2. Posisi mereka diuntungkan dalam struktur sosial di bawah pemerintahan kolonial Belanda;3. Struktur sosial diskriminatif selama penjajahan Belanda menempatkan mayoritas mereka lebih suka mengidentifikasi dengan bangsa Belanda, memiliki sikap arogan, memandang rendah masyarakat Indonesia asli, cenderung eksklusif, dan mempertahankan hubungan kekerabatan dengan Cina daratan;4. Merupakan kelompok yang tidak mungkin berubah dan akan selalu memperhatikan nilai-nilai kulturalnya di mana pun mereka berada;35. Merupakan kelompok yang hanya peduli kepada kepentingan mereka sendiri, khususnya kepentingan ekonomi.Pemerintahan pasca-reformasi akhirnya kembali mengakui keberadaan etnis Tionghoa. Warga etnis Tionghoa diakui sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) sah yang dilindungi dengan UU No 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Etnis Tionghoa mulai menunjukkan eksistensinya pada berbagai aspek kehidupan bermasyarakat mulai dari bidang politik, sosial, budaya, tidak terkecuali dalam bidang hiburan.Dalam dunia hiburan, Indonesia kembali mengalami satu era baru dengan kemunculan stand-up comedy. Stand-up comedy adalah komedi tunggal secara monolog yang ditampilkan di atas panggung, berinteraksi secara langsung dengan audiens, dan memiliki konten atau materi humor yang lebih tajam dan kritis. Dalam bukunya, Sudarmo juga menyebutkan bahwa dengan stand-up comedy, orang-orang berbagi tawa untuk melepas kegetiran hidup (Sudarmo, 2012: 175).Sudarmo (2012: 175) juga menyebutkan bahwa dengan SUC, orang-orang berbagi tawa untuk melepas kegetiran hidup. Ia juga mendefinisikan stand-up comedy sebagai kombinasi antara teater dan lawak improvisasi. Tradisi teater mensyaratkan kesiapan naskah/skenario, latihan, dan arahan sutradara. Lawak improvisasi, meskipun sebenarnya memiliki konsep/naskah, namun tidak tertulis, atau hanya mengandalkan kesepakatan dalam brifing sutradara (Sudarmo, 2012: 182). Dalam Stand-up comedy lakon “Koper”, setiap comic menyampaikan materi mereka dengan tetap menjaga karakter kentalnya masing-masing. Pertunjukan ini menceritakan perjalanan sebuah koper yang tua dan besar yang hendak dibuang4oleh pemiliknya di sebuah terminal karena dianggap berisi kenangan tentang istrinya yang membawa sial. Koper tersebut kemudian berpindah tangan, dari orang yang satu ke orang lainnya yang tidak saling mengenal.Berkaitan dengan penelitian ini, stereotip etnis minoritas yang sudah ada sejak dulu dan secara umum dianggap negatif, digambarkan menggunakan humor yang pada penelitian ini dikemukakan dalam stand-up comedy lakon “KOPER”. Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengetahui adalah bagaimana representasi “Stereotip Etnis Tionghoa dalam Stand Up Comedy “KOPER”?”Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan representasi stereotip etnis Tionghoa dalam Stand Up Comedy pada lakon “KOPER”. Peneliti juga berharap agar penelitian ini dapat memberikan pengetahuan dan informasi kepada pembaca dalam memahami serta mengetahui studi semiotik mengenai representasi Stereotip Etnis Tionghoa dalam Stand Up Comedy “KOPER” serta dapat dijadikan bahan rujukan ataupun pertimbangan untuk kajian ilmu komunikasi dan menjadi sumber informasi bagi penelitian selanjutnya, serta menjadi masukan tersendiri di bidang Stand Up Comedy.Metodologi Penelitian1. Tipe PenelitianMenggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Metode penelitian yang digunakan adalah semiotik Barthes.2. Subyek PenelitianSasaran penelitian ini adalah stand-up comedy lakon “KOPER”, dengan subjek penelitian yaitu comic Ernest Prakasa.53. Unit AnalisisItem-item dalam stand-up comedy lakon “Koper” yang terdiri atas scene-scene, monolog yang terdiri dari bit-bit dan punchline yang mempunyai relevansi dengan rumusan masalah.4. Teknik Pengumpulan DataData primer penelitian ini berupa potongan gambar scene-scene dari pertunjukan yang disiarkan di Metro TV pada tanggal 19 dan 26 Februari 2012 dengan tajuk stand-up comedy lakon “Koper”. Sedangkan data sekundernya adalah studi pustaka mengenai sosok tionghoa yang diperoleh dari artikel, buku maupun sumber dari internet.5. Teknik Analisis DataTeknik analisis data pada penelitian ini didasarkan pada konsep The Codes of Television dipaparkan oleh Fiske (1987:5) bahwa peristiwa yang akan disiarkan telah dienkode oleh kode-kode sosial. Kode-kode tersebut terdiri dari beberapa level, sebagai berikut:a. Level 1: “Reality”b. Level 2: “Representation”c. Level 3: “Ideology”6HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANSosok Tionghoa dalam stand-up comedy lakon Koper hanya diwakili oleh karakter Ernest Prakasa sebagai comic. Dalam beberapa bagian, Ernest menggambarkan sebuah keadaan yang menjadi stereotip mengenai etnis Tionghoa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rahardjo (2005), dikemukakan persepsi orang Jawa tentang stereotip Cina dalam komunikasi antaretnis, sebagai berikut:Tabel 4.1Persepsi tentang stereotip dalam komunikasi antaretnisNoStereotipJawa - Cina (skala 1-5)1Pelit2,482Licik2,343Curiga2,144Sombong2,445Eksklusif2,276Mementingkan diri sendiri2,397Memandang rendah2,068Malas bekerja1,929Mudah disuap2,4110Hemat3,6611Jujur3,5012Sopan3,9213Ramah3,831. Diskriminasi Sosial Etnis TionghoaMonolog menggunakan kata “rasis” terdengar menyindir (meskipun dengan bercanda), yang ditujukan kepada panitia acara yang memilihkan peran itu untuknya sebagai penjaga toilet.7Seragam PDL. Seragam adalah simbol kepatuhan, kepasrahan, dan tunduk kepada peraturan. Pakaian yang dikenakan Ernest (PDL) adalah pakaian seragam yang digunakan oleh seorang pekerja lapangan, bekerja di luar kantor dan lebih banyak menggunakan tenaga. Seperti yang dikemukakan oleh Bungin (2006: 48), bahwa pekerja kasar, buruh harian, buruh lepas, dan semacamnya yang lebih banyak menggunakan tenaga dari pada kemampuan manajerial distratakan sebagai kelas sosial bawah (lower class).Gesture tubuh yang menyindir, terlihat dari cara mengibaskan baju seragamnya sembari melihat ke arah di luar penonton serta mengucapkan kata “ck..!”. Secara keseluruhan dimaknai sebagai sindiran akan diskriminasi sosial yang dialami oleh kelompok etnis Cina di masa lalu.2. Fisikalitas Etnis TionghoaBentuk mata sipit yang apabila dilihat oleh penonton dari kejauhan seperti orang yang berbicara dengan keadaan mata terpejam.Konotasinya, kalimat-kalimat yang muncul dalam bit tentang bentuk mata sipit merupakan hal yang lucu, ketika seorang comic membuat penonton menertawakannya melalui keadaan fisik yang berbeda pada dirinya. Humor semacam ini menunjukkan sebuah pengakuan atas ketidaksempurnaan dan kelemahan diri kepada penonton. Menurut Malcolm Khusner (dalam Sathyanarayana, 2007 92), meskipun pada menertawakan diri sendiri dapat menjatuhkan, namun sesungguhnya8humor tersebut dapat meningkatkan daya tarik dan membangun empati penonton.Adapun monolog yang sengaja mengganti istilah mata sipit dengan kurang belo, ciri khas yang biasa ditemui pada keturunan India dan Timur Tengah. Dalam teori humor, Ernest menggunakan self deprecating humor dimana mencela kaumnya sendiri merupakan salah satu bagian dari pengungkapan diri dengan menambahkan, “...lha mandang dua mata aja susah..! Apa lagi sebelah..!”. Ungkapan ini memiliki konotasi bahwa orang Cina tidak pernah merendahkan orang lain.Adanya stereotip bahwa orang Cina memiliki sifat angkuh, eksklusif dan memandang rendah etnis lain sengaja ditekankan bahwa hal tersebut tidak benar adanya. Dalam catatan Taher, disebutkan faktor kultural yang memiliki kaitan yang erat dengan permasalahan ini. Meskipun pada masa Orde Baru mengeluarkan kebijakan pemerintah tentang asimilasi (pembauran), ternyata Cina yang merupakan kebudayaan yang tertua di dunia ini cukup kuat dan berpengaruh di wilayah tertentu. Sebagai konsekuensinya, masyarakat Cina menjadi cenderung bersifat chauvinistik, sering memandang rendah kebudayaan bangsa-bangsa lain (Rahardjo, 2005: 19). Namun tentu saja tidak semua dari mereka memiliki sikap yang demikian. Tidak adil apabila stereotip itu dilekatkan pada semua orang Tionghoa padahal masih ada orang Tionghoa yang sangat bersahabat.93. Kelas Sosial-Ekonomi Etnis TionghoaDalam sebuah bit, dimana Ernest menemukan sebuah koper tidak bertuan yang tergeletak begitu saja di jalan. Kemudian dengan rasa penasaran, Ernest memperlihatkan dia sedang memeriksa koper tersebut dan mencoba menentengnya sembari berjalan. Ernest bercerita bahwa ternyata orang Cina tidak semuanya kaya.Konotasinya yaitu anggapan bahwa semua orang Tionghoa di negeri ini dianggap kaya dan memiliki kemampuan ekonomi yang mencukupi. Koper tersebut diartikan sebagai simbol kekayaan yang digunakan untuk menyimpan uang. Dalam bit tersebut Ernest menyebutkan, “gaya ya, kaya business man Shanghai!”. Secara harfiah, kalimat tersebut memiliki makna bahwa comic yang merupakan keturunan Cina-Betawi ini adalah bukan seorang pengusaha kaya seperti yang distereotipkan oleh masyarakat.Stereotip ini sendiri bermula dari pemerintahan kolonial Hindia-Belanda yang membagi masyarakat waktu itu menjadi tiga golongan, yaitu 1) orang Eropa yang kedudukannya paling tinggi; 2) orang Cina, India, dan Arab sebagai golongan Timur Asing dengan kedudukan sosial menengah; dan 3) golongan pribumi yang menempati kedudukan sosial terendah (Rahardjo, 2005: 18). Keistimewaan yang diberikan kepada masyarakat keturunan Cina memiliki posisi (ekonomi) yang lebih dominan dibanding komunitas masyarakat lokal. Hal ini membuat interaksi mereka dengan pribumi menjadi berjarak.10Keberhasilan banyak orang Tionghoa di bidang ekonomi memang seringkali menimbulkan kecemburuan sosial. Hanya saja keberhasilan ini tidak terjadi pada seluruh orang Tionghoa. Masih banyak orang Tionghoa biasa yang hidup secara sederhana dengan usaha mereka dan masih berjuang untuk memenuhi kebutuhannya. Banyak orang Tionghoa yang memiliki kemapanan finansial, namun perlu ditekankan pula bahwa kemapanan tersebut adalah buah dari kerja keras mereka.Selain itu pada bit yang menyampaikan bahwa Engkong atau kakek Ernest adalah seorang warga Tionghoa asli yang merantau ke negeri ini, kemudian ditambahkan bahwa tidak semua produk Cina itu KW, diambil dari kata kualitas dengan pelafalan kwalitas, yang artinya barang tiruan.Ketika dianalisis berdasarkan makna konotasi, terdapat kalimat yang ambigu. Disebutkan di dalam penampilannya, kata asli dalam bit tersebut memiliki artinya yang lain. Stereotip yang ingin diperjelas disini adalah anggapan masyarakat yang menggeneralisasikan bahwa barang made in China (yang berupa produk tekstil/ garmen dan elektronik) bahwa barang Cina seringkali disebut sebagai barang yang memiliki image peyoratif/negatif. dikenal dengan barang tiruan, bermutu rendah, dan murah (dikutip dari republika.co.id), Hal ini seringkali dikaitkan dengan isu ekonomi kapitalis yang digencarkan di negeri tersebut, yang lebih mementingkan bisnis dan ekonomi daripada aspek yang lain, menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekayaan yang berlimpah.11PENUTUPStereotip yang direpresentasikan dalam stand-up comedy lakon Koper berbicara mengenai diskriminasi terhadap etnis Tionghoa dengan anggapan bahwa etnis Tionghoa adalah sebuah kelompok ras yang terpisah, sehingga dibeda-bedakan dengan kelompok masyarakat pribumi. Adapun ciri fisik yang khas dan mencolok yaitu bentuk mata sipit yang menjadi bahan untuk menyudutkan mereka dalam interaksi mereka dengan kaum mayoritas pribumi, dan menyebabkan etnis Tionghoa seringkali mendapatkan serangan verbal sebagai bentuk pengungkungan eksistensi mereka.Status sosial-ekonomi etnis Tionghoa distereotipkan sebagian besar lebih baik dari para pribumi. Padahal untuk mencapai tingkat kesuksesan seperti demikian, kaum Tionghoa telah menjalani kerja keras secara turun temurun. Namun demikian kecemburuan sosial yang merebak dan terstruktur dalam masyarakat Indonesia menyebabkan labelisasi „kaya‟ dan „eksklusif‟ bagi masyarakat Tionghoa. Akibatnya, gerak kaum Tionghoa seolah terkurung dalam ranah ekonomi yang semakin mengukuhkan dominasi finansial mereka.

Kajian Ekonomi Politik Sinetron Religi

Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian Ekonomi Politik Sinetron ReligiRika Futri Adelia (D2C009076)AbstrakPenduduk Indonesia yang beragama Islam merupakan pangsa pasar baru bagi produk budaya sinetron religi yang saat ini sedang digemari oleh berbagai rumah produksi. Dari segi produksi, keberadaan para pekerja media menjadi unsur penting terciptanya sinetron religi. Selain itu, ada juga data rating milik Nielsen Indonesia yang digunakan sebagai acuan produksi sinetron religi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih jauh bagaimana proses produksi sinetron religi. Selain itu juga untuk mengetahui bagaimana para industrialis memperlakukan para pekerja media yang terlibat dalam proses produksi sinetron religi. Penelitian ini menggunakan landasan culture industry (Adorno, 1991), commodifications (Vincent Mosco, 2009),dan konsep nilai-lebih (karya Karl Marx dalam Magnis-Suseno, 2003). Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang dikaitkan dengan analisis ekonomi politik media. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan indepth interview kepada lima informan yang memiliki jabatan yang berbeda, yakni produser pelaksana, penulis naskah, sutradara, pemain,dan editor final.Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kepentingan bisnis yang ingin dicapai oleh rumah produksi ketika memproduksi sebuah sinetron religi yaitu berupa hasrat untuk terus bersaing dengan perusahaan hiburan lain dan memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Meskipun ada pesan dan nilai-nilai agama yang ingin disampaikan kepada masyarakat namun hal tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan kepentingan komersil yang ingin dicapai. Selain itu sinetron religi yang dipadu padan dengan unsur tema lain, seperti drama, komedi dan yang lainnya, akan menjadi sebuah bisnis yang cukup menjanjikan. Terjadi pula eksploitasi terhadap para pekerja media yang terlibat langsung dalam rangkaian proses produksi sinetron religi pada tahap creation. Penilaian terhadap proses kerja para pekerja media maupun kesuksesan sinetron religi sendiri bergantung pada data rating yang dikeluarkan Nielsen Indonesia. Keberadaan rating sebagai bentuk komodifikasi imanen yang mempengaruhi keputusan para pemasang iklan untuk menempatkan iklannya dalam slot jeda iklan yang ada.Kata kunci: ekonomi politik media, komodifikasi tenaga kerja, sinetron religi indonesia.Political Economy Studies of Religious Soap OperaRika Futri Adelia (D2C009076)AbstractIndonesian Muslim population is a new market for cultural products religious soap opera that is currently favored by many production houses. In terms of production, the existence of media workers become an important element of religious soap opera creation. In addition, there is also a Nielsen ratings data belonging Indonesia allegedly used as a reference for religious soap opera production. The purpose of this study was to find out more about how the religious sinetron production process. In addition, to find out how the media industrialists treat workers involved in the production process of religious soap opera. This study uses basis culture industry (Adorno, 1991), commodifications (Vincent Mosco, 2009),and the concept of surplus value (by Karl Marx in Magnis-Suseno, 2003). This type of research is associated with a qualitative descriptive analysis of the political economy of media. Data was collected using in-depth interview to five informants who have a different position, the executive producer, script writer, director, artist/actor and final editor.These results indicate the existence of business interests to be achieved by the production when producing a soap opera in the form of religious desire to continue to compete with other entertainment companies and make a profit as much as possible. Although there is a message and religious values has to say to the public, but it is smaller when compared with commercial interests to be achieved. Beside it, religious soap opera elements combined match with other themes, such as drama, comedy and others, will become a promising business. There is also the exploitation of media workers who are directly involved in the production process at the stage of creation of religious soap opera. Assessment of the labor process and the success of media workers themselves religious soap operas rely on Nielsen ratings data owned by Indonesia. Rating as the existence of a form immanent commodification decisions affecting the advertisers to place ads in a commercial break existing slot.Keywords: political economy of media, commodification of labor, religious indonesian soap opera.Kajian Ekonomi Politik Sinetron ReligiRika Futri Adelia, Dr. Hedi Pudjo Santosa, M. Si. (dosen pembimbing I), Triyono Lukmantoro, S. Sos, M.Si. (dosen pembimbing II)PENDAHULUAN: Latar belakang dalam penelitian ini menjelaskan tentang deskripsi singkat keberadaan dan kondisi para pekerja media dalam sinetron religi. Awalnya, para pekerja media ini adalah para sineas yang memiliki kebebasan berkreasi di bidang sinematografi dan seni peran dalam rangka menciptakan sebuah karya sinema yang berkualitas. Namun, campur tangan para industrialis telah mengubah kebebasan berkreasi yang dimiliki menjadi sesuatu hal yang dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan finansial. Sedangkan sinetron religi merupakan salah satu produk baru industri budaya yang sedang digemari oleh masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya data rating dan share beberapa sinetron religi dari tahun 2011 hingga tahun 2013. Oleh karena itu, sinetron religi bukan lagi merupakan program acara spesial yang hanya tayang saat bulan Ramadhan tiba akan tetapi mampu dinikmati tiap hari pada jam-jam prime time.Adanya perubahan pola penayangan sinetron religi ikut serta mengubah pola produksi sinetron religi itu sendiri. Proses produksi (dari pra produksi hingga pasca produksi) dilakukan secepat mungkin menyesuaikan tenggat waktu yang diberikan pemilik modal sebelum sinetron religi dapat ditayangkan, yaitu kira-kira 24 jam. Hal ini menempatkan sinetron religi sebagai salah satu komoditas industri budaya yang cukup menjanjikan dan mampu menghasilkan keuntungan yang melimpah. Menurut Theodor W. Adorno, industri budaya merupakan satu bentuk kebudayaan massa dan produksinya berdasarkan pada mekanisme kekuasaan sang produser dalam penentuan bentuk, gaya, dan maknanya (Adorno, 1991:99). Oleh karena itu, para sineas dan orang-orang yang terlibat dalam proses produksi dijadikan sebagai salah satu sasaran komodifikasi sinetron religi hingga akhirnya mampu menciptakan sebuah tayangan yang sesuai dengan keinginan pasar. Melihat fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan ingin mengetahui prosesproduksi sinetron religi pada tahap creation dan ingin mengetahui cara pandang industrialis terhadap keberadaan pekerja media yang terlibat dalam proses produksi sinetron religi.PEMBAHASAN: Sesuai yang dikatakan Picard (1989) bahwa media massa adalah lembaga perekonomian karena terlibat dalam sebuah produksi dan penyebaran konten yang ditargetkan untuk para konsumen (Albarran, 1996:3). Oleh karena itu, banyak perusahaan hiburan berusaha menyajikan konten-konten media dalam kemasan program acara yang menarik dan disukai para penontonnya. Salah satu program acara yang menjadi primadona dalam mengumpulkan banyak laba bagi sebuah perusahaan hiburan adalah sinetron religi.Tema atau genre adalah suatu formula produksi yang memiliki karakteristik dan jenis yang berbeda-beda terkait dengan penggunaan dan kesenangan tertentu (Pearson dan Simpson, 2001:273). Beberapa genre ada yang populer dan memiliki daya tarik tertentu pada masanya sehingga seringkali hal tersebut diproduksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu pula. Demikian juga dengan sinetron Pesantren & Rock n Roll 3 (PRR 3) yang mengusung tema drama religi komedi atau lebih sering disebut dengan religi komedi romantis. Unsur komedi dalam sinetron religi PRR 3 terlihat pada adegan-adegan yang dimainkan oleh Ramzi, Rizky Alatas, Cecep Reza, Andi Peppo dan Kukuh Riyadi. Unsur drama sendiri diperankan oleh Aulia Sarah, Rizky Nazar, Dinda Kirana, Rizky Alatas dan Indri Giana. Visualisasi simbolik Islam yang dilakukan oleh Karsono Hadi melalui pakaian muslim yang dikenakan oleh para pemain dan setting background yang dipilih. Kolaborasi antara ketiganya menjadi formula ampuh garapan Screenplay Productions hingga mampu menyedot perhatian banyak penonton.Dengan adanya penambahan unsur komedi dan drama percintaan dalam PRR 3, menjadikan sinetron religi sebagai sebuah produk industri budaya. Menurut Theodor W. Adorno, industri budaya adalah sebuah komodifikasi dan industrialisasi budaya yang mengatur produksi mulai dari hal-hal penting untuk membuat kepentingan (Taylor dan Harris, 2008:62-63). Dalam industri sinetronreligi terdapat komodifikasi terhadap tenaga kerja. Komodifikasi yaitu proses mengubah nilai guna menjadi nilai tukar. Hal ini terkait dengan bagaimana tindakan komunikasi manusia menjadi produk yang mampu mendatangkan keuntungan (Mosco, 2009:130). Jadi, komodifikasi tenaga kerja artinya industri sinetron religi menciptakan tenaga kerja dengan sistem upah.Tenaga kerja yang dimaksud adalah para pekerja media yang terlibat langsung dalam proses produksi budaya yang mana berada pada tahap creation dalam analisis Bill Ryan (1992) mengenai sirkulasi produksi budaya (Hesmondhalgh, 2007:68). Hal ini dikarenakan tahap creation adalah awal dan inti dari gterciptanya sebuah produk budaya itu sendiri. Tahap creation tersebut meliputi conception atau preproduction, execution atau production dan transcription atau postproduction. Keberadaan para pekerja media yaitu seperti penulis naskah, sutradara, pemain/aktor, editor, kameraman, tim artistik dll menjadi aset berharga yang dimiliki perusahaan karena mereka lah yang bertindak sebagai symbol creators. Symbol creators adalah para pekerja utama dalam pembuatan sebuah produk media yang melibatkan kemampuan kreatifitas yang dimiliki (Hesmondhalgh, 2007:5). Hasil kerja symbol creators inilah yang nantinya mampu memberikan masukan keuntungan bagi perusahaan.Dengan adanya komodifikasi tenaga kerja maka muncul pula proses eksploitasi karena eksploitasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses kerja kapitalis. Menurut kalangan Marxis, eksploitasi terbagi menjadi dua yaitu eksploitasi absolut dan eksploitasi relatif yang nantinya akan mampu meningkatkan perolehan laba bagi perusahaan tempatnya bekerja. Eksploitasi absolut merupakan suatu proses pemanfaatan para pekerja media semaksimal mungkin dengan cara memperpanjang hari kerja yang dimiliki untuk upah yang sama (Mosco, 2009:131). Perpanjangan hari kerja terjadi karena perusahaan merasa memiliki seluruh kemampuan yang ada pada diri tenaga kerja yang dibayarkan melalui sistem upah atau gaji sehingga perusahaan berhak memanfaatkannya selama yang diinginkan. Adanya waktu kerja yang tidak terbatas adalah salah satu caraperusahan mendapatkan laba dari para pekerja media. Sistem kerja pun bergerak mengikuti kemauan sang pemilik perusahaan.Sistem kerja yang terjadi pada Screenplay Productions ketika memproduksi sebuah sinetron religi PRR 3 adalah proses produksi sinetron religi hanya dilakukan selama satu hari per episodenya. Hal ini menjadikan alur proses produksi berlangsung secara beriringan mulai dari penulisan naskah, pengambilan gambar, pemahaman naskah hingga proses editing untuk kemudian diserahkan kepada pihak broadcast. Selain itu, para pekerja media juga tidak memiliki jam kerja karena penentu jam kerja bergantung pada seberapa cepat menyelesaikan beban tugas yang diberikan oleh produser pelaksana PRR 3. Tidak adanya istilah kerja lembur ikut serta meniadakan biaya overtime bagi pekerja media.Adanya penerapan pola produksi kejar tayang dan tidak adanya biaya overtime dalam proses pembuatan PRR 3 yang menjadikan para pekerja media tidak memiliki waktu libur atau cuti sehari pun. Penggabungan antara keduanya merupakan sebuah nilai-lebih yang dimiliki oleh perusahaan untuk dapat memperoleh keuntungan secara maksimal dari proses eksploitasi absolut terhadap para pekerja media. Nilai-lebih sendiri berarti diferensiasi antara nilai yang diproduksikan selama satu hari oleh seorang pekerja dan pemulihan tenaga kerjanya (Magnis-Suseno, 2003:185-186).Sedangkan eksploitasi relatif adalah upaya intensifikasi proses kerja melalui kontrol yang lebih besar atas penggunaan waktu kerja, termasuk pengukuran dan sistem pemantauan untuk mendapatkan lebih banyak tenaga kerja keluar dari unit waktu kerja yang berlaku (Mosco, 2009:131). Oleh karena itu, ketika salah seorang pekerja media berhasil menyelesaikan pekerjaannya itu bukan berarti dirinya benar-benar selesai. Para pekerja media dituntut untuk terus produktif dengan berbagai cara, seperti misalnya pembenahan terhadap kendala internal dan eksternal maupun upaya pemenuhan permintaan dari rumah produksi. Hal-hal semacam itu terjadi ketika para pekerja media sedang mengerjakan proses kreatifnya, baik pada saat preproduction, production maupun postproduction.Dalam teori laba yang dikemukakan oleh Marx menyebutkan bahwa tenaga kerja termasuk sebagai baku baku variabel yang istimewa karena dalam proses pemakaiannya akan menghasilkan produk baru yang memiliki nilai lebih (Magnis-Suseno, 2003:190-191). Oleh karena itu, Screenplay Productions memanfaatkan pertukaran antara gaji dengan sumber daya yang dimiliki para pekerja media semaksimal mungkin untuk menghindari terjadinya kerugian dan mendapatkan perolehan laba yang lebih besar lagi. Besarnya gaji tersebut berbeda untuk tiap pekerja media, yaitu penulis naskah memperoleh gaji sekitar 2-5 juta/episode, sutradara 5-7,5 juta/episode, co-sutradara kurang lebih 2 juta/episode, pemain senior yaitu Ramzi kira-kira 2 milyar/bulan dan editor final 7-10 juta/bulan.Perpaduan antara waktu kerja yang tidak terbatas dengan rangkaian proses dan beban kerja yang dialami oleh Novia Rini Faizal, Karsono Hadi, Ramzi, Zurvi B.K. dan yang lainnya merupakan cara yang dipakai oleh Screenplay Productions agar perusahaan tidak mengalami kerugian karena telah membeli kemampuan mereka dengan sejumlah uang yang telah disepakati sebelumnya. Atas dasar itu maka rumah produksi merasa memiliki keseluruhan potensi diri masing-masing pekerja media yang mengakibatkan terjadinya eksploitasi absolut dan eksploitasi relatif sebagai suatu hal yang normal dan bisa dimaklumi. Hal ini dikarenakan apa yang dikerjakan masih menjadi beban kerja yang harus diselesaikan dan masih berada dalam waktu kerja yang disepakati. Terjadinya perlakuan eksploitasi terhadap pekerja media tanpa batas ini menjadikan konsep eksploitasi absolut dan eksploitasi relatif yang diungkapkan oleh kalangan Marxis sedikit kabur.Selain itu, Screenplay Productions tidak hanya menggunakan komodifikasi tenaga kerja melalui proses eksploitasi absolut dan eksploitasi relatif tetapi juga memanfaatkan keberadaan rating yang dimiliki oleh Nielsen Indonesia. Rating digunakan sebagai alat pengukur kesuksesan sinetron religi PRR 3 dan parameter keberhasilan proses kerja yang dilakoni oleh masing-masing pekerja media. Hampir setiap hari Screenplay Productions membeli data rating PRR 3 yang dikeluarkan oleh Nielsen Indonesia yang mana data tersebut digunakan sebagaiacuan pembuatan naskah untuk episode berikutnya. Jadi, ketika ratingnya bagus maka konflik cerita akan terus dipertahankan namun jika tidak baik maka konflik cerita akan diubah dan dicari permasalahan yang lebih menarik lagi. Terjadinya ‘ketaatan’ terhadap hasil rating menjadikan keberadaan rating sebagai sebuah komoditas baru dalam industri sinetron religi. Rating terbentuk melalui proses komodifikasi imanen yang tercipta sebagai akibat langsung dari adanya komodifikasi lain (Mosco, 2009:141).Posisi PRR 3 yang selalu masuk 5 besar rating tertinggi menjadikannya sebagai salah satu program acara terlaris saat jam prime time sehingga banyak pemasang iklan yang mengisi slot jeda iklan yang disediakan oleh Screenplay Productions. Banyaknya pemasang iklan yang berebut slot jeda iklan tersebut ikut serta menambah keuntungan yang didapat dari segi penjualan sinetron religi PRR 3. Hal ini dikarenakan data rating mempengaruhi keputusan para pemasang iklan untuk menempatkan iklannya dengan cara membayarkan sejumlah uang tertentu kepada pemilik program acara (Pearson dan Simpson, 2001:39). Oleh karena itu, kualitas program acara bukan lagi menjadi prioritas utama melainkan tergantung pada apa yang disukai dan tidak disukai oleh masyarakat yang tergambar melalui hasil rating hingga nantinya mampu menghasilkan banyak keuntungan bagi perusahaan.PENUTUP: Sinetron religi yang dipadu padan dengan unsur tema lain, seperti drama, komedi dan yang lainnya, akan menjadi sebuah bisnis yang cukup menjanjikan. Sinetron tersebut muncul karena adanya tren yang sedang berkembang, pangsa pasar masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, menyukai hal-hal yang lucu dan berbau drama. Selama proses produksi berlangsung (preproduction, production, postproduction) terjadi eksploitasi terhadap para pekerja media, baik penulis naskah, sutradara, pemain/aktor, editor maupun kru lainnya. Ada juga data rating dan share sebagai bentuk komoditas baru yang dijadikan acuan untuk mengukur kesuksesan sinetron religi yang telah diproduksi dan penilaian terhadap proses kerja yang dilakukan oleh para pekerja media dari mulai pembuatan naskah hingga proses editing selesai dan ditayangkandi stasiun televisi tertentu. Selain itu, posisi rating dan share juga mempengaruhi keputusan para pemasang iklan untuk menempatkan iklannya dalam slot jeda iklan yang disediakan oleh pihak program acara. Semakin baik posisi rating dan share sinetron religi maka semakin banyak pula perolehan keuntungan bagi rumah produksi.DAFTAR PUSTAKA: Adorno, Theodor W. (1991). The Culture Industry: Selected Essays on Mass Culture. New York: Routledge.; Albarran, Alan B. (1996). Media Economics: Understanding Markets, Industries and Concepts. USA: Iowa State University Press/Ames.; Hesmondhalgh, David. (2007). The Cultural Industries: 2nd Edition. London: Sage Publications.; Magnis-Suseno, Franz. (2003). Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.; Mosco, Vincent. (2009). The Political Economy of Communication. 2nd Edition. London: Sage Publications.; Pearson, Roberta E. dan Philip Simpson. (2005). Critical Dictionary of Film and Television Theory. New York: Routledge.; Taylor, Paul A. dan Jan LI. Harris. (2008). Critical Theories of Mass Media: Then and Now. England: Open Universitu Press.

Eksistensi Graffiti sebagai Media Ekspresi Subkultur Anak Muda

Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENDAHULUAN Menuangkan pesan ke dalam bentuk visual masih sering menjadi pilihan karena bentuk visual memiliki beberapa kelebihan, seperti bisa dinikmati lebih lama, pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan lebih jelas, dan dapat terdokumentasikan dengan baik. Sementara di sisi lain, komunikasi visual juga bisa menjadi representasi sosial budaya suatu masyarakat yang dijalankan dan menjadi kebiasaan yang berlangsung lama dalam masyarakat itu. Di sini masyarakat dalam suatu cara tertentu memilih untuk berkomunikasi visual yang justru menunjukkan kelebihannya dibandingkan dengan budaya lainnya, termasuk lewat kemunculan budaya komunikasi visual dalam karya seni rupa jalanan atau street art.Graffiti, sebagai salah satu bentuk street art, mengandung pesan tertentu yang ingin disampaikan oleh para pembuatnya. Pesan bisa muncul secara tersembunyi atau eksplisit. Graffiti dipelopori oleh anak-anak muda yang “gatal” ingin menuangkan ide-ide kreatifnya untuk menunjukkan eksistensi dan ekspresi diri walaupun menggunakan cara-cara yang kerap dianggap melanggar aturan atau norma. Graffiti yang ada di Indonesia kemudian kental dihubungkan dengan kota Yogyakarta, karena bisa dikatakan hampir tiap tembok jalanan di sana tak luput dari sentuhan dan perhatian seniman lukis jalanan.Pada awalnya, menurut Majalah HAI No. 36/XXX/4-10 September 2006 (Wicandra, 2006: 52), graffiti menjadi sekadar coretan dinding yang berafiliasi dengan kelompok atau geng tertentu. Kemudian graffiti menemukan gaya baru yang mengarah pada artistic graffiti sehingga muncul seni mural yang banyak menyajikan kritik sosial. Di sini tembok jalanan menjadi tempat atau medium alternatif bagi seniman guna mengekspresikan segala hal yang mereka rasa dan pikirkan. Selain itu, cara ini juga dapat digunakan sebagai wujud pemenuhan kebutuhan akan eksistensi diri maupun komunitas. Dengan menggunakan nama jalanan (street name) dan ideologinya masing-masing, setiap writer (pembuat graffiti) menumpahkan ekspresinya melalui penampakan warna, objek, dan kata-kata dalam graffiti.Setiap kota ternyata memiliki ceritanya sendiri tentang keberadaan budaya visual graffiti, termasuk di Kota Semarang yang terlihat dari mulai banyaknyasudut kota yang dihiasi oleh graffiti. Walaupun aktivitas graffitinya tidak seramai di Yogyakarta, Kota Semarang pernah dihiasi graffiti mural yang menjadi perbincangan banyak orang yang bertema “Cicak vs Buaya”. Mural ini dibuat oleh 12 PM (one two pm), salah satu komunitas street art di kota Semarang, di Jalan Hayam Wuruk, Pleburan, Semarang, dan merupakan hasil kerjasama antara komunitas street art 12 PM dengan LSM Antikorupsi KP2KKN Jateng. Pesan dalam mural ini begitu mengena karena menggambarkan tentang kondisi politik di Indonesia saat itu yang sarat dengan kisruh politik antara Polri (digambarkan sebagai Buaya) dan KPK (sebagai Cicak).Daya kritis dalam graffiti menunjukkan seni memang tak bisa dipisahkan dengan realitas kehidupan sosial di masyarakat. Seni juga tidak bisa berdiam jika ada ketimpangan dalam kehidupan. Dengan bahasa dan style yang berkarakter, seni mampu berbicara dengan bahasa sendiri. Para seniman akan terus berekspresi meskipun wahana atau wadah mereka banyak yang hilang akibat ditelan perubahan zaman. Tembok jalanan menjadi tempat atau medium alternatif bagi seniman guna mengekspresikan segala hal yang mereka rasa dan pikirkan. Selain itu, cara ini juga dapat digunakan sebagai wujud pemenuhan kebutuhan akan eksistensi diri maupun komunitas. Demi sebuah eksistensi dan mempertahankan identitas agar tetap diakui, kelompok seniman street art tak kehabisan akal guna menuangkan uneg-uneg, mereka berkreasi bukan lagi di atas kanvas namun di tembok-tembok jalan (Andrianto, 2009).Kemunculan komunitas graffiti sendiri sesungguhnya merupakan salah satu bentuk subkultur anak muda di tengah masyarakat. Apa yang membuat subkultur anak muda sangat “terlihat” adalah adanya sifat khas dan perilaku anak muda yang suka mencari perhatian, melakukan pendobrakan, gemar pamer, dan tentu saja, berbeda. Beberapa cara yang dilakukan anak muda untuk mengkomunikasikan eksistensi dirinya muncul salah satunya lewat kebiasaan yang melanggar aturan atau norma. Dalam hal ini, graffiti yang muncul kerap dianggap sebagai salah satu masalah yang ditimbulkan anak muda ketika mereka tidak berhasil mendapatkan akses komunikasi yang diharapkan. Praktik graffiti kerap dijuluki sebagai vandalisme karena bentuknya yang dianggap merusak,mengotori, dan memperkumuh tembok kota. Karena itu, kerap muncul undang-undang yang melarang keberadaan graffiti di tengah masyarakat.Perkembangan komunitas graffiti menjadi suatu subkultur anak muda, dengan adanya sifat khas dan perilaku yang suka mencari perhatian, melakukan pendobrakan, gemar pamer, dan tentu saja, berbeda. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini merumuskan permasalahan tentang eksistensi graffiti sebagai media komunikasi dan ekspresi subkultur anak muda.PEMBAHASANPenelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus, di mana peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa yang akan diselidiki dan bilamana fokus penelitian terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) dalam konteks kehidupan nyata (Yin, 2002: 1). Menggunakan tiga orang informan yang terdiri dari para writer, studi kasus dipilih agar dapat memahami dan menjawab keingintahuan peneliti terhadap fenomena graffiti yang tengah berlangsung secara spesifik di Kota Semarang dengan batasan penelitian yang dibahas yakni eksistensi subkultur dan ekspresi yang dibawa oleh subkultur melalui graffiti. Selain itu, penelitian dilakukan karena terdapat keunikan pada penggunaan graffiti sebagai media komunikasi subkultur yang menyajikan berbagai elemen visual mulai dari penampakan garis, objek, warna, kata-kata, hingga penempatannya di jalanan yang mampu menarik perhatian khalayak.Graffiti sebagai bentuk komunikasi visual, sesuai dengan pendapat Chaffee (1993: 3) bahwa komunikasi mempunyai banyak muka, informasi bisa ditransmisikan melalui berbagai bentuk. Di sini komunikasi terbentuk melalui visualisasi graffiti berupa objek, kata-kata, dan pewarnaan sebagai media berekspresi anak muda. Adanya penampakan objek biasanya mewakili pesan yang ingin disampaikan, sementara kata-kata yang tersaji bisa menjadi sarana yang memudahkan penerimaan pesan oleh khalayak. Sedangkan penggunaan warna, bagi informan pria, secara psikologis menunjukkan ekspresi maskulinitas dengan kecenderungan warna gelap. Hal ini berbeda dengan informan wanita yang cenderung menunjukkan ekspresi keceriaan, kesetiaan, atau dedikasi pada orang lain. Tidak hanya itu, mereka yang merasa sebagai pemalu dan tidak percaya diri,bisa menyuarakan ekspresinya lewat graffiti karena di sini mereka tidak harus berbicara.Berdasarkan pengamatan, dominasi graffiti yang muncul di Semarang cenderung menyampaikan pesan visual dan tidak banyak graffiti yang membawa pesan sosial terkait dengan kondisi masyarakat di sekitarnya. Pesan visual tersebut biasanya dibuat dengan maksud memperindah suatu lokasi atau untuk menunjukkan eksistensi diri pada komunitas dan masyarakat. Dalam hal ini, berbagai elemen dalam graffiti bisa menghasilkan bentuk estetika tersendiri dalam berkomunikasi sehingga mampu membangun hubungan antara pembuat dengan khalayaknya. Hal ini karena adanya tiga elemen estetika visual seperti yang diutarakan Dake (2005: 7) tentang objek (yaitu graffiti), pembuat (yaitu writer), dan khalayak. Ketiga elemen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain yang pada akhirnya saling membentuk umpan dan timbal balik atas penampakan graffiti.Sementara itu, keberadaan graffiti merupakan suatu bentuk subkultur di tengah masyarakat. Hebdige (Hasan, 2011: 220-221) berpandangan bahwa subkultur adalah subversi bagi apa yang dianggap normal. Subkultur bisa saja dianggap sebagai hal yang negatif karena watak kritisnya terhadap standar masyarakat yang dominan. Subkultur dibawa secara bersama-sama oleh kumpulan individu yang merasa diabaikan oleh standar masyarakat dan menyebabkan mereka mengembangkan perasaan kememadaian terhadap identitasnya sendiri.Mengikuti cara Gelder (Hasan, 2011: 221-222) yang mengusulkan enam kunci cara mendefinisikan subkultur, terlihat ada persamaan dan perbedaan bila masing-masing kunci tersebut diperbandingkan dengan hasil pengamatan di lapangan sebagai berikut:a. Melalui hubungan negatif mereka terhadap kerja (misalnya bersifat parasit, malas-malasan suka bermain di waktu luang).Berkaitan dengan hal ini, kenyataannya setiap writer tetap melakoni pekerjaan lain dalam rangka mempertahankan posisinya secara ekonomi dan politik agar tetap diakui keberadaannya oleh masyarakat. Umumnya mereka ini sangat aktif mengembangkan seni atau mengakrabi dunia anak muda. Dunia yang digeluti tidak jauh dari dunia kreatif, seperti menjadi desainer grafis. Jadi bisadikatakan hubungan negatif yang diutarakan Gelder tidak tampak pada subkultur graffiti yang muncul di Semarang.b. Melalui hubungan mereka yang ambivalen atau negatif terhadap kelas (jika subkultur bukanlah „kesadaran kelas‟ dan tidak konformitas terhadap definisi kelas secara tradisional).Secara umum, graffiti di Semarang tidak dijadikan sebagai sebuah gerakan yang merujuk pada kelas tertentu termasuk kelas atau kelompok akar rumput. Lebih tepatnya, para pelaku yang muncul justru mengandalkan graffiti hanya sebagai sumber ketenaran kelompok dan individu. Graffiti yang tersaji kebanyakan melambangkan nama kelompok dan belum banyak jenis graffiti mural yang menyikapi keadaan sekitar dengan kritis. Ini menandakan bahwa graffiti di Semarang masih berupaya pada usaha mencari “jati diri” street art yang ingin dikembangkan oleh subkultur.c. Melalui asosiasi mereka terhadap teritori atau wilayah (misalnya di jalanan, di klab, kelompok tertentu) daripada pada kepemilikan dan kekayaan.Sebagai salah satu bentuk street art, graffiti sudah tentu beredar di jalanan. Setiap kelompok (crew) umumnya mempunyai penanda markasnya masing-masing. Di sini ada kebiasaan untuk mencantumkan tanda tangan di setiap sudut jalanan yang pernah disinggahi, tidak peduli apakah itu ditimpakan di tembok, baliho, bahkan rambu lalu lintas. Selain itu, ada aturan yang dianut setiap writer untuk saling meminta ijin sebelum menimpa gambar writer lain. Aturan lainnya yang berlaku adalah tidak menggambar di daerah terlarang seperti rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah.d. Melalui perpindahan mereka keluar rumah dan ke dalam bentuk-bentuk kepemilikan non-domestik (kelompok sosial daripada keluarga).Berbeda dengan pendapat Gelder ini, pergerakan subkultur graffiti di Semarang tetap mendapat dukungan domestik yakni dari keluarga. Kenyataannya setiap individu tidak melepaskan dirinya dari pergaulan dalam kelompok sosial termasuk dengan subkultur lain berkembang di sekitarnya. Artinya tidak ada perpindahan para pelakunya ke luar rumah, melainkan secara seimbang mereka bergerak di antara kutub domestik dan non-domestik.e. Melalui ikatan mereka yang unik terhadap gaya yang berlebihan dan kadang keterlaluan.Mengamati pergerakan writer di Semarang, ternyata tidak terdapat gaya berlebihan yang muncul melainkan terdapat pembedaan gaya yang khas terhadap komunitas atau subkultur lain. Kekhasan yang muncul hanyalah penggunaan identitas crew yang melekat pada pakaian yang didesain dan didistribusikan komunitas graffiti secara independen (distro). Hal ini dikarenakan setiap writer umumnya juga bergerak di bidang desain grafis sehingga bisa mengambil keuntungan untuk mengenalkan crew-nya melalui distro tersebut.f. Melalui penolakan mereka terhadap kedangkalan (banalitas) dari kehidupan yang umum yang merupakan korban masifikasi dan tren.Salah satu bentuk penolakan dalam subkultur graffiti misalnya adalah penggunaan ideologi indie atau DIY (Do It Yourself) seperti yang dianut kelompok musik underground, komunitas BMX, skateboard, dan subkultur lainnya. Ideologi indie berlaku pada pemakaian identitas pada merek distro yang dikenakan setiap individu dan biasanya setiap writer akan melekatkan karakter graffitinya ke dalam merek distronya. Penolakan lainnya berupa perlawanan atau perebutan ruang publik dengan tembok-tembok komersial. Ketika wajah perkotaan dipenuhi oleh pesan komersial, saat itulah writer menggunakan graffiti sebagai ajang perlawanan lewat pembuatan tagging secara masif dan diam-diam dalam satu spot komersial.Karakteristik utama dari semua subkultur adalah bahwa anggota subkultur terpisah atau terlepas di berbagai tingkat yang dianggap sebagai budaya dominan. Pembagian tersebut bisa berupa isolasi total atau terbatas pada aspek-aspek kehidupan seperti pekerjaan, sekolah, kesenangan, pernikahan, pertemanan, agama, atau tempat tinggal. Sebagai tambahan, pemisahan tersebut bisa terjadi dengan sukarela, karena lokasi geografis, atau kebebasan (Ferrante, 2011: 61). Hal inilah yang terjadi pada subkultur graffiti yang memisahkan diri dari masyarakat dengan membentuk identitasnya sendiri berdasarkan kesepakatan dan aturan yang dianut di dalam kelompoknya. Dalam pembentukan identitas tersebut, subkulturgraffiti juga membawa ekspresi perlawanan yang mengiringi pergerakannya di tengah masyarakat.Sementara itu, kultur perlawanan yang terbentuk dalam subkultur graffiti Semarang berupa “perang” public space, di mana para writer bertarung memperebutkan ruang publik dengan pemerintah dan para pengiklan. Ruang publik adalah tempat berinteraksi yang mempertemukan semua unsur masyarakat ke dalam sebuah situasi yang luas. Karenanya tidak jarang ruang publik dimanfaatkan berbagai pihak untuk kepentingan menyampaikan pesan. Salah satunya oleh pemerintah dalam mensosialisasikan kebijakan kepada masyarakat melalui baliho, spanduk, dan sebagainya. Pihak lainnya yakni para pemilik modal atau pengiklan yang mampu menyewa tembok untuk kepentingan komersial. Di sini, kultur perlawanan oleh subkultur graffiti mewujud dalam bentuk vandalisme. Vandalisme memang tidak bisa dipisahkan dari budaya graffiti dan lebih sering muncul lewat timpa-menimpa gambar graffiti.Berdasar pengamatan, iklan komersial ternyata cukup mendominasi wajah ruang publik. Setiap tempat di sudut kota tidak ada yang tidak tersentuh iklan, sebut saja di jembatan penyeberangan, di persimpangan jalan, di sekitar lampu merah, di tembok rumah, di mana pun bisa ditemui iklan komersial. Bahkan penempatan iklan komersial tidak jarang menyalahi aturan, seperti dengan menempelkan sederet poster iklan yang sama pada satu tembok. Kemampuan iklan komersial melahap ruang publik dikarenakan kemampuan pemilik modal untuk membayar waktu dan tempat beriklan. Karenanya bila dilihat secara kasat mata, iklan komersial begitu merajai beragam medium yang tersaji di jalanan. Pada posisi inilah graffiti menjadi pesaing iklan-iklan komersial. Writer sejatinya termasuk salah satu pihak yang bersaing mendapatkan perhatian khalayak di ruang publik. Karena adanya persaingan tersebut, tidak jarang tanda tangan atau tagging ditimpakan pada iklan-iklan komersial di tembok kota.Perlawanan ini menciptakan subkultur graffiti yang memadukan tiga bentuk protes seperti yang disebutkan Yinger (Hasan, 2011: 222), yaitu 1) penentangan terhadap nilai dominan berupa tindakan masyarakat yang patuh pada pemerintah dan budaya konsumerisme karena adanya iklan komersial, 2) penentangan terhadap struktur kekuasaan yang terlihat melalui larangan mencorat-coret tembok atau kemampuan pemilik modal dalam membeli tembok, dan 3) penentangan terhadap pola-pola komunikasi yang terperangkap dalam nilai-nilai dominan itu yakni berupa paksaan mematuhi peraturan pemerintah serta bujukan dan rayuan terhadap terbentuknya masyarakat konsumen.Adanya ekspresi perlawanan memang tidak pernah lepas dari graffiti, di mana dengan perlawanan tersebut graffiti bisa mendapatkan posisinya saat ini di masyarakat. Posisi tersebut di satu sisi masih lekat dengan penolakan yang menganggapnya sebagai perusakan terhadap fasilitas publik, sedangkan di sisi lain ia diterima karena efektivitasnya dalam mengkritisi keadaan sosial masyarakat.PENUTUPFenomena graffiti yang muncul di beberapa kota belakangan ini menjadikan dinamika perkotaan yang semakin beragam menarik untuk dipelajari. Tidak terkecuali di Kota Semarang di mana kemunculannya mendapat penilaian yang berbeda-beda dari masyarakat. Bagi sebagian kalangan, graffiti dianggap hanya sebagai coretan tembok belaka yang tidak mempunyai makna. Namun bagi sebagian yang lainnya, graffiti dianggap sebagai karya seni yang menyatukan elemen garis, bentuk, dan warna di medium tembok jalanan. Selain itu, graffiti juga dianggap bisa menyampaikan pesan tentang eksistensi pembuatnya.Eksistensi gerakan graffiti di Semarang masih berupaya mencari jati diri dengan cara bergerilya dari satu tembok ke tembok lainnya, masif, dan militan. Ada kecenderungan graffiti menjadi semacam tren di kalangan anak muda yang muncul dengan ideologi “ikut-ikutan”. Hal ini terlihat dari kemunculan banyak seniman (writer) baru yang menggunakan graffiti hanya sebagai ajang pemenuh kepuasan pribadi dan eksistensi diri, yakni dengan membuat pesan visual seperti dalam piece, tagging, dan throw-up yang dibuat sebebas-bebasnya, tanpa mengandung pesan sosial tertentu seperti yang ada pada jenis mural dan stensil. Meskipun demikian, seniman yang lebih senior biasanya telah menemukan originalitas karya dengan membuat graffiti yang berisi pesan sosial.Gerakan graffiti di Semarang membawa ekspresi perlawanan yang berupa perebutan ruang publik antara para seniman dengan para pemilik modal. Perlawanan terlihat dari kecenderungan writer untuk menimpa gambar secarasembunyi-sembunyi dan tanpa ijin di spot-spot yang dipenuhi dengan pesan periklanan atau komersial. Hal ini terkait dengan kenyataan banyaknya tembok kota yang menjadi spot komersial sehingga sarana untuk menumpahkan ekspresi semakin berkurang. Karena bentuk perlawanan tersebut, graffiti di Semarang masih lekat dengan stempel vandalisme. Masyarakat cenderung menilai graffiti sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab dan mengotori keindahan lingkungan.Menggunakan metode studi kasus, penelitian ini memberikan gambaran bagaimana komunitas graffiti membentuk subkultur yang terus bertahan di tengah masyarakat dan menggunakan graffiti sebagai media ekspresi dan komunikasi. Dalam hal ini, studi kasus dipilih untuk menjawab keingintahuan peneliti berkaitan dengan kemunculan fenomena graffiti secara spesifik di suatu wilayah, yaitu di Semarang, dengan batasan penelitian yang dibahas yakni eksistensi subkultur dan ekspresi yang dibawa oleh subkultur melalui graffiti. Hal ini terkait dengan pemanfaatan graffiti untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. Penempatannya di jalanan menjadi daya tarik tersendiri, di mana mulai dari proses pembuatan hingga hasil akhir selalu menarik perhatian khalayak yang lalu lalang di jalanan.Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi perkembangan komunikasi visual di kalangan anak muda, khususnya graffiti yang disajikan sebagai bentuk ekspresi diri namun kerap dianggap vandalisme oleh masyarakat. Peneliti berusaha memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa graffiti selayaknya dihargai sebagai media komunikasi dan ekspresi anak muda yang menyajikan berbagai pesan mulai dari eksistensi individu hingga pesan sosial. Oleh karena itu, peneliti memberikan rekomendasi agar writer mampu menyajikan graffiti yang bisa dipertanggungjawabkan, artinya memiliki konsep yang jelas dan mengandung pesan sosial sekaligus pesan visual sehingga bisa menimbulkan timbal balik yang lebih banyak dari khalayak. Dengan demikian fungsi sosial dan visual graffiti sama-sama bisa terpenuhi, yakni di satu sisi pesan pesan sosial mampu membangkitkan pemahaman bahwa graffiti bisa ditujukan sebagai media mengkritisi keadaan di lingkungan masyarakat. Sementara di sisi lain, secara visual graffiti dapat dimanfaatkan untuk memperindah lokasi.DAFTAR PUSTAKAChaffee, Lyman G. 1993. Political Protest and Street art: Popular Tools for Democratization in Hispanic Countries. Westport: Greenwood Publishing Group, Inc.Dake, Dennis. 2005. “Aesthetic Theory” (dalam Handbook of Visual Communication: Theory, Methods, and Media, Ken Smith dkk, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc., hal. 3-22).Ferrante, Joan. 2011. Seeing Sociology: An Introduction. California: Wadsworth Cengage Learning.Hasan, Sandi Suwardi. 2011. Pengantar Cultural Studies. Yogyakarta: Ar Ruz Media.Yin, Robert K. 2002. Studi Kasus: Desain dan Metode. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Sumber internet:Andrianto, Andi. 2009. “Graffiti, Simbol Perlawanan Kota” (http://www.suara merdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=58125; diakses 25/03/2012 22:16:13)Wicandra, Obed Bima. 2006. “Graffiti di Indonesia: Sebuah Politik Identitas Ataukah Tren? Kajian Politik Identitas pada Bomber di Surabaya” dalam Jurnal Nirmana Vol. 8, No. 2, Juli 2006, hal. 51-57. (http://fportfolio. petra.ac.id/user_files/02-032/POLITIK%20IDENTITAS%20GRAFFITI. PDF; diakses 24/03/2012 21:31:26)

Analisis Deskriptif Penggemar K-pop sebagai Audiens Media dalam Mengonsumsi dan Memaknai Teks Budaya

Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemunculan grup musik Seo Taji and Boys di Korea Selatan pada tahun 1992menjadi sebuah titik balik bagi industri musik populer Korea. Fenomena tersebutterus berkembang dan telah menjadi salah satu fenomena budaya pop yang hadir,tumbuh, dan berkembang di tengah-tengah masyarakat saat ini. K-pop (dalambahasa Korea 가요, Gayo) (singkatan dari Korean pop atau Korean popularmusic) adalah sebuah genre musik terdiri dari pop, dance, electropop, hip hop,rock, R&B dan electronic music yang berasal dari Korea Selatan.Banyak orang menyebut serbuan K-pop sebagai hallyu (한류) ataugelombang Korea (Korean Wave). Gelombang ini awalnya dipicu keranjinganorang terhadap drama romantis Asia, termasuk drama Korea. Dari sini, anak mudaAsia kemudian mengenal K-pop dan menggilainya. Maklum, K-pop tidak hanyamemanjakan telinga dan mata, tetapi juga menancapkan imajinasi tentang selebritiKorea yang berpenampilan apik dan berwajah semulus porselen. Tidak heran, kinibanyak anak muda yang ingin "dicetak" seperti selebriti Korea. Banyak anakmuda di mana-mana histeris melihat aksi boyband/girlband Korea. Inilah puncakgunung es dari kisah tentang penetrasi budaya pop Korea di sekitar kita.Dalam perkembangannya, K-Pop telah tumbuh menjadi sebuah subkulturyang menyebar secara luas di berbagai belahan dunia. Idol group dan solo artisseperti BoA, Rain, DBSK, JYJ, Super Junior, B2ST, Girls‟ Generations,BIGBANG, Wonder Girls, 2NE1, 2PM, 2AM, Miss A, KARA, SHINee, f(x),After School, Brown Eyed Girls, Se7en, CNBLUE, F.T. Island, Secret, MBLAQsangat terkenal di negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Jepang,Malaysia, Mongolia, Filipina, Indonesia, Thailand, Taiwan, Singapura, China, danVietnam (Cerojano, 2011).Kehadiran internet beserta jejaring sosial yang terdapat di dalamnya dapatdikatakan sangat membantu industri musik K-pop dalam menjangkau audiensyang lebih luas. Pengamat musik, Bens Leoseperti dikutip dalam sebuah portalkomunitas dan berita online tnol.co.idmengatakan musik K-pop yang telahmasuk ke Indonesia sekitar tahun 2009 berhasil populer di Indonesia berkatjaringan informasi dan teknologi internet, di mana kemudian masyarakat dapatdengan mudah mengakses dan melihat secara audiovisual. K-pop tidak hanyamengenalkan musik, tetapi K-pop juga mengenalkan budaya lewat gaya rambut,pakaian, maupun kostum (Nopiyanti, 2012).Pop culture yang beroperasi melalui fashion, musik, film maupun televisi inisangat dekat dengan dunia konsumsi di mana masyarakat dapat berekspresi didalamnya. Perilaku konsumsi individu maupun masyarakat yang terus menerus inipada akhirnya dapat menimbulkan sebuah sindrom fanatisme akibat hasilkomoditas budaya pop.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 2009 (KBBI), fanatismeadalah keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap suatu ajaran(politik, agama, dsb). Seseorang yang bersikap fanatik ini seringkali dijulukisebagai penggemaratau yang dalam skripsi ini disebut sebagai fans selebritis,serial televisi, band, dan komoditas budaya pop lainnyaseperti halnya dalamindustri K-pop.Henry Jenkins dalam Textual Poachers: Television Fans and ParticipatoryCulture (1992) menjelaskan mengenai kata “fan” (penggemar) yang merupakanabrevasi dari “fanatic”, yang berasal dari kata Latin “fanaticus”. Secara literal,“fanaticus” berarti “Dari atau berasal dari sebuah pemujaan; pelayan suatupemujaan; seorang pengikut” (“Of or belonging to the temple, a temple servant, adevotee”) (Oxford Latin Dictionary). Dalam perkembangannya, “fanatic”diartikan sebagai suatu bentuk kepercayaan religius yang berlebihan danmenyembah kepada setiap “antusiasme yang salah dan berlebihan”, yang padaakhirnya banyak menimbulkan kritik karena melawan kepercayaan dan dianggapsebagai suatu kegilaan yang timbul dari suatu posesi atas dewa atau iblis (OxfordEnglish Dictionary).Fenomena yang kemudian terjadi adalah menjamurnya fans K-pop di seluruhbelahan dunia. Fans yang berasal dari berbagai macam fandom idolgroupseperti misalnya ELF (Ever Lasting Friends) yang merupakan sebutanbagi penggemar Super Junior, B2UTY untuk penggemar B2ST, atau pun VIP bagipenggemar BIGBANGmenjadi sebuah kesatuan besar di bawah naunganfandom K-pop.Bagi kebanyakan orang, fandom K-pop dikenal dengan stereotip yangmelekat pada diri fans atau penggemarnya. Fans K-pop dianggap selalu bersikapberlebihan, gila, histeris, obsesif, adiktif, dan konsumtifketika mereka sangatgemar menghambur-hamburkan uang untuk membeli merchandise idola maupunmengejar idolanya hingga ke belahan dunia mana pun.Menurut Casey dalam Television Studies – The Key Concepts (2002: 91), fansselalu diasumsikan sebagai „canggung secara sosial dan kumpulan orang tidakberguna yang terbuai akan budaya populer, melalui sebuah media tertentu, dimanamenawarkan mereka kepuasan sintetis dan pelarian dari hidup mereka yangmenyedihkan.Stereotip tersebut salah satunya dapat dilihat dalam kehidupan di duniamaya. Mereka secara terang-terangan dapat menyatakan rasa cinta kepada idoladengan menggunakan fungsi mention pada Twitter dan ditujukan langsung keakun Twitter sang idola. Melalui dunia maya, mereka dapat dengan bebasmengungkapkan dan mencurahkan isi hati mereka kepada sesama fans K-popdengan posting pada blog maupun forum. Melalui dunia maya pula, fans K-popmelakukan sebuah aktivitas yang disebut dengan fangirling (berasal dari katafangirl. Fans lelaki disebut dengan sebutan fanboy. Fangirl dan fanboy seringdibedakan karena praktik tertentu yang mereka lakukan di dalam fandom. Namunpada dasarnya fans/penggemar/konsumen adalah sama) (Jenkins, 2007).Fangirling adalah sebutan yang digunakan untuk mendeskripsikankegembiraan berlebih atau bahkan ekstrim terhadap fandom tertentu. Internet telahmenjadi, bagi kebanyakan orang, sebuah sumber alternatif untuk informasi danhiburan, pada tingkat suatu bentuk media yang lebih “mapan” ketimbang televisidan media cetak (Rayner, Wall, Kruger, 2004: 104). Mereka sering menghabiskanwaktunya di depan komputer selama berjam-jam untuk berdiskusi mengenai objekkesenangan mereka hingga ke perilaku obesesif yang berlebihan yaitu stalking(istilah yang digunakan untuk mengacu pada perhatian obsesif yang tidakdiinginkan oleh seorang individu atau grup yang dilakukan oleh orang tertentu.Perilaku stalking sering dikaitkan dengan pelecehan dan intimidasi termasukmengikuti sang korban ke mana pun ia pergi dan memonitor segala perilakunya(http://www.thehistoryofastalker.com/stalkers-psychological-file).Melalui media seperti TV, dan terutama internet pula, fans K-pop dapatmemenuhi rasa „rindu‟ mereka. Mereka mengunduh video klip dan berbagaimacam variety show yang dibintangi idola mereka, mereka bertukar informasi dangossip terbaru melalui fanboard maupun bentuk media internet lainnya. Hal inibagi mereka adalah sebuah forum untuk mengekpresikan keluhan mereka, berbagiinformasi, dan mengesahkan identitas mereka sebagai fans (Rayner, Wall, Kruger,2004: 147).Bagi mereka fandom K-pop adalah sesuatu yang besar. Mereka memilikinama masing-masing, warna tertentu yang menunjukkan identitas mereka (warnabiru safir bagi fan Super Junior, warna merah untuk penggemar DBSK, dan lainlain),dan bahkan diakui secara resmi oleh label atau manajemen yang menaungiidola kesayangan mereka. Fandom K-pop telah berfungsi hampir menyerupaisebuah cult di mana penggemar yang terdapat di dalamnya seakan-akan telahdihipnotis untuk selalu memuja idola mereka selayaknya seorang dewa.Menurut Joli Jenson (dalam Storey, 2006:158), literatur mengenai kelompokpenggemar dihantui oleh citra penyimpangan. Penggemar selalu dicirikan sebagaisuatu kefanatikan yang potensial. Hal ini berarti bahwa kelompok penggemardilihat sebagai perilaku yang berlebihan dan berdekatan dengan kegilaan. Jensonmenunjukkan dua tipe khas patologi penggemar, „individu yang terobsesi‟(biasanya laki-laki) dan „kerumunan histeris‟ (biasanya perempuan).Para penggemar ditampilkan sebagai salah satu liyan yang berbahaya dalamkehidupan modern. “Kita” ini waras dan terhormat; “mereka” itu terobsesi danhisteris. Penggemar dipahami sebagai korban-korban pasif dan patologis mediamassa. Penggemar tidak bisa menciptakan jarak di antara dirinya dan objekkesenangannya.Para khalayak pop dikatakan memamerkan kesenangan mereka hinggamenimbulkan ekses emosional, sementara budaya resmi dan budaya dominansenantiasa mampu memelihara jarak dan kontrol estetik yang terhormat.Kelompok penggemar itu disebut-sebut hanya melakukan aktivitas kulturalkhalayak pop, sementara kelompok-kelompok dominan dikatakan memiliki minat,selera dan preferensi kultural. Hal ini diperkuat oleh objek-objek kekaguman.Budaya resmi atau dominan menghasilkan apresiasi estetik; kelompok penggemarhanya pas untuk pelbagai teks dan praktik budaya pop.Fans K-pop juga dikenal selalu loyal terhadap idolanya. Mereka tak seganseganuntuk mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk membeli segala macampernak-pernik tentang idolanya. Mereka juga tidak sayang untuk mengeluarkankocek yang besar untuk membeli hingga sepuluh CD album, saat idolanya merilisalbum baru, agar idola mereka dapat memenangkan penghargaan di berbagaiajang penghargaan musik. Merchandise sendiri terkadang memiliki harga yangtidak masuk akal bagi kebanyakan orang, terutama di luar fandom K-pop.Tidak hanya konsumsi merchandise atau pernak-pernik yang berhubungandengan idolanya, penggemar K-pop tentu tidak bisa dilepaskan dari konsumsimenonton konser. Di Indonesia sendiri, Showmaxx, selaku promotor yangmendatangkan Super Junior untuk konser di Indonesia, sampai harusmemperpanjang jadwal konser yang bertajuk Super Junior World Tour: SuperShow 4, menjadi tiga hari. Sebuah situs berita K-pop online, dkpopnews,memberitakan bahwa 60% audiens yang hadir di perhelatan konser Super Junior(Super Show 3: Super Junior the 3rd Asia Tour) di Singapura adalah penontonIndonesia. Mereka bahkan menyelenggarakan sebuah project dengan memberikansepuluh medali emas yang dipesan khusus untuk para anggota Super Junior.Masing-masing medali seharga sekitar $ 442.77 (Lee, 2011).Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa fandom K-pop telah berfungsihampir menyerupai sebuah cult di mana penggemar yang terdapat di dalamnyaseakan-akan telah dihipnotis untuk selalu memuja idola mereka selayaknyaseorang dewa. Obsesi mereka terhadap para idolanya sering dianggap berlebihandan melampaui batas.Casey (dalam Rayner, Wall, dan Kruger, 2004: 146) melihat bagaimana fansdalam representasinya seringkali ditolak dalam masyarakat. Casey menjelaskanbagaimana fans sering ditolak. Fans yang obsesif muncul karena telah „diambil‟oleh teks, dimana mereka (non-fans) tidak. Mereka (non-fans) mengkonstruksikanposisinya sebagai „normal‟ di mana sangat bertolak belakang dengan perilakufans. “Walaupun kita juga menikmati teks, „mereka‟ sangat berbeda dengan„kita‟.”Fans dan fandom sebagai salah satu area populer dalam studi mengenaiaudiens menjadi lebih layak dianalisis dalam studi kritikal ketika dalamperkembangannya, keberadaan fans telah dipengaruhi oleh teknologi dan media.Asumsi awal mengenai fans selalu dilihat sebagai mereka yang „obsesif‟, „anorak‟(seseorang yang memiliki ketertarikan yang kuat pada suatu hal, mungkin obsesifdan ketertarikan tersebut tidak dapat dipahami oleh orang lain; british slang,Oxford Dictionaries tahun 2012), dan „aneh‟, yang ketertarikan obsesinya adalahpada sebuah objek budaya tertentu sebagai „tameng‟ untuk mengejarkecanggungan atas kehidupan sosial mereka.Dewasa ini, representasi fandom telah mengalami perubahan. Jenkins (dalamRayner, Wall, Kruger, 2004: 147) mendeskripsikan bahwa fandom adalah sesuatuyang positif dan memberdayakan. Fandom adalah salah satu cara di manakhalayak dapat menjadi aktif dan berpartisipasi dalam mengkreasikan makna darisebuah teks dalam media.Penelitian ini akan berfokus pada bagaimana fans K-pop sebagai audiensmedia mengonsumsi dan memaknai teks di dalam media terkait dengan perilakufanatisme di dalam fandom yang mereka ikuti. Lebih lanjut, penelitian ini jugaakan membahas mengenai perilaku produksi yang dilakukan oleh penggemarsebagai hasil dari aktivitas konsumsi dan pemaknaan yang mereka lakukan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku penggemar K-pop, berkaitandengan motif yang mendorong mereka untuk melakukan aktivitas konsumsiadalah motif yang didasari oleh motif kepuasan. Konsumsi yang mereka lakukandidasari oleh keinginan mereka sendiri akan perasaan puas yang timbulsetelahnya. Kecintaan mereka terhadap idola menghapuskan rasa sayang untukmenghabiskan waktu dan biaya yang tidak sedikit bagi kegiatan kegemaranmereka. Konsumsi yang mereka lakukan bukanlah diukur dari berapa banyakwaktu maupun biaya yang mereka keluarkan atau pun bagaimana lingkungansosial menilai mereka. Konsumsi yang mereka lakukan lebih berbicara mengenaikenikmatan yang dicapai sebagai pelampiasan akan hasrat atau perasaan rinduyang terpendam terhadap sang idola. Perilaku konsumsi yang dilakukan olehpenggemar K-pop umumnya meliputi mengunduh video, membeli merchandise,dan menonton konser. Video yang mereka unduh adalah video-video berupa videoklip, potongan-potongan scene, hingga video variety show. Sedangkan mengenaikonsumsi merchandise dapat bermacam-macam bentuknya seperti CD, kaos,photo book, dan light stick. Aktivitas menonton konser adalah aktivitas yangpaling ditunggu-tunggu. Hal ini disebabkan oleh satu tujuan utama yang samayaitu untuk bertatap muka langsung dengan idola.Selain itu, penggemar K-pop tidak hanya melakukan konsumsi, merekasenantiasa juga melakukan pemaknaan terhadap teks di media. Ketika merekamengonsumsi, mereka memaknai. Pemaknaan yang dilakukan oleh penggemartidak hanya dilakukan berdasarkan pengalaman mereka secara individu namunjuga secara kolektif, misalnya ketika sedang berada di dalam kelompok ataukomunitas penggemar. Perilaku pemaknaan secara kolektif ini, salah satunyadapat dilihat dengan seberapa sering penggemar saling berdiskusi, bertukarinformasi atau berdebat mengenai pengetahuan objektif yang tidak diketahui olehorang awam.Penggemar, selain melakukan aktivitas konsumsi, ternyata juga melakukanaktivitas produksi kreatif sebagai bentuk fanatisme. Aktivitas produksi adalahefek yang timbul dari kegiatan mengonsumsi teks di media secara terus-menerus.Serupa dengan motif penggemar dalam mengonsumsi, motif produksi teks budayayang dilakukan oleh penggemar K-pop juga didasari atas pemenuhan kebutuhanafeksi dan emosi mereka. Selain untuk mencapai kepuasan (satisfaction), produksiteks juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka sebagai manusia sosial,yaitu kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan untuk mencari identitas sertakebutuhan akan pemenuhan diri. Contoh produksi yang dilakukan oleh penggemarK-pop adalah fan fiction dan fan art. Hasil produksi ini kemudian akan diunggahke media (internet) untuk kemudian dishare dengan sesama penggemar. Tidakhanya sampai di situ, penggemar lainnya yang turut mengonsumsi produksitersebut juga ditemukan memberikan feedback bagi si produser; seperti misalnyameninggalkan komentar atau kritik yang membangun.Media yang telah menjadi sebuah wadah utama bagi mayoritas penggemarK-pop adalah internet. Selain membantu mereka dalam kegiatan kegemaran(fangirling), internet juga membantu mereka dalam berkomunikasi serta bertukarinformasi dengan sesama penggemar lainnya di dunia maya walau belum pernahdilakukan tatap muka di antara keduanya. Penggemar K-pop biasanya memilikiforum-forum khusus yang memungkinkan mereka untuk melakukan sharingsecara beramai-ramai. Forum-forum ini umumnya adalah situs yang dibuat olehpenggemar dan diperuntukkan bagi penggemar pula. Tidak hanya melalui forum,tetapi situs-situs jejaring sosial seperti twitter dan tumblr juga memudahkanmereka dalam melakukan kegiatan fangirling. Melalui forum/jejaring sosialmereka bisa membicarakan berbagai macam hal, dari mulai video klip yang barukeluar hingga gaya rambut sang idola yang terus berganti-ganti.DAFTAR PUSTAKAAnda, Atri, et. Al. 2012. Jalan-Jalan K-pop. Jakarta: Gagas Media.Casey, Bernadette, et. Al. 2008. Television Studies: The Key Concepts, SecondEdition. Oxon: Routledge.Cheonsa, Choi. 2011. Hallyu: Korean Wave. Klaten: Cable Book.Engel, James F, Roger .D Blackwell, dan Paul W. 1995. Perilaku Konsumen.Jakarta: Binarupa Aksara.Featherstone, Mike. 2007. Consumer Culture and Postmodernism Second Edition.London: SAGE Publications Ltd.Friedman, Jonathan. 2005. Consumption and Identity. Singapore: HarwoodAcademic Publishers.Genosko, Gary. 1994. Baudrillard and Signs: Signification Ablaze. London:Routledge.Gray, Jonathan, Cornel Sandvoss, dan C. Lee Harrington (ed.). 2007. Fandom:Identities and Communities in A Mediated World. New York & London:New York University Press.Hellekson, Karen, dan Kristina Busse (ed.). 2006. Fan Fictions and FanCommunities in the Age of the Internet. Jefferson: McFarland & Company,Inc.Hills, Matt. 2002. Fan Cultures. London: Routledge.Jenkins, Henry. 1992. Textual Poachers: Television Fans and ParticipatoryCulture. New York & London: Routledge.Kelly, William. W (ed.). 2004. Fanning the Flames: Fans and Consumer Culturein Contemporary Japan. Albany: State University of New York Press.Korean Culture and Information Service. 2011. Contemporary Korea No. 1 TheKorean Wave: A New Pop Culture Phenomenon. Seoul: Koreean Cultureand Information Service Ministry of Culture, Sports and Tourism.Kuswarno, Engkus. 2009. Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi:Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: WidyaPadjadjaran.Mackay, Hugh (ed.). 1997. Consumption and Everyday Life. London: SagePublications Ltd.Moran, Dermot. 2000. Introduction to Phenomenology. London: Routledge.Neuman, Lawrence W. 2007. Basics of Social Rasearch: Qualitative andQuantitative Approaches Second Edition. Boston: Pearson Education Inc.Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosda.Rayner, Philip, Peter Wall dan Stephen Kruger. 2004. Media Studies: TheEssential Resource. London & New York: Routledge.Ritchie, Jane dan Jane Lewis. 2003. Qualitative Research Practice: A Guide forSocial Science Students and Researchers. London: SAGE Publications.Rusbiantoro, Dadang. 2008. Generasi MTV. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.Sastranegara, Arif. 2012. Boyband dan Girlband Korea: 21 Grupband KoreaSuper Populer. Surabaya: Citra Publishing.Schacht, Richard. 2005. Alienasi: Pengantar Paling Komprehensif.Jakarta: Jalasutra.Storey, John. 2006. Pengantar Komprehensif, Teori, dan Metode: CulturalStudies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.Storey, John. 2009. Fifth Edition Cultural Theory and Popular Culture: AnIntroduction. Harlow: Pearson Education Ltd.Yuanita, Sari. 2012. Korean Wave: Dari K-Pop Hingga Tampil Gaya Ala Korea.Yogyakarta: IdeaTerra Media Pustaka.Referensi SkripsiPujarama, Widya (2008). Kisah Harry Potter yang Menjadi Mitos: Studi Etnografiterhadap Penggemar Kisah Harry Potter dalam Situswww.harrypotterindonesia.com. Skripsi. Universitas Brawijaya.Qisthina (2010). Budaya Penggemar Musik Pop Korea (Studi Pada PolaKonsumsi dan Produksi ELF Super Junior di Kalangan Pelajar KotaMalang). Skripsi. Universitas Brawijaya.Sandika, Edria (2010). Dinamika Konsumsi dan Budaya Penggemar KomunitasTokusatsu Indonesia. Tesis. Universitas Indonesia.Referensi InternetCerojano, Teresa. (2011). K-pop‟s Slick Productions Win Fans Across Asia.dalam http://lifestyle.inquirer.net/14895/k-pops-slick-productions-winfans-across-asia. diakses tanggal 17 November pukul 17:45.Grossman, Lev. (2011). The Boy Who Lived Forever. dalamhttp://www.time.com/time/arts/article/0,8599,2081784-1,00.html. diaksestanggal 15 Januari 2013 pukul 21:00.Halim, Denny F. (2012). My Jakarta: Wina and Siska, K-pop Fans. dalamhttp://www.thejakartaglobe.com/myjakarta/my-jakarta-wina-and-siska-kpop-fans/504997. diakses tanggal 23 April 2012 pukul 23:15.Jenkins, Henry. (2007). Gender and Fan Culture (Round Fifteen, Part Two: BobRehak and Suzanne Scott. dalamhttp://henryjenkins.org/2007/09/gender_and_fan_culture_round_f_4.html.diakses tanggal 27 April 2012 pukul 24:00.Kamil, Ati. (2012). “Gelombang Korea” Menerjang Dunia. dalamhttp://entertainment.kompas.com/read/2012/01/15/18035888/.Gelombang.Korea.Menerjang.Dunia. diakses tanggal 17 November 2012 pukul 23:00.Lee, Dajeong. (2011). 10 Gold Medals for Super Junior from Indonesian ELF.dalam http://www.dkpopnews.net/2011/01/photos-10-gold-medals-forsuper-junior.html. diakses tanggal 23 April 2012 pukul 21:00.Nopiyanti. (2012). Bens Leo: K-pop Penyelamat Musik Indonesia!. dalamhttp://www.tnol.co.id/film-musik/12710-bens-leo-k-pop-penyelamatmusik-indonesia.html. diakses tanggal 24 April 2012 pukul 20:10.Pasandaran, Camelia. (2012). „Gangnam Style‟ Star Psy to Ride Into Jakarta.dalam http://www.thejakartaglobe.com/entertainment/gangnam-style-starpsy-to-ride-into-jakarta/553423. diakses tanggal 16 November 2012 pukul21:45.Subi. (2012). K-pop Merchandising: Exploiting the Consumer. dalamhttp://seoulbeats.com/2012/01/k-pop-merchandising-exploiting-theconsumer/.diakses tanggal 27 April 2012 pukul 23:45.Suwarna, Budi dan Frans Sartono. (2010). Super Korea, Super Tampang. dalamhttp://nasional.kompas.com/read/2010/12/12/03182533/. diakses tanggal16 November 2012 pukul 19:05.Third Jakarta Show Added For K-pop Band Super Junior. (2012). dalamhttp://www.thejakartaglobe.com/entertainment/third-jakarta-show-addedfor-k-pop-band-super-junior/512038. diakses tangal 23 April 2012 pukul22:00.Today’s K-pop Fan Groups: Too Obsessive?. (2011). dalamhttp://seoulbeats.com/2011/11/todays-k-pop-fan-groups-too-obsessive/.diakses tanggal 27 April 2012 pukul 22:00.Referensi Media CetakBurhanudin, Tony. (2012, Juli). Imitator Jepang yang Sukses. Marketing: 66-67.Burhanudin, Tony. (2012, Juli). K-pop Sebagai National Branding Bangsa Korea.Marketing: 58-59.Ladjar, Angelina M. (2012, Juli). Tidak Sembarang Artis K-pop. Marketing: 76-77.Mulyadi, Ivan. (2012, Juli). Samsung as Global Brand. Marketing: 74-75.Tanoso, Harry. (2012, Juli). Harga Sinetron Korea Jauh Lebih Murah dariSinetron Lokal. Marketing: 82-83.Purwaningsih, Ike dan Miftah N. (2012, Oktober 7). Korea Masih Bikin Kepincut.Suara Merdeka: 21.

REPRESENTASI MASKULINITAS LAKI-LAKI DALAM IKLAN PRODUK BUMBU MASAK, DETERJEN PAKAIAN, DAN SABUN PENCUCI PERALATAN MAKAN DAN MASAK

Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

REPRESENTASI MASKULINITAS LAKI-LAKI DALAM IKLAN PRODUK BUMBU MASAK, DETERJEN PAKAIAN, DAN SABUN PENCUCI PERALATAN MAKAN DAN MASAKAbstrakSetiap iklan mengandung gagasan mengenai femininitas perempuan dan maskulinitas laki-laki yang direpresentasikan dalam teks iklan tersebut. Namun, aspek maskulinitas laki-laki dalam iklan masih jarang digali. Itulah yang melatarbelakangi penelitian ini. Bagaimana iklan produk ‘untuk perempuan’, seperti produk kebutuhan rumah tangga, merepresentaikan maskulinitas laki-laki tersebut?Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika tradisi Roland Barthes untuk mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Dengan pendekatan semiotika ini, penelitian ini berusaha membongkar tanda-tanda dalam iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak untuk menemukan makna berupa gagasan di balik tanda-tanda tersebut. Dibantu oleh konsep codes of television milik John Fiske, teks diurai menjadi kode-kode, yaitu suatu unit yang lebih sempit, untuk kemudian dideskripsikan dan dianalisa.Hasil penelitian menunjukkan adanya kesamaan pola pada representasi maskulinitas laki-laki yang ditemukan dari analisa terhadap iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak. Maskulinitas laki-laki, dalam iklan untuk tiga jenis produk tersebut, direpresentasikan melalui sosok ayah, suami, serta pencari nafkah di mana ketiganya merupakan aspek dari sosok kepala keluarga dalam masyarakat yang hidup dengan ideologi patriarki.Key words : iklan, jender, maskulinitas, patriarkiREPRESENTATION OF MALE’S MASCULINITY IN TV COMMERCIALS FOR HOUSEHOLD PRODUCTSAbstarctIn every advertisements, including television commercials, there are always two aspects: female’s femininity and male’s masculinity. But, unfortunately, when compared to female’s femininity, male’s masculinity is still such a rare topic to be discussed and examined in gender studies field. That argument began this particular gender study. How, then, do television commercials for ‘female only’ products such as household products represent their male’s masculinity?This study make use of Roland Barthes’s semiotic approach to try to answer that question. By this means, this gender study struggles to break down the signs found in TV commercials for household products in order to discover the idea(s) behind those signs. By the help of John Fiske’s codes of television concept, text(s) were analyzed into codes, an unit(s) more restricted and specific.The result shows that there is a similarity in pattern of representation of male’s masculinity found by analyzing television commercials for household products. In television commercials for such products, male’s masculinity is represented through the use of father figure, husband figure, and responsible breadwinner figure, which the three being a huge aspect shaping the head of household figure in a society(ies) where patriarchal ideology lives.Key words: advertising, TV commercials, gender, masculinityPendahuluanPada hakikatnya, iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi (Noviani, 2002: 22). Namun, iklan juga unik karena memiliki kemampuan mempengaruhi yang cukup kuat. Dari aspek pengaruh ekonomi, iklan terbukti telah banyak memberikan keuntungan ekonomi yang sangat besar pada perorangan atau agen yang terlibat di baliknya (Widyatama, 2007: 156). Namun, iklan tidak hanya memiliki pengaruh ekonomi saja. Dia juga memiliki pengaruh psikologis dan pengaruh sosial budaya.Dalam kaitannya dengan penelitian ini, pengaruh iklan secara sosial budayalah yang lebih disorot, di mana pesan-pesan yang ditampilkan melalui iklan akan mengkristal secara kolektif dan menjadi perilaku masyarakat secara umum. Perilaku masyarakat yang umum ini pada akhirnya akan membentuk sistem nilai, gaya hidup, maupun standar budaya tertentu.Iklan, sebagai alat (komunikasi) pemasaran yang berfungsi sebagai media untuk mengkomunikasikan produk dari produsen (pengiklan) kepada calon konsumen (audience), memerlukan perencanaan yang matang agar selain pesan yang diinginkan (oleh pengiklan) sampai ke calon konsumen dengan utuh, calon konsumen juga menjadi percaya pada isi pesan dan karenanya berminat untuk mencoba maupun membeli produk yang diiklankan. Untuk mencapai tujuan ini, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pemilihan endorser yang mampu membantu membawakan pesan iklan dengan meyakinkan dan sekaligus membantu membentuk citra yang diharapkan untuk produk yang diiklankan.Selain pemilihan endorser, pengiklan juga harus merancang bagaimana endorser ini harus ditampilkan mulai dari segi penampilan fisik hingga perkataan dan perbuatan. Secara fisik, endorser perempuan yang sering muncul dalam iklan biasanya berwajah cantik, berkulit putih mulus, tubuh langsing, dan rata-rata berusia muda. Sedangkan laki-laki yang menjadi endorser biasanya berwajah tampan, berkulit putih, bertubuh tinggi atletis, dan juga berusia muda.Sedangkan dari segi karakterisasi, perempuan ditampilkan dengan kepribadian yang dikategorikan sebagai karakteristik feminin: anggun, lemahlembut, pasif, dan emosional. Sedangkan laki-laki ditampilkan dengan sifat-sifat yang dikelompokkan dalam kategori maskulin, misalnya kuat (secara fisik dan mental), rasional, tegas, dan agresif. Dari aspek setting, iklan juga stereotipikal dalam menampilkan perempuan dan laki-laki, di mana karakter perempuan hampir selalu ditampilkan berada di rumah atau di lingkungan rumah sedangkan tokoh laki-laki sering kali ditampilkan sedang sibuk beraktivitas di luar rumah, misalnya kantor.Umumnya, dalam iklan, perempuan dan laki-laki sering kali ditampilkan dalam kerangka jender yang sama dari waktu ke waktu. Pada bagian awal subbab ini telah disebutkan bahwa iklan memiliki pengaruh sosial budaya. Pengaruh ini bisa timbul salah satunya dikarenakan adanya stereotipisasi dalam penampilan sosok laki-laki dan perempuan dalam iklan, gaya penampilan yang mengikuti suatu pola dan peran jender tertentu.Iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak termasuk dalam kelompok iklan yang sering menampilkan sosok laki-laki dan perempuan yang stereotipikal sesuai dengan peran jender konvensional. Iklan untuk produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak tidak pernah absen menghadirkan gambaran perempuan dalam kerangka femininitas tertentu, yaitu sebagai ibu rumah tangga yang sedang melakukan aktivitas seperti memasak, merawat anak, serta membersihkan rumah, dan perempuan tersebut mayoritas dimunculkan dalam setting rumah.Yang kadang luput dari perhatian adalah arti keberadaan sosok laki-laki dalam iklan yang sama. Banyak iklan untuk produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak yang menghadirkan sosok endorser laki-laki. Laki-laki dalam iklan tersebut, seperti halnya perempuan, juga ditampilkan dalam kerangka jender tertentu, yaitu kerangka jender maskulin. Tentu saja representasi maskulinitas laki-laki dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak berbeda dengan representasi maskulinitas laki-laki yang umum ditemui dalam iklan rokok. Laki-laki dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak seringkali dimunculkan menyandang peranayah/suami/kepala rumah tangga, atau sebagai voice over yang memberikan penjelasan mengenai produk yang sedang diiklankan. Posisi laki-laki dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak sekilas memang tidak mengandung maksud tertentu. Namun, bila ditelaah lebih jauh, sesungguhya peran-peran yang disandang laki-laki dalam iklan-iklan tersebut memiliki posisi superior terhadap sosok perempuan. Sebaliknya, iklan rokok merk Marlboro misalnya, merepresentasikan maskulinitas melalui sosok koboi. Di balik representasi maskulinitas laki-laki melalui sosok koboi ini, kita bisa saja menarik kesimpulan mengenai bagaimana seharusnya laki-laki ideal itu. Iklan rokok merk Marlboro mungkin bermaksud menyampaikan pada khalayak bahwa laki-laki yang ideal itu adalah laki-laki yang pemberani, tangguh, kasar, serta individualistis.Karena iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak menampilkan representasi maskulinitas laki-laki dengan cara berbeda dari iklan rokok merk Marlboro, maka bisa kita tarik asumsi bahwa iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak memiliki gagasan tersendiri mengenai maskulinitas laki-laki dan sosok laki-laki ideal untuk disampaikan pada khalayak. Pembahasan dalam makalah ini akan membongkar ideologi apa yang tersembunyi di balik pesan iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak sebagai cara mendeskripsikan representasi maskulinitas laki-laki dalam iklan-iklan tersebut.PembahasanTerdapat empat ideolog yang bekerja dalam pesan iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak. Tiga ideologi pertama bisa dikatakan sebagai ideolog yang bersifat minor, sedangkan ideologi keempat merupakan bersifat lebih luas di mana tiga ideology pertama merupakan bagian dari ideology keempat ini. Tiga ideologi minor tersebut, yaitu kode ideologis son preference, fatherhood, dan kecerdasan laki-laki ideologi. Ketiganyamerupakan bagian dan pendukung ideologi yang bersifat mayor, yaitu ideologi patriarki.Dalam The Gender Knot: Unraveling Our Patriarchal Legacy (2005) diutarakan bahwa patriarki bukan semata sinonim dari ‘laki-laki’, melainkan suatu jenis masyarakat (society) di mana baik laki-laki maupun perempuan sama-sama terlibat dan berpartisipasi di dalamnya. Menurut Johnson, masyarakat yang patriarkis adalah masyarakat yang hingga taraf tertentu mendukung adanya hak-hak istimewa laki-laki (male privilege) melalui aksi serta gagasan yang berbau dominasi laki-laki (male dominated), diidentifikasikan dengan laki-laki (male identified), dan terpusat pada laki-laki (male centered). Masyarakat patriarkis juga menunjukkan adanya obsesi terhadap kendali atau keinginan kuat untuk mengendalikan segalanya (Johnson, 2005: 5). Male dominated, male identified, male centered, dan obsesi terhadap kendali, menurut Johnson, merupakan empat karakteristik patriarki.Dominasi laki-laki sebagai suatu karakteristik patriarki mengandung pemahaman bahwa posisi-posisi dengan kewenangan tinggi, misalnya dalam bidang politik, hukum, dan militer, sebagian besar diduduki oleh laki-laki dan seolah diperuntukkan bagi laki-laki. Kondisi ini akhirnya menciptakan perbedaan kekuasaan yang cukup mencolok antara laki-laki dan perempuan. Dominasi laki-laki seperti yang banyak terdapat dalam masyarakat patriarkis juga mengakibatkan timbulnya gagasan bahwa laki-laki lebih superior (dibandingkan perempuan). Anggapan semacam ini muncul karena masyarakat cenderung tidak membedakan antara superioritas yang dikandung oleh posisi atau kedudukan dalam suatu hierarki dengan orang-orang yang biasanya menempati posisi tersebut. Johnson menambahkan, penting untuk dipahami bahwa dominasi laki-laki dalam masyarakat patriarkis tidak berarti setiap laki-laki itu berkuasa. Dominasi laki-laki berarti di mana ada pusat atau konsentrasi kekuasaan, hampir bisa dipastikan (kaum) laki-laki yang akan menguasainya karena laki-laki dalam hal ini bisa dipandang sebagai rancangan dasar kaum atau orang yang memegang kekuasaan (Johnson, 2005: 5-6).Karakteristik berikutnya yang dimiliki oleh masyarakat patriarkis yaitumale identified yang diartikan bahwa dasar gagasan kultural mengenai apa yang dianggap baik, yang dikehendaki, dan yang dianggap normal adalah hal-hal yang biasa diasosiasikan dengan laki-laki dan maskulinitas ideal. Dengan kata lain, male identified dalam patriarki memposisikan laki-laki dan kehidupannya sebagai standar dalam menentukan apakah sesuatu itu normal atau tidak. Anggapan ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Sigmund Freud yang menganggap bahwa manusia normal adalah laki-laki (Sultana, 2010: 4).Aspek lain dari male identified adalah deskripsi kultural mengenai maskulinitas dan sosok laki-laki ideal yang kemudian seolah menjelma menjadi nilai-nilai inti dalam masyarakat. Kualitas-kualitas seperti kontrol, kekuatan (fisik), senang berkompetisi, keteguhan, ketenangan di bawah tekanan, logika, kemampuan mengambil keputusan, rasionalitas, dan otonomi dikenal sebagai karakteristik-karakteristik maskulin dan standar ideal bagi laki-laki. Dengan kata lain, kualitas-kualitas tersebut diidentifikasikan sebagai ‘laki-laki’. Dalam masyarakat patriarkis, sifat-sifat tersebut pun lebih dihargai (Johnson, 2005: 6-10).Selain bersifat male dominated dan male identified, masyarakat patriarkis juga bersifat male centered atau terpusat pada laki-laki yang berarti bahwa laki-laki dan apa pun yang mereka lakukan lah yang menjadi fokus perhatian. Hal ini dikarenakan menurut kultur patriarki, pengalaman dan kehidupan laki-laki merepresentasikan pengalaman seorang manusia yang utuh. Dalam kehidupan sehari-hari pun, fokus perhatian terhadap laki-laki dapat ditemui, misalnya bagaimana laki-laki mendominasi percakapan dengan cara bicara lebih banyak (daripada perempuan), lebih sering menginterupsi pembicaraan, hingga mengendalikan topik dan arah pembicaraan (Johnson, 2005: 10-12).Obsesi untuk memegang kendali (the obsession with control) merupakan karakteristik selanjutnya dari paham patriarki. Kontrol atau kendali merupakan elemen penting dalam patriarki dikarenakan paham patriarki adalah sistem di mana di dalamnya terdapat hak-hak istimewa yang diberikan pada salah satu kelompok. Dalam praktiknya, hak-hak istimewa tersebut menempatkan salah satu kepompok dalam kedudukan yang tinggi dan mengopresi kelompok lain yangtidak memperoleh hak istimewa tersebut. Dengan kata lain, kelompok superior mempertahankan posisi dan hak istimewanya dengan cara mengontrol kelompok lainnya, misalnya kaum laki-laki melindungi dan mempertahankan kedudukan dan hak istimewa yang diberikan padanya dengan cara mengendalikan para perempuan di sekitarnya. Kemampuan mengendalikan ini telah menjadi standar kultural bagi manusia sebagai makhluk superior, yang pada akhirnya dipandang sebagai piranti bagi laki-laki untuk mengukuhkan dan membenarkan posisi dan hak istimewanya.Perlu juga diketahui bahwa sesungguhnya kendali atau kontrol tidaklah bersifat buruk dan tidak dengan sengaja bertujuan untuk mengopresi. Dengan melakukan pengendalian, manusia mampu menciptakan keteraturan dari situasi chaos dan melindungi diri dari ancaman-ancaman terhadap eksistensinya. Namun, di bawah kekuasaan paham patriarki, kemampuan mengendalikan tersebut bukan lagi dianggap sebagai lambang dari esensi manusia sebagai makhluk hidup, melainkan berubah menjadi begitu dihargai dan didambakan hingga menimbulkan obsesi dalam tingkat ekstrim yang membuat kehidupan sosial menjadi sangat menekan (Johnson, 2005: 14-15).Empat karakteristik patriarki di atas dapat ditemukan pada banyak praktik-praktik sosial. Ideologi son preference, fatherhood, dan kecerdasan laki-laki termasuk dalam praktik sosial bersifat patriarkis karena ketiganya memiliki karakter yang sama dengan karakteristik patriarkis yang digagas oleh Johnson.Son preference memiliki karakteristik patriarki, yaitu male centeredness. Dia dijalankan dengan memusatkan pada apa yang diasumsikan dapat dilakukan oleh laki-laki. Male centeredness yang memusatkan perhatian pada apa yang diasumsikan dapat dilakukan oleh laki-laki sebagai karakteristik son preference dapat terlihat pada faktor ekonomi son preference, yaitu anggapan bahwa anak laki-laki mampu menyokong orangtua dan keluarga secara finansial serta anak laki-laki yang juga dinilai lebih potensial dan menguntungkan sebagai tenaga kerja.Selain son preference, praktik patriarkis di masyarakat juga tampak dalam pandangan yang menempatkan sosok ayah (laki-laki) sebagai figur pemegangotoritas. Konsep fatherhood memiliki karakteristik yang sama dengan karakteristik patriarki, yaitu male dominated dan obsesi terhadap kendali (obsession with control).Ideologi fatherhood atau kebapakan memiliki karakter male dominated, yang artinya sebagian besar posisi-posisi dengan otoritas tinggi biasanya dipegang atau diduduki oleh, bahkan seolah diperuntukkan bagi, laki-laki. Mulai dari lingkup keluarga inti yang sempit hingga cakupan negara, laki-laki hampir bisa dipastikan menjabat sebagai pemegang kedudukan tertinggi. Karakteristik lain ideologi fatherhood yang masih cukup berkaitan dengan karakter male dominated ini adalah obsesi terhadap kendali. Sebagai kelompok yang beruntung dikarenakan hak-hak istimewa yang dialamatkan kepadanya, menyebabkan kaum laki-laki menempati posisi yang menjadikan mereka superior terhadap kelompok lainnya, terutama perempuan. Dengan status yang lebih superior tersebut, maka kaum laki-laki pada akhirnya memiliki keleluasaan untuk mengendalikan kelompok inferior lainnya. Pengendalian tersebut dilakukan terutama sebagai upaya untuk mempertahankan dan melindungi hak-hak istimewa mereka dari siapapun atau apapun yang mungkin mengancamnya. Kemampuan untuk mengendalikan telah menjadi standar kultural bagi makhluk hidup superior, yang kemudian digunakan sebagai piranti oleh laki-laki untuk mengukuhkan dan membenarkan hak dan posisi istimewa mereka (Johnson, 2005: 14).Kode ideologis kecerdasan laki-laki juga bagian dari praktik yang bersifat patriarkis. Dia memiliki karaktersitik patriarki, sama seperti dua kode ideologis yang telah diuraikan sebelumnya. Karakteristik patriarki yang melekat pada konsep kecerdasan laki-laki sendiri adalah male identified.Kecerdasan, atau intelligence dalam bahasa Inggris, merupakan hasil kombinasi dari rasionalitas maskulin (masculine rationality) dengan keberhasilan sosial (social success) (Raty dan Snellman, 1995: 2). Pada kenyataannya, rasionalitas bukanlah konsep yang bersifat netral-jender, walau banyak orang masih mengira demikian. Justru sesungguhnya yang selama ini dikenal sebagai rasionalitas a la Barat adalah rasionalitas maskulin (Ross-smith dan Kornberger, 2004: 282). Ross-Smith dan Kornberger juga mencantumkan dalam tulisanmereka tentang penggunaan akal pikiran (sebagai ciri dari sifat rasional) yang telah diasosiasikan dengan laki-laki dan maskulinitas sejak zaman Yunani Kuno. Asosiasi di antara keduanya masih terus berlangsung di masa kini, sehingga dalam kehidupan sehari-hari di zaman sekarang, konsep mengenai akal pikiran dan rasionalitas sesungguhnya memiliki konotasi maskulin. Mengasosiasikan rasionalitas dengan laki-laki dan/atau maskulinitas merupakan salah satu aspek dari male identified, di mana gagasan kultural mengenai laki-laki ideal telah menjelma menjadi nilai-nilai inti masyarakat secara keseluruhan (Johnson, 2005: 7). Salah satu kualitas yang telah diidentifikasi sebagai kualitas laki-laki ideal tersebut adalah penggunaan logika dan rasionalitas.KesimpulanBerdasarkan hasil temuan penelitian dan analisis yang telah dilakukan, kesimpulan yang bisa ditarik dari penelitian ini, yaitu:1. Iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak menampilkan maskulinitas laki-laki dengan cara melekatkan peran, sifat, maupun karakteristik, seperti:1.1. Memosisikan laki-laki dewasa dalam peran ayah dan/atau suami yang memiliki kemampuan dalam menyelesaikan masalah atau konflik, memberi solusi, serta tampil sebagai pemimpin yang dipatuhi1.2. Menampilkan beberapa laki-laki dewasa yang sedang aktif berkarya di lingkungan kerja sebagai pekerja di sebuah pabrik (area publik), dengan posisi mulai dari staf di gudang hingga peneliti produk di laboratorium1.3. Menjadikan laki-laki dewasa sebagai sumber informasi, baik dengan menjadi duta produk maupun voice-over dalam iklan, yang tugas utamanya adalah mendeskripsikan keunggulan, karakteristik, dan cara penggunaan produk kepada khalayak produk tersebut, yang umumnya adalah perempuan dewasa2. Pemberian setiap peran dan karakteristik tersebut kepada laki-laki dewasa dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuciperalatan makan dan masak mengandung makna yang lebih mendalam daripada sekadar peran yang dimainkan dalam suatu karya fiktif (iklan). Dengan menyandangkan peran sebagai suami/ayah, pekerja yang giat mencari nafkah, serta informan yang menguasai informasi pada aktor laki-laki, membuat mereka tampak berada pada posisi dominan dan lebih superior dibandingkan lawan mainnya, yaitu perempuan dan anak-anak3. Kedudukan lebih dominan dan superior yang dimiliki oleh laki-laki seperti ditampilkan dalam iklan tersebut dikarenakan adanya ideologi patriarki yang berpihak dan memberi hak-hak istimewa pada laki-laki. Ideologi patriarki ini hidup lestari di masyarakat melalui berbagai praktiknya, yaitu son preference, fatherhood, dan gagasan tentang kecerdasan dan rasionalitas sebagai kualitas alami laki-laki.DAFTAR PUSTAKABarker, Chris. (2005). Cultural Sudies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka.Berger, Arthur Asa. (2010). The Object of Affection: Semiotics and Consumer Culture. New York: Palgrave Macmillan.Budiman, Kris. (2011). Semiotika Visual: Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas. Yogyakarta: Jalasutra.Bungin, Burhan. (2001). Imaji Media Massa: Konstruksi dan Makna Realitas Sosial Iklan Televisi dalam Masyarakat Kapitalistik. Yogyakarta: Penerbit Jendela.Bungin, Burhan. (2005). Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Burton, Graeme. (2008). Yang Tersembunyi di Balik Media: Pengantar Kepada Kajian Media. Yogyakarta: Jalasutra.Chandler, Daniel. (2007). Semiotics: The Basics (2nd ed.). New York: Routledge.Cornwall, Andrea dan Nancy Lindisfarne (Eds.). (1994). Dislocating Masculinity: Comparative Ethnographies. New York: Routledge.Danesi, Marcel. (2010). Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Denzin, Norman K. dan Yvonna S. Lincoln (Eds.). (2005). The Sage Handbook of Qualitative Research (3rd ed.). Thousand Oaks, California: Sage Publications.Donovan, Josephine. (2006). Feminist Theory: The Intellectual Traditions (3rd ed.). The Continuum International Publishing.Fiske, John. (1987). Television Culture: Popular Pleasures and Politics. New York: Routledge.Fiske, John. (2007). Cultural and Communication Studies: Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.Fletcher, Winston. (2010). Advertising: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press.Guba, Egon G. dan Yvonna s. Lincoln. (1994). Competing Paradigms in Qualitative Research. Dalam N. Denzin dan Y. Lincoln (Eds.), Handbook of Qualitative Research (1st ed.) (105-117). California: Sage Publications.Goddard, Angela. (1998). The Language of Advertising. New York: Routledge.Hall, Stuart (Ed.). (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. Sage Publications.Iriantara, Yosal. (2009). Literasi Media: Apa, Mengapa, Bagaimana. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.Johnson, Allan G. (2005). The Gender Knot: Unraveling Our Patriarchal Legacy (Revised and Updated Edition). Philadelphia: Temple University Press.Kasiyan. (2008). Manipulasi dan Dehumanisasi Perempuan dalam Iklan. Yogyakarta: Penerbit Ombak.Malti-Douglas, Fedwa (Ed.). (2007a). Encyclopedia of Sex and Gender Volume I. Macmillan Reference USA.Malti-Douglas, Fedwa (Ed.). (2007b). Encyclopedia of Sex and Gender Volume II. Macmillan Reference USA.Murray, Mary. (1995). The Law of the Father? Patriarchy in the Transition from Feudalism to Capitalism. New York: Routledge.Neuman, W. Lawrence. (2007). Basics of Sosial Research: Qualitative and Quantitative Approaches (2nd ed.). New York: Pearson.Noviani, Ratna. (2002). Jalan Tengah Memahami Iklan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Pease, Allan dan Barbara Pease. (2004). The Definitive Book of Body Language. Pease International.Pilcher, Jane dan Imelda Whelehan. (2004). Fifty Key Concepts in Gender Studies. Thousand Oaks, California: Sage Publications.Richmond-Abbott, Marie. (1992). Masculine and Feminine: Gender Roles Over The Life Cycle (2nd ed.). McGraw-Hill, Inc.Rustan, Surianto. (2009). Mendesain Logo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Saptari, Ratna dan Brigitte Holzner. (1997). Perempuan, Kerja, dan Perubahan Sosial: Sebuah Pengantar Studi Perempuan. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.Schement, Jorge Reina (Ed.). (2002). Encyclopedia of Communication and Information Volume I. Macmillan Reference USA.Talbot, Mary. (2007). Media Discourse: Representation and Interaction. Edinburgh University Press.Thompson, Roy dan Christoper J. Bowen. (2009). Grammar of the Shot (2nd ed.). Focal Press.Webb, Jen. (2009). Understanding Representation. Thousand Oaks, California: Sage Publications.Widyatama, Rendra. (2007). Pengantar Periklanan. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher (Kelompok Penerbit Pinus).Wood, Julia T. (19940. Gendered Media: The Influence of Media on Views of Gender. Dalam Julia T. Wood, Gendered Lives: Communication, Gender, and Culture (231-244). Wadsworth Publishing.JurnalConnell, R.W. (1996). Teaching The Boys: New Research on Masculinity, and Gender Strategies for Schools. Teachers College Record, 98(2): 206-235.Koller, Veronika. (2008). ‘Not Just a Colour’: Pink as a Gender and Sexuality Marker in Visual Communication. Visual Communiaction, 7(4): 395-423.Nafajian, Maryam dan Saeed Ketabi. (2011). Advertising Social Semiotic Representation: A Critical Approach. International Journal of Industrial Marketing, 1(1): 63-78. Dalam http://faculty.washington.edu/thurlow/com210b/readings/koller(2008).pdf. Diunduh pada 29 Januari 2013 pukul 11.15.Prentice, Deborah A. and Erica Carranza. (2002). What Women and Men Should Be, Shouldn’t Be, Are Allowed to Be, And Don’t Have to Be: The Contents of Prescriptive Gender Streotypes. Psychology of Women Quarterly, 26: 269-281. Dalam http://psych.princeton.edu/psychology/research/prentice/pubs/Prentice%20Carranza.pdf. Diunduh pada 3 Maret 2012 pukul 13.50 WIB.Ross-Smith, Anne dan Martin Kornberger. (2004). Gendered Rationality? A Genealogical Exploration of the Philosophical and Sociological Conceptions of Rationality, Massculinity, and Organization. Gender, Work, and Organization, 11(3): 280-305. Dalam http://www.martinkornberger.com/includes/04gender.pdf. Diunduh pada 8 Mei 2013 pukul 15.37.Sacristan, Marisol Velasco. (2009). Overt-Covertness in Advertising GenderMetaphors. Journal of English Studies, 7: 111-148.Sultana, Abede. (2010). Patriarchy and Women’s Subordination: A Theoretical Analysis. The Arts Faculty Journal Volume 4 July 2010- June 2011: 1-18. Dalam http://bdresearch.org/home/attachments/article/nArt/A5_12929-47213-1-Pb.pdf. Diunduh pada 21 Mei 2013 pukul 12.06.Tsai, Wan-Hsiu Sunny dan Moses Shumow. (2011). Representing Fatherhood and Male Domesticity in American Advertising. Interdisciplinary Journal of Research in Business, 1(8): 38-48. Dalam http://idrjb.com/articlepdf/idrjb8n5.pdf. Diunduh pada 18 Maret 2012 pukul 15.10.Tesis, Disertasi, Laporan PenelitianCochran, Susan Sims. (2009). Exploring Mascilinities in the United States and Japan. Tesis. Kennesaw State University. Dalam http://digitalcommons.kennesaw.edu/etd/53. Diunduh pada 30 April 2012 pukul 11.38.Das Gupta, Monica, dan kawan-kawan. (2002). Why is Son Preference so Persistent in East and South Asia? A Cross-country Study of China, India, and the Republic of Korea. Laporan Penelitian. The World Bank. Diunduh pada 9 April 2013 pukul 14.52.De Camargo, Camilla. (2012). The Police Uniform: Power, Authority, and Culture. Disertasi. University of Salford. Dalam http://www.internetjournalofcriminology.com/DeCamargo_The_Police_Uniform_IJC_Oct_2012.pdf. Diunduh 23 Januari 2013 pukul 10.27.Eklund, Lisa. (2011). Rethinking Son Preference: Gender, Population Dynamics, and Social Change in the People’s Republic of China. Disertasi. Lund University. Dalam http://lup.lub.se/luur/download?func=downloadFile&recordOld=1950819&fileOld=1951084. Diunduh pada 9 April 2013 pukul 14.52.Nilsson, Marie. (2004). The Paradox of Modernity: A Study of GirlDiscrimination in Urban Punjab, India. Tesis. Lund University. Dalam http://www.ekh.lu.se/publ/mfs/9.pdf. Diunduh pada 13 November 2012 pukul 11.57.Nixon, Elizabeth, Padraic Whyte, Joe Buggy, Sheila Greene. (2010). Sexual Responsibilty, Fatherhood, and Discourses of Masculinity among Socially and Economically Disadvantaged Young Men in Ireland. Laporan Penelitian. Crisis Pregnancy Agency. Diunduh pada 19 April 2013 pukul 18.00.Tadpikultong, Supavee. (2008). The Representation of Different Genders in Product Advertising: Comparison of TV Advertisements in Thailand and the United Kingdom. Disertasi. Dalam http://edissertations.nottingham.ac.uk/2038/1/08MSceexst1.pdf. Diunduh pada 14 April 2012 pukul 15.24.Seminar/WorkshopRaty, Hanu dan Leila Snellman. (1995). On the Social Fabric of Intelligence. Makalah. Dipresentasikan pada The Symposium of Social Representations in the Northern Context di Mustio, Finlandia (22-26 Agustus): 1-9.Sumber-sumber lainJally, Sut. Advertising, Gender, and Sex: What’s Wrong with a Little Objectification?. Dalam https://mediasrv.oit.umass.edu/~sutj/Objectification.pdf. Diunduh pada 20 September 2012.http://en.wikipedia.org/wiki/Polo_shirt.http://id.wikipedia.org/wiki/Edwin_Lau.http://teukuwisnu.com/bio.Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Dalam http://sdm.ugm.ac.id/main/sites/sdm.ugm.ac.id/arsip/peraturan/UU_1_1974.pdf. Diunduh pada 14 April 2012.

Co-Authors Ade Ayu Kartika Sari Rezki Adi Nugroho Aditya Gilang Gifari, Aditya Gilang Agus Naryoso Agus Toto Widyatmoko, Agus Toto Amalia Ayu Wulansari Arfianto Adi Nugroho, Arfianto Adi Astuti Dwi Wahyu Pertiwi Ayu Nabilla, Ayu Ayu Pramudhita Noorkartika Bayu Hastinoto Prawirodigdo Beta Fiftina Aryani Candra Sateria, Candra Choirul Ulil Albab, Choirul Ulil Citra Luckyta Lentera Gulita Daeng Lanta Mutiara Rato R Dheayu Jihan B.K., Dheayu Jihan Dian Kurniati Diandini Nata Pertiwi Dina Tasyalia Dachman, Dina Tasyalia Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Dwinda Harditya Eva Ratna Hari Putri Evie S. Ibrahim, Evie S. Fariza Khumaedi Fathimatul Muyassaroh, Fathimatul Febryana Dewi Nilasari Fitri Damayanti Fitriana Nur Indah S Frans Agung Prabowo, Frans Agung Fransiscus Anton Saputro, Fransiscus Anton Frieda Isyana Putri, Frieda Isyana Galih Arum Sri Gelar Mukti Handono Priambodo, Handono Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S, Hapsari Dwiningtyas Hedi Pudjo Santosa Herusna Yoda Sumbara, Herusna Yoda Ika Adelia Iswari, Ika Adelia Ima Putri Siti Sekarini Intan Murni Handayani Joyo NS Gono Kevin Devanda Sudjarwo Kuni Zakiyyah Leidena Sekar Negari Lintang Ratri Rahmiaji Luthfi Fazar Ridho M Bayu Widagdo M Rofiuddin, M Marliana Nurjayanti Nasoetion Meivita Ika Nursanti Much Yulianto Much. Yulianto Muhammad Bayu widagdo Muhammad Rofiuddin Nailah Fitri Zulfan Niki Hapsari Fatimah Nilna Rifda Kholisha Novelia Irawan S Nur Aini Nur Fajriani Falah, Nur Fajriani Nurhanatiyas Mahardika Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Hasfi Pandu Hidayat, Pandu Primada Qurrota Ayun, Primada Qurrota Putri Ramadhini Putri Saraswati, Putri R. Sigit Pandhu Kusumawardana Ria Rahmawati Rifqi Aditya Utama, Rifqi Aditya Rika Futri Adelia Rizki Kurnia Yuniasti Sandy Allifiansyah Shafira Indah Muthia Sholakhiyyatul Khizana Sri Budi Lestari Sunarto Sunarto Swasti Kirana Putri, Swasti Kirana Syarifa Larasati, Syarifa Tandiyo Pradekso Taufik Suprihartini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Titiek Hendriama, Titiek Tri Yoga Adibtya Tama, Tri Yoga Adibtya Trian Kurnia Hikmandika, Trian Kurnia Triliana Kurniasari Turnomo Rahardjo Veramitha Indriyani, Veramitha Wahyu Irara Williams Wijaya Saragih, Williams Wijaya Wiwid Noor Rakhmad Wiwied Noor Rakhmad Yoga M Pamungkas Zefa Alinda Fitria